Chapter Nine
Laporan Pertama
POV: Renata
Rumah keluarga Wiratama di Menteng punya ruang tamu yang lebih besar dari seluruh apartemenku.
Langit-langitnya tinggi, dengan lampu gantung kristal yang setiap butirnya dibersihkan satu per satu setiap bulan oleh dua orang asisten rumah tangga. Lantainya marmer krem. Di dinding ada lukisan pemandangan sawah karya pelukis yang namanya sering muncul di berita lelang. Dan di sudut, dekat jendela besar yang menghadap taman, ada sofa beludru hijau zamrud tempat Tante Ratna selalu duduk setiap Minggu sore, dengan cangkir teh porselen di tangan dan kaki disilangkan anggun.
Aku sudah duduk di sofa seberangnya sejak umur sembilan belas.
Waktu itu Mama baru meninggal. Kanker, cepat sekali, tiga bulan dari diagnosis sampai pemakaman. Papa sudah lama pergi, entah ke mana, entah dengan siapa. Aku sendirian di kamar kos di Depok dengan uang semester yang belum terbayar dan surat peringatan dari kampus yang menumpuk di meja.
Tante Ratna datang ke pemakaman Mama dengan kebaya hitam dan kacamata hitam. Ia memelukku lama sekali di pinggir makam, lalu berbisik, “Mamamu sahabat Tante sejak SMP, Rena. Anaknya, anak Tante juga.”
Seminggu kemudian, uang semesterku lunas. Sampai aku wisuda.
Aku tidak pernah lupa itu. Tidak akan pernah.
“Gimana kantor, Sayang?”
Tante Ratna menuangkan teh ke cangkirku. Teh melati, dengan dua sendok gula, persis seperti yang kusuka. Ia selalu ingat.
“Baik, Tante. Sibuk.”
“Lucky gimana? Kamu sering ketemu dia?”
“Lumayan, Tante. Di rapat-rapat.”
“Dia makan teratur?”
“Kayaknya, Tante. Siang biasanya makan soto.”
Tante Ratna berhenti menuang teh. “Soto?”
“Di warung belakang gedung. Bareng temen-temennya.”
“Warung.” Ia mengucapkan kata itu seperti mengucapkan nama penyakit. Lalu ia meletakkan teko dan menyandarkan punggung ke sofa beludru. “Temen-temennya. Evan, sama anak itu.”
Aku tahu siapa yang ia maksud dengan anak itu. Aku sudah tahu sejak sebulan lalu, waktu Tante Ratna mengajakku makan siang di restoran Jepang di Senayan dan bercerita panjang lebar.
Tentang malam di sebuah curug di Bogor, sebelas tahun lalu. Tentang Lucky dan Evan yang hampir tenggelam. Tentang seorang anak laki-laki dari keluarga biasa yang menolong mereka, lalu cedera dan dirawat di rumah sakit selama berminggu-minggu.
“Tante yang bayar semua biayanya,” kata Tante Ratna waktu itu, sambil memotong sushi dengan sumpit. “Operasi bahu, rawat inap, fisioterapi. Tante nggak keberatan. Dia nolong anak Tante. Tante bersyukur.”
“Terus, Tante?”
“Terus dia nggak pernah pergi.”
Tante Ratna meletakkan sumpitnya.
“Sebelas tahun, Rena. Ke mana pun Lucky pergi, anak itu ada. Lucky kuliah di luar negeri, anak itu nggak bisa ikut, tapi begitu Lucky pulang, mereka langsung nempel lagi. Sekarang dia kerja di perusahaan kita. Tante nggak tahu dia masuk lewat jalur apa. Lucky bilang lewat rekrutmen umum. Tapi Lucky itu terlalu baik. Terlalu percaya sama orang. Kalau anak itu minta sesuatu, Lucky pasti kasih.”
“Dia pernah minta sesuatu, Tante?”
“Itu yang Tante mau tahu.”
Lalu ia memintaku pindah ke Wiratama Group. Corporate Communications, posisi yang kebetulan kosong. Ia memintaku dekat dengan lingkaran Lucky, mengamati, dan melaporkan.
