Chapter Twenty Nine
Arini Pamit
POV: Serena
Arini Tjandra mengajakku makan siang hari Senin dengan satu pesan WA yang sangat pendek.
Bu Serena, saya pulang ke Singapura hari Kamis. Proyek tahap satu sudah selesai. Boleh saya traktir Ibu makan siang sebelum pergi? Bukan fondue. Saya janji.
Aku menatap pesan itu lama. Lalu membalas: Saya yang traktir. Dan saya yang pilih tempat.
Aku memilih warung soto Betawi di gang belakang Jalan Sabang. Warung kecil dengan bangku kayu panjang dan kipas angin yang berderit, tempat aku dulu makan bersama Chakra setiap Jumat waktu dia masih bekerja di fintech dekat situ. Aku tidak tahu kenapa aku memilih tempat itu. Mungkin karena aku ingin Arini melihat sesuatu yang tidak bisa dia lihat di Zürich.
Arini datang dengan kemeja linen putih dan celana culottes hitam. Dia duduk di bangku kayu, menatap mangkuk soto yang mengepul di depannya, dan tersenyum lebar.
“Ini tempat kalian dulu, ya?” katanya.
Aku tidak menjawab.
“Chak pernah cerita,” katanya, menyendok kuah. “Warung soto di gang sempit, kipas angin berderit, ibu pemilik yang selalu kasih emping lebih buat istri cantik Mas Chakra.” Dia melirik ke arah ibu pemilik warung yang sedang menggoreng emping di balik etalase. “Saya kira dia melebih-lebihkan. Ternyata kipas anginnya benar-benar berderit.”
Ibu pemilik warung datang dengan sepiring emping. Lebih banyak dari porsi biasa. Dia meletakkannya di depanku dan tersenyum.
“Mbak Rena. Lama nggak ke sini. Mas Chakra-nya mana?”
Aku membeku. Delapan tahun. Ibu pemilik warung itu masih ingat namaku.
“Kerja, Bu,” kataku pelan.
“Salam, ya. Bilang empingnya masih sama.” Dia berjalan kembali ke etalase.
Arini menatapku. Aku menatap emping.
“Enam tahun,” kata Arini akhirnya, pelan, “dia cerita soal kamu.”
Dia bercerita sambil makan soto, pelan, dengan suara yang tidak seperti suaranya di ruang rapat. Tidak ada tawa geli, tidak ada logat Singapura yang dibuat-buat. Hanya suara seorang perempuan yang sudah lama menyimpan sesuatu.
“Tahun pertama, dia nggak pernah sebut nama kamu,” katanya. “Dia cuma kerja. Nggak makan, nggak tidur. Saya satu lab dengannya, jadi saya yang pertama sadar ada yang salah. Orang nggak kerja seperti itu kecuali sedang lari dari sesuatu.” Dia mengaduk sotonya. “Saya mulai bawakan makanan ke lab. Awalnya karena kasihan. Lalu karena kebiasaan.”
“Lalu?”
“Lalu di musim dingin pertama, pasar Natal di Zürich, dia minum glühwein tiga gelas. Dia nggak kuat minum, ternyata. Dia duduk di bangku kayu di bawah lampu-lampu kecil, dan tiba-tiba dia bilang, Rena suka lampu-lampu begini. Dia pasti foto semuanya.” Arini tersenyum. “Itu pertama kali saya dengar nama itu.”
Aku menunduk.
“Setelah itu nama itu muncul di mana-mana,” lanjutnya. “Rena nggak suka daun bawang. Rena selalu pesan martabak setengah keju setengah cokelat. Rena kalau marah megang gelas pakai dua tangan.” Dia tertawa kecil. “Saya tahu lebih banyak soal kamu daripada soal sepupu-sepupu saya sendiri. Saya pikir Rena itu mantan pacar SMA. Saya pikir dia cuma laki-laki sentimental yang nggak bisa lupa cinta pertama.”
“Kamu nggak tanya?”
“Saya tanya.” Arini meletakkan sendoknya. “Sekali. Tahun ketiga. Saya tanya, kenapa kamu nggak balik ke Rena kalau kamu sesayang itu?” Dia menatapku. “Dia diam lama sekali. Lalu dia bilang, karena dia belum menjawab pertanyaanku. Saya tanya pertanyaan apa. Dia nggak pernah jawab.”
Kipas angin berderit. Ibu pemilik warung menggoreng emping lagi.
“Bu Serena,” kata Arini. “Boleh saya jujur?”
“Tentu.”
“Saya pernah suka sama dia.” Dia mengatakannya dengan tenang, sambil menatap mangkuk, seperti melaporkan hasil uji statistik. “Tahun kedua sampai tahun keempat. Saya bawakan makanan, saya temani dia lembur, saya pastikan dia tidur. Saya pikir, kalau saya cukup sabar, suatu hari dia akan sadar ada orang di sebelahnya.”
Aku tidak tahu harus berkata apa.
“Dia nggak pernah sadar.” Arini tersenyum. Senyum yang tulus dan sedikit sedih, tanpa pahit sama sekali. “Bukan karena dia jahat. Karena dia memang nggak bisa lihat orang lain. Matanya selalu melihat ke satu arah. Ke tenggara. Ke Jakarta.” Dia mengangkat bahu. “Di tahun kelima saya berhenti. Saya pacaran dengan seorang arsitek Swiss yang sangat baik dan sangat membosankan. Kami putus tahun lalu. Sekarang saya bahagia sendiri.”
“Arini…”
“Saya nggak cerita ini supaya Ibu kasihan.” Dia mengambil emping dari piringku. “Saya cerita supaya Ibu tahu satu hal.”
Dia menatapku lurus.
“Enam tahun saya di sebelah dia. Setiap hari. Dan saya cuma figuran, Bu. Tokoh pendukung yang muncul di bab yang salah. Tokoh utamanya selalu Ibu. Bahkan waktu Ibu nggak ada di sana.”
Aku menatapnya. Perempuan yang kucemburui setengah mati. Yang auditnya kusabotase demi satu fondue. Yang kakinya menjuntai di tepi meja Chakra. Yang memeluknya di lobi SC Tower.
Yang ternyata selama empat tahun memastikan laki-laki yang kucintai tidak mati kelaparan di negeri orang, sementara aku sibuk membencinya dari jauh.
“Terima kasih,” kataku. Suaraku serak. “Sudah jaga dia.”
Arini tertawa. Lalu menyeka sudut matanya dengan punggung tangan.
“Sama-sama,” katanya. “Sekarang giliran Ibu. Dan Bu Serena, tolong. Dia masih lupa makan kalau sedang fokus. Dan dia nggak bisa minum alkohol, jadi jangan pernah kasih dia glühwein. Dia akan cerita soal kamu ke orang asing.”
“Kepada siapa?”
“Kepada seorang turis Jepang. Empat puluh menit.” Arini menggeleng. “Turis itu sampai menangis.”
Aku tertawa. Arini tertawa. Ibu pemilik warung datang membawa sepiring emping lagi dan bertanya apakah kami sedang membicarakan Mas Chakra, dan kami berdua menjawab iya, Bu bersamaan, lalu tertawa lebih keras.
Sebelum berpisah di mulut gang, Arini memelukku.
Pelukan singkat, erat, wangi parfum sitrus. Persis seperti pelukan yang kulihat dari dalam mobil di lobi SC Tower empat minggu lalu dan membuatku ingin menabrakkan sedanku ke pilar.
“Satu lagi,” bisiknya di telingaku. “Disertasi itu. Halaman iv. Saya sudah baca waktu terbit dua tahun lalu. Saya yang bilang ke dia, kamu harus kirim ini ke dia. Dia bilang nggak bisa. Dia bilang, dia harus menemukannya sendiri, atau tidak sama sekali.”
Dia melepaskan pelukan dan tersenyum.
“Jadi secara teknis, saya nggak melanggar privasinya. Saya cuma membantu Ibu menemukan sendiri.”
“Itu argumen yang malas, Arini.”
“Saya tahu.” Dia menyeringai, senyum geli yang kukenal dari ruang rapat. “Dia pasti bilang begitu juga.”
Rapat Pembina Yayasan Keluarga Sinclair berlangsung Rabu pukul sepuluh pagi di ruang rapat kecil lantai 50.
Pesertanya lima orang. Oma sebagai Pembina, dengan setelan abu-abu dan kalung mutiara tiga lapis. Om Hendra sebagai Ketua, dengan senyum hangat dan map tebal di depannya. Bendahara yayasan, seorang laki-laki paruh baya bernama Pak Gunawan yang tidak berhenti menyeka keringat di dahinya. Pak Sutedjo sebagai penasihat hukum, kali ini dengan jas lengkap dan tanpa piyama. Dan aku, sebagai pengamat atas permintaan Pembina, duduk di sudut dengan tablet dan wajah yang sangat netral.
Oma membuka rapat dengan batuk kecil yang terdengar sangat dibuat-buat.
“Saya sudah tua,” katanya, dengan suara yang tiba-tiba terdengar sepuluh tahun lebih tua dari kemarin sore waktu dia meneriakiku dari jendela soal payung. “Minggu lalu dokter bilang tekanan darah saya tinggi. Saya mulai berpikir soal apa yang akan terjadi setelah saya tidak ada.”
Om Hendra mencondongkan badan dengan wajah prihatin. “Ma, jangan bicara begitu.”
“Saya realistis, Hendra.” Oma menepuk tangannya. “Yayasan ini peninggalan ayahmu. Saya ingin memastikan semuanya rapi sebelum notaris menyusun wasiat saya. Jadi saya minta semua laporan keuangan lengkap tiga tahun terakhir. Rekening koran, daftar donatur, daftar penerima beasiswa. Semuanya. Untuk notaris.”
Om Hendra tidak langsung menjawab. Matanya bergerak sepersekian detik ke Pak Gunawan, yang menyeka keringat lebih cepat.
“Tentu, Ma,” katanya kemudian, dengan senyum yang kembali hangat. “Tentu. Pak Gunawan, tolong siapkan semuanya untuk Mama.”
“Hari ini,” kata Oma.
“Hari ini, Ma?”
“Saya tua, Hendra. Saya tidak tahu apakah saya masih ada minggu depan.” Oma menatapnya dengan mata yang sangat lelah dan sangat polos. “Kamu tidak mau Mama pergi sebelum wasiat Mama rapi, kan?”
Om Hendra menatap ibunya. Tiga detik. Lalu dia tersenyum dan menepuk tangan Oma.
“Hari ini, Ma. Pak Gunawan, semuanya. Hari ini.”
“Terima kasih, Nak.” Oma menepuk tangannya balik. “Oh, satu lagi. Notaris bilang, untuk perubahan pengurus setelah saya meninggal, saya perlu menuliskan siapa yang saya percaya. Saya masih memikirkan.” Dia melirikku di sudut ruangan, lalu kembali ke Om Hendra. “Tapi kamu tenang saja. Kamu anak Mama.”
Om Hendra tersenyum. Senyum yang sampai ke matanya.
Di sudut ruangan, aku menunduk ke tablet supaya tidak ada yang melihat wajahku. Di layar, aku mengetik pesan untuk satu orang.
Oma pantas dapat Piala Citra.
Dua centang biru. Dua detik.
Pak Data: Aku tahu. Siapkan sofa hijau. Malam ini aku nggak tidur.
