Chapter Thirty Nine
Perkara Terakhir
POV: Monica
Rumah orang tuaku di Bekasi berjarak dua jam dari Jatiwaringin dengan motor bebek berumur dua belas tahun.
Seharusnya empat puluh lima menit. Tapi motor bebek itu tidak bisa lebih cepat dari enam puluh kilometer per jam di jalan tol, karena motor tidak boleh masuk jalan tol. Jadi kami lewat Kalimalang, lalu Jalan Raya Bekasi, lalu jalan-jalan kecil di perumahan yang kuingat dari masa kecil. Dengan kecepatan dua puluh kilometer per jam, karena aku duduk di jok belakang.
“Kamu bisa lebih cepet,” kataku di tengah jalan.
“Aku bawa kamu.”
“Kita bakal telat.”
“Papa kamu bilang jam sepuluh. Sekarang jam delapan lewat dua puluh.”
“Kita bakal sampai jam sepuluh lewat dua puluh.”
Aris diam sebentar. Lalu motor itu melaju sedikit lebih cepat. Dua puluh lima kilometer per jam.
Aku tertawa di punggungnya.
Aku sudah bilang padanya kemarin malam, waktu ia mengantarku pulang ke Tebet, bahwa ia tidak perlu membawa motor ke Bekasi. Kamu bisa beli mobil, Aris. Hari ini. Kamu punya dua puluh miliar.
Ia menatapku dari balik kaca helm.
Papa kamu harus kenal aku yang naik motor dulu, katanya. Kalau Papa kamu bilang iya ke aku yang naik motor, baru nanti aku beli mobil.
Kamu nguji Papa aku juga?
Nggak. Ia tersenyum di balik kaca helm yang berembun. Aku cuma nggak mau mulai hidup baru pakai bohong.
Jadi sekarang kami di sini. Di jalan kecil di perumahan di Bekasi, dengan motor bebek biru yang klaksonnya berbunyi seperti bebek flu, dan Aris yang memakai kemeja batik cokelat tanah, satu-satunya batik yang ia punya, dengan kotak kue bolu pandan dari toko roti di Jatinegara diikat di jok belakang.
Kue yang sama dengan kue ulang tahun Bu Sumi setiap tahun. Aris bilang itu satu-satunya kue yang ia percaya.
Papa membukakan pintu.
Pak Hartono Wibisono. Enam puluh empat tahun. Pensiunan hakim pengadilan tinggi. Rambut putih yang disisir rapi ke belakang. Kemeja batik lengan panjang yang disetrika licin. Kacamata baca berbingkai cokelat yang selalu melorot ke ujung hidung. Wajah yang selama tiga puluh tahun membuat terdakwa, pengacara, dan jaksa gemetar di ruang sidang.
Ia menatap Aris dari atas sampai bawah. Kemeja batik. Celana bahan hitam. Sepatu kulit dengan sol yang sudah diganti dua kali. Helm hitam di tangan kiri. Kotak kue di tangan kanan.
Lalu matanya bergeser ke belakang Aris. Ke motor bebek biru yang diparkir di depan pagar. Spion kiri yang retak. Stiker klub futsal SMA yang setengah mengelupas.
Papa tidak bicara selama lima detik.
Aku menahan napas.
“Assalamualaikum, Pak,” kata Aris. Ia membungkuk dan mencium tangan Papa. “Saya Aris.”
“Waalaikumsalam.” Papa menarik tangannya. “Masuk.”
Ia berbalik dan masuk ke rumah tanpa menunggu.
Aris menoleh ke arahku. Wajahnya pucat.
“Itu bagus atau jelek?” bisiknya.
“Papa nggak nyuruh orang masuk kalau dia nggak suka,” bisikku balik. “Bram dulu disuruh nunggu di teras setengah jam.”
Aris menatapku. Lalu menarik napas panjang dan masuk.
Mama yang menyelamatkan sepuluh menit pertama.
Bu Lestari. Enam puluh tahun. Ibu rumah tangga yang menghabiskan sebagian besar waktunya menonton drama Korea dan sebagian sisanya menelepon aku untuk menceritakan drama Korea yang baru saja ia tonton.
Ia menyambut Aris di ruang tamu dengan pelukan, yang membuat Aris membeku seperti patung, lalu menarik tangannya dan mendudukkannya di sofa.
“Kamu Aris! Monica cerita banyak! Kamu yang ibunya penjahit, kan? Yang suka drama Korea juga? Yang dokter-dokter itu? Ibu kamu udah nonton musim keduanya?”
“Sudah, Bu. Tiga kali.”
“TIGA KALI! Mama juga tiga kali! Mama harus ketemu ibu kamu! Kapan kita ketemu?”
“Nanti, Bu. Kalau...” Aris melirik ke arah Papa, yang sudah duduk di kursi tunggal di seberang sofa dengan kedua tangan di atas lutut dan wajah datar. “Kalau Bapak mengizinkan.”
Mama menoleh ke Papa. Papa tidak bereaksi. Mama tersenyum dan menepuk lutut Aris dua kali, seperti Bu Sumi.
“Mama ambil minum dulu, ya,” katanya. “Kamu mau teh?”
“Teh tawar, Bu. Kalau ada.”
Mama berhenti. Menatap Aris. Lalu menatapku.
“Teh tawar,” ulangnya. “Monica sekarang juga minum teh tawar. Dulu dia bilang teh tawar itu minuman orang yang...”
“Ma.”
“Iya, iya.” Mama tertawa dan pergi ke dapur.
Ruang tamu itu sunyi.
Papa menatap Aris. Aris menatap Papa. Aku duduk di sebelah Aris di sofa, dengan jarak setengah lengan, karena Papa pernah bilang laki-laki yang duduk terlalu dekat dengan anak perempuan orang di depan bapaknya adalah laki-laki yang tidak tahu sopan santun.
“Fotokopi KTP-nya,” kata Papa.
Aris mengeluarkan map biru dari ranselnya. Map yang sama yang kami cari di kamarnya hari Kamis lalu. Ia menyerahkannya dengan dua tangan.
Papa membuka map itu. Memakai kacamata bacanya. Membaca.
KTP. Kartu Keluarga. Surat keterangan kerja dari HRD Wiratama Group, ditandatangani Pak Sugeng, dengan jabatan Pelaksana Tugas Kepala Divisi Data.
Dan ijazah. Fotokopi ijazah sarjana Teknik Informatika dari sebuah universitas negeri di Jakarta. Yang tidak diminta.
Papa menatap ijazah itu. Lalu menatap Aris dari balik kacamata baca.
“Saya nggak minta ijazah.”
“Iya, Pak. Saya bawa buat jaga-jaga.”
“Kenapa?”
“Siapa tahu Bapak mau baca juga.”
Papa menatapnya lama. Lalu membaca ijazah itu. Membalik halaman. Membaca transkrip nilai di belakangnya.
Alisnya terangkat sedikit.
“IPK tiga koma sembilan dua.”
“Iya, Pak.”
“Kuliah sambil kerja?”
“Iya, Pak. Tiga tahun terakhir.”
“Kerja apa?”
Aris diam sebentar. “Proyek data, Pak. Untuk klien.”
Papa menutup map itu. Meletakkannya di meja di sebelah kursinya. Lalu melepas kacamata bacanya.
Aku mengenal gerakan itu. Aku sudah melihatnya ratusan kali waktu kecil, waktu Papa membawa pekerjaannya pulang dan membaca berkas perkara di meja makan. Melepas kacamata adalah tanda bahwa Papa sudah selesai membaca dokumen.
Dan sekarang ia akan mulai bertanya.
“Saya mau kasih kamu satu perkara,” kata Papa.
Aris menegakkan duduknya.
“Bukan perkara sungguhan. Perkara rekaan. Saya mau dengar pendapat kamu.”
“Iya, Pak.”
Papa melipat tangan di atas lutut. Matanya menatap Aris lurus, mata yang sama dengan yang menatap ribuan terdakwa selama tiga puluh tahun.
“Ada seorang laki-laki,” katanya. “Dia menyimpan sebuah kebenaran besar dari perempuan yang akan dia nikahi. Bukan kebenaran yang buruk. Bukan kejahatan. Bukan utang. Bukan perempuan lain. Tapi sesuatu yang besar. Sesuatu yang, kalau perempuan itu tahu, mungkin akan mengubah cara perempuan itu melihat dia.”
Aku membeku di sofa.
Papa tidak tahu. Aku tidak memberi tahu Papa soal dua puluh miliar. Aku tidak memberi tahu siapa pun selain Renata, dan itu baru kemarin malam.
Papa tidak mungkin tahu.
“Niatnya baik,” lanjut Papa. “Dia menyimpan kebenaran itu bukan untuk menipu. Tapi karena dia ingin perempuan itu memilihnya dengan bebas. Tanpa dipengaruhi kebenaran itu.”
Aris tidak bergerak. Wajahnya tidak berubah. Tapi aku melihat tangannya di atas lutut, mengepal pelan.
“Pertanyaan saya,” kata Papa. “Apakah itu bohong?”
Ruang tamu sunyi. Di dapur, aku bisa mendengar Mama menuang air panas ke gelas. Di luar, seekor burung berkicau di pohon jambu air di halaman depan.
Aris tidak langsung menjawab.
Ia menatap Papa. Lalu menatap lantai. Lalu menatapku sebentar, hanya sebentar, dengan mata yang aneh. Lalu kembali menatap Papa.
“Boleh saya jawab jujur, Pak?” tanyanya.
“Saya cuma mau jawaban jujur.”
Aris menarik napas.
“Iya, Pak,” katanya. “Itu bohong.”
Papa tidak bereaksi.
“Niatnya mungkin baik,” kata Aris pelan. “Tapi bohong tetap bohong, Pak. Diam juga bisa bohong, kalau orangnya tahu yang sebenarnya dan sengaja nggak bilang. Apalagi ke orang yang mau dia nikahi.” Ia menatap tangannya sendiri. “Laki-laki itu mungkin pikir dia lagi ngelindungin perempuan itu. Atau ngelindungin dirinya sendiri. Tapi sebenarnya dia cuma takut, Pak. Takut kalau dia bilang, dia nggak bakal pernah tahu apakah perempuan itu milih dia karena dia, atau karena kebenaran itu.”
Papa diam. Matanya tidak berkedip.
“Tapi, Pak,” lanjut Aris. “Menurut saya, ada bedanya.”
“Bedanya apa?”
“Bedanya antara orang yang bohong supaya perempuan itu nggak pernah tahu, sama orang yang diam sebentar, tapi berniat bilang sebelum perempuan itu terikat.” Aris mengangkat wajah. “Yang pertama itu penipuan, Pak. Yang kedua itu tetap salah. Tapi itu salah yang bisa dimaafkan. Kalau dia jujur waktu ditanya. Kalau dia bilang sebelum akad. Kalau dia nggak cari alasan waktu ketahuan.”
Papa menatapnya lama.
“Dan kalau dia ketahuan,” kata Papa pelan, “sebelum sempat bilang?”
Aris diam sebentar. Lalu tersenyum kecil. Senyum dengan lesung pipi kiri.
“Dia harus minta maaf, Pak,” katanya. “Dan nerima kalau perempuan itu marah. Dan kasih perempuan itu kesempatan buat milih lagi. Dengan semua kebenaran di depan matanya.”
Ruang tamu itu sunyi lama sekali.
Mama berdiri di ambang pintu dapur dengan nampan berisi empat gelas teh. Ia tidak bergerak. Ia menatap Papa, lalu Aris, lalu aku.
Papa memasang kacamata bacanya lagi.
Lalu, pelan, ia mengambil map biru dari meja. Membukanya lagi. Menatap fotokopi KTP Aris. Lalu surat keterangan kerja. Lalu ijazah.
Lalu ia menutup map itu, dan menatapku.
“Monica,” katanya.
“Iya, Pa.”
“Yang dulu,” kata Papa. “Bram. Waktu Papa tanya, dia jawab semua pertanyaan Papa dengan lancar. Sangat lancar. Nggak pernah berhenti. Nggak pernah mikir dulu. Kayak udah latihan.”
Aku diam.
“Yang ini,” kata Papa, menunjuk Aris dengan dagunya, “nggak lancar. Dia mikir dulu. Dia lihat ke kamu dulu. Dia bilang laki-laki di perkara itu salah, padahal dia bisa aja bilang nggak salah dan cari muka di depan Papa.”
Papa menatap Aris.
“Papa suka,” katanya.
Aku tidak tahu kapan aku mulai menangis.
Aku hanya tahu tiba-tiba Mama sudah meletakkan nampan di meja dan memelukku dari samping, dan Papa sudah berdiri dari kursinya dan mengulurkan tangan ke arah Aris.
Aris berdiri. Menjabat tangan Papa. Lalu, tanpa diminta, mencium tangan Papa lagi.
“Kamu boleh dateng lagi,” kata Papa. “Bawa ibu kamu. Lamaran resmi. Dua minggu lagi.”
“Iya, Pak. Terima kasih, Pak.”
“Jangan terima kasih dulu.” Papa menatapnya. “Saya punya satu pertanyaan lagi.”
Aris menegakkan badan.
“Perkara tadi,” kata Papa. “Laki-laki itu. Kamu?”
Ruang tamu membeku.
Aku menatap Papa. Papa tidak menatapku. Ia menatap Aris dengan mata yang tenang, tidak marah, tidak curiga. Hanya mata seorang hakim yang sudah tiga puluh tahun membaca wajah orang.
Aris menatap Papa. Lalu, pelan, ia mengangguk.
“Iya, Pak,” katanya. “Saya.”
Papa tidak bicara.
“Saya mau bilang setelah Bapak kasih restu,” kata Aris. “Saya nggak mau Bapak kasih restu karena itu. Saya mau Bapak kenal saya yang naik motor dulu.”
“Bilang sekarang.”
Aris menarik napas. Lalu menceritakan semuanya.
Laptop bekas dari tetangga waktu ia terbaring tiga bulan setelah curug. Proyek kecil dari klien luar negeri, yang ia kerjakan dari kasur dengan bahu yang belum bisa digerakkan. Investasi pertama, dari uang proyek pertama. Lalu yang kedua. Lalu yang ketiga. Sepuluh tahun. Rotterdam. Singapura. Seoul.
Dan angka di pojok kanan atas layar.
Papa mendengarkan tanpa menyela. Wajahnya tidak berubah. Mama, di sebelahku, menutup mulut dengan kedua tangan dan matanya semakin lama semakin lebar.
Waktu Aris selesai, ruang tamu itu sunyi.
Lalu Mama berbicara. Suaranya bergetar.
“Kayak drama,” bisiknya.
Semua orang menoleh ke Mama.
“Kayak drama Korea!” Mama berdiri dari sofa, matanya bersinar. “Itu yang chaebol nyamar jadi orang biasa! Terus jatuh cinta sama cewek biasa! Terus ceweknya nggak tahu! Terus...”
“Ma,” kataku. “Aku yang ngejar dia, Ma. Bukan dia yang ngejar aku.”
Mama menatapku. Lalu menatap Aris. Lalu tersenyum lebih lebar.
“Itu lebih bagus lagi!” katanya. “Itu plot twist!”
Papa menghela napas panjang, memijat pelipisnya dengan dua jari.
Lalu, pelan, sudut bibirnya naik.
Lalu Papa tertawa.
Aku tidak pernah mendengar Papa tertawa seperti itu. Tidak di rumah, tidak di pernikahan saudara, tidak di mana pun. Tawa yang dalam, serak, yang keluar dari dada. Tawa seorang laki-laki tua yang sudah tiga puluh tahun duduk di kursi hakim dan menyaksikan semua kebohongan di dunia, dan akhirnya bertemu seseorang yang mengakui kebohongannya sendiri lewat perkara yang ia rekayasa.
“Kamu jawab perkara saya,” kata Papa di sela tawa, “pakai kasus kamu sendiri.”
“Iya, Pak.”
“Dan kamu bilang laki-laki itu salah.”
“Iya, Pak. Saya salah.”
Papa berhenti tertawa. Menatap Aris lama. Lalu menepuk bahunya.
Bahu kiri.
Aku tidak tahu bagaimana Papa tahu. Mungkin dari cara Aris berdiri. Mungkin dari cara ia memegang helm dengan tangan kiri. Mungkin hakim memang bisa membaca semuanya.
“Salah yang bisa dimaafkan,” kata Papa. “Kamu yang bilang.”
Lamaran resmi diadakan dua minggu kemudian, hari Minggu, di rumah orang tuaku di Bekasi.
Bu Sumi datang dengan kebaya ungu tua yang ia jahit sendiri dengan benang Jepang dari Lucky. Ia membawa seserahan dalam tujuh nampan yang dihias dengan pita dan bunga, dan semuanya ia rangkai sendiri sejak hari Senin. Kain batik tulis. Seperangkat alat salat. Kue-kue tradisional. Dan di nampan paling tengah, sebuah kotak jahit kecil dari kayu jati, dengan ukiran bunga melati di tutupnya.
“Buat Monica,” kata Bu Sumi waktu menyerahkan nampan itu. “Biar nanti kalau kancing Aris lepas, kamu yang jahit.”
Semua orang tertawa.
Evan dan Lucky datang dengan kemeja batik yang sama warnanya, karena Bu Sumi yang menjahitkan. Renata datang bersama Lucky, dengan tangan terselip di lengannya. Bu Ratna dan Pak Hendra datang sebagai keluarga dari pihak laki-laki, atas permintaan Bu Sumi sendiri. Bu Ratna membawa sekeranjang buah dan duduk di sebelah Bu Sumi sepanjang acara, dan mereka berdua membicarakan drama Korea dengan Mama sampai Papa harus berdeham tiga kali untuk mengingatkan bahwa acaranya belum selesai.
Aris duduk di sofa ruang tamu, di depan Papa, dengan kemeja batik cokelat tanah yang sama.
Ia sudah membeli mobil. Minggu lalu. Bukan mobil mewah. Mobil keluarga biasa, warna abu-abu, yang ia bilang cukup untuk membawa ibunya ke pasar dan aku ke kantor.
Tapi hari itu, ia tetap datang ke Bekasi naik motor bebek biru.
“Kenapa?” tanyaku waktu ia sampai di depan pagar, dengan helm hitam di tangan.
“Karena aku mau Papa kamu inget aku yang ini,” katanya. “Yang pertama kali dateng.”
Papa, yang berdiri di teras, mendengar itu. Ia tidak bicara. Tapi aku melihat sudut bibirnya naik lagi.
Jam sembilan malam, setelah semua tamu pulang dan rumah orang tuaku kembali sunyi, aku mengantar Aris dan Bu Sumi ke depan pagar.
Evan dan Lucky sudah pergi lebih dulu, membawa Bu Sumi pulang dengan mobil Lucky. Bu Sumi menolak. Ia bilang ia mau pulang bersama anaknya. Jadi Evan dan Lucky pergi duluan, dan Bu Sumi menunggu di teras sampai Aris selesai berpamitan pada Papa dan Mama.
Sekarang mereka berdua berdiri di depan pagar, di samping motor bebek biru. Bu Sumi memakai kebaya ungu tua. Aris memakai kemeja batik cokelat tanah.
Aku berdiri di ambang pagar, menatap mereka.
Bu Sumi menatap anaknya. Lama. Di bawah lampu jalan yang kuning, dengan kebaya ungu yang sedikit kusut setelah seharian dipakai.
“Ris,” katanya pelan.
“Iya, Bu?”
Bu Sumi mengangkat tangan dan meletakkannya di pipi anaknya. Tangan yang kecil, kasar, berbau minyak mesin jahit dan bedak tabur.
“Sebelas tahun kamu nganterin surat orang lain,” katanya. “Sebelas tahun kamu jadi jembatan. Jadi tukang pos. Jadi orang yang ada di sebelah, bukan di tengah.”
Aris diam. Matanya mulai basah.
“Ibu lihat semuanya, Nak. Ibu lihat kamu pulang dengan surat-surat itu di tas. Ibu lihat kamu senyum waktu Evan dapet pacar, waktu Lucky dapet penghargaan. Ibu lihat kamu nggak pernah minta apa-apa buat diri kamu sendiri.”
Air mata jatuh dari mata Bu Sumi.
“Sekarang,” katanya, “kamu boleh jadi tujuan, Nak.”
Aris menunduk. Bahunya berguncang.
Bu Sumi menarik kepala anaknya ke bahunya, seperti hari ia pulang dari curug. Kepala yang jauh lebih tinggi dari kepalanya sendiri, sehingga Aris harus membungkuk.
“Bukan jembatan lagi,” bisik Bu Sumi. “Tujuan.”
Aku berdiri di ambang pagar, di bawah lampu jalan, dengan cincin emas tipis yang sudah dikecilkan Bu Sumi di jari manis kiriku, dan menangis tanpa suara.
Di belakangku, di teras rumah, aku mendengar langkah kaki. Papa dan Mama. Berdiri di ambang pintu, menatap pemandangan yang sama.
Mama menangis. Papa tidak.
Tapi waktu aku menoleh, Papa sedang melepas kacamatanya dan mengusap matanya dengan ujung kemeja batiknya.
“Debu,” katanya padaku, sebelum aku sempat bertanya.
“Iya, Pa,” kataku.
“Bekasi berdebu.”
“Iya, Pa.”
Papa memasang kacamatanya lagi. Lalu menatap Aris dan Bu Sumi yang masih berpelukan di depan pagar, di samping motor bebek biru yang spion kirinya retak.
“Akadnya kapan?” tanyanya pelan.
“Tiga bulan lagi, Pa.”
Papa mengangguk.
“Kelamaan,” gumamnya.
Aku tertawa di antara tangisku.
Bu Ambar, pikirku. Bu Ambar pasti setuju.
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir reading
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan