← Dari Awal, Bukan Buat Evan

Chapter Two

Anggap Aja Saya Setuju

POV: Monica


Presentasiku berjalan sempurna.

Bukan sombong. Itu fakta. Tujuh direktur duduk di ruang rapat lantai dua puluh, dan tidak satu pun dari mereka melirik ponsel selama dua puluh menit aku bicara. Waktu Pak Hendra Wiratama bertanya kenapa total nilai kontrak di slide berbeda dengan angka di ringkasan eksekutif, aku menjawab dengan tenang bahwa angka di slide adalah nilai sebelum pajak, lalu menyebutkan angka lengkapnya tanpa melihat catatan.

Empat puluh delapan koma empat miliar.

Pak Hendra mengangguk. Lalu, menurut sekretarisnya yang kemudian bercerita di pantry dengan suara berbisik seolah sedang membocorkan rahasia negara, ia bertepuk tangan. Dua kali.

“Pak Hendra nggak pernah tepuk tangan, Mbak Monica,” kata Mbak Wati dari HRD, yang entah bagaimana sudah tahu soal itu sebelum aku turun dari lift. “Terakhir dia tepuk tangan itu waktu perusahaan IPO. Sembilan tahun lalu.”

Aku tersenyum dan berterima kasih. Aku memang pandai tersenyum dan berterima kasih. Ibuku bilang itu satu-satunya keahlian sosialku yang tidak membuat orang takut.

Tapi sepanjang sisa hari itu, kepalaku tidak ada di kontrak.

Kepalaku ada di tangga darurat antara lantai delapan dan sembilan.

Di tangan seorang laki-laki yang memasukkan benang ke lubang jarum dalam sekali coba. Yang menjahit kancing blazerku dengan lutut ditekuk di anak tangga, wajahnya serius seperti sedang menjinakkan bom. Yang membaca tabel di kertasku terbalik, sambil menjahit, lalu memberitahuku dengan nada orang yang sedang menyebut cuaca bahwa angkaku kurang satu koma dua miliar.

Lalu pergi.

Tanpa nama.

Dan, ini yang paling menggangguku, ke arah yang salah.

Aku melihatnya naik ke lantai sepuluh. Lima menit kemudian, waktu aku kembali dari toilet untuk merapikan rambut, aku mendengar langkah kaki menuruni tangga darurat yang sama. Pelan. Hati-hati. Seperti orang yang memastikan tidak ada siapa-siapa sebelum lewat.

Ia sengaja menghindariku.

Aku dua puluh tujuh tahun. Lulusan hukum dengan predikat cum laude, legal officer yang baru dua minggu di Wiratama Group dan sudah dipercaya presentasi ke direksi. Laki-laki biasanya tidak menghindariku.

Biasanya, mereka yang mencari alasan untuk naik lift yang sama.


“Jadi intinya,” kata Renata sambil menyendok es krim matcha dari gelas plastik, “kamu kesel karena ada cowok yang nggak tertarik sama kamu.”

“Bukan.”

“Kedengarannya begitu.”

“Dia nolongin aku, Ren. Dua kali dalam dua menit. Terus dia pergi. Itu bukan nggak tertarik. Itu... itu nggak sopan.”

“Nolongin orang itu nggak sopan?”

“Pergi tanpa nama itu nggak sopan. Aku mau bilang makasih yang proper.”

Renata Kusuma menatapku dari seberang meja dengan wajah orang yang sudah mengenalku sejak kami berdua masih memakai seragam putih abu-abu dan berbagi bekal nasi goreng. Ia sahabatku sejak kelas sepuluh. Ia juga yang memaksaku pindah ke Wiratama Group setelah firma hukumku yang lama membuatku lembur sampai jam dua pagi selama tiga tahun berturut-turut.

“Wiratama itu bagus, Mon,” katanya waktu itu. “Gajinya oke, jam kerjanya manusiawi, dan aku kenal orang dalam.”

Orang dalam yang ia maksud ternyata Bu Ratna Wiratama, istri direktur utama, sahabat almarhumah ibunya. Renata masuk sebulan lebih dulu sebagai staf Corporate Communications. Aku menyusul dua minggu lalu.

“Oke,” katanya sekarang, menjilat sendok. “Ciri-cirinya?”

“Tinggi. Agak kurus. Rambutnya pendek, rapi, kayak dipotong di tukang cukur langganan yang sama sejak SMA. Kemejanya putih, disetrika licin banget. Kayak kemeja yang disetrika ibu-ibu.”

“Detail banget.”

“Aku pengacara. Aku perhatiin detail.”

“Kamu legal officer.”

“Sama aja.”

“Terus?”

“Ranselnya hitam, udah agak pudar. Bawa kotak jahit di kantong depan. Kotak jahit, Ren. Siapa laki-laki umur hampir tiga puluh yang bawa kotak jahit ke kantor?”

“Penjahit?”

“Dia jago angka. Dia baca tabel aku terbalik sambil menjahit, terus nemu kesalahan yang aku sama tim aku nggak lihat selama tiga hari.”

Renata berhenti menyendok es krim. Matanya menyipit sedikit, seperti kalau ia sedang memikirkan sesuatu yang tidak ia ucapkan.

“Divisi Data, mungkin,” katanya pelan. “Atau Finance.”

“Kamu kenal orang Divisi Data?”

“Sedikit.” Ia menyendok es krim lagi. “Mau aku tanyain Mbak Wati? Dia hafal semua karyawan, sampai golongan darahnya.”

“Jangan. Kalau Mbak Wati tahu, besok satu gedung tahu aku nyariin cowok.”

“Mon, kamu nyariin cowok.”

“Aku nyariin orang yang nolongin aku.”

“Yang tinggi, rambutnya rapi, kemejanya kayak disetrika ibu-ibu.”

Aku melempar tisu ke arahnya. Ia tertawa, dan aku ikut tertawa. Tapi waktu aku melirik keluar jendela kafe ke arah Wiratama Tower yang menjulang di seberang jalan, aku menghitung jendela sampai lantai tujuh.

Divisi Data.

Mungkin.


Ternyata aku tidak perlu mencarinya.

Kamis siang, ada rapat lintas divisi di ruang Serbaguna lantai lima belas. Agendanya pembahasan anggaran program loyalitas pelanggan tahun depan. Semua divisi terkait diminta mengirim perwakilan, dan Legal mengirimku karena katanya aku “sudah terbukti tidak gugup di depan Pak Hendra”.

Ruangannya penuh. Kira-kira empat puluh orang duduk di kursi yang disusun membentuk huruf U, dengan Pak Hendra Wiratama di ujung, didampingi dua direktur lain. Aku duduk di sisi kiri bersama orang-orang Legal dan Finance.

Di sisi kanan, rombongan Sales masuk dengan suara lebih keras dari semua divisi lain digabungkan.

Di depan mereka, seorang laki-laki tinggi dengan kemeja biru langit dan senyum seperti iklan pasta gigi. Rambutnya jatuh ke dahi, dan ia menyibakkannya dengan cara yang membuat tiga perempuan di barisan Finance berhenti bernapas sebentar.

“Itu Evan Pradana,” bisik Mbak Wati, yang entah kenapa ada di rapat ini padahal HRD tidak ada hubungannya dengan program loyalitas. “Head of Sales. Single. Lagi. Baru putus minggu lalu.”

“Oh,” kataku.

“Ganteng, kan?”

“Lumayan.”

Mbak Wati menatapku dengan wajah tersinggung, seolah aku baru saja menghina anaknya sendiri.

Lalu Divisi Data masuk.

Mereka masuk dengan cara yang sangat berbeda dari Sales. Pelan. Hampir tanpa suara. Seorang laki-laki paruh baya dengan rambut berpomade berjalan paling depan, membawa laptop seperti membawa piala. Di belakangnya ada tiga staf yang memakai jaket tebal, seolah mereka baru saja turun dari gunung.

Dan di paling belakang, membawa tumpukan map dan termos stainless di tangan kiri, laki-laki dari tangga darurat.

Kemeja putih. Disetrika licin. Ransel hitam pudar.

Jantungku melakukan sesuatu yang tidak profesional.

Ia duduk di kursi paling ujung barisan Divisi Data, tepat di samping Evan Pradana. Ia membuka termos, menuang isinya ke tutup termos yang sekaligus berfungsi sebagai cangkir, dan meniupnya pelan. Uapnya naik. Teh, sepertinya. Warnanya cokelat muda, bening.

Evan menoleh dan mengatakan sesuatu padanya. Ia menggeleng sambil tersenyum kecil. Evan menyikut lengannya. Ia tetap menggeleng.

Lalu laki-laki ketiga masuk dari pintu samping dan duduk di sisi lain laki-laki itu. Jas abu-abu tua, wajah tampan dengan garis rahang tegas, ekspresi yang terlalu tenang untuk orang seusianya.

“Itu Pak Lucky,” bisik Mbak Wati lagi, sekarang dengan nada lebih hormat. “Lucky Wiratama. Anaknya Pak Hendra. Direktur Pengembangan Bisnis. Pewaris.”

“Yang di tengah?” tanyaku.

“Yang mana?”

“Yang duduk di antara mereka. Yang bawa termos.”

Mbak Wati mengerutkan dahi, seperti sedang mengingat-ingat isi lemari. “Oh. Itu... siapa, ya. Anak Data. Ari? Arif? Aris. Iya, Aris. Dia emang sering nempel sama mereka berdua.”

“Nempel?”

“Ya, ke mana-mana bareng. Makan siang bareng. Katanya teman SMA.” Mbak Wati mengangkat bahu, seperti fakta itu tidak menarik sama sekali dibanding fakta lain di ruangan. “Mbak Monica mau dikenalin sama Mas Evan? Saya kenal dekat lho.”

Aku tidak menjawab. Aku sedang mengulang nama itu di kepalaku.

Aris.


Rapat dimulai. Pak Reza Hartawan, Manajer Data, laki-laki berpomade tadi, mempresentasikan analisis efektivitas program loyalitas tahun ini. Slide-nya rapi. Grafiknya berwarna-warni. Suaranya percaya diri.

Sampai Pak Hendra mengangkat tangan.

“Pak Reza. Slide sebelas. Tingkat pelanggan yang keluar dari program naik dari delapan persen ke empat belas persen dalam dua kuartal. Kenapa?”

Pak Reza tersenyum. Senyum orang yang sedang membeli waktu.

“Itu... itu tren umum di industri, Pak. Kompetisi semakin ketat.”

“Kompetisi ketat setiap tahun. Kenaikannya baru dua kuartal ini. Apa yang berubah?”

“Kami... tim kami sedang mendalami datanya, Pak. Akan kami laporkan secara tertulis minggu depan.”

Pak Hendra tidak bicara. Ia hanya menatap Pak Reza dengan tatapan yang membuat AC di ruangan itu terasa tidak perlu. Ruangan hening. Empat puluh orang tiba-tiba sangat tertarik pada map di depan mereka masing-masing.

Lalu Pak Hendra menoleh ke arah barisan Divisi Data.

“Aris.”

Laki-laki dengan termos itu meletakkan tutup termosnya perlahan di meja.

“Iya, Pak.”

Pak Hendra Wiratama tahu namanya. Direktur utama perusahaan dengan delapan ribu karyawan ini tahu nama staf data yang duduk di kursi paling ujung.

Aku melirik Mbak Wati. Mbak Wati sedang melongo.

“Kamu tahu kenapa?” tanya Pak Hendra.

Aris tidak membuka laptop. Tidak membuka map. Ia hanya duduk dengan punggung tegak, kedua tangan di atas meja, dan bicara dengan suara pelan yang anehnya terdengar sampai ke belakang ruangan.

“Kenaikannya bukan merata, Pak. Delapan puluh tujuh persen pelanggan yang keluar berasal dari satu segmen. Pelanggan di atas lima puluh tahun yang selama ini menukarkan poin lewat gerai fisik.”

“Lanjutkan.”

“Bulan April, sistem penukaran poin dipindah ke aplikasi. Penukaran di gerai dihapus. Untuk pelanggan muda, tidak ada masalah. Untuk pelanggan lima puluh tahun ke atas, tingkat aktivasi aplikasinya cuma dua puluh tiga persen. Mereka nggak keluar karena nggak puas, Pak. Mereka keluar karena nggak bisa pakai poinnya lagi.”

Hening.

Hening yang berbeda dari sebelumnya. Hening orang-orang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak mereka duga.

“Solusinya?” tanya Pak Hendra.

“Kembalikan opsi penukaran di gerai, setidaknya untuk segmen itu. Biayanya kecil dibanding nilai pelanggan yang hilang. Saya sudah hitung, Pak. Selisihnya sekitar tiga koma satu miliar per tahun kalau dibiarkan.”

Pak Hendra menatap Aris lama. Lalu mengangguk sekali.

“Kirim hitungannya ke saya. Hari ini.”

“Baik, Pak.”

Pak Reza buru-buru berdeham. “Itu, Pak, itu memang temuan dari tim saya. Aris anggota tim saya. Kami sudah...”

“Saya tahu dia anggota tim Anda, Pak Reza,” kata Pak Hendra tanpa menoleh. “Lanjutkan presentasinya.”

Di sebelah Aris, Evan menyandarkan punggung ke kursi dengan wajah orang yang baru saja menang lotre. Lucky menatap lurus ke depan, tapi sudut bibirnya naik sedikit. Hanya sedikit.

Dan Aris? Aris mengambil kembali tutup termosnya, meniup tehnya, dan meminumnya. Seperti barusan tidak terjadi apa-apa.

Aku sadar aku sedang menahan napas.


Di akhir rapat, ada pemungutan suara untuk usulan anggaran.

“Yang setuju dengan alokasi revisi, silakan angkat tangan,” kata moderator.

Empat puluh tangan terangkat. Termasuk tanganku. Termasuk tangan Evan, yang mengangkat tangannya tinggi sekali seperti sedang ikut kuis. Termasuk Lucky, yang mengangkat tangan setengah, dengan gaya orang yang terlalu kaya untuk mengangkat tangan penuh.

Kecuali satu orang.

Aris tidak mengangkat tangan. Ia tetap duduk dengan kedua tangan di atas meja, tangan kanan diam di samping termos.

Moderator menatapnya. “Mas Aris? Tidak setuju?”

“Setuju, Mbak,” kata Aris. “Anggap aja saya setuju.”

Beberapa orang tertawa kecil. Moderator mencatat, lalu menutup rapat.

Aku menatap tangan kanan Aris yang masih diam di samping termos. Tangan yang tadi pagi menjahit kancingku dengan cekatan. Tangan yang tidak mau diangkat.

Kenapa?

Itu pertanyaan pertama.

Pertanyaan kedua datang lebih cepat dan lebih mendesak: bagaimana caranya aku bicara dengan laki-laki ini tanpa seluruh gedung ikut menonton?


Jawabannya: tidak bisa.

Rapat bubar menjelang jam makan siang. Orang-orang berdiri, merapikan map, keluar berkelompok sambil mengobrol. Aku berdiri dan berjalan lurus ke arah barisan Divisi Data.

Ke arah Aris.

Tapi Aris berdiri di antara Evan dan Lucky. Dan karena Evan jauh lebih tinggi dan jauh lebih berisik, dan karena Lucky jauh lebih kaya dan jauh lebih terkenal, dan karena Aris sedang menunduk merapikan map di tangannya, semua orang yang melihatku berjalan ke arah mereka sampai pada kesimpulan yang sama.

“Ya ampun,” bisik seseorang di belakangku. “Anak Legal baru langsung ngincer Mas Evan.”

“Cepet banget.”

“Pantes. Cantik sih.”

Evan, yang sepertinya mendengar bisikan itu karena telinganya dirancang untuk mendengar pujian dari radius dua puluh meter, menoleh ke arahku dengan senyum lebar.

“Hai,” katanya. “Kamu yang presentasi ke direksi kemarin, ya? Yang bikin bokapnya Lucky tepuk tangan?”

“Iya,” kataku. Mataku tidak lepas dari Aris. “Monica. Legal.”

“Evan. Sales. Ini Lucky, ini...”

“Aris,” kataku.

Aris akhirnya mengangkat wajah dari mapnya.

Matanya bertemu mataku. Satu detik. Dua detik. Aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya. Kaget, lalu mengenali, lalu sesuatu yang lain, seperti orang yang baru sadar pintunya lupa dikunci.

“Mbak,” katanya pelan.

“Kancingnya bertahan,” kataku. “Sampai sekarang.”

“Syukurlah, Mbak.”

“Angkanya juga.”

“Syukurlah.”

“Kamu pergi ke arah yang salah.”

Evan menoleh ke Aris. Lucky menoleh ke Aris. Aris menatap mapnya lagi.

“Iya, Mbak,” katanya. “Saya agak buru-buru.”

“Lima menit kemudian kamu turun lagi lewat tangga yang sama.”

Hening. Evan menatapku. Lalu menatap Aris. Lalu menatapku lagi, dengan senyum yang perlahan berubah bentuk dari senyum iklan pasta gigi menjadi senyum orang yang baru saja menemukan gosip terbaik tahun ini.

“Bentar,” kata Evan. “Kalian udah kenal?”

“Nggak,” kata Aris.

“Belum,” kataku.

Kami mengucapkannya bersamaan. Evan memandangi kami bergantian seperti menonton pertandingan tenis.

Lucky, yang sejak tadi diam, mengulurkan tangan padaku. “Lucky. Senang kenal kamu, Monica. Presentasimu kemarin bagus.”

“Terima kasih, Pak.”

“Lucky aja. Kami mau makan siang. Soto, di belakang gedung. Kalau kamu mau...”

“Dia nggak bakal mau, Luck,” potong Aris cepat. “Tempatnya panas. Tenda. Kursinya plastik.”

Aku menatap Aris. Aris menatap termosnya.

“Saya suka soto,” kataku.

“Kuahnya biasanya habis jam setengah satu, Mbak.”

“Sekarang baru jam dua belas lewat sepuluh.”

“Antriannya panjang.”

“Saya sabar.”

Evan menutup mulutnya dengan tangan, tapi bahunya berguncang. Lucky menatap langit-langit dengan wajah orang yang sedang berusaha keras untuk tetap terlihat seperti direktur.

Aris akhirnya mengangkat wajah. Ia menatapku dengan ekspresi yang sangat serius, sangat sopan, dan sangat salah.

“Oke, Mbak,” katanya. “Mbak bisa duduk di sebelah Evan. Kursi di sebelahnya biasanya kosong.”


Aku tidak duduk di sebelah Evan.

Aku duduk di sebelah Aris, di kursi plastik merah yang kakinya agak goyang, di bawah tenda biru yang panasnya seperti oven. Bu Darsih, pemilik warung, menatapku dari atas sampai bawah lalu bertanya pada Lucky, “Pak Dinas, ini pacar baru Mas Evan?”

“Bukan, Bu,” kata Lucky.

“Pacarnya Pak Dinas?”

“Bukan, Bu.”

Bu Darsih menatap Aris. Lalu tertawa keras sekali sampai sendok sayurnya hampir jatuh.

“Ya nggak mungkin,” katanya, masih tertawa, lalu pergi mengambil mangkuk.

Aris tersenyum kecil, seperti sudah biasa. Seperti tawa itu tidak ada apa-apanya.

Evan berhenti tersenyum. Lucky meletakkan sendoknya.

Aku melihat semua itu terjadi dalam satu detik, dan untuk pertama kalinya hari itu, aku mengerti sesuatu.

Dua laki-laki paling dikenal di gedung ini sedang menatap Bu Darsih seperti ingin membakar tendanya.

Dan laki-laki yang mereka bela sedang menuangkan teh dari termosnya ke dalam tutup termos, lalu menyodorkannya padaku.

“Panas, Mbak,” katanya. “Tehnya tawar. Ibu saya yang bikin. Kalau Mbak mau.”

Aku menerima tutup termos itu. Hangat di telapak tanganku.

Aku tidak suka teh tawar. Aku tidak pernah suka teh tawar seumur hidupku.

Aku meminumnya sampai habis.

“Enak,” kataku.

Aris tersenyum, kali ini sedikit lebih lebar. Lalu ia menoleh ke Evan dan berkata dengan suara yang ia kira cukup pelan, padahal tidak.

“Van. Mbaknya baik. Kamu jangan aneh-aneh.”

Evan menatapnya dengan mulut terbuka.

Aku menunduk ke mangkuk sotoku dan tersenyum.

Oke.

Ia pikir aku datang untuk Evan.

Biar saja dulu.