Chapter Eight
Kemeja Biru Itu Bahaya
POV: Monica
Ternyata Aris punya tiga kemeja kerja.
Aku tahu ini bukan karena aku menguntitnya. Aku tahu karena aku perhatian. Ada bedanya, dan aku bisa menjelaskan bedanya di depan hakim kalau perlu.
Kemeja putih pertama, kancingnya bening, sedikit kekecilan di bagian bahu. Kemeja putih kedua, kancingnya putih susu, lebih longgar, ada noda samar di ujung lengan kiri yang tidak hilang walaupun jelas sudah disikat berkali-kali. Dan kemeja ketiga.
Biru.
Biru muda, bukan biru langit seperti kemeja Evan yang mencolok, tapi biru yang lebih lembut, seperti warna langit jam enam pagi sebelum matahari benar-benar naik. Kainnya katun tipis yang sudah melemas karena sering dicuci. Di saku dadanya ada jahitan tangan kecil, rapi sekali, bekas tambalan yang hampir tidak kelihatan.
Ia memakai kemeja biru setiap Kamis. Atau setiap kali dua kemeja putihnya sedang dijemur.
Hari Senin itu, hujan turun tiga hari berturut-turut sebelumnya.
Ia memakai kemeja biru.
Rapat renegosiasi kontrak dengan PT Sinergi Datacloud Nusantara diadakan di ruang rapat besar lantai dua puluh. Ini rapat penting. Direktur hukum hadir. Lucky hadir sebagai perwakilan direksi. Pak Reza hadir dengan slide berjudul Temuan Kritis Divisi Data, yang isinya, aku sudah membacanya kemarin, adalah kalimat-kalimat yang Aris ucapkan padaku di lantai tujuh, ditulis ulang dengan kata-kata yang lebih panjang.
Aris juga hadir. Bukan karena diundang sebagai pembicara. Ia hadir karena Lucky mengirim email ke Pak Reza pagi tadi, dengan tembusan ke direktur hukum, yang isinya hanya satu kalimat: Mohon Aris dari tim Anda turut hadir untuk menjawab pertanyaan teknis.
Pak Reza membacanya dengan wajah seperti orang yang baru menelan biji salak.
Aris duduk di kursi paling ujung barisan Divisi Data, dekat jendela, dengan laptop terbuka di depannya. Kemeja biru. Lengan digulung sampai bawah siku, satu lipatan. Rapi. Pergelangan tangannya kelihatan, dengan jam tangan murah bertali kulit cokelat yang talinya sudah retak di satu sisi.
Aku duduk di seberang, di barisan Legal, tepat di sebelah Lucky.
Rapat dimulai. Perwakilan Sinergi Datacloud, seorang laki-laki berumur empat puluhan dengan jas mengilap dan senyum yang terlalu banyak giginya, membuka presentasi dengan menjelaskan betapa mereka menghargai kemitraan ini.
Aku tidak mendengarkan.
Aku sedang menatap lengan Aris.
Lebih tepatnya, aku sedang menatap lengan bawah Aris yang terlihat di bawah lipatan kemeja biru itu. Urat di punggung tangannya. Cara jari-jarinya bergerak di atas keyboard, cepat dan tenang, seperti sedang bermain piano yang tidak bersuara. Bekas luka kecil di pergelangan tangan kiri, bentuknya seperti bulan sabit.
Aku menyadari aku sudah menatapnya selama empat menit penuh ketika Lucky berdeham pelan di sebelahku.
Aku mengalihkan pandangan ke slide. Slide itu berisi grafik pertumbuhan pelanggan Sinergi Datacloud dalam lima tahun terakhir. Garisnya naik terus. Aku tidak peduli.
Aku mengambil ponsel dari pangkuan.
Kemeja biru itu bikin saya nggak fokus.
Kirim.
Di seberang meja, ponsel Aris bergetar di samping laptopnya. Ia meliriknya. Membaca. Wajahnya tidak berubah, tapi jarinya berhenti mengetik.
Dari tadi saya nggak lihat slide. Saya lihat lengan kamu.
Kirim.
Aris membaca pesan kedua. Telinganya mulai memerah dari ujung. Ia menatap layar ponselnya seperti menatap soal ujian yang tidak pernah dipelajari.
Gulung lengannya lagi. Satu lipatan aja.
Kirim.
Aris membaca pesan ketiga.
Lalu, dengan gerakan yang sangat lambat dan sangat hati-hati, seperti orang yang sedang menjinakkan bom, ia menurunkan lipatan lengan kemejanya. Kiri dulu, lalu kanan. Sampai menutup pergelangan tangan. Lalu ia mengancingkan manset kirinya. Tangan kanannya kesulitan mengancingkan manset kanan, jadi ia meninggalkannya terbuka.
Ia mengangkat wajah dan menatapku dari seberang meja. Wajah orang yang yakin baru saja melakukan hal yang benar. Lalu ia mengangguk sedikit, sopan, seolah berkata: Sudah, Mbak. Maaf mengganggu.
Aku menggigit ujung pulpenku.
Lengan kemeja biru itu sekarang menutup sampai pergelangan. Manset kanannya terbuka, berayun sedikit setiap kali ia bergerak. Dan entah bagaimana, itu jauh lebih buruk. Itu terlihat seperti laki-laki yang baru selesai berpakaian dengan terburu-buru, seperti laki-laki di pagi hari yang belum sempat merapikan diri, seperti...
Nggak nolong, Aris.
Kirim.
Malah lebih parah.
Kirim.
Aris membaca. Ia menatap layar ponselnya, lalu menatap lengan kemejanya, lalu menatapku dengan wajah orang yang benar-benar tersesat. Ia mengetik sesuatu. Menghapusnya. Mengetik lagi.
Balasan masuk ke ponselku.
Maaf, Mbak. Kemeja putih saya lagi dijemur. Besok saya pakai putih.
Aku menutup mulut dengan tangan supaya tidak tertawa di tengah presentasi Sinergi Datacloud.
Lalu aku menyadari Lucky sedang menatap layar ponselku.
Tidak diam-diam. Terang-terangan. Kepalanya miring sedikit ke arahku, kacamata bacanya turun ke ujung hidung, dan matanya membaca seluruh percakapan dari atas ke bawah dengan kecepatan dan ketelitian seorang direktur yang terbiasa membaca laporan audit.
Aku membalik ponselku tengkurap di pangkuan.
Lucky menatapku. Aku menatapnya.
Ia tidak bilang apa-apa. Ia hanya membetulkan kacamatanya, kembali menatap slide, dan menulis sesuatu di buku catatannya.
Aku melirik. Di halaman yang terbuka, dengan tulisan tangan yang sangat rapi:
Kemeja putih dijemur. Ya Tuhan.
Rapat berlanjut ke sesi tanya jawab.
Perwakilan Sinergi Datacloud mencoba menjelaskan bahwa biaya ekspor data per rekam itu adalah “standar industri”. Direktur hukum menanyakan dasar perhitungannya. Perwakilan itu mulai menjelaskan dengan istilah-istilah teknis yang panjang dan berbelit, kalimat demi kalimat, sampai separuh ruangan terlihat mengantuk.
Pak Reza mencoba menjawab balik. Ia membuka slide-nya, menunjuk angka lima puluh dua miliar, lalu berkata dengan suara percaya diri bahwa perhitungan Divisi Data menunjukkan angka itu tidak wajar.
“Dasar perhitungan Bapak apa?” tanya perwakilan Sinergi, tersenyum.
Pak Reza membuka mulut. Menutupnya lagi. Melirik slide-nya, yang hanya berisi angka akhir tanpa rincian.
“Kami... kami menggunakan proyeksi pertumbuhan...”
“Proyeksi berapa persen, Pak? Dan rekam data didefinisikan sebagai apa? Karena menurut kami, angka Bapak terlalu besar. Rekam data transaksi bukan rekam pelanggan.”
Ruangan hening. Pak Reza menatap slide-nya seperti berharap angka di sana akan menjawab sendiri.
Lucky mengangkat tangan sedikit. “Aris.”
Aris mengangkat wajah dari laptopnya.
“Lampiran A, halaman tiga puluh satu, Pak,” katanya ke arah perwakilan Sinergi. Suaranya pelan, sopan, tidak terburu-buru. “Definisi ‘rekam data’ di kontrak Bapak sendiri mencakup setiap entri transaksi yang terhubung dengan identitas pelanggan. Bukan hanya profil pelanggannya. Itu kalimat dari kontrak yang tim Bapak susun.”
Perwakilan Sinergi membuka dokumen di depannya. Membalik halaman. Membaca.
Senyumnya mengecil sedikit.
“Proyeksi pertumbuhan dua belas persen per tahun, Pak,” lanjut Aris, “diambil dari rata-rata tiga tahun terakhir program loyalitas kami. Data historis transaksi dihitung sejak program dimulai, karena menurut pasal tujuh ayat lima, seluruh data yang diunggah harus dikembalikan. Kalau Bapak mau, saya bisa kirim rincian perhitungannya ke email Bapak sekarang. Ada di file ini.”
Ia memutar laptopnya sedikit, cukup untuk memperlihatkan spreadsheet penuh angka dan rumus.
Perwakilan Sinergi menatap layar itu. Lalu menatap Aris. Lalu menatap direktur hukum.
“Kami... akan meninjau ulang struktur biaya di Lampiran C,” katanya akhirnya.
Direktur hukum mengangguk puas dan mencatat sesuatu. Lucky bersandar ke kursinya dengan wajah datar, tapi aku melihat jari telunjuknya mengetuk meja tiga kali, pelan. Seperti tepuk tangan yang disamarkan.
Pak Reza menatap Aris dengan wajah yang aku tidak suka. Bukan wajah atasan yang bangga pada anak buahnya. Wajah orang yang baru menyadari ada sesuatu di rumahnya yang lebih berharga darinya.
Aris tidak melihat tatapan itu. Ia sudah kembali menatap laptopnya, menutup spreadsheet, dan meminum teh dari tutup termosnya. Manset kanannya masih terbuka, berayun.
Aku menatapnya dari seberang meja dan merasakan sesuatu di dada yang tidak berhubungan dengan kemeja biru sama sekali.
Atau mungkin berhubungan sedikit.
Di akhir rapat, direktur hukum meminta dokumen revisi draf kontrak diedarkan untuk diparaf semua divisi terkait. Dokumennya ada di tumpukanku. Aku harus mengedarkannya ke Divisi Data.
Aku berdiri dan memutari meja. Para peserta rapat mulai berkemas. Aris sedang menutup laptop ketika aku berhenti di samping kursinya.
“Paraf,” kataku, mengulurkan map berisi dokumen. “Halaman terakhir. Buat Pak Reza.”
“Oh, iya, Mbak.”
Ia mengulurkan tangan untuk menerima map itu. Tangan kiri. Map itu cukup tebal, jadi aku memegangnya di bagian bawah, dan tangannya meraih bagian yang sama.
Jari-jari kami bersentuhan.
Tidak lama. Sedetik, mungkin kurang. Ujung jariku di atas buku jarinya. Kulitnya hangat, sedikit kasar di bagian jari tengah, bekas pulpen atau bekas jarum jahit, atau dua-duanya.
Aku tidak menarik tanganku.
Aris yang menarik tangannya lebih dulu. Cepat, seperti menyentuh panci panas. Map itu hampir jatuh. Aku menangkapnya, dan sekarang aku memegang map itu sendirian di udara, di antara kami, sementara Aris menatap tangannya sendiri seperti tangan itu baru saja melakukan sesuatu tanpa izin.
“Maaf, Mbak,” katanya.
“Kenapa minta maaf?”
“Tangan saya...”
“Tangan kamu kenapa?”
Ia membuka mulut. Menutupnya lagi. Telinganya merah sampai ke leher, sampai warnanya hampir sama dengan kemejanya, kalau kemejanya merah.
“Nggak apa-apa, Mbak.”
Aku meletakkan map itu di mejanya, di atas laptop. Lalu aku membungkuk sedikit, cukup untuk bicara pelan tanpa didengar orang lain yang sedang berkemas.
“Aris.”
“Iya, Mbak?”
“Manset kanan kamu belum dikancing.”
Ia menunduk ke lengannya. Manset kanan itu masih berayun bebas.
“Mau aku kancingin?” tanyaku.
Ia mengangkat wajah dengan sangat cepat, matanya melebar.
“Nggak usah, Mbak. Makasih. Saya bisa.”
Ia mencoba mengancingkannya dengan tangan kiri. Gagal. Mencoba lagi. Kancing kecil itu tergelincir dari jarinya. Ia mencoba ketiga kali, dan aku berdiri di sana menontonnya, tidak membantu, tidak pergi, hanya tersenyum.
Kancing itu akhirnya masuk ke lubangnya di percobaan kelima.
“Bisa,” kata Aris dengan wajah lega, seperti baru menyelesaikan maraton.
“Hebat,” kataku.
Lalu aku berbalik dan berjalan kembali ke kursiku, dan di sepanjang jalan, aku bisa merasakan matanya di punggungku.
Atau mungkin itu cuma harapanku.
Lucky menahanku di koridor setelah rapat.
Tidak secara kasar. Ia hanya berjalan di sebelahku sampai kami berada di ujung koridor dekat jendela besar yang menghadap gedung-gedung Kuningan, lalu berhenti, dan aku ikut berhenti karena rasanya tidak sopan berjalan terus meninggalkan seorang direktur di koridor.
“Kemeja putih dijemur,” katanya.
Aku tidak berpura-pura tidak mengerti. “Kamu baca ponsel orang.”
“Kamu duduk sebelah gue dan ketawa sendiri selama presentasi vendor senilai tiga puluh dua miliar. Gue penasaran.”
“Itu nggak sopan.”
“Gue tahu.” Ia tidak terlihat menyesal sama sekali. Ia menatap keluar jendela, ke gedung-gedung yang mulai berkilau karena matahari sore. “Evan bilang kamu serius.”
“Evan cerita?”
“Evan nggak bisa nyimpen rahasia lebih dari dua puluh empat jam. Ini rekor dia. Tiga hari.” Lucky menoleh ke arahku. Wajahnya tidak dingin seperti biasanya. Tidak juga ramah. Wajah orang yang sedang menimbang sesuatu yang sangat penting. “Gue cuma mau tanya satu hal.”
“Silakan.”
“Kamu tahu apa yang kamu lakukan?”
Aku menatapnya. “Maksudnya?”
“Aris itu...” Lucky berhenti. Ia memasukkan tangan ke saku celana, menatap lantai sebentar, lalu kembali menatapku. “Gue sama Evan, kami berdua punya utang ke dia. Utang yang nggak bisa dibayar pakai uang. Gue punya banyak uang, Monica. Gue udah coba. Dia nggak mau.”
Aku diam. Ada sesuatu dalam suara Lucky yang membuatku tidak berani menyela.
“Gue nggak bisa cerita detailnya. Itu bukan cerita gue buat diceritain. Tapi gue mau kamu tahu satu hal.” Ia menatapku lurus. “Dia nggak pernah minta apa-apa buat dirinya sendiri. Nggak pernah. Kalau kamu ngasih dia sesuatu, dia bakal cari cara buat ngasih itu ke orang lain. Kalau kamu bilang kamu suka dia, dia bakal cari alasan kenapa sebenarnya kamu suka orang lain.”
“Saya udah tahu.”
“Kamu tahu, tapi kamu belum ngerasain.” Lucky tersenyum tipis. “Itu bakal capek. Kamu bakal ngerasa kayak ngomong ke tembok. Tembok yang sopan, baik hati, dan selalu nawarin teh. Tapi tetep tembok.”
“Saya suka tantangan.”
“Gue tahu. Renata bilang kamu buldoser.”
Aku mengangkat alis. “Renata cerita banyak ke kamu?”
Lucky mendadak sangat tertarik pada gedung di seberang jalan. “Dia... kebetulan duduk sebelah gue waktu futsal.”
“Dan waktu outing.”
“Itu kebetulan juga.”
“Dan waktu rapat program loyalitas tiga kali berturut-turut.”
“Kursinya cuma tinggal itu.”
“Ruangannya muat empat puluh orang, Lucky. Yang dateng dua puluh.”
Lucky menoleh ke arahku dengan wajah yang, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, terlihat sedikit salah tingkah. Sedikit sekali. Tapi ada.
“Kita lagi ngomongin Aris,” katanya.
“Oke.” Aku tersenyum. “Kita lagi ngomongin Aris.”
Lucky menghela napas. Lalu, tanpa diduga, ia mengulurkan tangan dan menepuk bahuku sekali. Pelan. Seperti kakak yang menyemangati adiknya sebelum ujian.
“Semoga berhasil,” katanya. “Serius. Gue nggak pernah bilang ini ke siapa pun yang deketin dia. Karena biasanya mereka nggak deketin dia.”
Ia berjalan pergi. Di ujung koridor, ia berhenti dan menoleh.
“Oh, Monica.”
“Ya?”
“Nyokap gue akhir-akhir ini banyak nanya soal temen-temen gue. Siapa aja yang deket. Siapa yang sering ke kantor gue.” Ada kerutan kecil di dahinya. “Kalau ada yang nanya-nanya soal Aris ke kamu, siapa pun itu, kabarin gue, ya.”
Aku mengangguk, meskipun tidak mengerti kenapa ia bilang begitu.
Lucky pergi. Aku berdiri sendirian di koridor, menatap gedung-gedung Kuningan yang sekarang berwarna jingga.
Ponselku bergetar.
Mbak, tadi manset kanannya akhirnya bisa saya kancing sendiri. Makasih udah nunggu. Maaf lama.
Lalu satu pesan lagi.
Kemeja biru ini memang udah lama, Mbak. Warnanya udah pudar. Maaf kalau ganggu konsentrasi.
Aku membaca pesan itu dengan senyum yang tidak bisa kutahan, sampai seorang staf Finance yang lewat menatapku aneh.
Aku membalas.
Besok jangan pakai putih.
Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.
Kenapa, Mbak?
Karena aku bilang begitu.
Tidak ada balasan selama satu menit. Lalu:
Siap, Mbak. Tapi kemeja biru cuma satu.
Aku tertawa sendirian di koridor lantai dua puluh, dan staf Finance yang tadi lewat menoleh lagi dari ujung lorong, kali ini dengan wajah benar-benar khawatir.
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya reading
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan