Chapter Eighteen
Buat yang Bawa Termos
POV: Aris
Ibuku berulang tahun ke lima puluh sembilan hari Minggu, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah rumah kami, ada lima tamu.
Biasanya hanya ada dua. Evan dan Lucky. Mereka datang setiap tahun sejak SMA, membawa kue tart dari toko roti yang sama di Jatinegara, kue bolu pandan dengan krim putih dan tulisan Selamat Ulang Tahun Ibu dari selai stroberi yang selalu sedikit miring. Kami makan di ruang tamu, di antara mesin jahit dan tumpukan seragam sekolah, lalu Evan menyanyi terlalu keras dan Lucky memotret dengan kamera yang lebih mahal dari motorku.
Tahun ini, Lucky datang dengan Renata. Evan datang sendirian, membawa kue bolu pandan yang sama. Dan jam empat sore, pagar hijau diketuk lagi.
Ibuku sendiri yang membukanya. Ia tidak memberitahuku siapa yang ia undang. Ia hanya bilang, kemarin malam, sambil menjahit, “Ibu udah undang satu orang lagi. Kamu jangan protes.”
“Siapa, Bu?”
“Nanti juga tahu.”
“Ibu dapet nomor siapa?”
“Ibu minta waktu dia ke sini kemarin. Kamu lagi di kamar ganti baju yang kesembur teh.”
Monica berdiri di depan pagar hijau dengan gaun kuning muda, rambut tergerai, dan dua kantong di tangan. Satu kantong plastik berisi kotak makanan. Satu tas kertas kecil dengan pita merah.
Ibuku memeluknya seperti memeluk anak yang pulang dari rantau.
Aku berdiri di ambang pintu ruang tamu, memegang piring kosong yang tadinya mau kubawa ke dapur, dan lupa caranya berjalan.
“Hai,” kata Monica, menatapku dari balik bahu ibuku.
“Mbak.”
“Kamu pakai kemeja biru.”
“Ini... kemeja yang bersih, Mbak.”
“Aku tahu,” katanya. Lalu tersenyum.
Di belakangku, Evan mengeluarkan suara aneh, seperti batuk yang ditahan. Lucky menyikutnya. Renata, yang duduk di kursi kayu dekat jendela, tersenyum kecil. Tapi senyumnya tidak sampai ke matanya. Aku memperhatikan itu. Sejak ia datang, Renata lebih banyak diam dari biasanya. Ia memegang gelas teh manisnya dengan dua tangan, seperti orang yang kedinginan, padahal sore itu panas.
Kotak makanan yang dibawa Monica berisi tempe goreng.
Tempe goreng yang dipotong tipis, digoreng kering, dengan ketumbar yang disangrai lalu ditumbuk kasar, dan bawang putih yang dibanyakin. Tempe yang direndam air garam lima menit sebelum digoreng.
Ibuku mengambil satu potong dan memakannya pelan. Lalu ia menatap Monica.
“Ini resep Ibu.”
“Iya, Bu. Saya coba di rumah. Empat kali.”
“Empat kali?”
“Tiga kali pertama gagal, Bu. Ketumbarnya kegosongan.”
Ibuku menatap tempe goreng di tangannya. Lalu menatap Monica. Lalu, tanpa bicara, ia meletakkan tempe itu di piring, berdiri, dan memeluk Monica lagi. Lebih lama dari yang pertama.
Aku menatap mereka berdua. Ibuku, kecil dengan daster batik dan sanggul sederhana, memeluk perempuan bergaun kuning muda yang jauh lebih tinggi darinya. Monica harus sedikit membungkuk. Tangannya mengusap punggung ibuku pelan.
Sesuatu di dadaku terasa seperti ditarik lagi. Benang yang sama. Lebih kencang.
“Ris,” bisik Evan di sebelahku. “Lo nangis?”
“Nggak, Van.”
“Mata lo merah.”
“Asap obat nyamuk.”
“Obat nyamuknya belum dinyalain.”
Aku tidak menjawab.
Hadiah-hadiah dibuka setelah tiup lilin. Lilin angka lima dan sembilan, yang sudah dipakai sejak ulang tahun ibuku yang kelima puluh, karena Evan bilang lilin angka itu bisa dibalik-balik. Lima puluh, lima puluh lima, lima puluh sembilan. Tahun depan, katanya, kami tinggal beli lilin angka enam.
Evan memberi ibuku sandal rumah yang empuk, warna merah muda dengan hiasan bulu-bulu. Ibuku langsung memakainya dan berjalan bolak-balik di ruang tamu seperti peragawati.
Lalu Lucky menyerahkan kotak yang dibungkus kertas kado bermotif bunga. Bungkusnya rapi sekali. Terlalu rapi untuk bungkusan Lucky.
“Dari aku sama Renata, Bu,” katanya.
Ibuku membuka bungkusannya pelan-pelan, melipat kertasnya dengan hati-hati karena ia tidak pernah merobek kertas kado. Di dalamnya, sebuah kotak kayu kecil. Ia membuka tutupnya.
Dua puluh empat gulungan benang. Dua puluh empat warna. Tersusun rapi seperti pelangi.
Ibuku menatap benang-benang itu. Lalu mengambil satu gulungan, yang abu-abu, dan memutarnya di antara jari-jarinya. Lalu ia melihat ada enam gulungan abu-abu lagi di bagian bawah kotak.
“Benang Jepang,” katanya pelan. “Ini mahal, Luck.”
“Nggak, Bu. Cuma benang.”
“Ibu tahu harga benang, Luck.” Ia menatap Lucky dengan mata yang mulai basah. “Ini benang yang bagus. Yang nggak gampang putus.”
“Ide Renata, Bu,” kata Lucky. “Saya tadinya mau beliin kalung.”
“Kalung?”
“Kalung berlian, Bu,” kata Renata pelan dari kursinya. “Saya cegah.”
Ibuku tertawa sambil menangis. Ia menutup kotak kayu itu, memeluknya di dada, dan menatap Renata.
“Makasih, Nak. Ibu bakal pakai ini buat jahit yang penting-penting aja.”
“Yang penting kayak apa, Bu?” tanya Evan.
Ibuku tidak menjawab. Ia hanya menatap Monica sebentar, lalu tersenyum, dan meletakkan kotak kayu itu di atas mesin jahitnya.
Aku pura-pura tidak melihat tatapan itu.
Lalu Lucky menyerahkan satu kantong lagi. Kantong plastik besar. Bukan untuk ibuku.
Untukku.
“Apa ini?”
“Buka.”
Aku membukanya. Jas hujan. Setelan jaket dan celana, biru tua, bahannya tebal dan licin. Aku mencari label harganya. Tidak ada.
“Luck.”
“Labelnya udah gue copot. Lo nggak bisa balikin ke toko.”
“Aku bisa transfer...”
“Lo bisa transfer, tapi lo nggak tahu harganya.” Lucky melipat tangan di dada dengan wajah puas. “Dan gue nggak bakal kasih tahu. Renata juga nggak.”
Aku menatap Renata. Ia menunduk ke gelas teh manisnya.
“Jas hujan lo robek di ketiak, Ris,” kata Lucky. “Lo bonceng Monica pakai ponco pinjeman satpam. Itu memalukan buat kita semua.”
Monica, yang duduk di kursi plastik di sebelah ibuku, menutup mulutnya dengan tangan. Bahunya berguncang.
Aku menatap jas hujan biru tua itu di tanganku. Bahannya tebal. Jahitannya rapi. Ada dua lubang kancing di bagian depan jaket, dan bagian ketiaknya diperkuat dengan jahitan ganda.
“Makasih, Luck,” kataku pelan.
“Sama-sama.”
“Aku nggak bakal transfer.”
“Gue tahu. Lo nggak tahu harganya.”
Renata, di kursinya, tersenyum lebih lebar dari tadi. Tapi waktu aku menatapnya, ia langsung menunduk lagi.
Terakhir, Monica menyerahkan tas kertas kecil berpita merah.
Ibuku membukanya. Di dalamnya, sebuah flashdisk berbentuk kucing, dan sebuah kertas yang dilipat.
“Apa ini, Nak?”
“Drama Korea, Bu. Lengkap. Yang dokter-dokter itu, dua musim. Sama tiga drama lain yang Mama saya rekomendasiin. Udah ada terjemahannya.” Monica menunjuk kertas yang dilipat. “Itu daftar episodenya. Saya tulis mana yang bikin nangis, biar Ibu siap-siap tisu.”
Ibuku membuka kertas itu. Membaca. Lalu tertawa sampai kacamatanya melorot.
“Ris! Kamu harus beliin Ibu televisi baru! Yang bisa colok flashdisk!”
“Televisi yang lama bisa, Bu.”
“Yang lama layarnya kecil! Ibu mau nangis yang gede!”
Semua orang tertawa. Bahkan Renata.
Malamnya, setelah kue bolu pandan habis dan tempe goreng habis dan Evan sudah menyanyi tiga lagu dangdut dengan suara yang membuat kucing tetangga kabur, kami semua duduk di teras. Lampu kuning redup. Laron berputar-putar.
Renata pamit lebih dulu. Ia bilang kepalanya pusing. Lucky langsung berdiri dan menawarkan untuk mengantarnya. Ia menolak. Lucky tetap mengantarnya sampai mulut gang.
Aku mengikuti mereka sampai pagar, membawa termos kecil berisi teh hangat. Waktu Renata berbalik untuk melambai, aku menyodorkan termos itu.
“Mbak Renata. Buat di jalan. Kalau pusing, minum teh anget.”
Renata menatap termos itu. Lalu menatapku.
Aku tidak tahu apa yang kulihat di wajahnya. Ada sesuatu yang sangat berat di sana. Matanya basah. Bibirnya bergerak, seperti mau mengatakan sesuatu.
“Aris,” katanya pelan. “Kamu...”
“Iya, Mbak?”
Ia menatapku lama. Lalu ia mengambil termos itu dengan dua tangan, memeluknya di dada seperti ibuku memeluk kotak benang tadi, dan menggeleng.
“Nggak apa-apa,” katanya. “Makasih tehnya.”
Ia berbalik dan berjalan cepat menyusuri gang. Lucky menatapku sebentar, mengangkat bahu dengan wajah bingung, lalu mengikutinya.
Aku kembali ke teras. Monica sedang duduk di bangku kayu panjang, di sebelah ibuku. Evan duduk di lantai teras, bersandar ke tiang, setengah tertidur.
“Renata kenapa, Mbak?” tanyaku.
Monica menatap ke arah gang tempat Renata menghilang. Ada kerutan kecil di keningnya.
“Aku juga nggak tahu,” katanya pelan. “Dia aneh udah beberapa minggu. Kayak bawa sesuatu yang berat.”
“Mungkin capek, Mbak.”
“Mungkin.”
Ibuku, di bangku yang sama, menepuk lutut Monica. “Biarin dulu, Nak. Orang yang bawa beban berat, nanti juga cerita kalau udah nggak kuat bawanya.”
Monica menatap ibuku. Lalu mengangguk pelan.
“Bu,” kata Evan dari lantai, setengah membuka mata. “Tadi Ibu tiup lilin, Ibu minta apa?”
“Rahasia.”
“Ayo, Bu. Kasih tahu. Ini ulang tahun kelima puluh sembilan. Tahun depan udah enam puluh, Ibu harus mulai terbuka.”
Ibuku tertawa. Ia menatap laron yang berputar di bawah lampu teras. Lalu menatapku.
“Ibu minta,” katanya pelan, “semoga anak Ibu berhenti jadi tukang pos.”
Teras itu hening.
Evan langsung terbangun sepenuhnya. Monica menoleh ke arah ibuku, lalu ke arahku.
Aku menatap ibuku. Ia menatapku balik dengan senyum yang sangat lembut dan sangat sedih.
“Bu,” kataku.
“Kamu udah nganterin surat orang lain dari SMA, Ris.” Ibuku menepuk lututku sekarang, di sebelah lutut Monica. “Udah waktunya kamu nerima surat sendiri.”
Aku menjemput Monica jam tujuh pagi hari Senin.
Aku sampai di depan lobi apartemennya jam enam lewat lima belas. Terlalu cepat. Aku tahu terlalu cepat. Tapi aku bangun jam tiga, tidak bisa tidur lagi, dan berangkat jam lima lewat empat puluh karena takut macet di Kalimalang.
Kalimalang tidak macet jam segitu.
Jadi aku duduk di atas motor di depan lobi apartemennya selama empat puluh lima menit, memakai jas hujan baru dari Lucky karena langit mendung, memegang helm putih yang kemarin ditinggalkan Monica di rumahku supaya bisa kubawa pagi ini.
Satpam apartemen keluar dari pos jaga jam enam lewat tiga puluh.
“Nunggu siapa, Mas?”
“Mbak Monica, Pak. Lantai dua belas.”
Satpam itu menatapku dari atas sampai bawah. Jas hujan biru tua. Motor bebek. Helm putih di pangkuan.
“Oh,” katanya. “Mas yang klakson bebek itu, ya? Jumat malam?”
“Iya, Pak.”
Satpam itu tersenyum lebar. Lalu ia kembali ke pos jaganya, mengambil ponsel, dan mengetik sesuatu dengan cepat. Lima menit kemudian, dua satpam lain keluar dari pintu samping lobi, berdiri di dekat pos jaga, dan menatapku sambil berbisik-bisik.
Monica turun jam tujuh tepat. Blazer abu-abu. Celana hitam. Rambut diikat setengah.
Ia melihatku. Ia melihat jas hujan biru tuaku. Ia melihat tiga satpam yang berdiri berjajar di dekat pos jaga, seperti penonton di tribun.
“Udah nunggu lama?” tanyanya.
“Baru dateng, Mbak.”
“Empat puluh lima menit, Mbak!” seru salah satu satpam dari pos jaga. “Dari jam enam lewat seperempat!”
Monica menatapku. Aku menatap helm putih di tanganku.
“Baru dateng,” ulangnya pelan.
“Kalimalangnya lancar, Mbak.”
Ia mengambil helm putih dari tanganku, memakainya, dan naik ke jok belakang. Lalu, tanpa bicara, ia melingkarkan kedua lengannya di pinggangku. Langsung. Tanpa menunggu tanjakan. Tanpa alasan besi belakang yang licin.
Tiga satpam di pos jaga bertepuk tangan.
Aku menyalakan mesin dan melaju dengan kecepatan dua puluh kilometer per jam.
Lift Wiratama Tower jam delapan kurang lima menit. Penuh. Monica dan aku masuk paling akhir, karena hari ini aku tidak naik tangga darurat. Monica bilang kakinya pegal. Aku tidak tahu apakah itu benar.
Di dalam lift, berdiri di pojok dekat panel tombol, ada Pak Reza.
Sejak rapat evaluasi semester, Pak Reza sedang menjalani investigasi HR. Ia masih masuk kerja, masih duduk di ruang kacanya, tapi ia tidak lagi memanggilku ke ruangannya. Ia tidak lagi memintaku membuat laporan dengan namanya di sampul. Ia hanya menatapku setiap kali aku lewat, dengan mata yang membuat Dini mengunci laci mejanya setiap malam.
Pak Reza melihatku masuk. Lalu melihat Monica. Lalu melihat jas hujan biru tua yang masih kupakai, dan helm putih yang dipegang Monica.
Ia tersenyum. Senyum yang tidak enak.
“Wah,” katanya, cukup keras untuk didengar seisi lift. “Sekarang antar-jemput anak Legal, ya, Aris. Pantes dibela-belain di rapat. Ternyata ada yang dikejar.”
Lift mendadak hening. Seorang staf Finance di sebelahku pura-pura sangat tertarik pada ponselnya. Seorang ibu dari bagian umum menatap angka di atas pintu.
Aku menunduk. Seperti biasa.
Lalu aku merasakan sesuatu menyelip di lengan kiriku.
Tangan Monica. Menggandeng lenganku. Bukan sekadar berpegangan. Menggandeng. Erat. Di depan semua orang di lift itu.
“Iya, Pak,” kata Monica. Suaranya tenang, jernih, sopan. Suara seorang legal officer yang sedang membacakan pasal. “Dia punya saya.”
Pak Reza berhenti tersenyum.
“Ada masalah?” tanya Monica.
Pak Reza membuka mulut. Menutupnya lagi.
“Kalau Bapak ada masalah,” lanjut Monica, masih dengan suara yang sama, “Bapak bisa sampaikan ke HR. Sekalian waktu Bapak ke sana untuk investigasi. Biar efisien.”
Lift berhenti di lantai tujuh. Pintunya terbuka.
Pak Reza keluar tanpa bicara. Cepat. Hampir tersandung di ambang pintu.
Aku tidak bergerak. Lift itu lantai tujuh. Lantaiku. Aku seharusnya keluar.
Monica masih menggandeng lenganku.
“Kamu nggak turun?” tanyanya pelan.
“Saya...” Aku menatap tangannya di lenganku. “Saya turun, Mbak.”
Ia melepaskan gandengannya. Pelan. Jari demi jari, seperti di tangga darurat waktu itu.
Aku keluar dari lift. Pintu mulai menutup. Dari celah yang makin sempit, aku melihat staf Finance tadi menatap Monica dengan mulut terbuka. Ibu dari bagian umum tersenyum lebar. Dan Monica sendiri, bersandar ke dinding lift, menatapku sampai pintu tertutup sepenuhnya.
Dia punya saya.
Aku berdiri di depan lift lantai tujuh. Lama. Sampai Dini lewat di belakangku dan bertanya kenapa aku berdiri di depan lift seperti orang yang lupa jalan pulang.
Jam dua belas siang, hujan turun lagi. Deras. Tidak ada yang mau keluar ke warung soto Bu Darsih.
Jadi lantai tujuh makan siang bersama di ruang rapat kecil di ujung lantai, seperti yang biasa kami lakukan kalau hujan. Delapan orang Divisi Data, dengan bekal masing-masing, duduk mengelilingi meja panjang. Dini dengan nasi kotak dari kantin. Pak Darto dengan rantang tiga susun dari istrinya. Aku dengan bekal dari ibuku.
Evan dan Lucky tidak ikut. Evan rapat di lantai dua belas. Lucky entah di mana.
Pintu ruang rapat terbuka jam dua belas lewat lima.
Monica berdiri di ambang pintu dengan kotak bekal biru muda di tangan. Kotak yang sama dengan waktu itu. Dua susun. Klip di keempat sisi.
Delapan kepala menoleh ke arahnya.
Ia berjalan masuk, memutari meja, dan berhenti di sebelah kursiku. Lalu meletakkan kotak bekal itu di depanku.
Aku menatap kotak itu.
Kebiasaan sebelas tahun. Refleks yang tertanam sejak SMA, sejak amplop merah jambu pertama mampir ke mejaku di barisan ketiga dekat jendela. Kalimat itu keluar dari mulutku sebelum otakku sempat menghentikannya.
“Mau saya titip buat Evan, Mbak?”
Ruang rapat hening. Dini meletakkan sendoknya. Pak Darto berhenti membuka rantang.
Monica menatapku dari atas. Lama. Lalu ia membungkuk, cukup dekat sampai aku bisa mencium wangi melati dari blazernya, cukup dekat sampai suaranya tidak perlu keras untuk didengar seisi ruangan.
“Mau aku titip buat Evan?” ulangnya.
Ia diam sebentar.
“Nggak,” katanya. “Ini buat yang bawa termos.”
Ia menegakkan badan, menepuk bahu kiriku sekali, lalu berbalik dan berjalan keluar dari ruang rapat. Pintunya menutup pelan di belakangnya.
Delapan orang di ruang rapat menatapku.
Lalu Pak Darto mulai bertepuk tangan. Pelan. Satu tepukan, dua tepukan, tiga.
Dini menjerit. Bukan jeritan biasa. Jeritan orang yang baru saja menyaksikan gol di menit terakhir final piala dunia. Ia berdiri dari kursinya, memegang kepalanya dengan dua tangan, berputar di tempat, lalu duduk lagi dan langsung mengetik di ponselnya dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.
Dua staf lain ikut bertepuk tangan. Seseorang bersiul. Seseorang memukul meja.
Aku duduk di kursiku, menatap kotak bekal biru muda di depanku.
Ini buat yang bawa termos.
Termosku ada di samping kakiku. Termos stainless dengan penyok kecil di bagian bawah, bekas jatuh dari motor dua tahun lalu. Satu-satunya termos di ruang rapat ini. Satu-satunya termos di lantai tujuh.
Tidak ada cara lain untuk membaca kalimat itu. Tidak ada hipotesis lain. Tidak ada kolom di spreadsheet yang bisa memindahkan kalimat itu ke nama orang lain.
Aku membuka klip kotak bekal itu, satu per satu. Pelan.
Nasi putih dengan taburan bawang goreng. Tumis buncis. Telur balado. Dan enam potong tempe goreng. Tipis, kering, ketumbar sangrai yang ditumbuk kasar.
Di sudut kotak, terselip kertas tempel kuning.
Jangan dikasih ke siapa-siapa. Serius. —M
P.S. Kali ini nggak ada yang bisa salah paham, kan?
Aku memakan tempe itu satu per satu. Sendirian. Tidak kubagi ke siapa pun, walaupun Dini menatap kotak bekalku dengan mata yang sangat penuh harap.
Rasanya hampir sama dengan buatan ibuku.
Hampir persis.
Malam itu, aku membuka Proyek_ME_v2.xlsx.
Aku menatap empat tab di bagian bawah layar. Profil. Titik Temu. Skenario. Evaluasi.
Aku membuka tab Evaluasi, dan menatap kursor yang berkedip di baris kosong.
Aku tidak menulis apa-apa.
Aku hanya menatap layar itu lama, sampai monitornya meredup sendiri karena tidak ada aktivitas.
Di ruang tamu, mesin jahit ibuku berbunyi. Ia sedang menjahit sesuatu dengan benang Jepang yang baru. Aku tidak tahu apa. Aku tidak bertanya.
Aku menyentuh layar laptop supaya menyala lagi. Lalu, untuk pertama kalinya, aku membuka tab baru. Tab kelima.
Aku menamainya dengan satu kata. Lalu menatapnya lama.
Aku?
Dengan tanda tanya.
Aku menyimpan file itu. Lalu menutup laptop, dan berbaring di kasur busa, menatap noda bocor berbentuk peta Kalimantan, dengan rasa ketumbar sangrai yang masih tertinggal di lidah.
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos reading
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan