← Dari Awal, Bukan Buat Evan

Chapter Seven

Proyek Jodoh

POV: Aris


Nama file-nya Proyek_ME_v1.xlsx.

M untuk Monica. E untuk Evan. Aku sempat menimbang nama lain, seperti Rencana_Kolaborasi_Antardivisi, supaya kalau ada yang tidak sengaja melihat layarku, mereka mengira itu dokumen kerja. Tapi akhirnya aku memilih nama yang jujur. Aku tidak suka berbohong, bahkan ke nama file.

Spreadsheet itu punya empat tab.

Tab pertama: Profil. Dua kolom, Monica dan Evan, dengan baris-baris berisi data yang kukumpulkan selama seminggu terakhir. Makanan favorit. Jadwal kerja. Hobi. Kebiasaan. Untuk kolom Evan, semuanya terisi lengkap karena aku sudah mengenalnya sebelas tahun. Untuk kolom Monica, banyak sel yang masih kosong, dengan catatan kecil berwarna kuning: perlu observasi.

Beberapa sel sudah terisi.

Minuman: cappuccino (pagi), teh tawar (belajar? konfirmasi).

Parkir: B2, tapi sering ke B3 (alasan belum diketahui).

Suka: sabun bayi (?), motor tua (?), lesung pipi (??)

Aku menatap baris terakhir itu lama. Tanda tanya ganda itu kutambahkan tadi pagi, setelah memutar ulang percakapan di kedai kopi di kepalaku untuk kesekian kalinya. Aku masih tidak mengerti kenapa ia berkomentar soal lesung pipiku. Mungkin di keluarganya, lesung pipi dianggap pertanda baik. Mungkin ia sedang mengumpulkan data juga, seperti aku.

Tab kedua: Titik Temu. Daftar situasi di mana Monica dan Evan bisa bertemu secara alami, tanpa terlihat diatur. Rapat lintas divisi. Makan siang di warung soto. Futsal kantor hari Kamis. Acara ulang tahun karyawan bulan ini.

Tab ketiga: Skenario. Langkah-langkah yang bisa kulakukan untuk mendekatkan mereka. Masing-masing dengan kolom Risiko dan Peluang Berhasil.

Tab keempat masih kosong. Judulnya Evaluasi.

Aku menyimpan file itu dan menutup laptop. Hari Senin. Hari yang bagus untuk memulai proyek.


Skenario 1: Kursi Rapat. Peluang berhasil: 72%.

Rapat mingguan program loyalitas diadakan setiap Senin jam sepuluh di ruang rapat lantai lima belas. Peserta tetap: perwakilan Legal, Data, Sales, dan Corporate Communications. Kursi tidak ditentukan.

Aku datang lima belas menit lebih awal. Ruangan masih kosong. Aku meletakkan map di kursi nomor empat dari ujung, sisi kanan, lalu meletakkan termos di kursi nomor lima, tepat di sebelahnya.

Kursi nomor empat untuk Evan. Kursi nomor lima untuk Monica.

Aku sendiri duduk di kursi nomor sembilan, sisi seberang. Jauh. Cukup jauh untuk tidak mengganggu, cukup dekat untuk mengamati.

Evan masuk jam sepuluh kurang lima. Ia melihat mapku di kursi nomor empat, melihat termosku di kursi nomor lima, lalu melihatku di kursi nomor sembilan. Alisnya naik.

Aku mengangguk ke arah kursi nomor empat. Halus. Profesional.

Evan menatapku lama. Lalu ia berjalan melewati kursi nomor empat, melewati kursi nomor lima, memutar meja, dan duduk di kursi nomor sepuluh. Tepat di sebelahku.

“Van,” bisikku. “Itu kursimu di sana.”

“Kursi gue di mana aja gue duduk, Ris.”

“Ada map aku di situ. Udah aku tandain.”

“Gue lihat.” Ia membuka botol minumnya. “Map lo. Bukan map gue.”

Sebelum aku sempat menjawab, Monica masuk. Blazer krem, rambut diikat setengah. Ia melihat termosku di kursi nomor lima. Lalu matanya bergerak ke seberang meja, menemukanku dan Evan duduk berdampingan.

Ia tersenyum.

Lalu ia mengambil termosku dari kursi nomor lima, berjalan memutari meja dengan langkah tenang, dan duduk di kursi nomor delapan. Tepat di sisiku yang lain.

Ia meletakkan termos itu di depanku.

“Ketinggalan,” katanya.

“Makasih, Mbak.”

“Sama-sama.”

Sekarang aku duduk di antara Monica dan Evan, di kursi yang seharusnya tidak kupilih, dengan map dan rencana yang tertinggal di seberang meja. Rapat dimulai. Aku menatap kursi nomor empat dan lima yang kosong di sisi seberang, lalu melirik ke kiri, ke Monica yang sedang mencatat dengan tulisan tangan sangat rapi, lalu ke kanan, ke Evan yang sedang menahan tawa sampai bahunya berguncang.

Di tab Evaluasi, malam itu, aku menulis:

Skenario 1: Gagal. Penyebab: Evan tidak kooperatif. Kemungkinan Evan belum sadar. Perlu pendekatan lebih langsung.


Skenario 2: Makan Siang. Peluang berhasil: 81%.

Selasa siang, aku mengirim pesan ke Monica.

Mbak, siang ini Evan makan soto Bu Darsih jam 12. Saya ada urusan, nggak bisa ikut. Kalau Mbak mau gabung, Evan sendirian.

Itu bohong, tentu saja. Aku tidak ada urusan. Tapi itu bohong demi kebaikan, dan aku sudah menghitung bahwa satu kebohongan kecil sebanding dengan peluang delapan puluh satu persen.

Balasan Monica datang dua menit kemudian.

Urusan apa?

Aku menatap layar. Aku belum menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini.

Urusan kantor, Mbak.

Urusan kantor yang mana?

Laporan.

Laporan apa?

Laporan... retensi.

Kamu kirim laporan retensi hari Jumat. Aku tahu karena Pak Reza presentasi pakai laporan itu di rapat direksi kemarin.

Aku meletakkan ponsel di meja dan menatap langit-langit lantai tujuh. Di meja sebelah, Dini melirik layar ponselku dengan mata yang sangat penasaran. Aku membalik ponsel itu tengkurap.

Ponsel bergetar lagi. Aku membaliknya.

Aku makan soto jam 12. Kalau kamu ada, aku duduk di sebelah kamu. Kalau kamu nggak ada, aku nggak makan.

Aku membaca pesan itu tiga kali.

Lalu jam dua belas lewat lima, aku duduk di warung soto Bu Darsih, di antara Evan dan Monica, dengan mangkuk soto babat yang dipesankan Lucky untukku tanpa diminta.

“Katanya ada urusan,” kata Lucky, menatapku dari seberang meja.

“Udah selesai.”

“Cepet.”

“Iya. Cepet.”

Monica menyeruput kuah sotonya dengan tenang. Evan pura-pura sangat fokus pada kerupuknya. Bu Darsih lewat di belakang kami dan menepuk kepalaku sambil tertawa, entah kenapa.

Di tab Evaluasi:

Skenario 2: Gagal. Penyebab: Monica terlalu teliti. Catatan: jangan bohong ke orang Legal.


Skenario 3: Futsal Kamis. Peluang berhasil: 88%.

Ini rencana yang paling kusukai, karena paling alami.

Setiap Kamis sore, ada futsal kantor di lapangan sewaan dekat Setiabudi. Evan kapten tim. Biasanya penontonnya sedikit, cuma pacar-pacar pemain dan beberapa anak magang. Tapi kalau ada perempuan yang datang menonton dan duduk di tribun, dan kalau Evan kebetulan mencetak gol, dan kalau perempuan itu kebetulan tersenyum...

Aku tidak perlu mengatur apa-apa. Aku hanya perlu memastikan Monica datang.

Jadi hari Rabu, aku mampir ke lantai sembilan.

Aku tidak pernah ke lantai sembilan sebelumnya. Lantai itu lebih hangat dari lantai tujuh, dan lebih wangi. Ada pengharum ruangan otomatis di dinding yang menyemprot setiap lima belas menit, aroma melati. Semua orang di sana memakai blazer, tidak ada yang pakai kupluk.

Meja Monica ada di dekat jendela. Ia sedang membaca dokumen dengan stabilo kuning di tangan. Waktu melihatku, stabilonya berhenti di tengah kalimat.

“Aris.”

“Siang, Mbak.”

Beberapa kepala di lantai sembilan menoleh. Seorang perempuan di meja sebelah Monica menutup mulut dengan tangan. Aku berdiri di samping meja Monica dengan perasaan seperti orang yang salah masuk toilet.

“Ada apa?” tanya Monica. Ia meletakkan stabilonya dan memutar kursi sepenuhnya menghadapku. Senyumnya kecil, tapi matanya bersinar seperti anak kecil yang dibawakan oleh-oleh.

“Besok sore ada futsal kantor, Mbak. Di Setiabudi. Jam lima.”

“Terus?”

“Mbak mau nonton?”

Monica menatapku. Lama. Lalu ia menegakkan duduknya sedikit.

“Kamu ngajak aku nonton futsal?”

“Iya, Mbak. Evan main. Dia kapten. Mainnya bagus, Mbak. Kalau lagi bagus, dia bisa cetak tiga gol.”

Senyum di wajah Monica tidak hilang. Tapi ada sesuatu yang berubah di matanya. Seperti lampu yang diredupkan satu tingkat.

“Kamu main?” tanyanya.

“Main, Mbak.”

“Posisi apa?”

“Kiper.”

“Oke,” katanya. “Aku dateng.”

“Makasih, Mbak. Nanti...”

“Aku dateng buat nonton kiper.”

Aku berkedip. Monica sudah memutar kursinya kembali ke meja, mengambil stabilonya, dan melanjutkan menandai kalimat yang tadi terputus. Seolah percakapan kami sudah selesai.

Aku berdiri di samping mejanya beberapa detik lagi, tidak yakin apakah aku harus pergi atau menunggu.

Lalu Monica mengulurkan tangan tanpa melihatku. Jari-jarinya menyentuh kerah kemejaku. Ringan sekali, hanya ujung jari.

“Kerahmu kelipat,” katanya.

Ia merapikan kerah itu. Satu kali usap, dari belakang leher ke depan. Ujung jarinya menyentuh kulit leherku, dingin, hanya sepersekian detik.

Lalu ia menarik tangannya dan kembali menandai dokumen.

“Kamu mau ketemu orang pakai kerah begitu?” gumamnya, masih tanpa melihatku.

Aku tidak ingat bagaimana caranya keluar dari lantai sembilan. Aku hanya ingat aroma melati dari pengharum ruangan otomatis yang menyemprot tepat saat aku melewatinya, dan suara tawa tertahan dari perempuan di meja sebelah Monica.

Di dalam lift, aku menyentuh kerahku sendiri.

Kerahnya rapi sekarang. Lehernya masih terasa dingin di tempat jari Monica tadi menyentuh.

Itu pasti karena AC lantai sembilan.


Futsal hari Kamis berjalan seperti biasa, kecuali satu hal.

Ada penonton di tribun.

Bukan cuma pacar-pacar pemain dan anak magang. Di baris kedua tribun, duduk Monica dengan kaus putih dan jaket denim, rambut diikat ekor kuda, dengan gelas kopi di tangan. Di sebelahnya, Renata, yang entah kenapa memakai kacamata hitam di dalam gedung olahraga indoor. Dan di sebelah Renata, dengan kemeja linen dan wajah orang yang terpaksa hadir di acara arisan, duduk Lucky.

Lucky tidak pernah menonton futsal. Sebelas tahun, ia tidak pernah datang sekali pun. Katanya bau keringat orang lain mengganggu konsentrasinya.

“Kok Lucky dateng?” tanyaku ke Evan waktu pemanasan.

“Katanya mau lihat,” jawab Evan sambil meregangkan paha.

“Lihat apa?”

Evan menatap tribun. Aku mengikuti tatapannya. Lucky sedang bicara dengan Renata. Atau lebih tepatnya, berdebat. Renata menunjuk sesuatu di lapangan dengan semangat, Lucky menggeleng dengan wajah datar, Renata memukul lengannya, Lucky menatap lengannya sendiri seolah tidak percaya baru saja dipukul.

“Lihat itu,” kata Evan.

Aku tidak mengerti.

Pertandingan dimulai. Evan bermain bagus. Ia selalu bermain bagus. Di menit ketujuh, ia mencetak gol pertama dengan tendangan melengkung dari sudut kiri. Ia berlari ke pinggir lapangan, ke arah tribun, dan merayakan dengan pose khasnya. Dua tangan membentuk hati di depan dada.

Aku menoleh ke tribun, penuh harap.

Monica tidak bertepuk tangan. Ia tidak sedang melihat Evan.

Ia sedang melihat ke gawang. Ke arahku.

Aku buru-buru menatap ke depan lagi. Lawan sedang menyerang. Bola datang cepat dari sisi kanan, ditendang keras ke arah pojok atas gawang.

Pojok atas kanan.

Aku melompat ke kiri. Selalu ke kiri. Tangan kiriku terulur, ujung jarinya menyentuh bola, mengubah arahnya sedikit. Bola membentur tiang dan memantul keluar.

Dari tribun, terdengar tepuk tangan. Satu orang. Keras dan berirama.

Aku tidak perlu menoleh untuk tahu siapa.

Pertandingan berakhir empat-dua untuk tim kami. Evan mencetak tiga gol. Aku menyelamatkan enam tembakan, semuanya dengan tangan kiri atau kaki. Dua gol yang masuk ke gawangku, keduanya ke pojok atas kanan.

Waktu kami berjalan ke pinggir lapangan untuk minum, Monica sudah berdiri di ujung tribun, di dekat pintu keluar lapangan. Ia memegang dua botol air mineral.

Aku menyikut Evan. “Van. Itu buat kamu.”

Evan menatapku. Lalu menatap Monica. Lalu, dengan gerakan yang sangat lambat dan sangat sengaja, ia berbelok ke arah yang berlawanan, menuju bangku cadangan, dan mengambil botol minumnya sendiri dari tas.

“Udah bawa sendiri, Ris,” katanya keras-keras.

Monica berjalan mendekat. Ia mengulurkan satu botol padaku.

“Buat kiper,” katanya.

“Evan cetak tiga gol, Mbak.”

“Aku lihat. Bagus.” Ia masih mengulurkan botol itu. “Kamu nyelametin enam.”

“Kebobolan dua, Mbak.”

“Dua-duanya ke pojok kanan atas.” Monica menatapku. Bukan menatap mataku, tapi bahuku. Bahu kanan. Hanya sebentar, lalu matanya kembali ke wajahku. “Kamu nggak pernah lompat ke kanan.”

Aku menerima botol itu. Dingin. Aku membukanya dengan tangan kiri dan meminumnya, banyak, sampai setengah botol habis, karena itu lebih mudah daripada menjawab.

Monica tidak bertanya lagi. Ia hanya berdiri di sana, menungguku selesai minum, lalu tersenyum.

“Kerahmu kelipat lagi,” katanya.

Aku memakai kaus futsal. Kaus futsal tidak punya kerah.

Aku menunduk untuk mengecek. Ketika aku mengangkat wajah lagi, Monica sudah berjalan kembali ke tribun, ke arah Renata dan Lucky, dengan langkah ringan dan bahu yang sedikit berguncang.

Ia sedang tertawa.


Malam itu, di tab Evaluasi, aku menulis:

Skenario 3: Gagal. Penyebab: Evan sengaja menghindar (konfirmasi). Monica konsisten mengalihkan perhatian ke pihak ketiga (saya). Hipotesis: Monica belum siap mendekati Evan secara langsung, menggunakan saya sebagai perantara. Rekomendasi: pertahankan posisi sebagai perantara, tapi kurangi intensitas.

Aku membaca ulang paragraf itu. Lalu menambahkan satu baris di bawahnya.

Catatan pribadi: kerah.

Aku menatap baris itu. Lalu menghapusnya.

Lalu mengetiknya lagi.

Lalu menghapusnya lagi, menyimpan file, dan menutup laptop sebelum aku sempat mengetiknya untuk ketiga kalinya.

Di luar kamar, ponselku bergetar di atas meja makan, tempat aku meninggalkannya waktu mengambil air minum. Aku keluar untuk mengambilnya.

Ibuku sudah memegangnya. Ia sedang membaca layar dengan kacamata melorot ke ujung hidung.

“Bu.”

“Ibu nggak sengaja lihat,” katanya, menyodorkan ponsel itu padaku tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Lucky.”

Aku membaca pesan itu.

Ris. Gue nemu file lo di folder shared drive tim Data. Proyek_ME_v1.xlsx. Lo lupa ganti setting share-nya. Gue udah baca semua tab.

Peluang berhasil 88%?

RIS.

Pesan ketiga hanya berisi stiker. Seekor beruang kartun yang sedang menangis sambil tertawa.

Aku menatap layar. Lalu menatap ibuku. Ibuku tersenyum lebar, senyum yang sama seperti waktu aku kelas lima SD dan ketahuan menyimpan surat cinta dari teman sekelas di bawah kasur. Surat itu, ternyata, juga titipan untuk Evan.

“Bu, itu bukan...”

“Ibu nggak nanya apa-apa, Ris.”

Ia kembali ke mesin jahitnya. Aku kembali ke kamar dengan ponsel di tangan.

Di layar, satu pesan baru masuk dari Lucky.

Tab Profil. Kolom Monica. Baris “Suka: lesung pipi (??)”.

Ris. Itu tanda tanya ganda paling jujur yang pernah lo tulis seumur hidup lo.