← Dari Awal, Bukan Buat Evan

Chapter Thirty Two

Anak Saya Cuma Sayang

POV: Monica


Kami pulang dari Bogor naik motor bebek.

Bukan semua. Lucky dan Evan naik mobil. Aku naik motor. Di jok belakang, dengan helm putih yang kubawa dari Jakarta, memeluk pinggang laki-laki yang setengah jam sebelumnya menangis di bahuku di atas batu di pinggir curug.

Lucky sempat protes. “Mon, ini tiga jam perjalanan. Motor itu umurnya dua belas tahun. Dia nyetir dua puluh kilometer per jam.”

“Aku tahu,” kataku.

“Lo bakal sampai Jakarta jam dua belas siang.”

“Aku tahu, Lucky.”

Lucky menatapku, lalu menatap Aris yang berdiri di sebelah motornya dengan wajah sembab dan rambut berantakan, lalu menatapku lagi. Ia menghela napas dan tersenyum kecil.

“Oke,” katanya. “Hati-hati.”

Tiga jam empat puluh menit. Itu yang dibutuhkan motor bebek biru itu untuk membawa kami dari curug di Bogor ke gang sempit di Jatiwaringin. Kami berhenti dua kali. Sekali untuk mengisi bensin di Ciawi. Sekali di warung kopi di pinggir jalan Jagorawi, karena Aris bilang bahunya pegal dan aku bilang aku lapar, padahal aku tidak lapar dan aku tahu bahunya tidak pegal.

Kami hanya ingin berhenti. Kami hanya ingin duduk di bangku kayu di bawah terpal warung kopi, minum kopi sachet yang terlalu manis, dan tidak bicara.

Kami tidak bicara banyak sepanjang perjalanan. Aku hanya memeluk pinggangnya, menyandarkan pipi di punggungnya, dan merasakan napasnya naik turun di bawah telapak tanganku.

Kali ini ia tidak menahan napas.


Bu Sumi menunggu di depan pagar hijau.

Ia tidak di teras. Ia berdiri di tengah gang, di depan pagar, dengan daster batik dan sandal jepit, seperti sudah berdiri di sana sejak subuh. Mungkin memang begitu.

Waktu motor bebek biru itu berbelok masuk ke gang, Bu Sumi tidak bergerak. Ia hanya berdiri di sana, menatap anaknya dari jauh, dengan tangan saling menggenggam di depan dada.

Aris mematikan mesin di depan pagar. Membuka helm. Turun dari motor.

Bu Sumi menatapnya.

“Bu,” kata Aris pelan.

Bu Sumi berjalan mendekat. Lalu, tanpa bicara, ia mengangkat tangan dan menampar lengan anaknya. Pelan. Tidak menyakitkan. Seperti ibu yang menampar anaknya yang pulang terlambat main layangan.

“Kamu bikin Ibu nggak tidur,” katanya.

“Maaf, Bu.”

“Kamu bikin Ibu nyerahin amplop itu ke mereka.”

“Iya, Bu.”

“Kamu bikin Ibu nelpon tiga orang jam enam sore sambil nangis.”

“Maaf, Bu.”

Bu Sumi menatapnya lama. Lalu ia menarik kepala anaknya ke bahunya, kepala yang jauh lebih tinggi dari kepalanya sendiri sehingga Aris harus membungkuk, dan memeluknya. Erat.

“Kamu pulang,” bisiknya. “Itu aja. Kamu pulang.”

Aku berdiri di samping motor dengan helm putih di tangan, dan memalingkan wajah supaya mereka tidak melihatku menangis lagi.


Bu Ratna datang jam empat sore.

Aku masih di sana. Bu Sumi melarangku pulang. Katanya aku harus makan dulu, lalu harus tidur dulu, karena wajahku terlihat seperti orang yang tidak tidur tiga hari. Itu benar. Jadi aku makan nasi dengan tempe goreng dan sayur asem, lalu tidur di kamar Bu Sumi, di kasur yang wangi bedak tabur dan minyak mesin jahit, sampai jam tiga sore.

Waktu aku bangun, Aris sedang duduk di teras. Mandi, berganti kaus abu-abu dan sarung kotak-kotak biru. Rambutnya masih basah. Ia sedang menatap gang dengan termos di pangkuan.

Aku duduk di sebelahnya. Ia menuangkan teh ke tutup termos dan menyodorkannya padaku. Tanpa bicara.

Kami duduk di teras dalam diam sampai jam empat, sampai suara mobil terdengar berhenti di mulut gang.

Tidak ada mobil yang bisa masuk ke gang ini. Jadi siapa pun yang datang, harus berjalan kaki dari warung Padang Uni Ita.

Tiga sosok muncul di ujung gang.

Lucky di depan, dengan kemeja santai dan wajah tegang. Pak Hendra di belakangnya, dengan batik cokelat dan langkah pelan seorang laki-laki tua.

Dan di antara mereka, berjalan dengan kepala sedikit menunduk, Bu Ratna Wiratama.

Tanpa sanggul tinggi. Tanpa kacamata berbingkai emas. Tanpa kebaya. Ia memakai blus putih sederhana dan rok panjang abu-abu, dan rambutnya diikat rendah di tengkuk. Ia terlihat lebih kecil dari yang kuingat. Lebih tua.

Anak kecil dengan sepeda roda tiga yang biasa main di gang berhenti bersepeda dan menatapnya. Kucing oranye yang tidur di atas atap motor tetangga membuka satu mata.

Aris berdiri. Termosnya hampir jatuh. Aku menangkapnya.

Bu Ratna berhenti di depan pagar hijau. Ia menatap papan kayu kecil di samping pintu. Jahit & Permak Bu Sumi. Huruf-huruf yang ditulis tangan dan sudah pudar. Ia menatapnya lama, seperti orang yang baru pertama kali melihat sesuatu yang selama ini ada di depan matanya.

Bu Sumi keluar dari rumah. Ia berdiri di ambang pintu, dengan kacamata baca melorot di ujung hidung dan pita ukur jahit tersampir di leher.

Dua perempuan itu saling menatap. Penjahit dari Jatiwaringin. Istri direktur utama Wiratama Group.

“Bu Sumi,” kata Bu Ratna. Suaranya serak.

“Bu Ratna,” kata Bu Sumi.

Hening. Lucky menatap ibunya dengan wajah khawatir. Pak Hendra berdiri diam di belakang istrinya.

Lalu Bu Ratna membuka pagar sendiri, masuk ke halaman kecil yang dipenuhi pot-pot tanaman, dan berdiri di depan teras. Di depan Aris.

Ia menatap Aris. Lama.

Lalu ia berlutut.

Di atas lantai semen teras yang retak-retak, di depan bangku kayu yang kakinya diganjal batu bata, Bu Ratna Wiratama berlutut di depan anak penjahit dari Jatiwaringin.

“Bu,” kata Aris cepat. Ia langsung berlutut juga, menahan bahu Bu Ratna. “Bu, jangan, Bu. Bangun, Bu.”

Bu Ratna tidak bangun. Ia menggenggam tangan Aris. Kedua tangan. Tangannya gemetar.

“Tante minta maaf,” katanya. Suaranya pecah. “Tante minta maaf, Aris.”

Aris menatapnya.

“Tante bilang kamu benalu. Di depan delapan ratus orang. Tante nawarin kamu uang buat pergi. Tante suruh anak orang buat ngawasin kamu.” Air mata jatuh dari mata Bu Ratna. “Dan selama empat tahun, kamu nyicil ke suami Tante. Diam-diam. Supaya Tante nggak malu.”

“Bu...”

“Kamu bilang ke suami Tante, Tante ibu yang baik.” Bu Ratna terisak. “Kamu bilang Tante cuma mau jaga Lucky. Kamu bela Tante. Waktu Tante lagi ngerusak hidup kamu.”

Aris tidak bisa bicara. Ia hanya memegang tangan Bu Ratna, berlutut di lantai teras, dengan wajah yang hancur.

“Tante nggak minta kamu maafin,” kata Bu Ratna. “Tante nggak pantas dimaafin. Tante cuma mau kamu tahu, Tante salah. Tante yang salah. Bukan kamu. Nggak pernah kamu.”


Bu Sumi yang bicara akhirnya.

Ia berjalan dari ambang pintu, pelan, dengan sandal jepit, dan berdiri di sebelah anaknya dan Bu Ratna yang masih berlutut di lantai teras.

“Bu Ratna,” katanya. “Bangun dulu. Lantainya kotor. Nanti rok Ibu kena debu.”

Bu Ratna mengangkat wajah. Menatap Bu Sumi.

Bu Sumi mengulurkan tangan. Tangan yang kecil, kasar, berbau minyak mesin jahit. Bu Ratna menatap tangan itu sebentar. Lalu menerimanya.

Bu Sumi membantunya berdiri. Lalu membantu anaknya berdiri. Lalu menuntun Bu Ratna ke kursi kayu di teras dan mendudukkannya di sana.

“Ibu mau teh?” tanya Bu Sumi. “Ibu suka teh apa?”

“Teh... teh melati,” bisik Bu Ratna. “Pakai gula dua sendok.”

“Di sini adanya teh tubruk, Bu. Gula ada.”

“Itu juga boleh.”

Bu Sumi masuk ke dapur. Kami semua menunggu di teras dalam diam. Lucky berdiri di dekat pagar. Pak Hendra berdiri di sebelahnya. Aris duduk di bangku kayu, di sebelahku, dengan tangan saling meremas di atas lutut.

Bu Sumi keluar membawa nampan dengan lima gelas teh tubruk. Ia meletakkan satu di depan Bu Ratna. Lalu duduk di kursi plastik di seberangnya.

“Bu Ratna,” katanya pelan, setelah Bu Ratna meminum tehnya. “Saya mau ngomong satu hal. Boleh?”

Bu Ratna mengangguk.

“Anak saya nggak pernah numpang, Bu.” Suara Bu Sumi tenang. Tidak marah. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang membuat semua orang di teras itu diam. “Nggak pernah. Dari kecil, dia nggak pernah minta apa-apa ke siapa-siapa. Bahkan ke saya, ibunya. Dia jualan es lilin waktu SD buat beli buku. Dia ngajar les anak tetangga waktu SMP buat bayar SPP. Dia ngasih sebagian gaji pertamanya ke saya, sebagian lagi ke Pak Hendra, buat nyicil biaya rumah sakit yang dia sendiri nggak minta.”

Bu Ratna menunduk.

“Anak saya nggak pernah numpang di keluarga Ibu,” kata Bu Sumi. Lalu ia tersenyum. Senyum yang sangat lembut. “Anak saya cuma sayang. Sama Lucky. Sama Evan. Dan anak saya itu kalau sayang, nggak bisa setengah-setengah. Dari dulu. Kayak almarhum bapaknya.”

Bu Ratna menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis lagi.

Bu Sumi mengulurkan tangan dan menepuk lututnya. Pelan. Dua kali.

“Udah, Bu,” katanya. “Udah. Ibu udah dateng ke sini. Ibu udah minta maaf. Itu cukup.”

“Bu Sumi nggak marah?”

“Marah,” kata Bu Sumi jujur. “Ibu marah, Bu. Marah banget. Waktu Lucky cerita soal ballroom itu, Ibu mau ke rumah Ibu di Menteng dan bilang macem-macem.”

Lucky, di dekat pagar, tersedak.

“Tapi Ibu juga seorang ibu,” lanjut Bu Sumi. “Ibu tahu rasanya takut kehilangan anak. Ibu tahu rasanya, waktu malam itu, ditelepon jam dua pagi dan dibilang anak Ibu ada di rumah sakit di Bogor dengan bahu yang patah.” Ia menatap Bu Ratna. “Malam itu kita berdua sama-sama takut, Bu. Bedanya, anak Ibu yang hampir tenggelam. Anak saya yang nolong.”

Bu Ratna menatapnya.

“Ibu takut sama orang yang nolong anak Ibu,” kata Bu Sumi pelan. “Karena Ibu nggak ngerti kenapa ada orang yang mau nolong tanpa minta apa-apa.”

Teras itu sunyi.

“Saya ngerti,” kata Bu Sumi. “Saya juga nggak ngerti kadang-kadang. Padahal saya yang ngebesarin dia.”


Bu Ratna dan Pak Hendra pulang jam enam.

Sebelum pergi, Bu Ratna berdiri di depan Aris lagi. Ia tidak berlutut kali ini. Tapi ia memegang kedua tangan Aris dan menatapnya dengan mata yang masih merah.

“Jangan resign,” katanya. “Tante mohon.”

Aris diam.

“Bukan buat Tante. Bukan buat Lucky.” Bu Ratna menggenggam tangannya lebih erat. “Buat kamu sendiri. Kamu pantas ada di sana. Kamu pantas dapat penghargaan itu. Kamu pantas dilihat.”

Aris menatapnya lama. Lalu mengangguk pelan. Bukan janji. Hanya anggukan.

Lalu Bu Ratna menoleh ke arahku.

“Monica,” katanya.

“Tante.”

“Tante juga minta maaf sama kamu.” Ia menatapku. “Tante pakai cerita kamu. Cerita yang paling menyakitkan buat kamu. Tante pakai itu buat nyerang orang yang kamu sayang.”

Aku tidak menjawab.

“Dan Rena,” kata Bu Ratna. Suaranya bergetar. “Rena nggak salah, Monica. Tante yang salah. Tante yang manfaatin rasa utangnya. Tante tahu dia nggak bakal nolak.” Ia menatapku dengan mata yang memohon. “Rena sayang sama kamu. Dia nangis tiap Minggu malam waktu ngirim laporan itu. Tante tahu, karena Tante bisa denger dari suaranya kalau Tante telepon. Tante pura-pura nggak denger.”

Aku menatapnya. Lalu menatap ke ujung gang.

Di sana, di bawah lampu jalan yang baru menyala, di dekat warung Padang Uni Ita, seseorang berdiri. Kaus putih. Celana jins. Rambut diikat asal. Memeluk sesuatu di dadanya.

Jas hitam.

Renata.


Aku berjalan ke ujung gang.

Pelan. Tidak terburu-buru. Melewati kucing oranye yang sekarang tidur lagi. Melewati anak kecil yang sudah masuk rumah. Melewati Lucky, yang berdiri di depan pagar hijau dan menatap Renata dari jauh dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

Renata melihatku datang. Ia tidak bergerak. Ia hanya berdiri di bawah lampu jalan, memeluk jas Lucky di dada, dengan wajah yang sudah siap untuk dibenci.

Aku berhenti di depannya.

Kami saling menatap. Dua belas tahun. Nasi goreng di kantin. Pemakaman Mamanya. Telepon jam satu pagi. Laporan setiap Minggu malam.

“Kamu nunggu di sini dari kapan?” tanyaku.

“Dari jam empat,” bisiknya. “Aku ikut mobil Tante. Tapi aku nggak berani masuk.”

“Kenapa?”

“Karena aku nggak pantas masuk ke rumah itu.”

Aku menatapnya. Sahabatku. Yang mengkhianatiku. Yang menangis setiap Minggu malam.

“Aku belum bisa maafin kamu, Ren,” kataku pelan.

Renata mengangguk. Air matanya jatuh.

“Aku tahu.”

“Mungkin butuh waktu lama.”

“Aku tahu, Mon.”

“Mungkin bertahun-tahun.”

“Aku tunggu,” katanya. Suaranya pecah. “Selama apa pun. Aku tunggu.”

Aku menatap jas hitam di pelukannya. Jas Lucky. Yang ia bilang tidak pantas ia simpan, tapi tetap ia peluk seperti memeluk satu-satunya hal yang masih utuh.

“Tapi aku mau,” kataku.

Renata mengangkat wajah.

“Aku mau maafin kamu,” kataku. “Aku belum bisa. Tapi aku mau. Itu beda.”

Renata menatapku. Bibirnya bergetar. Lalu ia menangis, keras, seperti anak kecil, seperti di pemakaman Mamanya dua belas tahun lalu.

Aku tidak memeluknya. Belum.

Tapi aku berdiri di sana, di bawah lampu jalan, di sebelahnya, sampai ia berhenti menangis.


Malamnya, setelah semua orang pulang, aku duduk di teras dengan Aris.

Bu Sumi sudah tidur. Lampu kuning redup. Laron berputar. Di meja kecil di antara kami, termos dan dua tutup termos berisi teh tawar.

Kami diam lama. Lalu Aris bicara.

“Mbak.”

“Hm.”

“Waktu di ballroom,” katanya pelan. “Waktu Bu Ratna bilang Renata yang laporan. Dan bilang Mbak sahabat Renata, yang Renata ajak masuk.”

Aku menunggu.

“Saya sempet mikir,” katanya. Ia tidak menatapku. Ia menatap laron yang berputar. “Mbak bagian dari itu.”

Aku diam.

“Nggak lama. Tapi saya sempet mikir. Dua hari. Dari ballroom sampai curug.” Suaranya sangat pelan. “Saya mikir, mungkin Mbak deketin saya karena disuruh. Karena dari delapan ribu orang di gedung itu, Mbak milih saya. Dan saya nggak pernah dipilih, Mbak. Sekali pun. Jadi waktu ada alasan yang masuk akal kenapa Mbak milih saya, saya langsung percaya alasan itu.”

Ia akhirnya menoleh dan menatapku.

“Maaf,” katanya. “Maaf saya sempet mikir gitu.”

Aku menatapnya lama.

Aku seharusnya marah. Mungkin aku memang marah, sedikit. Tapi lebih banyak dari marah, aku merasakan sesuatu yang sangat sedih. Untuk laki-laki di depanku. Yang lebih mudah percaya bahwa ia dimanfaatkan, daripada percaya bahwa ia dicintai.

“Sekarang?” tanyaku. “Sekarang kamu masih mikir gitu?”

Aris menggeleng. Pelan.

“Mbak nangis di lapangan parkir,” katanya. “Mbak ngejar saya tanpa sepatu di basement hotel. Mbak duduk di lantai di depan pintu kamar saya. Mbak dateng ke curug jam tiga pagi.”

Ia menatapku.

“Nggak ada orang yang disuruh, yang mau ngelakuin semua itu.”

Aku tersenyum. Mataku basah lagi. Aku sudah lupa berapa kali mataku basah hari ini.

“Aris,” kataku. “Aku mau tanya satu hal.”

“Iya, Mbak?”

“Kenapa kamu yakin banget kamu nggak pantas?”

Ia diam lama. Lalu menatap ke dalam rumah, ke mesin jahit tua di ruang tamu yang sekarang gelap.

“Bapak saya,” katanya. “Dulu punya usaha konveksi. Kecil. Tapi jalan. Teman-temannya banyak. Tiap minggu dateng ke rumah. Makan di sini. Ketawa di teras ini. Manggil Bapak saudara.”

Ia diam sebentar.

“Terus usahanya bangkrut. Satu per satu temennya berhenti dateng. Yang pinjem uang nggak bayar. Yang dulu manggil saudara, pura-pura nggak kenal kalau ketemu di pasar.” Suaranya sangat pelan sekarang. “Bapak saya meninggal sebulan setelah itu. Serangan jantung. Waktu pemakaman, nggak ada satu pun dari mereka yang dateng.”

Aku tidak bisa bicara.

“Saya belajar satu hal dari situ, Mbak. Orang dateng kalau ada sesuatu yang bisa diambil. Orang pergi kalau udah nggak ada.” Ia menatapku. “Jadi saya nggak pernah ngasih orang alasan buat dateng. Supaya kalau mereka dateng, saya tahu mereka dateng karena saya. Bukan karena apa yang saya punya.”

Aku menatapnya.

“Tapi kamu nggak punya apa-apa, Aris,” kataku pelan. “Motor bebek. Kemeja tiga. Termos teh. Aku nggak dateng buat ngambil apa-apa.”

Sesuatu lewat di wajahnya. Sangat cepat. Seperti orang yang ingin mengatakan sesuatu, lalu menelannya kembali.

“Iya, Mbak,” katanya.

“Dan kalaupun kamu punya sesuatu,” kataku, “aku nggak peduli. Aku nggak dateng buat itu. Aku dateng buat yang jahitin kancing aku di tangga darurat.”

Aris menatapku lama.

Lalu ia mengatakan sesuatu yang membuat jantungku berhenti.

“Kasih saya waktu, Mbak.”

Aku menatapnya.

“Bukan buat mikir apakah saya suka Mbak.” Suaranya pelan, tapi sangat jelas. “Saya udah tahu jawabannya. Udah lama. Dari sebelum Mbak motong kancing sendiri.”

Laron berputar di bawah lampu. Di kejauhan, terdengar suara motor lewat di jalan besar.

“Saya cuma mau milih sendiri,” katanya. “Bukan dipilih. Selama ini saya selalu nunggu dipilih, terus kalau dipilih, saya cari alasan kenapa itu salah. Saya nggak mau gitu lagi.” Ia menatapku. “Saya mau jadi orang yang dateng ke Mbak. Bukan orang yang Mbak kejar terus.”

Aku menatapnya. Lama.

Lalu aku tersenyum.

“Oke,” kataku. “Aku tunggu.”

“Makasih, Mbak.”

“Tapi jangan kelamaan.”

“Iya, Mbak.”

“Bu Ambar bilang.”

Aris tertawa. Pelan. Tawa pertama yang kudengar darinya sejak warung wedang ronde. Lesung pipi kirinya muncul.

“Satu lagi,” kataku.

“Apa, Mbak?”

“Itu.” Aku menatapnya. “Jangan panggil aku Mbak lagi.”

Ia diam.

“Aku udah berhenti manggil kamu Mas Aris,” kataku. “Itu cuma tiga hari. Rasanya kayak tiga tahun. Sekarang giliran kamu.”

Aris menatapku. Telinganya mulai merah. Di bawah lampu kuning redup, dengan laron yang berputar dan teh tawar di tutup termos, ia membuka mulut, menutupnya, membukanya lagi.

“Monica,” katanya.

Pelan. Hati-hati. Seperti orang yang baru belajar mengucapkan kata dalam bahasa asing.

Aku menutup mata.

Namaku tidak pernah terdengar seperti itu sebelumnya.