← Dari Awal, Bukan Buat Evan

Chapter Twenty Nine

Titip Buat Evan

POV: Aris


Aku tidak lari.

Aku hanya berjalan cepat. Keluar lewat pintu darurat ballroom, menyusuri lorong servis hotel yang berbau sabun cuci piring dan kuah kaldu, turun tangga darurat ke basement, ke parkir motor di pojok yang paling jauh dari lift.

Di belakangku, aku mendengar Evan memanggil namaku. Lalu Monica. Suara mereka memantul di dinding beton lorong servis, bergantian, seperti gema di dalam gua.

Aku tidak berhenti.

Motor bebek biruku menyala di percobaan pertama. Itu jarang terjadi. Biasanya butuh dua atau tiga kali. Malam ini, seperti mengerti, mesin itu langsung menderum.

Aku keluar dari basement hotel tepat ketika pintu tangga darurat di belakangku terbuka. Dari kaca spion yang retak, aku melihat Evan berdiri di ujung tangga, napasnya terengah, jas terlepas sebelah. Di belakangnya, Monica, dengan sepatu berhak di tangan, kaki telanjang di lantai beton yang kotor.

Aku tidak menoleh.

Aku melaju keluar ke Jalan Gatot Subroto dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam. Pertama kalinya dalam dua belas tahun motor itu dipaksa secepat itu.


Ponselku bergetar sepanjang perjalanan pulang. Di saku celana, di atas paha kiri, terus-menerus, seperti jantung kedua yang berdebar terlalu cepat.

Aku tidak mengangkatnya.

Di lampu merah Cawang, aku mengeluarkannya dan melihat layarnya. Empat belas panggilan tak terjawab. Enam dari Evan. Lima dari Monica. Dua dari Lucky. Satu dari nomor yang tidak kukenal, mungkin Pak Hendra.

Dan pesan-pesan. Puluhan. Aku tidak membukanya. Aku hanya melihat cuplikan pesan terakhir di layar kunci.

Dari Monica. Aku nggak tahu soal Renata. Aris, aku sumpah aku nggak tahu.

Lampu merah berubah hijau. Aku memasukkan ponsel kembali ke saku.

Aku nggak tahu soal Renata.

Aku ingin percaya itu. Aku sangat ingin percaya. Seluruh tubuhku ingin percaya, sampai ujung jari yang mencengkeram setang motor.

Tapi suara itu, suara yang lebih tua, suara yang sudah menemaniku sejak SMA, sekarang tidak lagi bertanya dengan pelan dan sabar. Sekarang ia bicara dengan jelas. Dengan tenang. Seperti analis yang menyusun kesimpulan dari data yang sudah lengkap.

Renata disuruh Bu Ratna mengawasi lingkaran Lucky. Mengawasi kamu.

Renata masuk Wiratama sebulan sebelum Monica.

Renata mengajak Monica masuk.

Monica mendekati kamu di hari pertamanya. Di tangga darurat. Dari delapan ribu karyawan, kamu.

Semua yang terjadi antara kamu dan Monica, Bu Ratna tahu. Kancing. Tempe. Helm. Warung ronde. Semuanya. Lewat Renata. Lewat cerita Monica ke Renata.

Kamu tidak pernah dipilih, Aris. Tiga puluh tujuh surat. Nol untukmu.

Kenapa yang ini berbeda?

Aku menggeleng di atas motor, keras, sampai helmku miring.

Monica menangis di lapangan parkir. Monica menciumku di warung wedang ronde dengan bibir gemetar. Monica berlari mengejarku di basement hotel tanpa sepatu.

Orang yang pintar bisa melakukan semua itu, kata suara itu. Dan kalaupun ia tidak tahu, kalaupun semua yang ia rasakan itu nyata, lihat apa yang terjadi padanya karena kamu. Dia dijadikan bahan laporan. Ceritanya yang paling menyakitkan dipakai sebagai senjata. Namanya disebut di depan delapan ratus orang. Sahabat dua belas tahunnya ternyata mata-mata.

Semua itu terjadi karena dia dekat sama kamu.

Aku berhenti di pinggir jalan, di depan sebuah bengkel tambal ban yang tutup. Mematikan mesin. Membuka kaca helm.

Udara malam Jakarta masuk ke paru-paruku. Panas. Lembap. Bau knalpot dan sampah.

Ini yang selalu kulupa. Setiap kali aku membiarkan seseorang mendekat, sesuatu yang buruk terjadi pada mereka. Bukan karena aku jahat. Karena aku ada. Karena di sekitarku selalu ada orang-orang seperti Bu Ratna, Pak Reza, teman-teman ayahku. Orang-orang yang melihat siapa yang berdiri di sebelahku, lalu memutuskan orang itu pantas dicurigai juga.

Evan dan Lucky sudah terbiasa. Mereka punya nama. Mereka punya keluarga yang bisa melindungi mereka.

Monica tidak.

Monica hanya punya aku. Dan aku tidak bisa melindunginya dari apa pun.

Bahkan dari diriku sendiri.


Monica datang ke rumahku jam sebelas malam.

Aku mendengar ketukan di pagar hijau dari kamar. Tiga ketukan. Lalu suara ibuku dari ruang tamu, membuka pintu. Lalu suara Monica.

“Bu. Maaf malam-malam. Aris ada?”

Suaranya serak. Seperti orang yang sudah menangis berjam-jam.

Aku berdiri dari kasur busa dan berjalan ke pintu kamar. Tanganku di gagang pintu. Aku tidak membukanya.

Ibuku diam lama.

“Ada, Nak,” katanya akhirnya. “Di kamar.”

Aku menutup mata. Aku tadi sudah bilang pada ibuku, waktu ia membukakan pagar untukku jam sepuluh dan melihat wajahku, Bu, kalau ada yang dateng, bilang aku udah tidur.

Ibuku tidak pernah bisa berbohong. Tidak untuk hal-hal yang penting.

“Dia nggak mau keluar,” kata ibuku pelan. “Ibu nggak mau bohong sama kamu, Nak. Dia ada. Tapi dia nggak mau keluar.”

Hening. Lalu langkah kaki. Pelan, tidak bersepatu, di lantai keramik ruang tamu yang dingin. Mendekat ke pintu kamarku.

Berhenti tepat di depannya.

Aku berdiri di balik pintu, satu tangan di gagang, satu tangan menempel di daun pintu kayu. Monica berdiri di sisi lain. Aku bisa mendengar napasnya. Dekat sekali. Hanya selapis kayu tipis di antara kami.

“Aris,” katanya.

Aku tidak menjawab.

“Aku tahu kamu di situ. Aku bisa denger kamu napas.”

Aku menahan napas.

“Itu nggak bikin aku pergi,” katanya. Ada tawa kecil di suaranya, tawa yang pecah di tengah. “Kamu nahan napas dari Kuningan sampai Pancoran. Aku tahu kamu bisa nahan lama. Aku tunggu.”

Aku melepas napas pelan.

Lalu aku mendengar sesuatu bergeser di sisi lain pintu. Bunyi kain. Ia duduk. Di lantai, bersandar ke daun pintu kamarku.

Aku ikut duduk. Di lantai, di sisi lain, bersandar ke daun pintu yang sama.

Punggung kami menempel di kayu yang sama. Hanya selapis kayu tipis di antara kami.

“Aku nggak tahu soal Renata,” katanya pelan. “Aku baru tahu hari Kamis. Aku nemu chat dia sama Bu Ratna di HP-nya. Aku baca semuanya. Dari awal.” Suaranya bergetar. “Dia laporan semua yang aku ceritain ke dia. Semua, Aris. Kancing. Tempe. Kamu. Semuanya.”

Aku menatap langit-langit kamar. Noda bocor berbentuk peta Kalimantan.

“Aku nggak tahu dia disuruh ngawasin kamu. Aku nggak tahu dia ngajak aku ke Wiratama padahal dia tahu ada misi itu. Aku sumpah, Aris. Aku sumpah demi Mama aku.”

Aku memejamkan mata.

Aku ingin membuka pintu itu. Aku ingin membuka pintu itu dan memeluknya dan bilang aku percaya. Aku ingin membiarkan diriku percaya, sekali saja, bahwa perempuan secantik dan sepintar dan seberani ini memilihku, laki-laki dengan motor bebek dan bahu yang tidak bisa diangkat, tanpa ada alasan lain.

Tapi kalau aku membuka pintu itu, aku akan percaya.

Dan kalau aku percaya, aku akan tetap ada di hidupnya.

Dan kalau aku tetap ada di hidupnya, akan selalu ada Bu Ratna lain. Pak Reza lain. Orang-orang lain yang menatapnya, lalu menatapku, lalu bertanya kenapa. Dan ia akan terus berdiri di depanku, membelaku, seperti di lift, seperti di kondangan, seperti malam ini di ballroom, berlari tanpa sepatu di basement hotel.

Ia akan capek. Pelan-pelan. Bertahun-tahun.

Seperti ibuku dulu, setelah ayahku bangkrut.

“Aris,” katanya. Suaranya sangat pelan sekarang. “Kamu percaya aku?”

Aku membuka mulut.

Aku menutupnya lagi.

Aku tidak bisa bilang tidak. Itu bohong. Dan aku tidak bisa bilang iya. Karena kalau aku bilang iya, aku tidak akan sanggup tidak membuka pintu ini.

Jadi aku diam.

Di sisi lain pintu, aku mendengar Monica menarik napas. Panjang. Gemetar. Lalu mengeluarkannya pelan-pelan, seperti orang yang sedang belajar bernapas lagi setelah tenggelam.

“Oke,” katanya. “Oke.”

Bunyi kain bergeser. Ia berdiri.

“Aku bakal tunggu,” katanya. “Kamu boleh diem. Kamu boleh nggak buka pintu. Kamu boleh lari ke arah yang salah. Aku tetep tunggu.”

Langkah kakinya menjauh. Ke ruang tamu. Suara ibuku, pelan, mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar. Suara Monica, lebih pelan lagi. Lalu pintu depan terbuka. Pagar hijau berderit.

Lalu sunyi.

Aku duduk di lantai, bersandar ke pintu kamar, sampai jam dua pagi.

Waktu akhirnya aku membuka pintu kamar, ruang tamu sudah gelap. Ibuku sudah tidur. Di meja kecil dengan taplak rajut, ada sesuatu yang ditinggalkan.

Helm putih.

Helm penumpang. Yang ukurannya diambil dari catatan ibuku.

Di atasnya, kertas tempel kuning dengan tulisan tangan yang sangat rapi.

Aku nggak balikin ini. Aku titip. Nanti aku ambil lagi.

—M

Aku berdiri di ruang tamu yang gelap, menatap helm itu, dan untuk pertama kalinya sejak SMA, sejak malam di curug, aku menangis.

Tidak keras. Tanpa suara. Dengan tangan menutup mulut, supaya ibuku tidak terbangun.


Senin pagi, aku mengirim surat pengunduran diri ke HRD.

Surat itu pendek. Tiga paragraf. Aku menulisnya Minggu malam, di depan laptop, dengan bahasa yang sangat sopan dan sangat formal. Terima kasih atas kesempatan selama enam tahun. Alasan pribadi. Bersedia menyelesaikan masa transisi satu bulan sesuai kontrak.

Aku tidak menyebut Bu Ratna. Aku tidak menyebut Pak Reza. Aku tidak menyebut ballroom, atau delapan ratus orang, atau kata benalu.

Jam sembilan, Mbak Wati meneleponku dari HRD. Suaranya tidak seperti biasanya. Tidak riang. Tidak penuh gosip.

“Mas Aris,” katanya pelan. “Surat Mas sampai di meja saya.”

“Iya, Mbak.”

“Mas yakin?”

“Yakin, Mbak.”

Hening sebentar. Lalu Mbak Wati menghela napas.

“Bu Ambar minta suratnya diteruskan ke beliau dulu. Sebelum diproses. Katanya beliau mau tahan seminggu.”

“Kenapa, Mbak?”

“Katanya, dan saya kutip, Mas, ‘Saya nggak tanda tangan surat resign orang yang nyelametin tujuh puluh miliar uang perusahaan tanpa ngomong langsung sama dia dulu. Dan saya lagi di Surabaya sampai Jumat’.”

Aku menatap gambar krayon Kiki di sudut monitor. Om Termos tersenyum dengan huruf S terbalik.

“Iya, Mbak,” kataku. “Saya tunggu.”

“Mas Aris.”

“Iya, Mbak?”

“Saya minta maaf soal klasemen itu. Waktu saya kasih Mas enam persen.” Suara Mbak Wati sedikit pecah. “Saya salah hitung.”

Aku tersenyum ke layar monitor. “Nggak apa-apa, Mbak.”

“Jangan bilang nggak apa-apa,” katanya. “Mbak Monica bilang Mas suka ngomong gitu kalau lagi bohong.”

Ia menutup telepon.


Jam dua belas, aku turun ke lantai dua belas.

Bukan ke warung soto. Aku tidak ke warung soto hari ini. Aku tidak mau duduk di meja pojok yang kaki kanannya diganjal sandal jepit bekas dan melihat kursi-kursi yang kosong. Lucky tidak masuk kantor hari ini. Renata juga tidak. Monica, kata Dini, masuk tapi tidak keluar dari ruang arsip Legal sejak jam delapan pagi.

Evan ada di mejanya. Ia tidak sedang bekerja. Ia sedang menatap layar laptop yang gelap, dengan siku di atas meja dan dagu bertumpu di kepalan tangan.

Ia melihatku datang. Ia tidak bergerak.

“Ris.”

“Van.”

Aku meletakkan sesuatu di mejanya. Kotak bekal biru muda. Dua susun. Klip di keempat sisinya. Sudah kucuci bersih, kukeringkan, kuletakkan di dalam kantong plastik bersih.

Kotak bekal Monica. Yang ia bawa ke lantai tujuh dua kali. Yang kedua kalinya, dengan tulisan Ini buat yang bawa termos. Aku belum mengembalikannya. Aku menyimpannya di bawah meja kerjaku selama dua minggu. Aku tidak tahu kenapa.

Sekarang aku tahu kenapa. Karena kalau aku mengembalikannya, berarti selesai.

Evan menatap kotak itu. Lalu menatapku.

Aku mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang sudah kuucapkan ratusan kali sejak SMA. Kalimat yang mendefinisikan siapa aku. Kalimat yang dulu terasa ringan, sekarang terasa seperti batu di tenggorokan.

“Titip buat Evan, ya,” kataku. “Tolong balikin ke Mbak Monica.”

Evan tidak bergerak.

Lalu, pelan-pelan, wajahnya berubah. Dari bingung, ke tidak percaya, ke sesuatu yang sangat marah dan sangat sedih sekaligus.

“Lo bercanda,” katanya.

“Nggak, Van.”

“Lo. Bercanda.”

“Aku nggak bisa ke lantai sembilan, Van. Aku nggak bisa lihat dia.”

Evan berdiri. Kursinya terdorong ke belakang, menabrak meja di belakangnya. Beberapa staf Sales menoleh.

“Lo pikir gue mau jadi tukang pos lo?” Suaranya bergetar. “Sebelas tahun lo jadi tukang pos buat gue. Sebelas tahun lo nganterin surat-surat cewek ke gue. Dan sekarang, sekali-kalinya ada cewek yang nulis surat buat LO, lo mau gue yang balikin?”

“Van...”

“NGGAK.”

Lantai dua belas hening. Musik di speaker di sudut ruangan dimatikan seseorang.

Evan menatapku. Matanya merah. Napasnya cepat.

“Gue nggak mau,” katanya, lebih pelan. “Gue nggak mau jadi orang yang bikin lo nyerah. Gue nggak mau, Ris.”

Aku menatap kotak bekal biru di mejanya.

“Aku juga mau resign, Van,” kataku pelan.

Evan membeku.

“Udah kukirim tadi pagi. Bu Ambar tahan seminggu.” Aku tidak menatapnya. “Ada kerjaan di Singapura. Kontrak setahun. Dari klien yang udah lama kerja sama aku.”

“Klien apa? Lo kerja di Wiratama. Klien dari mana?”

Aku tidak menjawab.

Evan menatapku lama. Lalu ia duduk lagi di kursinya. Pelan. Seperti orang yang kakinya tiba-tiba tidak kuat menahan berat badannya.

“Lo mau pergi,” katanya. Bukan pertanyaan.

“Iya, Van.”

“Dari Jakarta. Dari Wiratama. Dari kita.”

“Dari semuanya.”

Evan menatap kotak bekal biru muda di mejanya. Lama sekali. Lalu, dengan tangan yang gemetar, ia mengambilnya. Memeluknya di dada. Seperti ibuku memeluk amplop cokelat.

“Oke,” katanya. Suaranya hampir tidak keluar. “Oke, Ris. Gue balikin.”

Ia menatapku. Air mata mengalir di pipinya.

“Tapi gue nggak bakal bilang lo yang nitip,” katanya. “Gue bakal bilang gue nemu di meja lo. Waktu lo udah pergi. Biar lo nggak bisa nyembunyiin diri di balik gue lagi.”

Aku menatapnya.

Lalu aku menepuk bahunya. Bahu kiri. Dua kali.

“Makasih, Van.”

“Jangan bilang makasih.” Evan menghapus air matanya dengan punggung tangan. “Lo bener-bener penyakit, Ris. Penyakit yang paling gue sayang.”

Aku berbalik dan berjalan ke arah lift.


Malam itu, aku duduk di teras rumah dengan ibuku.

Lampu kuning redup. Laron berputar. Di meja kecil di antara kami, helm putih dengan kertas tempel kuning masih di atasnya. Aku tidak memindahkannya. Ibuku juga tidak.

“Kamu mau ke mana?” tanya ibuku.

“Singapura, Bu. Kontrak setahun.”

“Ibu nggak nanya itu.”

Aku menoleh.

Ibuku menatapku dari kursinya. Matanya basah, tapi suaranya tenang.

“Sebelum kamu pergi,” katanya, “kamu mau ke mana dulu?”

Aku menatap laron yang berputar di bawah lampu.

Aku tidak tahu bagaimana ibuku selalu tahu. Mungkin karena ia mengenal mukaku sejak bayi. Mungkin karena ia sudah lima puluh sembilan tahun hidup di dunia dan tahu bahwa orang yang mau pergi jauh selalu ingin mengunjungi satu tempat dulu.

Tempat di mana semuanya dimulai.

“Ke curug, Bu,” kataku pelan. “Besok.”

Ibuku tidak bilang apa-apa. Ia hanya mengangguk. Lalu berdiri, masuk ke rumah, dan beberapa menit kemudian, aku mendengar suara laci lemari dibuka di kamarnya.

Laci tempat ia menyimpan amplop cokelat.

Aku tidak bertanya apa yang ia lakukan.

Aku hanya duduk di teras sampai tengah malam, menatap helm putih di atas meja, dan kertas tempel kuning yang bertuliskan Nanti aku ambil lagi.