← Dari Awal, Bukan Buat Evan

Chapter Six

Evan Tahu Duluan

POV: Monica


Evan sukanya americano. Tanpa gula. Kalau Mbak mau tahu.

Aku membaca pesan itu sebelas kali semalam. Dua kali lagi pagi ini, waktu menyikat gigi. Sekali lagi di lampu merah perempatan Kuningan, sampai mobil di belakangku membunyikan klakson panjang.

Aku tidak marah. Sungguh. Aku hanya sedang mempertimbangkan, dengan kepala dingin seorang profesional hukum, apakah menimpuk seseorang dengan dokumen kontrak dua ratus dua belas halaman termasuk penganiayaan ringan atau penganiayaan biasa.

Kedai kopi di lantai dasar Wiratama Tower buka jam tujuh. Aku sampai jam tujuh lewat lima, memesan dua cappuccino, dan duduk di meja dekat jendela yang menghadap pintu putar.

Aku memesan cappuccino, bukan americano. Itu pernyataan sikap.

Jam tujuh lewat dua puluh, Aris masuk lewat pintu putar dengan ransel di bahu kiri dan termos di tangan kanan. Kemeja putih. Rambut masih sedikit basah. Ia melihatku, mengangguk sopan, lalu berjalan ke mejaku dengan langkah orang yang dipanggil ke ruang kepala sekolah.

Di belakangnya, tiga langkah kemudian, masuk Evan Pradana.

Aku meletakkan cangkirku di meja. Pelan. Sangat pelan.

“Pagi, Mbak,” kata Aris. “Maaf, Evan ikut.”

“Saya bilang jangan bawa Evan.”

“Saya nggak bawa, Mbak. Kebetulan ketemu di parkiran.”

Evan, yang sekarang berdiri di belakang Aris, mengangkat kedua tangan seperti orang yang ditodong. “Sumpah, Mbak. Saya nggak tahu ada janjian. Saya cuma parkir, terus dia bilang ‘Van, temenin aku ngopi bentar, ada Mbak Monica’. Saya kira Mbak yang ngajak saya.”

“Saya nggak ngajak kamu.”

“Saya baru tahu, Mbak.”

Aris menarik kursi untuk Evan. Kursi tepat di depanku. Lalu ia sendiri duduk di kursi samping, setengah menyamping, seperti orang yang siap pergi kapan saja.

“Mbak pesan apa buat Evan?” tanyanya ramah. “Kalau belum, biar saya yang pesan. Americano, kan, Van?”

Evan menatap Aris. Aku menatap Aris. Barista di belakang meja kasir menatap kami bertiga, karena ini jam tujuh pagi dan kami satu-satunya hiburan di kedai itu.

“Saya udah pesan,” kataku, dan mendorong cangkir cappuccino kedua ke arah Aris. “Buat kamu.”

Aris menatap cangkir itu seperti menatap surat kaleng.

“Buat saya, Mbak?”

“Saya bilang saya traktir kopi. Ke kamu. Karena klausul tujuh.”

“Oh.” Ia menatap cangkirnya, lalu menatap Evan, lalu menggeser cangkir itu tiga sentimeter ke arah Evan. “Evan juga bantu kok, Mbak. Waktu Kiki.”

“Ris,” kata Evan pelan.

“Kamu yang nyelam, Van.”

“Ris.”

“Iya, iya. Kamu minum aja, aku bawa teh.” Ia mengangkat termosnya sedikit, seperti bukti.

Aku menarik napas panjang. Lalu mengulurkan tangan dan menarik cangkir itu kembali ke depan Aris. Sekali tarik. Kopinya bergoyang sedikit, tapi tidak tumpah.

“Aris,” kataku. “Minum.”

Ia menatapku. Aku menatapnya. Lalu, perlahan, ia mengangkat cangkir itu dan meminumnya. Seteguk. Busa susu menempel di bibir atasnya.

“Enak, Mbak,” katanya. “Makasih.”

Ia tersenyum. Dan aku melihat sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya, karena aku belum pernah duduk sedekat ini dengannya saat ia tersenyum dengan sungguh-sungguh.

Ada lesung pipi. Kecil sekali. Hanya di pipi kiri.

“Kamu punya lesung pipi,” kataku.

Aris berhenti tersenyum, refleks menyentuh pipinya. “Maaf, Mbak?”

“Cuma satu. Di kiri.” Aku menopang dagu dengan tangan, menatap pipi itu terang-terangan. “Curang.”

“Curang kenapa, Mbak?”

“Orang nggak siap lihatnya.”

Evan tersedak air putih yang sedang ia minum dari botol bawaannya sendiri. Aris menepuk punggung Evan dengan tangan kiri, wajahnya khawatir.

“Pelan-pelan, Van.”

“Iya,” kata Evan dengan mata berair, menatapku dari balik punggung tangan. “Iya. Pelan-pelan.”


Aris pergi lebih dulu. Katanya ada laporan yang harus dikirim sebelum jam delapan. Ia membawa cangkir cappuccino-nya yang masih setengah, berterima kasih padaku dua kali, lalu menepuk bahu Evan sebelum pergi.

“Van,” katanya. “Mbaknya baik.”

“Iya, Ris.”

“Kamu ngobrol ya. Jangan diem aja kayak tadi.”

“Iya, Ris.”

Lalu ia pergi lewat pintu tangga darurat, karena tentu saja ia tidak naik lift.

Evan dan aku duduk berhadapan dalam diam.

Ia menatapku. Aku menatapnya. Barista di belakang kasir pura-pura membersihkan mesin espresso yang sudah bersih.

Lalu Evan menyandarkan punggung ke kursi, melipat tangan di dada, dan berkata dengan suara yang jauh lebih pelan dari suara normalnya.

“Kamu ngincer Aris, kan?”

Aku tidak langsung menjawab. Aku mengambil cangkirku, menyesap cappuccino yang sudah dingin, dan meletakkannya kembali.

“Kenapa kamu pikir begitu?”

“Mbak. Saya Head of Sales. Kerjaan saya baca orang. Kamu lihat dia kayak orang lihat diskon tujuh puluh persen.”

“Dan saya lihat kamu?”

“Kayak lihat iklan yang nggak bisa di-skip.”

Aku tertawa. Tidak bisa kutahan. Evan tersenyum, tapi matanya tetap serius.

“Jadi bener,” katanya.

“Kamu nggak secakep itu, Van.”

Evan memegang dadanya, seperti baru saja ditembak. “Aduh.”

“Maaf.”

“Nggak, nggak. Saya pantas. Saya udah sebelas tahun nunggu ada cewek yang bilang begitu ke saya.” Ia menurunkan tangan dari dadanya, lalu mencondongkan badan ke depan, kedua siku di meja. “Mbak tahu dia mikir apa tentang Mbak?”

“Dia pikir saya lagi latihan.”

Evan berkedip. “Mbak udah tahu?”

“Dia keceplosan. Di villa.”

“Terus Mbak masih...”

“Masih.”

Evan menatapku lama. Kemudian ia menghela napas panjang, panjang sekali, dan memandang keluar jendela ke arah jalanan Kuningan yang mulai macet.

“Waktu SMA,” katanya, “ada tiga puluh tujuh surat buat saya yang dititipin lewat dia. Dua belas buat Lucky. Dia hitung. Saya nggak tahu dia hitung. Saya baru tahu minggu lalu.”

Aku diam.

“Buat dia, nggak ada satu pun. Nol. Dan itu bukan karena dia jelek atau nggak menarik, Mbak. Itu karena tiap kali ada yang ngelihat dia, mereka ngelihat ke sebelahnya. Ke saya. Ke Lucky. Dan dia...” Evan menggaruk tengkuknya. “Dia udah terbiasa. Dia kira emang begitu cara dunia kerja. Ada yang dilihat, ada yang ngelihatin.”

“Dia yang ngelihatin,” kataku pelan.

“Dia yang ngelihatin.” Evan mengangguk. “Dia yang inget ulang tahun semua orang. Dia yang tahu Pak Udin satpam parkir anaknya lagi sakit, terus diem-diem bayarin obatnya. Dia yang tahu siapa di lantai tujuh yang belum makan siang. Tapi kalau ditanya dia sendiri suka apa, dia bingung jawabnya.”

Aku menatap cangkir kosong di depan kursi Aris. Busa susu masih tersisa di pinggirnya, bekas bibirnya.

“Kenapa kamu ceritain ini ke saya?”

Evan tidak langsung menjawab. Ia menatapku dengan cara yang membuatku sadar, untuk pertama kalinya, bahwa di balik iklan pasta gigi dan salto di kolam renang, laki-laki ini sangat tajam.

“Karena kalau Mbak cuma penasaran,” katanya pelan, “kalau Mbak cuma pengen lihat cowok pendiem salah tingkah, kalau ini cuma permainan buat ngisi waktu di kantor baru, Mbak berhenti sekarang.”

Suaranya tidak keras. Tapi tidak ada canda di dalamnya sama sekali.

“Dia nggak pernah dipilih, Mbak. Sekali pun. Kalau Mbak bikin dia percaya dia dipilih, terus Mbak pergi...” Evan berhenti. Rahangnya mengeras. “Saya nggak tahu dia bakal jadi apa. Dan saya nggak mau tahu.”

Kedai kopi itu sunyi. Mesin espresso di belakang kasir berdesis sekali, lalu diam.

Aku meletakkan kedua tangan di atas meja. Aku pengacara, atau legal officer, atau apa pun Aris mau menyebutnya. Aku tahu kapan sedang diinterogasi. Dan aku tahu kapan saksi di depanku layak mendapat jawaban jujur.

“Van,” kataku. “Hari pertama saya di sini, kancing blazer saya lepas lima menit sebelum presentasi paling penting di karier saya. Dia jahit kancing itu dalam dua menit. Sambil jahit, dia nemu kesalahan satu koma dua miliar di slide saya. Terus dia pergi. Nggak nyebut nama. Nggak minta apa-apa. Salah arah, lagi.”

Evan diam.

“Saya udah ketemu banyak laki-laki pintar. Banyak yang baik. Beberapa yang ganteng.” Aku menatapnya dengan sengaja. Ia pura-pura tidak tersinggung. “Tapi saya belum pernah ketemu laki-laki yang nolongin saya terus kabur karena takut dibilang makasih.”

“Itu bukan jawaban, Mbak.”

“Saya belum selesai.” Aku menarik napas. “Saya nggak main-main, Van. Saya umur dua puluh tujuh. Saya pernah tunangan, dan saya ditinggal karena katanya saya terlalu galak. Saya udah nggak punya waktu buat main-main. Kalau saya ngejar seseorang, itu karena saya mau dia. Bukan karena bosan.”

Evan menatapku lama. Sangat lama. Lalu, perlahan, senyumnya kembali. Bukan senyum iklan. Senyum yang lebih tulus, lebih lelah, lebih lega.

“Terlalu galak,” ulangnya. “Mantan Mbak bodoh.”

“Saya tahu.”

“Aris nggak bakal mikir Mbak galak.”

“Aris mikir saya mau sama kamu.”

“Itu juga bodoh, tapi bodoh yang lucu.” Evan tertawa pelan, lalu mengulurkan tangan ke seberang meja. “Oke. Deal.”

“Deal apa?”

“Saya bantu Mbak. Saya nggak tahu caranya, tapi saya bantu. Dan saya nggak bakal bilang ke Aris apa-apa, karena kalau saya bilang, dia nggak bakal percaya. Dia bakal mikir saya lagi bercanda, atau lagi baik hati, atau lagi demam.”

Aku menatap tangannya. Lalu menyalaminya.

“Satu syarat,” kataku.

“Apa?”

“Kalau dia nyuruh kamu ngajak saya makan, jalan, nonton, apa pun, kamu tolak.”

Evan tertawa keras, keras sekali sampai barista menjatuhkan lap.

“Mbak,” katanya, menghapus air mata di sudut mata. “Mbak nggak tahu dia orangnya kayak gimana kalau udah punya proyek. Dia bakal bikin spreadsheet.”

“Spreadsheet?”

“Dia orang data, Mbak. Semuanya jadi spreadsheet.” Evan berdiri, mengambil botol air minumnya, lalu menatapku dengan wajah setengah kasihan, setengah sangat terhibur. “Mulai minggu ini, Mbak, hidup saya bakal jadi neraka. Dan itu semua gara-gara Mbak.”

“Maaf.”

“Nggak usah minta maaf.” Ia menyeringai. “Saya udah lama nggak sesenang ini.”


Ternyata Lucky juga tahu. Atau setengah tahu.

Aku mengetahuinya siang itu, di pantry lantai sembilan, waktu aku sedang membuat teh. Teh celup, air panas, tanpa gula. Aku sedang berlatih. Rasanya masih seperti minum air rebusan daun, tapi pelan-pelan lidahku mulai terbiasa.

“Kamu minum teh tawar sekarang?”

Aku menoleh. Renata berdiri di ambang pintu pantry, bersandar ke kusen, dengan wajah orang yang menangkap basah sahabatnya mencuri sesuatu.

“Lagi belajar,” kataku.

“Kamu benci teh tawar. Kamu pernah bilang teh tawar itu minuman orang yang menyerah sama hidup.”

“Aku salah.”

Renata masuk dan bersandar di meja pantry di sebelahku. Ia tidak membuat minuman. Ia hanya memperhatikanku mencelupkan kantong teh naik turun.

“Lucky nanya-nanya soal kamu tadi,” katanya.

“Lucky?”

“Pak Lucky. Direktur. Yang sok cool itu.” Ia mengatakan sok cool dengan nada yang sama sekali tidak terdengar seperti menghina. “Dia nanya kamu orangnya kayak gimana. Serius atau nggak. Pernah pacaran berapa kali. Kenapa putus tunangan.”

Aku berhenti mencelupkan teh. “Kamu jawab?”

“Sebagian.” Renata tersenyum kecil. “Aku bilang kamu orangnya kayak buldoser. Kalau udah mau sesuatu, jalan terus. Nggak peduli ada tembok.”

“Ren.”

“Itu pujian.”

“Kenapa Lucky nanya?”

Renata mengangkat bahu. “Mungkin karena kamu sering deket-deket temennya. Mungkin dia protektif. Orang kaya kan biasanya gitu, curiga sama semua orang yang deket-deket lingkaran mereka.”

Ada sesuatu di cara ia mengucapkan kalimat terakhir itu. Sesuatu yang terdengar seperti kalimat orang lain yang ia ulang. Tapi sebelum aku sempat bertanya, ia sudah tersenyum lagi, menepuk bahuku, dan berjalan keluar pantry.

“Oh, Mon,” katanya dari ambang pintu, berbalik. “Aris itu. Dia baik, ya?”

“Kenapa nanya?”

“Nggak apa-apa.” Ia menatapku sebentar dengan mata yang aneh, mata yang seperti sedang menimbang sesuatu yang berat. “Semoga dia baik beneran.”

Lalu ia pergi.

Aku menatap pintu pantry yang kosong. Lalu menatap teh tawar di tanganku.

Aku menyesapnya. Masih seperti air rebusan daun.

Tapi kali ini, entah kenapa, rasanya sedikit lebih bisa diterima.