Chapter Thirty
Empat Puluh Delapan Amplop
POV: Lucky
Rumah di Menteng sunyi sejak Sabtu malam.
Minggu lewat tanpa suara. Senin juga. Aku tidak masuk kantor dua hari itu. Selasa pagi, tidak ada yang bicara saat sarapan. Mama tidak keluar dari kamarnya sampai jam sebelas. Papa duduk di ruang kerjanya dengan pintu tertutup. Para asisten rumah tangga berjalan berjinjit di lorong, seolah lantai marmer itu bisa retak kalau diinjak terlalu keras.
Aku duduk di tepi kolam renang di halaman belakang, menatap air yang biru dan tenang, dan tidak memikirkan apa-apa.
Itu bohong. Aku memikirkan semuanya.
Aris di tengah ballroom, kepala menunduk. Maaf, Bu. Aris berjalan keluar lewat pintu darurat, ke arah yang salah.
Renata di meja Corporate Communications, mengangguk pelan. Dari awal.
Mama, duduk di kursinya setelah aku merebut mikrofon dari tangannya, dengan tangan yang gemetar di atas pangkuan.
Aku menatap air kolam renang. Aku belajar berenang di kolam ini waktu umur lima tahun. Papa yang mengajariku. Aku pernah berpikir aku perenang yang baik.
Lalu malam itu di curug, arus menarikku seperti tangan raksasa, dan aku tahu aku tidak pernah benar-benar bisa berenang. Aku hanya bisa berenang di air yang tenang.
Aris yang bisa berenang di arus.
Dan sekarang ia tidak mau menyentuh air sama sekali.
Ponselku bergetar jam dua siang. Evan.
Luck. Lo udah denger?
Denger apa?
Aris resign. Kirim surat kemarin pagi. Bu Ambar tahan seminggu. Sori gue baru sanggup ngabarin lo sekarang.
Aku menatap layar.
Dia bilang ada kerjaan di Singapura. Kontrak setahun. Dari klien yang udah lama kerja sama dia.
Klien apa??
Gue juga nanya gitu. Dia nggak jawab.
Dan dia nitip kotak bekal Monica ke gue. Buat dibalikin. Pakai kalimat itu, Luck. “Titip buat Evan, ya.”
Aku meletakkan ponsel di samping kolam renang dan menatap air lagi.
Titip buat Evan, ya.
Sebelas tahun. Kalimat yang sama. Dulu untuk surat-surat merah jambu yang bukan untuknya. Sekarang untuk satu-satunya hal yang benar-benar untuknya.
Ponsel bergetar lagi.
Evan: Luck. Gue nggak tahu harus ngapain.
Evan: Gue pertama kali dalam hidup gue nggak tahu harus ngapain.
Aku menatap layar itu. Lalu menatap jendela ruang kerja Papa di lantai dua, yang tirainya tertutup.
Gue tahu harus ngapain, tulisku. Kasih gue satu jam.
Pintu ruang kerja Papa terbuka sebelum aku sempat mengetuk.
Papa berdiri di ambang pintu. Ia masih memakai kemeja batik dari semalam, sudah kusut, lengan digulung. Ia terlihat lebih tua dari kemarin. Mata merah. Rambut putih di pelipis terlihat lebih banyak dari biasanya.
“Papa tahu kamu mau ke sini,” katanya. “Panggil Mama kamu.”
“Pa...”
“Panggil Mama kamu, Lucky. Ada yang harus Papa tunjukkin ke kalian berdua.”
Ruang kerja Papa berbau kayu jati dan tembakau pipa, walaupun Papa sudah berhenti merokok pipa sepuluh tahun lalu. Rak buku dari lantai sampai langit-langit. Meja kerja besar dari kayu jati tua yang sudah dipakai kakekku sebelum Papa. Dua kursi kulit cokelat di depan meja itu.
Mama duduk di salah satu kursi kulit. Ia memakai daster sutra biru tua, tanpa sanggul, rambutnya diikat sederhana di tengkuk. Tanpa riasan. Tanpa kacamata berbingkai emas. Aku jarang sekali melihat Mama seperti ini. Ia terlihat lebih kecil. Lebih tua. Lebih rapuh.
Ia tidak menatapku waktu aku masuk. Ia menatap lantai.
Aku duduk di kursi kulit yang lain.
Papa tidak duduk. Ia berjalan ke lemari kayu di sudut ruangan, lemari tua dengan kunci kuningan yang selalu terkunci. Aku tidak pernah tahu isinya. Waktu kecil aku pernah bertanya, dan Papa bilang isinya dokumen-dokumen yang penting buat Papa.
Papa membuka kunci lemari itu dengan kunci kecil yang ia ambil dari saku kemeja. Ia membuka pintunya. Lalu mengeluarkan sebuah kotak.
Kotak sepatu.
Kotak sepatu karton biasa, berwarna cokelat, dengan logo merek sepatu lokal yang sudah pudar. Kotak itu terlihat sangat tidak cocok di ruang kerja yang penuh kayu jati dan buku-buku bersampul kulit.
Papa meletakkan kotak itu di atas meja kerja, di depan Mama.
“Buka,” katanya.
Mama menatap kotak itu. Lalu menatap Papa.
“Apa ini, Hendra?”
“Buka, Ratna.”
Mama membuka tutupnya.
Di dalam kotak sepatu itu, berjajar rapi, berdiri tegak seperti kartu dalam katalog perpustakaan, ada amplop-amplop cokelat kecil. Banyak. Masing-masing seukuran telapak tangan. Masing-masing sudah dibuka di bagian atas dengan rapi, dengan pisau surat, bukan dirobek.
Di bagian depan setiap amplop, ada tulisan tangan. Tulisan tangan yang kecil, rapi, sedikit miring ke kanan.
Aku mengenali tulisan tangan itu. Aku sudah melihatnya sejak SMA. Di buku catatan matematika yang dipinjamkan padaku setiap malam sebelum ujian. Di kartu ulang tahun yang setiap tahun terselip di bawah pintu kamarku. Di catatan kaki laporan-laporan yang dibuat untuk Pak Reza.
Mama mengambil amplop pertama. Membacanya. Tangannya mulai gemetar.
Cicilan ke-1 dari 48. Untuk Bapak Hendra Wiratama. Terima kasih sudah menyelamatkan bahu saya. —Aris
Mama meletakkan amplop itu di meja. Mengambil amplop kedua.
Cicilan ke-2 dari 48. Ibu saya sehat, Pak. Bahu saya sudah bisa diangkat sampai setinggi bahu. Fisioterapisnya bilang ini sudah maksimal. Tidak apa-apa. Saya masih bisa kerja. —Aris
Amplop ketiga. Keempat. Kelima.
Mama membacanya satu per satu. Pelan. Tangannya semakin gemetar setiap kali ia mengambil amplop baru.
Aku berdiri dari kursiku dan berjalan ke samping meja. Aku membaca dari atas bahu Mama.
Cicilan ke-12 dari 48. Lucky pulang dari London minggu depan, Pak. Saya senang. Mohon jangan beri tahu dia soal ini. Nanti dia merasa tidak enak.
Cicilan ke-19 dari 48. Maaf bulan ini telat tiga hari, Pak. Mesin jahit ibu saya rusak, harus diperbaiki dulu. Bulan depan saya bayar tepat waktu.
Cicilan ke-24 dari 48. Setengah jalan, Pak. Terima kasih sudah sabar.
Cicilan ke-31 dari 48. Evan dipromosikan jadi supervisor hari ini, Pak. Kami makan martabak. Lucky yang bayar. Saya tidak bisa menolak, jadi saya tambah cicilan bulan ini sebesar harga martabaknya.
Aku tertawa. Tawa yang pecah di tengah, berubah jadi sesuatu yang lain.
Martabak itu. Aku ingat. Martabak telor spesial, tiga telor, di depan gang rumah Aris. Aku memaksa membayar. Aris diam saja. Aku pikir ia akhirnya mau menerima.
Ternyata ia membayar balik. Ke Papa. Dengan cicilan.
Mama terus membaca. Amplop demi amplop. Air mata mulai jatuh dari matanya, mengenai amplop-amplop cokelat itu, meninggalkan noda-noda kecil berbentuk bulat.
Lalu ia sampai di amplop terakhir.
Amplop keempat puluh delapan.
Ia mengambilnya dengan tangan yang gemetar hebat. Membacanya. Lalu berhenti bernapas.
Aku membaca dari atas bahunya.
Cicilan ke-48 dari 48. Lunas.
Pak Hendra, terima kasih sudah menyelamatkan bahu saya. Terima kasih sudah tidak pernah menolak cicilan saya walaupun saya tahu Bapak tidak butuh uangnya. Terima kasih sudah menyimpan rahasia ini dari Lucky.
Satu permintaan terakhir, Pak. Mohon jangan beri tahu Bu Ratna. Bu Ratna tidak perlu merasa berutang apa-apa kepada saya, dan tidak perlu merasa tidak enak karena pernah membayar. Beliau ibu yang baik, Pak. Beliau hanya ingin menjaga Lucky.
Saya juga.
Saya akan selalu menjaga Lucky, Pak. Sampai kapan pun. Bukan karena utang. Karena dia sahabat saya.
—Aris
Mama menutup mulutnya dengan tangan.
Amplop keempat puluh delapan jatuh dari jarinya. Melayang. Mendarat di atas meja kayu jati, di sebelah kotak sepatu.
Mama mulai menangis.
Bukan menangis seperti di pemakaman, dengan kacamata hitam dan sapu tangan berenda. Bukan menangis seperti di sinetron, dengan suara tertahan dan air mata yang jatuh dengan anggun. Mama menangis seperti anak kecil. Bahunya berguncang. Napasnya tersengal. Suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar seperti sesuatu yang patah.
Papa berjalan ke samping kursinya. Ia berlutut di lantai, di sebelah Mama, dan menggenggam tangannya.
“Kenapa,” isak Mama. “Kenapa kamu nggak bilang, Hendra? Kenapa kamu nggak bilang dari dulu?”
“Karena dia minta, Ratna.” Suara Papa serak. “Kamu baca sendiri. Dia minta Papa jangan bilang. Supaya kamu nggak malu. Supaya kamu nggak ngerasa berutang.”
“Tapi Mama bilang dia benalu,” bisik Mama. “Mama bilang dia benalu di depan delapan ratus orang. Di depan anak Mama sendiri. Mama nawarin dia uang lima ratus juta buat pergi...”
Aku membeku.
“Lima ratus juta?” kataku.
Mama menoleh ke arahku. Wajahnya basah, merah, hancur.
“Kamis,” bisiknya. “Di Hotel Mandarin. Mama kasih dia cek. Lima ratus juta. Supaya dia resign dan pergi dari hidup kamu. Dan dari hidup Monica.”
Aku menatap ibuku. Wanita yang membesarkanku. Wanita yang selalu merapikan dasiku.
“Dia tolak,” kata Mama. Suaranya pecah. “Dia lipat ceknya rapi-rapi, terus dorong balik ke Mama. Pakai dua jari. Persis kayak Mama dorong ke dia.” Ia tertawa, tawa yang terdengar seperti tangis. “Terus dia bayar makan siang kita. Mama baru tahu waktu mau bayar di kasir. Kasirnya bilang udah dibayar. Mama tanya atas nama siapa. Kasirnya bilang...”
Mama tidak bisa melanjutkan.
“Bilang apa, Ma?”
“Tukang pos,” bisik Mama. “Kasirnya bilang, dibayar sama tukang pos.”
Ruang kerja Papa sunyi.
Di luar jendela, aku bisa mendengar suara burung di pohon mangga di halaman depan. Suara mesin pemotong rumput dari rumah tetangga. Suara Jakarta di hari Selasa sore, yang tidak peduli bahwa di ruangan ini, sebuah keluarga sedang hancur pelan-pelan.
“Uang delapan juta itu,” kata Papa pelan. “Buat anak Pak Udin. Dan laptopnya. Papa udah cek, Ratna. Papa minta tim keuangan cek semua rekening Lucky. Rekening pribadi, kartu kredit, semuanya. Lima tahun terakhir. Nggak ada satu rupiah pun yang ditransfer ke Aris. Nggak ada.”
“Terus uangnya dari mana?” bisik Mama.
“Papa nggak tahu.” Papa menggeleng. “Dan Papa nggak perlu tahu. Yang Papa tahu, itu bukan uang kita. Itu uang dia sendiri. Hasil kerja dia sendiri.”
Mama menatap kotak sepatu di atas meja. Empat puluh delapan amplop cokelat kecil, berdiri berjajar rapi.
“Mama yang jahat,” bisiknya. “Bukan dia. Mama yang jahat.”
“Ma...”
“Mama pakai Rena.” Mama menatapku. “Mama pakai anak sahabat Mama sendiri. Anak yang Mama bayarin kuliahnya. Mama tahu dia nggak bakal nolak. Mama tahu dia ngerasa berutang. Dan Mama pakai itu.”
Ia tertawa lagi. Tawa yang sangat, sangat pahit.
“Mama bilang ke Rena, orang yang nempel di keluarga kaya itu bikin orang ngerasa berutang, terus orang itu ngasih sendiri. Mama bilang itu soal Aris.” Mama menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Ternyata itu soal Mama sendiri. Mama yang bikin Rena ngerasa berutang. Mama yang manfaatin itu.”
Aku berdiri di sebelah meja kerja Papa, menatap ibuku menangis, dan tidak tahu harus merasakan apa.
Marah. Aku marah. Sangat marah. Pada Mama, yang menghina sahabatku di depan delapan ratus orang. Yang menawarinya uang untuk pergi. Yang menggunakan Renata.
Tapi aku juga melihat ibuku. Wanita yang selalu merapikan dasiku walaupun dasiku sudah rapi. Wanita yang menemaniku semalaman di rumah sakit setelah malam di curug, tidak tidur, memegang tanganku sampai pagi. Wanita yang ketakutan. Yang selalu ketakutan. Karena kakekku, ayahnya, dulu pernah ditipu habis-habisan oleh sahabatnya sendiri, dan Mama tumbuh besar melihat ayahnya kehilangan segalanya.
Mama bukan jahat. Mama takut.
Dan rasa takut itu membuatnya melukai orang paling baik yang pernah kukenal.
Aku berjalan ke kursi Mama. Berlutut di sebelahnya, di sisi yang lain, berhadapan dengan Papa.
“Ma,” kataku pelan.
Mama menurunkan tangannya dari wajah. Menatapku.
“Mama harus minta maaf ke dia,” kataku. “Langsung. Di depan mukanya. Bukan lewat sekretaris. Bukan lewat cek.”
Mama mengangguk. Pelan. Berkali-kali.
“Dan ke Renata,” kataku. Suaraku pecah di nama itu. “Mama juga harus minta maaf ke Renata.”
Mama menatapku lama.
“Kamu sayang dia,” bisiknya. “Rena.”
Aku tidak menjawab.
“Mama rusak itu juga,” kata Mama. Air matanya jatuh lagi. “Mama rusak semuanya.”
Renata ada di depan gerbang rumah jam lima sore.
Satpam rumah menelepon ke dalam. Ada Mbak Renata, Pak Lucky. Katanya mau ngembaliin sesuatu.
Aku keluar. Berjalan menyusuri jalan setapak dari pintu depan ke gerbang, di bawah pohon mangga yang sudah ditanam kakekku sebelum aku lahir.
Renata berdiri di luar gerbang besi hitam. Kaus putih. Celana jins. Rambut diikat asal. Wajahnya pucat dan matanya bengkak, seperti orang yang sudah menangis selama berhari-hari.
Di tangannya, terlipat rapi, jas hitamku. Jas yang kusampirkan di bahunya malam itu di lantai sebelas.
Satpam membukakan gerbang. Aku tidak keluar. Renata tidak masuk. Kami berdiri di dua sisi gerbang yang terbuka, dengan jarak kira-kira dua meter di antara kami.
“Lucky,” katanya.
“Ren.”
Ia menyodorkan jas itu. Aku tidak menerimanya.
“Aku udah bilang,” kataku pelan. “Simpen aja.”
“Aku nggak bisa simpen ini.” Suaranya bergetar. “Aku nggak pantas simpen ini.”
Aku menatapnya. Perempuan yang membungkus kado untuk Bu Sumi dengan air mata di kertas kadonya. Perempuan yang memilih benang Jepang dua puluh empat warna. Perempuan yang mengangguk di warung soto di depan dua puluh tiga saksi.
Perempuan yang mengirim laporan ke ibuku setiap Minggu malam.
“Mama baru aja baca empat puluh delapan amplop,” kataku. “Dari Aris. Cicilan buat Papa.”
Renata menatapku.
“Kamu udah tahu soal itu,” kataku. “Gue yang cerita. Di restoran Jepang.”
“Iya,” bisiknya.
“Dan kamu nggak pernah bilang ke Mama.”
“Nggak pernah.”
“Kenapa?”
Renata menunduk. Jas hitam di tangannya terlipat rapi, ujung-ujungnya disejajarkan dengan sangat hati-hati.
“Karena itu cerita kamu,” katanya pelan. “Kamu bilang itu bukan cerita kamu buat diceritain. Kamu bilang Pak Hendra minta kamu diem. Jadi aku juga diem.”
Ia mengangkat wajah.
“Itu satu-satunya hal yang aku lakuin dengan bener, Lucky. Dari semua ini. Aku jaga cerita kamu.”
Aku menatapnya lama.
Aku tidak tahu harus bilang apa. Bagian dari diriku ingin melangkah melewati gerbang itu dan memeluknya. Bagian yang lain ingin berbalik dan menutup gerbang di depan wajahnya.
Aku tidak melakukan keduanya.
“Gue belum bisa, Ren,” kataku akhirnya. Suaraku serak. “Gue belum bisa maafin. Belum.”
Renata mengangguk. Air mata jatuh dari matanya.
“Aku tahu,” bisiknya.
“Tapi...” Aku menarik napas. “Simpen jasnya. Gue nggak mau jasnya balik.”
Renata menatapku. Bibirnya bergetar.
“Kenapa?”
“Karena kalau jasnya balik, berarti selesai,” kataku. “Dan gue belum mau selesai.”
Renata menatap jas di tangannya. Lalu, pelan-pelan, ia memeluknya di dada. Seperti Bu Sumi memeluk kotak benang. Seperti Evan memeluk kotak bekal biru.
“Oke,” bisiknya.
Ia berbalik dan berjalan menjauh di trotoar, di bawah pohon-pohon tua di sepanjang jalan Menteng. Langkahnya pelan. Ia tidak menoleh.
Aku berdiri di gerbang sampai ia menghilang di tikungan.
Ponselku bergetar jam enam sore. Evan.
Bukan pesan. Telepon.
“Luck.” Suaranya aneh. Bergetar. Seperti orang yang baru saja mendengar sesuatu yang sangat penting dan sangat menakutkan. “Lo di mana?”
“Di rumah. Kenapa?”
“Bu Sumi telepon gue barusan.”
Aku berhenti berjalan di jalan setapak.
“Bu Sumi?”
“Dia minta kita berdua ke rumahnya. Lo sama gue. Sekarang.” Evan diam sebentar. Aku bisa mendengar napasnya, cepat dan tidak teratur. “Dia bilang ada sesuatu yang harus kita lihat. Sesuatu yang Aris sembunyiin dari kita selama sebelas tahun.”
“Sesuatu apa?”
“Gue nggak tahu, Luck.” Suara Evan pecah. “Tapi Bu Sumi nangis waktu nelpon. Dan dia bilang, dan gue kutip persis, ‘Kalian berdua harus tahu harga nyawa kalian. Ibu udah nggak kuat nyimpen sendirian’.”
Aku berdiri di jalan setapak di bawah pohon mangga, dengan ponsel di telinga.
Harga nyawa kalian.
Aku teringat atap parkir, empat hari lalu. Aris yang berhenti di tengah kalimat. Itu cerita aku kehilangan...
Kehilangan apa?
Nggak apa-apa. Kehilangan bahu. Itu aja.
Aku tahu waktu itu ia berbohong. Aku tahu dari matanya. Aku membaca laporan keuangan setiap hari, dan aku tahu bagaimana bentuk angka yang tidak cocok.
“Gue jemput lo,” kataku. “Lima belas menit.”
Aku menutup telepon dan berlari ke garasi.
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop reading
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan