Chapter Twenty Seven
Oma Tahu
POV: Serena
Chakra datang ke rumah Menteng pukul empat kurang lima menit dengan kemeja putih yang baru disetrika, celana bahan abu-abu, dan wajah orang yang akan menghadap regu tembak.
“Kerahmu bersih?” tanyaku di teras.
Dia menurunkan kerahnya dan memeriksa dengan ujung jari. “Bersih.”
“Yakin?”
“Aku periksa tiga kali di cermin. Lalu Gendis periksa lewat video call. Lalu Ibu periksa lewat video call. Lalu Ibu minta Gendis periksa lagi.” Dia menatapku. “Bersih, Rena.”
Aku tertawa dan menariknya masuk.
Rumah Menteng sore itu sepi. Papa di kantor sampai malam. Mama di yayasan sampai pukul enam, katanya, untuk rapat rutin pengurus. Rapat yang dipimpin Om Hendra, aku baru sadar sambil berjalan di lorong. Aku menyimpan pikiran itu di sudut kepalaku dan tidak menyentuhnya.
Bi Inah, asisten rumah tangga yang sudah bekerja di rumah ini sejak aku masih SD, berdiri di ujung lorong dengan nampan berisi teh. Dia melihat Chakra dan membeku.
Lalu matanya berkaca-kaca.
“Mas Chakra,” bisiknya.
“Bi Inah.” Chakra tersenyum. “Masih bikin pisang goreng yang pakai wijen?”
Bi Inah menutup mulut dengan tangan. Dia mengangguk cepat, berkali-kali, lalu berbalik dan berjalan ke dapur dengan langkah tergesa. Nampan tehnya masih di tangan. Dari dapur terdengar suara wajan diletakkan di atas kompor dengan bunyi yang sangat bertekad.
“Bi Inah dulu,” kataku pelan, “satu-satunya orang di rumah ini yang nyelundupin makanan ke kamu waktu kamu nunggu aku di teras.”
“Aku ingat.”
“Tiga jam, di teras. Mama nggak izinkan kamu masuk.”
“Pisang gorengnya enak.”
Aku menatapnya. Dia tersenyum, tapi matanya menatap lorong rumah ini dengan cara yang membuatku sadar. Delapan tahun lalu, laki-laki ini tidak pernah melewati teras rumahku.
Ini pertama kalinya dia masuk.
Oma menunggu di perpustakaan di lantai dua.
Ruangan dengan rak buku dari lantai sampai langit-langit, karpet Persia tua, jendela besar yang menghadap halaman belakang dengan pohon mangga yang ditanam Opa. Di tengah ruangan ada meja kecil dari kayu jati dengan papan catur antik di atasnya. Bidaknya dari gading dan ebony, dengan raja yang memakai mahkota berukir.
Oma duduk di kursi di sisi bidak hitam. Gaun rumah berwarna lavender. Kalung mutiara satu lapis, bukan tiga, karena ini hari biasa. Kacamata baca di ujung hidung.
“Kamu terlambat dua menit,” katanya tanpa mengangkat wajah.
“Saya datang empat menit lebih awal, Bu,” kata Chakra. “Lalu Bi Inah menahan saya di lorong.”
Oma mengangkat wajah. Menatap Chakra dari atas kacamata bacanya. Lama. Dari ujung rambut sampai ujung sepatu.
“Duduk,” katanya. “Putih jalan duluan.”
Aku tidak mengerti catur. Itu satu-satunya hal yang membuat Oma kecewa padaku sejak aku kecil. Aku tahu kuda jalannya seperti huruf L dan menteri bisa ke mana saja. Selebihnya, papan catur bagiku hanya kotak-kotak hitam putih dengan patung-patung kecil yang terlihat sangat serius.
Jadi aku duduk di sofa di dekat jendela, memeluk bantal, dan menonton dua orang yang paling kupedulikan di dunia ini saling diam selama empat puluh menit.
Mereka tidak bicara. Sama sekali. Hanya bunyi bidak yang diletakkan di papan, tok, dan jam dinding yang berdetak, dan sesekali Oma mengetuk lengan kursinya dengan jari.
Di menit kedua puluh, Bi Inah masuk dengan sepiring pisang goreng wijen yang masih mengepul dan dua cangkir teh. Dia meletakkannya di meja kecil di sebelah Chakra, bukan di sebelah Oma, lalu keluar tanpa bicara, dengan mata yang masih merah.
Oma melirik piring itu. Lalu melirik Bi Inah yang pergi. Lalu kembali ke papan.
“Delapan tahun,” kata Oma pelan, tanpa mengangkat mata, “Inah tidak pernah menggoreng pisang wijen. Karena kamu satu-satunya yang suka.”
Chakra tidak menjawab. Dia mengambil satu pisang goreng dan memakannya pelan-pelan. Lalu menggerakkan kudanya.
Oma mengerutkan kening.
Di menit ketiga puluh lima, Oma melakukan sesuatu yang bahkan aku, yang tidak mengerti catur, tahu itu aneh. Dia memindahkan menterinya ke kotak yang jelas-jelas bisa dimakan oleh kuda Chakra.
Chakra menatap papan lama sekali. Tangannya bergerak ke kuda. Berhenti. Mundur.
“Ibu mengorbankan menteri,” katanya pelan.
“Iya.”
“Kalau saya makan menterinya, Ibu skakmat saya dalam tiga langkah.”
“Empat,” kata Oma. “Kamu bisa bertahan satu langkah lagi kalau kamu pintar. Dan kamu pintar.”
“Kalau saya nggak makan?”
“Kalau kamu nggak makan, Oma ambil bentengmu, dan kamu kalah dalam sebelas langkah.” Oma tersenyum. Senyum yang jarang sekali kulihat. “Tapi kebanyakan orang akan makan menterinya. Karena menteri itu mahal. Karena semua orang ingin merasa menang.”
Chakra menatap papan.
Lalu, pelan, dia meletakkan raja putihnya miring di atas papan. Menyerah.
Oma menatapnya. Alisnya terangkat.
“Kamu menyerah? Kamu masih bisa main sebelas langkah.”
“Sebelas langkah untuk kalah, Bu,” kata Chakra. “Atau empat langkah untuk kalah. Ujungnya sama.” Dia tersenyum. “Saya lebih suka menyerah ke orang yang mengajari saya sesuatu.”
“Apa yang Oma ajarkan?”
“Bahwa kadang, untuk menang, kita harus membiarkan lawan mengira dia sudah menang.” Chakra menatap Oma. “Bahwa orang yang paling berbahaya bukan yang menyerang. Tapi yang membiarkan dirinya dimakan, di tempat yang dia pilih sendiri.”
Hening.
Oma menatap Chakra sangat lama. Lalu dia melepas kacamata bacanya, melipatnya, dan meletakkannya di meja. Wajahnya tanpa kacamata terlihat lebih tua dan lebih lelah. Dan, untuk pertama kalinya sejak aku kecil, sangat rapuh.
“Kamu sudah tahu,” katanya pelan. “Soal Hendra.”
Chakra mengangguk.
“Sejak kapan?”
“Sejak sebelum saya datang ke sini, Bu.”
Aku menegakkan duduk di sofa. Bantal di pelukanku jatuh ke lantai.
“Apa?”
Mereka berdua menoleh padaku. Lalu saling pandang.
“Kamu duluan,” kata Oma. “Kamu lebih muda. Ingatanmu lebih bagus.”
Chakra menceritakannya. Ke aku, bukan ke Oma. Oma sepertinya sudah tahu sebagian besar.
Soal folder di laptopnya yang tidak pernah dia sinkronkan ke mana pun. sc_watch. Dua tahun membaca laporan keuangan publik SC Group dari apartemen kecil di Zürich, setiap malam, awalnya karena dia laki-laki menyedihkan yang tidak bisa tidur dan butuh cara untuk merasa dekat denganku tanpa harus menelepon.
“Membaca laporan keuangan perusahaan keluargaku,” kataku pelan, “untuk merasa dekat denganku.”
“Aku tahu itu aneh.”
“Itu sangat aneh.”
“Aku tahu.”
Lalu soal anomali. Pembengkakan biaya konstruksi yang terlalu teratur. Subkontraktor dengan alamat yang mirip. Penyesuaian stok ritel yang naik setiap kuartal.
“Satu setengah tahun lalu,” kata Chakra, “aku kirim email ke Komisaris Utama SC Group. Anonim. Pakai alamat email terenkripsi. Isinya ringkasan analisis. Lima halaman. Grafik, angka, pola. Aku nggak sebut nama siapa-siapa. Aku cuma bilang ada yang salah, tolong lihat.” Dia menatap Oma. “Aku tanda tangan seseorang yang masih peduli.”
Aku menatap Oma.
Oma tidak bergerak. Lalu, pelan, dia mengangguk.
“Oma terima email itu,” katanya. “Satu setengah tahun lalu, hari Selasa, jam tiga pagi waktu Jakarta. Jam sembilan malam di Zürich.” Dia tersenyum tipis. “Orang yang mengirim email jam sembilan malam dari Zürich ke perempuan tua di Jakarta jam tiga pagi, pasti orang yang tidak tidur.”
“Oma tahu itu dia?”
“Oma minta orang melacaknya. Diam-diam. Seorang konsultan IT yang pernah bekerja untuk Opamu. Alamat emailnya terenkripsi, tapi pola pengirimannya tidak. Selalu dari jaringan kampus yang sama di Zürich. Selalu antara jam sembilan dan jam dua malam.” Oma menatap Chakra. “Lalu Oma ingat. Delapan tahun lalu, di acara lamaran yang paling dingin dalam sejarah keluarga ini, ada seorang anak muda yang bilang dia bisa main catur. Dan enam tahun lalu, anak muda yang sama berangkat ke Zürich.”
“Lalu Oma…”
“Lalu Oma menyewa headhunter di Singapura,” kata Oma. “Yang paling mahal. Oma minta dia menghubungi anak muda di Zürich itu. Dengan tawaran dari sebuah grup konglomerasi Indonesia, identitas dirahasiakan.” Oma melirik Chakra. “Oma kira dia tidak akan tahu itu SC.”
“Saya tahu sebelum headhunter-nya selesai bicara, Bu,” kata Chakra.
“Oma tahu sekarang.” Oma tertawa kecil. “Lalu dia minta identitasnya juga dirahasiakan sampai hari pertama. Oma pikir, bagus, anak ini juga main catur.”
Aku menatap mereka berdua. Nenekku dan mantan suamiku. Dua orang yang selama satu setengah tahun bergerak dalam gelap, saling menebak, tanpa pernah bicara langsung. Seperti dua pemain catur yang bermain di papan yang sama tanpa melihat wajah satu sama lain.
“Papa,” kataku. “Papa yang tanda tangan rekrutmennya. Kita butuh orang ini. Percayakan ke Papa.”
“Oma yang minta Papamu tanda tangan,” kata Oma. “Oma bilang ke Papamu, Richard, hasil ujinya luar biasa, kita butuh dia, jangan tanya-tanya. Papamu tidak pernah membantah Oma.” Dia diam sebentar. “Kecuali sekali. Delapan tahun lalu. Soal kamu.”
“Kenapa Oma nggak bilang?”
Suaraku keluar lebih keras dari yang kuinginkan. Oma dan Chakra sama-sama menoleh.
“Enam tahun,” kataku. “Oma tahu sesuatu. Oma pasti tahu sesuatu. Oma kasih aku kunci ruang kerja Opa. Oma bilang baca semuanya. Oma tahu map biru itu ada di laci paling bawah.” Mataku mulai panas. “Oma tahu Om Hendra jadi saksi. Oma tahu soal tulisan pensil itu. Kenapa Oma nggak bilang? Kenapa Oma biarin aku enam tahun…”
“Karena Hendra anak Oma, Serena.”
Kalimat itu jatuh di tengah perpustakaan seperti batu ke dalam sumur.
Aku diam.
Oma menatapku. Matanya kelabu, tenang, dan basah. Itu pertama kalinya dalam hidupku aku melihat mata Oma basah.
“Hendra anak Oma,” ulangnya pelan. “Anak bungsu. Yang Oma lahirkan waktu Opamu sedang di proyek jembatan di Kalimantan, sendirian, di rumah sakit kecil di Kebayoran. Yang Oma susui sendiri karena Oma tidak percaya pada susu formula. Yang Oma ajari naik sepeda di halaman ini.” Dia menunjuk ke jendela, ke halaman belakang, ke pohon mangga. “Di situ. Di bawah pohon itu. Dia jatuh dan lututnya berdarah, dan dia tidak menangis, karena dia bilang dia mau jadi kuat kayak Papa.”
Aku tidak bisa bicara.
“Malam itu di rumah sakit,” lanjut Oma, “Oma duduk di ujung ruang tunggu dengan tasbih. Kamu ingat?”
“Ingat.”
“Oma tidak tidur. Oma melihat banyak hal. Oma melihat Hendra berdiri di ambang pintu kecil di ujung koridor. Satu jam. Seperti penjaga. Oma pikir, kenapa dia berdiri di situ? Lalu jam empat pagi, Oma ke toilet, dan Oma melihat Sutedjo keluar dari pintu itu. Pakai celana piyama kotak-kotak di bawah jasnya.” Oma diam. “Sutedjo tidak pernah keluar rumah jam empat pagi pakai piyama, kecuali ada yang memaksanya.”
“Oma tanya Pak Sutedjo?”
“Tiga minggu kemudian. Setelah semuanya selesai. Setelah akta cerai keluar.” Oma menatap tangannya sendiri. “Sutedjo menunjukkan map biru itu. Tempat tanda tangan, jam, saksi. Dan bekas pensil di belakangnya. Oma tidak bisa membacanya. Mata Oma sudah tua. Oma hanya tahu ada sesuatu yang ditulis lalu dihapus.”
“Lalu?”
“Lalu Oma pergi ke Hendra.” Suara Oma bergetar sedikit. “Oma tanya dia. Langsung. Hendra, apa yang kamu lakukan malam itu?”
Hening.
“Dia menangis,” kata Oma. “Di depan Oma. Dia berlutut. Dia bilang dia hanya ingin melindungi Richard. Dia bilang Richard hampir mati, dan dia takut, dan dia melakukan satu-satunya hal yang bisa dia pikirkan untuk membuat semuanya berhenti. Dia bilang anak mie ayam itu tidak baik untuk keluarga ini. Dia bilang dia menyesal.” Oma memejamkan mata. “Dan Oma percaya.”
“Oma…”
“Oma percaya,” ulang Oma, “karena Oma ibunya. Karena ibu mana pun ingin percaya bahwa anaknya hanya takut, bukan jahat. Karena takut bisa dimaafkan.” Dia membuka mata. “Oma memaafkannya. Oma menyimpan map biru itu di lemari Opa, dan Oma menyuruh diri Oma sendiri melupakannya.”
Dia menatapku.
“Lalu tiga tahun lalu, Pak Udin datang ke Oma dan menangis. Dia bilang Hendra membayarnya untuk melaporkan setiap gerakanmu. Sudah lima tahun waktu itu. Sejak kamu mulai pacaran dengan anak mie ayam ini, sebelum kalian menikah.” Oma menarik napas. “Sejak sebelum kamu menikah, Serena. Bukan setelah. Bukan karena takut Richard mati.”
Dadaku dingin.
“Lalu Oma mulai melihat lebih teliti,” kata Oma. “Yayasan. Laporan donasi. Kontraktor-kontraktor yang tiba-tiba sangat dermawan. Oma Pembina yayasan itu, tapi Hendra Ketuanya. Setiap kali Oma minta rincian, laporannya datang terlambat, atau tidak lengkap, atau Hendra datang sendiri ke kamar Oma dengan teh dan senyum dan bilang Ma, sudah, Mama istirahat saja, biar aku yang urus.” Oma menatap Chakra. “Lalu satu setengah tahun lalu, datang email dari seseorang yang masih peduli. Dengan grafik yang menunjukkan semua yang Oma takutkan, tapi tidak bisa Oma buktikan.”
“Kenapa Oma nggak lapor polisi?” bisikku.
“Dengan apa?” Oma tersenyum pahit. “Firasat seorang nenek? Laporan sopir? Bekas pensil yang tidak bisa dibaca? Grafik dari email anonim?” Dia menggeleng. “Hendra punya pengacara terbaik di Jakarta. Hendra punya Richard, yang akan membelanya sampai mati, karena Richard menggendongnya waktu dia bayi. Hendra punya Benny Hartanto. Dan Hendra punya senyum itu, Serena. Senyum yang bisa membuat semua orang di ruangan mana pun percaya bahwa dia satu-satunya orang baik di sana.”
Oma menyentuh papan catur. Raja putih yang tergeletak miring.
“Di catur,” katanya, “tahu itu tidak cukup. Kamu harus bisa membuktikannya di papan. Kalau kamu menyerang raja sebelum semua bidakmu siap, kamu kalah. Dan kalau Oma kalah melawan Hendra, Oma tidak akan dapat kesempatan kedua.”
Dia menatap Chakra.
“Jadi Oma memanggil satu-satunya orang yang Oma tahu tidak bisa dibeli Hendra,” katanya. “Satu-satunya orang yang Hendra sudah coba hancurkan sekali, dan yang kembali, bukan untuk balas dendam, tapi untuk melindungi orang yang dulu menceraikannya.”
Rencana itu terbentuk di meja catur, di antara pisang goreng yang sudah dingin dan raja putih yang masih tergeletak miring.
“Aliran uangnya,” kata Chakra. “Itu yang kita butuhkan. Empat belas vendor itu dibayar tiga ratus empat belas miliar untuk pekerjaan yang nggak pernah dikerjakan. Uangnya ke mana? Selama kita belum bisa menunjukkan uangnya masuk ke tangan siapa, semuanya cuma graf yang cantik.”
“Yayasan,” kata Oma.
Chakra menoleh.
“Kontraktor-kontraktor yang tiba-tiba dermawan,” kata Oma. “Oma lihat di laporan tahunan yayasan, laporan yang Hendra izinkan Oma lihat. Donasi dari mitra usaha naik tiga kali lipat dalam tiga tahun terakhir. Oma tidak tahu siapa mitra-mitranya. Laporannya hanya mencantumkan total.” Dia menatap Chakra. “Tapi Oma Pembina. Menurut undang-undang yayasan, Pembina berhak meminta laporan keuangan lengkap. Rekening koran. Daftar donatur. Daftar penerima beasiswa.”
“Hendra akan tahu,” kataku. “Kalau Oma minta, Om Hendra langsung tahu.”
“Tentu dia tahu.” Oma tersenyum. “Kecuali Oma memintanya dengan alasan yang membuatnya tidak curiga.”
“Alasan apa?”
Oma mengambil kacamata bacanya, memakainya kembali, dan menatapku dari atasnya.
“Oma sudah tujuh puluh sembilan,” katanya. “Oma mau merapikan wasiat. Oma mau memastikan yayasan Opamu akan aman setelah Oma meninggal. Jadi Oma minta semua laporan keuangan lengkap untuk notaris. Rapat Pembina tahunan yang biasanya bulan depan, Oma majukan ke minggu depan.”
Chakra menatap Oma dengan sesuatu yang sangat mirip kekaguman.
“Hendra pasti kasih,” kata Oma. “Karena dia ingin tahu apa isi wasiat Oma. Karena dia ingin memastikan namanya ada di sana.” Dia tersenyum, tipis dan dingin. “Dan saat dia sibuk memikirkan warisannya, cucu menantu Oma yang pintar ini bisa membaca rekening koran yayasan sampai pagi.”
“Cucu…” Chakra berhenti.
“Cucu menantu,” ulang Oma tenang. “Kamu dengar.”
Telinga Chakra memerah sampai ke ujung.
“Satu lagi,” kata Oma, menatap kami berdua. “Merger dan pertunangan tanggal lima. Tiga minggu lagi. Biarkan berjalan.”
“Oma,” kataku. “Aku sudah bilang ke Marcel…”
“Oma tahu. Pak Udin melaporkan pembicaraanmu di atap.” Oma melambaikan tangan. “Tenang. Laporan ke Hendra yang Oma tulis bilang kalian membahas menu katering.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
“Biarkan Hendra mengira semuanya sesuai rencananya,” lanjut Oma. “Biarkan dia mengira kamu akan bertunangan dengan Marcel, merger akan ditandatangani, dan semua jejaknya akan terkubur di dalam perusahaan gabungan yang terlalu besar untuk diaudit siapa pun.” Dia menyentuh raja putih yang tergeletak. “Biarkan dia mengira dia sudah makan menteri.”
Chakra menatap papan.
“Dan saat dia merasa paling aman,” katanya pelan, “di depan semua orang, di Sky Hall…”
“Skakmat,” kata Oma.
Bi Inah membawakan teh baru pukul enam kurang seperempat, dan kali ini dia tidak menyembunyikan matanya yang merah.
Pukul enam lewat sepuluh, ketika Oma menyuruhku mengantar Chakra ke gudang untuk mencari sesuatu yang dulu Mamamu simpan, aku menyadari bahwa Oma sudah merencanakan bagian itu juga. Karena Oma tidak pernah menyuruh siapa pun ke gudang. Dan karena Oma tahu soal payung itu.
Tentu saja Oma tahu soal payung itu. Oma tahu segalanya.
Gudang rumah Menteng ada di belakang, di bangunan terpisah di samping garasi. Ruangan pengap berbau kapur barus dan debu, penuh kardus yang ditumpuk sampai langit-langit, perabot tua yang ditutupi kain, dan lemari-lemari yang tidak pernah dibuka sejak Opa meninggal.
Mama tidak pernah membuang barang. Dia hanya memasukkannya ke kardus, memberinya label dengan tulisan tangannya yang rapi, lalu melupakannya.
Kami mencari dua puluh menit. Natal 2009. Buku-buku Serena SD. Hadiah pernikahan Om Hendra (tidak terpakai). Piala Golf Richard. Chakra membaca setiap label dengan serius, seperti membaca log server.
Lalu, di sudut paling belakang, di bawah tumpukan kardus berisi taplak meja, aku menemukannya.
Kardus cokelat ukuran sedang. Labelnya ditulis dengan spidol hitam, tulisan tangan Mama yang rapi.
Kalibata — buang?
Tanda tanya. Mama menulis tanda tanya.
Aku membuka kardus itu dengan tangan gemetar.
Isinya barang-barang dari apartemen kecil kami. Dua bantal sofa bermotif kotak-kotak yang dulu kami beli di pasar Mayestik. Toples kerupuk dari kaca. Satu bingkai foto kosong. Fotonya sudah diambil, tapi bingkainya masih ada, bingkai kayu murah yang dulu berisi foto akad kami di KUA Beji. Kalender tahun itu, berhenti di bulan yang sama dengan bulan semuanya berakhir. Dan di dasar kardus, terlipat rapi, terbungkus plastik bening seperti seseorang sengaja melindunginya:
Payung hitam. Gagang kayu. Ada retak di dekat ujung gagang.
Aku mengeluarkannya. Memegangnya. Berat dan dingin di tanganku.
Payung jodoh.
“Mama simpan,” bisikku. “Mama tulis buang? tapi nggak dibuang. Mama bungkus pakai plastik.”
Chakra berdiri di sebelahku. Diam.
Aku tidak tahu kenapa Mama menyimpannya. Mama yang menyebut ibunya tukang mie. Mama yang tidak mengizinkannya masuk ke rumah. Mama yang setahun penuh berbisik di telingaku dia cuma mau uangmu.
Mama yang menangis di ruang tunggu ICU sambil mengusap rambutku. Mama yang menulis tanda tanya.
Mungkin Mama juga tidak sepenuhnya yakin. Mungkin di suatu tempat yang tidak pernah dia akui, Mama juga bertanya-tanya.
Aku membuka payung itu.
Di dalam gudang. Di tengah kardus-kardus dan debu dan kapur barus. Payung hitam besar itu terbuka di atas kepala kami dengan bunyi fwump yang menggema di ruangan pengap.
“Rena,” kata Chakra. “Pamali. Buka payung di dalam rumah.”
“Ini bukan rumah. Ini gudang.”
“Gudang juga…”
“Diam.” Aku menarik kerah kemejanya yang bersih, sudah diperiksa tiga kali di cermin, sekali oleh Gendis dan dua kali oleh Ibu, lalu menariknya ke bawah payung bersamaku.
Di bawah payung itu, di gudang berdebu rumah keluargaku, aku menciumnya.
Pelan kali ini. Bukan lapar seperti di lantai 38. Ciuman yang lembut dan basah dan berbau kapur barus, dengan payung hitam di atas kami yang melindungi dari hujan yang tidak ada.
“SERENA SINCLAIR!”
Kami terpisah.
Suara Oma. Dari jendela lantai dua rumah utama, yang ternyata menghadap langsung ke pintu gudang yang terbuka lebar.
“JANGAN BUKA PAYUNG DI DALAM GUDANG! PAMALI! NANTI NGGAK JADI NIKAH!”
Aku menatap Chakra. Chakra menatapku. Lalu kami berdua menatap jendela lantai dua, tempat Oma berdiri dengan tongkat yang dia acungkan ke arah kami seperti tongkat sihir.
Aku menutup payung itu. Cepat-cepat.
“Oma bilang,” bisik Chakra, wajahnya merah padam, “nanti nggak jadi nikah.”
“Aku dengar.”
“Nikah.”
“Aku dengar, Chakra.”
Dia menatapku. Aku menatapnya. Lalu kami berdua tertawa, di gudang yang pengap, dengan payung jodoh di tanganku dan debu di rambut kami.
Kami kembali ke rumah utama pukul enam lewat empat puluh. Aku menggenggam payung hitam itu seperti menggenggam pedang.
Di ruang tamu, Mama baru saja pulang.
Dia berdiri di tengah ruangan dengan tas Hermès di tangan dan blazer lavender, masih memakai sepatu hak. Dia sedang menatap ponselnya ketika kami masuk, lalu dia mengangkat wajah.
Dia melihat Chakra.
Lalu payung di tanganku.
Wajahnya melakukan sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Bukan marah. Bukan kaget. Sesuatu seperti seseorang yang melihat hantu dari masa lalu, hantu yang dia sendiri bungkus dengan plastik bening dan simpan di sudut paling belakang gudang.
“Selamat sore, Bu Vivian,” kata Chakra pelan.
Mama tidak menjawab. Matanya masih menatap payung itu.
Dari tangga, suara langkah tongkat. Tok. Tok. Tok. Oma turun pelan-pelan, satu anak tangga demi satu anak tangga, dengan tangan di pegangan dan wajah yang sangat tenang.
“Vivian,” kata Oma dari tangga. “Kamu sudah pulang. Bagus.”
“Ma…”
“Tolong buatkan teh,” kata Oma, sampai di anak tangga terakhir. “Untuk cucu menantu saya.”
Hening.
Hening yang begitu total sampai aku bisa mendengar Bi Inah di dapur menjatuhkan sendok ke lantai.
Mama menatap Oma. Lalu Chakra. Lalu aku. Lalu payung di tanganku.
Lalu, sangat pelan, dengan tangan yang aku lihat gemetar di tali tas Hermès-nya, Mama meletakkan tas itu di sofa. Melepas sepatu haknya. Dan berjalan ke dapur tanpa sepatah kata pun.
Lima menit kemudian, dia kembali dengan nampan dan secangkir teh.
Dia meletakkannya di meja di depan Chakra. Tidak menatapnya. Tidak bicara.
Lalu dia berbalik dan naik ke lantai dua.
Chakra menatap cangkir teh itu. Lalu menatapku.
“Itu…” katanya pelan.
“Itu pertama kalinya,” bisikku, “Mama bikinin teh untuk siapa pun. Seumur hidupku.”
Oma duduk di sofa di sebelah tas Hermès Mama. Mengambil satu pisang goreng wijen dari piring yang dibawa Bi Inah. Menggigitnya pelan.
“Tehnya diminum, Nak,” katanya kepada Chakra. “Sebelum dia berubah pikiran.”
- 1 Kepala yang Baru
- 2 Mie Ayam Tanpa Daun Bawang
- 3 Reply All
- 4 Pesan yang Dibaca Enam Tahun Lalu
- 5 Lift Nomor Empat
- 6 400 Gerai Sebelum Hujan
- 7 Satu-Satunya yang Buka
- 8 Tamu dari Zürich
- 9 Dasi
- 10 Gala Lantai 50
- 11 Rute yang Lebih Pendek
- 12 Rumah di Cibubur
- 13 Pola Jam Dua Pagi
- 14 The AI Duo
- 15 Hujan di Tol
- 16 Tanggal di Surat Cerai
- 17 Empat Belas Vendor
- 18 Demam
- 19 NEXA Bocor
- 20 Percaya
- 21 Log Akses
- 22 Foto-Foto Lama
- 23 Ruang Tunggu ICU
- 24 Rp2 Miliar yang Pulang
- 25 RENA
- 26 Halal Dulu
- 27 Oma Tahu reading
- 28 Marcel
- 29 Arini Pamit
- 30 Kebaya untuk Jebakan
- 31 Makan Malam Keluarga
- 32 Data Tidak Punya Keluarga
- 33 Hari Penandatanganan
- 34 Menteri
- 35 Skakmat
- 36 Dua Ibu
- 37 Kotak Kacamata
- 38 Kedai Pertama
- 39 Akad Kedua
- 40 Malam Pertama, Lagi
- 41 Epilog — Ramalan yang Akurat