← Dari Awal, Bukan Buat Evan

Chapter Thirty Six

Kali Ini Nggak Ada Titipan

POV: Aris


Aku sampai di bordes antara lantai delapan dan sembilan jam tujuh lewat tiga puluh delapan.

Empat belas menit terlalu cepat. Aku tahu. Aku sudah menghitungnya tadi malam. Monica selalu sampai di bordes ini jam tujuh lewat lima puluh dua, kalau Kalimalang tidak macet. Hari ini Senin. Senin selalu macet. Mungkin jam tujuh lewat lima puluh lima.

Aku berangkat dari Jatiwaringin jam enam lewat sepuluh. Kalimalang lancar. Aku sudah tahu Kalimalang akan lancar. Aku tetap berangkat jam enam lewat sepuluh.

Ibuku berdiri di depan pagar hijau waktu aku berangkat. Ia tidak bilang apa-apa. Ia hanya merapikan kerah kemeja biruku, menepuk saku dadanya, tempat kotak beludru merah tersimpan, lalu menepuk pipiku dua kali.

“Jangan tiga tahun,” katanya.

“Nggak, Bu.”

“Bapakmu tiga tahun.”

“Aku tahu, Bu.”

Sekarang aku berdiri di bordes yang sama. Di depan anak tangga yang sama, tempat aku pertama kali menaikkan lutut kiri untuk menahan blazer abu-abu yang kancingnya lepas. Tempat aku menusuk jempolku sendiri dengan jarum. Tempat kertas tempel kuning bertuliskan Pagi. —M menempel di pegangan besi.

Aku mengeluarkan kotak beludru dari saku. Membukanya. Cincin emas tipis, polos, bagian dalamnya aus. Aku menutupnya lagi. Memasukkannya ke saku.

Mengeluarkannya lagi.

Aku sudah melakukan itu sembilan kali sejak jam tujuh lewat tiga puluh delapan. Aku menghitungnya. Aku tidak bisa berhenti menghitung.

Di atasku, di bordes antara lantai sembilan dan sepuluh, aku mendengar sesuatu. Bunyi gesekan. Seperti sepatu yang bergeser di lantai beton. Lalu bisikan.

“Diem, Van.”

“Gue diem.”

“Lo napas kenceng banget.”

“Gue NAPAS, Luck. Masa gue nggak boleh napas?”

Aku menutup mata.

“Van,” kataku, tidak terlalu keras, cukup untuk terdengar ke bordes di atas. “Luck. Aku tahu kalian di situ.”

Hening.

Lalu kepala Evan muncul dari balik pegangan tangga di atas. Disusul kepala Lucky. Disusul, ini yang tidak kuduga, kepala Dini. Lalu Pak Darto. Lalu Mas Jono, dengan tongkat penyangga di ketiak.

“Pagi, Ris,” kata Evan dengan senyum paling bersalah yang pernah kulihat.

“Kalian ngapain?”

“Kita...” Evan menatap Lucky. Lucky menatap Dini. Dini menatap Pak Darto. “Kita lagi... olahraga. Naik tangga. Sehat.”

“Jam tujuh pagi. Hari Senin. Berlima.”

“Gaya hidup sehat, Mas Aris,” kata Dini serius.

“Kalian tahu dari mana?”

Lima orang di bordes atas saling bertukar pandang. Lalu Lucky menghela napas.

“Ibu kamu telepon Evan semalem,” katanya. “Bilang, ‘Besok pagi jam delapan kurang, tangga darurat lantai delapan. Kalau kalian mau lihat, jangan berisik.’”

Aku menatap mereka. Lima wajah yang menatapku dari balik pegangan tangga. Evan yang matanya sudah basah. Lucky yang berusaha terlihat tenang tapi jarinya mengetuk pegangan besi tiga kali, pelan. Dini dengan ponsel di tangan, siap merekam. Pak Darto dengan tisu yang sudah disiapkan. Mas Jono dengan senyum lebar.

“Dini,” kataku. “Jangan direkam.”

“Mas, ini momen bersejarah.”

“Din.”

Dini menurunkan ponselnya dengan wajah sangat kecewa.

“Oke,” kataku. “Kalian boleh di situ. Tapi diem.”

“Siap,” kata lima orang bersamaan, terlalu keras.

Lalu dari bawah, dari arah lantai tujuh, terdengar suara pintu darurat dibuka.

Lima kepala di atas menghilang secepat mungkin. Aku mendengar bunyi gesekan sepatu, bisikan aduh, kaki gue, lalu hening total.

Langkah kaki menaiki tangga. Ringan. Sepatu kets, bukan sepatu berhak. Pelan, teratur, sedikit terburu-buru di belokan.

Aku memasukkan kotak beludru ke saku. Sepuluh kali.


Monica muncul di belokan tangga dengan kardigan krem, kemeja putih, celana panjang hitam, tas di bahu, dan termos biru dongker di tangan.

Ia berhenti di anak tangga terbawah. Menatapku.

“Aris?”

“Pagi.”

“Kamu ngapain di sini?” Ia melirik jam tangannya. “Lantai kamu tujuh.”

“Aku tahu.”

“Kamu nunggu dari jam berapa?”

Aku diam sebentar. “Tujuh lewat tiga puluh delapan.”

Monica menatapku lama. Lalu tersenyum kecil. “Kalimalang lancar?”

“Lancar.”

“Kamu tahu bakal lancar?”

“Tahu.”

“Tapi kamu tetap berangkat jam enam lewat sepuluh.”

Aku tidak menjawab. Ia menaiki anak tangga, satu per satu, sampai berdiri di bordes. Di depanku. Di tempat yang sama dengan hari pertama. Ia menyodorkan termos biru dongker.

“Teh,” katanya. “Tadi aku isi di pantry lantai dasar. Ibu kamu bilang kamu pasti lupa bawa termos kalau lagi gugup.”

Aku menatap termos itu. Lalu menatap tanganku sendiri. Kosong. Aku lupa bawa termos.

“Ibu aku ngomong ke kamu?”

“Ibu kamu ngomong ke aku tiap hari sekarang.” Monica tersenyum. “Kenapa kamu gugup?”

Aku tidak menerima termos itu. Aku hanya menatapnya. Lalu menatap Monica.

Rambutnya tergerai hari ini. Tidak diikat. Sedikit bergelombang di ujung. Lipstiknya nude, seperti hari pertama. Ada kancing di kemeja putihnya, kancing kedua dari atas, dan aku tidak tahu kenapa mataku langsung tertuju ke sana.

“Monica,” kataku.

“Hm?”

“Hari pertama kamu di sini. Kancing kamu lepas. Di sini.”

“Aku inget.”

“Kamu presentasi lima menit lagi. Kamu panik. Kamu nanya ada yang jual peniti nggak.”

“Atau stapler,” kata Monica. Ia tersenyum, tapi matanya mulai berubah. Lebih waspada. Seperti orang yang mulai merasakan sesuatu yang besar akan terjadi. “Aku bilang stapler pun aku pakai.”

“Aku jahit kancing kamu. Terus aku pergi.”

“Ke arah yang salah.”

“Ke arah yang salah,” kataku. “Karena aku takut. Aku takut kalau aku berhenti, kamu bakal nanya aku kenal Evan atau nggak.”

Monica tidak bicara. Ia hanya menatapku. Termos biru dongker masih di tangannya, setengah terulur.

“Sebelas tahun,” kataku. “Aku nganterin surat orang lain. Tiga puluh tujuh buat Evan. Dua belas buat Lucky. Nol buat aku. Aku jadi tukang pos. Aku ngerasa itu tempat aku. Jembatan. Bukan tujuan.”

Aku menarik napas.

“Terus kamu dateng. Kamu nggak nanya soal Evan. Kamu nggak titip apa-apa. Kamu bawa kotak bekal buat aku, dan aku malah ngasih ke Evan. Kamu bilang kamu suka aku, dan aku malah nyuruh kamu ngomong ke Evan. Kamu cium aku, dan aku malah bilang kamu pantas dapat yang lebih baik.”

Mata Monica mulai basah.

“Aku nggak tahu kenapa kamu nggak nyerah,” kataku. Suaraku mulai bergetar. “Orang lain pasti udah nyerah. Udah lama.”

“Aku bukan orang lain,” bisik Monica.

“Aku tahu.” Aku tersenyum. “Itu yang paling aku nggak ngerti dari kamu. Dan itu yang paling aku sayang.”

Monica menutup mulutnya dengan tangan yang tidak memegang termos.

Aku memasukkan tangan ke saku kemeja. Sebelas kali. Kali ini aku tidak mengembalikannya.

Aku mengeluarkan kotak beludru merah yang sudah pudar. Membukanya.

Cincin emas tipis. Polos. Bagian dalamnya aus.

Monica menatap cincin itu. Lalu menatapku. Napasnya berhenti.

Aku berlutut.

Tidak dengan dua lutut. Satu lutut. Lutut kiri. Di lantai beton bordes yang dingin, di depan anak tangga tempat dulu aku menaikkan lutut yang sama untuk menahan blazer abu-abu.

“Ini cincin ibu aku,” kataku. Suaraku sudah tidak bisa kutahan lagi. Gemetar. “Dari bapak aku. Bapak aku bawa cincin ini di saku tiga tahun. Tiga tahun dia nggak berani ngeluarin. Karena dia pikir ibu aku pantas dapat yang lebih baik.”

Air mata jatuh dari mata Monica. Satu. Lalu dua.

“Aku hampir kayak bapak aku,” kataku. “Aku hampir nunggu tiga tahun. Atau lebih. Atau selamanya.”

Aku menatapnya.

“Aku belum beli cincin yang bagus. Nanti aku beli. Yang ada permatanya. Yang kamu pilih sendiri. Tapi hari ini, yang aku bawa cuma ini.” Aku mengangkat kotak beludru itu sedikit. “Sama aku.”

Hening.

Di bordes atas, aku mendengar seseorang menahan isakan. Mungkin Evan. Mungkin Pak Darto. Mungkin keduanya.

Aku menarik napas. Panjang. Lalu mengucapkan kalimat yang sudah sebelas tahun kuucapkan dengan cara yang salah.

“Monica,” kataku. “Kali ini nggak ada titipan.”

Monica membeku.

“Nggak ada surat buat orang lain. Nggak ada kotak bekal buat Evan. Nggak ada jembatan.” Aku menatapnya lurus. “Ini dari aku. Buat kamu. Dari awal.”

“Aris...”

“Kamu mau nikah sama aku?”


Monica tidak langsung menjawab.

Ia berdiri di bordes antara lantai delapan dan sembilan, dengan termos biru dongker di satu tangan dan tangan lainnya menutupi mulut, menatapku yang berlutut di depannya dengan kotak beludru merah terbuka.

Air matanya mengalir tanpa henti. Bahunya berguncang.

Lalu ia menurunkan tangannya dari mulut.

“Kamu tahu,” katanya, suaranya pecah di setiap kata, “aku udah bilang aku mau dinikahin. Di warung ronde. Di tengah hujan.”

“Aku tahu.”

“Dan kamu nolak.”

“Aku tahu.”

“Dan sekarang kamu yang nanya.”

“Iya.”

“Kamu yang ngejar.”

“Iya, Monica.”

Ia tertawa di antara tangisnya. Tawa yang pecah, basah, sangat bahagia.

“Iya,” katanya.

Aku tidak bergerak. Aku tidak yakin aku mendengar dengan benar.

“Iya, Aris.” Ia melangkah maju. Termos biru dongker jatuh dari tangannya, menggelinding di lantai bordes, membentur kaki anak tangga, tapi tidak pecah. Ia tidak peduli. “Iya. Iya. Seribu kali iya. Dari hari pertama iya.”

Ia mengulurkan tangan kirinya. Jari-jarinya gemetar.

Aku mengambil cincin dari kotak beludru. Tanganku juga gemetar. Lebih hebat dari jari-jarinya. Cincin itu hampir jatuh. Aku menahannya. Lalu memasangkannya di jari manisnya.

Cincin itu sedikit longgar. Jari ibuku lebih besar dari jari Monica.

“Longgar,” kataku pelan.

“Nggak apa-apa.” Monica menatap cincin di jarinya. “Ibu kamu bisa kecilin. Dia penjahit.”

“Itu cincin, bukan baju.”

“Ibu kamu bisa apa aja.”

Aku tertawa. Air mataku jatuh. Aku membiarkannya jatuh.

Monica menarik tanganku. Pelan. Menyuruhku berdiri. Aku berdiri. Kami berdiri berhadapan di bordes, sangat dekat, lebih dekat dari hari pertama, lebih dekat dari waktu ia menggunting kancingnya sendiri.

Aku menatapnya.

Di warung wedang ronde, ia yang menciumku. Di atap gedung, ia yang menciumku. Di basement, ia yang memelukku. Di pantry, ia yang memelukku.

Hari ini, aku yang berlutut. Aku yang bertanya.

Aku mengangkat tangan kananku. Pelan. Sampai pipinya. Tidak perlu lebih tinggi dari itu.

Pipinya basah. Hangat.

Lalu aku menunduk, dan menciumnya.

Di bibir. Tidak meleset.

Ciuman itu tidak lama. Tidak sempurna. Aku tidak tahu caranya. Bibirku gemetar, hidungku menyenggol hidungnya, dan aku bisa merasakan air mataku dan air matanya bercampur di antara kami. Rasanya asin. Dan sedikit manis, dari teh yang ia minum di lantai dasar tadi.

Tapi itu ciumanku. Yang pertama. Yang aku mulai sendiri.

Aku menarik diri sedikit. Dahiku menempel di dahinya.

“Maaf,” bisikku. “Aku nggak tahu caranya.”

Monica tertawa pelan. Napasnya hangat di bibirku.

“Nanti aku ajarin,” bisiknya.


Bordes di atas kami meledak.

Evan yang pertama. Ia melompat turun tiga anak tangga sekaligus, hampir jatuh, ditangkap oleh pegangan besi, dan berteriak dengan suara yang memantul di seluruh tangga darurat dari lantai satu sampai lantai dua puluh lima.

“DIA BILANG IYAAAAA!”

Lucky menyusul. Ia tidak melompat. Ia berjalan turun dengan tenang, dengan wajah direktur, dengan tangan di saku. Tapi waktu sampai di bordes, ia berhenti di depanku, dan wajah direkturnya runtuh sepenuhnya. Ia memelukku. Keras. Menangis di bahu kiriku.

“Akhirnya, Ris,” bisiknya. “Akhirnya.”

Dini turun sambil menangis dan memegang ponsel. Aku melihat lampu kecil di bagian belakang ponselnya menyala.

“Din,” kataku di balik bahu Lucky.

“Maaf, Mas!” isak Dini. “Saya nggak bisa nahan! Ini sejarah!”

Pak Darto turun dengan tisu menutupi seluruh wajahnya. Mas Jono turun paling akhir, pelan-pelan dengan tongkat penyangganya, dan tersenyum begitu lebar sampai matanya tinggal garis.

Lalu, dari bawah, pintu darurat lantai delapan terbuka.

Pak Joko dari Finance. Orang yang dulu melihat Monica memegang pergelangan tanganku di tangga ini dan melapor ke grup HRD Squad Asik. Ia menatap kami semua. Tujuh orang di bordes yang sempit. Termos biru dongker di lantai. Kotak beludru merah di tanganku. Cincin emas di jari Monica.

Ia menatap selama tiga detik.

Lalu ia mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu dengan sangat cepat, menekan kirim, dan menutup pintu darurat lagi.

Sepuluh detik kemudian, ponsel Monica bergetar. Lalu ponselku. Lalu ponsel Evan, Lucky, Dini, Pak Darto, Mas Jono.

Monica mengambil ponselnya dari tas dan membaca. Lalu tertawa sampai harus berpegangan pada lenganku.

“Apa?” tanyaku.

Ia menunjukkan layarnya. Grup HRD Squad Asik. Pesan dari Pak Joko.

TANGGA DARURAT LT 8-9. MAS ARIS BERLUTUT. MBAK MONICA PAKAI CINCIN. SAYA ULANGI. MBAK MONICA PAKAI CINCIN.

Di bawahnya, langsung, pesan dari Mbak Wati.

KLASEMEN RESMI DITUTUP. PEMENANG: MAS ARIS (DATA) — 100% TERIMA KASIH ATAS PARTISIPASINYA. SAYA PENSIUN JADI BANDAR KLASEMEN.


Monica memungut termos biru dongker dari lantai bordes. Tidak pecah. Hanya penyok sedikit di bagian bawah. Sama seperti termosku yang lama.

“Sekarang sama,” katanya, menunjukkan penyok itu padaku. “Dua-duanya penyok.”

“Itu bisa dibenerin.”

“Jangan dibenerin.” Ia menatap penyok itu sambil tersenyum. “Biar inget.”

Ia membuka termos itu, menuang teh ke tutupnya, dan menyodorkannya padaku.

Aku meminumnya. Teh tawar. Masih hangat.

Evan, di sebelah kami, menghapus air matanya dengan lengan kemeja. “Mbak. Mbak harus ke rumah bokap Mbak. Bawa dia.”

“Aku tahu,” kata Monica. Ia menatapku. “Papa aku pensiunan hakim.”

“Aku tahu,” kataku.

“Dia nggak gampang.”

“Aku tahu.”

“Dia bakal nanya macem-macem.”

“Aku siap.”

Monica menatapku lama. Lalu tersenyum. Ia mengulurkan tangan dan merapikan kerah kemeja biruku. Satu kali usap, dari belakang leher ke depan. Seperti waktu itu, di lantai sembilan, waktu kerahku kelipat dan aku tidak tahu kenapa leherku terasa dingin sepanjang sore.

“Kerahmu kelipat,” katanya.

“Nggak kelipat.”

“Aku tahu,” kata Monica.

Ia mencium pipiku. Pipi kiri. Tempat lesung pipiku.

“Itu pelunasan DP,” bisiknya.

Lucky, di sebelahku, tersedak udara.