Chapter Thirty One
Harga Nyawa
POV: Evan
Bu Sumi menunggu kami di teras dengan lampu kuning redup yang dikerubungi laron.
Ia tidak sendirian. Di bangku kayu panjang yang kakinya diganjal batu bata, duduk Monica. Masih memakai blazer kerja yang kusut. Rambut diikat asal. Matanya merah. Di pangkuannya, helm putih.
Aku berhenti di depan pagar hijau. Lucky berhenti di sebelahku.
“Mbak Monica,” kataku.
“Bu Sumi telepon aku juga,” katanya pelan. “Satu jam yang lalu.”
Bu Sumi berdiri. Ia memakai daster batik biru yang sama dengan yang ia pakai waktu ulang tahunnya. Rambutnya disanggul, tapi tidak rapi. Beberapa helai jatuh di samping pipinya. Ia memegang sesuatu di dadanya. Dipeluk dengan dua tangan, seperti memeluk bayi.
Amplop cokelat besar.
“Masuk, Nak,” katanya. “Duduk.”
Kami masuk. Lucky duduk di sebelah Monica di bangku kayu. Aku duduk di kursi plastik di dekat pintu. Bu Sumi tetap berdiri.
“Aris di mana, Bu?” tanyaku.
“Pergi tadi pagi. Jam lima.” Bu Sumi menatap gang yang gelap di luar pagar. “Ke curug.”
Lucky menegakkan duduknya.
“Curug yang itu?” tanyanya. “Di Bogor?”
“Iya, Luck. Yang itu.”
“Kenapa?”
Bu Sumi tidak langsung menjawab. Ia menatap amplop di pelukannya. Lama. Lalu ia duduk di kursi plastik di seberangku, pelan-pelan, seperti orang yang lututnya tiba-tiba sakit.
“Katanya mau pergi ke Singapura,” kata Bu Sumi. “Kontrak setahun. Dia bilang sebelum pergi, dia mau ke satu tempat dulu. Tempat di mana semuanya dimulai.”
Ia mengangkat wajah dan menatap kami bertiga satu per satu. Aku. Lucky. Monica.
“Dia nginep di penginapan dekat sana,” katanya. “Besok subuh dia mau ke curugnya. Dia bilang mau lihat matahari terbit di sana. Sekali. Sebelum pergi.”
“Bu,” kata Lucky. Suaranya bergetar. “Ibu bilang di telepon, harga nyawa kami. Maksudnya apa?”
Bu Sumi menatap Lucky. Lalu menatapku.
Lalu ia menyodorkan amplop cokelat itu kepadaku.
Amplop itu ringan. Hanya beberapa lembar kertas di dalamnya. Tapi waktu aku memegangnya, rasanya seperti memegang batu.
Ada logo kecil di pojok kiri atas. Lingkaran dengan huruf-huruf kanji. Di bawahnya, nama sebuah universitas di Tokyo dalam huruf latin.
Aku menatap logo itu. Lalu menatap Lucky. Lucky menatap logo itu juga, dan aku melihat wajahnya berubah.
Aris-san. Kami dulu memanggilnya begitu. Waktu SMA. Karena ia belajar bahasa Jepang dari buku bekas di Kwitang, dan hafal hiragana dalam dua minggu, dan selalu membawa buku kecil berisi kosakata yang ia tulis sendiri dengan tulisan tangan yang rapi. Kami meledeknya setiap hari. Aris-san, konnichiwa. Aris-san, sushi-nya mana.
Lalu ia bilang ia gagal di seleksi akhir.
Dan kami berhenti memanggilnya Aris-san.
Aku membuka amplop itu dengan tangan yang gemetar.
Dua lembar kertas. Terlipat rapi. Sudah menguning di bagian tepi.
Aku membuka lembar pertama.
Kop surat berwarna biru tua dengan logo universitas yang sama. Bahasa Inggris, dengan terjemahan bahasa Indonesia di bawahnya, dicetak oleh kedutaan.
Dengan hormat, kami dengan senang hati memberitahukan bahwa Saudara Aris Setiawan telah terpilih sebagai penerima Beasiswa Penuh Pemerintah Jepang untuk Program Sarjana Teknik Informatika...
Aku berhenti membaca. Mataku melompat ke bagian bawah.
...meliputi biaya kuliah penuh selama empat tahun, tunjangan biaya hidup bulanan, akomodasi asrama, serta tiket pesawat pulang-pergi...
