Chapter Thirty Four
Menteri
POV: Serena
Rapat direksi darurat dimulai pukul tiga sore tepat, di Ruang Rapat Sinclair.
Aku tiba pukul dua lewat lima puluh lima dengan blazer putih bersih dan sanggul sempurna. Jaket hujan krem yang belepotan tanah merah sudah kutinggal di mobil. Sepatu bot karet dengan label harga yang masih menempel juga. Wajahku sudah dirias Sisca dalam dua belas menit di toilet lantai 40, dengan concealer tebal untuk menutupi mata yang sembap karena menangis di lembah Purwakarta.
Di bawah blazer, di leherku, ada kalung perak kecil berbentuk bunga matahari.
Aku memakainya pagi ini, sebelum berangkat ke Jatiluhur, tanpa berpikir. Aku membuka laci perhiasan untuk mengambil anting dan tanganku menemukan kotak beludru kecil di dasar laci. Kalung yang dibeli seorang analis fintech dengan tabungan tiga bulan, untuk ulang tahun istrinya yang kedua puluh lima.
Aku tidak melepasnya sepanjang hari.
Ruangan itu penuh. Semua direksi. Benny Hartanto dan dua pengacaranya di kursi tamu. Pak Sutedjo di sudut, dengan map di pangkuan. Papa di ujung meja, wajah datar, kotak obat tujuh sekat di sebelah gelas air.
Dan Oma, di kursi Komisaris Utama di sisi lain ruangan. Setelan abu-abu. Kalung mutiara tiga lapis. Buku teka-teki catur terbuka di pangkuan.
Om Hendra berdiri di depan layar.
Dia tidak tersenyum hari ini. Wajahnya serius, prihatin, berat, wajah seorang paman yang terpaksa melakukan sesuatu yang sangat menyakitkan demi kebaikan keluarga.
“Bapak-Ibu sekalian,” katanya. “Hari ini seharusnya menjadi hari paling membahagiakan dalam sejarah SC Group. Tapi pagi ini, kita menghadapi krisis.”
Layar menampilkan foto jembatan yang runtuh. Air cokelat menyembur. Beton patah.
“Jembatan Tol Jatiluhur Seksi Dua runtuh pukul 10.47. Puji Tuhan, tidak ada korban.” Om Hendra menatap seluruh meja. “Tapi kerugian material diperkirakan lebih dari dua ratus miliar. Berita sudah menyebar ke seluruh media nasional. Dan ada rekaman telepon yang beredar, yang dipotong dan diedit di luar konteks, yang membuat kesan seolah-olah saya menghalangi evakuasi.”
Dia menghela napas.
“Saya tidak menghalangi evakuasi. Saya hanya meminta agar tim teknis kantor pusat melakukan penilaian sebelum mengambil keputusan drastis. Itu prosedur.” Dia menatapku. “Tapi CEO kita memilih untuk tidak mengikuti prosedur. CEO kita menutup ruas tol, mengevakuasi warga, dan memanggil BPBD, tanpa koordinasi dengan COO yang bertanggung jawab atas divisi konstruksi.”
Beberapa direktur menatapku. Sebagian dengan ragu. Sebagian dengan iba.
“Keputusan itu,” lanjut Om Hendra, “terbukti menyelamatkan nyawa. Saya akui itu. Saya bersyukur.” Suaranya melembut. “Tapi cara pengambilannya menunjukkan pola yang mengkhawatirkan. Dua minggu lalu, CEO mempertaruhkan jabatannya untuk membela seorang kepala divisi dalam kasus kebocoran data. Hari ini, CEO bertindak sepihak di lokasi proyek. Mitra merger kita,” dia menoleh ke Benny Hartanto, “sudah menyampaikan kekhawatiran serius soal tata kelola.”
Benny Hartanto mengangguk dengan wajah muram. “Hartanto Group tidak bisa menandatangani merger senilai puluhan triliun dengan mitra yang pucuk pimpinannya tidak stabil.”
“Jadi saya mengusulkan,” kata Om Hendra, “penonaktifan sementara CEO. Hanya sementara. Sampai situasi tenang dan merger selesai. Selama masa itu, saya bersedia menjabat sebagai pelaksana tugas CEO.” Dia menatapku dengan mata yang sedih. “Nak, ini bukan hukuman. Om hanya ingin melindungimu. Kamu sudah melalui terlalu banyak hal. Istirahatlah sebentar.”
Hening.
Aku menatap Om Hendra.
