Chapter Seventeen

Empat Belas Vendor

POV: Chakra


Sejak Jumat malam, Rena menatapku dengan cara yang berbeda.

Bukan lebih dingin. Bukan lebih hangat. Berbeda. Seperti orang yang membaca ulang buku yang dia kira sudah dia pahami, lalu menemukan catatan kaki yang dulu terlewat.

Senin pagi, di lift nomor empat, dia tidak menekan tombol tutup ketika melihatku datang. Dia menahan pintunya dengan tangan. Lalu sepanjang empat puluh lantai dia diam, menatap pantulanku di cermin kuningan, dan tidak bilang apa-apa sama sekali.

“Bu,” kataku di lantai tiga puluh.

“Hm.”

“Ibu baik-baik saja?”

Dia menoleh. Matanya turun ke kacamataku. Berhenti di sana. Seperti menunggu.

Aku tidak menyentuh kacamataku.

“Baik,” katanya. “Kamu?”

“Baik, Bu.”

Dia mengangguk pelan. Lalu matanya kembali ke cermin, dan di sana, di pantulan kuningan yang sedikit buram, aku melihatnya tersenyum. Senyum kecil yang sedih, seperti orang yang mendapat jawaban yang sudah dia duga.

Kacamatamu. Kamu dorong dua kali.

Tiga hari aku memutar ulang kalimat itu. Tiga hari aku bertanya-tanya sejak kapan dia tahu. Sejak dulu, ternyata. Sejak pernikahan kami. Dia tahu, dan dia tidak pernah bilang. Dia membiarkanku berbohong soal kartu ucapan dan kalung bunga matahari dan semua kebohongan kecil lainnya, karena kebohonganku selalu untuk dia.

Lalu Jumat malam, di ruang kaca lantai 38, aku berbohong padanya soal malam di rumah sakit. Dan dia membiarkanku lagi.

Aku tidak tahu apa yang dia temukan. Aku tidak tahu apa yang dia tahu. Yang aku tahu, perempuan di sebelahku di lift ini sedang menunggu. Dan untuk pertama kalinya sejak aku kembali, dia tidak menunggu dengan marah.

Dia menunggu dengan sabar.

Itu jauh lebih menakutkan.


“Pak, saya dapat datanya,” kata Yudis pukul sembilan, berdiri di depan mejaku dengan harddisk eksternal di tangan seperti orang menyerahkan pusaka. “Foto drone mingguan sembilan proyek SC Construction, dua tahun terakhir. Total tiga koma dua terabita.”

Aku menatap harddisk itu. “Lewat jalur resmi?”

“Resmi, Pak. Vendor drone-nya sudah tiga tahun dikontrak SC Construction untuk pemantauan progres. Saya ajukan permintaan atas nama proyek analitik konstruksi yang disetujui Bu Serena setelah kunjungan ke Jatiluhur.” Yudis berhenti sejenak. “Tapi Pak, permintaannya otomatis ditembuskan ke kantor COO. Itu prosedurnya.”

Ke kantor COO. Berarti Pak Hendra tahu.

“Nggak apa-apa,” kataku. “Itu memang permintaan resmi. Biarkan dia tahu.”

Biarkan dia tahu bahwa NEXUS sedang melihat foto. Foto itu netral. Foto tidak menuduh siapa-siapa.

Yang menuduh adalah apa yang akan kita temukan di dalamnya.


Arini datang ke lantai 38 pukul sepuluh dengan dua gelas kopi dan wajah orang yang sangat bersemangat.

“Computer vision untuk progres konstruksi?” Dia meletakkan kopinya di mejaku dan langsung duduk di tepi meja, kebiasaan lama dari Zürich, lalu buru-buru turun lagi, seperti teringat sesuatu. “Sorry. Kebiasaan. Ada CCTV.”

Aku tidak berkomentar. Arini melirikku dengan senyum geli yang sangat menyebalkan, yang sejak gala selalu muncul setiap kali nama Rena disebut atau kursi CEO disinggung.

“Chak,” katanya pelan, dalam bahasa Inggris, supaya Bagas yang duduk tiga meter dari kami tidak mengerti. “She’s the one, isn’t she?”

“Arini.”

“The one you never talked about.” Dia memiringkan kepala. “But always talked about. Enam tahun. Tiap kamu mabuk glühwein di pasar Natal Zürich. Rena suka ini, Rena nggak suka itu. Aku kira Rena itu nama mantan pacar SMA. Ternyata CEO konglomerat.”

“Kita kerja, Arini.”

“Fine. Fine.” Dia mengangkat tangan menyerah, tapi senyumnya tidak hilang. “But for the record, dia cemburu sama aku. Setengah mati. Dan aku sangat menikmatinya.”

“Arini.”

“Oke, oke. Kerja.” Dia membuka laptop. “Tunjukkan fotonya.”

Arini Tjandra adalah salah satu ahli computer vision terbaik di Asia Tenggara. Tesis doktornya tentang deteksi objek di citra udara: menghitung atap rumah yang rusak setelah gempa, menghitung kapal di pelabuhan, menghitung pohon di hutan yang ditebang ilegal. Kalau ada orang di dunia ini yang bisa mengajari komputer menghitung tiang pancang dari foto drone, orangnya duduk di depanku sekarang, sambil minum kopi susu gula aren dan menyeringai seperti kucing.

Kami bekerja sepanjang hari. Arini menyesuaikan model deteksi yang dia bangun di Singapura. Kami melatihnya ulang dengan foto-foto drone dari Jatiluhur, dengan anotasi manual yang dikerjakan Tiara dan Bagas selama enam jam penuh. Mereka memberi tanda pada setiap tiang pancang, setiap girder, setiap segmen jalan yang sudah dicor, sampai Bagas bilang dia mulai melihat tiang pancang kalau menutup mata.

Pukul delapan malam, model itu siap.

“Jalankan,” kata Arini.

Yudis menekan tombol.


Sembilan proyek. Seratus empat minggu. Tiga ribu delapan ratus foto udara.

Model itu bekerja seperti mata yang tidak pernah lelah. Dia menghitung tiang pancang, girder, dan meter persegi aspal di setiap foto, setiap minggu. Lalu Yudis mencocokkan hitungannya dengan laporan progres resmi yang dipakai sebagai dasar pembayaran termin ke subkontraktor.

Hasilnya muncul pukul sepuluh malam, dalam bentuk grafik yang sangat sederhana dan sangat mengerikan.

Dua garis untuk setiap proyek. Garis biru: progres yang dilaporkan. Garis oranye: progres yang terlihat di foto.

Di sebagian besar ruas, dua garis itu berjalan berdampingan. Kadang biru sedikit di depan, kadang oranye. Perbedaan wajar karena pengukuran, keterlambatan dokumentasi, cuaca.

Tapi di beberapa ruas, garis biru melesat jauh di depan. Konsisten. Setiap bulan. Seperti seseorang yang berlari sementara kakinya tidak menyentuh tanah.

“Pak,” kata Tiara pelan. “Ruas-ruas yang garis birunya kabur itu…”

“Subkontraktornya siapa saja?” tanyaku.

Yudis mengetik. Daftar nama muncul di layar.

PT Bumi Cipta Persada. CV Sinar Karya Mandiri. PT Graha Pilar Nusantara. PT Adikarya Beton Utama. Dan seterusnya. Sembilan nama yang berbeda, ditambah lima nama yang sudah kutemukan Rabu malam.

Empat belas.

“Masukkan semuanya ke graf,” kataku.

Bagas yang mengerjakannya, karena dia yang paling cepat. Dua menit kemudian layar besar menampilkan sesuatu yang membuat seluruh ruangan sunyi.

Graf jaringan. Empat belas lingkaran untuk empat belas perusahaan. Garis-garis tipis menghubungkan lingkaran-lingkaran itu ke lingkaran lain yang lebih kecil: alamat, nomor telepon, nama direktur, nama komisaris, nama notaris pembuat akta.

Empat belas perusahaan “berbeda” itu ternyata hanya berpusat di tiga alamat kantor di Jakarta Barat, dua nomor telepon, dan lima direktur yang namanya berpindah-pindah dari satu akta ke akta lain seperti pemain sandiwara yang berganti kostum.

Dan semuanya dibuat oleh satu notaris yang sama.

Grafnya seperti bunga. Bunga yang indah dan beracun, dengan empat belas kelopak dan satu tangkai.

“Total nilai subkontrak keempat belas perusahaan ini,” kata Yudis, suaranya datar seperti biasa tapi dengan sesuatu yang bergetar di bawahnya, “satu koma tiga triliun, Pak. Sembilan proyek. Dan selisih progres yang dibayar tapi tidak terlihat di foto…” dia mengetik, “…kurang lebih tiga ratus empat belas miliar.”

Tiga ratus empat belas miliar rupiah. Dibayar untuk tiang pancang yang tidak pernah ditanam, girder yang tidak pernah dipasang, aspal yang tidak pernah dihampar.

Arini bersiul pelan. “Oh my God, Chak.”

“Lima direktur ini,” kataku, menunjuk lingkaran-lingkaran kecil di graf. “Tiara, cari semua yang bisa kamu temukan. Akta, alamat rumah, media sosial, apa pun. Dari sumber terbuka. Jangan masuk ke sistem yang bukan wewenang kita.”

Tiara mengangguk dan mulai mengetik.

Empat puluh menit kemudian dia berbalik dari layarnya, dengan wajah pucat.

“Pak,” katanya. “Salah satu direktur. Namanya Sugiarto Halim. Alamat rumahnya di Kelapa Gading.” Dia menelan ludah. “Sama dengan alamat KTP Pak Fredy Halim. GM Operasional Regional SinMart. Yang tanda tangan surat mutasi kepala area tiga ratus dua belas gerai itu.”

Ruangan sunyi.

Dua benang yang kukira terpisah, ritel dan konstruksi, tiga ratus dua belas gerai dan sembilan proyek tol, ternyata terikat di satu simpul. Satu keluarga. Satu alamat di Kelapa Gading.

Dan kedua benang itu, dulu atau sekarang, bermuara ke meja yang sama di lantai 40.

“Satu lagi, Pak,” kata Tiara, lebih pelan. “Notarisnya. Notaris yang membuat keempat belas akta itu. Saya cek di situs Kemenkumham, dia juga notaris yang membuat akta perubahan pengurus Yayasan Keluarga Sinclair, tujuh tahun lalu. Ketua yayasan yang baru waktu itu…”

“Hendra Sinclair,” kataku.

Tiara mengangguk.

Yayasan Keluarga Sinclair. Aku mengenal nama itu. Nama itu tercetak di kolom pengirim sebuah bukti transfer dua miliar rupiah, di dalam amplop cokelat, enam tahun lalu.

Aku berdiri dan berjalan ke jendela.

Di luar, Jakarta berkilau seperti biasa, dengan crane-crane SC Construction yang diam dalam gelap.

“Pak,” kata Bagas dari belakang, hati-hati. “Kita lapor ke Bu Serena sekarang?”

Aku tidak langsung menjawab.

Seharusnya ya. Seharusnya aku naik ke lantai 40 sekarang juga, meletakkan graf ini di meja CEO, dan membiarkannya memutuskan. Itu prosedur yang benar. Itu yang akan dilakukan kepala divisi yang baik.

Tapi aku membayangkan wajahnya. Wajah perempuan yang memanggil Hendra Sinclair Om sejak dia bisa bicara. Yang menerima amplop cokelat dari tangan Om itu dengan percaya. Yang membela Om itu di setiap rapat direksi, setiap kali orang mempertanyakan pembengkakan anggaran konstruksi.

Kalau aku datang sekarang, dengan grafik dan korelasi dan probabilitas, dia akan bertanya satu hal: kamu yakin?

Dan aku belum bisa bilang ya. Belum. Graf ini menunjukkan jaringan, tapi tidak menunjukkan siapa yang memegang tangkainya. Alamat yang sama tidak membuktikan perintah. Notaris yang sama tidak membuktikan niat. Pengacara mana pun bisa merobek analisis ini dalam satu sidang. Dan Hendra Sinclair punya pengacara terbaik di Jakarta.

Kalau aku menuduhnya sekarang dan gagal, dia akan menghancurkanku. Itu tidak masalah. Aku pernah hancur.

Tapi dia juga akan menghancurkan kepercayaan Rena padaku. Untuk kedua kalinya. Dan kali ini aku tidak yakin dia akan bisa memperbaikinya.

“Belum,” kataku. “Kita butuh lebih banyak. Aliran uangnya. Siapa yang menerima pembayaran dari empat belas perusahaan ini. Selama kita belum bisa menunjukkan uangnya pergi ke mana, ini cuma graf yang cantik.”

“Tapi Pak…”

“Saya tahu, Bagas.” Aku berbalik. “Saya tahu.”


Hal pertama yang Rena lihat ketika turun ke lantai 38 hari Selasa pagi adalah Tiara memakai jasku.

Aku tidak menyadarinya sampai terlambat. Semalam kami pulang pukul satu pagi. AC lantai 38, yang menurut Yudis diprogram oleh teknisi gedung dengan dendam pribadi, turun ke delapan belas derajat setelah tengah malam. Tiara menggigil di depan laptopnya dengan kaus tipis, dan aku menyampirkan jas cadangan yang selalu kugantung di balik pintu ke bahunya. Lalu aku lupa. Lalu Tiara tertidur di sofa hijau, terbangun pukul tujuh, dan langsung bekerja lagi dengan jas itu masih di bahunya, karena Tiara kalau sedang fokus tidak akan sadar meskipun rambutnya terbakar.

Pukul delapan lewat sepuluh, pintu lift berdenting.

Rena keluar dengan tablet dan pulpen birunya. Dia berjalan ke arah ruang kacaku, melewati meja Tiara.

Lalu dia berhenti.

Matanya turun ke bahu Tiara. Ke jas abu-abu arang dengan kancing tanduk yang sangat dia kenal, karena tiga minggu lalu dia merapikan kerah jas itu di lift.

Wajahnya tidak berubah. Sama sekali tidak. Tapi suhu di lantai 38 turun dua derajat lagi, dan aku cukup yakin itu bukan karena AC.

“Selamat pagi, Tiara,” katanya, sangat manis.

Tiara mendongak dari layarnya, matanya merah karena kurang tidur, rambutnya mencuat ke mana-mana. “Pagi, Bu! Maaf, Bu, saya belum…”

“Jasnya bagus,” kata Rena.

Tiara menunduk. Menatap jas di bahunya seperti baru pertama kali melihatnya. Lalu dia menoleh ke arahku dengan wajah polos dan bingung. “Oh. Ini punya Pak Chakra, Bu. Semalam saya kedinginan…”

“Begitu,” kata Rena. Senyumnya tidak bergerak satu milimeter pun. “Pak Chakra memang sangat perhatian pada stafnya.”

Dia berbalik dan berjalan kembali ke lift tanpa masuk ke ruanganku. Tanpa menyerahkan tablet yang tadi dia bawa. Tanpa melihatku sedikit pun.

Pintu lift menutup.

Bagas, Yudis, dan Tiara menatapku bersamaan.

“Pak,” kata Tiara pelan, akhirnya sadar. “Saya… salah, ya?”

Dua puluh menit kemudian, email masuk ke seluruh karyawan SC Tower.

Memo CEO No. 019/2026 — Ketentuan Busana Kerja

Demi profesionalisme, karyawan diimbau mengenakan busana kerja milik pribadi. Peminjaman pakaian antarkaryawan, khususnya pakaian formal seperti jas, agar dihindari demi menjaga kesan profesional di lingkungan kerja.

Serena Sinclair CEO

Seribu dua ratus karyawan SC Tower menerima email itu. Dalam sepuluh menit, grup karyawan berisi tangkapan layar memo itu dengan keterangan ini maksudnya apa ya guys?, siapa yang pinjem jas siapa?, dan kenapa feeling-ku ini soal lantai 38.

Arini membaca memo itu di laptopnya, lalu tertawa begitu keras sampai harus keluar ruangan.

Aku tidak membalas memo itu. Kali ini aku tidak membalas semua. Aku menulis WA.

Ke Rena 🌻: Tiara kedinginan semalam. Kami lembur sampai jam 1.

Dua centang biru. Tidak ada balasan.

Pacarnya namanya Fikri. Mereka mau tunangan Desember.

Dua centang biru. Tidak ada balasan.

Bu.

Tidak ada balasan.

Pukul dua belas siang, takdir, atau mungkin Sisca, ikut campur.

Seorang laki-laki muda berkemeja batik dan berkacamata, membawa buket mawar merah dan kotak martabak, muncul di lobi SC Tower dan bertanya ke resepsionis dengan suara cukup keras untuk didengar seluruh lobi: “Permisi, Mbak, saya mau jemput pacar saya, Tiara, di lantai 38. Hari ini anniversary kami yang ketiga.”

Kebetulan, menurut Sisca yang menceritakannya padaku belakangan dengan nada sangat datar dan mata sangat berbinar, CEO SC Group sedang melintas di lobi pada saat itu untuk makan siang di luar.

Kebetulan, CEO berhenti melangkah.

Kebetulan, Tiara turun ke lobi dengan jasnya sendiri, cardigan hijau toska milik pribadi, dan berlari memeluk laki-laki berkemeja batik itu di depan resepsionis, lalu memekik soal martabak.

Dan kebetulan, CEO berdiri di sana selama lima detik, menatap pemandangan itu dengan wajah yang tidak terbaca, lalu berjalan keluar ke mobilnya tanpa berkata apa-apa.

Pukul dua belas lewat empat puluh, ponselku bergetar.

Rena 🌻: Martabaknya rasa apa?

Aku menatap layar. Lalu tertawa. Sendirian di ruang kaca, keras, sampai Bagas menoleh dari mejanya dengan wajah khawatir.

Ke Rena 🌻: Setengah keju setengah cokelat. Kata Tiara.

Jeda.

Rena 🌻: Itu favoritku.

Saya tahu, Bu.

Jeda lebih lama.

Rena 🌻: Memo 019 saya cabut besok.

Nggak usah, Bu. Busana kerja memang sebaiknya milik pribadi.

Rena 🌻: Kamu sindir aku?

Saya cuma setuju dengan kebijakan CEO.

Rena 🌻: Jasmu yang di lemariku nggak termasuk.

Aku menatap pesan itu lama.

Jas saya di lemari Ibu?

Dua centang biru. Mengetik… Berhenti. Mengetik… Berhenti.

Tidak ada balasan.

Aku meletakkan ponsel di meja, menelungkup, dan menutup wajah dengan kedua tangan. Di luar ruang kaca, aku mendengar Bagas berbisik keras ke Yudis: “Mas, Pak Chakra kenapa? Ketawa terus tutup muka. Itu gejala apa?”

Dan Yudis menjawab, datar, tanpa menoleh dari layarnya: “Itu gejala data yang nggak bisa diolah, Gas.”


Pukul sebelas malam, hari Rabu, Pak Hendra datang ke lantai 38.

Aku tidak mendengar lift. Dia sudah berdiri di ambang ruang kacaku ketika aku mendongak dari layar. Kemeja putih, lengan digulung, tanpa jas. Di tangannya ada dua gelas kopi kemasan dari kedai di lobi. Senyumnya hangat, seperti biasa.

“Lembur lagi, Chakra?”

Aku menutup laptop. Pelan, tidak terburu-buru. “Om. Belum pulang?”

“Rapat dengan Hartanto sampai jam sepuluh. Persiapan merger.” Dia masuk dan meletakkan satu gelas kopi di mejaku. “Om lihat lampu di sini masih nyala. Om pikir, ah, mampir. Kasihan anak muda kerja sendirian.”

“Terima kasih, Om.”

Dia duduk di kursi di seberang mejaku. Menyesap kopinya. Menatap ke luar dinding kaca, ke layar besar yang sekarang gelap.

“Om dengar NEXUS minta data drone proyek-proyek konstruksi,” katanya ringan. “Proyek analitik baru?”

“Iya, Om. Bu Serena yang setujui setelah kunjungan ke Jatiluhur. Pemantauan progres otomatis. Supaya tim lapangan nggak perlu lagi hitung manual.”

“Bagus. Bagus sekali.” Dia mengangguk-angguk. “Efisiensi. Om suka.” Dia menyesap kopi lagi. Lalu, dengan nada yang sama ringannya: “Tapi Chakra, Om mau kasih saran. Sebagai orang tua, ya. Bukan sebagai COO.”

“Silakan, Om.”

“Konstruksi itu dunia yang keras.” Dia menatapku. Matanya ramah, sangat ramah. “Banyak orang, banyak kepentingan, banyak uang. Ada hal-hal di lapangan yang nggak bisa dipahami dari foto dan angka. Kontraktor yang telat bayar mandor, mandor yang ngambek, pekerja yang mogok. Kalau di laporan progres kelihatannya beda sedikit dengan di lapangan, itu biasa. Itu dinamika.”

“Saya mengerti, Om.”

“Kamu itu jenius di ritel. Di data pelanggan. Di banjir, di rute truk.” Dia tersenyum. “Fokus di situ. Biar konstruksi Om yang urus. Om sudah tiga puluh tahun di dunia itu. Om tahu di mana lubang-lubangnya.”

Om tahu di mana lubang-lubangnya.

“Tentu, Om,” kataku. “Terima kasih sarannya.”

Pak Hendra berdiri. Menepuk bahuku, dua kali, ramah.

“Om selalu di pihakmu, Chakra. Kamu tahu itu, kan?”

“Saya tahu, Om.”

Dia berjalan ke pintu. Di ambang pintu, dia berhenti dan menoleh.

“Oh ya. Om dengar Serena sering turun ke lantai ini.” Senyumnya tidak berubah. “Hati-hati, ya. Pertunangannya dua minggu lagi. Kakak saya, kamu tahu sendiri, jantungnya nggak kuat kalau ada kejutan.”

Lalu dia pergi.

Aku duduk diam di kursiku lama setelah suara lift menghilang. Kopi kemasan itu masih di mejaku. Aku tidak meminumnya.

Jantungnya nggak kuat kalau ada kejutan.

Enam tahun lalu, di ruang tunggu ICU RS Pondok Indah, pukul tiga pagi, laki-laki yang sama mengucapkan kalimat yang hampir persis sama kepadaku. Dengan wajah yang sama ramahnya. Dengan tangan yang sama menepuk bahuku.

Aku membuka laptop dan menulis satu baris di catatan terenkripsi.

Hendra tahu NEXUS melihat konstruksi. Dia tidak bertanya apa yang kami temukan. Orang yang tidak bersalah akan bertanya.


Pukul tiga pagi hari Kamis, ponselku bergetar di nakas apartemen studioku di Setiabudi. Aku menyewanya bulan lalu supaya tidak perlu menyetir ke Cibubur setiap malam.

Yudis.

Pak, maaf ganggu. Saya pasang monitor log di server NEXUS sejak Senin, sesuai instruksi Bapak. Barusan ada percobaan login ke folder proyek konstruksi pakai kredensial Bapak. Jam 02.47. Dari dalam jaringan SC Tower. Lantai 40.

Aku duduk tegak di kasur.

Pak, Bapak lagi di kantor?

Tidak, kubalas. Saya di rumah. Tidur.

Berarti bukan Bapak.

Bukan saya.

Jeda.

Loginnya gagal, Pak. Karena kemarin sore Bapak sudah ganti password dan pasang autentikasi dua faktor. Tapi Pak, seseorang punya password lama Bapak. Dan orang itu ada di lantai 40 jam tiga pagi.

Aku menatap layar ponsel dalam gelap.

Lantai 40. Lantai CEO, Legal, Keuangan. Dan COO.

Simpan log-nya, kubalas. Salin ke tiga tempat. Jangan bilang siapa-siapa. Termasuk Bu Serena. Belum.

Siap, Pak.

Aku tidak tidur lagi malam itu. Aku duduk di tepi kasur apartemen studio yang terlalu sunyi, menatap lampu kota dari jendela kecil, dan memikirkan satu hal yang dulu sering kuucapkan pada mahasiswa yang kubimbing di Zürich.

Pola yang terjadi sekali adalah kebetulan. Pola yang terjadi dua kali adalah petunjuk.

Pola yang terjadi tiga kali adalah seseorang yang sedang bergerak.

Seseorang sedang bergerak.