← Dari Awal, Bukan Buat Evan

Chapter Three

Wangi Sabun Bayi

POV: Aris


Selasa pagi, hujan turun sejak subuh, dan tangga darurat Wiratama Tower ditutup.

Ada papan kuning bertuliskan LANTAI BASAH — HATI-HATI di depan pintunya, dan seorang petugas kebersihan berdiri di sampingnya seperti penjaga gerbang istana.

“Lagi dipel semua lantai, Mas. Sampai jam sembilan.”

“Nggak apa-apa, Pak. Saya hati-hati.”

“Jangan, Mas. Minggu lalu ada yang kepeleset di lantai empat. Sekarang tangannya digips.”

Aku menatap pintu darurat itu, lalu menatap antrean lift yang mengular sampai ke dekat pintu putar. Jam di ponselku menunjukkan pukul delapan kurang lima. Jaketku masih basah di bagian bahu karena jas hujan motorku robek di jahitan ketiak. Aku belum sempat minta ibuku menjahitnya.

Aku masuk antrean.

Lift ketiga dari kiri terbuka pukul delapan lewat dua. Aku masuk paling akhir, berdiri di pojok dekat panel tombol, dan menekan angka tujuh. Pintu mulai menutup.

Lalu sebuah tangan menahannya.

Tangan dengan jam tangan kecil berwarna perak dan kuku yang dicat warna nude, sama dengan warna lipstiknya waktu itu.

Monica masuk ke dalam lift dengan payung lipat basah di tangan kiri dan wajah yang sama sekali tidak terlihat seperti orang yang terlambat. Rambutnya sedikit lembap di ujung. Ia memakai kemeja hitam dan celana panjang abu-abu, dan entah bagaimana di dalam lift yang penuh orang berjaket lembap dan wangi parfum campur aduk, ia terlihat seperti satu-satunya orang yang tidak kehujanan.

“Pagi,” katanya.

Kepadaku. Bukan ke ruangan secara umum. Kepadaku.

“Pagi, Mbak.”

Ia tidak menekan tombol lantai. Legal ada di lantai sembilan. Tombol sembilan tidak menyala.

Pintu lift menutup. Lift mulai naik.

Lantai dua, tiga orang keluar. Lantai tiga, dua orang keluar. Lantai empat, lift berhenti tapi tidak ada yang keluar atau masuk, karena seseorang menekan tombol dari luar lalu berubah pikiran. Lantai lima, empat orang keluar sekaligus, dan tiba-tiba lift itu jauh lebih lapang dari yang seharusnya.

Tinggal kami berdua. Ditambah seorang bapak berkacamata di pojok seberang yang sibuk membaca berita di ponsel.

Monica menggeser posisinya. Selangkah. Sekarang ia berdiri tepat di belakangku, agak ke samping kanan, cukup dekat sampai aku bisa merasakan dingin payungnya di dekat betisku.

Aku menatap angka digital di atas pintu. Lima. Enam.

“Kamu wangi sabun bayi,” katanya.

Aku tidak langsung mengerti kalimat itu. Otakku memprosesnya seperti memproses data yang formatnya salah.

“Maaf, Mbak?”

“Sabun bayi,” ulangnya, pelan, hampir di dekat telingaku. “Yang botolnya kuning. Bahaya.”

“Bahaya, Mbak?”

“Bikin orang pengen meluk.”

Bapak berkacamata di pojok seberang berhenti menggulir layar ponselnya.

Aku menatap angka di atas pintu. Angka itu masih enam. Kenapa masih enam? Lift ini tidak pernah selambat ini.

Sabun bayi. Memang benar. Ibuku membeli sabun itu dalam kemasan isi ulang besar karena lebih murah, dan sejak SMP aku tidak pernah ganti. Tidak ada yang pernah berkomentar. Evan pernah bilang aku wangi seperti bayi baru dimandikan, tapi itu dengan nada menghina.

Monica tidak terdengar menghina.

Jadi aku melakukan apa yang selalu kulakukan. Aku mencari penjelasan yang masuk akal.

Ia sedang menyindir. Pasti. Mungkin karena aku tidak mau mengaku kenal dengannya di depan Evan kemarin. Mungkin ia kesal karena aku menyuruhnya duduk di sebelah Evan dan ia tidak bisa menolak dengan sopan. Atau mungkin...

Oh.

Mungkin ia sedang latihan.

Perempuan seperti Monica pasti tidak terbiasa memulai duluan. Laki-laki yang mendekatinya. Jadi kalau ia ingin mendekati Evan, ia butuh latihan dulu. Dan aku, teman Evan yang paling tidak berbahaya, adalah sasaran latihan yang paling aman.

Itu masuk akal. Itu sangat masuk akal.

Angka di atas pintu berganti menjadi tujuh.

Pintu terbuka. Aku melangkah keluar, lalu berbalik, dan menahan pintu dengan tanganku supaya tidak menutup.

“Mbak,” kataku.

Monica menatapku. Ada sesuatu di matanya. Penasaran, sedikit menantang.

“Iya?”

“Mau saya titip salam buat Evan?”

Pintu lift diam, ditahan tanganku. Bapak berkacamata menurunkan ponselnya sepenuhnya sekarang, tidak lagi berpura-pura membaca berita.

Monica tidak langsung menjawab. Ia menatapku cukup lama sampai aku mulai berpikir mungkin ia malu karena ketahuan. Lalu ia tersenyum. Senyum yang pelan, yang dimulai dari sudut bibir kiri dan baru belakangan sampai ke mata.

“Kamu serius?”

“Serius, Mbak. Evan orangnya baik. Agak berisik, tapi baik. Nanti saya bilang ke dia.”

“Bilang apa?”

“Bilang Mbak titip salam.”

“Saya nggak titip salam.”

“Oh.” Aku berpikir sebentar. “Atau Mbak mau saya kasih nomornya?”

Monica tertawa. Pendek, tapi tulus, sampai ia harus menunduk sebentar.

“Aris,” katanya. Pertama kalinya ia menyebut namaku tanpa ada orang lain di sekitar kami, kecuali bapak berkacamata yang sekarang terang-terangan menonton. “Saya nggak butuh nomor Evan.”

“Oh. Mbak udah punya?”

“Pintunya, Aris. Kasihan bapaknya.”

Aku melepas pintu lift. Pintu menutup dengan pelan. Dari celah yang makin sempit, aku sempat melihat Monica menekan tombol sembilan, lalu menyandarkan kepala ke dinding lift dengan mata terpejam dan bibir yang bergerak, mengucapkan sesuatu yang tidak bisa kudengar.

Kelihatannya seperti doa.

Atau seperti orang yang sedang menghitung sampai sepuluh supaya tidak marah.

Aku berjalan ke mejaku dengan perasaan yang aneh di dada. Seperti baru saja melakukan sesuatu dengan benar, tapi tidak yakin apanya yang benar.


“Mas Aris,” kata Dini dari meja sebelah, setengah jam kemudian. “Mas pakai parfum apa sih?”

“Nggak pakai, Din.”

“Terus wangi apa?”

“Sabun.”

“Sabun apa?”

Aku menatapnya curiga. “Kenapa semua orang hari ini nanya sabun?”

Dini mengangkat ponselnya. Di layar, ada grup chat bernama Lantai 7 Garis Keras. Pesan terakhir dari Pak Darto: foto buram punggungku yang diambil dari jauh, dengan keterangan Mas Aris tadi satu lift sama anak Legal yang cantik. Kata Pak Joko dari Finance, si mbak bilang Mas Aris wangi. Ada yang bisa konfirmasi???

Di bawahnya, tujuh belas balasan. Sebagian besar emotikon api.

Aku meletakkan kepala di meja.

“Itu bukan seperti yang kalian kira,” kataku ke permukaan meja.

“Terus seperti apa, Mas?”

“Dia lagi latihan.”

“Latihan apa?”

“Latihan ngedeketin Evan.”

Dini diam lama. Lalu ia mengetik sesuatu di ponselnya, dan sepuluh detik kemudian, dari ruangan kaca Pak Reza di ujung lantai, terdengar suara tawa tertahan Pak Darto.


Sore harinya, hujan sudah berhenti, tapi langit masih abu-abu dan udara di basement B3 lembap seperti kamar mandi.

Aku menyalakan mesin motor. Bunyinya sama seperti biasa: batuk dua kali, lalu menderum dengan suara yang membuat satpam parkir di pos jaga menoleh dan tersenyum. Ia sudah hafal.

Klaksonku berbunyi tidak sengaja waktu aku menyenggol setang. Weeek. Seperti bebek flu.

“Itu bunyi klakson?”

Aku menoleh.

Monica berdiri di ujung deretan motor, di antara pilar beton dan genangan air. Tas kerja di bahu, kunci mobil di tangan. B2 adalah lantai parkir mobil. Ia tidak punya alasan berada di B3.

“Mbak nyasar?” tanyaku.

“Nggak.”

“Mobil Mbak di B2.”

“Saya tahu.”

“Ini B3.”

“Saya juga tahu.” Ia berjalan mendekat, langkahnya hati-hati menghindari genangan. Sepatunya hitam, berhak rendah, dan tidak kena air sedikit pun. “Evan bilang motor kamu bunyinya kayak bebek lagi pilek. Saya penasaran.”

“Evan ngomongin motor saya?”

“Evan ngomongin semuanya. Saya cuma dengerin bagian yang ada kamunya.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku mematikan mesin.

Monica berdiri di samping motorku. Ia menatap motor itu dari depan ke belakang, seperti sedang menilai mobil mewah di pameran. Spion kiri yang retak. Jok yang dijahit ulang ibuku dengan benang hitam. Stiker klub futsal SMA di spakbor belakang yang sudah setengah mengelupas.

“Umurnya berapa?” tanyanya.

“Dua belas tahun, Mbak.”

“Masih kuat?”

“Masih. Kalau nggak dipaksa nanjak.”

“Kenapa nggak ganti?”

“Masih jalan.”

Monica menatapku. Lalu mengulurkan tangan dan menyentuh jok motorku, tepat di bagian yang dijahit ulang. Ujung jarinya mengikuti jahitan itu pelan.

“Saya suka yang setia,” katanya.

Satpam parkir di pos jaga mendadak sangat sibuk membaca buku catatan kendaraan.

Aku menatap tangan Monica di jok motorku. Otakku bekerja keras lagi, mencari format yang benar untuk data ini.

Ia sedang bicara soal motor.

Iya. Motor.

Tidak ada penjelasan lain yang masuk akal.

“Iya, Mbak,” kataku. “Motor bebek memang awet. Mesinnya sederhana.”

Monica memejamkan mata sebentar. Lalu membukanya lagi dan menatapku dengan wajah orang yang sangat sabar, sedang berhadapan dengan orang yang sangat lambat.

“Hati-hati di jalan, Aris,” katanya. “Jalanan licin.”

“Mbak juga. Hati-hati.”

Ia berbalik dan berjalan kembali ke arah tangga B2. Di tengah jalan, ia berhenti, menoleh lewat bahu.

“Oh, dan Aris.”

“Iya, Mbak?”

“Sabunnya jangan diganti.”

Ia menghilang di balik pintu tangga.

Aku duduk di atas motor yang mesinnya mati selama dua menit penuh, sampai satpam parkir mengetuk spionku dan bertanya apakah aku baik-baik saja.


Malamnya, Evan dan Lucky datang ke rumah.

Mereka tidak memberi tahu dulu. Mereka memang tidak pernah memberi tahu dulu. Mobil hitam Lucky diparkir di mulut gang karena tidak muat masuk, dan mereka berdua berjalan kaki sampai ke pagar hijau rumahku, membawa dua kantong plastik martabak dan satu kantong plastik kecil berisi gorengan dari pedagang di depan gang.

Ibuku menyambut mereka seperti menyambut anak sendiri yang pulang merantau.

“Evan! Lucky! Kok nggak bilang-bilang? Ibu belum masak.”

“Kita bawa martabak, Bu,” kata Evan sambil mencium tangan ibuku. “Martabak telor spesial, tiga telor. Sama yang manis, keju cokelat.”

“Kamu itu kebiasaan bawa-bawa.”

“Kalau nggak bawa, nanti Aris nggak mau buka pintu, Bu.”

Ibuku tertawa dan masuk ke dapur untuk membuat teh. Kami bertiga duduk di teras, di bangku kayu panjang yang kakinya diganjal batu bata karena tidak rata. Lampu teras berwarna kuning redup, dikerubungi laron.

Evan membuka kotak martabak. Lucky melepas jas dan menggulung lengan kemejanya. Aku mengambil sepotong gorengan.

Lalu mereka berdua menatapku.

Lama.

“Apa?” kataku.

“Lo tahu apa,” kata Evan.

“Nggak tahu.”

“Grup Lantai 7 Garis Keras.”

Aku berhenti mengunyah. “Kamu bukan anggota grup itu.”

“Dini anggota grup itu. Dini follow Instagram gue. Dini DM gue tadi siang.”

“Dini itu...”

“Satu lift,” kata Evan, mengangkat satu jari. “Wangi sabun bayi,” satu jari lagi. “Basement B3, yang padahal mobilnya di B2. Saya suka yang setia.”

“Kok kamu tahu yang di basement?”

“Satpam parkir namanya Pak Udin. Pak Udin main futsal sama gue tiap Kamis.”

Aku menatap Lucky meminta pertolongan. Lucky sedang memotong martabak dengan sangat teliti, seperti sedang membedah katak di laboratorium.

“Luck.”

“Gue nggak ngomong apa-apa.”

“Kamu juga udah tahu?”

“Gue direktur, Ris. Gue tahu semua yang terjadi di gedung itu.” Ia meletakkan pisau plastik. “Termasuk fakta bahwa Monica Larasati, legal officer terbaik yang pernah direkrut perusahaan ini dalam lima tahun terakhir, sengaja turun ke B3 buat ngelihat motor bebek lo.”

Evan bersandar ke tiang teras dengan wajah puas seperti kucing yang baru makan ikan.

“Jadi,” katanya. “Ada yang mau lo ceritain ke kita?”

Aku meletakkan gorengan yang belum habis. Aku menatap mereka berdua. Lalu menghela napas panjang.

“Oke,” kataku. “Aku punya teori.”

Evan dan Lucky saling pandang.

“Teori,” ulang Evan.

“Dengerin dulu. Monica itu baru dua minggu di kantor. Dia belum kenal siapa-siapa. Terus dia lihat kamu, Van. Kemarin di rapat, dan di warung soto. Kamu kan biasanya yang dilihat orang duluan.”

“Itu fakta,” kata Evan, tidak rendah hati sama sekali.

“Terus dia butuh cara buat deket sama kamu. Tapi dia perempuan, cantik, pintar. Dia nggak terbiasa ngejar duluan. Jadi dia latihan dulu.”

“Latihan,” ulang Lucky pelan.

“Latihan sama aku. Karena aku temen kamu, Van, dan aku nggak berbahaya. Aku jembatan yang aman. Wangi sabun bayi, motor setia, itu semua latihan ngomong. Nanti kalau udah lancar, dia ngomong ke kamu.”

Hening.

Laron berputar-putar di bawah lampu teras. Dari dapur, terdengar bunyi sendok beradu dengan gelas.

Evan menatapku. Lalu ia menegakkan duduknya, merapikan rambut dengan jari, dan tersenyum lebar.

“Masuk akal,” katanya.

Lucky menoleh ke Evan dengan cepat. “Van.”

“Nggak, serius, Luck. Masuk akal. Lo lihat cara dia jalan ke arah kita kemarin? Lurus banget. Kayak udah tahu targetnya.” Evan mengusap dagunya. “Dan semua orang di gedung bilang dia ngincer gue. Mbak Wati udah konfirmasi.”

“Mbak Wati juga pernah konfirmasi lo pacaran sama istri orang.”

“Itu fitnah.”

“Itu Mbak Wati.”

Aku mengangguk ke arah Evan, lega karena setidaknya satu orang di teras ini mengerti teoriku.

“Jadi nanti,” kataku, “kalau dia mulai ngajak ngobrol kamu, Van, kamu yang sabar, ya. Dia orangnya baik. Kemarin dia minum teh tawar ibuku sampai habis, padahal mukanya kelihatan nggak suka.”

Lucky berhenti mengunyah martabak.

“Dia minum teh tawar lo,” katanya. “Sampai habis. Padahal nggak suka.”

“Iya. Sopan, kan?”

Lucky menatapku lama. Lama sekali, dengan tatapan yang tidak bisa kubaca. Lalu ia menatap Evan. Evan masih sibuk merapikan rambut, mengecek pantulan wajahnya di kaca jendela.

“Ris,” kata Lucky pelan. “Teori lo itu ada datanya?”

“Ada. Tiga puluh tujuh surat.”

“Itu waktu SMA.”

“Pola, Luck. Pola nggak berubah.”

Lucky membuka mulut seperti mau membantah. Tapi pintu teras terbuka dan ibuku keluar membawa nampan berisi tiga gelas teh manis dan satu toples kerupuk.

“Ngomongin apa sih, seru banget?”

“Ngomongin cewek, Bu,” kata Evan riang. “Ada cewek cantik di kantor yang naksir saya.”

“Oh ya? Siapa namanya?”

“Monica, Bu.”

Ibuku meletakkan nampan di bangku. Lalu menoleh padaku.

“Monica,” ulangnya. “Yang kancingnya abu-abu?”

Teras mendadak hening lagi.

Evan menatap ibuku. Lucky menatap ibuku. Aku menatap ibuku dengan perasaan seperti anak SD yang ketahuan menyontek.

“Kok Ibu tahu?”

“Benang abu-abu di kotak jahitmu tinggal sedikit. Kemarin Ibu isi ulang. Kamu nggak pernah pakai benang abu-abu, Ris. Kemeja kamu putih semua.” Ibuku duduk di kursi plastik di sebelah pintu. “Terus tadi pagi kamu nanya, kalau ada orang bilang ‘kamu wangi’, itu maksudnya apa. Ibu kira kamu nanya buat temen.”

Evan menjatuhkan potongan martabaknya ke lantai.

Lucky menutup wajah dengan kedua tangan, dan untuk pertama kalinya sejak SMA, aku mendengar Lucky Wiratama tertawa sampai terbatuk-batuk.

“Bu,” kataku. “Itu buat temen.”

“Iya, iya.” Ibuku menepuk lututku, lalu berdiri dan kembali ke dalam. Di ambang pintu, ia berhenti, menoleh ke Evan. “Van.”

“I-iya, Bu?”

“Monica itu buat kamu?”

Evan menatap ibuku. Lalu menatapku. Lalu menatap Lucky, yang sekarang tertawa tanpa suara dengan bahu berguncang.

“Kata Aris begitu, Bu,” jawab Evan pelan. Kepercayaan dirinya sudah turun banyak dibanding lima menit lalu.

“Hm,” kata ibuku.

Lalu ia masuk, dan beberapa detik kemudian, mesin jahitnya berbunyi lagi.

Kami bertiga duduk di teras dalam diam. Laron masih berputar di bawah lampu.

“Teorinya bagus, Ris,” kata Lucky akhirnya, menghapus air mata di sudut matanya. “Masuk akal banget.”

“Iya, kan?”

“Iya.” Ia mengambil potongan martabak telor, menggigitnya, dan mengunyah dengan wajah serius. “Gue cuma penasaran satu hal.”

“Apa?”

“Kalau dia latihan sama lo buat ngomong ke Evan, kenapa dia nggak pernah ngomong ke Evan?”

Aku membuka mulut untuk menjawab.

Lalu menutupnya lagi.

Evan menatap martabaknya yang jatuh ke lantai, lalu pelan-pelan mengambilnya dan meniupnya, seperti itu bisa menyelamatkan sesuatu.

“Dia butuh waktu,” kataku akhirnya. “Baru dua minggu, Luck.”

“Oke,” kata Lucky.

“Beneran.”

“Oke, Ris.”

Ia tidak membantah lagi. Tapi sepanjang malam, setiap kali aku menoleh, Lucky sedang menatapku dengan senyum kecil yang menurutku sangat tidak perlu.