Chapter Eight

Tamu dari Zürich

POV: Serena


Aku melihatnya dari mobil.

Rabu pagi, pukul delapan kurang sepuluh. Sedanku berhenti di jalur penurunan di depan lobi SC Tower, dan sopirku sedang memutar untuk membukakan pintu. Lobi SC Tower berdinding kaca dari lantai sampai langit-langit, rancangan arsitek Jepang yang dulu dibayar Opa dengan harga yang membuat Oma tidak bicara padanya selama seminggu. Dari kursi belakang mobil, aku bisa melihat seluruh isinya seperti melihat akuarium.

Dan di tengah akuarium itu, di depan meja resepsionis, ada seorang perempuan memeluk Chakra.

Bukan pelukan sopan. Bukan tepukan di punggung ala rekan kerja. Itu pelukan dengan dua lengan melingkar di leher, kaki sedikit berjinjit, dan kepala yang bersandar sesaat di bahunya. Pelukan orang yang sudah lama tidak bertemu dan senang sekali bisa bertemu lagi.

Perempuan itu tinggi, langsing, berambut pendek sebahu dengan potongan rapi, dan memakai setelan putih gading dengan celana panjang yang jatuh sempurna di atas sepatu loafer cokelat. Kulitnya terang. Dari kejauhan pun aku bisa melihat bahwa wajahnya cantik dengan cara yang cerdas, cantik yang tidak perlu berusaha.

Chakra tertawa. Aku bisa melihat tawanya dari mobil, dari balik dua lapis kaca. Dia menepuk punggung perempuan itu, dua kali, lalu melepaskan pelukannya. Tapi tangan perempuan itu masih tinggal di lengan atasnya, menepuk-nepuk, sambil bicara cepat dengan wajah berbinar.

Sopirku membuka pintu. “Bu?”

Aku tidak bergerak.

“Bu Serena? Sudah sampai.”

“Saya tahu, Pak Udin.” Aku keluar dari mobil. Merapikan blazer. Mengangkat dagu.

Lalu, dengan langkah yang sangat terukur dan sama sekali tidak terburu-buru, aku berjalan masuk ke lobi melalui pintu putar, melewati mereka berdua dari jarak lima meter, tanpa menoleh sedikit pun, menuju lift nomor empat.

“Bu Serena,” panggil Chakra.

Aku berhenti. Berbalik, dengan senyum CEO.

“Pagi, Pak Chakra.”

“Pagi, Bu. Kenalkan, ini Dr. Arini Tjandra, dari Meridian Analytics, Singapura. Konsultan untuk proyek personalisasi SinMart yang kemarin disetujui direksi.” Dia menoleh ke perempuan itu. “Arini, ini Bu Serena Sinclair, CEO kami.”

Arini Tjandra mengulurkan tangan. Jabatannya hangat dan kuat. Dari dekat, dia jauh lebih cantik daripada dari dalam mobil. Matanya besar dan jernih, alisnya tegas, dan senyumnya membuat orang merasa sedang diajak masuk ke sebuah lelucon pribadi.

“Bu Serena. Finally.” Bahasa Indonesianya fasih dengan sedikit logat Singapura di ujung kata. “Saya sudah lama dengar soal Ibu.”

Sudah lama. Dari siapa?

“Selamat datang di Jakarta, Dr. Arini,” kataku. “Semoga betah. Kalau ada yang dibutuhkan, Sisca di lantai 40 akan membantu.”

“Thank you. Oh, panggil Arini saja, Bu. Doktornya biar buat jurnal.” Dia tertawa, lalu menoleh ke Chakra. “Chak, kamu nggak bilang CEO kamu secantik ini. Kamu bilangnya…”

“Arini,” kata Chakra, sangat cepat.

Arini menutup mulut dengan jari, matanya berkilat geli. “Oops.”

Chak. Dia memanggilnya Chak. Satu suku kata, seperti nama anjing peliharaan.

Dan kamu bilangnya… Bilangnya apa?

“Saya permisi,” kataku dengan senyum yang sama. “Ada rapat jam delapan.”

Aku tidak ada rapat jam delapan. Rapat pertamaku pukul sepuluh.

Di dalam lift nomor empat, sendirian, aku menatap pantulanku di cermin kuningan. Rahangku terkatup. Tanganku menggenggam tali tas begitu kuat sampai buku-buku jariku memutih.

Aku melonggarkan genggaman. Menarik napas.

Aku tidak cemburu. Aku tidak punya hak untuk cemburu. Aku akan bertunangan dalam tiga puluh tiga hari dengan laki-laki yang membawakan lily.

Aku menekan tombol 40 tiga kali berturut-turut.


Rapat kick-off proyek personalisasi SinMart dimulai pukul sepuluh di Ruang Rapat Sinclair.

Seharusnya aku tidak perlu hadir. Proyek ini sudah disetujui, anggarannya sudah ditandatangani, dan pelaksanaannya di tangan NEXUS dengan Meridian sebagai mitra. CEO tidak perlu hadir di setiap kick-off proyek.

Aku hadir. Karena proyek ini menyangkut data sembilan juta anggota program loyalitas SinMart, dan CEO harus memastikan semuanya patuh pada aturan pelindungan data. Bukan karena alasan lain.

Aku duduk di kursi CEO. Di sisi kanan meja ada Chakra, Bagas, dan Tiara. Di seberang mereka, Arini dengan laptopnya dan dua orang dari tim Meridian. Di ujung meja ada Pak Yosef dari Operasional, Bu Lestari dari Legal, dan Pak Darmawan, yang entah kenapa selalu hadir di setiap rapat yang melibatkan Chakra. Kurasa dia menganggapnya hiburan.

Arini presentasi. Dan aku benci mengakuinya, tapi dia bagus. Sangat bagus. Dia bicara cepat, jelas, dan lucu. Dia menjelaskan sistem rekomendasi produk seperti menjelaskan cara memilih teman makan siang, dan dalam lima menit, seluruh ruangan sudah mengangguk-angguk.

“…jadi sistem ini nggak cuma tahu Ibu suka beli kopi sachet,” katanya sambil menunjuk Bu Lestari, yang tersipu, “tapi juga tahu kalau Ibu beli kopi sachet di hari Senin, Ibu biasanya juga beli roti dan obat sakit kepala. Itu namanya Monday pattern. Chak dan saya menemukannya waktu proyek di Rotterdam. Ya kan, Chak?”

“Iya,” kata Chakra.

“Chak waktu itu nggak percaya. Dia bilang korelasinya palsu. Terus saya tantang dia…”

“Arini.”

“…oke, oke, bukan tantangan. Saya bikin hypothesis test.” Arini tersenyum lebar ke seluruh ruangan. “Dan saya benar. Chak traktir saya fondue tiga kali buat minta maaf.”

Pak Darmawan tertawa. Bu Lestari tertawa. Bahkan Pak Yosef tersenyum.

Aku tidak tertawa.

“Dr. Arini,” kataku.

Ruangan hening.

“Ya, Bu?”

Aku tersenyum. Senyum yang biasa kupakai sebelum menolak proposal vendor. “Di sini kami terbiasa memanggil kolega dengan nama lengkap. Chakra.” Aku memiringkan kepala sedikit. “Dua suku kata. Nggak berat, kok.”

Hening. Total hening. Bahkan AC seperti berhenti berdesis.

Arini mengedipkan mata sekali. Lalu, alih-alih tersinggung, dia tersenyum, senyum yang menurutku terlalu tulus untuk situasi ini.

“Oh. Sorry, Bu. Kebiasaan lama.” Dia menyandarkan dagu di tangan dan menatapku dengan rasa ingin tahu yang terang-terangan. “Kalau Bu Serena sendiri, panggil dia apa?”

Pertanyaan yang sangat sederhana. Pertanyaan yang sangat polos. Dan seluruh ruangan, sebelas pasang mata, termasuk mata Pak Darmawan yang berbinar seperti anak kecil di pasar malam, menoleh padaku.

Aku membuka mulut.

Dulu aku memanggilnya Mas. Kadang Sayang. Kadang Kucing, kalau dia sedang serius membaca dan kacamatanya melorot ke ujung hidung. Kadang hanya namanya, panjang dan manja, Chakraaa, dengan huruf a terakhir yang kutarik sampai dia menyerah dan menutup bukunya.

“…Pak,” kataku.

Satu suku kata.

Dari ujung meja, Chakra tidak menatapku. Dia menatap laptopnya. Tapi senyum kecil di sudut bibirnya terlihat dari jarak empat meter.

“Dulu lain,” katanya pelan, ke laptopnya, cukup keras untuk didengar seluruh ruangan.

Di bawah meja, aku menendang kaki kursinya.

Tendanganku tidak keras. Cukup untuk membuat kursi itu bergeser lima senti dan Chakra harus menahan diri di tepi meja supaya tidak oleng. Tapi bunyinya, duk, terdengar jelas di ruangan yang sunyi.

Bagas menatap kursi itu. Tiara menatap langit-langit. Pak Darmawan menutup mulut dengan dua tangan.

“Maaf,” kataku dengan tenang. “Kram kaki. Silakan lanjut, Dr. Arini.”

Arini menatapku. Lalu menatap Chakra. Lalu menatapku lagi. Lalu, perlahan, senyumnya berubah dari geli menjadi sesuatu yang lebih tajam. Seperti seseorang yang baru saja menyusun potongan puzzle dan tidak suka gambar yang muncul.

“Tentu, Bu,” katanya. “Lanjut.”


Aku tidak berniat turun ke lantai 38 sore itu. Aku hanya perlu mengantarkan dokumen persetujuan kepatuhan data untuk proyek Meridian, yang harus ditandatangani Chakra hari ini juga. Sisca bisa mengantarkannya. Sisca menawarkan diri untuk mengantarkannya.

Aku bilang tidak usah, dia sedang sibuk. Sisca menatapku dengan wajah orang yang sedang sangat tidak sibuk.

Pukul empat sore, aku membuka pintu ruang kaca Chakra tanpa mengetuk, karena pintunya terbuka. Karena aku CEO. Karena gedung ini milik keluargaku.

Chakra duduk di balik mejanya. Arini duduk di tepi meja itu, di sisi kanan, satu kaki menjuntai, laptop di pangkuan, dan mereka berdua sedang tertawa melihat sesuatu di layar.

Mereka menoleh bersamaan.

“Bu Serena,” kata Chakra, berdiri.

“Dokumen kepatuhan,” kataku, meletakkan map di meja. “Perlu tanda tangan hari ini.”

“Baik, Bu.”

Arini turun dari tepi meja dengan gerakan yang ringan. Dia menatapku dengan kepala sedikit miring, matanya menyipit, ramah tapi ingin tahu.

“Bu Serena, sorry soal tadi pagi. Soal nama. Saya memang kebiasaan.” Dia tersenyum. “Chakra dan saya sudah kenal lama. Kami satu lab di Zürich.”

“Oh ya?” kataku ringan. “Sudah berapa lama?”

“Enam tahun.”

Enam tahun.

Persis selama kami bercerai. Dia bertemu perempuan ini, seberapa cepat? Sebulan setelah tanda tangan? Seminggu?

“Wah,” kataku, dan senyumku semakin lebar. “Lebih lama dari pernikahan yang saya kenal.”

Chakra berhenti menandatangani. Pulpennya membeku di atas kertas.

Arini mengerutkan kening sedikit, bingung. “Sorry?”

Chakra meletakkan pulpen. Dia menatapku dengan mata yang tenang dan dalam, sangat tenang, terlalu tenang, seperti permukaan danau sebelum ada batu yang dilempar.

“Ibu kenal pernikahan yang cuma setahun?” tanyanya pelan.

Jantungku berdebar keras. Aku seharusnya berhenti. Aku tahu aku seharusnya berhenti. Ada orang lain di ruangan ini. Ada dinding kaca, ada tim NEXUS di luar sana, ada konsultan Singapura yang sedang menatap kami berdua seperti menonton film dengan subtitle yang hilang.

“Kenal,” kataku. “Suaminya gampang pergi.”

Hening sebentar.

Lalu Chakra tersenyum. Bukan senyum marah. Senyum yang lebih menyakitkan dari marah, karena isinya hanya kelelahan dan sesuatu yang sangat mirip kesedihan.

“Saya juga kenal istrinya, Bu,” katanya. “Gampang percaya.”

Kalimat itu menancap seperti jarum, langsung, tanpa ampun, di tempat yang paling tidak ingin kusentuh.

Arini menatap Chakra. Menatapku. Menatap Chakra lagi. Lalu dia menutup laptopnya pelan-pelan, sangat pelan, seperti orang yang baru sadar sedang berdiri di tengah ladang ranjau.

“…Am I missing something?” bisiknya.

Tidak ada yang menjawab.

Arini mengangguk pelan, lalu mengangkat laptopnya ke dada. “Oke. Saya… mau telepon kantor Singapura dulu.” Dia berjalan mundur ke pintu, masih menatap kami bergantian. “I’ll give you two a minute. Atau dua. Atau berapa pun yang dibutuhkan.”

Pintu kaca tertutup di belakangnya.

Lalu hanya ada kami berdua.


Aku seharusnya pergi. Aku sudah mengantarkan dokumen. Tugasku selesai. CEO yang waras akan berbalik, keluar, dan kembali ke lantai 40, ke laporan-laporannya yang aman dan sama sekali tidak menyebalkan.

Tapi kalimat itu, gampang percaya, masih tertancap di dadaku, dan rasanya panas, dan aku tidak tahu harus kubuang ke mana selain kembali kepadanya.

Jadi aku berjalan memutari meja. Pelan. Hak sepatuku berbunyi di lantai.

Chakra masih duduk. Dia mengangkat wajah, mengikuti gerakanku, dan untuk pertama kalinya sejak dia kembali, aku melihat sesuatu di matanya yang bukan ketenangan. Waspada.

Aku berhenti di sisi kanan mejanya. Tempat Arini tadi duduk.

Lalu aku duduk di sana. Di tepi meja kerjanya, persis di tempat yang sama, dengan satu tangan bertumpu di permukaan kayu. Rok pensil abu-abuku tertarik sedikit ke atas lutut. Aku menyilangkan kaki dengan gerakan lambat.

Aku tahu persis apa yang sedang kulakukan. Aku pernah menjadi istrinya. Aku tahu di mana titik-titik lemahnya. Aku tahu dia selalu kalah oleh dua hal: leherku saat rambutku disanggul, dan kakiku saat aku menyilangkannya pelan-pelan.

Matanya turun. Sepersekian detik, ke lututku, ke betisku, lalu kembali ke atas dengan cepat, terlalu cepat, seperti orang yang menyentuh sesuatu yang panas.

Aku melihatnya. Dia tahu aku melihatnya.

Aku mencondongkan badan sedikit, mengambil map dokumen kepatuhan dari mejanya, dan membukanya di depannya. Rambutku, yang sore ini sedikit longgar dari sanggulnya, jatuh ke samping.

“Halaman dua,” kataku. “Bagian ketiga. Butuh paraf juga.”

Dia tidak melihat halaman dua.

Dia melihatku.

“Fokus, Pak Chakra.” Aku mengetuk kertas itu dengan kuku. “Datanya di layar.” Aku diam sejenak, lalu tersenyum sedikit. “Bukan di betis saya.”

Jakunnya naik turun. Sekali.

Dia mengambil pulpen. Tangannya, tangan yang menemukan empat puluh tujuh miliar dalam satu presentasi, yang meramal banjir tiga hari sebelumnya, yang mengikat jepit rambutku di lift dengan sangat hati-hati, sedikit gemetar saat membubuhkan paraf di halaman dua bagian ketiga.

Parafnya miring. Melenceng dari kolom.

“Parafnya keluar garis,” kataku.

“Saya tahu,” katanya, suaranya serak.

“Ulangi.”

Dia menatapku. Lama. Matanya gelap di balik kacamata, dan napasnya sedikit lebih berat dari biasanya.

“Re…” katanya, sangat pelan. Lalu berhenti.

Satu suku kata. Bukan Bu.

Jantungku melompat ke tenggorokan.

Tapi kemudian dia memejamkan mata sebentar, menarik napas panjang, dan ketika dia membuka mata lagi, ketenangannya sudah kembali, dipasang lagi seperti kacamata.

“…Bu Serena,” dia membetulkan, dan suaranya sudah datar lagi. “Mohon turun dari meja saya. Ada CCTV di sudut ruangan.”

Aku menoleh ke sudut ruangan. Ada CCTV. Lampu merahnya berkedip.

Aku turun dari meja. Tidak terburu-buru. Merapikan rok. Mengambil map yang sudah ditandatangani, dengan parafnya yang keluar garis.

“Terima kasih, Pak Chakra.”

“Sama-sama, Bu.”

Aku berjalan keluar ruang kaca. Melewati Bagas, yang sedang menatap layar kosong dengan sangat serius. Melewati Tiara, yang sedang mewarnai satu kata dengan tiga stabilo sekaligus. Melewati Yudis, yang memakai headphone tanpa kabel dan tanpa musik. Melewati Arini, yang berdiri di dekat jendela dengan ponsel di telinga, entah sedang menelepon siapa. Dia menatapku lewat. Matanya tidak marah. Hanya penuh pertanyaan.

Aku masuk ke tangga darurat. Pintu besi menutup di belakangku dengan bunyi berat.

Lalu lututku lemas.

Aku bersandar ke dinding beton yang dingin, map di dada, dan merosot pelan sampai terduduk di anak tangga. Jantungku berdebar seperti baru lari maraton. Wajahku panas. Telapak tanganku basah.

Rena.

Dia hampir memanggilku Rena. Hampir. Dan dia menahan diri, seperti menarik kembali tangan dari api.

Aku tidak tahu siapa yang tadi menang. Aku tidak tahu apakah tadi ada pertandingan.

Yang aku tahu, aku menyilangkan kaki di depan mantan suamiku, di atas mejanya, di bawah CCTV, tiga puluh tiga hari sebelum pertunanganku. Dan bagian paling memalukan bukan itu.

Bagian paling memalukan adalah aku ingin melakukannya lagi.


Pukul satu dini hari, aku masih belum tidur.

Aku duduk di kasur dengan laptop, dan aku sedang melakukan sesuatu yang tidak akan pernah kuakui pada siapa pun, termasuk malaikat pencatat.

Aku membuka profil LinkedIn Dr. Arini Tjandra.

PhD Computer Science, ETH Zürich. Postdoc di Singapura. Principal Data Scientist di Meridian Analytics. Empat belas publikasi. Pembicara di tiga konferensi internasional. Foto profilnya profesional dan cantik, tersenyum di depan papan tulis penuh rumus.

Di bagian Rekomendasi, ada satu tulisan dari Chakra Wirasena.

Arini adalah rekan riset terbaik yang pernah saya miliki. Ia cerdas, jujur, dan tidak pernah membiarkan saya lolos dengan argumen yang malas. Selama enam tahun di Zürich, ia juga orang yang memastikan saya makan dan tidur. Siapa pun yang bekerja dengannya beruntung.

Memastikan saya makan dan tidur.

Aku menutup laptop.

Lalu aku membukanya lagi, dan membaca rekomendasi itu untuk keempat kalinya, seperti seseorang menekan memar untuk memastikan masih sakit.

Di lemariku, lengan jas biru tua itu masih menyembul di antara blazer-blazerku.

Aku memutuskan, malam itu, bahwa jas itu akan kukembalikan besok.

Lalu pukul satu lewat dua puluh, aku berubah pikiran.