Chapter Twenty Eight
Marcel
POV: Chakra
Kedai Mie Ayam Bu Ratmi cabang Margonda buka kembali hari Sabtu, dua minggu setelah kompornya meledak. Dapurnya baru, catnya baru, dan spanduk kuningnya baru dengan tulisan yang sama persis seperti delapan tahun lalu.
MIE AYAM BU RATMI — Enak, Murah, Bikin Kangen.
Lokasinya sama, tiga puluh meter dari bekas kontrakan kami yang sekarang sudah jadi toko ponsel. Atap sengnya sudah diganti genteng metal. Ibu protes tiga hari soal itu. Ibu suka bunyi hujan di seng, Chakra. Bikin pelanggan betah.
Pukul sepuluh pagi, kedai itu penuh. Pelanggan lama yang rindu, tetangga yang penasaran, mahasiswa yang datang karena video Gendis tentang pembukaan kembali kedai legendaris setelah tragedi kompor, lengkap dengan musik orkestra dan gerakan lambat Ibu mengaduk kuah.
Aku di dapur, mengiris ayam. Ibu di depan kompor dengan daster batik oranye yang dia sebut daster pembukaan. Gendis di depan, mengurus antrean.
Dan di meja paling pojok, dengan masker hitam, topi, dan kaus abu-abu kebesaran yang dia ambil dari lemariku hari Senin dan tidak pernah dikembalikan, duduk CEO SC Group. Dia makan mie ayam tanpa daun bawang dan pura-pura tidak kenal siapa pun.
Penyamarannya buruk. Seorang ibu-ibu sudah minta foto. Rena menolak dengan sopan, saya bukan siapa-siapa, Bu, dan ibu itu menjawab, iya, Mbak, bukan siapa-siapa yang mirip banget sama yang di TikTok.
Pukul sepuluh lewat dua puluh, Gendis masuk ke dapur dengan wajah pucat.
“Mas. Dia datang.”
Aku menoleh ke depan.
Di bawah spanduk kuning berdiri Marcel Hartanto. Kemeja polo biru navy yang disetrika licin, celana chino krem, sepatu kulit yang sangat mahal dan sangat tidak cocok dengan lantai semen. Di tangan kirinya ada tas belanja dari toko peralatan dapur. Di tangan kanannya ada sebuket bunga matahari yang lebih besar dari kepalanya.
“Mas,” bisik Gendis. “Rambutku gimana?”
Aku menatap adikku. Dua puluh empat tahun, empat ratus ribu pengikut, tidak pernah malu pada apa pun. Sekarang dia berdiri di dapur sambil merapikan rambut dengan tangan gemetar.
“Bagus,” kataku.
Dia menyikut perutku dan keluar.
“Mbak Gendis.” Marcel membungkuk sedikit. “Selamat pagi. Terima kasih atas undangannya. Ini untuk pembukaan kembali kedai.” Dia menyodorkan bunga itu, lalu mengangkat tas belanjanya. “Dan ini timbangan digital. Saya menduga tiga percobaan saya di rumah gagal karena takaran bumbunya kurang presisi.”
Gendis menatap timbangan itu. “Mas Marcel. Ini mie ayam. Bukan laboratorium.”
Dari meja pojok terdengar suara tersedak di balik masker.
Ibu muncul dari balik kompor, sendok sayur di tangan, dan menatap Marcel dari atas sampai bawah.
“Ini yang namanya Marcel?”
“Iya, Bu,” kata Gendis.
“Yang DM kamu sampai jam dua pagi?”
“Bu!”
Marcel memerah sampai ke telinga.
Ibu menatapnya lebih lama. Lalu menatap bunga matahari, lalu timbangan digital. Lalu dia tersenyum, senyum yang sama dengan yang dia berikan delapan tahun lalu waktu aku membawa perempuan bergaun basah kuyup ke warung ini.
“Masuk, Nak. Pakai celemek. Timbangannya taruh saja, Ibu nggak butuh. Mie ayam itu pakai perasaan.”
Marcel mengangguk serius. “Mohon maaf, Bu. Perasaan saya belum terkalibrasi.”
Ibu tertawa sampai sendok sayurnya bergoyang. “Gendis! Ajari dia. Kalibrasi perasaannya.”
Selama dua jam, pewaris Hartanto Group berdiri di depan kompor dengan celemek bergambar ayam yang kekecilan, belajar menumis bawang putih tunggal. Dia mencatat setiap langkah di ponsel. Dia bertanya berapa detik bawang harus ditumis sampai harum, dan Gendis menjawab sampai harum, Mas, pakai hidung.
Gendis mengajarinya dengan sabar. Lebih sabar dari yang pernah kulihat Gendis bersabar pada siapa pun. Dia memegang pergelangan tangan Marcel untuk menunjukkan cara mengaduk. Dia merapikan celemek Marcel yang miring tanpa diminta. Setiap kali itu terjadi, Marcel sepertinya lupa caranya bernapas.
Aku keluar dari dapur dan duduk di seberang Rena.
“Kamu bilang ke dia bunga matahari,” kataku.
“Dia tanya Gendis suka bunga apa. Aku nggak tahu, jadi aku jawab yang aku suka.”
“Gendis alergi serbuk sari.”
Rena menoleh ke vas di samping kompor. Gendis meletakkan bunga itu di sana, tepat di sebelahnya, bukan di luar. Mata Gendis sedikit merah. Hidungnya juga.
“Dia nggak taruh di luar,” bisik Rena.
“Dia bersin dua jam supaya bisa lihat bunganya.”
Rena menutup mulut dengan tangan dan tertawa pelan. “Mereka bodoh.”
“Sangat.”
“Kayak kita.”
Aku tidak menjawab. Aku mengambil satu kerupuk pangsit dari piringnya dan dia membiarkanku. Itu jawaban yang cukup.
Pukul setengah satu, Marcel melepas celemeknya dan berjalan ke mejaku. Senyum malu-malunya sudah hilang.
“Pak Chakra. Bisa bicara sebentar? Di tempat yang sepi.”
Rena mengangguk padaku.
Aku membawanya ke gang sempit di belakang kedai. Gang yang dulu jadi jalan pintas ke kontrakan kami, sekarang penuh motor yang diparkir dan seekor kucing yang tidur di atas jok.
Marcel berdiri di sana dengan noda kuah di kemejanya. Dia mengeluarkan sebuah flashdisk hitam dari saku dan memegangnya lama, seperti orang yang memegang sesuatu yang berat.
“Serena sudah cerita soal kami?”
“Sudah.”
“Saya minta waktu satu minggu karena saya menemukan sesuatu.” Dia menarik napas. “Dua minggu lalu, Ayah meminta saya mengambil berkas di ruang kerjanya di rumah. Saya membuka laci yang salah.”
Dia menyerahkan flashdisk itu padaku.
“Isinya foto-foto dokumen. Saya memotretnya malam itu, lalu mengembalikan semuanya ke tempatnya.”
“Dokumen apa?”
“Kesepakatan pribadi antara Ayah dan Pak Hendra. Di luar perjanjian merger resmi.” Suaranya datar, tapi tangannya gemetar. “Setelah merger, Pak Hendra akan memimpin divisi konstruksi perusahaan gabungan. Ada satu pasal yang menyebut Serena akan dialihkan ke posisi non-eksekutif setelah menikah dengan saya. Ayah yang mengusulkannya. Pak Hendra yang menyetujuinya.”
Aku diam.
“Dan ada daftar,” lanjut Marcel. “Daftar perusahaan yang disebut mitra prioritas untuk semua proyek konstruksi setelah merger. Saya tidak mengenal sebagian besar namanya. Tapi dua di antaranya saya kenal, karena sahamnya dimiliki lewat nama orang lain oleh kantor Ayah.” Dia menyebut dua nama.
Dua nama itu ada di graf bunga beracun di laptopku. Dua dari empat belas kelopak.
Aku tidak menunjukkan apa-apa di wajahku. Tapi Marcel melihat sesuatu. Dia orang yang lebih teliti dari yang dia tampakkan.
“Anda sudah tahu,” katanya pelan.
“Sebagian.”
Marcel memejamkan mata. Lalu tertawa kecil, pahit. “Saya pikir saya menemukan rahasia besar. Ternyata saya terlambat.”
“Kamu nggak terlambat,” kataku. “Kami tahu ada jaringan. Kami belum bisa membuktikan siapa yang memegang ujungnya di pihak Hartanto. Ini membantu. Sangat.”
Dia membuka mata dan menatapku. “Ada satu lagi. Saya tidak sepenuhnya paham. Ayah menyewa sebuah agensi komunikasi untuk mengelola sentimen pasar menjelang tanggal lima. Saya mendengar Ayah bicara di telepon. Dia bilang harga saham SC harus sedikit tertekan sebelum penandatanganan, supaya perbandingan nilai mergernya lebih menguntungkan Hartanto.” Dia menelan ludah. “Saya tidak tahu apa artinya secara teknis. Tapi cara Ayah mengatakannya membuat saya tidak bisa tidur.”
Aku mencatat setiap kata di kepalaku.
“Kenapa kamu kasih ini ke saya?” tanyaku. “Dia ayahmu.”
Marcel menatap kucing yang tidur di atas jok motor. Lama.
“Waktu saya kecil,” katanya, “Ayah bilang kepada saya bahwa nama Hartanto artinya sesuatu. Bahwa keluarga kami membangun gedung-gedung yang tidak roboh karena kami tidak pernah memotong jalan pintas.” Dia tersenyum tipis. “Saya percaya itu selama tiga puluh tiga tahun. Saya kuliah keuangan karena itu. Saya membaca setiap perjanjian sampai titik koma karena itu.”
Dia menoleh padaku.
“Saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada Ayah. Saya anak satu-satunya. Ibu saya akan hancur.” Suaranya pecah sedikit. “Tapi kalau saya diam, saya ikut memotong jalan pintas. Dan saya tidak mau menjadi Hartanto yang seperti itu.”
Aku menatap laki-laki di depanku. Laki-laki yang selama berminggu-minggu kuanggap pesaing, yang tangannya di pinggang Rena di lantai dansa membuat pulpenku patah. Ternyata dia hanya anak baik yang terjebak di keluarga yang salah, persis seperti perempuan yang hampir dia nikahi.
“Terima kasih, Marcel,” kataku.
“Jangan berterima kasih dulu.” Dia merapikan kemejanya yang bernoda. “Apa yang harus saya lakukan sekarang?”
“Bersikap biasa. Sampai tanggal lima. Datang ke rapat persiapan, setujui menu katering, bicarakan obligasi dengan ayahmu. Jangan ubah apa pun.”
“Itu tidak sulit,” katanya. “Saya memang selalu membicarakan obligasi.”
Aku tertawa. Dia juga tertawa, sedikit, untuk pertama kalinya sejak kami masuk ke gang.
Kami berjalan kembali ke kedai. Di ambang pintu belakang, Marcel berhenti. Wajahnya berubah lagi. Bukan tegang kali ini, tapi merah.
“Pak Chakra,” katanya. “Satu pertanyaan lagi. Pribadi.”
“Silakan.”
Dia berdeham. Menatap lantai. Menatap tong sampah. Menatap kucing.
“Mbak Gendis,” katanya akhirnya. “Apakah… beliau sudah punya pacar?”
Di belakangnya, di ambang pintu dapur, Gendis berdiri dengan ember berisi kuah kaldu yang baru diangkat dari kompor.
Sendok sayur di tangannya jatuh ke lantai dengan bunyi klontang yang sangat keras.
Marcel berbalik. Melihat Gendis. Wajahnya berubah dari merah ke putih ke merah lagi dalam dua detik.
Hening.
Kucing di atas jok motor membuka mata, menatap kami bertiga, lalu memejamkan mata lagi seperti orang yang sudah terlalu tua untuk drama ini.
“Tanya sendiri,” kataku ke Marcel, dan berjalan masuk ke dapur, melewati Gendis.
Di belakangku, aku mendengar jeda yang sangat panjang.
Lalu suara Gendis, pelan sekali, nyaris tidak terdengar: “Belum, Mas.”
Lalu suara Marcel, kaku dan bergetar: “Baik. Hormat saya. Maksud saya, terima kasih. Maksud saya…”
“Mas Marcel.”
“Ya?”
“Kuahnya tumpah.”
“Oh. Astaga. Maaf. Saya ambilkan lap.”
Di dapur, Ibu berdiri di depan kompor, pura-pura sangat sibuk mengaduk kuah yang tidak perlu diaduk. Bahunya berguncang. Di meja pojok, Rena sudah melepas maskernya dan menatapku dengan mata yang berbinar-binar.
“Kamu dengar?” bisiknya waktu aku duduk di seberangnya.
“Satu kedai dengar.”
Dia tertawa, menutup mulut dengan tangan. Lalu matanya turun ke saku kemejaku, ke bentuk kecil flashdisk yang menonjol di sana. Tawanya memudar.
“Penting?” tanyanya pelan.
“Sangat.”
Dia mengangguk. Tidak bertanya lagi di depan pelanggan. Dia hanya mengulurkan tangan di bawah meja dan menggenggam tanganku sebentar, erat, lalu melepasnya.
“Rabu,” katanya. “Rapat Pembina yayasan. Oma sudah majukan jadwalnya. Om Hendra setuju menyerahkan semua laporan keuangan.” Dia menatapku. “Oma bilang Om Hendra bahkan senang. Om Hendra pikir Oma mau bikin wasiat.”
“Berarti Rabu malam aku nggak tidur.”
“Aku temani.”
“Rena.”
“Halal dulu, aku tahu.” Dia tersenyum. “Aku temani di kantor. Di sofa hijau. Kamu baca rekening koran, aku bikinin kopi kaleng dingin.”
Aku menatapnya. Di belakangnya, lewat jendela kedai, Marcel dan Gendis berdiri di depan kompor, sama-sama memegang lap, sama-sama tidak tahu harus berbuat apa dengan kuah yang tumpah, dan sama-sama tersenyum seperti orang bodoh.
Empat belas hari lagi menuju tanggal lima.
Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sendirian menghitungnya.
- 1 Kepala yang Baru
- 2 Mie Ayam Tanpa Daun Bawang
- 3 Reply All
- 4 Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu
- 5 Lift Nomor Empat
- 6 400 Gerai Sebelum Hujan
- 7 Satu-Satunya yang Buka
- 8 Tamu dari Zürich
- 9 Dasi
- 10 Gala Lantai 50
- 11 Rute yang Lebih Pendek
- 12 Rumah di Cibubur
- 13 Pola Jam Dua Pagi
- 14 The AI Duo
- 15 Hujan di Tol
- 16 Tanggal di Surat Cerai
- 17 Empat Belas Vendor
- 18 Demam
- 19 NEXA Bocor
- 20 Percaya
- 21 Log Akses
- 22 Foto-Foto Lama
- 23 Ruang Tunggu ICU
- 24 Rp2 Miliar yang Pulang
- 25 RENA
- 26 Halal Dulu
- 27 Oma Tahu
- 28 Marcel reading
- 29 Arini Pamit
- 30 Kebaya untuk Jebakan
- 31 Makan Malam Keluarga
- 32 Data Tidak Punya Keluarga
- 33 Hari Penandatanganan
- 34 Menteri
- 35 Skakmat
- 36 Dua Ibu
- 37 Kotak Kacamata
- 38 Kedai Pertama
- 39 Akad Kedua
- 40 Malam Pertama, Lagi
- 41 Epilog — Ramalan yang Akurat