Chapter Twenty Three
Alarm
POV: Aris
Pemanas kecil Pak Darto sudah berumur tujuh tahun.
Aku tahu karena Pak Darto sering menceritakannya. Pemanas itu dibeli waktu ia baru dipindah ke lantai tujuh, waktu ia sadar AC di Divisi Data disetel enam belas derajat demi server dan tidak akan pernah dinaikkan demi manusia. Pemanas itu kecil, berwarna krem yang sudah menguning, dengan kipas yang berbunyi seperti kumbang terjebak di botol. Kabelnya pernah digigit tikus dua tahun lalu, dan Pak Darto membalutnya sendiri dengan isolasi hitam.
Hari Senin jam sepuluh lewat dua puluh pagi, isolasi hitam itu menyerah.
Aku mencium baunya lebih dulu. Bau plastik terbakar. Samar, seperti seseorang membakar sampah di kejauhan. Aku mengangkat wajah dari layar. Dini, di meja sebelah, juga mengangkat wajah.
“Mas, bau apa?”
Lalu aku melihat asapnya. Asap tipis keabu-abuan, naik dari bawah meja Pak Darto, dari stop kontak di dinding tempat kabel pemanas itu dicolokkan. Pak Darto sedang tidak di mejanya. Ia sedang di pantry, membuat kopi.
Asap itu semakin tebal. Lalu ada percikan api kecil, kuning, menyambar dari stop kontak ke karpet di bawah meja.
Alarm kebakaran berbunyi.
Bunyinya memekakkan telinga. Lampu strobo merah di langit-langit berkedip-kedip. Sprinkler di langit-langit tidak menyala, karena lantai tujuh punya ruang server, dan ruang server menggunakan sistem pemadam gas, bukan air. Tapi sistem gas itu hanya untuk ruang server. Bukan untuk meja Pak Darto.
Orang-orang mulai panik.
Seseorang berteriak. Seseorang berlari ke arah lift, padahal semua orang tahu lift tidak boleh dipakai saat kebakaran. Dua staf baru di ujung ruangan berdiri membeku di kursi mereka, menatap api kecil di bawah meja Pak Darto yang mulai merambat ke kardus-kardus arsip lama.
Aku berdiri.
Aku tidak berpikir. Itu yang aneh setiap kali sesuatu seperti ini terjadi. Otakku, yang biasanya tidak pernah berhenti menyusun teori dan menghitung kemungkinan, mendadak menjadi sangat sunyi dan sangat jernih. Seperti malam itu di curug. Seperti di pinggir kolam renang villa. Tidak ada pertanyaan. Hanya urutan langkah.
“Din,” kataku. “Matiin listrik lantai. Panel di dekat pintu darurat, saklar merah paling atas.”
Dini menatapku dengan mata lebar. Lalu berlari.
“Mas Fadil.” Anak magang yang dulu mengira aku OB berdiri paling dekat dengan pintu keluar. “Pastikan nggak ada yang naik lift. Arahkan semua orang ke tangga darurat timur. Yang barat lebih dekat ke api.”
Fadil mengangguk cepat dan langsung berlari ke arah lift, merentangkan tangan di depan pintunya.
Aku berjalan ke dinding di samping pintu ruang server. Ada tabung pemadam api ringan di sana, berwarna merah, dengan label hitam. Aku membaca labelnya sekilas. Karbon dioksida. Bagus. Jangan air untuk listrik.
Aku mengambil tabung itu dengan tangan kiri. Berat. Aku menahannya di pinggang, menarik pin pengamannya dengan gigi, karena tangan kananku tidak bisa menarik cukup kuat dari posisi itu.
Lampu di lantai tujuh mati. Dini berhasil. Hanya lampu darurat yang tersisa, putih dan redup, dan lampu strobo merah yang terus berkedip dari baterai cadangan.
Aku berjalan ke meja Pak Darto. Api kecil di karpet sudah melebar, sebesar dua telapak tangan, menjilat sudut kardus arsip. Asapnya membuat mataku perih.
Aku mengarahkan corong tabung ke dasar api, bukan ke lidah apinya. Menekan tuas.
Desisan keras. Kabut putih yang sangat dingin menyembur keluar. Api itu meredup, bergoyang, lalu padam dalam tiga detik. Aku terus menyemprot dua detik lagi, ke kardus arsip, ke stop kontak, untuk memastikan.
Lalu aku melepas tuas.
Hening. Hanya alarm yang terus meraung dan lampu strobo yang berkedip-kedip.
“Semua keluar,” kataku. Aku tidak tahu suaraku sekeras apa. Aku hanya tahu orang-orang yang masih berdiri di ruangan itu menoleh ke arahku. “Lewat tangga timur. Jangan lari. Pegang pegangan tangga. Kumpul di lapangan parkir depan.”
Mereka bergerak. Satu per satu. Lalu lebih cepat.
Pak Darto muncul di pintu pantry dengan gelas kopi di tangan, menatap mejanya yang berasap dan karpet yang hangus. Wajahnya pucat seperti kertas.
“Pemanas saya,” katanya pelan.
“Udah padam, Pak. Ayo turun.”
“Mas Aris, maaf, saya...”
“Nanti aja, Pak. Turun dulu.”
Tangga darurat timur penuh orang.
Alarm berbunyi di seluruh gedung, bukan hanya di lantai tujuh. Sistemnya memang begitu. Kalau satu lantai memicu alarm, seluruh gedung dievakuasi. Dua puluh lima lantai, ribuan orang, semuanya turun lewat dua tangga darurat.
Aku turun paling akhir dari lantai tujuh, memastikan tidak ada yang tertinggal. Di bordes antara lantai enam dan lima, aku menemukan Mas Jono.
Mas Jono petugas kebersihan lantai tujuh. Umurnya mungkin empat puluhan, badannya kecil, selalu tersenyum, dan selalu menyapaku dengan “Pagi, Mas Termos” sejak gambar Kiki menempel di monitorku. Ia duduk di anak tangga, memegang pergelangan kaki kanannya dengan dua tangan, wajahnya meringis.
“Kepleset, Mas,” katanya waktu melihatku. “Tadi lari. Kaki saya...”
Aku berjongkok di depannya dan melihat pergelangan kakinya. Sudah mulai membengkak. Terkilir, mungkin. Mungkin lebih parah.
Orang-orang dari lantai atas terus mengalir melewati kami. Beberapa menoleh, tapi tidak berhenti. Alarm terus meraung.
“Bisa berdiri, Mas?”
Mas Jono mencoba. Ia mengerang dan langsung duduk lagi.
Lima lantai lagi ke bawah. Tangga darurat sempit. Orang-orang berjalan cepat.
Aku menatap bahu kananku.
Lalu menatap bahu kiriku.
“Mas Jono,” kataku. “Saya gendong. Pegangan di leher saya. Jangan di bahu kanan. Yang kiri aja.”
“Mas, saya berat...”
“Mas Jono lebih ringan dari karung seragam ibu saya.”
Aku berjongkok membelakanginya. Mas Jono naik ke punggungku, pelan-pelan, melingkarkan lengan di leherku. Aku menahan kakinya dengan tangan kiri, memeluk pahanya di sisi kiri tubuhku. Tangan kanan menempel di pegangan tangga, hanya untuk keseimbangan, tidak untuk menahan beban.
Aku berdiri. Bahu kiriku menerima seluruh berat itu. Lututku sedikit gemetar.
Lalu aku mulai turun.
Satu anak tangga. Dua. Bordes. Belok. Satu anak tangga lagi.
Orang-orang mulai memperhatikan. Seseorang berhenti dan menawarkan bantuan, tapi tangga terlalu sempit untuk dua orang menggendong satu orang. Seseorang yang lain berjalan di depanku, menyuruh orang-orang di bawah memberi jalan. “Minggir, minggir, ada yang luka!”
Lantai lima. Lantai empat.
Keringat mengalir di pelipisku. Bahu kiriku mulai panas. Mas Jono terus meminta maaf di dekat telingaku, dan aku terus bilang tidak apa-apa.
Lantai tiga.
Dan di antara lantai tiga dan dua, aku mendengar suara dari atas. Dari bordes di atasku, di antara orang-orang yang turun.
“Aris!”
Aku tidak berhenti. Aku tidak bisa berhenti, karena kalau berhenti, lututku mungkin tidak mau bergerak lagi. Tapi aku mengangkat wajah sedikit, dan dari celah di antara tangga yang berbelok, aku melihatnya.
Monica. Dua bordes di atasku. Wajahnya pucat. Rambutnya berantakan. Ia mencoba menerobos orang-orang di depannya, tapi tangga terlalu penuh. Matanya menatapku, menatap Mas Jono di punggungku, menatap tangan kananku yang menempel di pegangan tangga.
Ia berhenti mencoba menerobos. Ia hanya berdiri di sana, memegang pegangan tangga dengan dua tangan, dan menatapku turun.
Aku menunduk lagi dan terus berjalan.
Lantai dua. Lantai satu.
Pintu darurat terbuka ke lobi belakang, lalu ke lapangan parkir depan yang sudah penuh orang. Ribuan karyawan Wiratama Tower berdiri di bawah matahari jam sebelas siang, berkerumun per divisi, dengan petugas keamanan berompi oranye yang berteriak lewat pengeras suara.