“Bukan memata-matai, Sayang,” katanya, menggenggam tanganku di atas meja restoran. “Tante cuma mau tenang. Tante cuma punya Lucky. Kalau ada orang yang memanfaatkan dia, Tante harus tahu.”
Aku mengangguk. Tentu saja aku mengangguk. Wanita ini membayar seluruh kuliahku. Wanita ini memelukku di pinggir makam Mama.
Aku tidak tahu waktu itu bahwa aku akan menyukai orang-orang yang harus kuawasi.
Dan aku jelas tidak tahu bahwa aku akan mengajak sahabatku sendiri masuk ke tengah-tengah semua ini.
“Rena?”
Aku mengangkat wajah. Tante Ratna sedang menatapku, cangkir teh di tangannya.
“Maaf, Tante. Ngelamun.”
“Jadi? Ada perkembangan?”
Aku menyesap teh melati itu. Manis. Sangat manis. Lebih manis dari biasanya, atau mungkin lidahku yang sedang tidak beres.
“Belum ada yang aneh, Tante,” kataku.
“Hm.” Ia menatapku lama. “Temanmu itu. Monica. Dia deket sama anak itu?”
Jantungku berhenti sebentar.
“Cuma temen kerja, Tante.”
“Kata Lucky, Monica sering makan siang bareng mereka.”
“Karena ada Evan, Tante. Banyak cewek di kantor yang suka Evan.”
Itu bohong. Bohong pertamaku pada Tante Ratna dalam delapan tahun. Aku merasakannya meluncur keluar dari mulutku dengan mulus, terlalu mulus, dan aku membencinya.
Tante Ratna tersenyum. “Ah. Evan. Anak itu memang ganteng sejak SMA.”
Ia mengambil kue lapis dari piring dan menyodorkannya padaku. Aku menerimanya dan memakannya tanpa merasakan apa-apa.
Senin pagi, Wiratama Group diserang.
Bukan secara fisik. Secara digital, yang di zaman sekarang mungkin lebih buruk.
Jam tujuh pagi, sebuah akun anonim di media sosial mengunggah tangkapan layar berisi tabel data. Nama, nomor anggota, alamat email, tanggal lahir, riwayat belanja. Keterangannya: DATA MEMBER LOYALITAS WIRATAMA BOCOR. 4 JUTA DATA DIJUAL DI FORUM GELAP. CEK APAKAH DATAMU ADA DI SINI.
Jam delapan, unggahan itu sudah dibagikan tiga ribu kali.
Jam sembilan, sudah sepuluh ribu kali, dengan tagar yang mulai masuk daftar trending.
Jam sembilan lewat sepuluh, kepala divisiku, Bu Sinta, berdiri di tengah ruangan Corporate Communications di lantai sebelas dengan wajah sepucat kertas HVS.
“Kita harus keluarin pernyataan. Sekarang. Sebelum jam sepuluh. Sebelum media nelpon.”
“Pernyataan apa, Bu?” tanya salah satu rekanku. “Datanya beneran bocor atau nggak?”
“Itu yang belum kita tahu!” Bu Sinta memijat pelipisnya. “Tim IT bilang mereka butuh dua puluh empat jam buat audit penuh. Divisi Data belum jawab. Pak Reza nggak angkat telepon.”
“Kalau kita bilang nggak bocor, terus ternyata bocor...”
“Kita tamat.”
“Kalau kita bilang bocor, terus ternyata nggak...”
“Kita juga tamat, karena saham turun dan pelanggan panik tanpa alasan.”
Ruangan hening. Telepon di meja Bu Sinta berdering. Ia menatapnya seperti menatap bom.
Aku tidak tahu kenapa aku melakukannya. Mungkin karena panik. Mungkin karena aku teringat cerita Monica soal klausul tujuh, soal laki-laki yang membaca kontrak dua ratus halaman dalam lima belas menit. Mungkin karena aku penasaran, dan bagian diriku yang masih menjalankan tugas dari Tante Ratna ingin melihat seberapa jauh orang itu bisa diandalkan.
Aku mengambil laptop dan berlari ke tangga darurat.
Lantai tujuh dinginnya keterlaluan. Aku masuk dengan napas terengah, blus tipis, dan langsung menyesal tidak membawa jaket.
Aris sedang duduk di mejanya dengan kemeja biru dan jaket abu-abu di atasnya, termos di samping keyboard, gambar krayon bertuliskan MAKASI OM TERMOS di sudut monitor. Ia mengangkat wajah waktu melihatku berdiri di depan mejanya, berantakan.
“Mbak Renata?”
“Kamu udah lihat?” Aku memutar laptopku, memperlihatkan tangkapan layar yang sedang viral. “Ini beneran?”
Aris menatap layar itu. Wajahnya tidak berubah, tapi matanya bergerak cepat, membaca setiap kolom, setiap baris.
“Belum tahu, Mbak. Bentar.”
“Tim IT bilang butuh dua puluh empat jam.”
“Nggak perlu selama itu, Mbak. Duduk dulu.”
Ia menarik kursi dari meja sebelah, meja seorang perempuan berambut pendek yang sedang menatapku dengan mata lebar, dan menyuruhku duduk. Lalu ia membuka laptopnya sendiri dan mulai mengetik.
Aku tidak mengerti setengah dari apa yang ia lakukan selama empat puluh menit berikutnya. Aku hanya melihat layar-layar yang terbuka dan tertutup, tabel-tabel yang muncul dan menghilang, deretan kode yang bergerak terlalu cepat untuk kubaca.
Tapi aku mengerti cara ia bekerja.
Tenang. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak pernah berhenti. Ia tidak menggerutu. Ia tidak mengeluh. Sesekali ia bergumam pelan pada dirinya sendiri, “Oke,” atau “Hm,” atau “Nah.” Perempuan berambut pendek di meja sebelah, ternyata namanya Dini, membawakanku jaket cadangan dari loker tanpa diminta. Seorang bapak berkupluk rajut menyalakan pemanas kecil di bawah meja dan mengarahkannya ke kakiku.
Di menit keempat puluh tiga, Aris memutar laptopnya ke arahku.
“Palsu, Mbak,” katanya. “Datanya bukan punya kita.”
Aku menatap layar. Ada dua tabel berdampingan.
“Ini struktur data member asli kita,” kata Aris, menunjuk tabel kiri. “Nomor anggota kita dua belas digit, dimulai dengan kode wilayah. Di tangkapan layar itu, nomornya sepuluh digit. Format tanggal lahir kita tahun-bulan-tanggal. Di sana, tanggal-bulan-tahun. Dan riwayat belanja di sana pakai kategori yang nggak pernah ada di sistem kita. Elektronik rumah tangga. Kita nggak jual elektronik.”
“Terus datanya dari mana?”
Aris membuka tab lain. “Saya cocokin sampel dua puluh nama di tangkapan layar itu dengan data kebocoran publik yang pernah ada. Delapan belas dari dua puluh nama itu cocok dengan kebocoran data toko elektronik online tahun dua ribu dua puluh tiga. Formatnya sama persis. Seseorang ambil data lama dari kebocoran orang lain, ganti judulnya, terus pasang nama kita.”
“Dua puluh nama itu kamu cek satu-satu?”
“Pakai skrip, Mbak. Lima menit.”
“Dan akunnya?”
“Akun yang pertama upload dibuat tiga hari lalu. Akun-akun yang pertama kali bagikan, empat puluh persennya juga akun baru. Kelihatannya terkoordinasi.” Ia menutup tab itu. “Saya udah bikin ringkasan satu halaman. Bahasanya sederhana. Mbak bisa pakai buat dasar pernyataan resmi. Kalau ada wartawan yang tanya detail teknis, Mbak bisa arahin ke tim IT, mereka bisa verifikasi pakai cara yang sama.”
Ia mengirim file itu ke emailku. Laptopku berbunyi.
Aku menatapnya. Lalu menatap ringkasan satu halaman itu. Rapi, jelas, bahasanya bisa dimengerti bahkan oleh orang yang tidak tahu apa itu basis data.
“Aris,” kataku. “Kamu baru nyelametin perusahaan ini.”
“Belum, Mbak. Pernyataannya belum keluar.”
“Kamu ngerti maksudku.”
Ia tersenyum kecil, dengan lesung pipi di sebelah kiri yang Monica ceritakan padaku dengan suara seperti orang yang baru menemukan harta karun.
“Satu hal, Mbak,” katanya. “Di pernyataan nanti, tolong tulis ‘tim internal’ aja. Jangan nama saya.”
“Kenapa?”
“Nggak perlu, Mbak. Yang penting orang tahu datanya aman.”
Aku menatapnya lama.
Tante Ratna, pikirku. Tante, kamu harus lihat ini.
Pernyataan resmi Wiratama Group keluar jam sepuluh kurang tujuh menit. Jam sebelas, beberapa akun teknologi besar membagikan analisis independen yang sampai pada kesimpulan yang sama. Jam satu siang, tagar itu sudah hilang dari daftar trending. Jam dua, Bu Sinta memelukku di tengah ruangan Corporate Communications dan berkata aku penyelamat divisi.
Aku tidak bilang siapa penyelamat sebenarnya. Aris memintaku untuk tidak bilang.
Aku tidak makan siang. Terlalu sibuk menjawab telepon wartawan. Jam tiga sore, waktu kepalaku mulai pusing dan perutku mulai berbunyi, seorang kurir dari kedai kopi di lantai dasar datang ke mejaku membawa satu gelas latte hangat dan satu roti isi ayam.
“Dari siapa, Mas?”
Kurir itu membaca catatan di struk. “Katanya dari lantai tujuh, Mbak. Pesannya: ‘Jangan lupa makan.’”
Aku menatap gelas latte itu.
Di gelasnya, barista menulis dengan spidol hitam: Semangat, Mbak Renata.
Bukan nama pengirim. Hanya itu.
Aku lembur sampai jam delapan malam, menyusun laporan kronologi krisis untuk direksi. Lantai sebelas sudah kosong. Lampu-lampu di sisi lain ruangan sudah dimatikan otomatis.
“Kamu masih di sini?”
Aku menoleh. Lucky berdiri di ambang pintu kaca divisi, dengan jas tersampir di lengan dan dasi yang sudah dilonggarkan.
“Pak Lucky.”
“Lucky aja. Udah malem.” Ia berjalan masuk tanpa menunggu diundang. “Laporan krisis?”
“Iya.”
“Bu Sinta bilang kamu yang nemu bukti datanya palsu.”
Aku tidak menjawab. Lucky berdiri di samping mejaku, menatapku dengan mata yang tenang dan tajam. Mata yang aku tahu sering membuat orang di rapat salah tingkah.
“Aris,” katanya. Bukan pertanyaan.
Aku menghela napas. “Dia minta jangan disebut.”
Lucky tertawa pelan. Bukan tertawa mengejek. Tertawa orang yang sudah terlalu sering mendengar kalimat itu.
“Tentu aja dia minta begitu.” Ia menarik kursi kosong di sebelahku dan duduk. “Dia juga yang kirim kopi ke kamu, kan?”
“Kamu tahu dari mana?”
“Karena tiap kali gue lembur, ada kopi dateng ke meja gue. Nggak ada nama pengirim. Empat tahun, sejak hari pertama gue masuk kantor.” Lucky menatap gelas latte kosong di mejaku. “Dia pikir gue nggak tahu.”
Aku menatap gelas itu juga. Lalu menatap Lucky.
“Kamu sayang banget sama dia, ya,” kataku pelan.
Lucky diam. Ia menatap jendela gelap di seberang ruangan, tempat lampu-lampu kota Jakarta berkelip seperti bintang yang jatuh terlalu rendah.
“Kalau suatu hari ada orang yang nyakitin dia,” katanya akhirnya, pelan sekali, “gue nggak tahu gue bakal jadi orang kayak gimana.”
Udara di lantai sebelas mendadak terasa lebih dingin dari lantai tujuh.
Aku memeluk diriku sendiri. Lucky menyadarinya. Tanpa bicara, ia mengambil jas dari lengannya dan menyampirkannya di bahuku.
“AC di sini lebih jahat dari kelihatannya,” katanya.
“Makasih.”
“Ayo. Gue anter pulang. Udah malem.”
“Nggak usah, aku bisa...”
“Renata.” Ia sudah berdiri, mengambil tasku dari kursi, dan menunggu di ambang pintu. “Kamu baru aja seharian ngadepin wartawan. Biarin satu orang di gedung ini ngelakuin sesuatu buat kamu tanpa harus ditulis ‘tim internal’.”
Aku tertawa. Tidak bisa kutahan.
Di mobilnya, sepanjang perjalanan ke apartemenku, Lucky bercerita soal Aris dan Evan waktu SMA. Soal Evan yang pernah memanjat pagar sekolah dan celananya robek, dan Aris yang menjahitnya di toilet sekolah dengan kotak jahit dari ranselnya. Soal Aris yang mengajari Lucky matematika setiap malam sebelum ujian nasional lewat telepon, karena Lucky tidak mau ketahuan ibunya kalau ia butuh les.
Ia tertawa waktu bercerita. Tawa yang tidak pernah kulihat di kantor.
Aku tertawa bersamanya. Dan setiap kali aku tertawa, rasa bersalahku tumbuh satu inci.
Jam sebelas malam, aku duduk di kasur apartemenku dengan jas Lucky masih tersampir di kursi meja rias. Aku lupa mengembalikannya. Atau mungkin aku tidak lupa.
Aku membuka ruang obrolan dengan Tante Ratna.
Jari-jariku melayang di atas layar lama sekali.
Lalu aku mengetik.
Tante, Aris tidak minta apa-apa. Hari ini dia bantu perusahaan menangani krisis data, tapi minta namanya tidak disebut. Malah dia yang traktir kopi.
Kirim.
Dua centang. Biru. Tante Ratna masih bangun. Ia memang selalu tidur larut.
Balasannya datang tiga menit kemudian.
Teruskan, Sayang.
Lalu pesan kedua.
Orang seperti itu sabar. Yang paling sabar biasanya yang paling pintar menunggu.
Aku menatap pesan itu. Lalu membacanya sekali lagi.
Aku tidak tahu harus merasakan apa. Sebagian diriku ingin mengetik balasan panjang, menjelaskan semua yang kulihat hari ini, semua yang Lucky ceritakan di mobil. Sebagian lagi tahu bahwa Tante Ratna tidak akan membaca apa pun yang tidak ingin ia percaya.
Ponselku bergetar lagi. Kali ini bukan Tante Ratna.
Monica.
Ren, kamu udah tidur? Aku mau tanya. Besok aku mau bawain bekal buat Aris. Masak sendiri. Kira-kira dia suka apa? Jangan ketawa.
Lalu pesan kedua, beberapa detik kemudian.
Oke, kamu boleh ketawa. Tapi bantuin.
Aku menatap dua ruang obrolan itu bergantian. Tante Ratna di atas. Monica di bawah.
Aku menutup ruang obrolan Tante Ratna dan membuka milik Monica.
Tempe goreng, tulisku. Kata Lucky, dia paling suka tempe goreng buatan ibunya.
Tempe goreng doang?
Percaya sama aku.
Oke. Makasih, Ren. Kamu sahabat terbaik.
Aku meletakkan ponsel di samping bantal dan berbaring menatap langit-langit, dengan jas Lucky di kursi dan rasa teh melati yang terlalu manis masih tertinggal di lidahku dari kemarin.
Sahabat terbaik.
Aku memejamkan mata dan berharap, untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, bahwa Tante Ratna sedang sibuk dan lupa mengirim pesan besok pagi.
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama reading
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan