Chapter Thirty Five
Hari Ini Aku Sengaja
POV: Aris
Sabtu pagi, jam enam lewat empat belas menit, aku berdiri di depan lobi apartemen Monica di Tebet dengan kemeja biru.
Kemeja putihku yang kedua sudah kering sejak kemarin sore. Ibuku menyetrikanya tadi malam dan menggantungnya di pintu lemari. Kemeja putih yang kancingnya putih susu, yang lebih longgar, yang ada noda samar di ujung lengan kirinya.
Aku tidak memakainya.
Aku memakai kemeja biru. Yang kemarin. Yang kucuci sendiri jam sembilan malam dan kujemur di depan kipas angin supaya kering pagi ini.
Ibuku melihatku menjemur kemeja itu di depan kipas angin. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya tersenyum ke arah mesin jahitnya, dan bersenandung lagu yang tidak kukenal sampai tengah malam.
Satpam apartemen keluar dari pos jaga jam enam lewat lima belas.
“Mas Klakson Bebek,” sapanya. Ia sudah memanggilku begitu sejak minggu lalu. “Pagi banget. Ini kan Sabtu.”
“Iya, Pak.”
“Mbaknya tahu Mas dateng sepagi ini?”
“Nggak, Pak. Saya bilang jam tujuh.”
Satpam itu menatapku lama. Lalu kembali ke pos jaganya, mengambil ponsel, dan mengetik sesuatu. Lima menit kemudian, dua satpam lain muncul dari pintu samping lobi, membawa gelas kopi, dan berdiri di dekat pos jaga dengan wajah orang yang menunggu pertunjukan dimulai.
Aku sudah terbiasa.
Monica turun jam tujuh kurang lima.
Kaus putih. Celana jins. Rambut diikat ekor kuda. Kardigan rajut tipis berwarna krem. Sepatu kets putih. Dan di tangannya, sebuah termos.
Termos stainless kecil, berwarna biru dongker. Masih baru. Ada stiker merek yang belum dicopot di bagian bawahnya.
Ia berhenti di pintu lobi. Menatapku. Menatap kemeja biruku.
Aku menarik napas. Aku sudah menyiapkan kalimat ini sejak kemarin malam. Bukan dari slide Lucky. Dari diriku sendiri.
“Kamu bilang kemeja biru bahaya,” kataku.
Monica menatapku. Bibirnya terbuka sedikit.
“Hari ini aku sengaja.”
Tiga satpam di dekat pos jaga menahan napas bersamaan. Aku bisa mendengarnya.
Monica tidak bergerak. Ia berdiri di pintu lobi dengan termos biru dongker di tangan, menatapku dengan wajah yang perlahan berubah. Pipinya memerah. Dari pipi ke telinga. Dari telinga ke leher.
Pertama kalinya aku melihat Monica Larasati salah tingkah.
“Kamu...” Ia membuka mulut, menutupnya. Membukanya lagi. “Kamu belajar dari slide berapa?”
“Bukan dari slide,” kataku. “Dari kamu.”
Monica menatapku. Lalu menutup wajah dengan tangan yang tidak memegang termos.
“Ya Tuhan,” katanya dari balik telapak tangan. “Aku kalah.”
“Kalah apa?”
“Lima hari aku jual mahal. Lima hari. Dan kamu ngomong satu kalimat terus aku kalah.”
Satpam yang paling tua bertepuk tangan. Dua satpam yang lain mengikuti.
Monica menurunkan tangannya. Wajahnya masih merah. Ia berjalan mendekat, berhenti di depanku, dan menyodorkan termos biru dongker itu.
“Ini,” katanya. “Buat kamu.”
Aku menatap termos itu.
“Isinya teh tawar,” katanya. “Aku yang bikin. Tadi pagi. Aku tanya ke Ibu kamu, teh merek apa yang dipakai. Aku beli kemarin.”
Aku menerima termos itu. Dengan dua tangan.
Termos itu hangat. Lebih hangat dari termos mana pun yang pernah kupegang.
“Termos kamu udah penyok di bawahnya,” kata Monica. “Bekas jatuh dari motor. Dua tahun lalu, kata Ibu kamu.”
“Masih bisa dipakai.”
“Aku tahu. Pakai dua-duanya. Yang lama buat kantor. Yang ini buat...” Ia berhenti. Wajahnya memerah lagi. “Buat kalau kamu pulang sama aku.”
Sebelas tahun aku membawa termos teh tawar dari ibuku. Sebelas tahun aku menuang teh ke tutup termos dan menyodorkannya ke orang lain. Evan. Lucky. Dini. Renata di depan pagar rumahku. Monica di warung soto, di lobi kantor jam sepuluh malam, di lantai tujuh waktu lembur.
Ini pertama kalinya ada orang yang membawakan termos untukku.
Aku tidak bisa bicara. Aku hanya memeluk termos itu di dada, seperti ibuku memeluk kotak benang dari Lucky.
“Aris?” kata Monica pelan. “Kamu nangis?”
“Nggak.”
“Matamu merah.”
“Asap knalpot.”
“Ini parkiran apartemen. Nggak ada knalpot yang nyala.”
Aku tidak menjawab. Monica tertawa pelan, lalu mengambil helm putih dari tanganku, memakainya, dan naik ke jok belakang motor.
Ia melingkarkan lengannya di pinggangku. Langsung.
Tiga satpam bertepuk tangan lagi.
Monica mau belajar menggoreng tempe dengan benar. Langsung dari ibuku. Itu alasan resminya datang ke Jatiwaringin hari Sabtu.
Alasan tidak resminya, menurut Evan, yang muncul di depan pagar hijau jam sepuluh pagi tanpa diundang, adalah biar Mbak Monica bisa lihat Aris pakai sarung lagi.
Evan tidak datang sendirian.
Lucky datang setengah jam kemudian. Membawa dua kotak martabak dan wajah yang sedikit gugup. Di belakangnya, berjalan pelan menyusuri gang, ada Renata.
Renata berhenti di depan pagar. Menatap papan kecil Jahit & Permak Bu Sumi. Lalu menatap Monica, yang sedang duduk di teras dengan ibuku, memotong tempe.
Monica menatapnya balik.
Hening sebentar. Evan berhenti mengunyah kerupuk. Lucky berdiri di belakang Renata dengan dua kotak martabak di tangan, seperti orang yang sedang menunggu vonis.
Lalu ibuku berdiri. Ia berjalan ke pagar, membukanya, dan menggandeng lengan Renata seperti menggandeng keponakan yang lama tidak berkunjung.
“Rena,” katanya. “Masuk. Kamu bisa iris bawang?”
Renata menatap ibuku. Matanya basah.
“Bisa, Bu.”
“Bagus. Monica nggak bisa. Matanya perih terus dari tadi.”
“Itu bawangnya yang salah, Bu,” protes Monica.
“Bawangnya bener. Kamu yang cengeng.”
Renata tertawa. Pelan. Tawa yang pecah di tengah. Lalu ia masuk ke teras, duduk di bangku kayu di sebelah Monica, dan mengambil pisau dan bawang merah dari tangan ibuku.
Monica tidak bergeser. Tapi ia juga tidak menjauh.
Mereka duduk berdampingan, memotong bawang dan tempe, tanpa bicara. Bahu mereka hampir bersentuhan.
Lucky menatap mereka dari depan pagar. Wajahnya berubah. Pelan. Dari tegang menjadi lega.
Aku menepuk bahunya. “Martabaknya, Luck.”
“Oh. Iya.”
“Kamu yang ngajak Renata?”
Lucky menatap Renata di teras. Lama.
“Dia nanya boleh ikut,” katanya pelan. “Gue bilang boleh. Gue belum maafin dia, Ris. Belum sepenuhnya. Tapi gue...” Ia diam sebentar. “Gue nggak mau dia sendirian di apartemennya hari Sabtu.”
Aku tersenyum. “Itu namanya mulai.”
“Gue tahu.” Lucky menatapku. “Gue belajar dari lo.”
Dapur rumahku kecil. Satu kompor gas dua tungku. Satu meja kayu untuk memotong. Satu rak piring di dinding. Jendela kecil yang menghadap gang belakang, dengan tirai kain bermotif bunga yang dijahit ibuku sendiri.
Di dapur sekecil itu, ibuku mengajari Monica menyangrai ketumbar.
“Apinya kecil, Nak. Jangan gede. Diaduk terus. Jangan ditinggal. Kalau udah wangi, udah mulai berubah warnanya sedikit, angkat.”
“Kalau wanginya terlambat ketahuan?”
“Gosong. Kayak tempe Aris kemarin.”
Monica tertawa. Aku berdiri di ambang pintu dapur, bersandar di kusen, dengan termos biru dongker di tangan, menonton mereka.
Ibuku dan Monica. Berdiri berdampingan di depan kompor. Ibuku yang kecil, dengan daster batik dan sanggul sederhana. Monica yang tinggi, dengan kaus putih dan rambut ekor kuda. Ibuku memegang pergelangan tangan Monica, mengajarinya cara mengaduk ketumbar di wajan dengan gerakan memutar. Monica mendengarkan dengan serius, kening berkerut, seperti sedang membaca pasal kontrak.
Ruang tamu di belakangku ramai. Evan sedang mengajari Lucky cara bermain kartu remi yang benar, karena ternyata Lucky tidak pernah bermain kartu remi seumur hidupnya. Renata duduk di kursi plastik dekat jendela, mengiris bawang terakhir, dan sesekali tertawa pelan waktu Lucky salah mengeluarkan kartu.
Di dapur, ibuku menoleh dan melihatku di ambang pintu.
Lalu ia menyerahkan spatula ke tangan Monica dan berkata, “Ibu ambil garam dulu di depan. Kamu terusin, Nak. Jangan ditinggal.”
Ia berjalan melewatiku di ambang pintu. Waktu lewat, ia menepuk lengan kiriku. Dua kali. Lalu berbisik, sangat pelan, cukup pelan supaya hanya aku yang mendengar.
“Garamnya di dapur, Ris. Ibu cuma pura-pura.”
Ia pergi ke ruang tamu dan duduk di kursi plastik di sebelah Renata, mulai mengobrol soal drama Korea.
Aku berdiri di ambang pintu dapur.
Monica berdiri di depan kompor. Membelakangiku. Mengaduk ketumbar di wajan dengan gerakan memutar, persis seperti diajarkan ibuku. Kaus putihnya sedikit basah di punggung karena panas kompor. Rambut ekor kudanya bergoyang setiap kali ia mengaduk.
Wangi ketumbar sangrai memenuhi dapur kecil itu. Hangat. Sedikit pedas. Wangi masa kecilku.
Aku meletakkan termos biru dongker di atas rak piring.
Lalu aku berjalan masuk ke dapur. Pelan. Tiga langkah. Dapur itu cukup kecil sehingga tiga langkah sudah membawaku tepat ke belakangnya.
Monica tidak mendengarku. Suara wajan dan ketumbar yang meletup-letup kecil terlalu keras.
Aku mengangkat kedua tanganku.
Tangan kiri dulu. Lalu tangan kanan. Tangan kanan yang tidak bisa diangkat lebih tinggi dari telinga. Tidak perlu setinggi itu. Pinggang Monica jauh lebih rendah dari telingaku.
Aku memeluknya dari belakang.
Kedua lenganku melingkar di pinggangnya. Daguku, tanpa kurencanakan, jatuh ke atas bahunya. Bahu kanannya. Pipiku menempel di sisi kepalanya, di rambut ekor kudanya yang wangi buah dan sedikit wangi ketumbar.
Monica membeku.
Spatula berhenti di tengah wajan. Ketumbar terus meletup-letup kecil.
Satu detik. Dua detik.
Aku tidak berani bicara. Aku tidak berani bergerak. Aku hanya memeluknya, dan merasakan napasnya berhenti di bawah lenganku, dan merasakan jantungku sendiri berdebar begitu keras sampai aku yakin ia bisa merasakannya di punggungnya.
“Aris,” bisiknya.
“Hm.”
“Ketumbarnya.”
“Kenapa?”
“Kalau aku diem terus, nanti gosong.”
“Aduk aja,” kataku di dekat telinganya. “Aku nggak ganggu.”
Monica tertawa. Pelan. Tawa yang bergetar. Spatulanya mulai bergerak lagi, memutar, pelan-pelan, sementara aku memeluknya dari belakang dengan dagu di bahunya.
“Kamu ganggu,” katanya.
“Mau aku lepas?”
“Jangan.”
Aku tidak melepas.
Kami berdiri seperti itu. Di dapur kecil di Jatiwaringin, dengan ketumbar yang disangrai di wajan dan wangi masa kecilku memenuhi udara. Monica mengaduk. Aku memeluk.
“Kamu tahu,” kata Monica pelan, setelah beberapa saat. “Waktu di pantry lantai sembilan. Waktu aku peluk kamu dari belakang. Kamu bilang Evan udah lewat.”
“Maaf.”
“Aku bilang ke kamu, bedanya pelukan buat bikin orang cemburu sama pelukan karena kangen.”
“Iya.”
Ia mematikan api kompor. Ketumbar sudah wangi. Sudah berubah warna sedikit. Ia meletakkan spatula di pinggir wajan.
Lalu ia menyandarkan punggungnya ke dadaku. Pelan. Seperti orang yang akhirnya berhenti berdiri sendiri.
“Ini pelukan yang mana?” tanyanya.
Aku memejamkan mata. Pipiku masih menempel di sisi kepalanya.
“Yang nggak berhenti di detik kelima,” kataku.
Ibuku berdiri di ambang pintu dapur.
Aku tidak tahu sejak kapan. Aku hanya tahu tiba-tiba ada suara batuk kecil, dan aku membuka mata, dan ibuku berdiri di sana dengan toples garam di tangan.
Toples garam yang tadi katanya ada di dapur.
“Ibu lupa,” katanya dengan wajah datar. “Garamnya ternyata di depan.”
Monica melepaskan diri dari pelukanku dengan sangat cepat. Wajahnya merah sampai ke leher. Aku juga.
Ibuku berjalan masuk, meletakkan toples garam di meja, dan mengambil wajan dari kompor. Ia mencium wangi ketumbar sangrai. Mengangguk.
“Pas,” katanya. “Nggak gosong.”
“Makasih, Bu,” kata Monica pelan.
“Bukan buat kamu, Nak.” Ibuku menatapku. “Buat dia. Biasanya kalau dia yang nyangrai, gosong terus. Hari ini dia nggak nyangrai, tapi ketumbarnya nggak gosong.”
Ia berbalik dan keluar dari dapur, membawa wajan berisi ketumbar ke meja di ruang tamu.
Dari ruang tamu, terdengar suara Evan.
“BU! ITU TADI APA? KENAPA ARIS MUKANYA MERAH? MBAK MONICA JUGA MERAH!”
“Kepanasan kompor, Van.”
“KOMPORNYA UDAH MATI DARI TADI, BU!”
“Main kartu aja, Van. Lucky kalah terus tuh.”
Lucky protes. Renata tertawa. Evan terus berteriak.
Di dapur, Monica menatapku. Lalu tertawa. Tawa yang lepas. Ringan. Seperti tawa di kedai kopi lobi waktu itu, waktu Evan menirukan suaraku dan aku melihat dari luar dinding kaca dan mengira tawa seperti itu bukan untukku.
Sekarang tawa itu untukku. Di dapur kecil di Jatiwaringin. Karena ibuku berpura-pura lupa garam.
Malamnya, setelah semua orang pulang, ibuku memanggilku ke kamarnya.
Kamar ibuku lebih kecil dari kamarku. Kasur kapuk di atas dipan kayu tua. Lemari jati peninggalan nenekku. Meja kecil dengan cermin bulat, tempat ibuku menyisir rambut setiap pagi. Di dinding, foto pernikahan ibuku dan ayahku, hitam putih, dengan bingkai kayu yang sudah retak di satu sudut.
Ibuku duduk di tepi kasur. Di tangannya, sebuah kotak kecil dari beludru merah yang sudah pudar.
“Duduk, Ris.”
Aku duduk di sebelahnya.
Ibuku membuka kotak beludru itu. Di dalamnya, sebuah cincin. Emas, tipis, polos, tanpa permata. Bagian dalamnya sedikit aus, seperti cincin yang sudah lama sekali dipakai.
“Ini cincin kawin Ibu,” katanya pelan. “Dari Bapakmu.”
Aku menatap cincin itu.
“Ibu lepas waktu Bapakmu meninggal. Ibu simpen di sini. Ibu pikir nanti buat kamu. Kalau kamu nikah.”
“Bu...”
“Pakai ini buat lamaran.” Ibuku mengambil tanganku dan meletakkan kotak beludru itu di telapak tanganku. “Kamu mau ngelamar dia, kan?”
Aku menatap ibuku. Ia menatapku balik dengan mata yang basah dan senyum yang sangat tenang.
Aku tidak tahu bagaimana ia tahu. Aku belum bilang ke siapa-siapa. Aku bahkan belum bilang ke diriku sendiri dengan jelas. Hanya ada kalimat di sel A1 Proyek_Monica.xlsx, dan beberapa catatan di buku kecilku yang kutulis tadi malam, setelah mengantar Monica pulang.
Tangga darurat. Lantai 8–9. Senin pagi. 07.52.
“Bu,” kataku. “Aku mau beli cincin sendiri.”
