Chapter Twenty Seven
Laporan Terakhir
POV: Renata
Tante Ratna datang ke apartemenku hari Rabu sore dengan sup ayam di rantang porselen.
Aku tidak memberi tahu siapa pun bahwa aku sakit, kecuali Bu Sinta, kepala divisiku, lewat pesan singkat jam enam pagi. Bu, saya izin, demam. Itu bohong. Aku tidak demam. Aku hanya tidak bisa bangun dari kasur. Aku tidak bisa membayangkan berjalan masuk ke Wiratama Tower, naik lift, duduk di meja seberang lorong dari Monica, dan menatap wajahnya setelah semalam ia menangis di telepon.
Dia nolak aku karena dia pikir dia nggak pantas.
Aku tidak tidur semalaman. Aku duduk di lantai kamar, bersandar ke kasur, memeluk jas Lucky yang masih tersampir di kursi meja rias, dan menatap ponsel di pangkuanku. Ruang obrolan dengan Monica di atas. Ruang obrolan dengan Tante Ratna di bawahnya.
Aku menulis pesan untuk Monica. Panjang. Menjelaskan semuanya. Dari restoran Jepang di Senayan sampai warung soto Bu Darsih. Dari utang uang kuliah sampai laporan-laporan yang kukirim setiap Minggu malam.
Aku tidak mengirimnya. Aku menyimpannya di draf.
Aku bilang pada diriku sendiri: besok. Aku akan ceritakan besok. Langsung. Di depan wajahnya. Bukan lewat pesan. Monica pantas mendengarnya langsung.
Tapi besoknya, aku tidak bisa bangun dari kasur.
Dan sorenya, Tante Ratna mengetuk pintu apartemenku.
“Kamu kurusan, Sayang.”
Tante Ratna menuangkan sup ayam dari rantang porselen ke mangkuk di meja makanku. Uapnya naik, wangi jahe dan daun bawang. Sup buatan juru masak di rumah Menteng. Sup yang sama yang dikirim ke kamar kosku di Depok setiap minggu, delapan tahun lalu, selama tiga bulan pertama setelah Mama meninggal.
“Bu Sinta bilang kamu demam. Tante langsung khawatir.”
“Cuma pusing, Tante.”
“Pusing apa? Kamu nggak pernah pusing.” Ia duduk di kursi seberangku, meletakkan tangannya di dahiku. Telapak tangannya dingin dan lembut. “Nggak panas. Kamu kenapa, Rena?”
Aku menatap sup di depanku.
Aku tidak tahu kenapa aku menangis. Mungkin karena sup itu. Mungkin karena tangan di dahiku. Mungkin karena aku tidak tidur semalaman. Tapi tiba-tiba aku menangis, di depan Tante Ratna, di meja makan apartemenku, dengan sendok sup di tangan.
“Rena? Sayang?”
“Monica,” kataku di sela tangis. “Monica nangis semalam, Tante.”
Tante Ratna diam.
“Dia ngaku ke Aris. Di warung wedang ronde. Dia bilang dia mau dinikahin. Terus Aris nolak. Aris bilang Monica pantas dapat yang lebih baik. Yang kelihatan.” Aku tidak bisa berhenti bicara. Kata-kata itu keluar seperti air dari pipa yang bocor. “Monica pulang naik taksi sambil nangis, Tante. Dia telepon aku. Dia nggak ngerti kenapa. Aris bilang dia nggak pantas, Tante. Dia bilang Monica cuma bakal capek ngejelasin dia ke semua orang.”
Aku berhenti. Napasku tersengal.
Lalu aku menyadari apa yang baru saja kulakukan.
Aku mengangkat wajah. Tante Ratna menatapku. Wajahnya tenang. Sangat tenang. Ada sesuatu di matanya yang terlihat seperti... lega.
“Dia nolak Monica,” ulang Tante Ratna pelan.
“Tante...”
