← Dari Awal, Bukan Buat Evan

Chapter Nineteen

Isi Baterai

POV: Monica


PT Lintas Nusa Ekspres menggugat Wiratama Group hari Rabu pagi.

Gugatannya datang lewat surat dari kantor pengacara mereka, tiga belas halaman, dengan kop surat timbul dan tanda tangan tinta biru. Isinya: selama tiga tahun kerja sama pengiriman barang, Wiratama Group dianggap kurang membayar tagihan logistik sebesar delapan koma enam miliar rupiah. Mereka memberi waktu empat belas hari untuk pelunasan, atau perkara ini dibawa ke pengadilan niaga.

Kepala Divisi Legal, Pak Harun, membaca surat itu di ruang rapat lantai sembilan dengan wajah orang yang baru menelan obat pahit.

“Delapan koma enam miliar,” katanya. “Dan mereka lampirkan rekap tagihan tiga tahun. Ribuan lembar.”

“Rekap dari mereka, Pak,” kataku. “Bukan dari kita.”

“Iya. Masalahnya, data pembayaran kita sendiri tersebar di tiga sistem. Finance pakai sistem lama sampai tahun lalu. Gudang pakai sistem sendiri. Pengadaan pakai spreadsheet.” Pak Harun memijat pelipis. “Butuh minimal sebulan buat cocokkan semuanya. Kita cuma punya empat belas hari.”

Ruang rapat hening. Lima orang staf Legal saling pandang.

Aku mengangkat tangan.

“Pak, saya kenal orang yang bisa cocokkan data dari tiga sistem dalam waktu jauh lebih cepat.”

Pak Harun menatapku. Dua staf Legal di seberang meja langsung tersenyum penuh arti. Satu lagi mengangkat ponselnya, dan aku cukup yakin ia anggota grup HRD Squad Asik.

“Dari Divisi Data?” tanya Pak Harun.

“Iya, Pak.”

“Yang... itu?”

“Yang itu, Pak.”

Pak Harun menghela napas panjang. Lalu mengangguk. “Minta izin ke Pak Reza.”

“Pak Reza lagi diinvestigasi, Pak. Saya minta izin ke Bu Ambar aja. Beliau yang pegang Divisi Data sementara.”

Pak Harun menatapku lama. “Kamu udah ngurus izin itu sebelum rapat ini, ya?”

“Tadi pagi, Pak. Jam tujuh.”

“Kok kamu tahu gugatan ini dateng hari ini?”

“Saya nggak tahu, Pak. Saya cuma minta izin umum. Buat jaga-jaga.”

Salah satu staf Legal tertawa, lalu buru-buru menutup mulutnya dengan tangan.


Aris datang ke lantai sembilan jam sepuluh dengan laptop, termos, dan wajah orang yang tidak tahu kenapa ia dipanggil.

Ia duduk di ruang rapat kecil yang sudah kusiapkan. Ada tiga laptop lain di meja: satu dari Finance, satu dari gudang, satu dari Pengadaan. Masing-masing dibawa oleh staf divisi itu, yang duduk berjejer di sisi meja dengan wajah bingung.

Aku menjelaskan situasinya. Gugatan. Delapan koma enam miliar. Empat belas hari. Tiga sistem yang tidak pernah bicara satu sama lain.

Aris mendengarkan tanpa menyela. Lalu ia bertanya tiga hal.

“Data tagihan dari Lintas Nusa ada versi digitalnya, Mbak? Bukan cuma PDF?”

“Ada. Excel. Mereka lampirkan di CD.”

“Di CD?”

“Mereka perusahaan lama.”

Ia tersenyum kecil. “Data berat barang yang ditimbang di gudang kita, disimpan berapa lama?”

Staf gudang, seorang laki-laki muda berseragam biru, mengangkat tangan dengan ragu. “Lima tahun, Mas. Tapi formatnya lama. Bukan Excel.”

“Nggak apa-apa. Asal masih bisa dibuka.” Aris menatap staf Pengadaan, seorang perempuan berkacamata. “Kontrak tarif sama Lintas Nusa, yang asli, yang ditandatangani tiga tahun lalu. Ada?”

“Ada, Mas. Di ruang arsip.”

“Boleh saya lihat?”


Ruang arsip Divisi Legal ada di ujung lorong lantai sembilan. Ruangan sempit tanpa jendela, dengan rak-rak besi tinggi sampai ke langit-langit, berisi ribuan map dan kotak arsip yang diberi label tahun.

Kontrak tarif Lintas Nusa ada di rak paling atas. Kotak arsip bertanda tahun tiga tahun lalu, di ketinggian sekitar dua meter lebih.

Aris berdiri di depan rak itu. Ia mengangkat tangan kiri. Tidak sampai.

Ia menatap tangga lipat kecil di sudut ruangan. Tangga itu punya label merah yang ditempel di anak tangga paling atas: RUSAK — JANGAN DIPAKAI.

Ia menatap tangan kanannya.

Aku melihatnya. Aku melihat bagaimana ia menatap tangan itu, sesaat, dengan wajah orang yang sedang menimbang sesuatu yang sudah ia timbang ribuan kali sebelumnya. Lalu ia menurunkan tangan kirinya dan menoleh padaku.

“Mbak, ada kursi?”

Aku tidak menjawab. Aku berjalan ke depan rak, berdiri di sebelahnya, dan berjinjit. Ujung jariku mencapai pinggir kotak arsip. Aku menariknya pelan, menahannya di dada supaya tidak jatuh, lalu menyerahkannya padaku sendiri, karena ia masih menatap rak itu.

“Udah,” kataku.

Ia menoleh. “Makasih, Mbak.”

“Aku udah bilang. Kalau butuh sesuatu dari rak atas, panggil aku.”

“Mbak udah di sini sebelum saya panggil.”

“Itu namanya efisien.”

Ia tersenyum. Lalu menatap tangan kanannya sebentar, dan aku melihat sesuatu lewat di wajahnya. Sesuatu yang sangat cepat dan sangat lelah. Seperti orang yang sudah terlalu lama membawa barang berat dan baru sadar betapa beratnya.

“Aris,” kataku pelan.

“Iya, Mbak?”

“Nggak apa-apa nggak sampai.”

Ia menatapku.

“Rak itu yang terlalu tinggi,” kataku. “Bukan kamu yang kurang.”

Ia tidak menjawab. Ia mengambil kotak arsip dari pelukanku, membukanya, dan mulai mencari kontrak di dalamnya. Tapi telinganya merah. Dan ia tidak menatap tangan kanannya lagi.


Aku tidak mengerti semua yang dikerjakan Aris selama dua hari berikutnya.

Aku hanya tahu bahwa ia tidur empat jam di masing-masing malam. Aku tahu karena ia membalas pesanku jam dua pagi hari Rabu dan jam tiga pagi hari Kamis, dengan kalimat-kalimat pendek seperti Udah ketemu polanya, Mbak dan Tinggal validasi. Aku tahu bahwa staf gudang, staf Finance, dan staf Pengadaan yang awalnya duduk di ruang rapat kecil itu dengan wajah bingung, pada hari Kamis sudah memanggilnya Mas Aris dengan nada yang sama seperti orang memanggil guru favorit.

Dan aku tahu bahwa hari Jumat jam sepuluh pagi, di ruang rapat besar lantai sembilan, di depan Pak Harun, Bu Ambar, Lucky, dan seluruh staf Divisi Legal, Aris berdiri di depan layar dengan satu slide.

Hanya satu.

“Lintas Nusa Ekspres bilang kita kurang bayar delapan koma enam miliar,” katanya. Suaranya pelan seperti biasa, tapi terdengar sampai ke belakang ruangan. “Saya cocokkan semua tagihan mereka dengan data timbangan gudang kita dan data pembayaran Finance. Tiga tahun. Empat puluh satu ribu delapan ratus pengiriman.”

Ia menekan tombol. Slide berganti. Sebuah grafik garis, dua warna, berjalan berdampingan selama tiga tahun.

“Garis biru itu berat barang menurut timbangan gudang kita. Garis merah itu berat barang menurut tagihan Lintas Nusa.”

Garis merah selalu sedikit di atas garis biru. Selalu. Tidak pernah di bawah.

“Selisihnya kecil di setiap pengiriman,” lanjut Aris. “Rata-rata empat koma tiga persen. Cukup kecil supaya nggak ketahuan kalau dicek satu-satu. Lintas Nusa membulatkan berat setiap paket ke atas, ke kelipatan lima kilogram terdekat. Padahal di kontrak tarif yang asli, pasal sembilan, tertulis pembulatan ke satu kilogram terdekat.”

Pak Harun mencondongkan badan ke depan.

“Dan ada satu lagi,” kata Aris. Ia menekan tombol lagi. Grafik berganti menjadi diagram batang. “Setiap hari Jumat, ada pengiriman yang ditagih dua kali. Nomor resi beda, tapi isi, berat, tujuan, dan jam pengambilan sama persis. Kemungkinan karena sistem mereka mencetak ulang resi kalau pengiriman terlambat masuk gudang mereka di akhir pekan. Totalnya seribu dua ratus dua puluh tiga pengiriman ganda dalam tiga tahun.”

Ruangan itu sunyi.

“Kalau digabung,” kata Aris, menekan tombol terakhir, “kelebihan bayar dari pembulatan berat ditambah tagihan ganda, selama tiga tahun...”

Angka muncul di layar. Besar. Hitam. Di tengah slide putih.

Rp11.247.300.000

“Kita bukan kurang bayar delapan koma enam miliar, Pak,” kata Aris pelan. “Mereka yang kelebihan menagih sebelas koma dua miliar.”

Hening.

Lalu Bu Ambar tertawa. Pendek, kering, tapi sangat puas. Ia menoleh ke Pak Harun.

“Harun,” katanya. “Kayaknya kita yang harus kirim surat gugatan.”

Pak Harun menatap angka di layar, lalu menatap Aris, lalu menatapku. Wajahnya berubah dari orang yang baru menelan obat pahit menjadi orang yang baru memenangkan lotre.

“Monica,” katanya. “Siapkan draf gugatan balik. Hari ini.”

“Siap, Pak.”

Staf Legal di sekelilingku mulai bertepuk tangan. Satu, lalu dua, lalu semuanya. Staf gudang yang duduk di pojok ruangan bersiul. Lucky, di kursi direksi, mengetuk meja tiga kali dengan jari telunjuk, pelan, seperti waktu itu.

Aris berdiri di depan layar dengan remote di tangan, menatap lantai, telinganya merah sampai ke leher.

Aku menatapnya dari kursiku dan merasakan sesuatu yang sangat besar di dada. Bukan bangga. Bangga terlalu kecil. Sesuatu yang lebih besar dan lebih menakutkan, sesuatu yang membuatku ingin berdiri, berjalan ke depan, dan memeluknya di depan semua orang.

Aku tidak melakukannya.

Belum.


Pantry lantai sembilan kosong jam satu siang. Semua orang turun makan siang, merayakan kemenangan Legal dengan nasi padang yang dibayari Pak Harun.

Aku tidak ikut. Aku bilang harus menyelesaikan draf gugatan balik.

Aris juga tidak ikut. Ia bilang harus membereskan file-file analisis supaya bisa dipakai tim Legal.

Aku menemukannya di pantry, sedang mencuci tutup termos di wastafel. Kemeja putihnya kusut di bagian punggung. Ada bayangan gelap di bawah matanya. Rambutnya berantakan di bagian belakang, seperti ia tertidur sebentar di meja dengan kepala bertumpu di lengan.

Ia tidak mendengarku masuk.

Aku berdiri di ambang pintu pantry sebentar, menatap punggungnya. Bahunya yang sedikit miring, yang kanan lebih rendah dari yang kiri. Tangannya yang mencuci tutup termos dengan teliti, menggosok bagian dalamnya dengan spons, membilasnya, menggosok lagi.

Dua hari. Empat jam tidur per malam. Empat puluh satu ribu delapan ratus pengiriman. Sebelas koma dua miliar.

Dan sekarang ia berdiri sendirian di pantry, mencuci tutup termos, seperti tidak ada yang terjadi.

Aku berjalan masuk. Pelan. Ia masih tidak mendengar, karena air keran mengalir.

Lalu aku memeluknya dari belakang.

Kedua lenganku melingkar di pinggangnya. Pipiku menempel di punggungnya, di antara tulang belikat, di atas kemeja putih yang kusut. Wangi sabun bayi. Wangi teh. Wangi laki-laki yang belum tidur cukup selama dua hari.

Ia membeku.

Air keran terus mengalir. Tutup termos di tangannya berhenti bergerak. Seluruh tubuhnya diam, seperti patung, seperti orang yang baru saja tersengat listrik dan tidak berani bergerak karena takut tersengat lagi.

“Diem dulu,” bisikku di punggungnya. “Lima detik.”

Ia tidak bergerak.

“Aku lagi isi baterai.”

Satu.

Jantungnya berdetak di bawah pipiku. Cepat. Sangat cepat. Lebih cepat dari waktu di tangga darurat.

Dua.

Air keran masih mengalir. Ia tidak mematikannya. Mungkin ia lupa ada keran.

Tiga.

Tangannya yang memegang tutup termos perlahan turun ke dalam wastafel. Ia tidak melepaskan tutup termos itu. Tapi bahunya, yang tadi tegang seperti tali busur, perlahan mengendur.

Empat.

Lalu, dari sudut mataku, di balik dinding kaca pantry yang menghadap koridor, aku melihat seseorang lewat.

Evan.

Ia berjalan di koridor dengan ponsel di telinga, menuju ruang rapat Legal, mungkin mencari Aris. Ia melihat ke dalam pantry. Ia melihat kami. Ia berhenti berjalan, satu langkah, wajahnya berubah dari serius menjadi kaget menjadi sangat senang.

Lalu ia mengangkat jempol ke arahku. Dan melanjutkan berjalan, cepat, menghilang di ujung koridor, seperti tidak pernah lewat.

Lima.

Aku tidak melepaskan pelukanku. Lima detik sudah lewat. Aku tidak peduli.

Lalu Aris bicara. Suaranya pelan, sedikit serak, dan sangat, sangat sopan.

“Evan udah lewat, Mbak.”

Aku tidak bergerak.

“Dia lihat kok, Mbak,” lanjut Aris. “Tadi dia lihat ke sini.”

Pelan-pelan, aku membuka mata.

Aku menatap punggungnya. Kemeja putih yang kusut. Tutup termos di wastafel. Air keran yang masih mengalir.

Evan udah lewat. Dia lihat kok.

Aku melepaskan pelukanku.

Pelan. Satu lengan dulu, lalu lengan yang lain. Aku mundur selangkah. Aris mematikan keran, meletakkan tutup termos di rak pengering, lalu berbalik menghadapku.

Wajahnya merah. Telinganya merah. Matanya menatap lantai pantry. Tapi di wajahnya ada sesuatu yang membuatku ingin menangis dan tertawa sekaligus.

Ia terlihat seperti orang yang baru saja membantu.

“Aris,” kataku pelan. “Kamu pikir aku peluk kamu biar Evan lihat?”

Ia mengangkat wajah. Menatapku. Ragu.

“...Iya, Mbak?”

Aku menutup mata. Menarik napas. Membuka mata lagi.

“Kenapa?”

Aris menggaruk tengkuknya. Ia menatap wastafel, lalu menatap rak pengering, lalu menatap apa saja kecuali aku.

“Soalnya, Mbak,” katanya pelan, seperti orang yang sedang menjelaskan hasil analisis yang ia sendiri tidak yakin, “tiap kali Mbak deket sama saya, Evan selalu ada di sekitar. Waktu di tangga, Evan nggak ada, tapi Pak Joko lihat terus cerita ke semua orang, terus Evan pasti denger. Waktu di lift, ada Pak Reza, terus Pak Reza pasti cerita. Waktu di lantai tujuh, ada delapan orang, terus Dini pasti cerita ke Evan, karena Dini cerita semuanya ke Evan.”

Ia berhenti sebentar.

“Terus tadi pagi, di lobi, saya lihat Mbak ketawa-ketawa sama Evan. Kayak lagi ngerencanain sesuatu. Mbak kelihatan deket banget sama dia.”

Ya Tuhan. Tadi pagi. Evan dan aku di lobi, membicarakan rencana untuk menyeret Aris ke kondangan anak Bu Ambar minggu depan.

“Terus saya mikir,” lanjut Aris, sangat pelan. “Evan itu dari dulu nggak pernah ngejar siapa-siapa, Mbak. Cewek-cewek yang ngejar dia. Mungkin Mbak... mungkin Mbak mau lihat dia cemburu. Mau lihat dia ngejar balik. Dan saya kebetulan yang paling deket sama dia, jadi...”

Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya mengangkat bahu kiri. Bahu kanannya tetap diam.

“Jadi saya nggak apa-apa, Mbak,” katanya. “Saya ngerti. Kalau Mbak butuh bantuan biar Evan cemburu, saya bisa bantu.”

Pantry itu sunyi. Di luar, di koridor, terdengar suara lift berbunyi di kejauhan.

Aku menatap laki-laki di depanku. Laki-laki yang dua hari tidak tidur demi menyelamatkan sebelas koma dua miliar uang perusahaan yang bukan miliknya. Laki-laki yang membawa kotak jahit di ranselnya. Laki-laki yang baru saja dipeluk dari belakang di pantry kosong oleh perempuan yang menggunting kancing blazernya sendiri, yang menggoreng tempe empat kali, yang menggandeng lengannya di depan atasan yang menghinanya.

Dan yang masih berpikir, dengan sangat tulus, bahwa semua itu untuk orang lain.

Aku tertawa.

Aku tidak bisa menahannya. Tawa itu keluar dari dadaku seperti air dari bendungan yang jebol. Aku tertawa sampai harus berpegangan pada meja pantry, sampai mataku berair, sampai Aris menatapku dengan wajah khawatir dan mengulurkan tangan kiri seperti mau menahanku kalau aku jatuh.

“Mbak? Mbak nggak apa-apa?”

“Aku nggak apa-apa.” Aku menghapus air mata di sudut mata. Lalu tertawa lagi. “Ya Tuhan. Aris. Kamu...”

“Saya salah, Mbak?”

Aku berhenti tertawa. Aku menatapnya. Di wajahnya ada sesuatu yang membuat tawaku hilang sepenuhnya. Wajah seseorang yang sudah terbiasa salah. Yang sudah terbiasa jadi lelucon. Yang sedang menyiapkan diri untuk ditertawakan lagi.

Aku berhenti.

Aku melangkah mendekat. Tidak memeluknya. Hanya berdiri di depannya, cukup dekat untuk ia tidak bisa menatap ke tempat lain.

“Aris,” kataku pelan. “Dengerin.”

Ia menatapku.

“Evan selalu ada di sekitar kamu,” kataku. “Bukan di sekitar aku. Di sekitar kamu. Kamu makan siang sama dia. Kamu futsal sama dia. Kamu satu grup chat sama dia sejak SMA. Ke mana pun kamu pergi, Evan ada di sebelah kamu.”

Ia diam.

“Jadi ke mana pun aku deketin kamu, Evan pasti ada di sebelahnya. Itu bukan karena aku ngejar Evan. Itu karena aku ngejar kamu, dan Evan itu...” Aku mencari kata yang tepat. “Evan itu bonus yang nggak aku minta.”

Aris membuka mulut.

“Jangan ngomong dulu,” potongku. “Aku tahu kamu lagi bikin teori baru di kepala kamu. Aku bisa lihat dari mata kamu. Stop.”

Ia menutup mulutnya.

Aku menarik napas panjang.

“Oke,” kataku. “Mulai sekarang, aku punya rencana.”

“Rencana apa, Mbak?”

“Mulai sekarang, aku cuma bakal deketin kamu kalau Evan nggak ada.” Aku menatapnya lurus. “Nggak ada Evan. Nggak ada Lucky. Nggak ada Dini, nggak ada Pak Joko, nggak ada Mbak Wati. Biar kamu nggak bisa bikin teori lagi.”

Aris menatapku. Matanya bergerak, seperti sedang memproses data yang terlalu banyak sekaligus.

“Biar kamu tahu bedanya,” kataku pelan.

“Bedanya apa, Mbak?”

Aku tersenyum. Lalu berjalan ke pintu pantry. Di ambang pintu, aku berhenti dan menoleh.

“Bedanya pelukan buat bikin orang cemburu,” kataku, “sama pelukan karena aku kangen kamu dua hari nggak ketemu.”

Aku pergi sebelum ia bisa menjawab.


Sore itu, Evan mengirimiku pesan.

Mbak. Gue lewat pantry tadi. Gue kasih jempol. Gimana? Sukses?

Aku membalas.

Dia pikir aku peluk dia biar kamu cemburu.

Lima menit tidak ada balasan. Lalu:

...

Mbak gue harus pergi dari kantor ini. Gue harus pindah kota. Selama gue masih ada di radius lima meter dari dia, Mbak nggak bakal pernah menang.

Jangan pindah. Aku butuh kamu buat kondangan Bu Ambar.

Mbak masih mau pakai rencana kondangan?

Masih. Tapi revisi.

Revisi gimana?

Aku menatap layar ponsel. Lalu mengetik.

Kamu nggak boleh dateng.

Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.

Mbak. Itu kondangan anaknya Bu Ambar. Direktur Keuangan. Gue Head of Sales. Gue WAJIB dateng.

Dateng jam tujuh. Pulang jam tujuh lewat sepuluh. Salaman, foto, pulang.

Mbak ini kejam.

Aku legal officer. Bukan pengacara.

Apa bedanya??

Pengacara masih punya belas kasihan.

Evan mengirim stiker beruang kartun yang sedang menangis di pojok ruangan. Lalu satu pesan lagi.

Oke. Jam tujuh sampai tujuh lewat sepuluh. Demi Aris.

Demi Aris, tulisku.

Lalu aku meletakkan ponsel, menatap draf gugatan balik untuk PT Lintas Nusa Ekspres di layar laptopku, dan mulai mengetik pasal pertama. Angka sebelas koma dua miliar di layar. Nama yang tidak boleh kusebut di draf, karena ia minta ditulis tim analisis internal.

Aku mengetik tim analisis internal.

Lalu, di bagian bawah halaman, di catatan kaki yang hanya akan dibaca oleh Pak Harun dan Bu Ambar, aku menambahkan satu kalimat.

Analisis disusun oleh Aris Setiawan, Divisi Data, dalam waktu 48 jam.

Aku menyimpan file itu. Kalau ia tahu, ia akan protes.

Biar saja ia protes. Aku suka mendengarnya protes. Suaranya serius kalau sedang protes.