“Beli nanti.” Ibuku menutup tanganku di atas kotak beludru itu. “Buat nikah, kamu beli yang bagus. Yang ada permatanya. Sesuai kemampuan kamu.” Ia tersenyum. Matanya bersinar, seperti ia tahu sesuatu yang tidak ia katakan. “Tapi buat lamaran, pakai yang ini.”
“Kenapa, Bu?”
Ibuku menatap foto pernikahan di dinding. Ayahku yang tersenyum malu-malu, dengan kumis tipis dan kemeja yang terlalu besar untuk badannya. Ibuku di sebelahnya, muda dan cantik, dengan kebaya putih sederhana.
“Karena cincin ini udah pernah nungguin orang,” katanya pelan. “Bapakmu dulu nggak berani ngelamar Ibu. Tiga tahun. Dia bilang Ibu pantas dapat yang lebih baik. Tiap kali ketemu Ibu, dia bawa cincin ini di saku. Tiga tahun dia bawa. Nggak berani ngeluarin.”
Aku menatap ibuku.
“Terus Ibu yang nanya,” katanya, tertawa pelan. “Ibu bilang, ‘Mas, itu di saku kamu apa? Kok tiap hari kamu pegangin terus?’ Dia kaget. Mukanya merah. Terus dia keluarin cincin ini, dan tangannya gemetar, dan dia bilang...”
Ibuku berhenti. Air matanya jatuh.
“Dia bilang apa, Bu?”
“Dia bilang, ‘Sum, aku nggak punya apa-apa. Cuma ini. Sama aku.’” Ibuku menghapus air matanya. “Terus Ibu bilang, ‘Itu cukup, Mas. Itu lebih dari cukup.’”
Aku menatap kotak beludru di tanganku. Cincin emas tipis di dalamnya. Bagian dalamnya aus, karena dipakai bertahun-tahun, di jari seorang perempuan yang memilih laki-laki yang tidak punya apa-apa.
Aku menutup kotak itu pelan.
“Bu,” kataku. Suaraku serak.
“Hm?”
“Aku sebenarnya punya sesuatu.”
Ibuku menatapku. Lama.
“Ibu tahu,” katanya pelan.
Aku membeku.
“Ibu nggak ngerti angka-angkanya, Ris. Tapi Ibu tahu kamu nggak pernah kekurangan. Ibu tahu kamu yang bayar renovasi atap dapur tahun lalu, padahal kamu bilang dapet bonus. Ibu tahu kamu yang bayar tagihan rumah sakit anak Pak Udin, karena Pak Udin cerita ke Ibu, dan Ibu tahu cuma kamu yang mungkin.” Ibuku tersenyum. “Ibu nggak pernah nanya. Karena Ibu tahu kenapa kamu diem.”
“Karena Bapak,” bisikku.
“Karena Bapak,” kata ibuku.
Ia menggenggam tanganku yang memegang kotak beludru.
“Tapi Monica bukan temen-temen Bapakmu, Ris,” katanya. “Dia dateng ke sini waktu kamu cuma punya motor bebek sama kemeja tiga. Dia goreng tempe empat kali. Dia nunggu di depan pintu kamar kamu sampai jam dua pagi. Dia ke curug jam tiga pagi.”
Ia menatapku lurus.
“Dia udah milih kamu, Ris. Kamu yang ini. Sebelum dia tahu apa-apa.”
Aku menatap kotak beludru di tanganku.
“Aku mau bilang ke dia, Bu,” kataku. “Setelah dia jawab. Setelah dia bilang iya ke aku yang ini. Baru aku bilang.”
Ibuku menatapku lama. Lalu tersenyum.
“Kamu kayak Bapakmu,” katanya. “Keras kepala.”
“Ibu yang bilang Ibu bandel.”
“Ibu bandel. Bapakmu keras kepala.” Ibuku menepuk tanganku. “Makanya kamu jadi kayak gini.”
Aku tertawa. Ibuku juga.
Di dinding, foto pernikahan hitam putih itu menatap kami. Ayahku yang tersenyum malu-malu. Ibuku yang muda dan cantik.
Aku memasukkan kotak beludru itu ke saku kemeja biruku.
Saku yang sama tempat ayahku dulu menyimpan cincin yang sama, tiga tahun, tanpa berani mengeluarkannya.
Aku tidak akan menunggu tiga tahun.
Senin pagi. Jam tujuh lewat lima puluh dua.
Tangga darurat antara lantai delapan dan sembilan.
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja reading
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan