← Dari Awal, Bukan Buat Evan

Chapter Twelve

Tebak

POV: Monica


“Kamu harus lihat ini,” kata Renata, menyodorkan ponselnya padaku di atas meja kantin lantai tiga. “Tapi janji jangan marah.”

“Aku nggak pernah marah.”

“Kamu pernah lempar sepatu ke dosen pembimbing skripsi.”

“Dia bilang argumenku emosional. Aku buktiin argumenku bisa terbang.”

Renata tertawa, lalu mendorong ponsel itu lebih dekat. Di layar, ada tangkapan layar dari sebuah grup obrolan bernama HRD Squad Asik. Pesannya dikirim oleh Mbak Wati, lengkap dengan tabel yang jelas dibuat dengan susah payah di aplikasi catatan ponsel.

KLASEMEN SEMENTARA: SIAPA INCARAN MBAK MONICA (LEGAL) Update per hari Jumat

1. Mas Evan (Sales) — 64% Alasan: sering makan siang bareng, ganteng, single, sama-sama jago presentasi

2. Pak Lucky (Direksi) — 30% Alasan: duduk sebelahan di rapat, Pak Lucky pernah nungguin Mbak Monica di koridor (saksi: Pak Joko Finance)

3. Mas Aris (Data) — 6% Alasan: teman Mas Evan, sering ada di sekitar. Kemungkinan perantara.

Catatan: Ada laporan Mbak Monica bawa kotak bekal ke lantai 7, TAPI yang makan Mas Evan (saksi: Bu Darsih). Jadi poin tetap ke Mas Evan.

Aku membaca tabel itu dua kali. Lalu meletakkan ponsel Renata di meja dengan sangat pelan, seperti meletakkan sesuatu yang bisa meledak.

“Enam persen,” kataku.

“Mon.”

“Enam persen, Ren.”

“Mbak Wati cuma bercanda...”

“Mbak Wati punya metodologi. Dia punya saksi. Dia nulis alasan.” Aku memijat pelipis. “Dan menurut metodologinya, laki-laki yang aku bawain bekal hasil goreng tempe tiga kali, laki-laki yang aku traktir kopi, laki-laki yang aku chat tiga kali di tengah rapat vendor senilai tiga puluh dua miliar, cuma punya enam persen.”

“Ya, soalnya yang makan bekalnya Evan.”

“Karena laki-laki enam persen itu yang ngasih ke Evan!”

Beberapa orang di meja sebelah menoleh. Aku menurunkan suara dan menyuap nasi goreng kantin dengan kesal.

Renata mengambil kembali ponselnya. Ia tersenyum, tapi lagi-lagi senyumnya berhenti di bibir. Akhir-akhir ini ia sering begitu. Tersenyum dengan mata yang sedang memikirkan hal lain. Dua kali minggu ini aku melihatnya menatap layar ponsel lama sekali, lalu membaliknya tengkurap di meja tanpa membalas pesan apa pun.

“Kamu kenapa, Ren?”

“Kenapa apa?”

“Kamu aneh. Udah seminggu.”

“Aku capek. Krisis data kemarin itu bikin aku nggak tidur dua hari.” Ia menyuap salad tanpa selera. “Dan Lucky ngajak debat terus tiap rapat. Itu capek juga.”

“Lucky ngajak debat atau kamu yang ngajak debat?”

Renata berhenti mengunyah. Pipinya memerah sedikit. “Dia yang mulai.”

“Kamu pakai jasnya pulang minggu lalu.”

“Itu...” Ia meletakkan garpu. “Itu karena dingin.”

“Jasnya belum kamu balikin.”

“Aku lupa.”

“Kamu nggak pernah lupa apa-apa, Ren. Kamu inget ulang tahun anjing tetangga aku waktu SMA.”

Renata menatapku. Lalu ia tertawa, tawa yang lebih jujur dari tadi, dan menunduk ke saladnya. Tapi tepat saat itu, ponselnya bergetar di meja. Ia melirik layarnya.

Tawanya berhenti.

Aku melihat wajahnya berubah. Hanya sesaat, seperti awan yang lewat di depan matahari. Lalu ia membalik ponsel itu tengkurap lagi.

“Siapa?” tanyaku.

“Tante,” katanya. “Tanteku. Nanya kabar.”

“Tante yang mana?”

“Yang baik.” Renata berdiri dan mengambil nampannya. “Aku duluan, ya. Ada rapat jam satu.”

Ia pergi sebelum aku sempat bertanya lagi. Saladnya masih setengah.

Aku menatap punggungnya menjauh, lalu menatap nasi gorengku. Ada sesuatu yang tidak beres dengan sahabatku. Aku tahu itu. Aku sudah mengenalnya sejak kami berbagi bekal di kelas sepuluh. Tapi Renata adalah orang yang bercerita kalau ia siap, bukan kalau ia ditanya.

Jadi aku menunggu.

Sementara itu, ada urusan lain yang harus kuselesaikan.

Enam persen.


Senin pagi, jam tujuh lewat empat puluh lima, aku berdiri di bilik toilet perempuan lantai delapan dengan gunting kuku kecil di tangan dan blazer abu-abu di pangkuan.

Blazer yang sama dengan hari pertama.

Kancing kedua dari atas, yang dijahit Aris dengan benang abu-abu, masih terpasang kokoh. Jahitannya rapi sekali. Tusuk silang, empat lubang, dengan tangkai benang yang dililit di bawah kancing. Aku pernah membawa blazer ini ke tukang jahit langganan Mama untuk dicek, dan tukang jahit itu berkata, Yang jahit ini orang yang diajarin dari kecil, Mbak. Rapi begini nggak bisa belajar sebentar.

Aku menatap jahitan itu lama.

Rasanya seperti mau merusak sesuatu yang berharga.

Lalu aku teringat angka enam persen, dan memotong benangnya.

Kancing itu jatuh ke telapak tanganku. Aku menyimpannya di saku celana, memakai blazer, menahan bagian depannya dengan satu tangan, dan keluar dari toilet.

Tangga darurat antara lantai delapan dan sembilan. Bordes yang sama. Jam tujuh lewat lima puluh dua.

Aku sudah menghitungnya minggu lalu. Aris selalu naik tangga darurat. Ia selalu sampai di bordes ini antara jam tujuh lewat lima puluh dan tujuh lewat lima puluh lima, tergantung macet di Kalimalang. Hari ini Senin. Senin selalu macet. Tujuh lewat lima puluh empat, kira-kira.

Aku berdiri di bordes dan menunggu.

Tujuh lewat lima puluh tiga, terdengar langkah kaki dari bawah. Langkah yang teratur, tidak terburu-buru, sedikit lebih berat di kaki kiri. Aku mengenalinya.

Aris muncul di tikungan tangga dengan ransel di bahu kiri dan termos di tangan kanan. Kemeja putih. Kancing manset terpasang dua-duanya.

Ia berhenti. Menatapku. Menatap tanganku yang menahan blazer di dada.

“Mbak,” katanya.

“Kancing saya lepas,” kataku. “Lagi.”

Ia menatap blazer itu. Lalu menatapku. Lalu, tanpa bicara, ia menurunkan ransel dan membuka kantong depannya.

Kotak jahit. Kotak plastik seukuran sabun batangan yang sama.

“Kancingnya ada, Mbak?”

Aku mengeluarkan kancing dari saku celana dan meletakkannya di telapak tangannya. Ia menatap kancing itu. Menatap ujung benang abu-abu yang masih tersisa di lubang-lubangnya, ujung benang yang terpotong rata dan bersih.

Bukan putus. Dipotong.

Ia mengangkat wajah dan menatapku.

Aku melepas blazer dan menyodorkannya.

“Jahit,” kataku.

Ia menerimanya. Ia memasukkan benang abu-abu ke lubang jarum. Sekali coba, seperti biasa. Lalu ia menaikkan lutut kiri ke anak tangga dan meletakkan blazer itu di atasnya, persis seperti hari pertama.

Aku melangkah lebih dekat.

Dekat sekali. Lebih dekat dari hari pertama. Cukup dekat sampai ujung sepatuku hampir menyentuh ujung sepatunya. Cukup dekat sampai aku bisa mencium wangi sabun bayi dari kerah kemejanya dan wangi teh dari termos yang ia letakkan di anak tangga.

Ia mulai menjahit. Tusukan pertama. Kedua.

“Kamu tahu kenapa kancingnya lepas?” tanyaku pelan.

“Benangnya, Mbak,” katanya tanpa mengangkat wajah. “Mungkin aus.”

“Benangnya dipotong.”

Jarumnya berhenti di udara.

“Saya lepasin sendiri,” kataku. Suaraku pelan, cukup pelan supaya kata-kata itu hanya terdengar di ruang sempit di antara kami. “Biar ada alasan berdiri sedekat ini sama kamu.”

Ia tidak bergerak. Jarum masih di udara, benang abu-abu tergantung dari ujungnya.

“Jahit,” bisikku. “Pelan-pelan.”

Ia menusukkan jarum itu.

Ke jempolnya sendiri.

“Aduh.”

Setetes darah muncul di ujung jempol kirinya, merah dan bulat seperti manik-manik. Ia menatapnya dengan wajah yang lebih bingung daripada kesakitan, seolah tidak percaya ia bisa melakukan kesalahan seperti itu. Sebelas tahun membawa kotak jahit, dan mungkin baru kali ini jarumnya meleset.

Aku mengambil tangannya.

Tidak berpikir dulu. Tanganku bergerak sendiri. Aku menggenggam pergelangan tangan kirinya dengan satu tangan, dan dengan tangan yang lain aku membuka tas kecil di bahuku, mengambil tisu, menekannya ke ujung jempol yang berdarah.

“Kamu bawa kotak jahit,” kataku. “Aku bawa kotak P3K. Impas.”

“Mbak...”

“Diem. Tahan.”

Ia diam. Ia menahan.

Aku menekan tisu itu ke jempolnya, menghitung dalam hati sampai dua puluh, lalu mengangkatnya. Darahnya sudah berhenti. Aku mengambil plester bermotif kartun kucing dari kotak P3K kecilku, satu-satunya motif yang tersisa, dan membungkus ujung jempolnya dengan hati-hati.

Selama itu, aku masih memegang pergelangan tangannya.

Pergelangan tangannya hangat. Nadinya berdenyut cepat di bawah ujung jariku. Sangat cepat. Lebih cepat dari orang yang cuma tertusuk jarum.

Aku menyadarinya. Dan aku tahu ia tahu aku menyadarinya.

Aku tidak melepaskan tangannya.

“Kenapa sengaja, Mbak?” tanyanya akhirnya. Suaranya pelan, sedikit serak.

“Tebak.”

Ia menatap plester kucing di jempolnya. Lalu menatapku. Aku bisa melihat otaknya bekerja di balik matanya, mencari format yang benar, mencari kolom yang cocok, mencari hipotesis yang masuk akal.

“Biar Evan lihat?” katanya.

Aku tertawa. Pelan, hampir tanpa suara. Aku masih memegang pergelangan tangannya.

“Evan di lantai berapa sekarang?”

“Dua belas, Mbak. Atau masih di parkiran.”

“Ada Evan di tangga ini?”

“Nggak ada, Mbak.”

“Ada siapa di tangga ini?”

Ia diam.

“Aris,” kataku. “Ada siapa?”

“Saya,” katanya pelan. “Sama Mbak.”

“Jadi?”

Ia menatapku lama. Lama sekali. Di bawah kami, pintu darurat lantai delapan terbuka, lalu tertutup lagi. Seseorang berubah pikiran. Langkah kakinya menjauh.

“Saya nggak tahu, Mbak,” katanya akhirnya.

Bukan teori. Bukan hipotesis. Bukan latihan atau ucapan terima kasih atau biar Evan lihat.

Saya nggak tahu.

Itu jawaban pertama yang ia berikan padaku yang bukan hasil kalkulasi. Aku bisa mendengarnya dari suaranya. Suara orang yang baru saja menemukan ruangan di rumahnya sendiri yang tidak pernah ia buka.

Aku melepaskan pergelangan tangannya. Pelan-pelan, jari demi jari.

“Bagus,” kataku.

“Bagus, Mbak?”

“Itu jawaban paling jujur kamu sejak kita kenal.”

Ia menatapku. Aku menunjuk blazer di lututnya dengan dagu.

“Kancingnya belum selesai.”

Ia menunduk, mengambil jarum, dan melanjutkan menjahit. Dengan plester kucing di jempol kiri, gerakannya sedikit lebih kaku dari biasanya. Tapi tetap rapi. Tusuk silang, empat lubang, tangkai benang dililit di bawah kancing, simpul mati di balik kain.

Ia tidak bicara selama menjahit. Aku juga tidak. Aku hanya berdiri di sana, sedekat tadi, menonton tangannya bekerja, mendengarkan napasnya yang sedikit lebih cepat dari biasa.

Ia menggigit benang untuk memutusnya.

“Udah, Mbak.”

Ia menyodorkan blazer itu. Aku menerimanya, memakainya, dan mengancingkan kancing kedua dari atas. Kencang. Rapi.

“Kalau lepas lagi,” kataku, “aku tahu harus nyari siapa.”

“Jangan dilepas lagi, Mbak.”

“Kenapa?”

“Benang abu-abunya tinggal sedikit.”

Aku tertawa. Kali ini keras, sampai suaraku memantul di dinding tangga darurat. Ia tersenyum, dengan lesung pipi kirinya yang curang, dan menunduk untuk merapikan kotak jahitnya.

Aku berjalan menaiki tangga ke arah pintu lantai sembilan. Di anak tangga teratas, aku berhenti dan menoleh.

Ia masih berlutut di bordes, menatap plester kucing di jempolnya.

“Aris.”

Ia mengangkat wajah.

“Benang abu-abunya beli lagi,” kataku. “Yang banyak.”


Gosip menyebar lebih cepat dari internet kantor.

Jam sepuluh pagi, Pak Joko dari Finance, yang ternyata adalah orang yang membuka dan menutup pintu darurat lantai delapan tadi, sudah melapor ke grup HRD Squad Asik. Jam sebelas, Mbak Wati mengirim pembaruan klasemen.

Renata menunjukkannya padaku di lift, dengan wajah yang berusaha keras tidak tertawa.

UPDATE KLASEMEN (Senin, 11.02)

1. Mas Evan — 51% (turun 13) 2. Pak Lucky — 28% (turun 2) 3. Mas Aris — 21% (NAIK 15!!!)

Alasan kenaikan: Saksi Pak Joko melihat Mbak Monica PEGANG TANGAN Mas Aris di tangga darurat lt. 8-9. Durasi: “lama”. Mas Aris pakai plester kucing setelahnya (saksi: Dini, lt. 7).

Catatan: Masih belum bisa dipastikan. Mungkin cuma bantu P3K. Tim investigasi akan terus memantau.

Aku menatap angka dua puluh satu persen itu.

“Naik lima belas,” kata Renata. “Selamat.”

“Masih kalah sama Evan.”

“Kamu mau menang telak?”

“Aku mau menang total.”

Renata menatapku dengan senyum yang, untuk pertama kalinya minggu ini, benar-benar sampai ke matanya. Lalu senyum itu goyah sedikit, seperti lilin yang tertiup angin, dan ia mengalihkan pandangan ke angka-angka di atas pintu lift.

“Mon,” katanya pelan.

“Hm?”

“Kalau suatu hari aku ngelakuin sesuatu yang bikin kamu marah. Marah banget.” Ia tidak menatapku. “Kamu bakal maafin aku?”

Lift berhenti di lantai sembilan. Pintunya terbuka.

Aku menatapnya. Ia masih menatap angka di atas pintu.

“Kamu ngomong apa, sih?”

“Nggak.” Ia tersenyum, cepat, terlalu cepat. “Cuma nanya. Ini lantai kamu.”

Aku keluar dari lift. Pintunya mulai menutup. Dari celah yang makin sempit, aku melihat Renata bersandar ke dinding lift, menatap ponsel di tangannya, dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

Pintu tertutup.

Aku berdiri di depan lift lantai sembilan beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Lalu ponselku bergetar di saku blazer.

Mbak, plesternya motif kucing. Dini nanya kenapa saya pakai plester kucing. Saya bilang dikasih orang. Dini nanya siapa. Saya bilang rahasia. Dini ketawa nggak berhenti-berhenti. Apa saya salah ngomong?

Aku membaca pesan itu sambil tersenyum, dan sejenak melupakan wajah Renata di dalam lift.

Nggak salah, tulisku. Jangan dicopot sampai sore.

Lukanya udah sembuh, Mbak.

Plesternya belum.

Tiga titik. Hilang. Muncul.

Siap, Mbak.

Jam lima sore, waktu aku melewati lobi untuk pulang, aku melihatnya berjalan ke arah tangga basement. Ransel di bahu kiri. Termos di tangan kanan.

Dan di jempol kirinya, masih terpasang, plester bermotif kucing.