← Dari Awal, Bukan Buat Evan

Chapter Thirty Eight

Selama Ini Gue yang Traktir

POV: Aris


Aku memberi tahu Evan dan Lucky hari Jumat siang, di atap gedung parkir.

Bukan di warung soto. Aku tidak mau ada dua puluh tiga saksi. Atau tiga puluh. Atau berapa pun yang akan dihitung Bu Darsih dengan sendok kuahnya.

Atap gedung parkir lantai tujuh. Panas. Sepi. Burung merpati di pagar pembatas. Bau knalpot dari jalan di bawah. Tempat yang sama di mana dua minggu lalu Evan mencengkeram kerah kemejaku dan berteriak kita sayang sama lo karena lo ARIS. Tempat yang sama di mana aku mengatakan sesuatu yang membuat Lucky berbalik menghadap pagar dengan bahu bergetar.

Evan duduk di dinding pembatas dengan kaki menjuntai ke dalam. Lucky bersandar di tiang beton. Aku berdiri di tengah, dengan ponsel di tangan.

“Ada apa, Ris?” tanya Evan. “Lo bilang penting. Lo bilang jangan bawa siapa-siapa.”

“Monica udah tahu?” tanya Lucky.

“Udah. Kemarin.”

“Soal apa?”

Aku menatap mereka berdua. Sahabatku sejak MOS. Sejak hari pertama, waktu Evan duduk di sebelahku karena semua kursi lain penuh dan Lucky duduk di sebelah Evan karena katanya aku kelihatan seperti orang yang tidak akan banyak bicara dan ia butuh tempat yang tenang.

Sebelas tahun. Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun dari mereka. Kecuali dua hal.

Yang pertama sudah mereka temukan. Di dalam amplop cokelat, di teras rumahku, dari tangan ibuku.

Ini yang kedua.

Aku membuka ponsel. Membuka aplikasi. Lalu memutar layarnya ke arah mereka.


Evan turun dari dinding pembatas. Lucky melepaskan diri dari tiang beton. Mereka berdua berjalan mendekat, menatap layar ponselku dari jarak dekat.

Lucky membaca lebih dulu. Aku melihat matanya bergerak dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah. Cepat. Mata seorang direktur yang terbiasa membaca laporan keuangan.

Lalu matanya berhenti di pojok kanan atas layar.

Ia tidak bergerak.

Evan membaca lebih pelan. Matanya menyipit. Ia menghitung digit angka di pojok kanan atas dengan jari, di udara, seperti Monica kemarin.

Satu, dua, tiga. Titik. Satu, dua, tiga. Titik.

Jarinya berhenti di udara.

“Ris,” katanya pelan. “Ini apaan?”

“Portofolio aku, Van.”

“Portofolio.”

“Saham. Deposito. Kripto.”

“Punya lo.”

“Punya aku.”

Evan menatap layar. Lalu menatapku. Lalu menatap layar lagi. Lalu menatap Lucky. Lucky masih membeku, matanya masih di pojok kanan atas layar.

“Luck,” kata Evan. “Ini... ini berapa? Gue salah baca, kan? Ini dua koma nol empat juta, kan? Dua juta? Ada komanya, kan?”

“Nggak ada komanya, Van,” kata Lucky pelan. Suaranya aneh. “Itu titik.”

“Titik.”

“Dua puluh miliar.”

Evan menatap Lucky. Lalu menatapku.

Hening.

Burung merpati di pagar pembatas terbang. Sebuah truk di jalan di bawah membunyikan klakson panjang.

Lalu Evan meledak.

“SELAMA INI GUE YANG TRAKTIR?!”

Suaranya memantul di dinding beton atap parkir, terbang ke langit Kuningan, mungkin terdengar sampai ke lantai dua puluh lima Wiratama Tower.

“SEBELAS TAHUN, RIS! SEBELAS TAHUN GUE TRAKTIR LO MARTABAK! GUE BAYARIN BENSIN MOTOR LO WAKTU LO BILANG LAGI BOKEK! GUE BELIIN LO KAUS FUTSAL TIGA KALI KARENA LO BILANG KAUS LO SOBEK!”

“Kaus aku memang sobek, Van.”

“LO BISA BELI PABRIK KAUS!”

Lucky masih belum bergerak. Ia menatap layar ponselku, lalu perlahan mengangkat wajahnya dan menatapku. Wajahnya berubah. Pelan. Dari kaget, ke tidak percaya, ke sesuatu yang aneh, seperti potongan teka-teki yang tiba-tiba menemukan tempatnya.

“Mesin jahit,” katanya pelan.

Aku diam.

“Mesin jahit komputer dari Jerman. Yang lo balikin ke toko. Uangnya lo transfer balik ke gue. Lengkap. Sampai ongkos kirim.” Lucky menatapku. “Laptop. Yang lo balikin. Terus seminggu kemudian lo beli yang lebih bagus.”

“Iya.”

“Gue pikir lo nabung berbulan-bulan buat beli laptop itu. Gue sampai nggak enak. Gue pikir gue bikin lo maksain diri.”

“Aku nggak maksain, Luck.”

“Lo nggak maksain sama sekali.” Lucky tertawa. Tawa yang aneh. Tawa yang pecah di tengah. “Lo bisa beli seratus laptop kayak gitu.”

“Kira-kira.”

“Bokap gue,” kata Lucky. Tawanya berhenti. “Biaya rumah sakit. Operasi bahu dua kali. Rawat inap. Fisioterapi. Lo nyicil empat tahun.”

“Iya.”

“Lo punya dua puluh miliar, dan lo nyicil empat tahun ke bokap gue.”

“Waktu itu aku belum punya segini, Luck.” Aku menatapnya. “Waktu cicilan pertama, aku baru kerja. Gaji pertama. Aku baru mulai ngerjain proyek kecil dari klien luar. Uangnya masih sedikit.”

“Tapi tahun keempat...”

“Tahun keempat aku udah bisa lunasin sekaligus.” Aku mengangguk. “Tapi aku nggak mau.”

“Kenapa?”

Aku menatap gedung-gedung Kuningan di kejauhan.

“Karena kalau aku lunasin sekaligus,” kataku pelan, “bapak kamu bakal nanya uangnya dari mana. Dan aku harus jawab. Dan bapak kamu bakal tahu. Dan nanti ibu kamu tahu. Dan nanti semua orang tahu.”

Aku menatap Lucky.

“Dan nanti, Luck, aku nggak bakal tahu lagi. Apakah orang-orang di sekitar aku dateng karena aku, atau karena angka itu.”


Evan berhenti berteriak.

Ia berdiri di tengah atap parkir, napasnya masih terengah, menatapku. Lalu, pelan, wajahnya berubah. Dari marah ke sesuatu yang jauh lebih lembut.

“Bapak lo,” katanya pelan.

Aku mengangguk.

Evan tahu. Lucky tahu. Mereka belum mengenalku waktu ayahku meninggal. Kami baru kenal di SMA. Tapi Evan pernah bertanya kenapa aku tidak punya foto ayahku di dompet, seperti anak-anak lain. Dan aku cerita. Soal usaha konveksi yang bangkrut. Soal teman-teman yang menghilang. Soal pemakaman yang sepi.

Evan menatapku lama. Lalu ia berjalan ke dinding pembatas, duduk lagi, dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Lo nguji kita juga?” tanyanya dari balik tangan. Suaranya serak. “Selama ini?”

“Nggak, Van.”

“Jangan bohong.”

“Aku nggak bohong.” Aku berjalan mendekat dan duduk di sebelahnya di dinding pembatas. Lucky menyusul, duduk di sisiku yang lain. Kami bertiga duduk berjajar, seperti dulu di atap gedung olahraga sekolah. “Kalian nggak perlu diuji.”

Evan menurunkan tangannya.

“Kalian dateng waktu aku nggak punya apa-apa,” kataku. “Waktu aku anak penjahit yang sepatunya solnya tipis. Waktu aku naik angkot dua kali buat sampai sekolah. Waktu aku nggak bisa bayar uang study tour dan kalian berdua patungan diem-diem, terus bilang ke wali kelas ada donatur anonim.”

Lucky menoleh cepat. “Lo tahu soal itu?”

“Aku tahu, Luck. Aku lihat kalian di ruang TU. Aku pura-pura nggak tahu.”

Evan tertawa. Tawa yang pecah, basah.

“Kalian udah lulus ujian itu sebelas tahun lalu,” kataku. “Kalian nggak perlu diuji lagi.”

“Terus kenapa lo nggak cerita ke kita?” tanya Lucky pelan. “Kalau lo udah percaya kita.”

Aku diam lama. Burung merpati kembali bertengger di pagar.

“Karena kalian bakal berhenti traktir aku martabak,” kataku.

Evan menatapku. Lucky menatapku.

“Aku suka ditraktir martabak sama kalian,” kataku jujur. “Aku suka Evan beliin aku kaus futsal. Aku suka Lucky pesenin soto babat buat aku tanpa nanya. Aku suka ngerasa kayak... kayak kalian ngerawat aku.”

Suaraku mulai bergetar.

“Aku udah ngerawat ibu aku dari umur dua belas. Aku udah ngerawat diri aku sendiri dari umur dua belas. Kalian satu-satunya orang yang ngerawat aku, selain ibu aku.” Aku menatap tanganku sendiri di atas lutut. “Kalau kalian tahu aku punya segini, kalian bakal berhenti. Kalian bakal mikir aku nggak butuh dirawat lagi.”

Atap parkir sunyi.

Lalu Evan memelukku. Dari samping. Keras. Kepalanya menempel di bahu kiriku.

“Bego,” katanya di bahuku. Suaranya pecah. “Lo bego, Ris. Lo kira kita traktir lo martabak karena kasihan?”

“Bukan?”

“Gue traktir lo karena gue suka lihat muka lo pas makan martabak. Lo kayak anak kecil. Lo makan pinggirannya dulu, terus tengahnya terakhir. Sebelas tahun lo makan kayak gitu.” Evan menangis. “Gue bakal terus traktir lo martabak. Sampai lo tua. Sampai lo ompong. Gue nggak peduli lo punya dua puluh miliar atau dua puluh triliun.”

Lucky memelukku dari sisi yang lain. Bahu kanan. Pelan. Hati-hati. Ia tidak pernah memelukku dari sisi kanan selama sebelas tahun.

“Gue juga,” bisik Lucky. “Soto babat. Tiap hari. Sampai lo bosen.”

“Aku nggak bakal bosen, Luck.”

“Bagus.”

Kami bertiga duduk di dinding pembatas atap gedung parkir, berpelukan, menangis seperti anak SMA. Burung merpati di pagar menatap kami dengan kepala miring. Sebuah pesawat lewat di langit Kuningan, meninggalkan garis putih tipis.

Lalu Evan melepaskan pelukannya, menghapus air mata dengan lengan kemeja, dan menatapku dengan mata menyipit.

“Ris.”

“Hm.”

“Bensin motor yang gue bayarin. Totalnya berapa selama sebelas tahun?”

“Nggak tahu, Van. Aku nggak ngitung.”

“Lo analis data. Lo ngitung semuanya.”

Aku diam sebentar. “Kira-kira empat juta tujuh ratus ribu.”

“BAYAR.”

“Nanti, Van.”

“SEKARANG.”

Lucky tertawa sampai hampir jatuh dari dinding pembatas.


Malamnya, kami ke warung soto Bu Darsih.

Bukan makan siang. Makan malam. Bu Darsih biasanya tutup jam tiga sore, tapi Lucky meneleponnya jam empat dan bilang ada acara penting dan ia akan membayar dua kali lipat. Bu Darsih bilang ia tidak mau dibayar dua kali lipat. Ia bilang ia mau buka karena penasaran.

Jam tujuh malam, tenda biru di gang belakang Wiratama Tower diterangi lampu bohlam yang digantung di tiang. Meja pojok yang kaki kanannya diganjal sandal jepit bekas sudah disiapkan. Lima mangkuk soto. Lima gelas es teh.

Kami berlima. Aku. Monica. Evan. Lucky.

Dan Renata.

Renata datang paling akhir. Dengan kaus putih dan jas hitam Lucky tersampir di lengannya, bukan dipakai. Ia berhenti di pinggir tenda, ragu, seperti orang yang tidak yakin ia diundang.

Monica berdiri dari kursinya.

Ia berjalan ke pinggir tenda. Berhenti di depan Renata. Kami berempat di meja pojok menahan napas.

Lalu Monica memeluknya.

Tidak lama. Tidak sangat erat. Tapi pelukan. Yang pertama sejak hari Kamis di apartemen Renata, tiga minggu lalu.

Renata membeku. Lalu, pelan, ia membalas pelukan itu. Dan menangis di bahu sahabatnya.

“Belum sepenuhnya, Ren,” bisik Monica. Aku bisa mendengarnya dari meja pojok. “Tapi aku kangen kamu.”

“Aku juga,” isak Renata. “Aku kangen kamu banget, Mon.”

Bu Darsih, di belakang gerobaknya, mengusap matanya dengan ujung celemek.


Lucky berdiri setelah kami selesai makan.

Kursi plastik merahnya terdorong ke belakang, menabrak kaki meja sebelah. Persis seperti waktu itu.

Bu Darsih langsung berhenti mencuci mangkuk dan berbalik. Ia mengambil sendok kuah dari panci. Mengangkatnya. Siap menghitung.

Warung itu tidak sepenuh waktu itu. Hanya kami berlima, Bu Darsih, dan... aku menoleh. Tenda biru itu ternyata tidak sepi. Di meja-meja lain, entah sejak kapan, duduk Dini. Pak Darto. Mas Jono dengan tongkat penyangganya. Pak Udin, masih memakai seragam satpam. Mbak Wati dengan ponsel di tangan. Pak Joko dari Finance. Dua bapak ojek online yang dulu ada di sini waktu Lucky menembak Renata pertama kali. Tiga karyawati dari gedung sebelah.

Bahkan kucing belang di bawah gerobak.

Lucky menatap Renata.

“Ren,” katanya.

Renata menatapnya. Matanya masih merah dari pelukan dengan Monica.

“Gue belum maafin kamu sepenuhnya,” kata Lucky. “Gue jujur. Belum.”

Renata mengangguk pelan.

“Nyokap gue juga minta maaf ke kamu. Kemarin. Gue tahu, karena kamu nelpon gue jam sebelas malem sambil nangis.” Lucky menarik napas. “Dan gue tahu kamu nawarin nyicil balik uang kuliah yang dulu nyokap gue bayarin. Kayak Aris. Dan nyokap gue nolak sambil nangis.”

Renata menutup mulutnya dengan tangan.

“Jadi gue nggak mau minta kamu jadi pacar gue lagi,” kata Lucky.

Hening. Bu Darsih menurunkan sendok kuahnya sedikit.

“Gue mau minta kamu mulai dari nol,” kata Lucky. “Kenalan lagi. Dari awal. Tanpa laporan. Tanpa misi. Tanpa nyokap gue. Cuma gue sama kamu.” Ia mengulurkan tangan. “Gue Lucky. Direktur Pengembangan Bisnis. Nggak bisa milih kado. Nggak bisa bungkus kado. Suka masak nasi goreng, tapi nggak pernah ngaku.”

Renata menatap tangan itu. Lalu menatap Lucky.

Lalu ia tertawa di antara tangisnya, dan menjabat tangan Lucky.

“Renata,” katanya. “Corporate Communications. Suka sengaja salah ketik di paragraf ketiga.”

“Senang kenal kamu, Renata.”

“Senang kenal kamu juga, Lucky.”

Bu Darsih mengangkat sendok kuahnya tinggi-tinggi dan mulai menghitung. Keras. Satu per satu. Menunjuk setiap orang di bawah tenda biru dengan sendok kuah.

“...dua puluh sembilan, tiga puluh, TIGA PULUH SATU! TIGA PULUH SATU SAKSI, PAK DINAS! LEBIH BANYAK DARI YANG PERTAMA!”

“Itu kucing, Bu,” kata Lucky. “Kucing nggak dihitung.”

“KUCING JUGA SAKSI!”

Seluruh tenda meledak dengan tawa.


Kami duduk di meja pojok sampai jam sembilan malam. Bu Darsih menambahkan kerupuk tanpa diminta. Evan bercerita soal klien di Bekasi yang ternyata mau memperpanjang kontrak. Lucky dan Renata duduk berdampingan, belum bergandengan tangan, tapi bahu mereka bersentuhan.

Monica duduk di sebelahku, dengan cincin emas tipis yang sudah dikecilkan ibuku di jari manis kirinya.

“Luck,” kataku. “Van.”

Mereka menoleh.

“Aku mau minta satu hal.”

“Apa?” tanya Evan. “Lo mau minta traktir? Gue nggak mau lagi traktir orang yang punya dua puluh...”

“Jadi saksi nikah aku.”

Evan berhenti bicara.

Lucky meletakkan sendok sotonya.

“Kalian berdua,” kataku. “Saksi akad. Aku nggak mau orang lain.”

Evan menatapku. Matanya mulai basah lagi. Ini sudah keempat kalinya ia menangis hari ini. Aku menghitungnya.

“Ris,” katanya dengan suara serak. “Lo jahat. Lo bikin gue nangis terus.”

“Itu iya, Van?”

“ITU IYA, BEGO!”

Lucky tidak bicara. Ia hanya mengangguk. Pelan. Berkali-kali. Matanya merah.

“Dan satu lagi,” kataku. “Aku mau bikin sesuatu. Pakai uang itu. Bukan semuanya. Sebagian.”

Lucky menyipitkan mata. “Apa?”

“Beasiswa.” Aku menatap mangkuk soto di depanku. “Buat anak-anak yang udah lolos kuliah, tapi batal karena musibah. Kecelakaan. Sakit. Orang tuanya meninggal. Apa aja. Yang mimpinya hilang bukan karena mereka nggak pinter, tapi karena sesuatu terjadi di waktu yang salah.”

Meja pojok itu sunyi.

“Anonim,” tambahku. “Nggak pakai nama aku.”

Lucky menatapku lama. Lalu tersenyum.

“Wiratama punya yayasan,” katanya. “Gue bisa bantu ngurus administrasinya. Kita jalan bareng. Tapi nama yayasannya...”

“Nggak pakai nama aku, Luck.”

“Gue tahu.” Lucky menatap Evan. Evan menatap Lucky. Lalu mereka berdua menatapku dengan senyum yang sama persis.

“Beasiswa Tukang Pos,” kata mereka bersamaan.

Monica tertawa sampai harus menyandarkan kepala di bahu kiriku.

Aku menatap mereka. Lalu, pelan, aku tersenyum.

“Oke,” kataku.

Bu Darsih lewat di belakang kami dan menepuk kepalaku. Lalu menepuk kepala Monica. Lalu menepuk kepala Evan, Lucky, Renata, satu per satu, seperti ibu yang menepuk kepala anak-anaknya sebelum tidur.

“Pak Dinas,” katanya ke Lucky. “Bayar.”

“Lho, Bu. Kok saya?”

Bu Darsih menunjuk aku dengan sendok kuahnya.

“Yang punya dua puluh miliar itu,” katanya, “dari dulu bayarnya pakai receh. Ibu nggak mau terima receh lagi dari orang kaya. Kamu aja yang bayar, Pak Dinas. Kamu kan direktur.”

Kami berlima menatap Bu Darsih.

“Bu,” kataku pelan. “Ibu tahu dari mana?”

Bu Darsih tertawa. Tawa keras, lepas, sampai sendok kuahnya hampir jatuh.

“Ibu dengar dari atap parkir!” katanya. “Tadi siang! Suaranya Mas Evan sampai sini! SELAMA INI GUE YANG TRAKTIR! Satu gang denger!”

Evan menutup wajahnya dengan dua tangan.

Lucky membayar.