Petugas medis gedung sudah menunggu di pinggir lapangan dengan tandu. Aku menurunkan Mas Jono di atas tandu, pelan-pelan. Ia memegang tanganku.
“Mas Termos,” katanya. Matanya basah. “Makasih, Mas.”
“Sama-sama, Mas Jono. Kakinya diperiksa dulu, ya.”
Petugas medis membawa Mas Jono pergi. Aku berdiri di pinggir lapangan parkir, dengan napas tersengal dan keringat membasahi seluruh punggung kemeja putihku. Bahu kiriku berdenyut. Bahu kananku juga berdenyut, entah kenapa, padahal tidak dipakai menahan beban. Mungkin karena tegang.
Aku membungkuk, memegang lutut, menunggu napasku kembali normal.
Lalu seseorang menarik lenganku.
Keras.
Aku menegakkan badan. Monica berdiri di depanku, napasnya juga tersengal, wajahnya merah, matanya basah dan sangat marah.
“Kamu,” katanya. Suaranya bergetar. “Kamu gendong orang turun tujuh lantai pakai satu bahu.”
“Lima lantai, Mbak. Ketemunya di lantai enam.”
“ARIS.”
Orang-orang di sekitar kami menoleh. Monica tidak peduli. Ia masih memegang lengan kiriku, mencengkeramnya.
“Bahu kamu,” katanya, lebih pelan sekarang, tapi suaranya masih bergetar. “Bahu kamu sakit. Kamu nggak bisa ngangkat tangan kanan lebih tinggi dari telinga. Dan kamu gendong orang lima lantai pakai bahu kiri doang. Kalau bahu kiri kamu juga kenapa-kenapa...”
“Nggak apa-apa, Mbak.”
“Jangan bilang nggak apa-apa!”
Air matanya jatuh. Ia menghapusnya dengan punggung tangan, kasar, seperti marah pada air matanya sendiri.
“Kalau kamu bilang nggak apa-apa sekali lagi,” katanya, “aku teriak di sini. Di depan semua orang. Aku nggak peduli.”
Aku menatapnya. Perempuan yang berdiri di depan tujuh direktur tanpa gemetar. Perempuan yang membalas Pak Reza di lift dan Bu Ratna di kondangan. Sekarang menangis di lapangan parkir di depan ribuan orang, karena aku.
Sesuatu di dadaku terasa seperti ditarik lagi. Benang yang sama. Kali ini sangat kencang, sampai rasanya mau putus.
“Maaf, Mbak,” kataku pelan.
“Jangan minta maaf juga.”
“Terus saya harus bilang apa?”
Ia menatapku. Air matanya masih mengalir.
“Bilang kamu nggak bakal ngelakuin itu lagi.”
Aku tidak bisa bilang itu. Kalau ada Mas Jono lain di tangga darurat, aku akan melakukannya lagi. Ia tahu itu. Aku tahu itu.
Jadi aku diam.
Monica menatapku lama. Lalu ia melepaskan lenganku, menghapus air matanya sekali lagi, dan menghela napas panjang.
“Aku tahu,” katanya pelan. “Aku tahu kamu nggak bisa janji itu.”
“Mbak...”
“Selasa malam,” katanya. “Jangan lupa.”
Lalu ia berbalik dan berjalan kembali ke kerumunan Divisi Legal di sisi lain lapangan parkir. Renata menyambutnya dan memeluknya. Monica menyembunyikan wajah di bahu sahabatnya.
Kebakaran itu dinyatakan sepenuhnya padam jam sebelas lewat lima belas. Tim pemadam kebakaran gedung memeriksa lantai tujuh dan menyatakan kerusakannya kecil. Satu stop kontak hangus, satu karpet terbakar seluas satu meter persegi, dua kardus arsip lama yang isinya sudah dipindai ke sistem digital lima tahun lalu.
Dan satu pemanas kecil berwarna krem berumur tujuh tahun, yang sekarang sudah tidak bisa diselamatkan.
Pak Darto menangisi pemanas itu di lapangan parkir. Benar-benar menangis. Dini menepuk-nepuk punggungnya.
Jam satu siang, karyawan diizinkan kembali ke gedung.
Jam dua siang, Pak Hendra Wiratama datang ke lantai tujuh.
Direktur utama tidak pernah datang ke lantai tujuh. Tidak pernah, setidaknya selama enam tahun aku bekerja di sini. Ia keluar dari lift dengan jas abu-abu tua, didampingi kepala keamanan gedung dan sekretarisnya, lalu berdiri di tengah ruangan dan menatap karpet hangus di bawah meja Pak Darto.
Lantai tujuh hening. Bahkan server di ruangan sebelah seakan berdengung lebih pelan.
“Kepala keamanan bilang,” kata Pak Hendra, “ada staf di lantai ini yang memadamkan api sebelum petugas sampai. Pakai alat pemadam yang benar. Mematikan listrik lantai. Mengatur evakuasi lewat tangga yang benar. Lalu menggendong petugas kebersihan yang cedera turun lima lantai.”
Tidak ada yang bicara. Lalu, satu per satu, semua kepala di lantai tujuh menoleh ke arahku.
Pak Hendra mengikuti arah pandangan mereka.
Ia melihatku. Ia tidak terlihat terkejut. Ia hanya menatapku lama, dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Wajah seorang laki-laki tua yang menyimpan sesuatu.
Lalu ia berjalan mendekat. Ia berhenti di depan mejaku. Aku berdiri.
“Aris,” katanya.
“Pak.”
Pak Hendra mengulurkan tangan. Aku menjabatnya. Tangannya kering dan hangat, genggamannya kuat.
“Terima kasih,” katanya pelan. Lalu, lebih pelan lagi, sangat pelan sampai hanya aku yang bisa mendengarnya: “Lagi.”
Aku menatapnya.
Lagi.
Pak Hendra melepaskan tanganku. Ia menepuk bahuku. Bahu kiri. Sama seperti Lucky. Sama seperti Evan. Ia tahu. Tentu saja ia tahu.
Lalu ia berbalik, menatap seluruh ruangan, dan berkata dengan suara yang lebih keras, suara direktur utama: “Mulai besok, semua pemanas pribadi di gedung ini dilarang. Kepala keamanan akan menaikkan suhu AC di lantai tujuh jadi dua puluh dua derajat, kecuali ruang server. Kalau server butuh dingin, server yang dikasih dingin. Bukan manusia.”
Lantai tujuh meledak dengan tepuk tangan.
Pak Darto menangis lagi. Kali ini karena bahagia.
Malam itu, jam delapan, aku turun ke lobi untuk membeli air mineral di minimarket di lantai dasar. Bahu kiriku masih berdenyut. Aku lembur sampai malam karena laporan yang tertunda gara-gara evakuasi.
Kedai kopi di lobi masih buka. Dindingnya kaca. Dari luar, aku bisa melihat ke dalam.
Monica duduk di meja pojok. Bersama Evan.
Mereka berdua sedang tertawa. Monica tertawa sampai harus menutup mulut dengan tangan, matanya menyipit, bahunya berguncang. Evan menunjuk sesuatu di layar ponselnya, lalu menirukan sesuatu dengan gerakan tangan yang berlebihan, dan Monica tertawa lebih keras sampai menyandarkan kepala di lengan Evan.
Di lengan Evan.
Aku berdiri di luar dinding kaca, dengan botol air mineral di tangan.
Aku tidak tahu apa yang mereka tertawakan. Mungkin soal Lucky dan Renata. Mungkin soal Pak Darto dan pemanasnya. Mungkin soal sesuatu yang lain.
Tapi aku melihat cara Monica tertawa.
Lepas. Ringan. Tanpa beban. Tidak seperti tadi siang di lapangan parkir, dengan air mata dan suara bergetar dan tangan yang mencengkeram lenganku terlalu keras. Tidak seperti di atap gedung, dengan mata basah dan suara yang hampir berbisik.
Dengan Evan, ia tertawa.
Dengan aku, ia menangis.
Aku berdiri di sana sampai Evan melihat ke arah dinding kaca. Aku berbalik sebelum ia sempat melihatku. Berjalan cepat ke arah tangga darurat. Ke arah yang salah, karena mejaku di lantai tujuh dan aku sudah punya air mineral dan tidak ada alasan untuk naik tangga.
Aku naik tangga sampai lantai tujuh. Lalu duduk di bordes antara lantai delapan dan sembilan. Bordes yang sama. Tempat kancing kedua dari atas.
Mereka cocok, pikirku. Evan dan Monica. Lihat cara dia ketawa.
Lalu suara itu, suara yang lebih tua, suara yang sudah menemaniku sejak SMA, menambahkan sesuatu.
Dia pantas dapat orang yang bikin dia ketawa kayak gitu. Bukan orang yang bikin dia nangis di lapangan parkir.
Aku menatap tangga darurat yang kosong.
Besok Selasa malam.
Aku punya satu hari lagi untuk tahu mana yang menang.
Tapi aku mulai curiga, aku sudah tahu.
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm reading
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan