Chapter Thirty Seven
Aku Mau Dipilih Dulu
POV: Monica
Papa minta fotokopi KTP, kartu keluarga, dan surat keterangan kerja.
Bukan untuk lamaran resmi. Itu nanti. Papa memintanya hari Rabu malam, waktu aku meneleponnya dan bilang ada laki-laki yang akan datang ke rumah hari Sabtu.
“Siapa?”
“Namanya Aris, Pa.”
“Kerja di mana?”
“Wiratama. Kepala Divisi Data. Pelaksana tugas.”
“Pelaksana tugas,” ulang Papa. Aku bisa membayangkan alisnya terangkat di seberang telepon, di ruang kerjanya di Bekasi, dengan buku-buku hukum tebal di rak belakang dan kacamata baca di ujung hidung. “Bawa fotokopi KTP sama KK-nya. Sama surat keterangan kerja. Papa mau baca dulu.”
“Pa, ini bukan sidang.”
“Semua hal dalam hidup itu sidang, Monica.” Lalu suaranya melembut sedikit. “Kamu udah pernah salah sekali. Papa nggak mau kamu salah lagi.”
Aku tidak membantah. Papa benar. Aku pernah salah sekali. Bram membawa undangan pernikahan ke rumah ini, duduk di ruang tamu ini, menjawab semua pertanyaan Papa dengan sangat lancar.
Terlalu lancar.
Jadi Kamis malam, aku ke Jatiwaringin untuk mengambil fotokopi dokumen-dokumen itu.
Bu Sumi membukakan pagar dengan senyum lebar dan pita ukur jahit tersampir di leher.
“Monica! Masuk, Nak. Aris di kamar. Lagi nyari dokumen. Dari tadi sore nggak ketemu-ketemu.” Ia mencondongkan badan dan berbisik. “Dia gugup. Fotokopi KTP aja dia ulang tiga kali. Katanya yang pertama miring, yang kedua kebalik.”
Aku tertawa. “Saya bantuin, Bu.”
“Bantuin, Nak. Ibu mau ke rumah Bu Darmi sebentar. Ngukur seragam anaknya.” Bu Sumi mengambil tas kain dari kursi, lalu berhenti di pintu dan menatapku dengan mata yang aneh. Bersinar. Sedikit nakal. “Ibu agak lama, ya. Satu jam. Mungkin dua.”
“Bu...”
“Ibu nggak bilang apa-apa.” Ia mengedipkan sebelah mata dan pergi.
Aku berdiri di ruang tamu, di antara mesin jahit tua dan tumpukan seragam sekolah, dan tertawa sendirian.
Kamar Aris terbuka. Aku mengetuk kusen pintunya.
Ia sedang berlutut di lantai, di depan lemari plastik tiga susun, membongkar laci paling bawah. Kertas-kertas berserakan di sekelilingnya. Map biru, map merah, map plastik transparan. Kemeja flanel kotak-kotak, kaus abu-abu, sarung biru.
“Ketemu?” tanyaku.
Ia menoleh. Rambutnya berantakan. Wajahnya lelah tapi tersenyum waktu melihatku.
“KK-nya ketemu. Surat keterangan kerja juga. Tinggal ijazah. Papa kamu minta ijazah juga, kan?”
“Papa nggak minta ijazah.”
“Kamu bilang di telepon, Papa kamu mau baca dulu.”
“Papa mau baca KTP, KK, sama surat kerja.”
“Siapa tahu Papa kamu minta ijazah juga.” Aris kembali membongkar laci. “Aku mau siap-siap.”
Aku menahan tawa. Laki-laki ini. Yang bisa membongkar kecurangan atasannya di depan Dewan Komisaris dengan dua ratus tiga belas bukti. Sekarang berlutut di lantai kamarnya, mencari ijazah yang tidak diminta, karena takut calon mertuanya bertanya.
Aku masuk ke kamar dan duduk di kursi meja belajarnya. Kursi kayu tua, dengan meja belajar yang laci kirinya, kata Aris, macet kalau ditarik terlalu keras.
Laptopnya ada di atas meja. Tertutup setengah. Lampu kecil di pinggirnya berkedip pelan, tanda sedang tidur.
“Aku bantuin cari,” kataku. “Ijazahnya biasanya disimpen di mana?”
“Map cokelat. Mungkin di lemari. Mungkin di bawah kasur.”
Aku membungkuk untuk melihat ke bawah kasur busa. Sikuku menyenggol meja.
Laptop itu bergoyang. Tutupnya terbuka sedikit lebih lebar.
Layarnya menyala.
Aku tidak sengaja melihatnya.
Aku ingin bilang itu dengan jelas. Di depan hakim mana pun, di depan Papa, di depan Tuhan. Aku tidak sengaja.
Layar itu menyala karena sikuku menyenggol meja. Dan yang muncul di layar bukan halaman masuk, bukan wallpaper, bukan apa pun yang biasanya muncul di laptop orang.
Yang muncul adalah dashboard.
Latar belakang putih. Grafik-grafik berwarna biru dan hijau. Tabel-tabel kecil dengan nama-nama yang tidak kukenal, kode-kode saham, ikon mata uang digital. Dan di pojok kanan atas layar, dengan huruf hitam besar yang tidak bisa tidak terlihat:
Rp20.437.912.586
Aku menatap angka itu.
Lalu menghitung digitnya. Pelan. Dengan jari, di udara, seperti anak SD yang belajar berhitung.
Satu, dua, tiga. Titik. Satu, dua, tiga. Titik. Satu, dua, tiga. Titik. Satu, dua, tiga. Titik. Dua.
Dua puluh. Miliar.
Aku menghitungnya lagi. Angkanya tidak berubah.
Di bawah angka itu, ada tulisan kecil. Total Portofolio. Di bawahnya lagi, rincian. Saham Domestik. Saham Internasional. Deposito. Aset Kripto. Masing-masing dengan angka yang membuatku pusing.
Di sudut kiri bawah layar, notifikasi email bermunculan. Van der Berg Logistics, Rotterdam: Contract Renewal Q1. Meridian Analytics Pte Ltd, Singapore: Invoice Paid. Hanseong Data Corp, Seoul: Meeting Request.
Aku tidak bisa bernapas.
“Monica? Ketemu nggak di bawah kasur?”
Aku tidak menjawab.
“Monica?”
Langkah kaki di belakangku. Lalu berhenti.
Aku tidak menoleh. Aku tahu ia berdiri di belakangku. Aku tahu ia melihat layar laptop yang menyala. Aku bisa mendengar napasnya berhenti.
Kamar itu sunyi. Di luar, di gang, terdengar suara anak kecil bersepeda roda tiga, dan kucing tetangga yang mengeong minta makan.
Lalu aku bicara. Suaraku terdengar sangat aneh. Sangat tinggi.
“Ini...”
Aku menunjuk layar dengan jari yang gemetar.
“Ini dua puluh M?”
Aris tidak menjawab.
“Ini...” Aku menoleh menatapnya. Ia berdiri di tengah kamar, dengan map biru di tangan, wajah putih seperti kertas. “Ini dua puluh meter, kan? Bukan dua puluh miliar? Ini pasti satuan panjang. Ini pasti data proyek. Ini pasti punya klien kamu. Iya, kan? Iya, kan, Aris?”
Aris menatapku. Lama.
Lalu, pelan, ia menggeleng.
“Bukan, Monica,” katanya. “Itu punya aku.”
Aku tidak tahu berapa lama aku diam. Mungkin satu menit. Mungkin lima.
Aku hanya duduk di kursi kayu tua di depan meja belajar dengan laci yang macet, menatap angka di layar laptop, dan merasakan semua yang kuketahui tentang laki-laki di belakangku bergeser. Pelan. Satu per satu. Seperti potongan teka-teki yang tiba-tiba menemukan tempat yang berbeda.
Laptop yang terlalu bagus untuk kamar ini.
Delapan juta untuk anak Pak Udin.
Kerja sampingan. Proyek data.
Bu, saya punya kerjaan di Singapura. Kontrak setahun. Dari klien yang udah lama kerja sama saya.
Kerjaan dari mana? Evan bertanya. Aris tidak menjawab.
Cek lima ratus juta dari Bu Ratna, yang ia lipat rapi dan dorong balik dengan dua jari.
Lima ratus juta. Ditolak oleh laki-laki yang punya dua puluh miliar.
Aku tertawa.
Aku tidak berniat tertawa. Tawa itu keluar sendiri, dari dada, seperti waktu di pantry lantai sembilan, waktu ia bilang Evan udah lewat, Mbak. Aku tertawa sampai harus berpegangan pada sandaran kursi. Sampai mataku berair. Sampai Aris melangkah mendekat dengan wajah khawatir.
“Monica?”
“Bu Ratna,” kataku di sela tawa. “Bu Ratna nawarin kamu lima ratus juta buat pergi.”
“Iya.”
“Dan kamu punya dua puluh miliar.”
“Iya.”
“Dan kamu lipat ceknya rapi-rapi.”
“Iya.”
“Terus kamu bayar makan siangnya.”
“Iya.”
Aku tertawa lebih keras. Lalu tawaku berubah. Pelan. Dari tawa menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang panas di dada dan tenggorokan.
Aku berhenti tertawa.
Aku menatap Aris.
“Kenapa kamu nggak bilang?”
Suaraku tidak lagi tinggi. Tidak lagi aneh. Suaraku pelan dan bergetar, dan ada sesuatu di dalamnya yang membuat wajah Aris berubah.
“Monica...”
“Kenapa kamu nggak bilang, Aris?” Aku berdiri dari kursi. “Kamu biarin Pak Reza bilang kamu titipan. Kamu biarin Bu Ratna bilang kamu benalu. Di depan delapan ratus orang. Kamu biarin aku mikir kamu nggak punya apa-apa. Aku bilang ke kamu, di teras, kamu nggak punya apa-apa, aku nggak dateng buat ngambil apa-apa. Dan kamu diem. Kamu bilang iya, Monica.”
Aris tidak menjawab.
“Kamu nggak percaya sama aku?” Suaraku pecah. “Setelah semuanya? Setelah curug? Setelah tangga darurat? Kamu ngelamar aku hari Senin, Aris. Kamu ngelamar aku, dan kamu masih nggak percaya sama aku?”
“Bukan gitu.”
“Terus apa?”
Aris meletakkan map biru di atas kasur. Pelan. Lalu ia berdiri di depanku. Dekat. Wajahnya pucat, matanya merah, tapi ia tidak menunduk. Ia menatapku lurus.
“Aku mau dipilih dulu,” katanya.
Aku diam.
“Bapak aku punya temen banyak, Monica. Waktu usahanya jalan. Mereka manggil Bapak saudara. Mereka makan di teras ini. Mereka ketawa di ruang tamu ini.” Suaranya pelan. “Waktu Bapak bangkrut, mereka hilang. Semua. Waktu Bapak meninggal, nggak ada satu pun yang dateng.”
“Aku tahu. Kamu udah cerita.”
“Aku umur dua belas waktu itu. Aku berdiri di pemakaman Bapak, dan aku lihat ke sekeliling, dan aku janji sama diri aku sendiri.” Aris menatapku. “Aku nggak bakal pernah tahu kalau orang dateng ke aku karena aku, atau karena apa yang aku punya. Jadi aku nggak bakal kasih mereka alasan buat dateng. Aku bakal diem. Selamanya, kalau perlu.”
“Tapi aku udah dateng,” bisikku. “Aku udah dateng sebelum aku tahu apa-apa.”
“Aku tahu.” Aris menarik napas. Suaranya bergetar sekarang. “Itu yang bikin aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut aku salah.” Ia menatapku. “Aku takut kalau aku bilang sebelum kamu jawab, kamu bakal jawab iya karena angka itu. Bukan karena aku. Dan aku nggak bakal pernah tahu yang mana. Seumur hidup.”
Aku menatapnya.
“Aku mau bilang ke kamu,” katanya. “Aku janji sama Ibu, aku bakal bilang. Setelah kamu jawab. Setelah kamu bilang iya ke aku yang naik motor bebek dan punya kemeja tiga. Baru aku bilang.” Ia tersenyum kecil. Senyum yang sangat sedih. “Aku cuma nggak nyangka kamu bakal nemu duluan. Gara-gara sikumu nyenggol meja.”
“Kamu nguji aku,” kataku pelan.
“Bukan.” Aris menggeleng. “Aku nguji aku sendiri. Aku mau tahu aku berani percaya atau nggak.”
“Dan?”
Aris menatapku lama.
“Senin pagi,” katanya. “Di tangga darurat. Waktu kamu bilang iya seribu kali. Waktu termos kamu jatuh dan kamu nggak peduli. Waktu kamu bilang dari hari pertama iya.”
Ia mengangkat tangan kanannya. Sampai pipiku.
“Aku percaya,” katanya. “Aku akhirnya berani percaya.”
Aku menatapnya.
Laki-laki ini. Yang selama sebelas tahun menjadi tukang pos. Yang selama enam tahun membiarkan namanya dihapus dari sampul laporan. Yang selama empat tahun menyicil utang yang tidak pernah diminta. Yang punya dua puluh miliar dan memilih naik motor bebek berumur dua belas tahun, memakai kemeja tiga biji, dan menyetir dua puluh kilometer per jam karena aku duduk di jok belakang.
Laki-laki yang menunggu sampai aku bilang iya, sebelum berani memberitahuku bahwa ia sebenarnya bisa membeli seluruh gedung apartemenku.
Aku seharusnya marah. Aku masih marah. Sedikit.
Tapi lebih banyak dari marah, aku merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang sangat besar dan sangat hangat dan sangat sakit sekaligus.
Laki-laki ini tidak pernah dipilih. Sekali pun. Seumur hidupnya.
Dan ia membiarkan dirinya menjadi orang yang paling tidak mungkin dipilih, supaya kalau suatu hari ada yang memilihnya, ia tahu pilihan itu tulus.
“Kamu bodoh,” kataku. Suaraku pecah.
“Iya.”
“Kamu orang paling bodoh yang pernah aku kenal.”
“Lucky juga bilang gitu.”
“Orang paling pinter dan paling bodoh sekaligus.”
“Evan bilang aku penyakit.”
Aku tertawa. Air mataku jatuh. Aku mengangkat tangan dan meletakkannya di atas tangannya yang masih di pipiku.
“Kalau aku tahu dari awal,” kataku. “Kalau aku tahu kamu punya dua puluh miliar, waktu di tangga darurat, waktu hari pertama...”
“Kamu bakal gimana?”
Aku menatapnya. Lalu tersenyum.
“Aku bakal tetep motong kancing sendiri,” kataku. “Aku bakal tetep goreng tempe empat kali. Aku bakal tetep nunggu kamu di depan pintu kamar sampai jam dua pagi.”
Aris menatapku.
“Tapi aku bakal minta dibeliin motor yang lebih bagus,” tambahku. “Biar nggak kalah sama bapak-bapak bawa tabung gas.”
Aris tertawa. Tawa yang pecah, basah, sangat lega. Lesung pipi kirinya muncul.
Lalu ia berhenti tertawa. Ia menatapku dari jarak yang sangat dekat. Tangannya masih di pipiku. Ibu jarinya mengusap air mata di bawah mataku, pelan.
“Monica,” katanya.
“Hm.”
“Kamu masih marah?”
“Masih.”
“Banyak?”
“Lumayan.”
“Gimana caranya biar kamu nggak marah?”
Aku menatap bibirnya.
“Kamu bilang di tangga darurat,” kataku pelan. “Kamu nggak tahu caranya.”
Aris membeku.
“Aku bilang nanti aku ajarin,” bisikku.
Lalu aku menciumnya.
Bukan seperti di warung wedang ronde, di mana aku gemetar dan ia membeku. Bukan seperti di tangga darurat, di mana ia gemetar dan hidung kami bersenggolan.
Kali ini aku mengajarinya.
Aku menciumnya pelan. Lalu sedikit lebih dalam. Tanganku naik ke tengkuknya, jari-jariku menyelip di rambut pendeknya yang dipotong di tukang cukur langganan yang sama sejak SMA. Ia diam sebentar, kaku, seperti orang yang baru diberi soal ujian yang tidak pernah dipelajari.
Lalu ia belajar.
Cepat. Seperti ia selalu belajar segalanya dengan cepat. Hiragana dalam dua minggu. Kontrak dua ratus halaman dalam lima belas menit. Tangannya yang tadi di pipiku turun ke pinggangku, menarikku lebih dekat. Tangan kanannya. Yang tidak bisa diangkat lebih tinggi dari telinga, tapi bisa memelukku seerat ini.
Ciuman itu berubah. Lebih dalam. Lebih lama. Napasku berhenti, lalu kembali, lalu berhenti lagi. Aku bisa merasakan jantungnya berdebar di dadaku, atau mungkin itu jantungku sendiri, aku tidak bisa membedakan lagi. Ia menciumku seperti orang yang sudah sebelas tahun menahan sesuatu, dan akhirnya melepaskannya.
Seperti orang yang akhirnya berhenti lari ke arah yang salah.
Aku tidak tahu berapa lama. Aku hanya tahu waktu akhirnya kami berhenti, napasku tersengal, bibirku terasa panas, dan dahinya menempel di dahiku.
“Udah nggak marah?” bisiknya. Suaranya serak.
“Masih,” bisikku. “Sedikit.”
“Masih sedikit?”
“Butuh pelajaran tambahan.”
Aris tertawa pelan. Napasnya hangat di bibirku. Lalu ia menciumku lagi. Lebih singkat. Lebih lembut. Ia sudah belajar.
“Kamu cepet belajar,” kataku.
“Aku analis data,” katanya. “Aku belajar dari pola.”
Aku memukul dadanya pelan. Ia tertawa.
Bu Sumi pulang satu jam lima puluh delapan menit kemudian.
Aku tahu persis berapa lama, karena aku melihat jam di dinding ruang tamu waktu Bu Sumi membuka pagar. Ia masuk dengan tas kain di tangan dan wajah yang sangat polos.
Aris dan aku duduk di ruang tamu. Di dua kursi kayu yang berbeda. Berjarak satu meja kecil dengan taplak rajut. Map biru berisi fotokopi dokumen di atas meja.
“Udah ketemu ijazahnya?” tanya Bu Sumi.
“Udah, Bu,” kata Aris.
“Di mana?”
Aris diam sebentar. “Di... map cokelat, Bu.”
“Map cokelat yang mana? Ibu nggak lihat ada map cokelat di meja.”
Aris menatap meja. Hanya ada map biru.
Bu Sumi menatap Aris. Lalu menatapku. Lalu menatap rambut Aris yang berantakan di bagian belakang, seperti baru diacak-acak jari seseorang. Lalu menatap lipstikku yang sudah tidak ada sama sekali.
Ia tersenyum. Lebar. Sangat lebar.
“Kalian udah ngomongin soal laptop?” tanyanya.
Aris dan aku membeku bersamaan.
“Ibu tahu,” kata Bu Sumi, meletakkan tas kainnya di kursi. “Ibu kan yang bilang laptopnya jangan ditutup rapat-rapat. Biar nggak panas.”
Aku menatap Bu Sumi. Aris menatap ibunya.
“Bu,” kata Aris pelan. “Ibu sengaja?”
“Ibu nggak sengaja apa-apa.” Bu Sumi duduk di depan mesin jahitnya, memakai kacamata baca, dan mulai menjahit. “Ibu cuma bilang laptopnya jangan ditutup rapat. Ibu nggak bilang Monica harus nyenggol meja.”
Aku menutup mulut dengan tangan.
“Kamu bilang setelah dia jawab iya,” kata Bu Sumi ke arah mesin jahitnya. “Dia udah jawab iya hari Senin. Sekarang Kamis. Kamu udah telat tiga hari, Ris.”
“Bu...”
“Bapakmu tiga tahun. Kamu tiga hari.” Bu Sumi tersenyum ke arah mesin jahitnya. “Ibu bantuin dikit. Biar kamu nggak jadi tiga tahun juga.”
Mesin jahit itu mulai berbunyi. Teratur. Seperti detak jantung rumah itu.
Aku menatap Aris. Ia menatapku. Telinganya merah sampai ke leher.
Lalu kami berdua tertawa. Sampai Bu Sumi ikut tertawa. Sampai kucing tetangga di luar pagar berhenti mengeong dan menatap ke dalam rumah dengan heran.
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu reading
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan