Chapter Thirty Four
Empat Puluh Tujuh Slide
POV: Monica
Evan meneleponku hari Sabtu malam dengan suara orang yang baru menyaksikan keajaiban dunia kedelapan.
“Mbak. Mbak harus tahu ini.”
“Tahu apa?”
“Tadi pagi. Rumah Aris. Jam tujuh.” Evan menarik napas. “Lucky presentasi.”
“Presentasi apa?”
“Empat puluh tujuh slide, Mbak. Judulnya Strategi Pendekatan Romantis Berbasis Data: Panduan Praktis untuk Aris Setiawan. Ada daftar isi. Ada grafik. Ada studi kasus.” Suara Evan bergetar menahan tawa. “Slide dua puluh tiga isinya analisis SWOT, Mbak. Analisis SWOT. Kekuatan: lesung pipi kiri. Kelemahan: nggak bisa ngomong. Peluang: Monica udah suka duluan. Ancaman: Aris sendiri.”
Aku menutup mulut dengan tangan supaya tidak tertawa terlalu keras. Tetangga sebelah sudah mengetuk dinding dua kali minggu ini.
“Terus Aris gimana?”
“Aris nyatet, Mbak.” Evan akhirnya tertawa. “Dia nyatet semuanya di buku kecilnya. Dia nanya pertanyaan. Dia nanya ke Lucky, ‘Luck, slide tiga puluh satu, kalimat gombal nomor empat, itu sumbernya dari mana?’ Terus Lucky bilang dari film. Terus Aris bilang, ‘Validitasnya rendah dong, Luck. Film bukan data empiris.’”
Aku tertawa sampai air mata keluar.
“Terus Bu Sumi?”
“Bu Sumi duduk di belakang, Mbak. Makan martabak. Sambil nonton. Kayak nonton sinetron.” Evan diam sebentar. Lalu suaranya berubah, lebih pelan. “Mbak. Gue mau minta satu hal.”
“Apa?”
“Jual mahal dikit.”
Aku berhenti tertawa. “Kenapa?”
“Karena dia harus belajar.” Suara Evan serius sekarang. “Sebelas tahun dia nunggu dipilih, Mbak. Sekarang dia mau belajar milih. Dia mau belajar ngejar. Kalau Mbak langsung bilang iya di percobaan pertama, dia nggak bakal belajar apa-apa. Dia bakal mikir itu kebetulan.”
Aku diam.
“Kasih dia kesempatan buat gagal, Mbak. Biar dia tahu rasanya bangun lagi setelah gagal. Bukan nyerah.”
Aku menatap helm putih di atas meja rias. Aku sudah mengambilnya lagi dari rumah Aris, hari Rabu, setelah curug. Bu Sumi yang menyerahkannya padaku di teras. Kamu bilang nanti diambil lagi, kan, Nak?
“Oke, Van,” kataku. “Aku jual mahal.”
“Seberapa mahal?”
“Semahal yang aku kuat.”
Evan tertawa. “Itu nggak bakal lama, Mbak.”
“Aku tahu.”
Senin pagi, jam tujuh lewat lima puluh dua, ada kertas tempel kuning di pegangan besi tangga darurat antara lantai delapan dan sembilan.
Bukan dariku. Tulisan tangannya kecil, rapi, sedikit miring ke kanan.
Pagi. —A
Aku menatap kertas itu lama.
Lalu aku menyadari ada sesuatu di anak tangga di bawah kertas itu. Gelas kertas dari kedai kopi di lantai dasar. Masih hangat. Tutupnya rapat. Di gelasnya, tulisan spidol hitam yang sama rapinya.
Cappuccino. Bukan buat Evan.
Aku berdiri di bordes itu dan tertawa sendirian sampai seseorang membuka pintu darurat lantai delapan, menatapku dengan heran, lalu menutupnya lagi.
Jual mahal, pikirku. Aku harus jual mahal.
Aku meminum cappuccino itu sampai habis.
Aris tidak muncul di depanku sepanjang pagi. Tapi ia ada di mana-mana.
Jam sembilan, kertas tempel kuning di monitor komputerku. Rapat jam 10 di lantai 15. Saya duduk di kursi nomor 4. Kursi nomor 5 kosong. —A
Aku duduk di kursi nomor delapan. Di seberangnya. Aku melihatnya menatap kursi nomor lima yang kosong, lalu menatapku, lalu menulis sesuatu di buku catatan kecilnya dengan wajah yang sangat serius. Mungkin Skenario 1: Gagal.
Aku menahan tawa sepanjang rapat.
Jam sebelas, ia mampir ke lantai sembilan. Bukan untuk dokumen. Ia berdiri di samping mejaku dengan sesuatu di tangannya, dibungkus kertas cokelat. Pengharum ruangan otomatis di dinding menyemprot wangi melati tepat saat ia sampai.
Seluruh Divisi Legal berhenti mengetik.
“Monica,” katanya.
Divisi Legal berhenti bernapas.
Ia memanggilku Monica. Di depan semua orang. Bukan Mbak. Bukan Mbak Monica.
Dari meja seberang lorong, Renata menutup mulutnya dengan dua tangan. Ia dan aku sudah mulai makan siang bersama lagi, sejak Kamis. Belum seperti dulu. Kami lebih banyak diam. Tapi ia ada di sana, dan aku ada di sana, dan itu sudah sesuatu.
“Iya?” kataku. Dingin. Sopan. Jual mahal.
Aris meletakkan bungkusan kertas cokelat itu di mejaku.
“Ini,” katanya. “Buat yang suka kancingnya lepas.”
Aku membuka bungkusan itu. Di dalamnya, kotak bekal biru muda. Kotak bekalku. Yang kutitipkan ke Evan, yang dititipkan Aris ke Evan untuk dikembalikan padaku, yang tidak pernah dikembalikan Evan karena Evan bilang gue nggak mau jadi tukang pos.
Aku membuka klip di keempat sisinya.
Tempe goreng.
Tempe goreng yang dipotong agak tebal di satu sisi dan terlalu tipis di sisi lain. Pinggirannya gosong. Bukan gosong sedikit, seperti punya Bu Sumi. Gosong hitam. Beberapa potong bentuknya tidak beraturan, seperti dipotong oleh orang yang tangannya gemetar.
“Kamu yang goreng?” tanyaku.
“Iya.”
“Berapa kali?”
Aris diam sebentar. Telinganya merah.
“Lima kali,” katanya.
Divisi Legal meledak dengan tawa. Pak Harun, yang ternyata berdiri di ambang pintu ruangannya, bertepuk tangan. Seseorang bersiul.
Aku menatap tempe goreng gosong di kotak bekal biru. Lima kali. Ia menggoreng tempe lima kali. Satu kali lebih banyak dariku.
Jual mahal, kataku pada diriku sendiri. Jual mahal, Monica.
Aku mengambil sepotong tempe. Yang paling gosong. Menggigitnya.
Pahit. Keras. Ketumbarnya tidak disangrai, aku bisa merasakannya, dan garamnya terlalu banyak.
“Gimana?” tanya Aris. Suaranya pelan. Wajahnya seperti mahasiswa yang menunggu hasil sidang skripsi.
“Gosong,” kataku.
Wajahnya jatuh sedikit.
“Asin,” tambahku.
Wajahnya jatuh lebih jauh.
“Ketumbarnya nggak disangrai.”
“Iya,” katanya pelan. “Aku lupa. Ibu bilang harus disangrai, tapi aku lupa.”
Aku menatapnya. Laki-laki yang bisa membaca kontrak dua ratus halaman dalam lima belas menit, yang bisa menemukan kelebihan tagihan sebelas miliar dalam empat puluh delapan jam, yang bisa memperbaiki model prediksi di depan direktur keuangan dalam empat menit. Berdiri di samping mejaku, dengan telinga merah, menunggu pendapatku soal tempe goreng gosong.
Aku lupa. Ia bilang aku. Bukan saya.
Aku mengambil sepotong tempe lagi. Dan lagi.
“Kamu bilang gosong,” kata Aris bingung.
“Emang gosong.”
“Terus kenapa dimakan?”
Aku menatapnya. Menggigit tempe gosong yang ketiga.
“Karena kamu goreng lima kali,” kataku.
Aris membuka mulut. Menutupnya lagi. Lalu, pelan, lesung pipi kirinya muncul.
Divisi Legal bertepuk tangan lagi.
Jam satu siang, aku menerima pesan dari Evan.
Evan: Mbak. Laporan dari lapangan. Dia balik ke lantai tujuh terus nyatet di buku kecilnya.
Evan: Dini fotoin. Gue kirim.
Sebuah foto. Halaman buku catatan kecil yang terbuka di atas meja kerja Aris, di samping gambar krayon Kiki. Tulisan tangan kecil, rapi, sedikit miring ke kanan.
Percobaan 3 (tempe): Hasil: dimakan 3 potong. Dibilang gosong & asin. Analisis: dia makan karena aku goreng 5x? (dia bilang gitu) Kesimpulan: usaha lebih penting dari hasil? Catatan: belajar sangrai ketumbar.
Di bawahnya, satu baris lagi, ditulis lebih kecil, seperti catatan untuk dirinya sendiri.
Dia senyum waktu makan yang ketiga.
Aku menatap foto itu lama. Lalu menyimpannya.
Monica: Van. Bilang ke Dini jangan fotoin buku catatan orang.
Evan: Mbak udah simpen fotonya?
Monica: ...
Evan: HAHAHAHA
Jual mahal ternyata jauh lebih sulit dari yang kubayangkan.
Selasa, ia menunggu di lobi jam lima sore dengan payung, karena ramalan cuaca bilang hujan. Hujannya tidak turun. Ia tetap menunggu dengan payung terbuka di dalam lobi, sampai Pak Udin memintanya menutup payung karena Mas, itu pamali, buka payung di dalam ruangan.
Rabu, ia mencoba salah satu kalimat dari slide Lucky. Kami berpapasan di lift, berdua. Ia menatap angka di atas pintu, menarik napas, lalu berkata dengan suara yang sangat serius dan sangat kaku:
“Monica. Kamu tahu bedanya kamu sama data?”
Aku menatapnya. “Apa?”
“Data bisa salah,” katanya. “Kamu nggak.”
Pintu lift terbuka di lantai sembilan. Aku keluar tanpa menjawab. Pintu menutup. Aku berdiri di depan lift lantai sembilan, membelakangi pintu, dan tertawa sampai harus berpegangan pada dinding.
Lima menit kemudian, pesan masuk.
Aris: Itu gombalan dari slide 31. Sumbernya film. Validitasnya rendah. Maaf.
Aku tertawa lagi.
Monica: Validitasnya rendah. Tapi efektivitasnya tinggi.
Tiga titik. Hilang. Muncul.
Aris: Beneran?
Monica: Aku ketawa di depan lift lima menit.
Aris: Itu bagus atau jelek?
Aku menatap layar. Jual mahal, Monica.
Monica: Tebak.
Kamis, ia tidak mencoba apa-apa. Ia hanya duduk di sebelahku di warung soto Bu Darsih, memisahkan bawang goreng dari sotoku tanpa diminta, karena aku pernah bilang aku tidak suka bawang goreng yang terlalu gosong. Ia ingat. Ia ingat semuanya.
Bu Darsih lewat di belakang kami dan berhenti.
“Mas Aris,” katanya. “Pacarnya?”
Aris menatap Bu Darsih. Lalu menatapku. Lalu menatap mangkuk soto di depannya.
“Belum, Bu,” katanya. “Lagi saya kejar.”
Bu Darsih menjatuhkan nampannya.
Untung nampannya kosong.
Jumat sore, jam lima lewat sepuluh, basement B2.
Aku berjalan ke mobilku dengan tas di bahu dan kunci di tangan. Lima hari. Lima hari jual mahal. Lima hari menahan senyum, menahan tawa, menahan keinginan untuk menarik kerah kemejanya dan menciumnya di depan seluruh Divisi Legal.
Aku hampir sampai di mobilku waktu mendengar langkah kaki di belakangku. Teratur. Sedikit lebih berat di kaki kiri.
Aku tidak menoleh.
“Monica.”
Aku berhenti. Masih tidak menoleh.
“Iya?”
Langkah kaki itu mendekat. Berhenti di belakangku. Dekat. Aku bisa mencium wangi sabun bayi dan sedikit wangi tempe goreng gosong, entah dari mana.
“Aku...” Suaranya ragu. “Aku nggak tahu harus ngomong apa.”
Aku berbalik.
Ia berdiri di depanku. Kemeja biru, karena hari ini Jumat dan dua kemeja putihnya sedang dijemur. Lengan digulung satu lipatan. Ransel di bahu kiri. Termos di tangan kanan. Wajahnya pucat, telinganya merah, dan matanya menatapku dengan sesuatu yang sangat gugup dan sangat berani sekaligus.
“Lucky bikin empat puluh tujuh slide,” katanya. “Aku hafal semua. Aku nyatet semua. Ada tujuh belas kalimat gombal. Ada delapan skenario. Ada analisis SWOT.”
“Aku tahu,” kataku. “Evan cerita.”
“Aku lupa semuanya,” katanya. “Sekarang. Waktu lihat kamu. Aku lupa semuanya.”
Aku diam.
Lalu ia meletakkan termos di atas kap mobilku. Pelan. Dengan hati-hati, seperti meletakkan barang pecah belah.
Tangan kanannya kosong sekarang.
Ia menatap tangan kanannya sendiri sebentar. Tangan yang tidak bisa diangkat lebih tinggi dari telinga. Tangan yang ia sembunyikan selama sebelas tahun.
Lalu ia mengulurkan tangan itu. Ke arahku. Pelan.
Dan menggenggam tanganku.
