Chapter Thirty Five

Skakmat

POV: Chakra


“…malam ini, saya mendapat kehormatan untuk menyampaikan tiga kabar bahagia sekaligus.”

Pak Hendra berdiri di podium dengan gelas sampanye terangkat. Lampu sorot jatuh di wajahnya yang hangat. Di belakangnya, Jakarta berkilau seperti lautan berlian, dan di dinding kaca terpantul enam ratus wajah yang menatapnya dengan kagum.

Aku duduk di meja utama, di kursi yang seharusnya miliknya. Di sebelah kiriku, Pak Richard. Wajahnya datar, tangannya terlipat di atas meja, matanya tidak lepas dari adiknya.

Di bawah meja, aku bisa melihat tangan Pak Richard gemetar.

“Kabar pertama,” kata Pak Hendra, “SC Group dan Hartanto Group malam ini akan menandatangani perjanjian merger strategis yang akan menjadikan kami salah satu grup usaha terbesar di Asia Tenggara.”

Tepuk tangan. Di meja keluarga Hartanto, Benny Hartanto tersenyum lebar dan mengangkat gelasnya.

“Kabar kedua,” Pak Hendra tersenyum ke arah samping panggung, ke tempat Rena berdiri dengan kebaya champagne dan kalung perak bunga matahari, “keponakan saya tercinta, Serena Sinclair, akan bertunangan dengan Marcel Hartanto. Dua keluarga, satu masa depan.”

Tepuk tangan lebih keras. Kilatan kamera.

Rena tersenyum ke arah kamera. Senyum CEO yang sempurna. Senyum yang sudah dia latih sejak umur delapan belas.

Hanya aku yang tahu senyum itu palsu. Dan di sudut ruangan, di balik gerobak mie ayam bercat biru, Gendis dan Marcel juga tahu. Marcel berdiri dengan sendok sayur di tangan, celemek ayam yang kekecilan, dan wajah yang tidak tersenyum sama sekali.

“Dan kabar ketiga,” kata Pak Hendra. Suaranya melembut, berubah menjadi suara paman di pemakaman. “Mengingat beban berat yang dipikul keponakan saya dalam beberapa minggu terakhir, dan demi stabilitas merger, dewan direksi sore ini memutuskan untuk menonaktifkan sementara CEO kami. Dengan restu Komisaris Utama…” dia mengangguk ke arah Oma Margaret, “…saya akan menjabat sebagai pelaksana tugas CEO, sampai situasi kembali normal.”

Bisik-bisik di seluruh ruangan. Beberapa wartawan mencatat dengan cepat.

“Ini bukan kabar sedih,” kata Pak Hendra, mengangkat gelas lebih tinggi. “Ini kabar bahwa keluarga Sinclair saling menjaga. Bahwa ketika satu anggota keluarga lelah, yang lain akan berdiri di sana untuk melindunginya.” Dia tersenyum. “Untuk keluarga. Untuk masa depan. Untuk…”

Pak Richard berdiri.


Kursi kayu bergeser di lantai marmer dengan bunyi yang sangat keras di Sky Hall yang sunyi.

Pak Hendra berhenti di tengah kalimat. Gelas sampanyenya masih terangkat.

“Mas?”

Pak Richard tidak menjawab. Dia berjalan dari meja utama ke podium. Pelan. Satu langkah, lalu satu lagi. Enam ratus pasang mata mengikutinya. Lampu sorot tidak tahu harus menyinari siapa, jadi ia bergoyang di antara dua bersaudara itu, ragu.

Pak Richard berhenti di sebelah adiknya di podium. Dia mengulurkan tangan ke mikrofon.

Pak Hendra menatapnya. Senyumnya masih ada, tapi matanya mulai berubah.

“Mas, saya belum selesai…”

“Sudah, Dra,” kata Pak Richard pelan. Tanpa mikrofon. Hanya untuk adiknya. Tapi dalam keheningan Sky Hall, aku bisa mendengarnya dari meja utama. “Kamu sudah selesai.”

Dia mengambil mikrofon dari tangan adiknya.


“Bapak-Ibu sekalian,” kata Pak Richard. Suaranya serak, tapi stabil. Sangat stabil. “Saya mohon maaf atas interupsi ini. Sebelum penandatanganan dilakukan, ada hal yang harus saya sampaikan sebagai Chairman SC Group.”

Dia menatap enam ratus wajah di depannya. Lalu menatap Benny Hartanto, yang senyumnya sudah memudar.

“Penandatanganan merger malam ini ditunda,” katanya.

Ruangan meledak dalam bisik-bisik. Benny Hartanto berdiri setengah dari kursinya. Pengacaranya memegang lengannya.

“Penundaan ini dilakukan,” lanjut Pak Richard, mengangkat suaranya sedikit di atas keributan, “karena SC Group sore ini telah menyerahkan laporan resmi kepada Bareskrim Polri dan Otoritas Jasa Keuangan terkait temuan audit internal atas dugaan penyimpangan dalam pengadaan proyek-proyek konstruksi kami.”

Hening.

Hening yang begitu total sampai aku bisa mendengar dengung AC di langit-langit dan, dari sudut ruangan, kuah mie ayam yang mendidih di gerobak Gendis.

Pak Hendra berdiri di sebelah kakaknya. Gelas sampanye masih di tangannya. Wajahnya tidak bergerak.

“Temuan itu,” kata Pak Richard, “termasuk proyek Tol Jatiluhur Seksi Dua. Jembatan yang runtuh pagi ini. Yang, menurut laporan resmi yang dibayar perusahaan ini, berdiri di atas dua puluh empat tiang pancang.” Dia menarik napas. “Tim kami menemukan hanya empat belas.”

Gelombang suara bergulung di seluruh ruangan.

“Mas,” kata Pak Hendra. Suaranya rendah. Masih tenang. Masih hangat. “Mas, ini bukan tempatnya. Kita bicara di belakang. Mas sedang tidak sehat, Mas lupa minum obat…”

“Saya sudah minum obat, Dra.” Pak Richard tidak menoleh. “Jam tujuh pagi tadi. Di depan menantu saya.”

Pak Hendra membeku.

Menantu.

Dia menoleh ke meja utama. Ke kursi yang seharusnya miliknya. Ke aku.

Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, delapan tahun lalu di meja lamaran yang paling dingin dalam sejarah keluarga Sinclair, senyum Hendra Sinclair hilang sepenuhnya. Tidak ada yang tersisa. Tidak ada kehangatan, tidak ada paman di pemakaman, tidak ada selimut. Hanya wajah seorang laki-laki berusia lima puluh lima tahun yang baru menyadari bahwa menteri yang dia makan ternyata diracun.


“Ini fitnah,” kata Pak Hendra.

Dia tidak mengambil mikrofon. Dia tidak perlu. Suaranya cukup keras untuk didengar seluruh Sky Hall.

“Ini fitnah,” ulangnya, berbalik menghadap para tamu dengan tangan terbuka, wajah terluka, suara bergetar dengan kesedihan yang sempurna. “Bapak-Ibu, saya sudah tiga puluh tahun mengabdi untuk perusahaan ini. Saya yang membangun SC Construction dari tiga proyek menjadi tiga ratus. Dan sekarang, karena seorang…” dia menunjuk ke arahku, “…seorang mantan menantu yang kembali dengan dendam, yang memanipulasi data, yang memanipulasi keponakan saya, yang memanipulasi kakak saya yang sakit…”

“Hendra.”

Suara Oma. Tidak keras. Tidak perlu keras.

Seluruh ruangan menoleh ke ujung meja utama.

Oma Margaret berdiri. Pelan. Dengan tongkat di satu tangan dan buku teka-teki catur di tangan yang lain. Kalung mutiara tiga lapisnya berkilau di bawah lampu kristal. Pak Sutedjo berdiri di sebelahnya dengan map biru.

Oma tidak berjalan ke podium. Dia berdiri di tempatnya, menatap anak bungsunya dari seberang lantai dansa.

“Hendra,” katanya. “Jumat malam minggu lalu. Jam sembilan. Kamu melakukan sesuatu dengan tanganmu sendiri, dengan namamu sendiri, di yayasan ayahmu.”

Pak Hendra menatap ibunya. Wajahnya pucat.

“Ma…”

“Langkah itu tidak bisa berjalan tanpa persetujuan Pembina.” Oma mengangkat tangannya sedikit, dan Pak Sutedjo mengangkat map biru itu. “Jadi langkahmu berhenti. Dan tanda tanganmu ada di sini. Sudah ada di Bareskrim juga, sejak jam tiga sore tadi. Dua jam setelah kamu meminta Mama menyetujui penonaktifan cucu Mama sendiri.”

Hening.

“Mama tanda tangan penonaktifan itu,” lanjut Oma pelan, “supaya kamu berdiri di podium ini malam ini dan mengumumkan bahwa kamu yang memimpin. Di depan semua orang. Di depan pers. Di depan Benny.” Matanya berkaca-kaca. “Supaya tidak ada yang bisa bilang kamu tidak tahu. Supaya tidak ada pion lagi yang bisa kamu korbankan.”

Pak Hendra menatap ibunya. Mulutnya terbuka. Tidak ada suara.

“Mama yang ajari kamu catur, Nak,” kata Oma. Suaranya pecah sedikit. “Kamu lupa.”


Benny Hartanto berdiri sepenuhnya dari kursinya.

“Ini tidak ada hubungannya dengan Hartanto Group,” katanya keras. “Kami mitra. Kami tidak tahu apa-apa soal…”

“Ayah.”

Semua kepala menoleh lagi. Kali ini ke sudut ruangan. Ke gerobak mie ayam bercat biru.

Marcel Hartanto melepas celemek ayam yang kekecilan. Melipatnya dengan rapi, seperti dia melipat segala sesuatu. Dia meletakkannya di atas gerobak, di sebelah panci kuah. Lalu dia berjalan menyeberangi Sky Hall. Melewati stan sushi, melewati meja-meja tamu, melewati lantai dansa. Sampai dia berdiri di sebelah Pak Richard di podium.

Gendis menatapnya dari balik gerobak dengan sendok sayur di tangan dan mata yang sangat lebar.

“Ayah,” kata Marcel. Suaranya kaku dan bergetar. Tapi dia berdiri tegak. “Dokumen kesepakatan pribadi Ayah dengan Om Hendra. Yang ada di laci kedua meja kerja Ayah di rumah. Yang mencantumkan dua perusahaan yang sahamnya dipegang kantor Ayah lewat nama orang lain.” Dia menelan ludah. “Saya yang menyerahkannya ke SC. Dua minggu lalu. Dan sore ini, saya yang menyerahkannya ke Bareskrim.”

Benny Hartanto menatap anaknya. Wajahnya berubah dari merah ke putih ke abu-abu.

“Marcel,” katanya. Sangat pelan. “Kamu…”

“Ayah bilang nama Hartanto artinya sesuatu,” kata Marcel. “Bahwa kita membangun gedung yang tidak roboh karena kita tidak pernah memotong jalan pintas.” Matanya basah. “Pagi ini ada jembatan yang roboh, Ayah. Di atas tempat anak-anak tidur.”

Dia menatap ayahnya.

“Saya cuma mau jadi Hartanto yang Ayah ceritakan waktu saya kecil.”


Petugas dari Bareskrim datang pukul delapan lewat dua puluh.

Mereka tidak datang dengan sirene atau borgol. Hanya empat orang berpakaian sipil, dengan kartu identitas yang ditunjukkan dengan sopan kepada Pak Richard di depan podium. Mereka sudah menunggu di lobi sejak pukul tujuh, kata salah satunya, atas koordinasi dengan pengacara keluarga. Mereka meminta Bapak Hendra Sinclair dan Bapak Benny Hartanto untuk ikut memberikan keterangan malam ini juga.

Benny Hartanto pergi lebih dulu, dengan pengacaranya dan wajah yang tidak mau menatap siapa pun. Istrinya, Ibu Lidia, duduk membeku di meja keluarga Hartanto. Marcel berjalan ke arahnya, berlutut di sebelah kursinya, dan menggenggam tangannya. Ibu Lidia menangis di bahu anaknya tanpa suara.

Pak Hendra tidak langsung pergi.

Dia berdiri di podium, di sebelah kakaknya, dengan gelas sampanye yang sekarang sudah tidak dia pegang. Gelas itu tergeletak di lantai, pecah. Aku tidak tahu kapan dia menjatuhkannya.

Dia menatap Pak Richard.

“Mas,” katanya. Suaranya kecil. Seperti anak kecil. “Mas, aku cuma…”

“Kamu cuma apa, Dra?” Pak Richard menatapnya. Matanya merah. “Kamu cuma takut? Kamu cuma ingin melindungi aku? Kamu cuma ingin keluarga ini utuh?” Suaranya bergetar. “Delapan puluh tujuh orang tidur di bawah jembatanmu semalam. Anak-anak, Dra. Dan pagi ini kamu bilang ke anakku, jangan bikin panik.”

Pak Hendra tidak menjawab.

“Tiang pancangnya ada berapa, Dra?” tanya Pak Richard pelan.

Pertanyaan yang sama dengan yang diajukan Rena di lembah Purwakarta pagi ini.

Pak Hendra menunduk.

Lalu dia berjalan turun dari podium. Bukan ke arah petugas. Ke arah meja utama. Ke arah ibunya.

Oma masih berdiri di sana, dengan tongkat dan buku teka-teki catur. Petugas mengikuti beberapa langkah di belakang Pak Hendra, tapi tidak menghentikannya.

Pak Hendra berhenti di depan ibunya.

Dia laki-laki berusia lima puluh lima tahun dengan jas abu-abu dan dasi marun. Tapi di depan perempuan berusia tujuh puluh sembilan tahun itu, dia terlihat seperti anak kecil yang jatuh dari sepeda di bawah pohon mangga.

“Ma,” bisiknya.

Oma menatapnya.

Lalu Oma melepaskan tongkatnya, membiarkannya bersandar di meja, dan mengangkat kedua tangannya. Dia menangkup wajah anak bungsunya, seperti Bu Ratmi menangkup wajah Rena di kedai Cibubur.

“Mama yang ajari kamu naik sepeda,” kata Oma pelan. Air mata mengalir di pipinya yang keriput. “Mama yang pegang sadelnya, lari di belakangmu, keliling halaman. Kamu bilang, Ma, jangan lepas, jangan lepas.” Dia menelan ludah. “Mama nggak lepas. Sampai kamu bisa sendiri.”

Pak Hendra menangis.

“Sekarang,” kata Oma, “Mama harus lepas, Nak.”

Dia mencium dahi anaknya. Sekali. Lama.

Lalu dia melepaskannya.


Pak Hendra berbalik ke arah petugas. Langkahnya pelan. Di tengah lantai dansa, dia berhenti.

Rena berdiri di sana. Di sisi panggung, dengan kebaya champagne, melati di sanggul, dan kalung perak bunga matahari di leher. Dia tidak bergerak dari tempatnya sejak Pak Richard berdiri.

Pak Hendra menatapnya.

“Nak,” katanya. Suaranya pecah. “Om sayang kamu.”

Rena menatap pamannya. Laki-laki yang menggendongnya di pundak di pantai Anyer. Yang mengajarinya naik sepeda. Yang memberinya amplop cokelat. Yang berdiri di ambang pintu ruang tunggu ICU dan bilang hati-hati, Nak, istirahat.

“Aku tahu, Om,” katanya pelan.

Air mata mengalir di pipinya. Dia tidak menyekanya.

“Itu yang paling sakit.”

Pak Hendra memejamkan mata. Lalu berjalan pergi bersama petugas, melewati enam ratus tamu yang diam. Melewati gerobak mie ayam bercat biru, tempat Gendis berdiri dengan sendok sayur dan wajah yang basah. Melewati pintu Sky Hall.

Di ambang pintu, dia berhenti dan menoleh sekali. Bukan ke ibunya. Bukan ke kakaknya. Bukan ke Rena.

Ke aku.

Kami saling menatap di seberang Sky Hall. Laki-laki yang delapan tahun lalu berdiri di pintu dan tidak membiarkanku masuk. Dan aku, yang sekarang duduk di kursinya.

“Kamu menang,” katanya. Tanpa suara, hanya gerak bibir.

Aku menggeleng pelan.

Ini bukan pertandingan, Om.

Dia menatapku sebentar. Lalu dia pergi.


Pukul delapan lewat empat puluh, kembang api meledak di atas SC Tower.

Tidak ada yang membatalkannya. Benny Hartanto memesannya enam bulan lalu, membayar penuh di muka, dan memprogramnya untuk menyala tepat pukul 20.40, waktu yang seharusnya menjadi momen penandatanganan.

Jadi langit Jakarta meledak dalam warna merah, emas, perak, dan biru. Bunga-bunga cahaya raksasa mekar di atas gedung, menyinari dinding kaca Sky Hall, menyinari enam ratus tamu yang masih berdiri bingung di antara mawar putih dan meja-meja sushi.

Menyinari Oma yang duduk kembali di kursinya, dengan tongkat di pangkuan dan wajah yang basah.

Menyinari Pak Richard yang berdiri di podium sendirian, menatap pintu yang baru saja dilewati adiknya.

Menyinari Marcel yang berlutut di sebelah ibunya. Gendis sudah meninggalkan gerobak mie ayam dan berdiri di belakang Marcel dengan satu tangan di bahunya.

Dan menyinari Rena.

Dia masih berdiri di sisi panggung. Kembang api memantul di bordiran emas kebayanya, di melati di sanggulnya, di air mata di pipinya, di kalung perak kecil berbentuk bunga matahari di lehernya.

Dia menoleh ke meja utama. Menatapku.

Aku berdiri.

Aku berjalan menyeberangi Sky Hall. Melewati meja-meja, melewati lantai dansa, melewati pecahan gelas sampanye yang berserakan di depan podium. Enam ratus pasang mata mengikutiku. Kilatan kamera menyala. Seseorang di antara para tamu berbisik, itu dia, yang di TikTok, yang 1.284.

Aku tidak peduli.

Aku berhenti di depannya.

“Kita menang?” bisiknya. Suaranya pecah.

Aku menatapnya. Kembang api terus meledak di belakang kami, di balik dinding kaca.

“Kita nggak menang,” kataku pelan. “Kita cuma selesai.”

Dia tertawa. Basah, lelah, dan sangat lega.

“Berarti,” katanya, menyeka air mata dengan punggung tangan, merusak maskara yang sudah susah payah diperbaiki penata rias, “kamu harus lamar aku.”

“Itu bukan perjanjiannya. Perjanjiannya kalau menang.”

“Selesai itu menang.”

“Secara statistik…”

“Chakra.”

Aku tersenyum.

Lalu aku mengulurkan tangan dan menyentuh liontin bunga matahari di lehernya. Perak murah. Rantai tipis. Delapan tahun tidak putus.

“Nanti,” kataku.

“Nanti kapan?”

“Di tempat yang benar,” kataku. “Bukan di sini. Bukan di Sky Hall, di depan enam ratus orang, dengan kebaya untuk laki-laki lain dan kembang api yang dibayar orang yang baru saja dibawa polisi.”

Dia menatapku. Matanya berkaca-kaca, tapi bibirnya tersenyum.

“Di mana tempat yang benar?”

Aku tidak menjawab.

Tapi aku menatap ke sudut ruangan, ke gerobak mie ayam kayu bercat biru dengan spanduk kuning yang tulisannya sama persis seperti delapan tahun lalu.

Enak, Murah, Bikin Kangen.

Dia mengikuti arah pandanganku.

Lalu dia mengerti.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, di bawah kembang api yang dibayar orang lain, Serena Sinclair menangis karena bahagia.