Chapter Forty One
Epilog — Bukan Titipan
POV: Monica
Resepsi berakhir jam empat sore, dan hal terakhir yang kulihat sebelum naik ke mobil adalah Evan Pradana membeku di dekat gerobak wedang ronde Pak Kardi.
Ia sedang memegang mangkuk ronde. Di depannya, berdiri Dini. Kebaya biru muda. Rambut disanggul sederhana. Wajah merah sampai ke telinga. Di tangannya, sebuah amplop kecil berwarna merah jambu.
Aku menarik lengan Aris. Ia berhenti. Kami berdua menatap ke arah gerobak.
“Mas Evan,” kata Dini. Suaranya cukup keras untuk terdengar dari tempat kami berdiri. Gemetar. “Titip, ya.”
Ia menyodorkan amplop merah jambu itu.
Evan menatap amplop itu. Lalu menatap Dini. Lalu, dengan wajah orang yang sudah sangat terbiasa, ia menghela napas dan tersenyum ramah.
“Buat siapa, Din? Aris udah nikah. Lucky udah sama Renata.” Ia melirik ke kanan dan kiri. “Bimo? Mau gue kasih ke Bimo?”
Dini menggeleng.
“Pak Darto?”
Dini menggeleng lagi. Wajahnya semakin merah.
“Terus buat siapa?”
Dini menatapnya. Lama. Lalu menarik napas, panjang, seperti orang yang akan terjun dari tempat yang sangat tinggi.
“Buat Mas Evan,” katanya.
Mangkuk ronde di tangan Evan miring. Kuahnya tumpah ke sepatu kulitnya.
Ia tidak bergerak. Ia hanya menatap Dini dengan mulut sedikit terbuka. Wajah iklan pasta giginya hilang sepenuhnya. Yang tersisa hanya wajah seorang laki-laki yang selama sebelas tahun menerima tiga puluh tujuh surat lewat tangan orang lain, dan baru sekarang, untuk pertama kalinya, menerima surat langsung dari tangan pengirimnya.
“Gue?” katanya pelan.
Dini mengangguk. Lalu ia meletakkan amplop itu di atas mangkuk ronde yang miring, berbalik, dan berlari ke arah bus sewaan lantai tujuh dengan kebaya biru mudanya berkibar.
Evan berdiri di dekat gerobak wedang ronde dengan kuah ronde di sepatu dan amplop merah jambu di atas mangkuk.
Pak Kardi, dari balik gerobaknya, tertawa dengan dua gigi depan yang hilang.
“Mas,” katanya. “Kayaknya kali ini nggak salah alamat.”
Aris di sebelahku tertawa. Tawa yang lepas, keras, sampai ia harus berpegangan pada pintu mobil.
“Dini,” katanya di sela tawa. “Selama ini. Semua DM ke Evan. Semua laporan dari lantai tujuh.”
“Dia bukan intel,” kataku. “Dia ngejar.”
“Dari kapan?”
“Kayaknya dari lama.” Aku tersenyum. “Kayak seseorang yang aku kenal. Nggak pernah sadar dikejar.”
Aris menatapku. Lalu menatap Evan, yang masih berdiri membeku di dekat gerobak, sekarang membuka amplop merah jambu itu dengan tangan yang gemetar.
“Van nggak bakal sadar,” kata Aris.
“Kamu juga nggak sadar.”
“Aku butuh tujuh bulan.”
“Delapan,” kataku. “Aku hitung.”
Aris tertawa lagi dan membukakan pintu mobil untukku.
Kami tidak pulang ke apartemenku di Tebet. Kami juga tidak pulang ke kamar Aris di Jatiwaringin, dengan kasur busa di lantai dan noda bocor berbentuk peta Kalimantan.
Aris menyetir mobil abu-abu itu ke Jatiwaringin, memarkirnya di depan warung Padang Uni Ita, dan menggandengku menyusuri gang yang sempit. Melewati kucing oranye yang tidur di atap motor tetangga. Melewati anak kecil dengan sepeda roda tiga, yang berhenti bersepeda dan menatap kebaya putih gadingku dengan mulut terbuka.
Kami melewati pagar hijau rumah Bu Sumi. Lampu terasnya menyala. Bu Sumi belum pulang. Ia ikut mobil Lucky, bersama Bu Ratna, yang katanya mau mampir ke rumah Bu Sumi untuk menonton satu episode lagi, cuma satu.
Aris tidak berhenti di depan pagar hijau.
Ia berjalan terus. Lima meter. Ke rumah di sebelahnya.
Rumah Bu Darmi. Yang tiga bulan lalu masih punya pagar besi berkarat dan atap yang bocor di tiga tempat. Bu Darmi pindah ke Solo, ikut anaknya, dan rumahnya dijual.
Sekarang pagarnya hijau. Sama dengan pagar rumah Bu Sumi. Catnya masih baru. Ada papan kecil di samping pintu pagar, dari kayu, dengan huruf yang ditulis tangan, rapi, sedikit miring ke kanan.
Rumah Aris & Monica.
Aku berhenti di depan pagar itu.
“Kamu beli rumah Bu Darmi,” kataku pelan.
“Dua bulan lalu.”
“Kamu renovasi.”
“Diem-diem. Ibu yang ngawasin tukangnya.”
“Kamu nggak bilang ke aku.”
Aris menatapku. Lalu tersenyum. Lesung pipi kirinya muncul.
“Aku kan suka nyimpen rahasia,” katanya. “Kamu udah tahu.”
Aku memukul lengannya. Ia tertawa.
Rumah itu kecil. Tidak lebih besar dari rumah Bu Sumi. Teras sempit dengan bangku kayu panjang yang kakinya tidak diganjal batu bata, karena kakinya rata. Lampu teras berwarna kuning redup. Jendela-jendela dengan tirai kain bermotif bunga melati, yang jelas dijahit Bu Sumi.
Dan di dinding yang memisahkan rumah ini dengan rumah Bu Sumi, ada pintu.
Pintu kayu kecil, dicat hijau, di bagian samping teras. Menghubungkan halaman rumah ini dengan halaman rumah Bu Sumi.
“Biar Ibu nggak sendirian,” kata Aris pelan. “Biar kalau Ibu butuh apa-apa, Ibu tinggal buka pintu.”
Aku menatap pintu kecil itu. Lalu menatap laki-laki di sebelahku. Laki-laki yang punya dua puluh miliar, dan memilih membeli rumah kecil di gang sempit di Jatiwaringin, lima meter dari ibunya, dengan pintu kecil di dinding yang memisahkan mereka.
Aku tidak bisa bicara.
Jadi aku hanya menggenggam tangannya, dan membuka pagar hijau itu.
Di dalam, rumah itu wangi cat baru dan bunga melati.
Ruang tamu kecil dengan sofa abu-abu dan meja kayu. Di atas meja itu, dua termos. Termos stainless dengan penyok di bagian bawah, bekas jatuh dari motor. Termos biru dongker dengan penyok di bagian bawah, bekas jatuh di tangga darurat.
Berdampingan.
Di dinding, satu foto berbingkai. Bukan foto pernikahan. Belum. Foto tiga anak laki-laki berseragam putih abu-abu, berdiri di depan gerbang sekolah. Yang paling tinggi di kiri, rambut jatuh ke dahi. Yang paling rapi di kanan, kerah licin. Dan di tengah, memegang piala besar, dengan senyum malu dan lesung pipi di sebelah kiri.
Di sebelah foto itu, satu bingkai lagi.
Bukan foto. Selembar kertas tempel kuning, dibingkai dengan kaca. Tulisan tangannya sangat kukenal. Tulisan tanganku sendiri.
Mau aku titip buat Evan? Nggak. Ini buat yang bawa termos.
Aku menatap bingkai itu lama.
“Kamu simpen,” bisikku.
“Aku simpen semua,” kata Aris di belakangku. “Di buku catatan. Plester kucing. Kertas tempel. Semuanya.”
Aku berbalik menghadapnya.
Ia berdiri di tengah ruang tamu yang kecil, masih dengan beskap putih, tanpa peci. Rambutnya sedikit berantakan karena tadi pecinya dilepas. Wajahnya lelah, karena ia tidak tidur semalaman. Matanya merah, karena ia menangis tiga kali hari ini. Aku menghitung.
Dan ia menatapku dengan cara yang sangat berbeda dari cara ia menatapku di tangga darurat, hari pertama. Bukan dengan kaget. Bukan dengan takut. Bukan dengan saya nggak tahu, Mbak.
Ia menatapku seperti orang yang sudah sampai.
“Monica,” katanya.
“Hm.”
“Aku masih belum tahu cara ngomongnya.”
Aku ingat. Di basement B3, di atas motor bebek, setelah ia menggenggam tanganku pertama kali. Aku masih belum tahu cara ngomongnya. Nanti, kalau udah tahu, aku bilang.
“Sekarang tahu?” tanyaku pelan.
Aris menatapku. Lama.
Lalu ia berjalan mendekat. Satu langkah. Dua. Sampai ia berdiri sangat dekat di depanku, cukup dekat sampai aku bisa mencium wangi sabun bayi di kerah beskapnya.
Ia mengangkat tangan kanannya. Sampai pipiku.
“Dari awal,” katanya pelan. “Dari tangga darurat. Dari kancing kedua dari atas. Dari waktu kamu bilang stapler pun kamu pakai.”
Ibu jarinya mengusap pipiku.
“Aku sayang kamu,” katanya. “Dari awal.”
Aku menatapnya. Air mataku jatuh lagi. Keempat kalinya hari ini. Aku sudah berhenti menghitung.
“Dan aku tahu,” kata Aris, suaranya bergetar sekarang, “dari awal, kamu bukan buat Evan.”
Aku tertawa. Di antara tangisku.
“Kamu baru tahu sekarang?”
“Aku tahu dari dulu.” Ia tersenyum. “Aku cuma nggak berani percaya.”
“Sekarang berani?”
Aris tidak menjawab.
Ia menunduk. Dan menciumku.
Bukan seperti di tangga darurat, waktu ia tidak tahu caranya. Bukan seperti di kamarnya di Jatiwaringin, waktu aku mengajarinya.
Kali ini ia yang memimpin.
Ia menciumku pelan. Lalu dalam. Tangannya di pipiku turun ke tengkukku, ke sanggulku, dan dengan jari-jari yang sangat hati-hati, ia mencabut tusuk konde satu per satu. Pelan. Seperti menjahit kancing. Rambutku jatuh tergerai di bahu.
Aku membuka mata. Ia menatapku dari jarak yang sangat dekat.
“Kamu,” bisikku. “Kamu kok tiba-tiba nggak tahu malu?”
Aris tersenyum. Lesung pipi kirinya muncul. Tapi kali ini senyumnya berbeda. Bukan malu. Bukan gugup.
“Kamu yang ngajarin,” bisiknya balik.
“Aku ngajarin cium. Bukan cabut tusuk konde.”
“Aku analis data, Monica.” Ia menciumku lagi, di sudut bibir, tepat di tempat yang dulu meleset di atap gedung. “Aku belajar dari pola. Terus aku kembangin sendiri.”
Aku tertawa. Ia menciumku sampai tawaku berhenti.
Lalu tangannya turun ke bagian depan kebayaku. Ke deretan kancing mutiara kecil. Ia berhenti di kancing paling atas.
Lalu di kancing kedua dari atas.
Ia menatap kancing itu. Lalu menatapku.
“Yang ini,” bisiknya, “aku yang jahit.”
“Aku tahu.”
“Jadi aku yang buka.”
Wajahku terbakar. Dari leher sampai ujung rambut.
“Aris...”
“Kenapa?”
“Kamu... kamu beneran nggak tahu malu sekarang.”
Aris menatapku. Lalu tersenyum. Pelan. Lebar. Sampai ke mata.
“Sebelas tahun aku malu,” katanya. “Udah cukup.”
Lampu ruang tamu dimatikan.
Di atas meja kayu, dua termos penyok berdiri berdampingan dalam gelap. Di dinding, foto tiga anak SMA dan kertas tempel kuning dalam bingkai kaca, diterangi sedikit cahaya kuning redup dari lampu teras yang masuk lewat celah tirai bermotif melati.
Di luar, di gang sempit Jatiwaringin, hujan mulai turun. Pelan. Rintik-rintik di atap seng.
Hujan yang tidak cepat berhenti.
Pagi harinya, jam enam, seseorang mengetuk pintu kecil di dinding samping teras.
Tiga ketukan. Pelan.
Lalu suara Bu Sumi, dari balik pintu hijau kecil itu.
“Ris. Monica. Ibu goreng tempe. Ketumbarnya disangrai.”
Aku membuka mata.
Aris sudah bangun. Ia duduk di tepi kasur, dengan kaus abu-abu dan sarung kotak-kotak biru, menuang teh dari termos stainless ke tutup termos. Lalu, tanpa bicara, ia menuang teh dari termos biru dongker ke tutup termos yang satunya.
Ia menyodorkan satu padaku.
Teh tawar. Masih hangat.
Aku duduk, menerima tutup termos itu, dan meminumnya. Di luar, hujan sudah berhenti. Matahari pagi masuk lewat celah tirai bermotif melati.
“Ibu nunggu,” kata Aris.
“Aku tahu.”
“Tempenya keburu dingin.”
“Aku tahu, Aris.”
Ia menatapku. Aku menatapnya.
Lalu aku mengulurkan tangan dan merapikan kerah kaus abu-abunya. Satu kali usap, dari belakang leher ke depan.
“Kerahmu kelipat,” kataku.
“Kaus nggak punya kerah,” katanya.
“Aku tahu,” kataku.
Ia tertawa. Lalu menciumku. Pelan. Singkat. Rasanya seperti teh tawar dan pagi pertama.
Dari balik pintu hijau kecil, suara Bu Sumi terdengar lagi. Kali ini lebih keras.
“RIS! KAMU UDAH BANGUN, KAN? IBU DENGER KAMU KETAWA!”
Aris menutup wajah dengan tangan. Aku tertawa sampai tutup termos di tanganku hampir tumpah.
“Iya, Bu!” seru Aris. “Bentar!”
“Bawa istri kamu! Tempenya buat dia! Jangan dikasih ke Evan!”
Aku berhenti tertawa. Aku menatap Aris. Aris menatapku.
Lalu kami berdua tertawa lagi. Lebih keras. Sampai Bu Sumi membuka pintu hijau kecil itu sendiri dan berdiri di ambang pintu dengan piring berisi tempe goreng, menatap kami dengan wajah datar, lalu tersenyum, lalu ikut tertawa.
Tempe gorengnya tipis. Kering. Ketumbarnya disangrai dan ditumbuk kasar. Bawang putihnya banyak.
Rasanya persis seperti rumah.
Tamat.
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan reading