Chapter Forty
Dari Awal
POV: Aris
Jam empat pagi di hari akad, ibuku mengetuk pintu kamarku.
Aku sudah bangun. Aku tidak tidur sama sekali. Aku berbaring di kasur busa sejak jam sepuluh malam, menatap noda bocor berbentuk peta Kalimantan di langit-langit, dan menghitung. Jam. Menit. Detik. Sampai jam sembilan pagi, waktu ijab kabul dijadwalkan di masjid dekat rumah orang tua Monica di Bekasi.
Lima jam. Tiga ratus menit. Delapan belas ribu detik.
Aku menghitungnya tiga kali.
“Ris,” kata ibuku dari balik pintu. “Kamu udah bangun?”
“Udah, Bu.”
“Keluar sebentar. Ibu butuh kamu.”
Aku keluar. Ruang tamu masih gelap, hanya diterangi lampu kecil di atas mesin jahit. Ibuku duduk di depan mesin itu dengan daster batik dan rambut yang belum disanggul. Di pangkuannya, terlipat rapi, ada sesuatu berwarna putih gading.
Kebaya.
Kebaya akad Monica. Ibuku menjahitnya sendiri selama dua bulan. Brokat putih gading dengan bordir bunga melati di sepanjang tepi, dijahit tangan satu per satu dengan benang Jepang dari Lucky. Ibuku menolak bantuan siapa pun. Ia bilang kebaya ini harus ia jahit sendiri, dari awal sampai akhir.
Ia mengangkat kebaya itu dan membentangkannya di depan lampu kecil.
Bagian depan kebaya itu punya deretan kancing kecil. Kancing mutiara, bulat, berkilau di bawah lampu. Tujuh buah, dari leher sampai pinggang.
Tidak. Enam.
Kancing kedua dari atas tidak ada. Hanya ada lubang kancing yang sudah dijahit rapi, dan tempat kosong di sisi lain, menunggu.
Aku menatap tempat kosong itu.
“Bu,” kataku pelan. “Kancingnya kurang satu.”
“Ibu tahu.”
“Ibu lupa?”
“Ibu nggak pernah lupa jahit kancing, Ris.” Ibuku menatapku. Matanya bersinar di bawah lampu kecil. “Ibu sengaja.”
Ia mengambil sesuatu dari saku dasternya. Sebutir kancing mutiara. Bulat. Sama dengan enam kancing lainnya. Lalu ia mengambil jarum dari bantalan jarum di samping mesin jahit, dan segulung kecil benang.
Benang abu-abu.
Aku menatap benang itu.
“Kebayanya putih, Bu,” kataku. “Benangnya harusnya putih.”
“Kancingnya dijahit dari dalam. Benangnya nggak kelihatan.” Ibuku menyodorkan jarum, benang, dan kancing itu padaku. “Tapi dia bakal tahu.”
Aku menerima ketiganya. Jarum di tangan kiri. Kancing di telapak tangan kanan. Benang abu-abu.
Benang abu-abu yang kubeli di toko kain di Jatinegara dua bulan lalu. Yang banyak. Karena seseorang di tangga darurat pernah bilang benang abu-abunya beli lagi, yang banyak.
“Kancing kedua dari atas,” kata ibuku pelan. “Kamu yang jahit. Hari pertama kamu jahit kancing dia, di tangga darurat. Hari ini kamu jahit kancing terakhir kebaya nikahnya.”
Aku tidak bisa bicara.
Aku duduk di lantai ruang tamu, di depan mesin jahit ibuku, dengan kebaya putih gading di pangkuan. Aku memasukkan benang abu-abu ke lubang jarum.
Sekali coba. Seperti biasa.
Ibuku tersenyum.
Aku menjahit kancing itu pelan-pelan. Tusuk silang. Empat lubang. Lilitkan benang di bawah kancing supaya ada tangkainya. Simpul mati di balik kain. Persis seperti yang ibuku ajarkan waktu aku kelas tiga SD, dengan kancing celana seragam merahku yang lepas karena main bola.
Laki-laki juga harus bisa jahit kancing sendiri, Ris. Jangan nunggu istri.
Tanganku gemetar. Tidak pernah gemetar waktu menjahit. Sebelas tahun membawa kotak jahit di ransel, menjahit kancing orang di tangga, di toilet sekolah, di pinggir lapangan futsal. Tidak pernah gemetar.
Hari ini gemetar.
Aku menggigit benang untuk memutusnya. Lalu menatap kancing itu. Kancing kedua dari atas. Mutiara, bulat, berkilau, terpasang kokoh di kebaya putih gading.
“Udah, Bu,” kataku. Suaraku serak.
Ibuku mengambil kebaya itu dari pangkuanku. Melipatnya kembali dengan sangat hati-hati. Memasukkannya ke dalam tas kain putih yang sudah disiapkan.
Lalu ia meletakkan tangannya di pipiku.
“Bapakmu pasti bangga,” katanya.
Aku memejamkan mata. Air mata jatuh. Aku membiarkannya jatuh.
Di luar, adzan subuh mulai terdengar dari masjid di ujung gang.
Masjid di dekat rumah orang tua Monica di Bekasi tidak besar. Masjid kompleks perumahan biasa, dengan kubah hijau dan menara kecil, dan halaman yang cukup untuk tiga puluh mobil.
Hari itu, halamannya penuh.
Bukan tiga puluh mobil. Lebih. Aku tidak menghitung. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak menghitung.
Aku hanya melihat wajah-wajah.
Lantai tujuh datang dengan bus sewaan. Dini memakai kebaya biru muda dan sudah menangis sejak turun dari bus. Pak Darto memakai batik dan kopiah hitam, dan membawa tisu di setiap saku. Mas Jono, yang kakinya sudah sembuh, berdiri di dekat pintu masjid seperti penjaga kehormatan.
Pak Udin datang dengan seragam satpam yang disetrika licin. Katanya, ia sengaja memakai seragam, karena ia sudah menjaga kami dari awal, dan ia mau menjaga sampai akhir.
Mbak Wati datang dengan ponsel di tangan dan janji tidak akan membuat klasemen apa pun.
Bu Darsih datang dengan dua panci besar soto ayam, yang katanya untuk makan siang tamu setelah akad. Lucky sudah memesan katering. Bu Darsih bilang tidak peduli. Pak Kardi datang dengan gerobak wedang ronde-nya, diangkut dengan mobil bak terbuka, dan memarkirnya di pojok halaman masjid.
Bu Ambar datang dengan suaminya. Pak Harun datang dengan seluruh Divisi Legal. Bimo dari tim Sales datang dengan seluruh lantai dua belas.
Dan di dekat pintu samping masjid, memegang tangan Mbak Wati, ada anak perempuan kecil dengan kepang dua dan gaun merah muda. Kiki. Ia memegang selembar kertas gambar di dada.
Ia melihatku. Ia berlari ke arahku dan menyodorkan kertas gambar itu.
Gambar krayon. Seorang laki-laki berbentuk tongkat dengan peci hitam dan baju putih, berdiri di samping seorang perempuan berbentuk tongkat dengan kebaya putih dan rambut panjang. Di tangan laki-laki itu, benda silinder berwarna perak. Di atas kertas, dengan huruf besar-besar yang miring ke kanan:
SELAMAT OM TERMOS
Huruf S-nya masih terbalik. Dua-duanya.
Aku berlutut di depan Kiki dan memeluknya. Ia tertawa.
“Om Termos nangis,” katanya ke ibunya.
“Iya, Sayang,” kata Mbak Wati. Ia juga menangis.
Evan dan Lucky berdiri di kanan dan kiriku di depan meja akad.
Mereka memakai beskap putih yang sama, dengan blangkon yang sama, dijahitkan ibuku dengan benang Jepang yang sama. Evan di kanan. Lucky di kiri.
Evan sudah menangis. Sejak subuh. Lucky bilang Evan menangis di mobil dalam perjalanan dari Jakarta, menangis waktu memakai beskap, menangis waktu melihat Kiki dengan gambar krayonnya. Sekarang ia berdiri di sebelahku dengan mata merah dan hidung yang terus-menerus disedot.
“Van,” bisikku. “Kamu saksi. Kamu harus tenang.”
“Gue tenang,” isak Evan.
“Kamu nangis.”
“Gue nangis dengan tenang.”
Lucky, di kiriku, tidak menangis. Ia berdiri dengan punggung tegak dan wajah direktur. Tapi jarinya mengetuk pahanya tiga kali. Lalu tiga kali lagi. Lalu tiga kali lagi.
Di seberang meja akad, Pak Hartono duduk dengan beskap hitam dan peci. Di sebelahnya, penghulu dari KUA. Di belakang mereka, Bu Lestari, yang sudah menangis sejak sebelum aku datang.
Dan ibuku. Duduk di barisan depan, di sisi keluarga laki-laki, dengan kebaya ungu tua yang sama dengan waktu lamaran. Di sebelahnya, Bu Ratna. Mereka berdua bergandengan tangan.
Pak Hendra duduk di sebelah Bu Ratna. Renata di sebelah Pak Hendra, dengan jas hitam Lucky di pangkuannya, yang entah kenapa ia bawa ke mana-mana.
Monica belum ada.
Di Bekasi, pengantin perempuan tidak duduk di depan meja akad. Ia menunggu di ruangan lain, di rumah orang tuanya, sampai ijab kabul selesai. Lalu ia akan dibawa ke masjid, untuk bertemu suaminya untuk pertama kali.
Suaminya.
Aku menatap meja akad di depanku. Taplak putih. Mushaf Al-Quran. Mahar dalam kotak kaca: seperangkat alat salat, dan dua puluh gram emas, dan sebuah amplop kecil.
Amplop kecil itu bukan bagian dari mahar resmi. Aku menambahkannya sendiri. Isinya selembar kertas tempel kuning, dengan tulisan tangan kecil, rapi, sedikit miring ke kanan.
Ini bukan titipan. Dari awal. —A
Penghulu membuka acara.
Pak Hartono mengulurkan tangan ke seberang meja. Aku menjabatnya. Tangannya kering dan hangat, genggamannya kuat, seperti tangan Pak Hendra di lantai tujuh setelah kebakaran.
Masjid itu sunyi. Ratusan orang menahan napas.
Pak Hartono menatapku lurus. Mata seorang hakim. Mata seorang ayah.
“Saudara Aris Setiawan bin Almarhum Sutrisno,” katanya. Suaranya dalam dan jernih, terdengar sampai ke halaman masjid. “Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Monica Larasati binti Hartono Wibisono, dengan mas kawin seperangkat alat salat dan emas seberat dua puluh gram, dibayar tunai.”
Aku tidak menghitung. Aku tidak menunggu.
“Saya terima nikah dan kawinnya Monica Larasati binti Hartono Wibisono dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”
Satu napas. Tidak ada jeda. Tidak gemetar.
Hening.
Penghulu menoleh ke kanan. “Saksi?”
Evan, dengan mata merah dan hidung yang disedot, mengangkat kepala dan berkata dengan suara yang pecah di tengah: “SAH!”
Penghulu menoleh ke kiri. “Saksi?”
Lucky menatapku. Wajah direkturnya runtuh sepenuhnya. Air mata mengalir di pipinya. Ia mengangguk.
“Sah,” katanya pelan.
Lalu seluruh masjid berkata bersamaan.
“SAH!”
Aku tidak ingat apa yang terjadi beberapa detik setelah itu.
Aku hanya ingat doa yang dibacakan penghulu. Aku ingat Pak Hartono menepuk bahuku, bahu kiri, dan berkata jaga dia. Aku ingat ibuku menangis di bahu Bu Ratna, dan Bu Ratna menangis di bahu ibuku. Aku ingat Dini menjerit dari halaman masjid dan Pak Darto kehabisan tisu.
Dan aku ingat Evan dan Lucky memelukku dari dua sisi. Kanan dan kiri. Lucky di bahu kanan, Evan di bahu kiri.
“Ris,” bisik Evan di bahuku. Suaranya serak dan basah. “Sumpah kita.”
Lucky melepaskan pelukannya sedikit. Ia menatap Evan di seberang bahuku. Lalu mereka berdua menatap pintu masjid.
Pintu masjid yang baru saja terbuka.
POV: Monica
Mereka membawaku ke masjid sepuluh menit setelah ijab kabul.
Aku tidak mendengar suaranya waktu ia mengucapkan kalimat itu. Aku duduk di kamarku di rumah Papa, dengan kebaya putih gading yang dijahit Bu Sumi, menunggu. Mama ada di sebelahku, memegang tanganku. Renata ada di sebelahku yang lain, memegang tanganku yang satunya. Dan dari ponsel Renata, yang tersambung ke ponsel Lucky di masjid, aku mendengar semuanya.
Saya terima nikah dan kawinnya.
Suaranya tidak gemetar. Satu napas. Tidak ada jeda.
Lalu suara Evan, pecah. SAH! Lalu suara Lucky, pelan. Sah. Lalu ratusan suara bersamaan.
Aku menangis di kamarku sampai Mama harus memperbaiki riasan mataku tiga kali.
Sekarang aku berjalan masuk ke masjid. Mama di sebelah kiriku. Renata di sebelah kananku, memegang ujung selendang kebayaku supaya tidak terseret di lantai.
Ratusan wajah menoleh ke arahku. Aku tidak melihat mereka.
Aku hanya melihatnya.
Ia berdiri di depan meja akad. Beskap putih. Peci hitam. Di antara Evan dan Lucky yang berpelukan dengannya dari dua sisi, seperti malam itu di batu besar di pinggir curug.
Ia melihatku.
Evan dan Lucky melepaskan pelukan mereka. Mundur selangkah. Memberi ruang.
Aris berdiri di sana sendirian. Menatapku.
Wajahnya basah. Matanya merah. Lesung pipi kirinya muncul, pelan, sedikit gemetar.
Aku berjalan ke arahnya. Pelan. Satu langkah. Dua langkah. Karpet masjid yang lembut di bawah kakiku. Wangi melati dari bunga di sanggulku.
Aku berhenti di depannya.
Kami saling menatap. Tidak ada yang bicara. Masjid itu sunyi. Ratusan orang menahan napas.
Lalu aku mengulurkan tangan kananku. Ke arahnya. Sesuai adat. Istri mencium tangan suaminya.
Aris menatap tanganku. Lalu menggenggamnya.
Tapi ia tidak menunggu aku mencium tangannya.
Ia yang mengangkat tanganku lebih dulu, pelan, dengan tangan kanannya yang tidak bisa diangkat lebih tinggi dari telinga, sampai ke bibirnya. Dan ia mencium punggung tanganku. Lama. Matanya terpejam.
Masjid itu meledak dengan isakan. Dini. Pak Darto. Bu Darsih. Mama.
Lalu Aris menurunkan tanganku. Dan ia mencium keningku.
Pelan. Hangat. Bibirnya menempel di dahiku lama sekali, sangat lama, sampai aku bisa merasakan napasnya yang gemetar di kulitku.
“Monica,” bisiknya di keningku.
“Hm.”
“Kancing kedua dari atas.”
Aku membeku.
Aku menunduk. Menatap kebaya putih gading yang kupakai. Kancing mutiara kecil berkilau di sepanjang bagian depan. Tujuh buah.
Kancing kedua dari atas.
Aku menyentuhnya dengan ujung jari. Lalu, pelan, aku membalik sedikit tepi kain di sebelahnya, di bagian dalam, tempat benangnya dijahit.
Benang abu-abu.
Aku menatapnya. Lalu menatap Aris.
“Kamu,” bisikku.
“Tadi subuh,” katanya. “Ibu sengaja nggak jahit yang itu.”
Aku tidak bisa bicara. Air mataku jatuh, satu, ke kancing mutiara itu. Mama di belakangku menangis lebih keras. Renata harus memegangi bahuku.
Lalu aku tertawa. Di antara tangisku. Tawa yang pecah dan basah dan sangat, sangat bahagia.
“Benang abu-abu,” kataku.
“Kamu bilang beli yang banyak.”
“Aku bilang gitu karena aku motong kancing aku sendiri.”
“Aku tahu,” kata Aris. “Aku juga tahu kamu nggak bakal motong yang ini.”
Evan dan Lucky berdiri di belakang Aris. Mereka saling pandang. Lalu Evan menyedot hidungnya keras-keras, menegakkan punggung, dan melangkah maju.
“Ris,” katanya. “Sumpah kita.”
Aris menoleh.
Evan menatap Lucky. Lucky mengangguk.
Lalu mereka berdua mengucapkannya bersamaan. Dengan suara yang memantul di dinding masjid, di depan ratusan saksi, di depan Pak Hartono dan Bu Sumi dan Bu Ratna dan Pak Hendra.
“Yang ngerendahin Aris...”
Mereka berhenti. Lalu sama-sama melirik ke arahku.
“...sekarang urusan sama kita bertiga.”
Masjid itu hening sebentar.
Lalu dari barisan depan, dari kursi di sisi keluarga laki-laki, terdengar suara kecil, serak, dan sangat tegas.
“BEREMPAT!”
Bu Sumi. Berdiri dari kursinya dengan kebaya ungu tua dan tisu di tangan.
“Ibu juga ikut!” katanya.
“LIMA!” teriak Bu Ratna di sebelahnya.
“ENAM!” Itu Renata.
“TUJUH!” Itu Dini, dari halaman masjid.
“DELAPAN!” Pak Udin, dengan seragam satpamnya.
Lalu satu per satu, dari seluruh penjuru masjid dan halaman, orang-orang mulai berteriak angka. Pak Darto. Mas Jono. Bu Darsih. Pak Kardi. Bu Ambar. Pak Harun. Bimo dari Sales. Mbak Wati. Kiki, dengan suara kecil melengking, yang berteriak SEMBILAN! padahal angkanya sudah sampai dua puluh.
Aku menatap Aris.
Ia berdiri di tengah masjid dengan beskap putih, menatap ratusan orang yang meneriakkan angka untuknya. Untuk dia. Anak penjahit dari Jatiwaringin. Tukang pos sebelas tahun. Jembatan. Bayangan.
Wajahnya berubah. Pelan. Dari kaget, ke tidak percaya, ke sesuatu yang belum pernah kulihat di wajahnya sebelumnya.
Bukan senang. Senang terlalu kecil.
Itu wajah seseorang yang akhirnya, setelah sebelas tahun, berhenti bertanya kenapa aku?
Aku menggenggam tangannya. Erat. Jari-jariku menyelip di antara jari-jarinya.
Ia menoleh menatapku.
“Kamu lihat?” bisikku.
Aris menatap masjid yang penuh. Lalu menatapku. Air mata mengalir di pipinya, melewati lesung pipi kirinya.
“Aku lihat,” katanya.
Dari pojok halaman masjid, Bu Darsih mengangkat sendok kuahnya tinggi-tinggi dan berteriak dengan suara yang mengalahkan semua orang.
“TIGA RATUS DUA PULUH ENAM SAKSI! TIGA RATUS DUA PULUH ENAM! INI REKOR!”
“Kucing nggak dihitung, Bu!” teriak Lucky.
“KUCINGNYA NGGAK DATENG, PAK DINAS! INI MANUSIA SEMUA!”
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal reading
- 41 Epilog — Bukan Titipan