Chapter Twenty One
Itu DP
POV: Monica
Lucky Wiratama menembak Renata di warung soto Bu Darsih, hari Selasa, jam dua belas lewat tujuh belas menit, di depan dua puluh tiga orang saksi.
Aku tahu jumlahnya karena Bu Darsih menghitungnya keras-keras sesudahnya, sambil menunjuk satu per satu pelanggan yang duduk di bawah tenda biru itu. “Dua puluh tiga orang, Pak Dinas. Dua puluh tiga. Kalau nanti Mbaknya nolak, Bapak nggak bisa bohong.”
Tapi aku mulai dari awal.
Hari itu panas. Panas Jakarta di akhir November, yang membuat aspal mengeluarkan uap dan semua orang di gang belakang Wiratama Tower bergerak seperti sedang berenang di sirup. Tenda biru Bu Darsih penuh seperti biasa. Kami berlima duduk di meja pojok yang kaki kanannya diganjal sandal jepit bekas, meja yang sekarang sudah dianggap Bu Darsih sebagai meja “rombongan Pak Dinas”.
Berlima. Itu baru. Sejak kondangan Bu Ambar, Renata mulai ikut makan siang bersama kami. Tidak setiap hari. Tapi cukup sering sampai Bu Darsih mulai menyiapkan lima mangkuk tanpa ditanya.
Evan sedang bercerita soal klien di Bekasi yang memaksanya karaoke sampai jam satu pagi. Aris mendengarkan sambil memisahkan bawang goreng dari sotonya, karena katanya bawang goreng Bu Darsih hari ini terlalu gosong. Renata duduk di sebelah Lucky, diam, mengaduk sotonya tanpa memakannya.
Dan Lucky, aku perhatikan, sudah tiga kali meletakkan sendok, mengambilnya lagi, lalu meletakkannya lagi.
“Luck,” kata Evan, berhenti bercerita. “Lo kenapa? Sendoknya salah apa sama lo?”
Lucky tidak menjawab. Ia menatap mangkuk sotonya. Lalu menatap Renata. Lalu menatap mangkuk sotonya lagi.
Lalu ia berdiri.
Kursi plastik merahnya terdorong ke belakang, menabrak kaki meja sebelah. Pelanggan di meja sebelah, dua bapak berseragam ojek online, menoleh.
“Renata,” kata Lucky.
Renata mengangkat wajah. Sendok di tangannya berhenti mengaduk.
“Iya?”
“Saya mau ngomong sesuatu.” Lucky merapikan jasnya. Lalu dasinya. Lalu merapikan jasnya lagi, padahal tidak ada yang perlu dirapikan. “Saya udah nyiapin ini dari minggu lalu. Saya udah bikin draf. Tiga versi. Evan baca semuanya dan bilang semuanya jelek.”
“Emang jelek,” kata Evan.
“Diem, Van.”
“Versi kedua lo kutip pasal dari undang-undang perkawinan, Luck.”
“Itu konteks hukum yang relevan.”
“Itu nembak cewek, bukan sidang!”
Aku menutup mulut dengan tangan. Aris, di sebelahku, berhenti memisahkan bawang goreng dan menatap Lucky dengan mata lebar. Bu Darsih, yang sedang menyendok kuah di belakang gerobak, berhenti menyendok.
Lucky menarik napas panjang. Ia mengabaikan Evan. Ia hanya menatap Renata.
“Saya nggak pinter ngomong soal ini,” katanya. “Saya bisa negosiasi kontrak lima ratus miliar. Saya bisa presentasi ke dewan komisaris. Tapi saya nggak bisa milih kado tanpa bantuan kamu. Saya nggak bisa bungkus kado. Saya nggak tahu bedanya kalung berlian sama benang jahit.”
Renata menatapnya. Bibirnya terbuka sedikit.
“Dan sejak kamu dateng ke kantor,” lanjut Lucky, lebih pelan, “saya selalu nyari alasan buat duduk di sebelah kamu di rapat. Saya baca semua press release kamu sampai paragraf terakhir, buat nyari salah ketik yang kamu sengaja. Saya nemu tiga. Saya simpen semuanya.”
“Lucky...”
“Saya nggak tahu cara ngomongnya yang bener,” kata Lucky. “Jadi saya ngomong yang jujur aja.”
Ia diam sebentar.
“Saya suka kamu, Renata Kusuma. Kamu mau jadi pacar saya?”
Warung soto Bu Darsih hening.
Dua puluh tiga orang menatap meja kami. Dua bapak ojek online. Tiga karyawati dari gedung sebelah. Seorang kurir paket yang baru saja duduk. Bu Darsih dengan sendok kuah terangkat di udara. Bahkan kucing belang yang biasa tidur di bawah gerobak membuka satu matanya.
Renata menatap Lucky.
Aku menatap Renata. Dan aku melihat sesuatu yang aneh di wajahnya. Bukan kaget. Bukan bahagia, setidaknya tidak sepenuhnya. Aku melihat sesuatu yang lain di sana, sesuatu yang terlihat seperti orang yang sedang berdiri di tepi jurang dan baru saja ditawari tangan untuk dipegang. Senang, takut, dan sangat sedih sekaligus.
“Lucky,” katanya pelan. “Kamu nggak tahu semua hal soal aku.”
“Saya tahu cukup.”
“Kamu nggak tahu...”
“Saya tahu kamu nangis waktu bungkus kado buat Bu Sumi.” Lucky menatapnya. “Kertas kadonya ada bekas air mata. Kamu ganti dua kali, tapi yang ketiga masih ada bekasnya di pojok. Saya lihat waktu Bu Sumi buka.”
Renata menutup mulutnya dengan tangan.
“Saya nggak tahu kenapa kamu nangis,” kata Lucky. “Saya nggak akan maksa kamu cerita. Tapi saya mau jadi orang yang ada di sebelah kamu waktu kamu nangis lagi. Kalau kamu ngizinin.”
Air mata jatuh dari mata Renata. Satu. Lalu dua.
Lalu ia mengangguk.
Kecil sekali. Hampir tidak kelihatan. Tapi ia mengangguk.
“Iya,” bisiknya. “Iya, Lucky.”
Bu Darsih menjatuhkan sendok kuahnya ke dalam panci.
Lalu warung itu meledak. Dua bapak ojek online bertepuk tangan dan bersiul. Tiga karyawati gedung sebelah menjerit. Kurir paket memukul meja. Evan berdiri di kursinya, benar-benar berdiri di atas kursi plastik yang goyang, dan berteriak “AKHIRNYAAAA” dengan suara yang membuat kucing belang di bawah gerobak kabur ke ujung gang.
Bu Darsih mengambil sendok kuahnya dari panci, lalu menunjuk satu per satu pelanggan dengan sendok itu sambil menghitung keras-keras.
“Dua puluh tiga orang, Pak Dinas! Dua puluh tiga saksi! Kalau nanti Mbaknya nolak, Bapak nggak bisa bohong!”
“Dia udah bilang iya, Bu!” seru Evan dari atas kursi.
“Saya tahu! Saya catat!”
Lucky masih berdiri, menatap Renata dengan wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya. Wajah orang yang baru saja memenangkan sesuatu yang jauh lebih penting dari kontrak lima ratus miliar. Ia duduk kembali, perlahan, dan menggenggam tangan Renata di atas meja.
Renata membiarkan tangannya digenggam. Ia tersenyum di antara air matanya. Tapi aku, sahabatnya sejak kelas sepuluh, melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.
Waktu Lucky menggenggam tangannya, Renata memejamkan mata. Bukan karena bahagia.
Seperti orang yang sedang meminta maaf dalam hati.
Di sebelahku, Aris bertepuk tangan pelan.
Ia tersenyum lebar, dengan lesung pipi kiri yang curang. Matanya berkilau. Ia menatap Lucky dengan wajah seorang kakak yang menyaksikan adiknya menang lomba.
“Selamat, Luck,” katanya.
Lucky menoleh. Matanya merah. “Makasih, Ris.”
“Draf ketiga yang kamu pakai?”
“Nggak. Gue nggak pakai draf sama sekali.”
“Bagus. Draf ketiga kamu juga kutip pasal.”
Evan tertawa sampai hampir jatuh dari kursi. Lucky melempar kerupuk ke arah Aris. Aris menangkapnya dengan tangan kiri dan memakannya.
Aku menatap Aris dari samping. Ia benar-benar bahagia untuk Lucky. Tidak ada sedikit pun rasa iri di wajahnya, tidak ada pertanyaan kenapa bukan aku. Hanya bahagia yang murni, bahagia yang biasa dirasakan orang yang sudah terlalu lama berdiri di pinggir dan menonton orang-orang yang ia sayangi mendapatkan apa yang mereka mau.
Aku ingin bertanya kapan terakhir kali ia membiarkan dirinya mendapatkan sesuatu.
Aku tidak bertanya. Tidak di sini. Tidak di depan dua puluh tiga saksi.
Evan mengusulkan perayaan.
“Weekend ini,” katanya, masih berdiri di atas kursi, karena entah kenapa ia tidak mau turun. “Kita ke pantai. Anyer. Berlima. Sewa villa. Bakar ikan. Lucky yang bayar, karena dia baru jadian.”
“Kenapa gue yang bayar?”
“Itu tradisi, Luck.”
“Tradisi dari mana?”
“Tradisi yang baru gue bikin sekarang.”
Renata tertawa, akhirnya, tawa yang lebih tulus. Lucky mengangkat bahu dengan wajah pasrah tapi bahagia. “Oke. Anyer. Sabtu-Minggu.”
“Ris, lo ikut, kan?” tanya Evan.
Aris berhenti tersenyum.
Hanya sebentar. Sepersekian detik. Tapi aku melihatnya. Senyumnya berhenti, lalu kembali, sedikit lebih kaku dari tadi.
“Aku nggak bisa, Van.”
“Kenapa?”
“Ibu ada pesanan banyak. Seragam sekolah. Aku harus bantu antar.”
Evan menatap Aris. Lucky menatap Aris. Dan aku melihat sesuatu lewat di antara mereka bertiga. Sesuatu yang sudah sangat tua, sesuatu yang tidak perlu dibicarakan.
Pantai. Laut. Air.
“Oke,” kata Evan, turun dari kursi akhirnya. Suaranya biasa saja. Terlalu biasa. “Nanti gue bawain oleh-oleh.”
“Ikan asin aja, Van. Ibu suka.”
“Siap.”
Aku menatap Aris. Ia menatap mangkuk sotonya, memisahkan bawang goreng yang tersisa.
“Aku juga nggak ikut,” kataku.
Semua orang menoleh.
“Mon?” Renata menatapku. “Kenapa?”
“Aku ada kerjaan. Draf gugatan balik Lintas Nusa. Pak Harun minta Senin pagi.”
Itu bohong. Draf itu sudah selesai Jumat lalu. Renata tahu itu bohong, karena aku mengirim draf itu ke grup kantor dengan Renata di dalamnya. Lucky mungkin juga tahu. Evan pasti tahu, karena Evan tahu semuanya.
Tapi tidak ada yang membantah.
Aris menoleh ke arahku. Ia menatapku dengan wajah yang aneh. Seperti orang yang tahu ia sedang dilindungi, tapi tidak tahu dari apa.
“Mbak harusnya ikut,” katanya pelan. “Pantainya bagus. Mbak suka renang.”
“Kamu tahu dari mana aku suka renang?”
“Renata pernah cerita. Mbak atlet renang waktu SMA.”
Aku menatapnya. Ia mendengarkan. Ia mengingat. Di antara semua angka dan data di kepalanya, ia menyimpan cerita Renata soal aku yang dulu atlet renang.
“Udah lama,” kataku. “Aku udah nggak suka air.”
Ia menatapku lama.
Lalu menunduk ke sotonya lagi. Tapi telinganya merah. Dan bibirnya bergerak sedikit, seperti mau mengatakan sesuatu yang akhirnya tidak jadi dikatakan.
Basement B3, jam lima lewat dua puluh sore.
Aku tidak punya alasan untuk berada di B3. Mobilku sudah keluar dari bengkel. Mobilku diparkir di B2, seperti biasa.
Aku turun ke B3 juga.
Aris sedang memakai jas hujan biru tua dari Lucky, padahal langit di luar cerah. Ia memasukkan termos ke kantong samping ransel. Motor bebek birunya sudah menyala, batuk-batuk pelan seperti orang tua yang baru bangun tidur.
Ia melihatku. Ia mematikan mesin.
“Mbak nyasar lagi?”
“Nggak.”
“Mobil Mbak di B2.”
“Aku tahu.”
Ia diam. Aku berjalan mendekat, melewati genangan air kecil di dekat pilar, dan berhenti di samping motornya. Pak Udin di pos jaga sedang membaca koran. Atau pura-pura membaca koran.
“Hari ini cerah,” kataku. “Kenapa pakai jas hujan?”
“Kata ramalan cuaca, jam enam hujan, Mbak.”
“Kamu percaya ramalan cuaca?”
“Saya percaya data, Mbak. Ramalan cuaca pakai data.”
Aku tersenyum. Ia juga.
Lalu aku menatap jas hujan biru tua itu. Bagian ketiaknya yang diperkuat jahitan ganda. Lucky benar. Laki-laki ini tidak akan pernah membeli sesuatu untuk dirinya sendiri kalau barang lamanya masih bisa dipakai, bahkan kalau sudah robek.
“Aris,” kataku.
“Iya, Mbak?”
“Soal Anyer. Kamu nggak ikut bukan karena pesanan seragam.”
Ia diam. Tangannya di setang motor.
“Aku nggak nanya kenapa,” kataku cepat. “Aku nggak akan nanya. Aku cuma mau kamu tahu, aku tahu.”
Ia menatapku. Lama. Di wajahnya ada sesuatu yang sangat rapuh, seperti kaca tipis yang baru saja ditiup.
“Kenapa Mbak juga nggak ikut?” tanyanya pelan.
“Karena kamu nggak ikut.”
“Itu bukan alasan, Mbak.”
“Itu satu-satunya alasan.”
Pak Udin membalik halaman korannya dengan suara yang sangat keras.
Aris menatap setang motornya. “Mbak harusnya ikut. Mbak suka pantai. Mbak bisa renang. Mbak bisa seneng-seneng sama Renata, Lucky, Evan. Mbak nggak perlu...”
“Aris.”
“Iya, Mbak?”
“Aku nggak perlu apa-apa,” kataku. “Aku mau.”
Lalu aku membungkuk, cepat, dan mencium pipinya.
Pipi kiri. Di tempat lesung pipinya biasa muncul. Sebentar sekali. Hanya sentuhan bibir di kulit yang hangat, sedikit kasar karena belum bercukur sejak pagi. Wangi sabun bayi.
Aku menegakkan badan.
Aris tidak bergerak. Sama sekali. Tangannya masih di setang. Matanya menatap lurus ke depan, ke pilar beton di seberang basement, dengan pupil yang melebar.
Di pos jaga, Pak Udin menjatuhkan korannya.
“Itu DP,” kataku.
Aris berkedip. Pelan. Satu kali.
“DP...?”
“Uang muka. Down payment.” Aku mundur selangkah, lalu satu langkah lagi, ke arah tangga B2. “Pelunasannya nanti.”
“Mbak...”
“Hati-hati di jalan. Katanya jam enam hujan.”
Aku berbalik dan berjalan ke tangga. Langkahku cepat, terlalu cepat, karena kalau aku berjalan lebih pelan, aku akan berbalik lagi dan melakukan sesuatu yang jauh lebih besar dari uang muka.
Di anak tangga pertama, aku menoleh.
Ia masih duduk di atas motornya. Tidak bergerak. Satu tangan di setang. Tangan yang lain, tangan kiri, sekarang terangkat, menyentuh pipi kirinya sendiri, di tempat aku menciumnya tadi.
Ia menyentuhnya pelan. Seperti orang yang menyentuh sesuatu yang takut akan hilang kalau ditekan terlalu keras.
Aku naik ke B2 dengan jantung yang berdebar sampai ke telinga.
Malamnya, jam sembilan, aku menerima tiga pesan berturut-turut.
Dari Pak Udin. Aku tidak tahu kapan Pak Udin mendapat nomorku. Mungkin dari Dini. Dini memberikan nomorku ke semua orang yang ia anggap sekutu.
Mbak Monica, maaf ganggu. Saya cuma mau lapor. Mas Aris duduk di atas motor di B3 dari jam 17.21 sampai jam 17.36. Lima belas menit, Mbak. Mesin mati. Nggak gerak.
Terus jam 17.36 dia nyalain mesin. Terus matiin lagi. Terus nyalain lagi.
Terus jam 17.41 dia akhirnya jalan. Pakai jas hujan. Padahal nggak hujan. Hujannya baru turun jam 18.04, Mbak. Ramalan cuacanya meleset empat menit.
Aku membaca pesan itu sambil tertawa sendirian di sofa apartemenku, sampai tetangga sebelah mengetuk dinding.
Lima menit kemudian, satu pesan lagi masuk. Kali ini dari Aris.
Mbak. Saya udah sampai rumah.
Aku menunggu pesan berikutnya. Tidak ada.
Sepuluh menit. Lima belas menit. Tidak ada.
Lalu, jam sembilan lewat dua puluh delapan:
Mbak, DP itu biasanya berapa persen dari total?
Aku menatap layar. Lalu tertawa lagi, lebih keras, sampai tetangga sebelah mengetuk dinding dua kali.
Aku mengetik.
Tergantung barangnya.
Kalau barangnya mahal?
Kalau barangnya mahal, DP-nya kecil dulu. Biar pembelinya nggak kabur.
Tiga titik muncul. Hilang. Muncul. Hilang. Muncul lagi, lama sekali.
Pembelinya yang takut kabur, atau barangnya, Mbak?
Aku berhenti tertawa.
Aku menatap pesan itu. Kalimat sederhana. Pertanyaan yang diketik dengan sangat hati-hati, setelah tiga titik yang muncul dan hilang tiga kali.
Pembelinya yang takut kabur, atau barangnya?
Ia tahu. Ia mulai tahu. Ia tidak lagi bertanya soal Evan. Ia bertanya soal dirinya sendiri. Dan ia bertanya dengan cara seorang analis data yang tidak tahu cara mengucapkan perasaannya, jadi ia menyamarkannya sebagai pertanyaan soal transaksi.
Aku mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.
Barangnya, Aris.
Barangnya yang suka kabur. Lewat tangga darurat. Ke arah yang salah.
Kirim.
Tidak ada balasan malam itu.
Tapi jam enam pagi, waktu aku bangun, ada satu pesan di layar. Dikirim jam dua lewat empat belas menit dini hari.
Barangnya lagi belajar nggak kabur, Mbak.
Tapi barangnya belum tahu caranya.
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP reading
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan