Chapter Fifteen
Pulangnya Sama Kamu
POV: Aris
Jam sembilan malam, lantai tujuh hanya menyisakan tiga hal yang masih menyala: lampu di atas mejaku, server di ruangan sebelah, dan pemanas kecil Pak Darto yang lupa dimatikan.
Model prediksi untuk Bu Ambar harus selesai malam ini. Bukan versi empat menit yang kujalankan di auditorium. Versi lengkap, dengan validasi silang, dengan dokumentasi, dengan penjelasan setiap variabel dalam bahasa yang bisa dibaca direktur keuangan. Bu Ambar memintanya ada di mejanya jam delapan besok pagi, karena jam sembilan ada rapat anggaran.
Demamku sudah turun sejak kemarin sore. Bahuku masih sedikit kaku, tapi tidak terlalu sakit. Ibuku melarangku masuk kerja hari ini. Aku masuk juga. Ia membekaliku termos yang lebih besar dari biasanya dan dua bungkus nasi.
Aku sedang menulis dokumentasi variabel ketujuh ketika pintu kaca lantai tujuh terbuka.
Wangi melati.
Aku tidak perlu menoleh. Tapi aku menoleh juga.
Monica berdiri di ambang pintu dengan blazer tersampir di lengan, tas di bahu, dan setumpuk berkas di pelukan. Rambutnya sudah diikat asal. Ada bayangan lelah di bawah matanya, dan maskaranya sedikit luntur di sudut kiri.
“Kamu masih di sini,” katanya.
“Mbak juga.”
“Paket penandatanganan kontrak. Besok jam sepuluh.” Ia berjalan masuk dan meletakkan tumpukan berkas itu di meja Dini yang kosong. “Ada tiga puluh dua lampiran yang harus dicek ulang. Tim aku pulang jam tujuh. Aku nggak tega nyuruh mereka lembur.”
“Mbak lembur sendiri?”
“Kamu juga lembur sendiri.”
“Saya biasa, Mbak.”
“Aku juga biasa.” Ia menarik kursi Dini dan duduk. “Waktu di firma lama, aku pulang jam dua pagi tiga tahun berturut-turut.”
“Itu nggak sehat, Mbak.”
“Kata orang yang masuk kerja sehari setelah demam.”
Aku tidak bisa membantah itu. Jadi aku kembali ke dokumentasi variabel ketujuh.
Monica tidak mengganggu. Ia membuka berkasnya sendiri, mengeluarkan stabilo kuning, dan mulai membaca. Kami bekerja dalam diam, di dua meja yang bersebelahan, di lantai yang dingin dan kosong. Sesekali aku mendengar suara stabilonya menggores kertas. Sesekali ia bergumam pelan membaca pasal yang rumit. Sesekali aku menuang teh dari termos, dan tanpa bicara, aku menuang ke tutup termos yang satunya, tutup cadangan yang selalu dibawakan ibuku, dan meletakkannya di dekat sikunya.
Ia meminumnya tanpa protes. Teh tawar.
Jam sepuluh lewat lima belas, aku menyimpan file dan mengirimkannya ke Bu Ambar. Selesai.
Aku meregangkan punggung. Bahu kananku berbunyi pelan.
Monica menutup berkas terakhirnya beberapa menit kemudian. Ia menyandarkan kepala ke sandaran kursi Dini, memejamkan mata.
“Selesai,” katanya.
“Selamat, Mbak.”
“Kamu juga?”
“Udah.”
Ia membuka mata dan menatap langit-langit. “Sekarang aku harus pulang.”
“Hati-hati, Mbak. Udah malam.”
“Mobilku di bengkel.”
Aku menoleh. “Sejak kapan?”
“Sejak tadi siang. Aki soak. Katanya besok sore baru bisa diambil.” Ia memutar kursi menghadapku. “Jadi aku harus naik taksi.”
“Saya pesenin, Mbak.”
“Aris.”
“Iya, Mbak?”
Ia menatapku. Di bawah lampu meja yang kuning dan redup, dengan maskara yang luntur dan rambut yang diikat asal, ia terlihat berbeda. Lebih lelah. Lebih jujur. Tidak ada blazer, tidak ada senyum menantang.
“Aku nggak takut pulang malam,” katanya pelan.
“Iya, Mbak.”
“Aku cuma mau pulangnya nempel sama kamu.”
Aku menelepon Evan.
Aku tidak tahu kenapa aku menelepon Evan. Tanganku sudah mengambil ponsel dan menekan nomornya sebelum otakku selesai memproses kalimat Monica. Mungkin karena itu yang selalu kulakukan. Kalau ada sesuatu yang tidak bisa kupecahkan sendiri, aku menelepon Evan.
Evan mengangkat di dering kedua. Di belakangnya terdengar suara televisi dan suara seseorang tertawa.
“Ris?”
“Van. Kamu di mana?”
“Di rumah. Kenapa?”
“Kamu bisa ke kantor? Mbak Monica mobilnya di bengkel, dia butuh tumpangan pulang ke Tebet. Kamu kan searah.”
Hening di seberang. Suara televisi tiba-tiba mengecil.
“Ris,” kata Evan pelan. “Lo di mana sekarang?”
“Di lantai tujuh.”
“Sama Monica?”
“Iya.”
“Berdua?”
“Iya. Lembur.”
Hening lagi. Lalu suara Evan berubah. Dari pelan menjadi sangat ceria, terlalu ceria, seperti pembawa acara kuis.
“Aduh, Ris! Sori banget! Gue lagi di Bandung!”
“Kamu tadi sore di lantai dua belas. Aku lihat kamu jam lima.”
“Gue berangkat jam enam! Mendadak! Kilat! Ada klien!”
“Jam sepuluh malam?”
“Klien gue orangnya nokturnal, Ris. Kayak kelelawar. Udah dulu ya, sinyal di Bandung jelek, putus-putus, halo? Halo? Ris? Lo putus-putus...”
Telepon terputus.
Aku menatap layar ponselku. Lalu, karena aku keras kepala, aku menelepon Lucky.
Lucky tidak mengangkat. Dering kelima, keenam, ketujuh. Lalu masuk pesan suara.
Sepuluh detik kemudian, ponselku bergetar. Pesan dari Lucky.
Lagi rapat sama Papa. Nggak bisa angkat.
Lalu satu pesan lagi, beberapa detik kemudian. Sebuah foto. Lucky, dengan kaus rumah, duduk di sofa beludru hijau di ruang keluarga rumahnya di Menteng, memegang sepotong martabak manis, tersenyum ke kamera dengan mata setengah terpejam.
Rapatnya alot, tulis Lucky di bawah foto itu.
Aku menatap foto itu lama.
Lalu aku menurunkan ponsel dan menatap Monica, yang sejak tadi duduk di kursi Dini, menopang dagu dengan tangan, menontonku menelepon dengan senyum kecil yang sangat sabar.
“Evan di Bandung,” kataku.
“Kasihan.”
“Lucky lagi rapat.”
“Sama martabak?”
Aku tidak tahu bagaimana ia bisa tahu soal martabak. Mungkin ia melihat layarku. Mungkin ia hanya menebak. Mungkin Lucky juga mengirim foto yang sama ke Monica.
“Saya pesenin taksi, Mbak,” kataku.
“Oke.”
“Saya tungguin sampai taksinya dateng.”
Monica menatapku. Senyumnya melebar sedikit.
“Oke,” katanya lagi.
Lobi Wiratama Tower di malam hari terlihat seperti museum yang sudah tutup.
Lampu gantung besar di langit-langit sudah dimatikan, hanya tersisa lampu-lampu kecil di sepanjang dinding. Kedai kopi di sudut sudah tutup, kursinya dinaikkan ke atas meja. Pintu putar dikunci, hanya pintu samping yang masih bisa dibuka. Di meja resepsionis, Pak Udin, yang malam ini kebagian shift jaga lobi, sedang menonton sesuatu di ponselnya dengan volume pelan.
Di luar, hujan turun deras.
Aplikasi taksi di ponselku menunjukkan waktu tunggu dua puluh lima menit. Karena hujan, katanya. Tarif juga naik dua kali lipat. Monica bilang tidak apa-apa.
Kami duduk di sofa panjang di dekat dinding kaca lobi. Sofa kulit hitam yang dinginnya menembus celana. Monica di ujung kiri. Aku di ujung kanan. Di antara kami ada jarak yang cukup untuk satu orang lagi.
Aku membuka termos dan menuang teh ke dua tutup. Menyodorkan satu ke Monica. Ia menerimanya dengan dua tangan.
“Termos kamu nggak pernah habis, ya,” katanya.
“Ibu saya bawain yang besar hari ini. Katanya saya baru sembuh.”
“Ibu kamu baik banget.”
“Iya, Mbak.”
“Dia ngukur badanku kemarin.”
“Maaf, Mbak.”
“Aku nggak keberatan.” Ia menyesap tehnya. “Dia bilang bahuku pas buat kebaya.”
Aku tidak menjawab. Aku menatap hujan di luar dinding kaca, yang membuat lampu-lampu jalanan terlihat seperti cat air yang luntur.
Kami diam beberapa menit. Pak Udin di meja resepsionis tertawa pelan pada sesuatu di ponselnya.
“Aris,” kata Monica tiba-tiba.
“Iya, Mbak?”
“Kamu pernah dengar soal mantan tunanganku?”
Aku menoleh. Ia tidak menatapku. Ia menatap tutup termos di tangannya, memutarnya pelan-pelan.
“Evan pernah nyebut sekilas, Mbak,” kataku jujur.
“Evan nggak bisa nyimpen apa-apa.”
“Iya, Mbak.”
Ia tersenyum kecil. Lalu senyumnya hilang.
“Namanya Bram. Kami pacaran tiga tahun, tunangan delapan bulan. Undangan udah dicetak. Gedung udah dibayar DP-nya. Mama udah jahit kebaya.” Ia memutar tutup termos lagi. “Dua bulan sebelum nikah, dia bilang dia nggak bisa.”
Aku diam. Hujan di luar terdengar lebih keras.
“Aku tanya kenapa. Dia bilang aku terlalu galak. Terlalu keras. Terlalu banyak tanya. Kalau dia telat pulang, aku tanya kenapa. Kalau dia bilang lagi di kantor tapi ada suara musik di belakang, aku tanya di mana. Kalau dia bilang nggak ada apa-apa padahal mukanya kelihatan ada apa-apa, aku tanya ada apa.” Monica tertawa pelan, tawa yang sama sekali tidak terdengar lucu. “Dia bilang hidup sama aku kayak hidup di ruang sidang. Selalu diinterogasi.”
“Mbak...”
“Tiga bulan setelah dia batalin pernikahan, dia nikah sama orang lain. Rekan kerjanya. Ternyata suara musik di belakang itu bukan di kantor.” Ia menyesap teh tawarnya. “Jadi mungkin aku memang terlalu banyak tanya. Tapi pertanyaanku nggak salah.”
Aku menatapnya. Profil wajahnya dari samping, diterangi lampu-lampu kecil di dinding lobi dan pantulan hujan dari dinding kaca. Ia tidak menangis. Matanya kering. Tapi tangannya memegang tutup termos terlalu erat.
“Sejak itu,” katanya pelan, “tiap kali aku suka sama orang, aku mikir. Ini terlalu, nggak? Aku terlalu galak, nggak? Aku terlalu banyak tanya, nggak? Aku terlalu...”
Ia berhenti.
“Terlalu ngejar,” katanya akhirnya. “Kayak sekarang.”
Hujan terus turun. Pak Udin di meja resepsionis sudah berhenti menonton ponselnya. Ia sedang menatap ke luar dinding kaca dengan sangat serius, seolah-olah hujan adalah pertunjukan paling menarik di dunia.
Aku menatap tutup termos di tanganku sendiri.
Aku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan yang tidak diucapkan. Aku tidak tahu harus berkata apa pada perempuan yang baru saja menceritakan luka paling dalamnya di lobi kantor jam sepuluh malam.
Jadi aku mengatakan satu-satunya hal yang aku tahu benar.
“Mbak nggak galak,” kataku.
Ia menoleh.
“Mbak cuma nggak mau dibohongi,” kataku pelan. “Itu beda, Mbak. Orang yang nggak suka ditanya biasanya karena dia punya sesuatu yang nggak mau dijawab.”
Monica menatapku.
“Dan Mbak nggak terlalu,” lanjutku. Aku tidak berani menatap matanya, jadi aku menatap hujan. “Kalau ada orang yang bilang Mbak terlalu, mungkin yang kurang itu orangnya. Bukan Mbak.”
Lobi itu sunyi. Hanya hujan.
Aku menunggu Monica bicara. Ia tidak bicara.
Aku memberanikan diri menoleh.
Matanya basah.
Tidak menangis. Hanya basah, berkilau di bawah lampu kecil di dinding. Ia menatapku dengan wajah yang belum pernah kulihat. Bukan wajah menantang. Bukan wajah menggoda. Wajah orang yang baru saja diberi sesuatu yang sudah lama dicari dan tidak pernah menyangka akan ditemukan di lobi kantor, dari laki-laki dengan termos teh tawar.
“Kamu,” katanya pelan. Suaranya sedikit bergetar. “Kamu itu...”
Ia tidak melanjutkan.
Ia bergeser.
Jarak di antara kami, jarak yang cukup untuk satu orang, menghilang. Ia bergeser ke tengah sofa, lalu sedikit lagi, sampai bahunya hampir menyentuh bahuku.
Lalu ia menyandarkan kepalanya.
Di bahu kiriku.
Aku membeku.
Rambutnya yang diikat asal menyentuh pipiku. Wangi sampo, sesuatu yang manis seperti buah. Kepalanya terasa ringan di bahuku, tapi entah bagaimana juga terasa sangat berat, seperti sesuatu yang selama ini tidak pernah boleh kupikul.
“Bahu kiri,” katanya pelan, matanya terpejam. “Aku tahu yang kanan sakit.”
Aku tidak bisa bernapas dengan benar.
Ia tahu. Ia memperhatikan. Ia memperhatikan cukup lama, cukup teliti, sampai ia tahu bahu mana yang boleh disandari.
Aku menatap hujan di luar dinding kaca dan mencoba berpikir. Otakku bergerak, seperti biasa. Mencari format. Mencari kolom. Mencari hipotesis.
Ia capek. Ia lembur sampai jam sepuluh. Ia baru saja menceritakan sesuatu yang menyakitkan. Siapa pun akan bersandar ke bahu orang yang ada di sebelahnya dalam situasi seperti itu. Kalau Evan yang duduk di sini, ia akan bersandar ke bahu Evan.
Tapi Evan tidak duduk di sini. Evan sedang di Bandung, dengan klien nokturnal seperti kelelawar.
Dan Monica tahu bahu mana yang sakit.
Otakku berhenti mencari.
Untuk pertama kalinya, aku membiarkannya berhenti.
Taksinya datang tujuh belas menit kemudian. Lampu sorotnya menembus hujan, berhenti di depan pintu samping lobi.
Monica tidak langsung bangun. Ia diam selama beberapa detik, kepalanya masih di bahuku. Lalu ia menegakkan duduknya pelan, merapikan rambutnya, dan berdiri.
“Taksinya,” katanya.
“Iya, Mbak.”
Aku berdiri juga. Bahu kiriku terasa dingin sekarang, di tempat kepalanya tadi bersandar.
Pak Udin membukakan pintu samping untuk kami, memegang payung besar berwarna hijau dengan logo perusahaan. Ia memayungi Monica sampai ke pintu taksi. Aku berjalan di sebelahnya, setengah kehujanan.
Monica membuka pintu taksi, lalu berhenti dan menoleh padaku.
“Besok mobilku masih di bengkel,” katanya.
“Saya pesenin taksi lagi, Mbak.”
“Aris.”
“Iya, Mbak?”
Hujan menetes dari ujung payung Pak Udin, membasahi bahu kananku. Monica menatapku dari balik tirai air itu.
“Motor kamu,” katanya. “Muat berdua, nggak?”
Aku membuka mulut.
Sopir taksi membunyikan klakson pelan. Monica tersenyum, masuk ke dalam taksi, dan menutup pintunya sebelum aku sempat menjawab.
Taksi itu pergi. Lampu belakangnya mengecil di antara hujan, lalu menghilang di tikungan.
Aku berdiri di bawah payung hijau Pak Udin, setengah basah, menatap jalanan kosong.
“Mas Aris,” kata Pak Udin pelan.
“Iya, Pak?”
“Motor Mas muat berdua kok. Joknya panjang.”
“Iya, Pak.”
“Jas hujannya aja yang robek. Besok saya pinjemin punya saya. Yang model ponco. Muat dua orang.”
Aku menoleh menatapnya. Pak Udin menatap lurus ke depan, ke jalanan yang basah, dengan wajah datar yang sangat profesional.
“Pak Udin,” kataku. “Bapak dengar dari tadi?”
“Saya satpam, Mas,” katanya. “Tugas saya mengawasi.”
Lalu ia memayungiku kembali ke pintu samping, dan sebelum masuk ke pos jaganya, ia menepuk bahu kiriku. Dua kali.
Malam itu, aku tidak membuka Proyek_ME_v2.xlsx.
Aku membuka ponsel, dan mengetik pesan ke grup Tukang Pos & Para Penerima Surat.
Van. Bandungnya gimana? Kliennya udah tidur?
Lima detik kemudian:
Evan: ...
Evan: Lo tahu.
Aris: Aku tahu.
Evan: Gue cuma mau bantu, Ris.
Lucky: Rapatnya juga udah selesai btw. Martabaknya enak.
Aris: Kalian berdua bohong ke aku.
Evan: Iya.
Lucky: Iya.
Aris: Kenapa?
Tidak ada balasan selama beberapa menit. Lalu, Lucky.
Lucky: Karena kalau kami jemput dia, lo pulang sendirian. Dan lo udah pulang sendirian sebelas tahun, Ris.
Aku menatap pesan itu lama.
Lalu ponselku bergetar lagi. Bukan dari grup. Dari Monica.
Udah sampai. Makasih udah nungguin.
Satu pesan lagi.
Bahu kirinya nyaman.
Aku meletakkan ponsel di samping bantal dan menatap noda bocor berbentuk peta Kalimantan di langit-langit.
Di bahu kiriku, masih terasa sisa hangat yang tidak mau hilang.
Di ruang tamu, mesin jahit ibuku sudah lama berhenti. Rumah sunyi. Hanya hujan di atap seng dapur.
Aku memejamkan mata dan memikirkan satu pertanyaan.
Bukan Kenapa ia melakukan itu. Bukan Apa maksudnya. Bukan Apakah ini untuk Evan.
Pertanyaan yang lebih sederhana, dan jauh lebih menakutkan.
Besok aku harus beli jas hujan baru, atau pinjam punya Pak Udin?
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu reading
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan