Chapter Thirty Seven

Kotak Kacamata

POV: Chakra


Hari Senin, pukul sembilan pagi, Oma Margaret mencabut penonaktifan sementara CEO SC Group dengan satu tanda tangan dan satu kalimat.

“Saya sudah tua,” katanya di depan dewan direksi yang masih pucat sejak Sabtu malam. “Kadang saya salah tanda tangan.”

Tidak ada yang membantah. Pak Darmawan bahkan bertepuk tangan, sendirian, dua kali, sebelum Bu Lestari menyikut rusuknya.

Rena kembali ke kursi CEO pukul sembilan lewat tiga menit. Dia duduk di sana dengan blazer putih, sanggul rendah, dan pulpen biru di saku. Kalung perak bunga matahari tidak lagi disembunyikan di balik kerah. Dia memakainya di luar, di atas blus sutra, berkilau kusam di bawah lampu ruang rapat.

Rapat itu berlangsung tiga jam. Pengunduran diri Hendra Sinclair dari semua jabatan, yang diserahkan lewat pengacaranya hari Minggu. Penangguhan merger dengan Hartanto Group sampai proses hukum selesai. Pembentukan tim audit independen untuk seluruh proyek SC Construction. Pemulihan untuk warga Purwakarta.

Dan satu hal lagi, yang diusulkan Rena di akhir rapat dengan wajah yang sangat datar.

“Divisi SC NEXUS,” katanya, “akan melapor langsung ke CEO. Bukan lagi ke COO.” Dia menatap seluruh meja. “Karena kita tidak punya COO.”

Pak Darmawan bertepuk tangan lagi. Kali ini Bu Lestari tidak menyikutnya. Dia ikut bertepuk tangan.


Rena memanggilku ke ruangannya pukul enam sore.

Bukan lewat telepon Sisca. Bukan lewat email dengan CC direksi. Lewat WA, satu kata.

Rena 🌻: Naik.

Aku naik.

Lantai 40 sudah sepi. Sisca sudah pulang, tapi di mejanya ada sticky note kuning yang ditempel di layar komputernya: Pak Chakra, pintu Bu Serena tidak dikunci. Tirai sudah saya turunkan. CCTV di sudut kiri atas. Sama-sama. — S.

Aku mencabut sticky note itu dan menyimpannya di saku. Untuk koleksi.

Ruang CEO di ujung lantai sunyi, tirainya tertutup semua. Rena duduk di balik meja kayu gelap dengan blazer yang sudah dilepas dan disampirkan di sandaran kursi. Lengan blusnya digulung. Rambutnya tidak lagi disanggul, tergerai di bahu. Dia sedang menatap sesuatu di mejanya ketika aku masuk.

Sebuah kotak kacamata.

Kotak kulit hitam, sudutnya mengelupas, sedikit penyok di sisi kanan. Aku mengenalinya sebelum otakku sempat memprosesnya, seperti mengenali suara ibu di tengah keramaian.

Itu kotak kacamataku. Kacamata lamaku. Minus dua setengah, bingkai hitam murah dari optik di Margonda, yang kupakai dari kuliah sampai hari terakhir di apartemen Kalibata.

“Duduk,” katanya.

Aku duduk di kursi di seberang mejanya. Kursi yang sama dengan hari pertamaku di sini, ketika dia memintaku membawa laptop, bukan senyum.

Dia tidak bicara. Dia mendorong kotak itu ke tengah meja, ke arahku.

“Ini ada di laciku,” katanya. “Sejak hari pertama kamu masuk ke gedung ini. Laci kanan, di belakang map-map lama. Aku buka laci itu untuk ambil pulpen biru, tujuh minggu lalu, dan kotak ini ada di sana.” Dia menatap kotak itu. “Aku nggak pernah buka. Enam tahun.”

“Kenapa ada di kamu?”

Dia diam lama.

“Sehari setelah kamu berangkat ke Zürich,” katanya pelan, “aku ke Kalibata. Sendirian. Aku bilang ke Mama aku ke kantor. Mama belum sempat menyuruh orang mengosongkan apartemennya.” Dia menelan ludah. “Aku cuma mau lihat. Sekali lagi. Sebelum semuanya masuk kardus.”

Aku tidak bisa bicara.

“Semuanya masih di tempatnya,” lanjutnya. “Bantal sofa kotak-kotak. Toples kerupuk. Payung di gantungan dekat pintu, yang aku nggak lihat karena aku nggak pernah lihat.” Dia tersenyum, pahit. “Dan di meja dapur, di sebelah kompor, ada dua benda.”

Dia membuka kotak kacamata itu.

Di dalamnya, di atas lapisan beludru hitam yang sudah pudar, tergeletak kacamata lamaku. Bingkai hitam murah, satu engselnya agak longgar, lensanya sedikit tergores di sudut.

Dan di atas kacamata itu, dua cincin.

Cincin perak sederhana. Bukan emas, karena aku tidak mampu membeli emas waktu itu. Perak murah dari toko perhiasan kecil di Depok, dengan ukiran tangan di bagian dalam yang dibuat tukang emas tua yang tidak bisa mengeja nama orang asing. Satu sedikit lebih besar. Satu sedikit lebih kecil.

Aku menatap kedua cincin itu.

“Punyamu,” kata Rena pelan, menunjuk yang lebih besar, “ada di meja dapur. Di sebelah kacamata ini. Kamu tinggalkan.”

Aku ingat. Pagi itu, pukul lima, sebelum taksi ke bandara datang, aku berdiri di dapur apartemen Kalibata yang kecil dan menatap cincin di jari manisku. Aku sudah memakainya setahun. Aku mencoba membawanya. Aku memasukkannya ke saku jaket. Aku mengeluarkannya. Aku memasukkannya ke dompet. Aku mengeluarkannya lagi.

Aku tidak bisa membawanya ke Zürich. Kalau aku membawanya, aku akan memakainya lagi. Dan kalau aku memakainya lagi, aku tidak akan pernah bisa pergi.

Jadi aku meletakkannya di meja dapur. Di sebelah kacamata lamaku, yang juga tidak bisa kubawa karena dokter mata di Depok sudah membuatkan yang baru dengan lensa minus tiga. Aku meninggalkan dua benda yang tidak bisa kupakai lagi di tempat terakhir aku pernah bahagia.

“Dan punyaku,” kata Rena, menyentuh cincin yang lebih kecil dengan ujung jari, “aku lepas malam itu. Di mobil. Waktu pesanmu masuk jam sebelas lima puluh dua. Aku lepas dan aku genggam sampai rumah. Sampai rumah sakit. Sampai pagi.” Suaranya bergetar. “Aku genggam sampai jariku berbekas. Lalu waktu aku ke Kalibata dan lihat punyamu di meja dapur, aku…”

Dia berhenti.

“Aku masukkan punyaku ke sini,” bisiknya. “Bareng punyamu. Bareng kacamatamu. Lalu aku tutup kotaknya. Dan aku nggak pernah buka lagi.”

“Kenapa kamu simpan?” Suaraku tidak seperti suaraku.

Dia menatapku. Matanya basah.

“Karena kalau aku buang,” katanya, “berarti aku yakin. Dan aku nggak pernah yakin, Chakra. Enam tahun aku bilang ke semua orang aku benci kamu. Tapi aku nggak pernah yakin. Kalau yakin, aku sudah buang ini di hari yang sama.”

Aku mengulurkan tangan dan menyentuh cincin yang lebih besar. Cincinku. Logamnya dingin. Lebih ringan dari yang kuingat.

Aku membaliknya dan menatap bagian dalamnya.

Ukiran tangan tukang emas tua di Depok itu masih ada. Sedikit pudar, tapi masih terbaca.

SERENA.

Bukan Rena. Bukan S. Nama lengkapnya. Karena aku ingin cincin itu tahu siapa pemiliknya yang sebenarnya.

Aku menatap cincin yang lebih kecil. Tidak perlu membaliknya. Aku tahu apa yang tertulis di dalamnya.

CHAKRA.

Tukang emas tua itu salah eja waktu pertama kali. Dia menulis CAKRA, tanpa huruf H. Rena menangis di toko kecil itu dan bilang nggak apa-apa, Pak, biarin aja. Aku yang memaksa tukang emas itu mengukir ulang. Huruf H itu sedikit miring, lebih kecil dari huruf-huruf lainnya, menyelip di antara C dan A seperti orang yang datang terlambat ke pesta.

Rena memperhatikanku menatap cincin itu.

“Huruf H-nya,” bisiknya.

“Masih miring?”

“Masih miring.” Dia tertawa kecil, basah. “Aku lihat tadi siang. Pertama kali dalam enam tahun. Huruf H-nya masih miring.”


Kami duduk lama di ruang CEO lantai 40, dengan tirai tertutup dan kotak kacamata terbuka di antara kami.

Aku tidak mengambil cincin itu. Dia juga tidak.

“Kamu bilang,” katanya akhirnya, “kamu mau lamar aku di tempat yang benar.”

“Iya.”

“Kamu sudah tahu tempatnya?”

“Sudah.”

“Kapan?”

Aku menatapnya. Lalu menatap kotak kacamata itu. Lalu kembali ke wajahnya.

“Kamu nggak boleh tahu,” kataku.

Dia menyipitkan mata. “Kenapa?”

“Karena kalau kamu tahu, kamu akan nyalip aku.”

Dia membuka mulut untuk membantah. Lalu menutupnya. Pipinya memerah, dari tulang pipi ke telinga ke leher, warna malu-malu.

“Aku nggak akan nyalip kamu,” katanya.

“Kamu sudah bilang kalau kalah aku yang lamar.”

“Itu kalau kalah.”

“Kita nggak menang dan nggak kalah. Kita cuma selesai.” Aku menatapnya. “Dan aku kenal kamu, Rena. Kamu nggak suka menunggu. Kamu akan cari celah.”

Dia menatapku lama. Lalu tersenyum. Senyum kecil yang nakal, senyum yang membuat lututku tidak percaya diri.

“Kamu memang pengamat,” katanya.

“Aku selalu lihat.”

Dia menutup kotak kacamata itu. Pelan. Dengan dua cincin dan satu kacamata lama di dalamnya. Lalu dia menyelipkannya ke dalam tas kerjanya, bukan ke laci.

“Aku simpan,” katanya. “Sampai tempat yang benar.”

“Kamu nggak tahu tempatnya.”

“Aku tahu,” katanya. “Kamu lihat ke gerobak mie ayam di Sky Hall. Aku lihat kamu lihat.” Dia berdiri dan mengambil blazernya. “Tempatnya Margonda. Waktunya yang aku nggak tahu.”

Aku menatapnya.

Dia tersenyum.

“Aku juga pengamat,” katanya. “Aku belajar dari yang terbaik.”


Kamis malam, pukul tujuh kurang lima menit, aku berdiri di depan pagar rumah Menteng.

Bukan di teras. Di depan pagar. Di trotoar Jalan Teuku Umar, dengan kemeja batik cokelat yang dipilih Gendis dengan bantuan tiga puluh dua menit konsultasi video, celana bahan hitam, dan sepatu kulit yang disemir Ibu tadi sore sambil menggerutu soal anak doktor kok nggak bisa nyemir sepatu.

Di sebelah kananku, Ibu. Kebaya merah. Bukan kebaya merah yang dulu, yang dia pakai ke acara lamaran yang paling dingin dalam sejarah keluarga Sinclair. Kebaya merah baru, yang dia beli kemarin di Pasar Baru dengan Gendis, karena Ibu nggak mau pakai kebaya yang sama kayak waktu Ibu nggak dihargai. Kerudungnya dipakai dengan benar kali ini. Gendis yang memasangkannya di mobil, dengan peniti dan kesabaran yang luar biasa.

Di tangan Ibu, rantang susun empat. Rendang. Sayur nangka. Sambal hijau. Dan satu wadah kecil di paling atas berisi rendang tanpa santan yang dia buat khusus, dengan resep yang dia susun sendiri semalaman, untuk seorang laki-laki dengan kotak obat tujuh sekat.

Di sebelah kiriku, Gendis. Gaun biru muda, rambut digerai, dan ponsel yang dia serahkan ke Ibu di mobil dengan wajah serius. Pegang, Bu. Jangan kasih ke aku sampai pulang.

Dan di belakang kami, berdiri dengan kemeja batik yang sangat rapi dan wajah yang sangat gugup, Marcel Hartanto.

Gendis yang mengundangnya. Dengan izin Bu Vivian, yang ternyata, menurut Gendis, sekarang WA-an sama Ibu tiap malam soal resep. Marcel datang dengan sebuket bunga. Bukan bunga matahari. Bunga lili putih kecil, yang menurut florisnya tidak punya serbuk sari.

“Mas Marcel,” bisik Gendis tanpa menoleh. “Kenapa bunganya lili?”

“Karena saya tahu Mbak alergi serbuk sari,” bisik Marcel balik. “Bu Serena yang bilang. Setelah Sabtu.”

Gendis berhenti bernapas sesaat. Pipinya merah.

“Mas Marcel,” bisiknya lagi, sangat pelan. “Itu… perhatian banget.”

“Saya mencatatnya, Mbak,” kata Marcel serius. “Di ponsel. Folder khusus.”

Ibu, di sebelah kananku, menghela napas sangat panjang dan bergumam Ya Allah, anak-anak zaman sekarang.

Pagar rumah Menteng terbuka pukul tujuh tepat.

Bi Inah berdiri di baliknya. Dia memakai kebaya terbaiknya. Dia melihat kami, lalu melihat Ibu, lalu menutup mulut dengan tangan, dan matanya langsung berkaca-kaca.

“Bu Ratmi,” bisiknya.

“Bi Inah!” Ibu memeluknya. Rantang susun empat bergoyang berbahaya di antara mereka. “Masih ingat Ibu?”

“Masih, Bu. Masih. Delapan tahun lalu Ibu bawa rendang. Saya yang simpan di dapur. Nggak ada yang makan.” Bi Inah menyeka mata. “Saya yang makan, Bu. Diam-diam. Tiga hari.”

Ibu tertawa sambil menangis.

Bi Inah menegakkan badan, merapikan kebayanya, dan berbalik ke arah rumah.

“Silakan, Bu. Silakan, Mas. Bapak sudah menunggu.”

Dia tidak membawa kami ke samping. Tidak ke teras. Tidak ke kursi rotan di bawah lampu, tempat aku pernah menunggu tiga jam delapan tahun lalu sementara orang-orang di dalam rumah memutuskan apakah aku pantas masuk.

Dia membawa kami ke pintu depan.

Pintu kayu jati besar dengan ukiran bunga di bagian atasnya. Pintu yang selama delapan tahun hanya pernah kulihat dari luar, dari teras, dari kursi rotan dan sepiring pisang goreng wijen yang diselundupkan Bi Inah.

Pintu itu terbuka lebar.

Di baliknya, di lorong rumah Menteng, berdiri Pak Richard. Kemeja batik cokelat, senada dengan milikku. Gendis pasti sudah berkoordinasi dengan Rena. Di sebelahnya Bu Vivian dengan gaun lavender. Di belakang mereka Oma dengan kalung mutiara satu lapis dan tongkat yang tidak benar-benar dia butuhkan.

Dan di tengah, Rena.

Dia memakai kebaya. Bukan kebaya champagne. Kebaya putih sederhana, kain katun dengan bordir kecil di kerah, sanggul rendah tanpa melati. Kalung perak bunga matahari di lehernya.

Aku mengenali kebaya itu.

Itu bukan kebaya sewaan di KUA Beji. Kebaya itu sudah lama dikembalikan ke penyewanya. Tapi potongannya sama. Bordirnya sama. Warnanya sama.

Dia membuatnya ulang.

Dia menatapku di ambang pintu. Lalu tersenyum, senyum yang dimulai di sudut bibir dan merambat ke matanya.

“Kamu terlambat,” katanya.

“Aku datang tepat jam tujuh.”

“Kamu terlambat delapan tahun.”

Pak Richard melangkah maju. Dia mengulurkan tangan. Bukan untuk berjabat tangan.

Untuk mengambil rantang susun empat dari tangan Ibu.

“Bu Ratmi,” katanya. “Biar saya yang bawa.”

Ibu menatapnya. Lalu menyerahkan rantang itu dengan senyum yang sangat lebar.

“Hati-hati, Pak. Yang paling atas itu buat Bapak. Satu potong.”

“Satu potong, Bu.”

“Ibu yang ambilkan.”

“Ibu yang ambilkan.”

Pak Richard berbalik dan berjalan ke ruang makan dengan rantang susun empat di tangan. Kepala keluarga Sinclair, Chairman SC Group, membawa rantang mie ayam seperti membawa sesuatu yang sangat berharga.

Bu Vivian menatap Ibu. Ibu menatap Bu Vivian.

“Bu Ratmi,” kata Bu Vivian. “Pandannya sudah saya blender.”

“Hasilnya?”

“Lebih wangi.” Bu Vivian mengangkat dagu sedikit. “Tapi saya tetap tambah pewarna sedikit. Supaya cantik.”

Ibu menyipitkan mata.

“Bu Vivian…”

“Sedikit, Bu. Sedikit.”

Mereka berdua berjalan ke ruang makan sambil berdebat, bahu bersentuhan.

Oma menatapku dari belakang. Lalu menatap Gendis dan Marcel, yang berdiri di teras dengan wajah merah dan buket lili putih kecil di antara mereka.

“Masuk,” kata Oma. “Semua. Lewat depan.”

Lalu dia berbalik dan berjalan ke ruang makan dengan tongkatnya. Tok. Tok. Tok. Di ambang lorong, dia berhenti dan menoleh padaku.

“Anak muda.”

“Ya, Bu?”

“Habis makan,” kata Oma. “Kita main catur. Kali ini jangan menyerah.”


Aku melangkah melewati ambang pintu.

Satu langkah. Kayu jati di bawah kakiku. Lorong rumah Menteng yang dulu hanya bisa kulihat dari teras. Foto-foto keluarga di dinding: Opa dan Oma muda di depan truk pertama SC, Pak Richard muda dengan bayi di gendongan. Rena kecil berseragam TK, tersenyum ompong.

Rena berdiri di sana, di lorong, dengan kebaya putih yang dia buat ulang. Dia menungguku.

Dia mengulurkan tangan.

Aku menggenggamnya.

“Selamat datang,” bisiknya.

“Aku sudah di sini dari dulu,” kataku. “Cuma di teras.”

Dia tertawa. Pelan, basah. Lalu menarikku masuk. Melewati lorong, melewati foto-foto, menuju ruang makan tempat Pak Richard sedang membuka rantang susun empat dan Ibu sedang menampar tangannya pelan karena dia mencoba mengambil dua potong rendang.

Di belakangku, pintu depan rumah Menteng menutup.

Kali ini aku berada di sisi yang benar.