Istirahatlah sebentar. Kalimat yang sama yang dia ucapkan di ambang pintu ruang tunggu ICU enam tahun lalu, ketika aku berjalan satu meter dari laki-laki yang mencintaiku dan tidak menoleh. Hati-hati, Nak, istirahat. Om yang jaga di sini.
Dia ingin menjaga lagi. Dia ingin berdiri di pintu lagi.
Aku tersenyum.
“Saya tidak keberatan, Om,” kataku.
Seluruh ruangan menoleh padaku.
Pak Darmawan menjatuhkan kalkulatornya. Bu Lestari menurunkan kacamata bacanya. Pak Yosef membuka mulut, lalu menutupnya. Benny Hartanto mengangkat alis, jelas tidak menduga.
Om Hendra menatapku. Untuk sepersekian detik, wajahnya kosong. Seperti pemain catur yang menyiapkan serangan panjang dan lawannya tiba-tiba menyerahkan bidak tanpa melawan.
Lalu senyum hangat itu kembali.
“Nak,” katanya lembut. “Om bangga sama kamu. Itu keputusan yang dewasa.”
“Saya cuma ingin merger berjalan lancar, Om,” kataku. “Dan saya memang capek.”
Aku tidak berbohong. Aku memang capek. Aku menangis di lembah Purwakarta pagi ini, berlutut di lumpur di depan bapak tua bersarung, menyaksikan jembatan yang dibangun pamanku dengan setengah pondasi jatuh ke sungai di atas tempat anak-anak tidur semalam.
Aku capek. Tapi aku tidak menyerah.
Aku memberikan menteriku.
Pemungutan suara dilakukan dengan mengangkat tangan.
Tujuh direktur setuju. Pak Darmawan, Bu Lestari, dan Pak Yosef tidak mengangkat tangan. Mereka abstain, dengan wajah orang yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi dan tidak mau ikut di dalamnya.
Papa tidak mengangkat tangan. Dia juga tidak menolak. Dia hanya duduk di kursi Chairman dengan wajah datar, menatap gelas air di depannya.
“Mas?” kata Om Hendra. “Mas setuju?”
Papa mengangkat wajah. Menatap adiknya. Lama.
“Penonaktifan CEO,” kata Papa pelan, “memerlukan persetujuan Komisaris Utama.”
Semua mata beralih ke Oma.
Oma tidak mengangkat wajah dari buku teka-teki caturnya. Pensilnya bergerak di atas halaman, mencoret sesuatu. Lalu dia menutup buku itu, pelan, dan menatap anak bungsunya.
“Hendra,” katanya.
“Ya, Ma?”
“Kamu yakin ini yang terbaik untuk keluarga?”
Om Hendra menatap ibunya. Wajahnya lembut. Penuh sayang. Wajah anak yang menyayangi ibunya.
“Saya yakin, Ma.”
Oma menatapnya lama. Sangat lama. Seluruh ruangan menunggu. Jam dinding berdetak. Benny Hartanto mengetuk-ngetuk meja dengan jari.
Lalu Oma membuka map yang disodorkan Pak Sutedjo, mengambil pulpen dari saku setelannya, dan menandatangani.
“Disetujui,” katanya. “Sementara.”
Dia menutup map itu dan menyerahkannya kembali ke Pak Sutedjo. Tangannya tidak gemetar sedikit pun.
Tapi aku melihat matanya. Oma menatap Om Hendra dengan mata kelabu yang basah. Mata seorang ibu yang baru saja menaruh menteri di papan dengan tangannya sendiri, dan tahu persis siapa yang akan memakannya.
Om Hendra tersenyum. Senyum yang paling lebar yang pernah kulihat di wajahnya. Senyum yang sampai ke matanya, ke telinganya, ke seluruh tubuhnya.
“Terima kasih, Ma,” katanya. “Terima kasih, Mas. Saya tidak akan mengecewakan kalian.”
Aku keluar dari ruang rapat pukul tiga lewat empat puluh. Lorong lantai 40 sunyi. Sisca berdiri di depan mejanya dengan wajah pucat dan tablet yang gemetar di tangan.
“Bu,” bisiknya. “Bu, Ibu… dinonaktifkan?”
“Sementara, Sisca.”
“Tapi Bu…”
“Sisca.” Aku menyentuh lengannya. “Kamu percaya saya?”
Sisca menatapku. Sekretaris dengan IPK tiga koma tujuh yang dua bulan terakhir menjadi kurir rantang, kurir sticky note, dan saksi gosip paling berpengaruh di SC Tower. Matanya berkaca-kaca.
“Percaya, Bu,” katanya.
“Bagus.” Aku tersenyum. “Kalau begitu, tolong siapkan ruang ganti di lantai 49. Dan panggil penata rias yang paling bagus. Malam ini saya mau terlihat seperti orang yang baru saja kalah dan tidak peduli sama sekali.”
Sisca menatapku. Lalu, pelan-pelan, wajahnya berubah. Dari bingung, ke curiga, ke mengerti.
“Ibu,” bisiknya, “lagi main catur, ya?”
“Oma yang main catur. Saya cuma bidaknya.”
“Bidak apa, Bu?”
Aku berjalan ke lift nomor empat. Di depan pintu kuningan, aku menoleh.
“Menteri.”
Ponselku bergetar di lift.
Gendis: Kak!!! Aku di Sky Hall, lagi siapin stan!! Ibu nggak bisa datang, Ibu lagi masak buat warga Purwakarta!!
Gendis: [video]
Aku membuka video itu.
Dapur kedai Cibubur. Ibu berdiri di depan empat kompor sekaligus, daster batik ungu, celemek ayam, rambut dicepol pakai jepit jemuran. Di sekelilingnya, panci-panci besar mengepul. Bu Ratmi menoleh ke kamera dan melambaikan sendok sayur.
“Neng Rena! Ibu masakin buat warga yang rumahnya ketiban jembatan! Delapan puluh tujuh orang ditambah tiga puluh dua pekerja! Seratus dua puluh porsi! Pak Komar yang antar pakai truk!”
Kamera berputar. Di depan kedai, sebuah truk boks SC Logistics terparkir dengan pintu belakang terbuka. Pak Komar, dengan topi SC Logistics — 25 Tahun Pengabdian, sedang mengangkat panci besar ke dalam truk. Di sebelahnya ada empat sopir senior lainnya, yang dulu duduk di sofa hijau tua di lantai 38 dan berdebat soal pasar tumpah di Subang.
“Bu CEO!” teriak Pak Komar ke kamera, sambil mengacungkan jempol. “Rute ke Purwakarta sudah saya hitung! Lewat Subang, Bu! Hari Sabtu nggak ada pasar tumpah!”
Video berakhir.
Aku menatap layar ponsel. Di lift nomor empat, sendirian, aku menutup mulut dengan tangan dan menangis. Lagi. Untuk keempat kalinya hari ini.
Lalu ada satu pesan lagi.
Gendis: Kak, satu lagi.
Gendis: Aku live dari Purwakarta tadi siang, pas antar tenda sama Mas Bagas. Aku tunjukin warga yang dievakuasi. Mereka cerita semua. Bapak yang pake sarung itu bilang ke kamera, “Neng CEO itu jongkok di lumpur, bilang kalau jembatannya nggak roboh dia yang salah.”
Gendis: 2,3 juta penonton, Kak.
Gendis: Aku janji ini terakhir kali aku live tanpa izin. Tapi Kak, orang-orang harus tahu.
Aku menatap pesan itu sampai pintu lift terbuka di lantai 49.
Kamu nggak salah, Gendis, aku membalas. Kali ini, kamu nggak salah sama sekali.
Pukul tujuh lewat lima belas, ruang ganti di lantai 49.
Kebaya champagne tergantung di pintu lemari. Bordiran emas. Kain yang jatuh seperti cahaya senja. Kebaya untuk pertunangan yang tidak akan pernah terjadi.
Aku memakainya. Penata rias menyanggul rambutku tinggi, dengan untaian melati asli. Wanginya memenuhi ruangan, wangi yang sama dengan wangi melati di KUA Beji delapan tahun lalu.
Lalu penata rias itu membuka kotak beludru biru tua dari Hartanto Group. Kalung berlian. Tiga untai. Hadiah pertunangan dari keluarga Marcel, yang dikirim kemarin dengan kartu bertuliskan Untuk menantu kami tercinta, dari Benny & Lidia Hartanto.
“Bu,” kata penata rias itu, mengangkat kalung yang berkilau seperti air terjun. “Ini dipakai sekarang?”
Aku menatap kalung itu. Lalu aku menatap pantulanku di cermin. Di leherku, di atas kerah kebaya, kalung perak kecil berbentuk bunga matahari masih tergantung. Perak murah. Sedikit kusam di tepi. Rantainya tipis sekali, seolah bisa putus kalau ditarik terlalu keras.
“Nggak usah,” kataku. “Saya pakai yang ini.”
Penata rias itu menatap kalung perak itu. Lalu menatapku. Lalu, tanpa bertanya, menutup kotak beludru biru dan meletakkannya di meja.
Pintu ruang ganti diketuk. Tiga kali. Pendek-panjang-pendek.
Sisca membukanya setengah, menoleh padaku dengan wajah sangat serius, lalu berbisik: “Bu. Ada data urgen.”
Aku menahan senyum. “Suruh masuk, Sisca. Dan jaga pintunya.”
“Siap, Bu.” Sisca membuka pintu lebih lebar. “Lima menit, Pak. Saya hitung.”
Chakra masuk.
Dia memakai jas hitam. Bukan tuksedo, bukan dasi kupu-kupu jepit. Jas hitam biasa yang dijahit sangat pas, kemeja putih, dan dasi biru tua dengan simpul Windsor yang rapi. Ujung lebarnya sedikit lebih panjang ke kiri.
Dia mengikatnya sendiri. Aku tahu. Dan dia mengikatnya dengan caraku.
Dia berhenti di ambang pintu dan menatapku.
Kebaya champagne. Melati di sanggul. Dan kalung perak kecil berbentuk bunga matahari di leherku.
Matanya turun ke kalung itu. Berhenti di sana.
Wajahnya berubah. Seperti seseorang yang baru saja ditinju di dada dengan sesuatu yang sangat lembut.
“Kamu masih simpan,” katanya pelan.
“Di laci paling bawah,” kataku. “Di bawah semua perhiasan yang Mama belikan.”
Dia berjalan mendekat. Pelan. Berhenti di depanku, sangat dekat, cukup dekat untuk mencium wangi melati di rambutku. Tangannya terangkat dan ujung jarinya menyentuh liontin bunga matahari itu, di tulang selangkaku, ringan, seperti menyentuh sesuatu yang sangat rapuh.
“Ini perak murah,” katanya. “Dulu aku nggak mampu beli emas.”
“Aku tahu.”
“Rantainya tipis. Bisa putus.”
“Delapan tahun nggak putus.”
Dia menatapku. Matanya basah di balik kacamata.
Aku mengulurkan tangan dan merapikan dasinya. Simpul Windsor yang tidak perlu dirapikan.
“Kamu ikat sendiri,” kataku.
“Iya.”
“Ujungnya lebih panjang ke kiri.”
“Iya.”
“Itu caraku.”
“Aku tahu.”
Aku menarik dasinya pelan, sampai wajahnya turun sejajar dengan wajahku. Persis seperti di koridor lantai 38, sebelum rapat komisaris, ketika aku bertanya inget bayarannya apa?
“Malam ini,” bisikku, “kalau kita menang, kamu lamar aku.”
Dia membeku. Napasnya tersangkut di tenggorokan.
“Kalau kalah?” tanyanya. Suaranya serak.
Aku tersenyum.
“Kalau kalah,” kataku, “aku yang lamar.”
Dia tertawa. Tawa yang pecah, kaget, dan sangat bahagia, dengan dahi menempel di dahiku dan dasi masih di genggamanku.
“Itu bukan perjanjian yang adil,” katanya. “Ujungnya sama.”
“Aku tahu,” bisikku. “Aku sengaja.”
“Tiga menit, Pak!” seru Sisca dari balik pintu.
Dia tidak menciumku. Kami berdua tahu kalau dia menciumku sekarang, lipstikku akan rusak, dan penata rias di sudut ruangan akan pingsan. Dan Sisca akan masuk tanpa mengetuk.
Jadi dia hanya menempelkan bibirnya di dahiku. Sebentar. Di bawah untaian melati.
“Jangan duduk di belakang ruangan,” kataku.
“Aku nggak akan duduk di belakang ruangan.”
“Duduk di mana?”
Dia mundur selangkah. Merapikan dasinya yang sudah kutarik. Mendorong kacamatanya ke atas hidung.
Sekali.
“Di sebelah Papamu,” katanya. “Papamu yang minta.”
Pukul tujuh lewat lima puluh delapan, Sky Hall lantai 50.
Enam ratus tamu. Dua menteri. Pers dari dua puluh media. Lampu-lampu kristal di langit-langit. Dua ribu tangkai mawar putih di sepanjang panggung. Orkestra yang memainkan musik pelan. Kembang api yang sudah dipesan Benny Hartanto, siap di atap gedung.
Dan di sudut ruangan, di antara stan-stan makanan mewah, sebuah gerobak mie ayam kayu bercat biru dengan spanduk kuning. MIE AYAM BU RATMI — Enak, Murah, Bikin Kangen. Gendis berdiri di baliknya dengan celemek ayam, mengaduk kuah. Di sebelahnya, dengan celemek ayam yang kekecilan dan jas yang sangat mahal, berdiri Marcel Hartanto. Dia memegang sendok sayur dengan sangat serius.
Antrean di depan stan mie ayam itu lebih panjang daripada antrean di depan stan sushi.
Aku berdiri di samping panggung dengan kebaya champagne dan kalung perak bunga matahari. Tidak lagi sebagai CEO, kata kartu namaku sejak pukul tiga sore tadi. Hanya sebagai calon tunangan. Seorang perempuan yang dinonaktifkan karena terlalu lelah.
Di meja utama, di depan panggung, Papa duduk di kursi Chairman dengan jas hitam dan dasi biru tua. Di sebelah kirinya ada Mama, dengan gaun lavender dan wajah tegang. Di sebelah kanannya, di kursi yang menurut susunan meja seharusnya untuk Om Hendra, duduk Chakra.
Papa yang memindahkan kartu namanya. Aku melihatnya tadi, waktu dia melakukannya sendiri, tanpa bicara, sebelum tamu-tamu datang.
Oma duduk di ujung meja dengan kalung mutiara tiga lapis dan tongkat bersandar di lengan kursi. Buku teka-teki caturnya ada di pangkuan.
Di sebelah Oma, Pak Sutedjo dengan map biru.
Benny Hartanto duduk di meja keluarga Hartanto, di seberang lantai dansa, dengan istri dan pengacaranya. Wajahnya puas. Dia sudah mendapatkan apa yang dia minta.
Pukul tujuh lewat lima puluh sembilan, orkestra berhenti.
Lampu meredup.
Satu lampu sorot menyala dan jatuh ke podium kecil di depan dinding kaca, dengan Jakarta berkilau di belakangnya seperti lautan berlian.
Om Hendra berjalan ke podium.
Jas abu-abu, dasi marun, senyum hangat. Dia berjalan dengan langkah tenang orang yang baru saja memenangkan segalanya. Di tangannya ada gelas sampanye. Di saku jasnya, aku tahu, ada pidato yang sudah dia latih seminggu.
Dia berhenti di podium. Menatap enam ratus wajah.
Menatap ibunya. Menatap kakaknya.
Menatap laki-laki yang duduk di kursinya.
Senyumnya tidak goyah. Dia mengangkat gelas sampanye.
“Bapak-Ibu, hadirin yang terhormat,” katanya, dan suaranya mengisi Sky Hall seperti selimut hangat. “Malam ini, saya mendapat kehormatan…”
Di meja utama, Oma membuka buku teka-teki caturnya.
Dan di halaman yang terbuka, dengan pensil, dengan tulisan tangan seorang perempuan berusia tujuh puluh sembilan tahun, hanya ada satu kata.
Aku tidak bisa membacanya dari jarak sejauh ini.
Tapi aku tahu kata apa itu.
- 1 Kepala yang Baru
- 2 Mie Ayam Tanpa Daun Bawang
- 3 Reply All
- 4 Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu
- 5 Lift Nomor Empat
- 6 400 Gerai Sebelum Hujan
- 7 Satu-Satunya yang Buka
- 8 Tamu dari Zürich
- 9 Dasi
- 10 Gala Lantai 50
- 11 Rute yang Lebih Pendek
- 12 Rumah di Cibubur
- 13 Pola Jam Dua Pagi
- 14 The AI Duo
- 15 Hujan di Tol
- 16 Tanggal di Surat Cerai
- 17 Empat Belas Vendor
- 18 Demam
- 19 NEXA Bocor
- 20 Percaya
- 21 Log Akses
- 22 Foto-Foto Lama
- 23 Ruang Tunggu ICU
- 24 Rp2 Miliar yang Pulang
- 25 RENA
- 26 Halal Dulu
- 27 Oma Tahu
- 28 Marcel
- 29 Arini Pamit
- 30 Kebaya untuk Jebakan
- 31 Makan Malam Keluarga
- 32 Data Tidak Punya Keluarga
- 33 Hari Penandatanganan
- 34 Menteri reading
- 35 Skakmat
- 36 Dua Ibu
- 37 Kotak Kacamata
- 38 Kedai Pertama
- 39 Akad Kedua
- 40 Malam Pertama, Lagi
- 41 Epilog — Ramalan yang Akurat