← Dari Awal, Bukan Buat Evan

Chapter Seventeen

Bukti Uang

POV: Renata


Lucky Wiratama tidak tahu cara memilih kado.

Aku menyadarinya hari Sabtu siang, di lantai tiga sebuah mal di Senayan, di depan etalase toko perhiasan yang lampunya terlalu terang, waktu Lucky menunjuk sebuah kalung berlian dan bertanya dengan wajah sangat serius, “Kalau ini?”

“Buat Bu Sumi?”

“Iya.”

“Bu Sumi penjahit di Jatiwaringin, Lucky.”

“Terus?”

“Dia nggak bakal pakai kalung berlian ke pasar.”

Lucky menatap kalung itu, lalu menatapku. “Dia bisa pakai ke kondangan.”

“Kalungnya harganya sama kayak rumah dia.”

Lucky membuka mulut, menutupnya lagi, lalu berbalik meninggalkan etalase perhiasan dengan langkah orang yang baru kalah debat di pengadilan.

Aku mengikutinya sambil menahan tawa.

Bu Sumi berulang tahun hari Minggu. Lucky mengirimiku pesan Jumat malam, jam sebelas, yang isinya hanya: Kamu ada acara besok siang? Lalu, lima menit kemudian, sebelum aku sempat membalas: Saya butuh bantuan profesional. Corporate Communications. Soal pemilihan hadiah yang tepat sasaran.

Aku membalas: Ini soal kado ultah ibunya Aris, kan?

Tiga menit tidak ada jawaban. Lalu: Monica cerita?

Evan.

Evan nggak bisa nyimpen apa-apa.

Aku tahu.

Jadi di sinilah aku. Sabtu siang, di mal Senayan, berjalan di sebelah direktur pengembangan bisnis Wiratama Group yang memakai kaus polo dan celana bahan, dan yang ternyata, di luar ruang rapat, tidak tahu cara membedakan hadiah yang tepat dan hadiah yang membuat penerimanya ingin pingsan.

“Tahun lalu,” kata Lucky sambil berjalan, “gue kasih Bu Sumi mesin jahit.”

“Bagus itu.”

“Mesin jahit komputer. Impor dari Jerman. Ada layar sentuhnya.”

Aku berhenti berjalan. “Terus?”

“Terus Aris balikin ke toko besoknya. Dia bilang ibunya nggak bisa pakai layar sentuh. Dia bilang ibunya lebih suka mesin jahit yang lama, yang dikasih almarhum bapaknya.” Lucky memasukkan tangan ke saku. “Uangnya dia transfer balik ke rekening gue. Lengkap. Sampai ongkos kirimnya.”

“Dia transfer balik?”

“Dia selalu transfer balik. Apa pun yang gue kasih yang harganya di atas lima ratus ribu, dia balikin. Atau dia ganti pakai sesuatu yang harganya sama.” Lucky tertawa pelan, tapi tidak terdengar lucu. “Tahun sebelumnya gue kasih dia laptop. Dia balikin, terus seminggu kemudian dia beli laptop sendiri. Yang lebih bagus dari yang gue kasih.”

Aku berhenti di depan sebuah toko kain.

“Dia beli laptop yang lebih bagus?”

“Iya. Gue juga heran. Gue tanya uangnya dari mana. Dia bilang nabung. Dia bilang ada proyek sampingan.” Lucky mengangkat bahu. “Dia emang pinter, Ren. Gue nggak heran kalau dia punya kerjaan sampingan yang bayarannya lumayan. Yang gue heran, kenapa dia nggak pernah cerita detailnya.”

Aku tidak menjawab. Aku menatap etalase toko kain di depan kami tanpa benar-benar melihatnya.

Proyek sampingan. Monica juga pernah menyebut itu, setelah pulang dari rumah Aris minggu lalu. Laptopnya bagus banget, Ren. Dua monitor. Nggak cocok sama kamarnya. Katanya buat proyek sampingan data.

Dan tadi malam, Tante Ratna meneleponku.


“Rena, Sayang. Tante mau minta tolong satu hal lagi.”

Suaranya di telepon jam sembilan malam terdengar sama seperti biasanya. Lembut, hangat, sedikit lelah. Suara seorang ibu yang khawatir.

“Iya, Tante.”

“Tante dengar dari Pak Udin, satpam di kantor. Pak Udin itu dulu supir keluarga kita sebelum pindah ke Wiratama Tower. Dia masih suka cerita ke Tante.” Tante Ratna diam sebentar. “Katanya bulan lalu anaknya Pak Udin dirawat di rumah sakit. Demam berdarah. Tagihannya hampir delapan juta. Pak Udin bingung bayarnya. Terus tiba-tiba lunas.”

“Lunas, Tante?”

“Ada yang bayar. Pak Udin nggak tahu siapa. Bagian administrasi rumah sakit cuma bilang dibayar anonim, lewat transfer.” Suara Tante Ratna berubah sedikit. Lebih tajam. “Tapi Pak Udin curiga itu anak itu. Karena anak itu satu-satunya orang di kantor yang tahu anaknya Pak Udin sakit. Pak Udin cuma cerita ke dia.”

Aku memegang ponsel lebih erat.

“Delapan juta, Rena,” lanjut Tante Ratna. “Anak penjahit. Staf data biasa. Gajinya berapa? Sembilan juta? Sepuluh? Dia kasih delapan juta ke anak satpam? Dari mana uangnya?”

“Mungkin dia nabung, Tante.”

“Mungkin.” Tante Ratna diam lagi. “Atau mungkin uangnya bukan uang dia.”

“Maksud Tante?”

“Lucky selalu ngasih dia apa-apa. Dari dulu. Tante tahu. Lucky pikir Tante nggak tahu, tapi Tante tahu. Mesin jahit, laptop, macam-macam.” Suaranya pelan, tapi setiap kata terdengar seperti sudah dipikirkan lama. “Kalau Lucky ngasih dia uang diam-diam, dan dia pakai uang itu buat sok jadi pahlawan di kantor, bikin semua orang berutang budi sama dia... Rena, itu namanya membangun jaringan. Pakai uang anak Tante.”

“Tante, aku nggak yakin...”

“Makanya Tante minta tolong.” Suaranya kembali lembut. Lembut sekali. “Cari tahu dia punya uang dari mana, Sayang. Itu aja. Kalau memang uangnya dari kerja keras dia sendiri, Tante bakal minta maaf. Tante janji. Tapi Tante harus tahu.”

Aku menatap langit-langit kamar apartemenku. Di kursi meja rias, jas Lucky masih tersampir. Sudah dua minggu. Aku belum mengembalikannya.

“Iya, Tante,” kataku.

“Kamu anak baik, Rena. Mamamu pasti bangga.”

Telepon ditutup.

Aku berbaring di kasur, menatap jas itu sampai jam satu pagi.


“Ren?”

Aku mengerjapkan mata. Lucky sedang menatapku dari ambang pintu toko kain, alisnya terangkat.

“Kamu bengong lima menit di depan etalase kain batik.”

“Maaf.” Aku tersenyum cepat. “Aku lagi mikir.”

“Mikir apa?”

“Mikir kado.” Aku masuk ke toko kain itu, menarik lengan bajunya. “Ayo. Aku punya ide.”

Toko kain itu kecil dan sempit, dengan gulungan-gulungan kain yang ditumpuk sampai ke langit-langit. Wangi kanji dan kapas. Pemiliknya, seorang bapak keturunan Tionghoa dengan kacamata tebal, menyambut kami dengan anggukan.

Aku berjalan ke bagian belakang toko, ke rak kecil di dekat meja kasir. Rak benang.

Benang jahit dalam gulungan-gulungan kecil, dari puluhan warna. Merah, biru, kuning, hijau, cokelat, krem, abu-abu.

“Benang?” tanya Lucky, berdiri di belakangku dengan wajah ragu.

“Benang yang bagus. Merek Jepang. Nggak gampang putus, nggak gampang kusut.” Aku mengambil satu gulungan benang abu-abu dan memutarnya di tanganku. “Bu Sumi penjahit, Lucky. Penjahit selalu butuh benang. Dan kalau kamu kasih benang, Aris nggak bisa balikin ke toko.”

Lucky menatap gulungan benang di tanganku. Lalu menatapku.

“Kenapa nggak bisa?”

“Karena kalau dia balikin benang ke toko, dia bakal kelihatan aneh banget.” Aku tersenyum. “Dan karena benang itu bukan barang mahal. Itu barang yang dipakai setiap hari. Setiap kali Bu Sumi jahit, dia pakai benang dari kamu. Itu lebih berarti dari kalung berlian.”

Lucky diam. Ia menatapku dengan cara yang membuat pipiku panas.

“Ren,” katanya pelan. “Kamu tahu nggak, kamu orang pertama yang bikin gue mikir soal kado sampai segini.”

“Kamu direktur. Kamu harusnya mikir lebih keras.”

“Gue mikir keras soal angka. Bukan soal orang.”

“Makanya kamu butuh Corporate Communications.”

Ia tertawa. Tawa yang sama seperti di mobil malam itu, waktu ia bercerita soal Evan yang celananya robek di pagar sekolah. Tawa yang tidak pernah ia keluarkan di kantor.

Kami membeli dua puluh empat gulungan benang Jepang dalam dua puluh empat warna, dengan kotak kayu kecil untuk menyimpannya. Lucky juga mengambil enam gulungan tambahan benang abu-abu.

“Kenapa abu-abu banyak?” tanyaku.

“Aris bilang benang abu-abu di kotak jahitnya tinggal sedikit.” Lucky menyerahkan kartu kreditnya ke kasir. “Gara-gara seseorang suka nggunting kancingnya sendiri.”

Aku tertawa sampai pemilik toko ikut tersenyum.

Lalu Lucky menambahkan satu barang lagi ke tumpukan di meja kasir. Sebuah jas hujan. Model setelan, jaket dan celana, berwarna biru tua, dengan bahan tebal yang jelas tahan bocor.

“Buat Aris,” katanya. “Jas hujannya robek di ketiak. Dia pinjam ponco Pak Udin kemarin buat bonceng Monica.”

“Dia bakal balikin.”

“Dia nggak bisa balikin jas hujan. Gue udah copot labelnya.” Lucky mengangkat label harga yang sudah terlepas dari jas hujan itu, lalu memasukkannya ke saku celananya. “Gue belajar dari kamu barusan. Kasih yang dipakai tiap hari.”

Aku menatapnya. Laki-laki yang tadi menunjuk kalung berlian, sekarang memegang label jas hujan di saku celana seperti anak SD yang menyembunyikan contekan.

Rasa bersalahku tumbuh satu inci lagi.


Kami makan siang di restoran kecil di lantai dasar mal itu. Restoran Jepang. Lucky yang memilih.

“Aris dulu pengen ke Jepang,” katanya sambil membuka buku menu. “Waktu SMA.”

Aku berhenti membaca menu. “Oh ya?”

“Dia belajar bahasa Jepang sendiri. Dari buku bekas. Gue sama Evan suka ngeledekin dia, manggil dia Aris-san.” Lucky tersenyum, lalu senyumnya memudar. “Terus nggak jadi.”

“Kenapa nggak jadi?”

Lucky tidak langsung menjawab. Ia menatap menu di tangannya, tapi matanya tidak membaca.

“Dia bilang gagal di seleksi akhir,” katanya. “Waktu itu dia baru keluar dari rumah sakit. Habis kejadian di curug. Gue nggak nanya lagi. Gue pikir mungkin karena dia sakit, nilainya turun, atau wawancaranya nggak lancar.” Lucky menutup buku menu. “Gue nggak pernah nanya lagi sejak itu. Dia juga nggak pernah bahas.”

Kejadian di curug.

Tante Ratna sudah menceritakannya padaku. Versi Tante Ratna. Malam yang hampir merenggut nyawa anaknya, dan anak dari keluarga biasa yang menolong lalu dirawat dengan biaya keluarga Wiratama.

Aku tidak pernah mendengar versi Lucky.

“Lucky,” kataku pelan. “Malam itu. Di curug. Apa yang terjadi?”

Lucky menatapku. Lama. Matanya berubah, seperti seseorang yang baru saja diajak membuka pintu ruangan yang sudah lama dikunci.

“Gue sama Evan bodoh,” katanya akhirnya. “Ditantang temen-temen buat renang di bagian atas aliran. Habis hujan. Airnya tinggi. Evan kepeleset duluan. Gue nyoba narik dia, gue ikut kebawa.”

Ia diam sebentar. Pelayan datang menanyakan pesanan. Lucky memesan tanpa melihat menu, dua set bento, dan pelayan itu pergi.

“Aris lompat,” katanya. “Dua kali. Pertama dia narik Evan. Terus dia balik lagi buat gue. Waktu narik gue, bahunya kena batu. Keras banget, Ren. Gue denger bunyinya. Kayak dahan pohon patah.”

Aku tidak bisa bicara.

“Dia nggak lepasin gue,” kata Lucky. Suaranya serak sekarang. “Bahunya udah patah, tapi dia nggak lepasin tangan gue. Dia tarik gue pakai tangan kiri sampai ke batu di pinggir. Terus dia pingsan.”

Ia mengambil gelas air putih di depannya dan meminumnya. Tangannya sedikit gemetar.

“Bahunya dioperasi dua kali. Dia di rumah sakit hampir sebulan, terus di rumah dua bulan lagi, nggak bisa bangun. Nyokap gue yang bayar biaya rumah sakitnya.” Lucky meletakkan gelas. “Dia nggak pernah minta. Nyokap gue yang maksa. Terus begitu dia kerja, dia nyicil balik ke bokap gue. Tiap bulan. Empat tahun.”

Aku menatapnya. “Nyicil balik?”

“Gue juga baru tahu dua tahun lalu. Bokap gue keceplosan.” Lucky tersenyum pahit. “Nyokap gue nggak tahu. Bokap gue bilang jangan dikasih tahu, nanti nyokap gue malu. Jadi gue diem.”

Aku duduk di restoran Jepang itu, di depan laki-laki yang matanya merah karena menceritakan malam terburuk dalam hidupnya, dan merasa seperti seseorang baru saja mencabut lantai dari bawah kakiku.

Tante Ratna tidak tahu.

Tante Ratna mengira anak itu menempel pada keluarganya karena berutang budi, karena butuh sesuatu, karena ingin sesuatu. Padahal anak itu sudah melunasi semuanya. Diam-diam. Empat tahun. Tanpa pernah memberi tahu siapa pun.

Dan sekarang Tante Ratna memintaku mencari tahu dari mana uangnya.

“Ren?” Lucky menatapku dengan wajah khawatir. “Kamu pucat.”

“Aku nggak apa-apa.”

“Kamu kayak mau nangis.”

“Aku nggak apa-apa, Lucky.” Aku tersenyum. Terlalu cepat. Terlalu lebar. “Ceritanya sedih aja.”

Lucky menatapku lama. Lalu, tanpa bicara, ia mengulurkan tangan ke seberang meja dan menggenggam tanganku. Sebentar. Hangat. Hanya beberapa detik, lalu ia melepaskannya karena pelayan datang membawa bento.

“Makasih udah nanya,” katanya pelan, sambil membuka sumpit. “Gue nggak pernah cerita ini ke siapa-siapa. Selain Evan sama Aris sendiri.”

Aku menunduk ke bento di depanku.

Nasi putih. Salmon panggang. Tamagoyaki. Acar lobak kuning.

Aku tidak bisa merasakan apa pun.


Jam sepuluh malam, ponselku bergetar.

Tante Ratna.

Rena, Sayang. Sudah ada kabar soal uang anak itu?

Aku duduk di tepi kasur, menatap pesan itu. Di sebelahku, ada kotak kayu berisi benang Jepang dua puluh empat warna yang Lucky titipkan padaku untuk dibungkus kado. Ia tidak bisa membungkus. Ia bilang hasil bungkusannya selalu kelihatan seperti barang yang dikirim lewat ekspedisi yang sedang marah.

Aku mengetik.

Tante, Aris punya kerja sampingan. Proyek data. Dia kerja keras.

Kirim.

Aku menatap pesan itu. Aku tidak menulis soal cicilan empat tahun. Aku tidak menulis soal malam di curug, versi Lucky. Aku tidak menulis soal tangan kiri yang tidak melepaskan, atau bahu yang patah seperti dahan pohon.

Itu bukan ceritaku untuk diceritakan. Lucky bilang begitu. Dan Pak Hendra sendiri yang menyuruh Lucky diam.

Balasan Tante Ratna datang tiga menit kemudian.

Kerja sampingan apa yang bisa bayar rumah sakit anak orang delapan juta, Rena?

Kerja sampingan apa yang bisa beli laptop lebih bagus dari yang dikasih Lucky?

Satu pesan lagi.

Cari tahu. Tante percaya sama kamu.

Aku meletakkan ponsel di kasur, telungkup.

Lalu aku mengambil kertas kado bermotif bunga dan mulai membungkus kotak kayu berisi benang Jepang itu. Pelan-pelan. Rapi. Lipatan demi lipatan, seperti Mama dulu mengajariku membungkus kado ulang tahun untuk teman-teman sekelas.

Aku menangis sambil membungkus.

Tidak keras. Pelan. Air mata jatuh di kertas kado bermotif bunga, dan aku harus mengganti kertasnya dua kali.

Ponselku bergetar lagi. Aku tidak mau membukanya. Tapi aku membukanya.

Bukan Tante Ratna.

Lucky.

Udah dibungkus belum? Gue cuma mau bilang makasih buat hari ini. Benang itu ide terbaik yang pernah ada.

Btw, jas gue yang kamu pinjem dua minggu lalu. Simpen aja. Kamu kelihatan lebih cocok pakai jas itu daripada gue.

Aku menatap pesan itu, dan menangis lebih keras.