Telapak tangannya basah. Berkeringat. Jari-jarinya sedikit gemetar. Genggamannya canggung, terlalu hati-hati, seperti orang yang baru pertama kali belajar memegang sesuatu yang sangat berharga dan takut menjatuhkannya.
Itu pertama kalinya ia menyentuhku duluan.
Bukan aku yang memeluk pinggangnya di atas motor. Bukan aku yang memegang pergelangan tangannya di tangga darurat. Bukan aku yang menggandeng lengannya di lift atau memeluknya dari belakang di pantry.
Ia yang menggenggam tanganku. Duluan. Dengan tangan kanan.
“Aku nggak bisa ngegombal,” katanya pelan. “Aku nggak bisa ngomong kayak Evan. Aku nggak bisa bikin presentasi kayak Lucky.”
Ia menatap tangan kami yang bertaut.
“Aku cuma bisa bilang satu hal.”
Aku menunggu. Jantungku berdebar sampai ke telinga.
Ia mengangkat wajah. Menatapku lurus.
“Aku mau pulang sama kamu,” katanya.
Aku ingat malam itu. Lantai tujuh, jam sepuluh malam. Lembur. Mobilku di bengkel. Aku bilang aku nggak takut pulang malam. Aku cuma mau pulangnya nempel sama kamu. Dan ia menelepon Evan.
Sekarang ia mengembalikan kalimat itu padaku.
Dengan tangan kanannya yang gemetar, menggenggam tanganku di basement B2, di depan mobil putihku, dengan termos di atas kap.
Lima hari jual mahal.
Aku tidak kuat lagi.
Aku menggenggam tangannya balik. Erat. Jari-jariku menyelip di antara jari-jarinya.
“Motor kamu di B3,” kataku. Suaraku bergetar.
“Iya.”
“Mobilku di sini.”
“Iya.”
“Kita nggak bisa pulang bareng kalau kendaraannya beda.”
Aris menatapku. Lalu menatap mobilku. Lalu menatap tangan kami. Ia terlihat seperti sedang menjalankan kalkulasi yang sangat rumit di kepalanya.
“Mobil kamu bisa ditinggal,” katanya akhirnya. “Besok aku jemput. Jam tujuh.”
“Kamu bakal dateng jam enam lewat seperempat.”
“Iya,” katanya jujur.
Aku tertawa. Air mataku jatuh, satu, di pipi. Aku tidak menghapusnya.
“Helm putihnya di rumah,” kataku.
“Aku bawa satu lagi.” Ia menunjuk ranselnya dengan dagu. “Cadangan. Ukurannya sama. Ibu yang pilihin.”
Aku menatapnya. Laki-laki yang membawa helm cadangan di ransel, untuk berjaga-jaga kalau aku mau pulang bersamanya.
“Kamu udah nyiapin ini,” kataku.
“Dari hari Senin,” katanya. “Tiap hari aku bawa. Aku nggak berani nanya.”
Aku menarik tangannya. Pelan. Ke arah tangga B3.
Ia mengambil termos dari atas kap mobilku dengan tangan kiri. Tangan kanannya tetap menggenggam tanganku. Tidak dilepas.
Kami berjalan menuruni tangga ke B3. Bergandengan. Melewati Pak Udin di pos jaga, yang berdiri dari kursinya, melepas topinya, dan menempelkannya di dada seperti orang yang sedang menyaksikan upacara bendera.
“Pak Udin,” kata Aris sambil lewat. “Ponconya nggak usah. Saya udah punya jas hujan.”
“Siap, Mas,” kata Pak Udin. Suaranya bergetar. “Siap.”
Di samping motor bebek biru, Aris akhirnya melepaskan tanganku. Ia mengambil helm cadangan dari ranselnya. Putih. Ukurannya sama persis. Masih ada stiker harga di bagian belakangnya.
Aku mencopot stiker itu. Memakai helmnya. Naik ke jok belakang.
Lalu aku melingkarkan kedua lenganku di pinggangnya. Langsung. Tanpa menunggu tanjakan. Tanpa alasan besi belakang yang licin.
“Monica,” katanya pelan, dari balik helm.
“Hm.”
“Aku masih belum tahu cara ngomongnya.”
“Ngomong apa?”
Ia diam sebentar. Mesin motor menyala, batuk dua kali, lalu menderum.
“Nanti,” katanya. “Kalau udah tahu, aku bilang.”
Aku menyandarkan pipi di punggungnya.
“Aku tunggu,” kataku.
Motor bebek itu keluar dari basement Wiratama Tower dengan kecepatan dua puluh kilometer per jam.
Di belakang kami, Pak Udin membunyikan peluit panjang. Satu kali. Seperti wasit yang meniup peluit tanda gol.
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide reading
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan