← Dari Awal, Bukan Buat Evan

Chapter Thirty Three

Nama Saya Aris Setiawan

POV: Aris


Hari Kamis, aku kembali ke lantai tujuh.

Aku naik tangga darurat seperti biasa. Di bordes antara lantai delapan dan sembilan, aku berhenti sebentar. Tidak ada siapa-siapa. Tapi di anak tangga paling atas, menempel di pegangan besi, ada kertas tempel kuning.

Pagi. —M

Hanya itu. Satu kata dan satu huruf.

Aku mencopotnya dengan hati-hati, melipatnya, dan memasukkannya ke halaman belakang buku catatan kecilku. Di sebelah plester kucing yang sudah kusut.

Lantai tujuh hangat. Itu hal pertama yang kusadari waktu membuka pintu kaca. AC-nya sudah dinaikkan menjadi dua puluh dua derajat, sesuai perintah Pak Hendra. Pak Darto tidak lagi memakai kupluk. Dini tidak lagi memakai jaket. Seseorang menaruh pot kecil berisi tanaman lidah buaya di setiap meja.

Lalu semua orang menoleh ke arahku.

Tidak ada yang bicara. Dini berdiri dari kursinya. Pak Darto berdiri. Mas Jono, yang sedang mengepel lantai dengan kaki kanan masih dibalut perban, menyandarkan gagang pelnya ke dinding.

Lalu Dini mulai bertepuk tangan.

Pelan. Satu tepukan. Dua.

Pak Darto ikut. Mas Jono ikut, dengan satu tangan memegang tongkat penyangga. Lalu semua orang di lantai tujuh, delapan staf Divisi Data dan dua petugas kebersihan dan satu teknisi AC yang kebetulan sedang lewat, berdiri dan bertepuk tangan.

Aku berdiri di ambang pintu dengan ransel di bahu kiri dan termos di tangan kanan, dan tidak tahu harus berbuat apa.

“Mas Aris,” kata Dini. Suaranya serak. “Mas nggak jadi pergi, kan?”

Aku menatap gambar krayon Kiki di sudut monitorku. Masih di sana. MAKASI OM TERMOS. Huruf S terbalik.

“Belum tahu, Din,” kataku jujur.

Dini menatapku. Lalu tersenyum.

“Belum tahu itu lebih bagus dari ‘iya’,” katanya.


Bu Ambar kembali dari Surabaya hari Jumat pagi, dan memanggilku ke ruangannya jam sembilan.

Ruangan Direktur Keuangan di lantai dua puluh. Dinding kaca yang menghadap Jalan Rasuna Said. Meja kerja dari kayu jati yang rapi, dengan tumpukan berkas yang disusun berdasarkan warna map. Rak buku berisi laporan keuangan tahunan dari tiga puluh lima tahun terakhir.

Di atas meja, terbuka, surat pengunduran diriku.

“Duduk, Aris.”

Aku duduk.

Bu Ambar tidak langsung bicara. Ia mengambil kacamata bacanya, memakainya, dan membaca surat itu sekali lagi. Pelan. Seperti membaca laporan audit yang angka-angkanya mencurigakan.

“Alasan pribadi,” katanya.

“Iya, Bu.”

“Saya udah denger soal ballroom.” Ia melepas kacamatanya. “Saya udah denger soal Hotel Mandarin. Soal cek lima ratus juta. Soal curug.” Ia menatapku. “Pak Hendra cerita semuanya kemarin malam. Bu Ratna juga telepon saya. Nangis.”

Aku tidak menjawab.

“Jadi saya tanya sekali,” kata Bu Ambar. “Alasan pribadi kamu masih ada?”

Aku menatap surat di atas meja. Tiga paragraf. Bahasa yang sangat sopan dan sangat formal. Terima kasih atas kesempatan selama enam tahun.

Aku menulisnya hari Minggu malam, setelah duduk di lantai di balik pintu kamarku sampai jam dua pagi, dengan Monica di sisi lain pintu yang bilang aku tetep tunggu. Aku menulisnya karena aku pikir pergi adalah satu-satunya cara untuk melindungi semua orang dari diriku sendiri.

Sekarang Bu Ratna sudah berlutut di teras rumahku. Lucky dan Evan sudah memelukku di atas batu di pinggir curug. Monica sudah memelukku dengan kedua lengannya, dan aku sudah memeluknya balik, dengan kedua tangan, untuk pertama kalinya.

“Bu,” kataku. “Boleh saya tarik suratnya?”

Bu Ambar menatapku lama. Lalu tersenyum. Senyum yang sama seperti di kondangan anaknya, waktu ia bilang jangan kelamaan.

Ia mengambil surat itu dari meja, melipatnya jadi dua, lalu jadi empat, lalu menyobeknya menjadi delapan bagian kecil. Ia membuang potongan-potongan itu ke tempat sampah di bawah mejanya.

“Udah saya tarik,” katanya. “Atas nama kamu.”

“Terima kasih, Bu.”

“Jangan terima kasih dulu.” Bu Ambar melipat tangan di atas meja. “Saya mau tanya satu hal lagi. Dan saya mau jawaban jujur.”

“Iya, Bu.”

“Selama enam tahun kerja di bawah Reza,” katanya, “berapa banyak laporan yang kamu buat tapi nama dia di sampulnya?”

Aku diam.

Bu Ambar menunggu.

Aku tahu jawabannya. Aku selalu tahu jawabannya. Aku punya catatan. Di folder di laptopku, dengan nama yang tidak mencolok. Bukan karena aku berniat menggunakannya. Aku hanya terbiasa mencatat. Aku analis data. Aku mencatat semuanya.

Selama enam tahun, aku tidak pernah membuka folder itu untuk siapa pun.

Apa yang aku mau?

Pertanyaan itu muncul di kepalaku. Pertanyaan yang sudah lama tidak kutanyakan pada diriku sendiri. Bukan apa yang terbaik untuk orang lain. Bukan apa yang tidak merepotkan siapa-siapa. Bukan apa yang membuat semua orang tenang.

Apa yang aku mau?

Aku mengangkat wajah dan menatap Bu Ambar.

“Dua ratus tiga belas, Bu,” kataku.

Bu Ambar tidak berkedip.

“Dan ada yang lain, Bu,” kataku. Suaraku pelan, tapi tidak gemetar. “Bukan cuma soal nama di sampul. Saya punya buktinya. Saya nggak pernah pakai. Tapi saya punya.”


Rapat itu diadakan hari Senin, di ruang rapat direksi di lantai dua puluh.

Hadir: Pak Hendra Wiratama. Bu Ambar. Kepala HRD, Pak Sugeng. Dua anggota Dewan Komisaris yang kebetulan sedang ada di Jakarta. Dan, duduk di ujung meja dengan blus putih sederhana dan wajah yang masih sedikit sembab, Bu Ratna Wiratama, yang ternyata sudah sepuluh tahun duduk di Dewan Komisaris dan selama ini jarang hadir di rapat.

Pak Reza duduk di sisi lain meja. Jas abu-abu. Rambut berpomade. Wajah yang pucat tapi masih berusaha terlihat tenang.

Aku berdiri di depan layar dengan laptop dan remote di tangan. Kemeja biru. Kemeja yang Monica bilang bahaya.

Aku tidak memakainya untuk Monica. Aku memakainya karena itu kemeja paling bagus yang kupunya.

Mungkin sedikit untuk Monica.

“Silakan, Aris,” kata Pak Hendra.

Aku menekan tombol.

Slide pertama. Judul sederhana, putih di atas latar biru tua.

Audit Internal: Integritas Pelaporan Divisi Data, Enam Tahun Terakhir.

Di bawahnya, di baris yang lebih kecil:

Disusun oleh: Aris Setiawan, Staf Analis Data.

Aku menatap baris itu sebentar. Namaku. Di slide. Di depan direksi.

Selama enam tahun, aku tidak pernah menulis namaku di slide mana pun.

Aku menekan tombol lagi.

Empat puluh menit berikutnya, aku mempresentasikan semuanya. Dua ratus tiga belas laporan yang kubuat dan diserahkan atas nama Pak Reza, lengkap dengan riwayat versi file yang menunjukkan siapa yang membuat dan siapa yang mengubah nama di sampul. Tujuh laporan yang angkanya diubah Pak Reza untuk membuat proyeksi Divisi Data terlihat lebih bagus di depan direksi, dengan perbandingan angka asli dan angka yang diubah. Tiga kali Pak Reza mengajukan klaim bonus kinerja berdasarkan laporan-laporan itu, dengan jumlah total yang disetujui Finance.

Aku tidak menaikkan suara. Aku tidak menyebut kata-kata seperti curang atau bohong. Aku hanya menunjukkan angka. Tanggal. Riwayat versi. Data.

Data tidak perlu suara keras.

Ruang rapat sunyi selama aku bicara. Bu Ambar mencatat. Pak Sugeng dari HRD mencatat lebih cepat lagi. Dua anggota Dewan Komisaris saling bertukar pandang setiap kali aku menunjukkan slide baru.

Bu Ratna tidak mencatat. Ia hanya menatapku. Dengan mata yang basah.

Pak Reza menatap meja.

Di slide terakhir, aku menampilkan satu tabel. Ringkasan. Tiga baris. Total laporan. Total angka yang dimanipulasi. Total bonus yang dicairkan berdasarkan laporan-laporan itu.

Lalu aku menurunkan remote.

“Itu saja, Pak, Bu,” kataku.


Pak Reza akhirnya mengangkat wajah.

“Ini...” Suaranya serak. “Ini konspirasi. Dia dendam sama saya, Pak. Karena saya pernah tegur dia soal kesalahan input di bulan Mei.”

“Kesalahan input yang Bapak buat sendiri jam sebelas malam, Pak Reza,” kata Bu Ambar tanpa mengangkat wajah dari catatannya. “Riwayat versi file-nya ada di slide nomor dua belas.”

Pak Reza membuka mulut. Menutupnya.

Lalu ia menoleh ke arahku. Matanya menyipit. Penuh sesuatu yang selama enam tahun ia sembunyikan di balik senyum dan pomade.

“Kamu pikir kamu siapa?” katanya. Suaranya rendah dan tajam. “Anak penjahit dari Jatiwaringin. Staf data biasa. Masuk ke sini karena kenal anak direktur. Dan sekarang kamu berdiri di depan Dewan Komisaris, sok-sokan audit atasan kamu sendiri?”

Ruang rapat membeku.

Bu Ratna menegakkan duduknya. Pak Hendra meletakkan pulpennya.

Aku menatap Pak Reza.

Dulu, enam tahun lalu, enam bulan lalu, bahkan dua minggu lalu di auditorium lantai lima belas, aku akan menunduk. Aku akan menatap lantai dan menunggu orang lain membelaku. Lucky. Evan. Monica.

Mereka tidak ada di ruangan ini.

Aku tidak menunduk.

“Saya staf Divisi Data, Pak,” kataku. Suaraku pelan. Tenang. “Yang selama enam tahun bikin laporan pakai template Bapak. Yang selama enam tahun naruh nama Bapak di sampul, karena Bapak yang minta.”

Pak Reza menatapku.

“Saya anak penjahit dari Jatiwaringin, Pak. Ibu saya Bu Sumi. Beliau jahit seragam sekolah anak-anak tetangga. Saya bangga sama beliau.”

Aku menatap Pak Reza lurus.

“Saya masuk ke sini lewat rekrutmen umum. Nilai tes tertulis saya yang tertinggi tahun itu. Pak Sugeng bisa cek.” Pak Sugeng, di ujung meja, mengangguk pelan. “Dan saya nggak sok-sokan, Pak. Bu Ambar yang nanya. Saya cuma jawab jujur.”

Aku meletakkan remote di meja.

“Nama saya Aris Setiawan, Pak,” kataku. “Dan analisis ini saya yang buat.”


Pak Reza diberhentikan dengan tidak hormat hari Rabu.

Keputusan itu diambil Dewan Komisaris secara bulat. Pak Sugeng dari HRD mengumumkannya lewat surel ke seluruh karyawan Divisi Data, singkat dan formal. Tidak menyebut namaku. Hanya menyebut hasil audit internal.

Tapi di grup Lantai 7 Garis Keras, Dini menulis satu pesan yang dibalas seratus dua puluh tiga kali dalam satu jam.

HASIL AUDIT INTERNAL DISUSUN OLEH ARIS SETIAWAN. NAMANYA ADA DI SLIDE PERTAMA. SAYA LIHAT SENDIRI WAKTU NGANTER KOPI KE RUANG RAPAT. DI SLIDE PERTAMA, TEMAN-TEMAN. SLIDE PERTAMA.

Dan di bawahnya, Pak Darto menambahkan:

Enam tahun saya tunggu ini. Akhirnya Mas Termos nulis namanya sendiri.


Kamis sore, Pak Hendra memanggilku ke ruangannya.

Bukan ruang rapat. Ruang kerjanya sendiri, di lantai dua puluh lima, di ujung lorong yang sepi. Ruangan dengan dinding kaca yang menghadap seluruh Jakarta, dan meja kerja dari kayu jati yang terlihat sangat tua.

Di atas meja itu, ada plakat kaca berbentuk tetesan air.

Penghargaan Insan Wiratama. Yang tidak jadi kuterima di ballroom.

Pak Hendra berdiri di depan dinding kaca, menatap kota di bawah. Ia tidak menoleh waktu aku masuk.

“Duduk, Aris.”

Aku duduk.

“Saya kenal kamu sebelas tahun,” katanya, masih menatap kota. “Dari anak SMA yang dateng ke rumah saya dengan sepatu yang solnya udah tipis. Sampai sekarang.”

“Iya, Pak.”

“Empat puluh delapan amplop.” Pak Hendra akhirnya menoleh. “Saya simpen semuanya. Di lemari kakek Lucky. Saya baca ulang kadang-kadang. Kalau saya lagi capek sama orang-orang di gedung ini. Kalau saya lagi ngerasa semua orang di sekitar saya cuma mau sesuatu dari saya.”

Ia berjalan ke meja dan duduk di kursinya, di seberangku.

“Amplop-amplop itu ngingetin saya bahwa masih ada orang yang nggak mau apa-apa,” katanya pelan. “Yang cuma mau bayar utang yang bahkan nggak pernah diminta.”

Ia mengambil plakat kaca itu dan meletakkannya di depanku.

“Saya tanya sekali lagi,” katanya. “Kamu mau terima ini?”

Aku menatap plakat itu. Tetesan air dari kaca, dengan logo perusahaan di dalamnya. Berkilau diterangi cahaya sore dari dinding kaca.

Di ballroom, aku bilang aku bukan orang yang pantas.

Yang pantas dapat apa itu Ibu yang tentuin. Bukan kamu.

Siapa yang tentuin?

Aku mengulurkan tangan dan mengambil plakat itu. Dengan tangan kanan. Plakat itu cukup ringan untuk tidak perlu diangkat tinggi.

“Terima kasih, Pak,” kataku. “Saya terima.”

Pak Hendra tersenyum. Senyum yang sangat jarang kulihat di wajahnya. Senyum seorang laki-laki tua yang lega.

“Satu lagi,” katanya. “Divisi Data butuh kepala baru. Bu Ambar rekomendasiin kamu. Dewan Komisaris setuju. Bu Ratna yang pertama angkat tangan.”

Aku membeku.

“Pelaksana tugas dulu. Enam bulan. Kalau kamu nggak suka, kamu bisa balik jadi analis. Nggak ada yang bakal maksa.” Pak Hendra menatapku. “Tapi saya mau kamu coba. Saya mau tahu Divisi Data kayak apa kalau dipimpin orang yang nggak butuh namanya di sampul.”

Aku menatap plakat di tanganku. Lalu menatap jendela, ke kota di bawah, ke Wiratama Tower di mana lantai tujuh sekarang hangat dan ada pot lidah buaya di setiap meja.

Apa yang aku mau?

“Saya mau coba, Pak,” kataku.


Malam itu, di kamarku, aku membuka laptop.

Aku membuka Proyek_ME_v2.xlsx. Empat tab lama. Profil. Titik Temu. Skenario. Evaluasi. Dan tab kelima, yang kubuat setelah Monica bilang ini buat yang bawa termos.

Aku?

Dengan tanda tanya.

Aku menatap tab itu lama.

Lalu aku menghapus empat tab yang lain. Satu per satu. Profil, dengan kolom Evan dan kolom Monica. Titik Temu. Skenario, dengan peluang berhasil tujuh puluh dua persen dan delapan puluh delapan persen. Evaluasi, dengan semua catatan kegagalan dan catatan pribadi yang kuhapus berulang kali.

Yang tersisa hanya satu tab.

Aku mengklik namanya. Menghapus tanda tanyanya.

Aku.

Lalu aku mengganti nama file itu. Bukan Proyek_ME. Bukan v3.

Aku mengetik nama baru, lalu menatapnya lama sebelum menyimpan.

Proyek_Monica.xlsx

Di sel A1, aku mengetik satu kalimat.

Tujuan: berhenti nunggu dipilih. Mulai milih.

Lalu aku membuka ponsel dan mengetik pesan ke grup Tukang Pos & Para Penerima Surat.

Van. Luck. Aku butuh bantuan.

Lima detik kemudian, Evan.

Evan: APA. KENAPA. LO DI MANA. LO SAKIT?

Aris: Nggak. Aku di rumah.

Lucky: Bantuan apa, Ris?

Aku menatap layar ponsel. Jari-jariku melayang di atas keyboard. Lalu aku mengetik kalimat yang tidak pernah kubayangkan akan kuketik seumur hidupku.

Aris: Ajarin aku ngegombal.

Hening. Lima detik. Sepuluh. Tiga puluh.

Lalu ponselku bergetar tanpa henti.

Evan: ...

Evan: ...

Evan: RIS

Evan: RIS INI HARI TERBAIK DALAM HIDUP GUE

Evan: GUE NANGIS. GUE BENERAN NANGIS. NYOKAP GUE NANYA GUE KENAPA

Lucky: Gue udah siapin presentasi. 47 slide. Besok jam 7 pagi di rumah lo. Bawa martabak.

Evan: LUCKY KENAPA LO UDAH SIAPIN PRESENTASI

Lucky: Gue udah siapin dari tiga tahun lalu, Van. Gue cuma nunggu dia minta.

Aku tertawa sendirian di kamar, dengan laptop di pangkuan dan noda bocor berbentuk peta Kalimantan di langit-langit.

Dari ruang tamu, mesin jahit ibuku berhenti.

“Ris?” panggilnya. “Kamu ketawa?”

“Iya, Bu.”

Hening sebentar. Lalu suara ibuku, pelan, seperti bicara pada dirinya sendiri.

“Alhamdulillah.”

Mesin jahitnya berbunyi lagi.