← Dari Awal, Bukan Buat Evan

Chapter Eleven

Empat Puluh Menit

POV: Aris


Jam satu siang hari Kamis, Evan menelepon dengan suara yang belum pernah kudengar sebelumnya.

Bukan suara keras. Bukan suara bercanda. Suara orang yang sedang berdiri di pinggir jurang dan baru sadar tanahnya mulai retak.

“Ris. Lo di mana?”

“Di meja. Kenapa?”

“Dashboard penjualan mati.”

Aku berhenti mengetik. “Mati gimana?”

“Mati. Nggak bisa dibuka. Error semua. Tim IT bilang server-nya kena masalah, butuh minimal tiga jam buat dipulihin.” Napasnya terdengar cepat. “Rapat kuartal sama direksi jam dua, Ris. Satu jam lagi. Semua slide gue narik data langsung dari dashboard itu. Grafik, angka, perbandingan tahunan, semuanya. Sekarang slide gue isinya kotak putih sama tulisan data tidak tersedia.”

“Kamu punya backup?”

“Backup terakhir bulan lalu. Angkanya beda jauh. Kuartal ini ada tiga kontrak besar yang masuk di minggu terakhir.” Ia diam sebentar. “Ris, ini rapat kuartal pertama gue sebagai Head of Sales. Bokapnya Lucky duduk di depan. Kalau gue presentasi pakai angka bulan lalu...”

“Aku turun.”

“Ris, gue nggak minta...”

“Aku turun, Van.”

Aku menutup telepon, mencabut laptop dari dok, dan berdiri. Dini menatapku dari meja sebelah.

“Mas Aris mau ke mana?”

“Lantai dua belas.”

“Bawa laptop?”

“Bawa termos juga, Din. Tolong ambilin.”

Dini menyodorkan termos tanpa bertanya lagi. Pak Darto menurunkan kupluknya sedikit, lalu berkata pelan dari balik monitor, “Mas Aris, akses database penjualan yang mentah itu ada di server cadangan lantai B1. Kata sandinya masih yang lama, belum diganti sejak audit.”

Aku menatapnya.

“Saya cuma ngasih tahu,” katanya, kembali menatap monitornya. “Kalau-kalau ada yang butuh.”


Lantai dua belas adalah kebalikan dari lantai tujuh.

Hangat. Berisik. Ada musik pelan dari speaker di sudut ruangan, papan tulis besar penuh target penjualan yang ditulis dengan spidol warna-warni, dan meja-meja yang tidak pernah benar-benar rapi. Biasanya, lantai ini terdengar seperti pasar pagi.

Hari ini, lantai dua belas terdengar seperti ruang tunggu rumah sakit.

Tim Sales berdiri bergerombol di sekitar meja Evan. Belasan orang. Semuanya menatap layar laptop yang menampilkan pesan error berwarna merah. Beberapa sedang menelepon dengan suara panik. Seorang perempuan muda duduk di lantai dekat jendela, memeluk lutut.

Evan berdiri di tengah mereka dengan lengan kemeja digulung dan rambut berantakan, seperti sudah diacak-acak puluhan kali.

Waktu melihatku, wajahnya berubah. Lega bercampur malu.

“Ris.”

“Kirim file presentasimu ke email aku. Sama daftar semua angka yang kamu butuhin. Tulis di satu halaman.”

“Semua?”

“Semua. Grafik apa, angka apa, perbandingan apa. Urutkan sesuai slide.”

Evan mengangguk dan mulai mengetik. Aku menarik kursi kosong di meja sebelahnya dan membuka laptop.

“Mas,” kata salah satu staf Sales, laki-laki berkacamata yang namanya aku tidak tahu. “Tim IT bilang server-nya...”

“Saya nggak pakai server dashboard, Mas,” kataku sambil mengetik. “Saya ambil langsung dari database transaksi mentahnya. Dashboard itu cuma tampilan. Datanya masih ada di bawahnya.”

“Tapi itu kan jutaan baris...”

“Iya, Mas.”

Ia menatapku seperti menatap orang yang baru bilang akan menyeberangi lautan dengan berenang.

Aku tidak menjelaskan lagi. Aku masuk ke server cadangan dengan kata sandi lama yang disebutkan Pak Darto. Masuk. Database transaksi penjualan tiga tahun terakhir muncul di layar, dalam bentuk tabel-tabel mentah tanpa warna, tanpa grafik, tanpa apa pun yang indah.

Bagiku, itu indah.

Email Evan masuk. Dua puluh tiga angka yang ia butuhkan, delapan grafik, empat perbandingan tahunan.

Aku melihat jam di pojok layar. Jam satu lewat dua belas.

Aku mulai menulis kueri.


Aku tidak ingat semua yang terjadi selama empat puluh menit berikutnya. Aku jarang ingat kalau sedang bekerja seperti itu. Dunia di sekitarku mengecil sampai tinggal layar, keyboard, dan angka-angka yang bergerak.

Yang kuingat hanya potongan-potongan.

Suara Evan di sebelahku, pelan sekali, membacakan nomor slide setiap kali aku selesai satu grafik.

Staf Sales berkacamata yang tadi menatapku, sekarang berdiri di belakang kursiku dengan mulut terbuka, sesekali berbisik ke temannya, “Dia ngetik kode sambil ngitung di kepala. Dia nggak buka kalkulator. Nggak buka sama sekali.”

Perempuan muda yang tadi duduk di lantai, sekarang berdiri di samping meja dan menyodorkan segelas air putih dingin tanpa diminta.

Seseorang mematikan musik di speaker.

Lalu, di menit kedua puluh lima, ada sesuatu yang berubah di udara. Wangi melati. Samar, tapi aku mengenalinya.

Aku tidak menoleh. Aku sedang menyusun grafik perbandingan tahunan dan tidak bisa berhenti di tengah. Tapi dari sudut mata, aku melihat blazer krem berdiri di sisi kiri mejaku, agak jauh, cukup jauh untuk tidak mengganggu.

Ia tidak bicara. Ia hanya berdiri di sana.

Lalu ia membungkuk sedikit, mengambil termos di sebelah laptopku, membuka tutupnya, menuang teh ke dalam tutup itu, dan meletakkannya di tempat yang bisa kujangkau dengan tangan kiri tanpa melepas mata dari layar.

Aku meminumnya. Masih hangat.

Ia berdiri di sana sampai aku selesai.


Jam satu lewat lima puluh dua, aku menekan tombol kirim.

“Udah, Van. Cek email.”

Evan membuka emailnya. File presentasi yang sudah diperbarui. Dua puluh tiga angka, delapan grafik, empat perbandingan tahunan. Semua diambil dari data hari ini, pukul satu siang.

Ia membuka slide demi slide. Grafik-grafik itu muncul dengan rapi, dengan warna-warna yang sama seperti template dashboard lama karena aku menyamakan kode warnanya. Angka-angkanya bersih. Tiga kontrak besar dari minggu terakhir sudah masuk.

“Ini...” Evan menatap layar. Lalu menatapku. “Ini lebih rapi dari punya gue yang asli.”

“Grafik delapan aku ubah dikit. Yang lama skalanya bikin pertumbuhan kuartal ini kelihatan kecil. Aku ganti jadi persentase. Lebih jujur, dan lebih bagus buat kamu.”

“Ris.”

“Angka di slide empat, cek lagi kontrak ketiga. Di database, statusnya masih menunggu tanda tangan. Aku masukin, tapi aku kasih catatan kaki. Kalau direksi tanya, bilang itu proyeksi. Jangan bilang udah masuk.”

“Ris.”

“Udah jam dua kurang delapan. Pergi.”

Evan berdiri. Ia menatapku sebentar, dengan mata yang aneh, seperti mau mengatakan sesuatu tapi tidak punya waktu. Lalu ia menepuk bahu kiriku, keras, dua kali, dan berlari ke arah lift dengan laptop di pelukan.

Lantai dua belas hening.

Lalu seseorang mulai bertepuk tangan.

Staf Sales berkacamata itu. Lalu perempuan muda yang tadi membawakan air. Lalu yang lain. Satu per satu, sampai seluruh tim Sales bertepuk tangan, dan beberapa bersiul, dan seseorang menyalakan kembali musik di speaker dengan volume maksimal.

Aku menunduk ke laptopku, merasakan telingaku memanas.

“Mas,” kata staf berkacamata itu, mengulurkan tangan. “Saya Bimo. Analis Sales. Mas siapa?”

“Aris. Data.”

“Mas Aris.” Bimo menjabat tanganku kuat-kuat. “Mas, kalau Mas bosen di Divisi Data, Mas pindah ke sini aja. Saya rela turun pangkat buat jadi asisten Mas.”

Orang-orang tertawa. Aku tersenyum dan menggeleng.

Lalu aku menyadari Monica masih berdiri di sisi kiri mejaku.

Ia tidak ikut bertepuk tangan. Ia hanya menatapku, dengan tangan terlipat di dada, dan senyum kecil di sudut bibir yang terlihat seperti orang yang sedang menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari senyum.

“Mbak,” kataku. “Mbak kok di sini?”

“Aku ada rapat kuartal juga. Presentasi update legal. Jam setengah tiga.” Ia melirik jam tangannya. “Aku turun dari lantai dua puluh mau ngambil berkas ke lantai sembilan. Terus lewat sini. Terus lihat kamu.”

“Lantai dua belas nggak di antara dua puluh sama sembilan, Mbak. Maksudnya, ada, tapi lift nggak berhenti kalau nggak ditekan.”

“Aku tekan.”

“Kenapa?”

“Karena Evan nelpon kamu pakai speaker di lift tadi. Satu lift denger.”

Aku menatapnya. Ia menatapku balik dengan wajah yang sama sekali tidak menyesal.

“Kamu nggak makan siang,” katanya.

“Belum sempat, Mbak.”

“Teh terus.”

“Tehnya enak, Mbak.”

Monica menghela napas, lalu membuka tasnya. Ia mengeluarkan sesuatu yang dibungkus kertas cokelat dan meletakkannya di samping laptopku. Roti isi. Masih hangat, dari kedai kopi di lantai dasar.

“Makan,” katanya. “Jangan dikasih ke Evan.”

“Evan lagi rapat, Mbak.”

“Justru itu.”

Bimo dan beberapa staf Sales di sekitar kami terkekeh. Monica tidak peduli. Ia sudah berbalik untuk pergi, lalu berhenti, dan menoleh.

“Aris.”

“Iya, Mbak?”

“Server cadangan B1. Kata sandi lama yang belum diganti sejak audit.” Ia mengangkat alis. “Itu temuan audit, lho. Kalau aku pengacara yang rewel, aku bakal bikin laporan.”

Aku membeku.

“Untung aku bukan pengacara,” katanya. “Aku legal officer.”

Lalu ia pergi, dan aku duduk di lantai dua belas dengan roti isi hangat di tangan dan perasaan bahwa aku baru saja ditangkap basah, lalu dilepaskan dengan sengaja.


Rapat kuartal berlangsung sampai jam empat. Aku tidak ikut. Staf Data tidak pernah ikut rapat kuartal. Aku kembali ke lantai tujuh, mengganti kata sandi server cadangan B1, menulis catatan untuk tim IT, lalu kembali mengerjakan laporan yang tadi kutinggalkan.

Jam empat lewat lima, ponselku bergetar.

Evan.

RIS.

GUE DIPUJI PAK HENDRA.

DI DEPAN SEMUA DIREKSI.

KATANYA PRESENTASI SALES TERJELAS TIGA TAHUN TERAKHIR.

GRAFIK DELAPAN. DIA SUKA GRAFIK DELAPAN. DIA BILANG “INI CARA YANG JUJUR MEMBACA PERTUMBUHAN”.

Aku tersenyum ke layar ponsel.

Selamat, Van.

JANGAN SELAMAT-SELAMATIN GUE. LO YANG BIKIN.

Kamu yang presentasi.

RIS GUE BAKAL NGOMONG KE PAK HENDRA

Jangan.

KENAPA

Nanti Pak Reza tahu aku ninggalin kerjaan dua jam.

Tidak ada balasan selama satu menit. Lalu:

Lo itu bener-bener penyakit, Ris. Penyakit yang gue sayang.

Lalu satu pesan lagi.

Monica tadi presentasi legal setelah gue. Bagus banget. Tapi di tengah-tengah dia nyelipin kalimat soal “pentingnya pengamanan server cadangan yang kata sandinya belum diperbarui pasca audit”. Tim IT langsung pucat. Pak Hendra langsung minta laporan.

Terus dia bilang “masalahnya sudah ditangani oleh salah satu staf Divisi Data hari ini, inisiatif pribadi”. Terus Pak Hendra tanya siapa. Terus dia bilang “yang kemarin menjawab soal pelanggan lima puluh tahun ke atas, Pak.”

Terus Pak Hendra senyum, Ris. Gue nggak pernah lihat bokapnya Lucky senyum di rapat.

Aku meletakkan ponsel di meja dan menatap gambar krayon Kiki di sudut monitor.

Monica menyebutku. Tanpa menyebut namaku.

Ia menemukan celah keamananku, lalu memutarnya menjadi sesuatu yang membuatku terlihat baik di depan direksi. Dan ia melakukannya dengan cara yang tidak bisa diklaim siapa pun, bahkan Pak Reza. Karena hanya ada satu orang yang menjawab soal pelanggan lima puluh tahun ke atas di rapat itu, dan semua direksi yang hadir mengingatnya.

Aku tidak tahu harus merasakan apa.

Jadi aku mengambil termos dan berjalan ke pantry untuk mengisinya, walaupun masih setengah penuh.


Pantry lantai tujuh punya rak tinggi di dinding atas, tempat menyimpan stok kopi saset, gula, dan gelas kertas. Gelas kertas yang biasanya ada di rak bawah sudah habis. Stok barunya ada di rak paling atas.

Aku berdiri di depan rak itu, menatap tumpukan gelas kertas yang dibungkus plastik di ketinggian kira-kira dua meter.

Aku mengangkat tangan kiri. Tidak sampai. Kurang sejengkal.

Aku menatap tangan kananku.

Lalu, karena tidak ada orang di pantry, aku mencoba mengangkatnya. Pelan. Sampai sejajar bahu, masih bisa. Sampai sejajar telinga, mulai terasa tarikan di dalam sendi, seperti ada tali yang dikencangkan. Sedikit lagi...

Rasa sakit itu datang seperti biasa. Tajam, menusuk dari dalam, menjalar ke leher dan punggung atas. Aku menurunkan tangan dengan cepat dan menekan bahu kananku dengan tangan kiri, menunggu sakitnya mereda.

“Kamu mau ambil apa?”

Aku menoleh terlalu cepat. Bahuku berdenyut lagi.

Monica berdiri di ambang pintu pantry. Blazer krem sudah dilepas, tersampir di lengan. Wajahnya tenang, tapi matanya menatap tangan kiriku yang masih menekan bahu kanan.

“Gelas kertas, Mbak,” kataku, menurunkan tangan. “Mbak ngapain di lantai tujuh?”

“Ngembaliin map.” Ia mengangkat map di tangannya. Map kosong. “Yang mana gelasnya?”

“Rak atas. Nggak apa-apa, Mbak, saya ambil kursi aja.”

Monica berjalan masuk. Ia tidak menunggu aku mengambil kursi. Ia berdiri di depan rak, sedikit di sampingku, dan berjinjit. Ia cukup tinggi. Dengan sepatu berhak rendahnya, ujung jarinya mencapai bungkus plastik gelas kertas itu. Ia menariknya turun.

Lalu menyerahkannya padaku.

“Makasih, Mbak.”

Ia tidak langsung melepaskan bungkus plastik itu. Tangannya masih memegang ujung yang lain, sementara aku memegang ujung yang satunya. Kami berdiri di pantry yang dingin, masing-masing memegang satu sisi bungkus gelas kertas, seperti dua orang yang sedang menarik tali.

“Bahu kamu kenapa?” tanyanya pelan.

“Nggak apa-apa, Mbak.”

“Aris.”

“Pernah jatuh, Mbak. Waktu SMA.”

“Jatuh dari mana?”

Aku diam. Bungkus plastik itu berkerisik di antara tangan kami.

“Dari tempat yang tinggi, Mbak,” kataku akhirnya. “Udah lama. Udah sembuh. Cuma nggak bisa diangkat tinggi-tinggi aja.”

Monica menatapku lama. Matanya menelusuri wajahku, seperti sedang membaca dokumen yang ditulis dengan bahasa yang belum sepenuhnya ia kuasai. Lalu matanya turun ke bahu kananku, ke tempat tanganku tadi menekan.

Aku menunggu pertanyaan berikutnya.

Pertanyaan itu tidak datang.

Ia melepaskan bungkus plastik itu, dan sebelum menarik tangannya, ujung jarinya menyentuh punggung tanganku. Ringan. Sebentar. Hampir seperti kebetulan.

“Kalau kamu butuh sesuatu dari rak atas,” katanya, “panggil aku.”

“Mbak di lantai sembilan.”

“Aku tahu jalan ke lantai tujuh.”

Ia tersenyum, mengambil map kosongnya dari meja pantry, dan berjalan ke pintu. Di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh.

“Presentasi Evan tadi bagus,” katanya. “Grafik delapan.”

“Evan yang presentasi, Mbak.”

“Iya.” Ia menatapku. “Tapi aku tahu siapa yang bikin grafik delapan.”

Lalu ia pergi.

Aku berdiri di pantry dengan bungkus gelas kertas di tangan dan bahu kanan yang masih berdenyut pelan. Di luar jendela kecil pantry, langit Jakarta mulai berwarna jingga.

Aku membuka bungkus plastik itu, mengambil satu gelas kertas, dan menuang teh dari termos ke dalamnya. Aku tidak butuh gelas kertas. Aku punya tutup termos.

Aku hanya tidak ingin ia tahu bahwa tadi pagi aku naik tangga darurat sampai lantai sembilan, padahal mejaku di lantai tujuh, dan berhenti sebentar di depan pintu kaca Divisi Legal, hanya untuk memastikan kancing blazernya masih terpasang.

Kancingnya masih terpasang.

Aku tidak tahu kenapa aku perlu memastikannya.