“Dia bilang Monica pantas dapat yang lebih baik.” Tante Ratna mengangguk perlahan. Lalu tersenyum kecil. “Bagus. Berarti anak itu tahu diri.”
Aku membeku.
“Tante...”
“Tante cuma bilang, Sayang. Setidaknya dia sadar posisinya.” Tante Ratna mengusap rambutku. Lembut. Seperti mengusap rambut anak kecil yang baru bangun dari mimpi buruk. “Ini malah kesempatan. Tante mau ketemu dia besok. Tante mau ngomong baik-baik.”
“Ngomong apa, Tante?”
“Ngomong soal masa depan.” Tante Ratna berdiri, merapikan kebayanya, dan mengambil tas tangannya dari sandaran kursi. “Kamu istirahat, ya. Makan supnya. Besok Tante kabarin.”
Ia mencium dahiku. Lalu pergi.
Aku duduk di meja makan dengan sup ayam yang mulai dingin, menatap pintu yang baru saja tertutup, dan merasakan sesuatu di perutku yang jauh lebih buruk dari pusing.
Aku baru saja memberikan laporan terakhirku.
Tanpa sengaja. Tanpa mau. Sambil menangis, di depan sup ayam yang dulu menyelamatkan hidupku.
Kamis, aku tidak masuk kerja lagi.
Aku menulis pesan untuk Lucky. Maaf aku nggak bales. Aku sakit. Nanti aku jelasin. Ia membalas dalam tiga detik. Kamu di mana? Aku ke sana. Aku menulis jangan. Ia menulis Ren. Aku tidak membalas lagi.
Aku menulis pesan untuk Monica. Lagi. Panjang. Lalu menghapusnya. Lalu menulis lagi. Lalu menyimpannya di draf, di sebelah draf yang kemarin.
Jam dua siang, ponselku bergetar. Tante Ratna.
Rena, Tante sudah ketemu anak itu. Nanti malam Tante cerita.
Aku menatap pesan itu sampai layarnya gelap sendiri.
Jam tujuh malam, aku tertidur di sofa. Aku tidak berniat tertidur. Aku hanya duduk di sana, memeluk bantal, menatap televisi yang tidak menyala, dan tiba-tiba mataku tertutup sendiri setelah dua malam tidak tidur.
Aku terbangun karena suara.
Bukan suara keras. Suara napas. Napas yang tertahan, gemetar, seperti seseorang yang sedang berusaha tidak menangis.
Aku membuka mata.
Monica berdiri di samping sofa.
Ia masih memakai blazer kerja. Tas di bahu. Di tangan kirinya, sebuah kantong plastik berisi kotak bubur dan sebotol jus jeruk. Ia pasti datang untuk menjengukku. Ia punya kunci cadangan apartemenku, sejak tiga tahun lalu, waktu aku pindah ke sini dan memintanya menyimpan satu untuk jaga-jaga.
Di tangan kanannya, ponselku.
Layarnya menyala. Aku bisa melihat dari tempatku berbaring. Ruang obrolan berwarna hijau, dengan foto profil Tante Ratna di bagian atas. Kebaya biru tua, kacamata berbingkai emas.
Monica tidak menatapku. Ia menatap layar ponsel itu. Ibu jarinya menggulir ke atas. Pelan. Satu per satu. Pesan demi pesan. Minggu demi minggu.
Wajahnya putih seperti kertas.
“Mon,” bisikku.
Ia tidak berhenti menggulir.
“Tadi ada pesan masuk,” katanya. Suaranya datar. Sangat datar. Suara yang belum pernah kudengar keluar dari mulut Monica, bahkan waktu Bram membatalkan pernikahan mereka. “Layarnya nyala di meja. Aku lihat nama Tante Ratna. Aku lihat kalimat pertamanya.”
Ia membalik ponsel itu dan menyodorkannya padaku.
Pesan terakhir dari Tante Ratna. Dikirim jam delapan lewat sepuluh malam.
Rena, Sayang. Tante sudah ketemu anak itu tadi siang. Dia tolak uangnya. Sombong juga ternyata. Tapi laporan kamu soal Monica kemarin sangat membantu. Tante lihat dia langsung goyah waktu Tante sebut soal warung wedang ronde. Dia nggak bisa jawab. Terima kasih, Sayang. Kamu memang anak Tante yang paling bisa diandalkan.
Aku menatap pesan itu.
“Passcode kamu masih tanggal ulang tahun Mama kamu,” kata Monica pelan. “Aku tahu dari SMA.”
Aku duduk tegak di sofa. Bantal jatuh dari pelukanku.
“Mon, aku bisa jelasin...”
“Aku udah baca.” Monica masih berdiri. Tidak bergerak. Kantong plastik berisi bubur dan jus jeruk masih tergantung di tangan kirinya. “Aku baca semuanya, Ren. Dari awal.”
Ia menggulir layar ponsel itu lagi, ke atas, jauh ke atas. Lalu mulai membacakan. Suaranya datar, tanpa intonasi, seperti robot yang membaca dokumen.
“Tante, Monica bawa kotak bekal ke lantai 7. Tempe goreng. Tapi Aris kasih ke Evan.”
Gulir.
“Tante, Monica dan Aris di tangga darurat. Pak Joko lihat. Monica pegang tangan Aris.”
Gulir.
“Tante, Monica ke rumah Aris di Jatiwaringin. Ibunya penjahit. Rumahnya kecil. Tapi ibunya baik.”
Gulir.
“Tante, Monica bonceng motor Aris pulang. Hujan.”
Gulir.
“Tante, Monica nangis di lapangan parkir waktu kebakaran. Aris gendong OB turun lima lantai.”
Monica berhenti menggulir. Ia menatap layar itu. Bibirnya bergetar.
“Semua,” katanya. Suaranya akhirnya pecah. “Semua yang aku ceritain ke kamu. Setiap malam. Setiap kali aku telepon kamu jam satu pagi karena nggak bisa tidur mikirin dia. Semua yang aku bilang ke kamu karena kamu sahabat aku...”
“Mon...”
“...kamu kirim ke dia.”
Aku berdiri dari sofa. Kakiku gemetar.
“Bukan gitu, Mon. Dengerin aku dulu...”
“Berapa lama?”
“Mon...”
“BERAPA LAMA, REN?”
Suaranya memantul di dinding apartemenku yang kecil. Kantong plastik di tangannya jatuh ke lantai. Kotak bubur terbuka, isinya tumpah ke karpet. Botol jus jeruk menggelinding ke bawah meja.
Aku menatapnya. Sahabatku sejak kelas sepuluh. Sahabat yang berbagi nasi goreng di kantin. Sahabat yang menemaniku di pemakaman Mama. Sahabat yang memelukku di bahu waktu aku menangis karena uang semester belum dibayar.
“Dari awal,” bisikku.
Monica menutup mata.
“Dari sebelum aku masuk Wiratama,” kataku. Air mataku mengalir. “Tante Ratna minta aku masuk. Buat ngawasin lingkaran Lucky. Buat cari tahu soal Aris. Tante bilang Aris nempel di keluarga mereka sejak SMA. Tante bilang Aris mungkin manfaatin Lucky. Tante cuma mau tahu, Mon. Tante cuma khawatir sama anaknya.”
“Dan kamu setuju.”
“Tante bayar kuliah aku, Mon! Waktu Mama meninggal! Kamu tahu itu! Kamu tahu aku nggak punya siapa-siapa lagi!” Aku menangis lebih keras. “Gimana aku bisa nolak orang yang nyelametin hidup aku?”
Monica membuka mata. Menatapku. Matanya merah, basah, tapi ada sesuatu yang lain di sana. Sesuatu yang dingin dan sangat, sangat sakit.
“Terus aku?” tanyanya pelan.
“Apa?”
“Kenapa kamu ngajak aku pindah ke Wiratama, Ren?”
Aku diam.
“Kamu masuk sebulan sebelum aku,” kata Monica. Suaranya bergetar. “Kamu bilang ke aku, Wiratama itu bagus, gajinya oke, jam kerjanya manusiawi, kamu kenal orang dalam. Kamu tahu aku capek di firma lama. Kamu tahu aku butuh tempat baru.”
“Itu bener, Mon! Semua itu bener!”
“Tapi kamu juga tahu kamu lagi disuruh ngawasin seseorang di sana.” Monica menatapku. “Dan kamu ngajak aku masuk ke tengah-tengahnya.”
“Aku nggak tahu kamu bakal suka sama Aris! Aku nggak tahu, Mon! Aku sumpah!”
“Tapi waktu aku mulai suka sama dia...” Monica berhenti. Napasnya tersengal. “Waktu aku mulai cerita soal dia ke kamu. Soal kancing. Soal tangga darurat. Soal tempe goreng. Kamu tahu. Kamu tahu aku lagi jatuh cinta. Dan kamu tetap laporan.”
Aku tidak bisa menjawab.
Karena itu benar.
Aku tahu. Aku tahu sejak Monica menceritakan soal kancing di tangga darurat, dengan suara seperti orang yang menemukan harta karun. Aku tahu sejak ia minum teh tawar sampai habis di warung soto, padahal ia benci teh tawar. Aku tahu sejak ia minta resep tempe goreng padaku jam sebelas malam.
Dan aku tetap mengirim laporan setiap Minggu malam.
“Aku berhenti, Mon,” kataku. “Aku udah mau berhenti. Laporan aku makin lama makin pendek. Aku nulis Aris nggak minta apa-apa. Aku nulis Aris kerja keras. Aku nulis Aris punya kerja sampingan. Aku nggak pernah nulis yang jelek-jelek. Aku nggak pernah...”
“Kemarin,” potong Monica. “Kamu cerita ke Tante Ratna soal warung ronde.”
Aku membeku.
“Aku telepon kamu dari taksi. Sambil nangis. Karena aku pikir kamu satu-satunya orang yang bisa aku telepon.” Monica menunjuk ponsel di tangannya. “Dan besoknya, Tante Ratna pakai cerita itu buat nyerang dia.”
“Aku nggak sengaja, Mon. Tante dateng bawa sup, terus aku nangis, terus aku keceplosan...”
“Keceplosan.” Monica tertawa. Tawa yang sama sekali tidak terdengar seperti tawa. “Kamu keceplosan cerita hal paling menyakitkan dalam hidup aku ke orang yang lagi nyari cara buat ngusir laki-laki yang aku cintai.”
Apartemenku sunyi. Bubur di karpet mulai mendingin. Botol jus jeruk masih di bawah meja.
Monica meletakkan ponselku di meja makan. Pelan. Di sebelah rantang porselen sup ayam dari Tante Ratna yang belum dicuci.
“Tante Ratna nawarin dia uang,” kata Monica. Bukan pertanyaan. “Uang buat pergi.”
“Aku nggak tahu, Mon. Aku nggak tahu Tante bakal ngelakuin itu.”
“Dan dia tolak.”
“Iya. Tante bilang dia tolak.”
Monica menatap ponsel di meja itu lama.
“Tentu aja dia tolak,” katanya pelan. Air mata akhirnya jatuh dari matanya, satu, di pipi kirinya. “Dia nggak pernah ambil apa-apa dari siapa-siapa. Dia bahkan nggak mau ambil aku.”
Ia berbalik dan berjalan ke pintu.
“Mon. Mon, tunggu.”
Ia berhenti di depan pintu. Tangannya di gagang pintu. Tidak menoleh.
“Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu,” kataku. Suaraku hampir tidak keluar. “Soal Aris. Soal biaya rumah sakit itu.”
Ia tidak bergerak.
“Dia udah lunasin, Mon. Semuanya. Dicicil ke Pak Hendra. Empat tahun. Lucky cerita ke aku. Tante Ratna nggak tahu. Pak Hendra nggak pernah bilang ke Tante.” Aku menangis lagi. “Aku tahu itu dari Lucky dua minggu lalu, Mon. Dan aku nggak pernah nulis itu di laporan. Aku nggak pernah bilang ke Tante. Karena aku takut. Aku takut Tante tahu aku tahu lebih banyak dari yang aku laporin.”
Monica menoleh sedikit. Hanya sedikit. Profil wajahnya terlihat dari tempatku berdiri.
“Kamu tahu dia nggak pernah ngutang apa-apa ke keluarga itu,” katanya pelan. “Dan kamu biarin Tante Ratna tetap mikir dia benalu.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Itu yang paling jahat, Ren,” kata Monica. “Bukan laporannya. Bukan keceplosannya. Tapi kamu tahu yang sebenarnya, dan kamu diem.”
Ia membuka pintu.
“Mon...”
“Aku nggak tahu kamu siapa,” katanya. Suaranya sangat pelan sekarang. “Aku pikir aku tahu. Dua belas tahun aku pikir aku tahu.”
Ia keluar.
Pintu tertutup pelan di belakangnya. Tidak dibanting. Monica tidak pernah membanting pintu. Ia hanya menutupnya pelan-pelan, dengan bunyi klik yang sangat kecil.
Bunyi klik itu lebih keras dari bantingan pintu mana pun yang pernah kudengar.
Aku berlutut di karpet dan membersihkan bubur yang tumpah. Pelan. Dengan tisu. Sendok demi sendok. Bubur ayam dari restoran di bawah gedung kantor kami, tanpa kacang, persis seperti yang Lucky bilang disukai Aris. Monica pasti membelinya karena ia sudah terbiasa memesan bubur tanpa kacang.
Aku mengambil botol jus jeruk dari bawah meja. Botolnya penyok sedikit di bagian bawah.
Aku menangis sampai tisu di tanganku basah semua.
Ponselku bergetar di meja makan. Aku tidak mau melihatnya. Aku melihatnya juga.
Lucky.
Ren. Aku di bawah. Di lobi apartemen kamu. Satpamnya nggak ngizinin aku naik tanpa konfirmasi. Tolong bilang ke satpamnya aku boleh naik.
Ren?
Monica barusan lewat lobi. Dia nangis. Dia nggak ngomong apa-apa sama aku. Dia langsung pergi.
Ren, ada apa?
Aku menatap pesan-pesan itu.
Lucky di lobi. Lucky yang menembakku di warung soto di depan dua puluh tiga saksi. Lucky yang membeli jas hujan dan mencopot labelnya supaya sahabatnya tidak bisa mengembalikannya. Lucky yang menceritakan malam di curug padaku, dengan tangan gemetar, karena aku bertanya.
Lucky, yang ibunya mengirimku untuk mengawasi sahabatnya.
Aku menulis balasan. Satu kalimat.
Lucky, pulang dulu. Sabtu, di anniversary. Aku jelasin semuanya. Aku janji.
Kirim.
Lalu aku membuka draf yang sudah kutulis sejak kemarin. Draf panjang untuk Monica. Aku membacanya sekali lagi, dari awal sampai akhir.
Lalu menghapusnya.
Itu bukan sesuatu yang bisa dikirim lewat pesan. Itu sesuatu yang harus kutanggung di depan wajah orang-orang yang kusakiti. Satu per satu.
Dimulai dari yang paling sulit.
Aku membuka ruang obrolan dengan Tante Ratna. Pesan terakhirnya masih di sana. Kamu memang anak Tante yang paling bisa diandalkan.
Aku mengetik.
Tante, aku berhenti.
Kirim.
Dua centang. Biru. Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi.
Aku mematikan ponsel sebelum balasannya datang.
Lalu aku duduk di lantai, bersandar ke sofa, memeluk jas Lucky, dan menunggu pagi.
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir reading
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan