Chapter Twenty Six
Uang Pisah
POV: Aris
Restoran di lantai dasar Hotel Mandarin punya karpet yang begitu tebal sampai langkah kakiku tidak berbunyi.
Aku datang jam dua belas kurang sepuluh. Kemeja putih, yang kancingnya bening. Celana bahan hitam yang sudah disetrika ibuku semalam. Sepatu kulit yang kubeli waktu wisuda, yang solnya sudah diganti dua kali di tukang sol sepatu dekat pasar Jatinegara.
Pelayan di pintu masuk menatap sepatuku sebentar. Hanya sebentar. Lalu tersenyum sopan dan bertanya atas nama siapa.
“Ratna Wiratama,” kataku.
Senyum pelayan itu berubah. Lebih lebar. Lebih hormat. Ia mengantarku melewati meja-meja berlapis taplak putih, melewati jendela besar yang menghadap kolam air mancur di Bundaran HI, sampai ke ruang makan pribadi di bagian belakang restoran.
Bu Ratna sudah duduk di sana.
Kebaya biru tua. Sanggul rapi. Kacamata berbingkai emas. Secangkir teh di depannya, dari porselen putih dengan tepi emas, sama dengan cangkir-cangkir di rumahnya di Menteng. Mungkin ia membawanya sendiri. Mungkin hotel ini menyiapkannya khusus untuknya.
“Aris,” katanya. “Duduk.”
Aku mencium tangannya. Tangannya dingin, seperti di kondangan. Lalu aku duduk di kursi di seberangnya.
Pelayan menuangkan teh ke cangkir di depanku. Teh melati. Dengan dua sendok gula, tanpa ditanya.
Aku tidak menyentuhnya.
Bu Ratna tidak langsung bicara. Ia memesan makanan untuk kami berdua tanpa bertanya apa yang ingin kumakan. Sup asparagus. Ikan kakap panggang dengan saus mentega lemon. Salad yang daunnya berwarna ungu dan hijau. Lalu ia menyesap tehnya, meletakkan cangkir, dan menatapku dengan mata yang sangat tenang.
“Kamu tahu kenapa Tante ngajak kamu ke sini?”
“Nggak, Bu.”
“Tante mau ngomong jujur sama kamu, Aris. Dari hati ke hati. Sebagai seorang ibu.” Ia melipat tangan di atas meja. “Kamu udah sebelas tahun kenal Lucky.”
“Iya, Bu.”
“Sebelas tahun kamu ada di sebelah dia. Ke mana pun dia pergi. Sekolah, kuliah, sekarang kantor. Kamu tahu semua rahasianya. Kamu tahu semua kelemahannya.”
“Lucky sahabat saya, Bu.”
“Tante tahu.” Ia tersenyum. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Dan Tante berterima kasih sama kamu. Sungguh. Kamu nyelametin anak Tante di curug. Tante nggak pernah lupa itu. Tante bayar semua biaya rumah sakit kamu karena Tante bersyukur.”
Aku diam.
Sup asparagus datang. Pelayan meletakkannya di depan kami, lalu pergi tanpa suara.
“Tapi sebelas tahun itu lama, Aris.” Bu Ratna mengambil sendok sup, tapi tidak memakannya. “Utang budi Tante sama kamu udah lunas. Biaya rumah sakit. Biaya fisioterapi. Lucky ngasih kamu mesin jahit buat ibu kamu. Lucky ngasih kamu laptop. Lucky ngasih kamu entah apa lagi yang Tante nggak tahu.”
“Saya balikin semuanya, Bu.”
“Oh ya?” Alisnya terangkat sedikit. “Terus kenapa kamu bisa bayar rumah sakit anak Pak Udin delapan juta? Kenapa kamu bisa beli laptop yang lebih bagus dari yang Lucky kasih? Gaji staf data berapa, Aris? Sembilan juta? Sepuluh?”
Aku menatapnya.
Aku tidak tahu dari mana ia tahu soal anak Pak Udin. Aku membayar tagihan itu lewat transfer anonim ke rumah sakit. Aku tidak pernah memberi tahu siapa-siapa. Aku hanya tahu anak Pak Udin sakit karena Pak Udin bercerita padaku di pos jaga parkir, satu malam waktu aku lembur, dengan mata merah karena belum tidur dua hari.
“Itu uang saya, Bu,” kataku pelan.
“Uang kamu dari mana?”
“Dari kerja, Bu.”
“Kerja apa?”
Aku tidak menjawab.
Bu Ratna meletakkan sendok supnya. Bunyi logam di porselen terdengar sangat keras di ruang makan pribadi yang sunyi itu.
“Aris,” katanya, lebih pelan sekarang. “Tante nggak bodoh. Tante tahu cara kerja orang-orang kayak kamu. Tante udah lihat dari dulu, waktu Tante masih kecil, waktu bapak Tante masih hidup. Selalu ada orang yang nempel di keluarga yang punya uang. Selalu ada orang yang baik, sopan, rendah hati, nggak pernah minta apa-apa.” Ia menatapku lurus. “Mereka nggak perlu minta. Karena mereka bikin orang lain ngerasa berutang. Terus orang lain itu ngasih sendiri. Lagi, dan lagi, dan lagi.”
Aku menatap sup asparagus di depanku. Permukaannya halus, hijau pucat, dengan setetes krim berbentuk spiral di tengahnya.
“Kamu bayar rumah sakit anak satpam. Kamu kirim kopi ke meja orang yang lembur. Kamu nolong orang di kantor, terus nggak mau disebut namanya. Semua orang sayang sama kamu, Aris. Semua orang ngerasa berutang sama kamu.” Bu Ratna mengangkat cangkir tehnya lagi. “Itu namanya membangun jaringan. Pakai uang yang bukan uang kamu.”
“Itu bukan uang Lucky, Bu.”
“Buktikan.”
Aku diam.
Aku bisa membuktikannya. Aku bisa membuka ponsel, membuka dashboard, dan memperlihatkan angka di pojok kanan atas layar. Aku bisa memperlihatkan riwayat kontrak dengan klien di Rotterdam, di Singapura, di Seoul. Aku bisa memperlihatkan laporan pajak yang kubayar setiap tahun dengan tertib, sampai ke sen terakhir.
Bu Ratna akan berhenti menatapku seperti itu. Ia akan minta maaf. Mungkin.
Lalu ia akan menatapku dengan cara yang lain. Cara yang sama seperti teman-teman ayahku menatap ayahku waktu usahanya masih jalan.
Aku tidak membuka ponsel.
“Saya nggak bisa buktikan, Bu,” kataku.
Bu Ratna tersenyum. Senyum orang yang baru saja memenangkan argumen.
Lalu ia membuka tas tangannya, tas kulit berwarna krem dengan logo kecil berwarna emas, dan mengeluarkan sebuah amplop putih. Ia meletakkannya di atas meja, di samping sup asparagusku, lalu mendorongnya pelan ke arahku dengan dua jari.
“Buka.”
Aku menatap amplop itu. Lalu membukanya.
Selembar cek. Atas namaku. Ditandatangani dengan tinta biru.
Lima ratus juta rupiah.
“Itu buat kamu,” kata Bu Ratna. “Uang pisah.”
Aku menatap angka di cek itu. Lima, lalu delapan angka nol. Ditulis dengan tulisan tangan yang rapi dan miring ke kanan.
“Tante punya kenalan di Surabaya. Perusahaan logistik besar. Mereka butuh analis data senior. Gajinya tiga kali gaji kamu sekarang. Atau kalau kamu mau, Tante punya kenalan di Singapura. Kamu bisa kerja di sana, jauh dari Jakarta. Mulai hidup baru.” Bu Ratna menyesap tehnya. “Syaratnya cuma satu. Kamu resign dari Wiratama, dan kamu pergi dari hidup Lucky.”
Ruang makan pribadi itu sunyi. Di luar jendela kecil di dinding, aku bisa melihat sedikit air mancur di Bundaran HI, berkilau di bawah matahari siang.
“Dan satu lagi,” kata Bu Ratna. Suaranya sedikit berubah. Lebih lembut. Lebih tajam. “Monica.”
Aku mengangkat wajah.
“Perempuan sebaik itu nggak pantas dibawa-bawa ke hidup kamu, Aris.”
Aku menatapnya.
“Tante tahu semuanya,” katanya pelan. “Tante tahu soal kancing di tangga darurat. Tante tahu soal tempe goreng yang dia goreng empat kali buat kamu. Tante tahu soal motor bebek dan helm putih. Tante tahu kamu bikin dia nangis di lapangan parkir waktu kebakaran.” Ia diam sebentar. “Tante tahu kamu nolak dia di warung wedang ronde, di tengah hujan. Dan dia pulang naik taksi sambil nangis.”
Tanganku di atas lutut berhenti bergerak.
Bagaimana ia tahu?
Bagaimana Bu Ratna Wiratama, yang tidak pernah datang ke kantor kecuali untuk acara resmi, yang tidak pernah turun ke lantai tujuh, tahu soal kancing di tangga darurat? Soal tempe goreng empat kali? Soal warung wedang ronde Pak Kardi, dua malam lalu, di tengah hujan?
Hanya ada beberapa orang yang tahu semua itu.
Monica. Aku. Evan. Lucky. Dan...
Aku tidak menyelesaikan pikiran itu. Otakku menolak menyelesaikannya. Seperti menolak membuka file yang ia tahu isinya akan merusak sesuatu.
“Kamu lihat sendiri, kan?” kata Bu Ratna lembut. “Kamu cuma bikin dia sedih. Perempuan kayak Monica pantas dapat laki-laki yang bisa bikin dia bahagia. Yang bisa berdiri di sebelahnya tanpa orang nanya kenapa. Bukan kamu, Aris.”
Aku menatap cek di tanganku.
Bukan kamu, Aris.
Kalimat itu terdengar sangat akrab. Aku sudah mendengarnya ribuan kali. Bukan dari Bu Ratna. Dari diriku sendiri. Di kamar dengan noda bocor berbentuk peta Kalimantan. Di basement gedung resepsi. Di bawah terpal warung wedang ronde, sambil menatap perempuan yang baru saja menciumku.
Bu Ratna hanya mengucapkannya keras-keras.
Aku melipat cek itu kembali. Rapi. Mengikuti lipatan aslinya.
Lalu memasukkannya ke dalam amplop putih, dan meletakkan amplop itu di atas meja. Di sebelah cangkir teh melati yang tidak kusentuh.
Aku mendorongnya pelan ke arah Bu Ratna. Dengan dua jari. Persis seperti ia mendorongnya ke arahku tadi.
“Terima kasih, Bu,” kataku. “Tapi saya nggak bisa terima.”
Senyum Bu Ratna berhenti.
“Kenapa? Kurang?”
“Bukan, Bu.” Aku menatapnya. “Saya nggak pernah ambil apa-apa dari Lucky. Saya nggak akan mulai sekarang. Termasuk dari Ibu.”
“Kamu pikir Tante bakal percaya...”
“Ibu nggak harus percaya, Bu.” Suaraku pelan, tapi tidak gemetar. Aku sendiri heran kenapa tidak gemetar. “Ibu ibunya Lucky. Ibu khawatir sama anak Ibu. Saya ngerti. Kalau saya punya anak, mungkin saya juga bakal khawatir kayak Ibu.”
Bu Ratna menatapku dengan mata yang sedikit menyipit.
“Tapi saya nggak bakal pergi dari hidup Lucky karena dibayar, Bu,” kataku. “Kalau saya pergi, saya pergi karena saya sendiri yang milih. Bukan karena cek.”
“Dan Monica?”
Aku diam lama.
“Itu,” kataku akhirnya, “bukan urusan Ibu.”
Itu kalimat paling kasar yang pernah kuucapkan pada seorang ibu. Aku tahu. Aku merasakannya di lidah, pahit dan asing. Tapi aku tidak menariknya kembali.
Bu Ratna menatapku. Untuk pertama kalinya sejak aku duduk di ruang makan pribadi itu, wajahnya berubah. Bukan marah. Lebih seperti terkejut. Seperti orang yang menendang batu yang ia kira kosong, dan ternyata batu itu tidak bergerak.
Aku berdiri.
“Terima kasih atas undangannya, Bu. Saya pamit.”
Aku mencium tangannya lagi. Masih dingin. Lalu aku berbalik dan berjalan keluar dari ruang makan pribadi itu, melewati meja-meja bertaplak putih, melewati jendela yang menghadap air mancur, melewati pelayan di pintu masuk yang menatap sepatuku lagi.
Di kasir, aku berhenti.
“Mbak,” kataku pada kasir, perempuan muda dengan seragam hitam dan rambut disanggul. “Tagihan ruang makan pribadi atas nama Ibu Ratna Wiratama. Berapa?”
Kasir itu menatapku. Lalu menatap layar komputernya.
“Belum ditutup, Mas. Ibu masih di dalam.”
“Untuk pesanan yang udah keluar aja, Mbak. Sup, ikan, salad, teh. Dua porsi.”
Kasir itu mengetik. Lalu menyebutkan angka. Angka yang cukup untuk membayar uang sekolah satu anak SD di Jatiwaringin selama satu semester.
Aku mengeluarkan kartu debit dari dompet. Kartu debit dari bank yang sama dengan gajiku. Bukan rekening yang lain. Aku membayar.
“Kalau Ibu Ratna tanya,” kataku, “bilang aja udah dibayar.”
“Atas nama siapa, Mas?”
Aku menatap kasir itu. Lalu tersenyum kecil.
“Bilang aja dari tukang pos,” kataku.
Aku tidak kembali ke kantor siang itu. Aku mengirim pesan ke Dini bahwa aku izin setengah hari karena tidak enak badan. Itu bukan bohong.
Aku menyetir motor bebek pelan-pelan, tanpa tujuan, dari Thamrin ke Menteng ke Salemba ke Matraman. Dua puluh kilometer per jam, walaupun tidak ada siapa-siapa di jok belakang. Aku berhenti di lampu merah, menatap angka yang menghitung mundur, dan tidak memikirkan apa-apa.
Aku sudah memikirkan semuanya.
Kancing di tangga darurat. Tempe goreng empat kali. Helm putih. Lapangan parkir. Warung wedang ronde, dua malam lalu, di tengah hujan.
Hanya beberapa orang yang tahu semua itu.
Dan hanya satu orang dari mereka yang dekat dengan Bu Ratna. Yang dianggap Bu Ratna seperti anak sendiri. Yang masuk ke Wiratama Group sebulan sebelum Monica. Yang mengajak Monica pindah ke Wiratama Group.
Renata.
Aku teringat Renata di depan pagar rumahku, memeluk termos teh, menatapku dengan mata basah. Aris. Kamu... Lalu tidak melanjutkan.
Teringat Renata di kondangan Bu Ambar, berjalan setengah langkah di belakang Bu Ratna. Berbisik maaf, Mon.
Teringat Renata yang tiba-tiba pucat di restoran Jepang, kata Lucky, waktu Lucky menceritakan malam di curug.
Teringat Renata yang sudah dua hari tidak masuk kerja, tidak membalas pesan Lucky, sejak Selasa malam. Sejak warung wedang ronde. Sejak Monica pulang naik taksi sambil menangis.
Lampu merah berubah hijau. Angkot di belakangku membunyikan klakson.
Aku menjalankan motor.
Kalau Renata yang melaporkan semuanya ke Bu Ratna, maka Renata tahu semuanya dari Monica. Karena Monica sahabatnya. Karena Monica menceritakan semuanya pada Renata.
Itu masuk akal. Monica bercerita pada sahabatnya. Sahabatnya melapor pada Bu Ratna. Monica tidak tahu.
Itu yang masuk akal.
Tapi ada satu suara lain di kepalaku. Suara yang lebih tua. Suara yang sudah menemaniku sejak SMA. Suara itu tidak bilang apa-apa. Ia hanya bertanya, dengan pelan dan sabar, seperti guru yang sedang menuntun murid menuju jawaban yang salah.
Monica datang ke Wiratama Group dua minggu setelah Renata.
Monica datang karena diajak Renata.
Monica langsung mendekati kamu. Di hari pertama. Di tangga darurat.
Kenapa kamu? Dari semua orang di gedung ini, kenapa kamu?
Aku menggeleng keras di atas motor, sampai helm hitamku hampir miring.
Tidak. Monica tidak tahu. Monica tidak mungkin tahu. Monica menangis di lapangan parkir. Monica menciumku di warung wedang ronde dengan bibir yang gemetar. Orang tidak bisa berpura-pura gemetar seperti itu.
Bisa, kata suara itu, pelan. Orang yang pintar bisa. Dan Monica orang paling pintar yang pernah kamu kenal.
Aku membelokkan motor ke pinggir jalan, berhenti di depan warung kelontong yang tutup, dan mematikan mesin. Aku duduk di sana, di atas motor, dengan tangan gemetar di setang.
Aku tidak percaya suara itu.
Tapi aku juga tidak bisa membuatnya diam.
Ibuku sedang menjahit waktu aku pulang jam empat sore.
Ia menoleh dari mesin jahitnya. Melihat wajahku. Lalu berhenti menjahit.
“Ris?”
“Bu.”
“Kamu kenapa?”
“Nggak apa-apa, Bu.”
Ia menatapku lama. Lalu berdiri dari kursinya, menghampiriku, dan meletakkan telapak tangannya di pipiku. Telapak tangan yang hangat, sedikit kasar, berbau minyak mesin jahit.
“Kamu bohong,” katanya pelan. “Kamu selalu bilang nggak apa-apa kalau kamu bohong.”
Aku tidak menjawab. Aku melepaskan tangan ibuku dari pipiku dengan lembut, dan berjalan ke kamar.
Di kamar, aku duduk di depan meja belajar. Lama. Menatap laci kiri yang macet kalau ditarik terlalu keras.
Lalu aku menariknya. Terlalu keras.
Laci itu terbuka mendadak, setengahnya terlepas dari rel. Kabel-kabel kusut. Buku catatan kuliah. Kalkulator yang baterainya sudah mati.
Aku menggeser buku-buku itu. Satu per satu. Sampai aku menemukannya.
Amplop cokelat besar. Sudah kusam. Ujungnya sedikit sobek. Di pojok kiri atas, sebuah logo kecil. Lingkaran dengan huruf-huruf kanji di dalamnya, dan di bawahnya, nama sebuah universitas di Tokyo dalam huruf latin.
Aku mengeluarkan amplop itu dari laci. Untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun.
Aku tidak membukanya. Aku hanya memegangnya. Merasakan beratnya. Ringan. Hanya beberapa lembar kertas di dalamnya. Tapi rasanya seberat karung seragam ibuku, seberat Mas Jono di punggungku, seberat Lucky yang kutarik dari arus curug dengan bahu yang sudah patah.
Di dalam amplop itu ada dua surat. Aku tahu tanpa membukanya. Aku hafal isinya.
Surat pertama: surat penerimaan beasiswa penuh. Teknik informatika. Empat tahun. Termasuk biaya hidup, biaya asrama, tiket pesawat pulang-pergi.
Surat kedua: surat pembatalan. Dikirim tiga bulan kemudian. Karena calon penerima tidak dapat memenuhi persyaratan pemeriksaan kesehatan dan tidak dapat hadir pada tanggal keberangkatan yang ditentukan.
Aku memegang amplop itu di pangkuanku.
Pintu kamarku terbuka pelan. Ibuku berdiri di ambang pintu. Matanya jatuh ke amplop di pangkuanku.
Wajahnya berubah. Pelan. Seperti orang yang melihat hantu dari masa lalu.
“Ris,” katanya. Suaranya hampir berbisik. “Kenapa kamu keluarin itu?”
Aku tidak menjawab.
Ibuku masuk ke kamar dan duduk di ujung kasur busa, di sebelah kursi meja belajarku. Ia menatap amplop itu. Lalu menatapku.
“Kamu udah sebelas tahun nggak nyentuh itu.”
“Iya, Bu.”
“Kenapa sekarang?”
Aku menatap logo kecil di pojok kiri atas amplop. Lingkaran dengan huruf kanji.
“Hari ini Bu Ratna nawarin saya lima ratus juta buat pergi, Bu,” kataku pelan. “Dari Lucky. Dari Wiratama. Dari Monica.”
Ibuku menutup mulutnya dengan tangan.
“Saya tolak,” kataku. “Tapi waktu saya pulang, saya mikir. Mungkin Bu Ratna bener, Bu. Mungkin saya memang cuma nempel. Mungkin saya memang cuma bikin orang-orang di sekitar saya sedih.”
“Ris...”
“Waktu itu saya mikir, kalau saya nggak lompat ke curug, saya udah di Tokyo sekarang.” Aku tersenyum. Senyum yang tidak terasa seperti senyum. “Tapi kalau saya nggak lompat, Evan sama Lucky...”
Aku tidak menyelesaikan kalimat itu.
Ibuku diam lama. Lalu ia mengulurkan tangan, mengambil amplop cokelat itu dari pangkuanku, dan memeluknya di dadanya. Seperti memeluk kotak benang Jepang dari Lucky. Seperti memeluk sesuatu yang sangat berharga dan sangat menyakitkan sekaligus.
“Kamu nggak pernah cerita ke mereka,” kata ibuku. Bukan pertanyaan.
“Nggak, Bu.”
“Kenapa?”
“Karena kalau mereka tahu, mereka bakal ngerasa berutang lebih banyak lagi.” Aku menatap jendela kamarku. Hujan mulai turun di luar. Rintik-rintik. “Mereka udah ngerasa berutang nyawa, Bu. Saya nggak mau mereka ngerasa berutang mimpi juga.”
Ibuku menatapku. Air matanya jatuh, satu, ke amplop cokelat di dadanya.
Lalu ia berdiri, dengan amplop itu masih di pelukannya, dan berjalan ke pintu kamar.
“Bu, amplopnya...”
“Ibu yang simpen,” katanya tanpa menoleh. “Kamu udah terlalu lama nyimpen sendirian.”
Ia keluar dari kamar dan menutup pintu.
Aku duduk di depan meja belajar dengan laci yang setengah terlepas dari relnya, menatap tempat kosong di mana amplop itu tadi berada.
Di luar, hujan turun semakin deras.
Dan suara di kepalaku, suara yang lebih tua, suara yang sudah menemaniku sejak SMA, terus bertanya dengan pelan dan sabar.
Kenapa kamu? Dari semua orang di gedung ini, kenapa kamu?
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah reading
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan