Chapter Twenty Six

Halal Dulu

POV: Chakra


Pak Agus menahan pintu lobi untuk kami dengan senyum yang terlalu lebar.

“Selamat malam, Bu. Selamat malam, Pak Doktor.” Dia membungkuk sedikit, lalu menatapku dan melirik kerah kemejaku. Matanya berhenti di sana sepersekian detik. Senyumnya melebar lagi. “Hati-hati di jalan, Pak.”

Aku tidak tahu kenapa dia melirik kerahku. Aku tidak sempat bertanya, karena Rena sudah menarik tanganku keluar ke jalur penurunan, dan di sana mobilnya sudah menunggu. Bukan Pak Udin. Mobil yang dia setir sendiri kemarin, terparkir di jalur VIP dengan sudut empat puluh lima derajat yang memakan dua tempat.

“Kamu nggak pakai Pak Udin?”

“Pak Udin sudah kusuruh pulang jam tujuh.” Dia membuka pintu pengemudi. “Oma bilang Pak Udin sekarang aman. Tapi aku nggak mau ambil risiko. Masuk.”

Aku masuk. Memakai sabuk pengaman. Memegang pegangan di atas pintu.

Dia menyetir ke Setiabudi dengan kecepatan yang seharusnya ilegal di dalam kota, satu tangan di setir, satu tangan di persneling. Dan di setiap lampu merah, tangan di persneling itu berpindah ke lututku.

Lampu merah pertama, di Jalan Sudirman. Tangannya di lututku. Ringan.

Lampu merah kedua, di Karet. Tangannya di lututku. Sedikit lebih ke atas.

Lampu merah ketiga, di Setiabudi. Tangannya di pahaku, dan jari-jarinya bergerak pelan, menggambar lingkaran kecil di atas kain celanaku.

“Rena,” kataku. Suaraku tidak seperti suaraku.

“Hm.”

“Lampunya sudah hijau.”

Dia menatap lampu lalu lintas. Hijau. Mobil di belakang membunyikan klakson.

Dia tersenyum, tidak menyesal sama sekali, dan menginjak gas.

Aku menatap jendela dan mulai mengulang tabel perkalian sembilan belas di kepala.


“Ada sesuatu yang harus kita bicarakan dulu,” kataku begitu pintu apartemen studioku menutup di belakang kami.

Rena tidak mendengarkan.

Dia meletakkan tasnya di kursi dekat pintu. Melepas sepatu haknya, satu, dua, dan sepatu itu terguling di lantai dekat rak sepatu. Melepas blazernya dan menggantungnya di gantungan di dinding, di sebelah jaketku, seperti dia sudah melakukannya ribuan kali. Lalu dia berbalik dan berjalan ke arahku. Pelan. Bertelanjang kaki di lantai vinil.

Kemeja sutra krem. Rok pensil abu-abu. Rambut yang tadi dia sanggul terburu-buru di lantai 38 sudah setengah terurai lagi, jepit mutiaranya menggantung di ujung helai.

Dia berhenti di depanku. Sangat dekat.

“Rena,” kataku. “Kita perlu…”

Dia mengangkat tangan dan menyentuh kancing teratas kemejaku.

Kancing itu sudah terbuka. Aku selalu membiarkan kancing teratas terbuka kalau tidak pakai dasi. Jarinya bergerak ke kancing kedua.

Kancing kedua terbuka.

“…bicara,” kataku. Suaraku pecah di tengah kata.

“Kita bisa bicara,” kata Rena pelan, matanya menatap kancing ketiga, “sambil aku melakukan ini.”

Kancing ketiga. Jarinya menyentuh kulit dadaku di celah kemeja yang sekarang terbuka sampai ke tengah. Dingin. Ujung jarinya dingin, dan kulitku terbakar di tempat yang dia sentuh.

“Aku pernah jadi istri kamu,” bisiknya. Dia mendongak. Matanya gelap, nakal, dan sangat yakin. “Aku tahu kamu lemah di mana.”

Dia tahu. Tentu saja dia tahu.

Leher. Bagian belakang, di bawah telinga kiri. Dia tahu, karena dulu dia menemukannya di malam ketiga pernikahan kami. Dia tertawa sampai menangis waktu menyadari bahwa laki-laki yang bisa menyelesaikan persamaan diferensial parsial di luar kepala bisa dilumpuhkan sepenuhnya oleh satu ciuman di bawah telinga kiri.

Dia berjinjit. Bibirnya menyentuh tepat di sana.

Lututku hampir menyerah.

Aku menangkap kedua pergelangan tangannya.

Pelan. Lembut. Tapi tegas. Aku menahan kedua tangannya di dadaku, di atas kemeja yang sekarang terbuka sampai kancing ketiga, dan aku menarik napas yang terasa seperti menarik seluruh udara di Jakarta.

“Rena.”

Dia berhenti. Bibirnya masih di bawah telingaku. Aku merasakannya tersenyum.

“Hm?”

“Halal dulu.”

Hening.

Dia menurunkan tumitnya dari jinjitnya. Pelan. Mundur sedikit, cukup untuk menatap wajahku. Tangannya masih di dadaku, dalam genggamanku.

Wajahnya tidak marah. Wajahnya melakukan sesuatu yang lebih buruk dari marah: kesal yang sangat lucu. Bibirnya mengerucut. Alisnya berkerut. Pipinya masih merah. Itu wajah yang dulu dia pasang kalau aku menolak membelikannya martabak tengah malam karena kamu sudah gosok gigi, Rena.

“Kamu,” katanya pelan, “serius?”

“Serius.”

“Kita pernah menikah.”

“Pernah.”

“Setahun. Tiga ratus enam puluh lima hari. Aku hafal setiap…”

“Rena.” Aku mengencangkan genggamanku di pergelangan tangannya. Sedikit saja. “Pernah. Sekarang nggak.”

Dia diam.

Aku menatapnya. Aku menatap perempuan ini, yang tiga minggu lalu berdiri di koridor lantai 40 dan bertanya kamu ke sini mau balas dendam? Yang malam ini menutup CCTV dengan sticky note dan bilang bayar bunganya sekarang. Yang sekarang berdiri di apartemen studioku dengan kaki telanjang dan rambut terurai, dan menatapku seperti aku baru saja menolak memberinya dunia.

“Dengar dulu,” kataku. “Itu yang mau aku bicarakan.”


Kami duduk di tepi kasur. Bersebelahan, tidak terlalu dekat. Kemejaku sudah kukancingkan kembali, sampai kancing kedua. Kancing teratas tetap terbuka, karena aku bukan orang suci.

Dia duduk dengan kaki terlipat di atas kasur dan memeluk guling. Guling yang di sebelah kiri. Dia sengaja. Aku tahu dia sengaja.

“Delapan tahun lalu,” kataku, “aku menikahimu dengan kebaya sewaan. Kamu nolak dibelikan Mamamu, dan aku nggak mampu beli yang mahal. Akad di KUA kecamatan Beji. Saksinya almarhum Pak RT dan tetanggaku yang kebetulan lewat. Melati di sanggulmu dipetik Ibu dari halaman kontrakan pagi itu. Keluargamu cuma datang Oma.” Aku berhenti. “Papamu nggak datang. Papamu mengizinkan, tapi perwaliannya diwakilkan ke penghulu lewat surat. Papamu nggak menikahkan kamu dengan suaranya sendiri.”

Dia memeluk guling lebih erat.

“Aku nggak menyesal,” lanjutku. “Itu hari paling bahagia dalam hidupku. Tapi aku selalu tahu ada yang kurang. Bukan buat aku. Buat kamu. Kamu menikah tanpa ayahmu di sana. Kamu menangis sepanjang akad, dan semua orang pikir itu tangis bahagia.” Aku menatapnya. “Aku tahu sebagian tangismu bukan.”

Dia tidak menjawab. Tapi matanya mulai basah.

“Dan setahun kemudian, pernikahan itu dihancurkan,” kataku pelan. “Bukan karena kita nggak cinta. Karena kita terlalu gampang dipisahkan. Karena ada pintu yang bisa dijaga seseorang di antara kita. Karena keluargamu nggak pernah benar-benar menerima, dan siapa pun yang mau menghancurkan kita tinggal masuk lewat celah itu.”

“Chakra…”

“Kali ini,” kataku, “aku nggak mau ada celah.”

Aku meraih tangannya. Tangan yang memeluk guling. Aku menggenggamnya.

“Aku nggak mau kamu jadi perempuan yang aku curi dari pertunangannya,” kataku, “di apartemen studio, jam sepuluh malam, tiga minggu sebelum acara yang semua orang kira pertunanganmu. Aku nggak mau ada satu foto pun, satu bisikan pun, satu celah pun yang bisa dipakai siapa pun untuk bilang ke Papamu lihat, dia memang begitu dari dulu.” Aku menarik napas. “Kali ini aku mau semuanya benar. Om Hendra di tempatnya. Kebenaran di tempatnya. Lalu aku datang ke rumahmu. Lewat pintu depan. Aku minta kamu ke Papamu. Langsung. Ke mukanya.”

Aku menatapnya.

“Dan aku mau Papamu sendiri yang menikahkan kamu ke aku.”


Dia menangis.

Bukan isak keras seperti di ruang tunggu ICU, atau tangis anak kecil seperti di kedai mie ayam Ibu. Tangis pelan. Air mata yang mengalir diam-diam di pipinya sementara dia menatapku dan memeluk guling di sebelah kiri dan menggenggam tanganku.

“Kamu,” katanya akhirnya, suaranya serak, “nyebelin.”

“Aku tahu.”

“Kamu nyebelin banget.”

“Aku tahu.”

“Aku sudah nutup CCTV. Aku sudah nyetir kayak orang gila. Aku sudah buka tiga kancing.” Dia menyeka mata dengan punggung tangan. “Dan kamu malah bikin aku nangis. Lagi. Tiga hari berturut-turut aku nangis gara-gara kamu.”

“Maaf.”

“Jangan minta maaf.” Dia melempar guling itu ke dadaku. Pelan. “Kamu sekarang alim banget. Nyebelin.”

Aku menangkap gulingnya. Tertawa.

“Aku nggak alim, Rena.”

“Kamu alim. Kamu bilang halal dulu. Kayak ustaz di pengajian Ibu.”

“Aku nggak alim,” kataku. “Kalau aku alim, aku nggak akan biarin kamu buka tiga kancing.”

Dia menatapku. Air matanya berhenti. Matanya menyipit.

“Kamu biarin?”

“Aku biarin sampai kancing ketiga,” kataku jujur. “Kancing keempat, aku nggak yakin bisa berhenti.”

Hening.

Lalu dia tersenyum. Pelan. Senyum yang dimulai di sudut bibir dan merambat ke matanya yang masih basah. Senyum yang dulu dia sebut senyum yang bikin aku telat ke kantor, dan sekarang, aku sadar, adalah senyum yang bisa membuatku telat ke mana saja. Ke kantor, ke rapat direksi, ke akhirat.

“Jadi kamu lemah,” katanya pelan.

“Sangat.”

“Di kancing keempat.”

“Di kancing mana pun, sebenarnya. Kancing keempat itu batas terakhir pertahanan.”

Dia tertawa. Akhirnya. Tawa yang lepas dan basah, dan dia menutup wajah dengan kedua tangan sambil tertawa. Bahunya berguncang, dan kakinya yang telanjang menendang-nendang kasur.

“Ya Tuhan,” katanya di balik tangannya. “Ya Tuhan, aku jatuh cinta lagi sama laki-laki yang nolak tidur sama aku karena mau minta izin ke Papaku.”

“Itu kalimat yang aneh kalau diucapkan keras-keras.”

“Memang aneh!”


Pukul sebelas, ponselnya bergetar di dalam tas di dekat pintu. Lalu ponselku bergetar di saku. Hampir bersamaan.

Kami saling pandang.

Aku mengeluarkan ponselku. Rena berjalan ke tasnya dan mengambil ponselnya.

Ibu: Chakra. Kamu di mana? Kok WA Ibu nggak dibales dari jam 8?

Ibu: Neng Rena sama kamu?

Ibu: Gendis bilang dia lihat di Instagram Story-nya satpam SC Tower, ada foto kalian keluar lift jam 9.

Ibu: Kerah kamu ada lipstiknya.

Ibu: CHAKRA WIRASENA.

Aku menatap layar. Lalu menunduk menatap kerah kemejaku sendiri.

Di sisi kiri, samar, warna mawar tua.

Aku mengangkat wajah dan menatap Rena. Dia sedang menatap ponselnya sendiri dengan wajah pucat.

“Ibu kamu WA aku,” katanya pelan. “Neng, jangan macem-macem dulu ya. Belum halal. Ibu sayang Neng. Tapi belum halal.”

Dia memutar ponselnya ke arahku. Di bawah pesan itu ada stiker. Kucing gembul berpeci memegang tasbih.

Kami saling pandang.

Lalu kami berdua tertawa sampai Rena harus berpegangan pada rak sepatu supaya tidak jatuh.

“Pak Agus,” kataku di sela tawa. “Pak Agus pasang Story.”

“Pak Agus punya Instagram?”

“Semua orang punya Instagram, Rena. Kecuali aku.”

“Kerahmu…”

“Kamu tahu?”

“Aku tahu dari di lift.” Dia menyeka mata. “Aku sengaja nggak bilang. Aku pikir biar Bagas lihat besok.”

“Rena.”

“Maaf. Maaf.” Dia tidak menyesal sama sekali.

Aku mengetik balasan ke Ibu.

Bu, Rena di sini. Kami cuma ngobrol. Saya bilang ke dia, halal dulu. Saya janji.

Dua centang biru. Tiga puluh detik.

Ibu: Alhamdulillah. Anak Ibu pinter.

Ibu: Tapi Ibu nggak percaya. Ibu telepon Gendis suruh ke sana.

Ibu: Bercanda. Gendis lagi balas DM Marcel. Dari jam 8 belum selesai.

Ibu: Jangan lupa makan.


Dia tidak pulang.

Itu keputusannya, bukan keputusanku. Pukul sebelas lewat tiga puluh, ketika aku menawarkan untuk memesan taksi online, dia menggeleng dan duduk kembali di tepi kasur.

“Aku nggak mau sendirian malam ini,” katanya pelan. “Habis makan siang sama Om Hendra. Habis dia bilang Om sayang kamu.” Dia memeluk lututnya. “Aku nggak mau pulang ke penthouse yang kosong dan mikirin itu sampai pagi.”

Aku menatapnya.

“Kamu tidur di kasur,” kataku. “Aku di sofa.”

Dia menatap sofa di sudut ruangan. Sofa dua dudukan berwarna abu-abu yang panjangnya kira-kira satu meter enam puluh. Aku tingginya satu meter delapan puluh dua.

“Sofanya kekecilan buat kamu.”

“Aku pernah tidur di sofa lab Zürich yang lebih kecil dari itu. Tiga tahun.”

“Itu menyedihkan.”

“Itu riset.”

Dia menatapku lama. Lalu berdiri, berjalan ke lemari kecilku, membukanya, dan mengeluarkan sesuatu.

Kaus abu-abu. Salah satu dari lima kaus abu-abu yang sama.

“Aku pinjam,” katanya.

Dia masuk ke kamar mandi. Pintu geser menutup.

Aku berdiri di tengah apartemen studio, menatap pintu kamar mandi, dan mendengar air keran mengalir. Aku mendengar dia mencuci muka. Aku mendengar resleting rok pensil. Aku mendengar kain sutra jatuh ke lantai.

Aku berbalik menghadap jendela dan mulai mengulang tabel perkalian dua puluh tiga di kepala.

Dua puluh tiga kali tujuh belas, tiga ratus sembilan puluh satu. Dua puluh tiga kali delapan belas…

Pintu kamar mandi terbuka.

Aku tidak menoleh. Aku sangat, sangat tidak menoleh.

“Chakra.”

“Hm.”

“Kamu ngapain menghadap jendela?”

“Lihat pemandangan.”

“Jendelamu menghadap tembok gedung sebelah.”

“Temboknya bagus.”

Dia tertawa. Aku mendengar langkah kakinya yang telanjang di lantai vinil, mendekat. Lalu berhenti di belakangku.

“Lihat aku,” katanya pelan.

“Rena…”

“Lihat aku. Aku pakai kaus. Bukan apa-apa. Lihat.”

Aku menoleh.

Dia berdiri di sana, di bawah lampu kuning apartemen studioku, memakai kaus abu-abu milikku yang terlalu besar untuknya. Panjangnya sampai ke tengah paha. Lengannya sampai ke siku. Kerahnya terlalu lebar sehingga melorot ke satu sisi, memperlihatkan tulang selangka dan bahu kirinya yang pucat. Rambutnya terurai panjang sampai ke punggung. Wajahnya bersih tanpa riasan, kulitnya sedikit memerah karena air dingin.

Dan kakinya. Kakinya yang panjang dan telanjang, dari tengah paha sampai ke jari-jari kaki dengan cat kuku warna nude yang sedikit terkelupas di jempol.

Bukan apa-apa, katanya.

Dua puluh tiga kali sembilan belas. Empat ratus… empat ratus berapa. Aku lupa.

Aku lupa matematika.

“Kamu,” kataku, suaraku nyaris tidak keluar, “jahat.”

Dia tersenyum. Senyum paling manis dan paling kejam di dunia.

“Aku cuma mau kamu tahu,” katanya, berjalan melewatiku ke kasur, “apa yang kamu tunda.”

Dia naik ke kasur. Menarik selimut sampai ke dada. Memeluk guling.

Guling yang di sebelah kiri.

Lalu dia menepuk sisi kanan kasur yang kosong, dua kali, pelan.

“Sisi ini,” katanya, “masih kosong. Kamu sendiri yang bilang di WA.”

“Rena.”

“Aku cuma bilang.”

“Aku tidur di sofa.”

“Aku tahu.” Dia memejamkan mata, memeluk guling lebih erat, dan menenggelamkan wajahnya di sana. Suaranya teredam. “Halal dulu. Aku dengar. Aku setuju. Aku cuma mau kamu menderita sedikit.”

Aku berdiri di tengah ruangan, menatapnya.

Perempuan yang kucintai sejak umur dua puluh empat tahun, tidur di kasurku dengan kausku, memeluk gulingku, di sisi yang dulu dia tempati setiap malam selama tiga ratus enam puluh lima hari.

Aku mematikan lampu. Berjalan ke sofa. Berbaring di sana, dengan kaki menjuntai lewat sandaran tangan dan leher yang tertekuk di sudut yang tidak manusiawi.

Dalam gelap, dari kasur, suaranya terdengar pelan.

“Chakra.”

“Hm.”

“Kakimu keluar sofa?”

“Iya.”

“Kasihan.”

“Kamu nggak kasihan sama sekali.”

“Nggak.” Jeda. Lalu, lebih pelan, nyaris tidak terdengar: “Tapi aku bangga.”

Aku menatap langit-langit dalam gelap.

“Bangga kenapa?”

“Karena kamu mau minta aku ke Papa.” Suaranya bergetar. “Delapan tahun lalu, Papa nggak datang ke akad kita. Aku pura-pura nggak apa-apa. Aku bilang ke semua orang aku nggak butuh restu. Aku bohong.” Dia menarik napas. “Aku butuh. Aku selalu butuh.”

Aku tidak menjawab. Tenggorokanku tertutup.

“Makasih,” bisiknya. “Sudah ingat.”

Hening yang panjang. Dengung AC. Suara kendaraan di jalan di bawah.

Lalu napasnya melambat. Teratur. Dalam.

Dia tertidur.

Aku berbaring di sofa yang terlalu pendek dengan kaki menjuntai, leher tertekuk, dan hati yang terlalu penuh untuk dadaku. Aku mendengarkan napasnya dalam gelap sampai aku juga tertidur.


Aku bangun pukul enam pagi karena bau gosong.

Aku duduk tegak di sofa. Leherku menjerit. Punggungku menjerit. Kakiku mati rasa.

Dari dapur kecil di sudut apartemen terdengar desis minyak panas, bunyi spatula yang beradu dengan wajan, dan suara perempuan yang bergumam aduh, aduh, aduh.

Rena berdiri di depan kompor dengan kausku dan rambut diikat ekor kuda asal-asalan. Satu tangan memegang spatula. Satu tangan memegang ponsel yang memutar video YouTube berjudul CARA MEMBUAT TELUR DADAR UNTUK PEMULA (DIJAMIN BERHASIL).

Di wajan ada sesuatu yang hitam di pinggiran dan kuning di tengah.

“Pagi,” katanya tanpa menoleh. “Jangan komentar.”

Aku berdiri dan berjalan ke dapur. Berdiri di belakangnya. Menatap wajan dari atas bahunya.

“Apinya kebesaran,” kataku.

“Aku bilang jangan komentar.”

“Maaf.”

Dia mematikan kompor. Mengangkat telur dadar itu dengan spatula, setengah hitam dan setengah kuning, berbentuk seperti peta Pulau Sulawesi, lalu menaruhnya di piring.

Dia berbalik dan menyodorkan piring itu kepadaku.

“Makan.”

Aku menatap telur dadar itu. Aku menatap Rena, dengan ekor kuda yang miring, kaus yang melorot di bahu, dan noda minyak di pipi kirinya.

Aku mengambil garpu dan memotong sepotong. Bagian yang hitam. Aku memakannya.

Pahit. Asin. Gosong.

“Gimana?” tanyanya.

Aku menelan.

“Gosong,” kataku.

“Oh.”

“Keasinan.”

“…Oh.”

“Ini telur dadar paling enak yang pernah kumakan,” kataku.

Dia menatapku. Lalu mengulurkan tangan dan mengacak rambutku. Pelan. Dengan jari-jari yang masih sedikit berminyak.

“Anak pintar,” katanya.

Persis seperti dulu.

Hanya saja dulu aku yang membuat telur dadar dan dia yang mengacak rambutku. Sekarang kebalikannya. Dia yang membuat telur dadar gosong, dan aku yang memakannya, dan entah bagaimana dia tetap yang mengacak rambutku.

Beberapa hal memang tidak pernah berubah.

Aku menghabiskan telur dadar itu sampai potongan terakhir. Termasuk bagian yang paling hitam.

Dia memperhatikanku makan dengan dagu di atas telapak tangan dan senyum yang tidak bisa dia sembunyikan.

“Hari ini,” katanya ketika piringku kosong, “Oma minta kita ke Menteng.”

Aku berhenti mengunyah.

“Kita?”

“Kita berdua.” Dia mengambil ponselnya dan menunjukkan layarnya. Pesan dari Oma, dikirim pukul 05.47 pagi.

Oma: Serena. Bawa anak mie ayam itu ke rumah jam 4 sore. Oma mau main catur. Kita sudah janji delapan tahun lalu.

Oma: Dan bilang ke dia, jangan pakai kemeja yang kerahnya ada lipstik. Pak Agus itu keponakan tukang kebun Oma.