Kotak-kotak itu tiba di lantai 38 pukul tujuh malam, diantar Pak Udin dengan troli. Lima kardus arsip berisi map-map tebal, dan satu flashdisk dengan data elektronik yang diserahkan Pak Gunawan dengan tangan gemetar.
Pak Udin menurunkan kardus terakhir, lalu berdiri sebentar di ambang ruang kaca. Dia menatap Chakra. Lalu menatapku.
“Bu,” katanya pelan. “Pak Doktor.” Dia membungkuk sedikit. “Laporan saya ke Pak Hendra malam ini: Ibu pulang jam enam, makan malam di Senopati, tidur jam sepuluh.”
Lalu dia pergi.
Chakra menatap pintu yang menutup. “Oma?”
“Oma,” kataku.
Malam itu lantai 38 hanya diisi dua orang. Chakra di depan tiga layar, dengan kardus-kardus terbuka di sekelilingnya seperti benteng kertas. Aku di sofa hijau tua, dengan kaki terlipat, cardigan abu-abu, dan setumpuk kopi kaleng dingin dari minimarket di lobi.
Aku tidak membantu. Aku tidak mengerti rekening koran sedalam yang dia mengerti. Tapi aku menonton.
Aku menonton caranya bekerja. Jarinya yang bergerak di atas keyboard tanpa melihat. Matanya yang menyapu layar dari kiri ke kanan seperti membaca buku yang sangat menegangkan. Caranya mendorong kacamata ke atas hidung dengan satu jari setiap kali menemukan angka yang menarik, sekali, dan bergumam pelan ke dirinya sendiri dalam campuran bahasa Indonesia, Inggris, dan sesuatu yang kurasa Jerman.
Pukul sepuluh, aku menempelkan kaleng kopi dingin ke lehernya. Dia tersentak, mengumpat pelan dalam bahasa Jerman, lalu mengambil kaleng itu dan meminumnya tanpa mengalihkan mata dari layar.
Pukul dua belas, aku menyuapinya roti cokelat dari lobi. Dia membuka mulut tanpa menoleh, seperti burung kecil.
Pukul satu, dia berhenti mengetik.
Dia tidak bilang apa-apa. Dia hanya duduk diam di depan tiga layar, tangannya terlipat di depan mulut, dan menatap satu titik yang tidak bisa kulihat dari sofa.
“Chakra?”
Dia menoleh. Wajahnya lelah, tapi matanya tenang. Tenang yang berbeda dari biasanya. Bukan tenang permukaan danau. Tenang orang yang akhirnya berhenti mencari karena sudah menemukan.
“Ketemu,” katanya pelan.
Aku tidak bertanya apa. Aku tidak perlu. Aku melihat cara bahunya turun, seperti seseorang yang baru meletakkan beban yang dia bawa berbulan-bulan.
“Cukup?” tanyaku.
“Cukup untuk tahu.” Dia melepas kacamata dan memijat pangkal hidungnya. “Belum cukup untuk membuktikan di depan Papamu. Papamu akan bilang ini cuma angka. Om Hendra akan bilang dia nggak tahu apa-apa, bendaharanya yang salah. Kita butuh satu hal lagi.”
“Apa?”
“Tanda tangannya.” Dia memakai kacamatanya lagi. “Satu langkah yang dia ambil sendiri, dengan tangannya sendiri, yang nggak bisa dia limpahkan ke Ferdi, ke Pak Gunawan, atau ke siapa pun.”
“Dan kalau dia nggak mau ambil langkah itu?”
Dia tersenyum tipis. “Oma bilang, orang yang paling berbahaya adalah yang membiarkan dirinya dimakan di tempat yang dia pilih sendiri.” Dia menatap kardus-kardus di sekelilingnya. “Kita kasih dia menteri. Di tempat yang kita pilih.”
Aku menatapnya lama. Lalu menepuk sofa hijau di sebelahku.
“Sini.”
“Rena, aku masih…”
“Sudah jam satu. Kamu sudah ketemu. Sini.”
Dia menatapku. Lalu, pelan, dia menutup laptop, berdiri, dan berjalan ke sofa. Dia duduk di ujung yang lain, sopan, dengan jarak satu bantal di antara kami.
Aku menarik bantal itu dan meletakkannya di pangkuanku.
“Tidur,” kataku.
“Di pangkuanmu?”
“Di bantal. Bantalnya kebetulan di pangkuanku.”
Dia menatap bantal itu. Lalu menatapku. Lalu, dengan wajah orang yang tahu dia kalah dan tidak keberatan, dia berbaring di sofa hijau tua itu dan meletakkan kepalanya di bantal di pangkuanku. Kakinya menjuntai lewat sandaran tangan. Kacamatanya miring.
Aku melepas kacamatanya dan menaruhnya di meja.
“Lima menit,” gumamnya.
“Jangan GR.”
Dia tertawa pelan, lelah, dengan mata terpejam.
Aku mengusap rambutnya. Pelan, dari dahi ke belakang, seperti dulu di kasur kecil apartemen Kalibata ketika dia pulang terlalu malam dan terlalu capek untuk bicara. Rambutnya lebih pendek sekarang. Lebih rapi. Tapi di bagian belakang kepalanya masih ada pusaran kecil yang selalu mencuat ke atas tidak peduli seberapa banyak air yang dia pakai untuk menyisirnya.
Pusaran itu masih ada.
Lima menit. Sepuluh. Napasnya melambat, dalam, teratur.
Dia tertidur di pangkuanku, di sofa hijau tua di lantai 38, pukul satu lewat dua puluh pagi, dikelilingi lima kardus yang berisi semua yang dia butuhkan untuk menghancurkan pamanku.
Aku tidak tidur. Aku duduk di sana, mengusap rambutnya, menatap lampu-lampu Jakarta di luar jendela, dan memikirkan kalimat Arini di mulut gang tadi siang.
Tokoh utamanya selalu Ibu. Bahkan waktu Ibu nggak ada di sana.
Pukul empat pagi, ponselku bergetar di meja. Pesan dari nomor Singapura.
Arini: Bu, saya sudah di bandara. Penerbangan jam enam. Terima kasih untuk sotonya. Dan untuk empingnya. Tolong bilang ke ibu warung, empingnya memang masih sama.
Arini: Jaga dia.
Aku menatap laki-laki yang tidur di pangkuanku.
Saya jaga, aku membalas. Kali ini saya jaga.
- 1 Kepala yang Baru
- 2 Mie Ayam Tanpa Daun Bawang
- 3 Reply All
- 4 Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu
- 5 Lift Nomor Empat
- 6 400 Gerai Sebelum Hujan
- 7 Satu-Satunya yang Buka
- 8 Tamu dari Zürich
- 9 Dasi
- 10 Gala Lantai 50
- 11 Rute yang Lebih Pendek
- 12 Rumah di Cibubur
- 13 Pola Jam Dua Pagi
- 14 The AI Duo
- 15 Hujan di Tol
- 16 Tanggal di Surat Cerai
- 17 Empat Belas Vendor
- 18 Demam
- 19 NEXA Bocor
- 20 Percaya
- 21 Log Akses
- 22 Foto-Foto Lama
- 23 Ruang Tunggu ICU
- 24 Rp2 Miliar yang Pulang
- 25 RENA
- 26 Halal Dulu
- 27 Oma Tahu
- 28 Marcel
- 29 Arini Pamit reading
- 30 Kebaya untuk Jebakan
- 31 Makan Malam Keluarga
- 32 Data Tidak Punya Keluarga
- 33 Hari Penandatanganan
- 34 Menteri
- 35 Skakmat
- 36 Dua Ibu
- 37 Kotak Kacamata
- 38 Kedai Pertama
- 39 Akad Kedua
- 40 Malam Pertama, Lagi
- 41 Epilog — Ramalan yang Akurat