Chapter Five
Lift Nomor Empat
POV: Chakra
SC Tower punya delapan lift penumpang. Lift nomor satu sampai tiga melayani lantai 1 sampai 20. Lift nomor lima sampai delapan melayani lantai 21 sampai 50. Lift nomor empat adalah lift eksekutif. Pintunya berlapis kuningan, interiornya kayu, dan ia hanya berhenti di lobi, lantai 38, 40, dan 50.
Dalam tiga hari aku sudah mempelajari polanya. Lift nomor empat paling sepi antara pukul 07.40 dan 07.55. Sekretaris belum datang, direksi masih di jalan, dan satu-satunya eksekutif yang selalu tiba sebelum pukul delapan adalah CEO.
Bukan berarti aku sengaja. Aku cuma pengamat. Mengamati adalah pekerjaanku.
Kamis pagi, pukul 07.46, aku masuk lobi dan melihat pintu kuningan lift nomor empat sedang terbuka. Di dalamnya berdiri seorang perempuan bermantel krem, rambut disanggul, tas kulit di bahu, ponsel di tangan.
Dia melihatku. Aku melihatnya melihatku.
Lalu, dengan wajah yang sangat tenang dan sangat profesional, Serena Sinclair menekan tombol tutup pintu.
Aku berlari. Bukan berlari yang memalukan. Lebih tepatnya jalan cepat yang punya ambisi. Pintu kuningan itu bergeser menutup, celahnya menyempit dari satu meter menjadi setengah, lalu sejengkal. Aku menyelipkan tangan di celah itu tepat waktu. Sensornya berbunyi ting dengan nada tersinggung, dan pintunya terbuka kembali.
Aku masuk. Pintu menutup. Hanya ada kami berdua, dinding kayu, dan cermin di belakang yang memantulkan dua orang dewasa yang pura-pura tidak saling peduli.
“Pagi, Bu.”
“Pagi.”
Aku menekan tombol 38. Tombol 40 sudah menyala.
“Pintu liftnya,” kataku sambil menatap angka di atas pintu, “juga sudah diajari cara menolak, Bu?”
Dia tidak menoleh. “Pintunya pintar.” Lift bergerak naik. “Belajar dari pengalaman.”
Aku tersenyum ke angka lantai. Lima. Enam. Tujuh.
Dari pantulan cermin aku bisa melihat wajahnya. Ada bayangan tipis di bawah matanya yang ditutup concealer dengan sangat rapi, tapi tidak cukup rapi untuk orang yang dulu menghafal wajahnya setiap pagi. Dia kurang tidur. Tapi matanya cerah. Tidurnya cuma sebentar, tapi nyenyak.
Susunya berhasil.
Lantai dua belas. Lima belas.
“Kerahmu,” katanya tiba-tiba.
“Hm?”
Dia berbalik menghadapku. Sebelum aku sempat bereaksi, tangannya sudah terangkat dan jari-jarinya menyentuh kerah kemejaku, sisi kiri, yang memang sedikit terlipat ke dalam karena aku memakai jas dengan terburu-buru di parkiran. Dia menariknya keluar dan merapikannya. Gerakannya cepat dan efisien, seperti membereskan dokumen.
Tapi tangannya tinggal di sana sedikit lebih lama dari yang diperlukan. Satu detik. Mungkin dua. Ujung jarinya ada di lipatan kerah, dekat sekali dengan leherku. Aku bisa merasakan hangat kulitnya menembus katun.
“Miring,” katanya. Suaranya datar. “Malu-maluin perusahaan.”
Aku menunduk menatapnya. Dari jarak ini aku bisa melihat bulu matanya, ujung hidungnya, dan anting mutiara kecil di telinga kirinya, anting Oma Margaret yang dulu dia pakai di hari akad kami. Wangi parfumnya bukan lagi parfum bunga yang manis seperti dulu. Sekarang lebih dalam, ada kayu, ada sedikit rempah. Parfum perempuan yang memimpin rapat.
Lantai dua puluh dua. Dua puluh lima.
Dia menarik tangannya kembali dan berbalik menghadap pintu, seolah tidak terjadi apa-apa.
Aku melihat jepit rambutnya. Jepit mutiara di sisi sanggul itu sudah melorot setengah, mungkin karena dia buru-buru menekan tombol tutup tadi. Satu gerakan lagi dan jepit itu akan jatuh. Sanggulnya akan terurai di lift eksekutif, di depan mantan suaminya, pada pukul 07.48 pagi.
Aku tidak berpikir. Tanganku bergerak sendiri.
Aku menyentuh jepit itu, menekannya kembali ke dalam sanggul dengan hati-hati, merasakan helai-helai rambutnya yang halus dan dingin di ujung jariku. Dia membeku. Seluruh tubuhnya membeku, bahunya kaku, napasnya tertahan.
“Jepitnya juga mau kabur, Bu,” kataku pelan, di dekat telinganya. “Kayak pemiliknya dulu.”
Lantai tiga puluh.
Dia berbalik. Wajahnya dekat. Sangat dekat. Matanya menyala dengan sesuatu yang tidak sepenuhnya marah.
“Aku nggak kabur,” katanya, dan kali ini tidak ada Bu, tidak ada saya. Hanya aku, seperti dulu. “Aku ngusir.”
Aku menatapnya. Lalu mengangguk pelan, serius, seperti peneliti yang dikoreksi oleh rekan sejawat.
“Oh.” Aku mendorong kacamata dengan satu jari. “Maaf. Saya salah label data.”
Lift berdenting. Lantai 38.
Pintu kuningan terbuka. Di luar, Bagas berdiri dengan dua gelas kopi kemasan di tangan, mulutnya setengah terbuka, menatap kami berdua yang berdiri berhadapan dengan jarak tiga puluh senti di dalam lift eksekutif.
“P-pagi, Pak,” kata Bagas. “Pagi, Bu.”
“Pagi, Bagas,” kataku, dan melangkah keluar.
Di belakangku, Serena tidak bilang apa-apa. Tapi sebelum pintu menutup, aku mendengar dia menekan tombol tutup tiga kali berturut-turut dengan kecepatan yang tidak perlu.
Bagas menyerahkan salah satu gelas kopi padaku dengan tangan yang sedikit gemetar.
“Pak,” katanya hati-hati.
“Kita nggak lihat apa-apa, Bagas.”
“Siap, Pak. Saya nggak lihat apa-apa.” Dia diam dua detik. “Tapi itu tadi proximity-nya di bawah ambang batas wajar komunikasi profesional, Pak. Kalau di dataset…”
“Bagas.”
“Siap, Pak. Nggak lihat apa-apa.”
Pagi itu Tiara datang ke mejaku dengan tiga stabilo dan satu kertas besar penuh garis.
“Pak, saya sudah petakan semua kepala area yang pegang tiga ratus dua belas gerai itu sejak dua tahun lalu.” Dia membentangkan kertasnya di meja. Kertas itu ternyata diagram, dengan nama-nama orang, panah-panah, dan tanggal. “Ada empat puluh satu kepala area. Dua puluh delapan di antaranya dimutasi dalam rentang delapan bulan. Dan Bapak lihat ini.”
Dia menunjuk satu kolom yang distabilo kuning.
“Semua surat mutasinya ditandatangani orang yang sama. GM Operasional Regional. Namanya Pak Fredy Halim.”
“Fredy Halim melapor ke siapa?”
“Langsung ke Direktur Operasional, Pak Yosef.” Tiara menggeser jarinya. “Tapi menurut struktur organisasi lama, sebelum restrukturisasi tahun lalu, jalur pelaporannya ke COO.”
Ke COO. Ke Hendra Sinclair.
Aku menatap kolom kuning itu lama. Lalu aku melipat diagram Tiara dan memasukkannya ke laci yang terkunci.
“Bagus sekali, Tiara. Jangan dikirim ke mana-mana dulu. Bahkan ke email. Simpan di folder lokal yang saya buat kemarin.”
Tiara mengangguk, lalu ragu. “Pak… ini serius, ya?”
“Belum tahu. Makanya kita jangan buru-buru.” Aku tersenyum padanya. “Nanti kalau sudah cukup data, baru kita bicara. Saya nggak mau menuduh orang pakai probabilitas.”
Tiara pergi. Aku menatap laci terkunci itu.
Kirim ke saya dulu sebelum ke CEO, ya. Supaya dia nggak panik.
Aku membuka laptop dan mulai menulis ulang protokol akses data NEXUS. Pelan-pelan, dan tanpa ada yang tahu.
Pukul dua belas lewat sepuluh, resepsionis lobi menelepon.
“Pak Chakra, ada tamu untuk Bapak. Namanya Gendis. Katanya adik Bapak. Bawa… eh… panci, Pak.”
Aku memejamkan mata.
Aku turun ke lobi dengan lift biasa. Lift nomor empat terlalu berbahaya untuk dipakai dua kali sehari. Di lobi yang megah dan dingin itu, di antara marmer dan karyawan berjas, berdiri adikku dengan kaus oversized bertuliskan MIE AYAM BU RATMI — Since 2009, celana kulot kotak-kotak, ponsel terpasang di tongkat swafoto, dan panci aluminium besar yang dibungkus serbet di pelukannya.
Dia sedang siaran langsung. Tentu saja dia sedang siaran langsung.
“…dan ini, guys, lobi SC Tower! Liat deh marmernya, kinclong banget, bisa buat ngaca! Abangku kerja di sini, guys, jadi bos AI, keren nggak tuh? Padahal dulu dia yang nyuci mangkok di warung…”
“Gendis.”
“Nah ini dia orangnya! Mas Chakra! Say hi, Mas!”
Aku tersenyum ke kamera dengan wajah orang yang sedang disandera. “Halo. Tolong matikan.”
“Bentar, Mas. Penontonnya lagi rame.” Gendis memutar ponselnya ke arah panci. “Ini, guys, mie ayam spesial dari Bu Ratmi buat tim kantornya Mas Chakra. Dua puluh porsi! Ibuku bilang anak-anak kantor pasti pada kurus, makan salad doang…”
Di belakang Gendis, pintu lift nomor empat terbuka.
Serena keluar, bersama Sisca dan dua direktur dari Hartanto Group yang tampaknya baru selesai rapat. Langkah sepatunya tegas di marmer. Kepalanya tegak. Matanya menyapu lobi dengan efisiensi seorang jenderal.
Lalu matanya mendarat pada Gendis.
Gendis berbalik. Aku melihat sesuatu terjadi di wajah adikku, sesuatu yang sangat cerah dan sangat berbahaya.
“KAK RENA!”
Seluruh lobi menoleh.
Resepsionis. Satpam. Dua direktur Hartanto Group. Tiga karyawan yang sedang antre kopi. Seorang kurir yang membawa paket. Semuanya menoleh ke perempuan berkaus mie ayam yang sedang melambaikan tongkat swafoto ke arah CEO SC Group.
Serena berhenti berjalan.
Sisca, di sebelahnya, menutup mulut dengan map.
Gendis berlari kecil, panci masih di pelukan, kamera masih menyala. “Kak Rena! Ya ampun, Kak, makin cantik! Gila, Kak, ini mah bukan cantik lagi, ini udah pelanggaran! Ibu titip salam, Kak! Ibu bilang kemarin mie ayamnya habis ya? Ibu seneng banget, Kak, sampai nangis!”
Sepuluh detik yang sangat panjang berlalu.
Lalu Serena melakukan sesuatu yang tidak kuduga. Dia tersenyum. Bukan senyum CEO, bukan senyum memecat vendor. Senyum kecil yang tulus dan sedikit malu, yang dulu biasa dia berikan pada Gendis yang masih SMA setiap kali adikku datang ke apartemen kami membawa PR matematika.
“Halo, Gendis,” katanya pelan. “Salam balik buat Ibu.”
Gendis memutar kamera ke wajahnya sendiri, matanya berbinar. “Guys, kalian denger? Salam balik buat Ibu!”
“Gendis,” kataku, dengan nada yang biasanya kupakai untuk server yang mau mati. “Matikan.”
Dia mematikannya. Akhirnya.
Serena sudah kembali berjalan, melewati kami dengan anggukan sopan dan langkah yang sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Dua direktur Hartanto Group mengikutinya dengan wajah bingung. Salah satunya berbisik ke yang lain, cukup keras untuk kudengar: “Kak Rena?”
Sisca, yang berjalan paling belakang, menoleh sebentar ke arahku. Ekspresinya campuran antara simpati dan sesuatu yang sangat mirip kegembiraan.
“Pak,” katanya tanpa suara, hanya gerak bibir. “Mertua.”
Aku menyeret Gendis dan pancinya ke lift biasa.
“Mas,” kata Gendis di dalam lift, sama sekali tidak menyesal, “Kak Rena masih manggil aku Gendis, bukan ‘Mbak’. Itu tanda bagus.”
“Kamu baru saja menyiarkan CEO SC Group ke tiga ratus ribu orang.”
“Empat ratus dua ribu, Mas. Barusan naik.” Dia menatap ponselnya dengan puas. “Dan Kak Rena senyum. Mas, Kak Rena senyum. Enam tahun aku nggak lihat dia senyum kayak gitu. Di Instagram dia selalu kayak mau mecat orang.”
Aku tidak menjawab. Tapi aku juga tidak bisa berhenti memikirkan senyum itu sepanjang sisa siang.
Pukul dua, aku berada di ruang CEO untuk presentasi singkat soal protokol akses data yang baru. Rena duduk di balik mejanya, membaca dokumenku sambil mencoret-coret, sementara aku berdiri di depan meja seperti murid yang menunggu nilai.
Telepon mejanya berbunyi. Sisca.
“Bu, Pak Marcel di sini.”
Rena mengangkat wajah. Ada jeda singkat. Lalu: “Suruh masuk.”
Marcel Hartanto masuk. Tinggi, rapi, jas abu-abu tiga potong yang dijahit sempurna, rambut disisir ke belakang dengan pomade yang terlalu banyak. Wajahnya tampan dengan cara yang membosankan, seperti model iklan asuransi. Di tangannya ada buket bunga yang sangat besar. Bunga lily putih, dibungkus kertas krem dan pita satin.
“Serena.” Dia tersenyum sopan, lalu melihatku. “Oh, maaf. Saya mengganggu rapat?”
“Nggak apa-apa,” kata Rena. “Marcel, ini Pak Chakra Wirasena, Chief Data & AI Officer kami yang baru. Pak Chakra, ini Marcel Hartanto.”
Ini Marcel Hartanto. Bukan tunangan saya. Bukan calon tunangan saya. Hanya nama.
Aku mencatat itu di kolom data yang tidak seharusnya kubuat.
Marcel menjabat tanganku. Genggamannya kuat dan sopan, persis seperti yang diajarkan di sekolah bisnis. “Senang bertemu, Pak Chakra. Saya dengar banyak soal presentasi Bapak minggu ini. Ayah saya sangat terkesan.”
“Terima kasih, Pak Marcel.”
Marcel berbalik ke Rena dan menyodorkan buket itu. “Untukmu. Lily putih. Florisnya bilang ini lambang kemurnian dan komitmen.”
Rena menerimanya. Buket itu sangat besar sampai menutupi setengah tubuhnya. Wangi lily langsung memenuhi ruangan, manis dan tajam, wangi yang menempel di tenggorokan.
Aku melihat hidungnya berkerut. Sedikit sekali. Sepersekian detik.
“Bunganya bagus, Pak Marcel,” kataku.
Marcel tersenyum. “Terima kasih.”
“Tapi Bu Serena,” lanjutku dengan nada paling netral sedunia, “lebih suka bunga matahari.”
Ruangan menjadi sangat hening.
Marcel menoleh ke Rena dengan wajah bingung yang sopan. Rena menatapku dari balik buket lily, dan matanya mengirimkan pesan yang kalau diterjemahkan ke bahasa manusia kira-kira berbunyi aku akan membunuhmu dengan pulpen biru ini.
“Selera saya,” katanya dengan suara yang sangat tenang, “sudah berubah, Pak Chakra.”
Aku mengangguk perlahan. “Oh.”
Aku mendorong kacamata dengan satu jari.
“Berarti datanya belum saya update, Bu.”
Rena membuka mulut hendak membalas.
Lalu dia bersin.
Sekali, keras, tidak elegan sama sekali. Lalu sekali lagi, lebih keras. Buket lily di tangannya terguncang, beberapa kelopak putih jatuh ke meja.
Marcel panik dengan sopan. “Ya ampun. Kamu alergi?”
“Nggak,” kata Rena, matanya berair. “Saya nggak alergi.” Dia bersin untuk ketiga kalinya. “Ini AC.”
“Sisca!” panggil Marcel ke arah pintu. “Bisa tolong ambilkan vas? Atau… mungkin bunganya ditaruh di luar dulu?”
Sisca muncul secepat kilat. Dia mengambil buket itu dari tangan Rena dengan gerakan yang terlalu bersemangat, lalu membawanya keluar seperti membawa barang bukti.
Aku berdiri diam, tangan di saku, wajah netral.
Di saku celanaku, jari-jariku menggenggam pulpen yang tadi kupakai untuk mencatat revisi Rena. Pulpen plastik hitam murahan dari koperasi kantor. Aku menggenggamnya karena Marcel Hartanto baru saja menatap Rena dengan cara yang sopan dan penuh hak, cara seorang laki-laki menatap sesuatu yang sudah dijadwalkan menjadi miliknya dalam tiga puluh sembilan hari.
Aku mendengar bunyi krak yang sangat kecil.
Tidak ada yang mendengarnya selain aku.
“Saya permisi dulu, Bu,” kataku. “Revisi protokolnya saya kirim sore ini. Selamat siang, Pak Marcel.”
“Selamat siang, Pak Chakra.”
Aku berjalan keluar. Di koridor, aku mengeluarkan tanganku dari saku dan membukanya.
Pulpen hitam itu patah jadi dua. Tintanya merembes ke telapak tanganku, biru gelap, seperti memar.
Pukul empat sore, dari jendela lantai 38, aku melihat sebuah sedan hitam berhenti di lobi. Marcel keluar dan membukakan pintu belakang. Seorang perempuan bermantel krem masuk, dan sedan itu pergi menuju fitting kebaya pertunangan.
Aku melihatnya sampai sedan itu hilang di belokan Jalan Senopati.
“Pak,” kata Bagas dari belakang, hati-hati. “Tangan Bapak kenapa? Itu tinta?”
“Pulpennya rusak.”
“Kok bisa?”
“Kualitas vendornya, Bagas.” Aku mencuci tangan di wastafel pantri. “Salah label data.”
Bagas mengangguk pelan, jelas tidak paham, dan memutuskan untuk tidak bertanya lagi.
Aku kembali ke meja dan membuka laptop, berniat menyelesaikan revisi protokol. Tapi sebelum aku sempat membuka dokumen, sebuah notifikasi muncul di pojok layar. Peringatan otomatis dari pipeline data cuaca yang kupasang dua minggu lalu, sebelum aku masuk SC, yang menarik data prakiraan BMKG dan muka air sungai setiap enam jam.
PERINGATAN: Probabilitas curah hujan ekstrem Jabodetabek dalam 72 jam ke depan: 81%. Muka air Katulampa diproyeksikan naik. Indeks risiko genangan, 400+ lokasi gerai SinMart di atas ambang merah.
Aku membaca peringatan itu dua kali.
Lalu aku membuka dashboard, dan peta Jabodetabek di layarku pelan-pelan berubah warna. Hijau berubah kuning. Kuning berubah oranye.
Oranye berubah merah.
“Bagas,” kataku, tanpa mengalihkan mata dari layar. “Panggil Tiara dan Yudis. Batalkan rencana pulang kalian malam ini.”
“Kenapa, Pak?”
Aku menatap titik-titik merah yang terus bertambah di peta. Bekasi. Jakarta Timur. Jakarta Utara. Tangerang. Kampung Melayu. Cipinang. Kemang.
“Karena dalam tiga hari,” kataku, “Jakarta akan tenggelam. Dan kita cuma punya empat puluh delapan jam untuk memastikan SinMart nggak ikut tenggelam.”
- 1 Kepala yang Baru
- 2 Mie Ayam Tanpa Daun Bawang
- 3 Reply All
- 4 Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu
- 5 Lift Nomor Empat reading
- 6 400 Gerai Sebelum Hujan
- 7 Satu-Satunya yang Buka
- 8 Tamu dari Zürich
- 9 Dasi
- 10 Gala Lantai 50
- 11 Rute yang Lebih Pendek
- 12 Rumah di Cibubur
- 13 Pola Jam Dua Pagi
- 14 The AI Duo
- 15 Hujan di Tol
- 16 Tanggal di Surat Cerai
- 17 Empat Belas Vendor
- 18 Demam
- 19 NEXA Bocor
- 20 Percaya
- 21 Log Akses
- 22 Foto-Foto Lama
- 23 Ruang Tunggu ICU
- 24 Rp2 Miliar yang Pulang
- 25 RENA
- 26 Halal Dulu
- 27 Oma Tahu
- 28 Marcel
- 29 Arini Pamit
- 30 Kebaya untuk Jebakan
- 31 Makan Malam Keluarga
- 32 Data Tidak Punya Keluarga
- 33 Hari Penandatanganan
- 34 Menteri
- 35 Skakmat
- 36 Dua Ibu
- 37 Kotak Kacamata
- 38 Kedai Pertama
- 39 Akad Kedua
- 40 Malam Pertama, Lagi
- 41 Epilog — Ramalan yang Akurat