...keberangkatan dijadwalkan pada tanggal 28 Agustus...
Tanggal di pojok kanan atas surat itu. Bulan Mei. Sebelas tahun lalu.
Tiga minggu sebelum malam di curug.
Tanganku mulai gemetar lebih hebat. Kertas itu bergoyang di antara jari-jariku.
“Van?” kata Lucky pelan.
Aku tidak menjawab. Aku membuka lembar kedua.
Kop surat yang sama. Biru tua. Logo yang sama.
Dengan hormat, dengan berat hati kami memberitahukan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pada tanggal 14 Juli, Saudara Aris Setiawan dinyatakan belum memenuhi persyaratan kesehatan untuk keberangkatan, sehubungan dengan cedera bahu yang masih dalam masa pemulihan pasca operasi...
...mengingat Saudara tidak dapat hadir pada tanggal keberangkatan yang telah ditentukan, dan program ini tidak memungkinkan penundaan keberangkatan...
...dengan ini kami menyatakan bahwa status penerimaan beasiswa Saudara dibatalkan.
Kami turut prihatin dan mendoakan kesembuhan Saudara.
Kertas itu jatuh dari tanganku.
Melayang. Mendarat di lantai teras, di antara kaki-kaki kursi plastik dan bekas laron yang mati.
Lucky membungkuk dan mengambilnya. Ia membacanya. Aku melihat matanya bergerak dari baris ke baris. Aku melihat saat ia sampai di kalimat cedera bahu yang masih dalam masa pemulihan pasca operasi.
Aku melihat wajahnya hancur.
“Dia bilang gagal seleksi akhir,” bisik Lucky. “Dia bilang ke kita, dia gagal seleksi akhir.”
“Dia nggak gagal, Nak,” kata Bu Sumi. Suaranya pelan sekali. “Dia lolos. Dia juara satu dari seluruh Indonesia. Cuma tiga orang yang dapet beasiswa itu tahun itu. Dia salah satunya.”
Lucky menatap Bu Sumi.
“Dia udah beli koper,” kata Bu Sumi. Air matanya mulai jatuh. “Koper bekas, dari pasar loak di Jatinegara. Ibu jahitin jaket tebel buat dia, buat musim dingin di sana. Ibu belajar dari majalah, gimana bikin jaket yang anget. Ibu kerjain tiap malam.”
Ia diam sebentar. Menghapus air matanya dengan ujung daster.
“Terus dia pergi ke acara perpisahan sekolah. Ke curug. Katanya cuma semalem. Katanya mau pamitan sama kalian berdua, sebelum berangkat ke Jepang.”
Aku tidak bisa bernapas.
“Dia nggak cerita ke kalian soal beasiswa itu,” kata Bu Sumi. “Dia mau kasih kejutan. Di curug. Di malam perpisahan. Dia udah nyiapin kalimatnya. Ibu denger dia latihan di kamar.”
Bu Sumi menatap aku dan Lucky bergantian.
“Dia nggak sempet bilang. Karena malam itu, kalian berdua masuk ke air.”
Aku tidak tahu kapan aku mulai menangis.
Aku hanya tahu tiba-tiba aku sudah membungkuk di kursi plastik, siku di lutut, wajah di kedua telapak tangan, dan suara yang keluar dari tenggorokanku terdengar seperti binatang yang terluka.
Malam itu. Aku ingat malam itu. Aku ingat teman-teman sekelas yang menantang. Aku ingat aku dan Lucky tertawa, sedikit mabuk dari minuman yang diselundupkan seseorang dari warung di bawah. Aku ingat aku bilang, Ayo, Luck. Siapa takut. Aku ingat airnya dingin dan arusnya kuat dan dalam tiga detik aku tidak bisa merasakan dasar sungai lagi.
Aku ingat tangan yang menarik kerah bajuku. Aku ingat batu di pinggir. Aku ingat aku muntah air sungai sambil merangkak di tanah. Aku ingat Aris berbalik dan masuk lagi ke air.
Aku ingat bunyi itu. Bunyi bahunya membentur batu. Seperti dahan pohon patah.
Dan aku tidak pernah tahu.
Selama sebelas tahun, aku tidak pernah tahu bahwa malam itu, di dalam ransel Aris yang tertinggal di tenda, mungkin ada kalimat yang sudah ia latih di kamarnya. Van, Luck. Gue mau ke Jepang.
Malam itu, ia tidak sempat mengucapkannya.
Malam itu, ia menukar Jepang dengan kami.
“Dia kehilangan Jepang,” kataku di antara isakan. “Dia kehilangan Jepang buat gue. Buat kita, Luck. Dan dia bilang gagal seleksi akhir. Dia bohong ke kita sebelas tahun.”
Lucky tidak menjawab. Ia duduk di bangku kayu, memegang surat pembatalan itu dengan dua tangan, menatapnya tanpa berkedip. Air mata mengalir di pipinya tanpa suara.
“Kenapa?” bisiknya. “Kenapa dia nggak cerita?”
“Karena dia tahu kalian bakal kayak gini,” kata Bu Sumi pelan.
Ia menatap kami berdua.
“Dia bilang ke Ibu, waktu itu, di rumah sakit, waktu suratnya dateng. Ibu bacain ke dia, karena tangannya belum bisa megang kertas. Dia dengerin sampai selesai. Terus dia diem lama. Terus dia bilang...”
Bu Sumi berhenti. Menarik napas.
“Dia bilang, ‘Bu, jangan bilang ke Evan sama Lucky. Mereka udah ngerasa berutang nyawa. Aku nggak mau mereka ngerasa berutang mimpi juga.’”
Lucky menutup wajahnya dengan surat itu.
“Terus selama tiga bulan dia nggak bisa bangun dari kasur,” lanjut Bu Sumi. “Bahunya dioperasi dua kali. Dia nggak bisa sekolah, nggak bisa kerja. Dia cuma bisa tiduran sambil megang laptop bekas yang dikasih tetangga. Tiap hari dia belajar. Dari internet. Ibu nggak ngerti dia belajar apa. Angka-angka. Kode-kode. Dia bilang, ‘Bu, kalau aku nggak bisa ke Jepang, aku bawa Jepang ke sini.’”
Ia tersenyum di antara air matanya. Senyum yang sangat sedih dan sangat bangga.
“Dan dia nggak pernah ngeluh. Sekali pun. Sebelas tahun.”
Monica sejak tadi diam.
Ia duduk di ujung bangku kayu, memeluk helm putih di pangkuannya, menatap surat-surat itu. Wajahnya pucat. Matanya basah, tapi ia tidak menangis seperti aku dan Lucky.
Ia sedang memikirkan sesuatu.
“Bu,” katanya pelan. “Waktu di wedang ronde Pak Kardi, waktu hujan. Dia bilang sesuatu dalam bahasa Jepang. Katanya artinya ‘hujannya deras’. Tapi kalimatnya kepanjangan.”
Bu Sumi menatapnya.
Monica mengucapkan dua kata. Pelan, dengan pelafalan yang tidak sempurna. Kata-kata yang ia ingat dari malam itu.
Bu Sumi menutup mulutnya dengan tangan.
“Ibu nggak ngerti bahasa Jepang, Nak,” katanya. “Tapi Ibu tahu kalimat itu. Dia sering ngomong itu dulu. Waktu SMA. Waktu dia belajar sambil ngelihat hujan dari jendela kamar.”
“Artinya apa, Bu?”
Bu Sumi menatap Monica lama.
“Dia pernah bilang ke Ibu,” katanya pelan. “Kira-kira artinya, semoga hujannya jangan cepet berhenti. Biar ada yang mau nemenin aku neduh lebih lama. Soalnya aku nggak pernah berani minta.”
Monica membeku.
“Dia ngomong itu ke kamu?” tanya Bu Sumi.
Monica tidak bisa menjawab. Ia hanya mengangguk. Lalu, akhirnya, ia menangis.
Kami berangkat ke Bogor jam tiga pagi.
Lucky menyetir. Aku duduk di sebelahnya. Monica di kursi belakang, dengan helm putih di pangkuan. Bu Sumi ingin ikut, tapi kami melarangnya. Jalanan ke curug terjal dan licin, dan Bu Sumi sudah lima puluh sembilan tahun.
“Bawa dia pulang,” kata Bu Sumi di depan pagar hijau, memegang tangan kami bertiga bergantian. “Itu aja. Bawa dia pulang.”
Tol Jagorawi kosong. Hanya lampu-lampu jalan dan truk-truk besar yang melaju pelan di lajur kiri. Lucky menyetir dengan kecepatan yang membuatku harus berpegangan pada pegangan di atas pintu. Tidak ada yang bicara.
Di Ciawi, langit mulai berubah. Dari hitam menjadi biru tua. Lalu biru yang lebih terang.
Jalan menuju curug masih sama seperti sebelas tahun lalu. Sempit. Berliku. Aspal yang retak-retak, lalu berubah jadi jalan tanah yang licin karena embun. Lucky memarkir mobil di lapangan kecil di kaki bukit, di sebelah satu-satunya kendaraan lain di sana.
Motor bebek biru. Dengan spion kiri yang retak dan stiker klub futsal SMA yang setengah mengelupas di spakbor belakang.
Kami berjalan menyusuri jalan setapak di antara pohon-pohon pinus. Udaranya dingin dan basah. Wangi tanah dan daun. Suara air terjun terdengar dari kejauhan, makin lama makin keras.
Aku belum pernah kembali ke sini. Sebelas tahun. Aku menolak setiap ajakan teman ke curug mana pun. Aku bilang aku tidak suka alam terbuka. Aku bilang aku alergi nyamuk.
Lucky juga tidak pernah kembali.
Dan sekarang kami berjalan berdampingan di jalan setapak yang sama, dengan Monica di belakang kami, menuju tempat di mana sebelas tahun lalu, kami hampir mati.
Lalu jalan setapak itu berakhir, dan curug itu terbentang di depan kami.
Air terjun setinggi lima belas meter, jatuh ke kolam bebatuan yang berwarna hijau tua. Batu-batu besar di sepanjang aliran sungai di bawahnya. Kabut tipis naik dari permukaan air, diterangi cahaya pertama matahari yang baru muncul dari balik bukit.
Dan di atas batu besar di pinggir aliran, batu yang sama di mana sebelas tahun lalu ia menarikku keluar dari air, duduk seseorang.
Kemeja putih. Celana bahan. Ransel hitam pudar di sampingnya. Termos di pangkuannya.
Ia menatap air. Ia tidak mendengar kami datang. Suara air terjun terlalu keras.
Lucky yang pertama berlari.
Aku tidak pernah melihat Lucky berlari seperti itu. Lucky tidak pernah berlari. Lucky selalu berjalan dengan tenang, dengan tangan di saku, dengan wajah datar seorang pewaris.
Ia berlari menuruni bebatuan dengan sepatu kulit mahalnya, tergelincir dua kali, tidak berhenti. Aku menyusul di belakangnya.
Aris mendengar langkah kami di bebatuan. Ia menoleh.
Wajahnya berubah. Kaget, lalu bingung, lalu takut. Ia berdiri dari batu, termos jatuh dari pangkuannya, berguling di batu.
“Luck? Van? Kalian ngapain...”
Lucky tidak menjawab. Ia menabrak Aris dengan pelukan yang begitu keras sampai mereka berdua hampir jatuh dari batu.
Aku sampai sedetik kemudian. Aku memeluk mereka berdua. Lenganku melingkar di bahu Aris. Bahu kiri. Selalu bahu kiri.
“Lo bilang gagal seleksi akhir,” kataku di bahunya. Suaraku pecah. “Lo bohong ke kita. Sebelas tahun, Ris.”
Aris membeku di antara pelukan kami.
“Ibu,” bisiknya. “Ibu cerita.”
“Ibu lo nyerahin suratnya ke kita.” Lucky melepaskan pelukannya sedikit, cukup untuk menatap wajah Aris. Air mata mengalir di pipi Lucky. “Lo lolos, Ris. Lo juara satu. Lo udah beli koper. Ibu lo udah jahitin jaket musim dingin.”
“Luck...”
“Lo kehilangan Jepang buat kita.” Suara Lucky pecah sepenuhnya. “Dan lo diem. Lo biarin kita ngeledekin lo. Lo biarin kita berhenti manggil lo Aris-san tanpa tahu kenapa.”
Aris menatap Lucky. Lalu menatapku.
Matanya basah. Bibirnya bergetar.
“Aku nggak kehilangan apa-apa,” katanya pelan.
“JANGAN BOHONG LAGI!”
Aku berteriak. Suaraku memantul di dinding tebing, bercampur dengan suara air terjun. Burung-burung di pohon pinus terbang kaget.
Aris menatapku. Lama.
“Aku nggak bohong, Van,” katanya. Suaranya sangat pelan, hampir tenggelam oleh suara air. “Aku kehilangan Jepang. Iya. Aku kehilangan bahu. Iya.”
Ia menatap air terjun di belakang kami. Air yang jatuh dari ketinggian lima belas meter, putih dan berbuih, seperti malam itu.
“Tapi aku dapet kalian,” katanya. “Kalian masih hidup. Kalian masih ada. Evan jadi Head of Sales. Lucky jadi direktur. Kalian berdua jadi orang yang paling aku banggain di dunia.”
Ia tersenyum. Senyum kecil dengan lesung pipi di sebelah kiri. Air mata akhirnya jatuh dari matanya.
“Itu bukan rugi, Van. Itu tukeran paling bagus yang pernah aku bikin.”
Aku tidak bisa bicara lagi.
Aku hanya memeluknya. Lucky juga. Kami bertiga berdiri di atas batu besar di pinggir curug, berpelukan, menangis seperti anak SMA, dengan matahari pagi yang naik pelan dari balik bukit dan menerangi kabut di atas air dengan warna jingga keemasan.
Lalu Lucky melepaskan pelukannya. Ia menatap ke belakangku. Ke jalan setapak di antara pohon-pohon pinus.
Aku juga melepaskan pelukan dan menoleh.
Monica berdiri di ujung jalan setapak, di atas bebatuan. Ia tidak berlari seperti Lucky. Ia berdiri diam, memeluk helm putih di dadanya, menatap Aris.
Aris menatapnya balik.
Aku melihat wajah sahabatku berubah. Dari menangis, ke kaget, ke sesuatu yang sangat rapuh. Seperti kaca tipis yang baru saja ditiup.
“Mbak,” bisiknya.
Monica meletakkan helm putih di atas batu. Pelan. Lalu ia mulai berjalan turun, menuruni bebatuan, hati-hati, dengan sepatu kantor yang sama sekali tidak cocok untuk tempat seperti ini. Ia tergelincir sekali. Ia tidak berhenti.
Lucky dan aku mundur. Diam-diam. Memberi ruang.
Monica sampai di batu besar. Ia berdiri di depan Aris. Dekat sekali. Lebih dekat dari di tangga darurat. Lebih dekat dari di warung wedang ronde.
Ia tidak bicara.
Aris juga tidak.
Lalu Monica melangkah maju dan memeluknya.
Bukan dari belakang. Dari depan. Kedua lengannya melingkar di leher Aris, wajahnya tersembunyi di bahu kirinya. Pelukan yang sangat erat, sangat lama, tanpa kata-kata.
Aris berdiri membeku.
Satu detik. Lima detik. Sepuluh.
Lalu tangan kirinya terangkat. Pelan. Ke punggung Monica. Menempel di sana, ragu, seperti orang yang menyentuh sesuatu yang takut akan hilang kalau ditekan terlalu keras.
Lalu tangan kanannya.
Aku melihatnya. Lucky juga melihatnya. Tangan kanan Aris, yang sebelas tahun tidak bisa diangkat lebih tinggi dari telinga, perlahan terangkat. Sampai setinggi punggung Monica. Sampai bisa melingkar di tubuhnya.
Ia memeluk Monica dengan kedua tangan.
Untuk pertama kalinya.
Air terjun di belakang mereka terus jatuh. Kabut naik dari permukaan air, berkilau keemasan diterangi matahari pagi. Burung-burung kembali ke pohon pinus.
Lucky berdiri di sebelahku, menghapus air matanya dengan punggung tangan.
“Van,” bisiknya.
“Hm.”
“Ini tempat yang sama.”
“Gue tahu.”
“Sebelas tahun lalu, dia narik kita keluar dari air di batu itu.”
“Gue tahu, Luck.”
Lucky diam sebentar. Lalu ia tersenyum. Senyum yang sangat lelah dan sangat lega.
“Sekarang ada yang narik dia keluar.”
Aku menatap Aris dan Monica, berpelukan di atas batu besar di pinggir curug, di bawah matahari pagi. Aris menunduk, wajahnya tersembunyi di rambut Monica. Bahunya berguncang. Ia menangis. Dan Monica memeluknya lebih erat.
Aku menyadari aku sedang menyaksikan sesuatu yang sudah kutunggu selama sebelas tahun, tanpa tahu bahwa aku sedang menunggu.
Seseorang memilih Aris.
Dan kali ini, Aris tidak lari ke arah yang salah.
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa reading
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan