← Dari Awal, Bukan Buat Evan

Chapter Four

Outing yang Tidak Ada Kolamnya

POV: Monica


Pengumuman outing datang lewat email hari Rabu, dan sampai hari Jumat, isi email itu sudah dibahas lebih serius daripada laporan keuangan kuartal tiga.

Team Building Lintas Divisi — Program Loyalitas Pelanggan. Sabtu–Minggu, Villa Kenanga, Puncak. Peserta: Divisi Legal, Data, Sales, Corporate Communications. Dress code: santai. Bawa baju renang.

“Baju renang,” kata Renata, membaca ulang email itu untuk kelima kalinya di meja makan apartemenku hari Jumat malam. “Mon. Baju renang.”

“Aku baca.”

“Kamu bawa yang mana?”

“Aku nggak renang.”

“Kamu jago renang. Kamu atlet renang waktu SMA.”

“Itu sepuluh tahun lalu.”

Renata menatapku dengan alis terangkat. Lalu matanya bergeser ke koper kecil di sudut ruang tamu yang sudah setengah terisi, dengan baju renang hitam terlipat rapi di paling atas.

“Itu buat jaga-jaga,” kataku.

“Jaga-jaga dari apa?”

“Dari... situasi.”

“Situasi yang ada di Divisi Data.”

Aku melempar bantal sofa ke arahnya. Ia menangkapnya dengan mudah, memeluknya, lalu tersenyum. Tapi senyumnya berhenti di bibir, tidak sampai ke mata. Akhir-akhir ini sering begitu. Renata tersenyum, tapi matanya sedang memikirkan hal lain.

“Ren.”

“Hm?”

“Kamu baik-baik aja?”

“Baik. Kenapa?”

“Kamu banyak nanya soal Aris minggu ini.”

“Karena kamu banyak ngomong soal Aris minggu ini.” Ia melempar bantal itu kembali padaku. “Aku sahabat yang baik. Aku dengerin.”

Itu benar. Jadi aku tidak bertanya lagi.


Villa Kenanga ternyata lebih mirip resort kecil daripada villa. Ada tiga bangunan utama dengan atap genteng merah, taman luas dengan rumput yang dipotong rapi, dan di tengahnya, sebuah kolam renang berbentuk huruf L. Bagian pendeknya dangkal, sepinggang orang dewasa. Bagian panjangnya makin dalam ke ujung, sampai dua setengah meter, dengan pancuran batu di pojok yang menyemburkan air.

Udara Puncak dingin, tapi matahari jam sepuluh pagi cukup terik untuk membuat orang-orang Sales langsung berganti baju dan terjun ke kolam sebelum acara pembukaan selesai.

Evan yang pertama. Tentu saja. Ia melepas kaus, memperlihatkan perut yang jelas tidak dibentuk dengan makan soto setiap hari, lalu melompat ke bagian dalam dengan gaya salto yang membuat setengah peserta perempuan bertepuk tangan.

“Pamer,” kata Lucky dari kursi santai di pinggir kolam. Ia memakai kemeja linen putih dan kacamata hitam, dan sama sekali tidak terlihat berniat basah.

“Bilang aja iri, Luck!”

“Gue nggak iri sama orang yang perutnya kotak-kotak tapi otaknya bulat.”

Renata, yang duduk di kursi sebelah Lucky karena kebetulan itu satu-satunya kursi kosong di bawah payung, tertawa keras. Lucky menoleh padanya dengan kening berkerut.

“Kamu siapa?”

“Renata. Corporate Communications.”

“Oh. Yang bikin press release ulang tahun perusahaan bulan lalu.”

“Iya, Pak.”

“Ada salah ketik di paragraf ketiga.”

Renata berhenti tertawa. “Itu sengaja, Pak.”

“Salah ketik nggak bisa sengaja.”

“Bisa, kalau buat ngetes siapa yang beneran baca sampai paragraf ketiga.”

Lucky menurunkan kacamata hitamnya dan menatap Renata untuk pertama kalinya dengan serius. Renata balas menatap dengan dagu terangkat. Aku memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua sebelum salah satu dari mereka menuntut yang lain ke pengadilan.

Lagi pula, aku sedang mencari seseorang.

Aku menemukannya di sudut paling jauh dari kolam, di bawah pohon kamboja, duduk di bangku batu dengan ransel hitam di pangkuan dan tumpukan tas orang lain di sebelahnya. Kaus abu-abu, celana pendek selutut, sandal jepit. Termos stainless yang sama berdiri di sampingnya.

Ia sedang menjaga tas.

Tidak ada yang memintanya. Aku yakin tidak ada yang memintanya. Tapi entah bagaimana, tas-tas itu, tas Evan, tas Pak Darto, tas tiga anak Sales yang namanya aku tidak tahu, sudah menumpuk di sebelahnya seperti ia adalah loker berjalan.

“Kamu nggak renang?” tanyaku sambil duduk di ujung bangku yang sama.

Aris menoleh. Ia tidak kaget, tapi ia juga tidak terlihat seperti orang yang berharap ditemani.

“Nggak, Mbak.”

“Kenapa?”

“Ada yang harus jaga tas.”

“Nggak ada yang nyuruh kamu jaga tas.”

“Nanti kalau hilang, repot.”

“Ini villa, Aris. Isinya cuma orang kantor kita.”

“Iya, Mbak.”

Ia tidak memberi alasan lain. Ia membuka termos dan menuang teh ke tutupnya. Kali ini ia tidak menawariku. Mungkin karena ia ingat wajahku waktu meminum teh tawar di warung soto.

Atau mungkin ia sedang memberi isyarat bahwa aku sebaiknya pergi.

Aku tidak pergi.

“Kamu bisa renang?”

Tangannya berhenti sebentar di udara, tutup termos setengah jalan ke bibir. Sebentar sekali. Kalau aku bukan orang yang dilatih memperhatikan detail selama lima tahun, mungkin aku tidak akan menyadarinya.

“Dulu bisa, Mbak.”

“Sekarang?”

“Sekarang nggak suka.”

Ia meminum tehnya. Matanya menatap kolam, ke arah bagian yang dalam, ke pancuran batu di pojok. Ada sesuatu di sana yang tidak bisa kubaca. Bukan takut. Lebih seperti orang yang sedang menatap rumah lama yang pernah terbakar.

Aku tidak bertanya lagi. Aku tahu kapan pintu sedang ditutup pelan-pelan di depan wajahku.

Jadi aku mengubah arah.

“Kaus abu-abu cocok buat kamu,” kataku.

Aris tersedak teh.

Ia batuk dua kali, menutup mulut dengan punggung tangan, lalu menatapku dengan mata sedikit berair.

“Maaf, Mbak?”

“Abu-abu. Cocok. Kamu biasanya pakai putih terus, kan? Putih bikin kamu kelihatan kayak mau sidang skripsi. Abu-abu bikin kamu kelihatan kayak...” Aku memiringkan kepala, menatapnya dari ujung rambut sampai ujung sandal jepit. “Kayak orang yang bisa diajak ngopi sore-sore.”

Aris menatapku. Lalu menatap kolam. Lalu menatapku lagi, dengan ekspresi yang sangat serius.

“Evan juga pakai abu-abu tadi pagi, Mbak. Sebelum dia buka baju.”

Aku menutup mata. Menghitung sampai lima.

“Saya nggak lagi ngomongin Evan, Aris.”

“Oh. Maaf, Mbak.”

“Kenapa kamu minta maaf?”

“Saya kira Mbak lagi latihan.”

Aku membuka mata. “Latihan apa?”

Aris membuka mulut, lalu menutupnya lagi dengan wajah orang yang sadar sudah keceplosan. Ia meletakkan tutup termos di bangku, merapikan tas Pak Darto yang tidak perlu dirapikan, lalu berkata pelan, “Nggak apa-apa, Mbak. Lupain aja.”

Latihan.

Aku menatap profil wajahnya dari samping. Garis rahangnya yang tidak setegas Lucky. Rambutnya yang dipotong pendek dan rapi, seperti dipotong tukang cukur langganan yang sama sejak SMA. Telinganya yang memerah sampai ke ujung.

Aku mulai mengerti sesuatu, tapi sebelum aku sempat menyusunnya menjadi kalimat, Aris tiba-tiba berdiri.

Cepat sekali. Bangku batu itu bergeser.

Ia tidak menatapku. Ia menatap kolam. Ke bagian dalam, ke pancuran batu di pojok.

“Van,” katanya.

Suaranya tidak keras. Tapi ada sesuatu di nadanya yang membuat bulu kudukku berdiri.

Lalu ia berteriak. Teriakan pertama yang pernah kudengar keluar dari mulut laki-laki ini.

“VAN! UJUNG DALAM! DI BAWAH PANCURAN! ADA ANAK!”


Semuanya terjadi dalam waktu yang terasa sangat lama dan sangat singkat sekaligus.

Evan, yang sedang mengapung di tengah kolam sambil bercanda dengan anak-anak Sales, menoleh ke arah suara Aris. Lalu menoleh ke arah pancuran. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia langsung menyelam.

Di bawah pancuran batu, di bagian kolam yang paling dalam, ada bayangan kecil berwarna merah muda di dasar air. Tidak bergerak.

Aku tidak melihatnya sampai Aris berteriak. Tidak ada yang melihatnya. Pancuran itu membuat permukaan air bergelombang dan berbuih, menyembunyikan apa pun yang ada di bawahnya.

Aris sudah berlari ke pinggir kolam. Ia tidak terjun. Ia berlutut di tepi kolam yang paling dekat dengan pancuran, tepat di tempat Evan akan muncul.

Dan ia mulai memberi perintah.

“Pak Darto! Panggil pengelola villa, minta kotak P3K sama handuk. Sekarang. Dini, telepon klinik terdekat, nomornya biasanya di papan dekat resepsionis. Yang lain mundur, kasih ruang.”

Suaranya tenang. Tidak ada getar. Tidak ada panik. Seperti ia sedang membaca daftar belanja.

Dan orang-orang bergerak. Pak Darto berlari ke bangunan utama. Dini berlari ke resepsionis. Anak-anak Sales yang berdiri bengong di pinggir kolam mundur dua langkah.

Evan muncul dari dalam air dengan seorang anak perempuan kecil di pelukannya. Baju renang merah muda. Rambut dikepang dua. Matanya terpejam. Bibirnya pucat.

“KIKI!”

Jeritan Mbak Wati terdengar dari teras villa. Ia berlari ke arah kolam dengan sandal terlepas sebelah.

Evan berenang ke pinggir dengan satu tangan. Aris mengulurkan tangannya.

Tangan kiri.

Ia menarik anak itu keluar dari air dengan tangan kiri, cepat dan hati-hati, sementara tangan kanannya menahan berat di bahunya dengan cara yang aneh, seperti sengaja tidak dipakai. Ia membaringkan Kiki di lantai batu di pinggir kolam, telentang.

Lalu ia mendekatkan telinganya ke mulut anak itu. Matanya menatap dada kecil yang tidak bergerak.

Dua detik. Tiga.

“Nggak napas,” katanya pelan, lebih pada dirinya sendiri.

Mbak Wati sampai di pinggir kolam dan langsung jatuh berlutut. “Kiki! Kiki, sayang, bangun, Nak!”

“Mbak Wati,” kata Aris tanpa menoleh. “Pegang tangannya. Ngomong terus ke dia. Jangan diguncang.”

Ia memiringkan kepala Kiki sedikit ke belakang, menyangga dagunya dengan dua jari. Menutup hidung kecil itu. Lalu memberikan dua napas buatan, pendek, pelan.

Dadaku sesak menontonnya.

Ia meletakkan dua jari di tengah dada Kiki dan mulai menekan. Cepat. Teratur. Bibirnya bergerak menghitung tanpa suara.

Tidak ada yang bersuara di sekitar kolam. Bahkan pancuran batu itu terdengar terlalu keras.

Dua napas lagi. Tekanan lagi.

Lalu Kiki terbatuk.

Air keluar dari mulutnya, banyak sekali untuk tubuh sekecil itu. Ia terbatuk lagi, lalu menangis. Menangis keras, melengking, tangisan anak lima tahun yang ketakutan dan kedinginan.

Itu suara paling indah yang pernah kudengar.

Aris langsung memiringkan tubuh Kiki ke samping, menahan punggungnya dengan tangan kiri supaya air bisa keluar. Ia mengusap punggung kecil itu pelan.

“Udah, udah. Pinter. Batuk aja, keluarin semua. Pinter.”

Mbak Wati memeluk anaknya sambil menangis. Pak Darto datang membawa handuk, dan Aris membungkus Kiki dengan handuk itu, lalu menyerahkannya ke pelukan ibunya.

“Tetap dibawa ke klinik ya, Mbak,” katanya. “Walaupun udah sadar. Kadang ada air yang masih di paru-paru, efeknya baru kerasa beberapa jam kemudian. Jangan dikasih tidur dulu sebelum diperiksa.”

Mbak Wati mengangguk berkali-kali, tidak bisa bicara.

Lalu orang-orang mulai bersuara. Tepuk tangan. Seseorang bersiul. Anak-anak Sales mengerubungi Evan yang masih berdiri di dalam kolam, basah kuyup dan napasnya terengah-engah.

“Mas Evan keren banget!”

“Mas Evan nyelamatin Kiki!”

“Gila, Mas Evan, kayak di film!”

Evan menoleh ke kanan-kiri, wajahnya bingung. “Bukan, bukan gue. Aris yang...”

Tapi suaranya tenggelam di antara tepuk tangan. Mbak Wati, dengan Kiki masih di pelukannya, menarik lengan Evan dan memeluknya sambil menangis.

“Makasih, Mas Evan. Makasih. Saya nggak tahu harus bilang apa.”

“Mbak, bukan saya, Mbak, yang lihat duluan itu...”

Aku menoleh ke tempat Aris tadi berlutut.

Kosong.


Aku menemukannya di belakang bangunan villa yang paling jauh, di dekat tempat parkir, duduk di tangga semen kecil di samping pintu dapur.

Ia sedang menatap tangannya sendiri.

Tangan itu gemetar.

Bukan gemetar sedikit. Gemetar hebat, seperti orang yang baru saja keluar dari air es. Ia menggenggam lutut dengan kedua tangan supaya gemetarnya berhenti, tapi tidak berhasil. Wajahnya pucat. Kaus abu-abunya basah di bagian dada, bekas memeluk Kiki.

Aku berhenti di ujung tangga. Ia mendengar langkahku dan mengangkat wajah. Ada sesuatu yang lewat di matanya, sesuatu yang dengan cepat ia sembunyikan, seperti orang menutup pintu kamar yang berantakan sebelum tamu masuk.

“Mbak,” katanya. Suaranya sedikit serak. “Kikinya udah dibawa ke klinik?”

“Udah. Lucky yang nyetir. Mbak Wati ikut.”

“Syukurlah.”

“Aris.”

“Saya nggak apa-apa, Mbak.”

“Saya belum nanya apa-apa.”

Ia tersenyum kecil, tapi senyum itu tidak bertahan. Tangannya masih gemetar di atas lutut.

Aku tidak duduk di sebelahnya. Aku tahu, entah bagaimana, kalau aku terlalu dekat sekarang, ia akan berdiri dan pergi lagi. Ke arah yang salah, seperti biasa.

Jadi aku berbalik dan masuk ke dapur villa lewat pintu samping.

Dapurnya kosong. Ada termos air panas di meja, sekotak teh celup, gula pasir dalam toples. Aku mengambil gelas, memasukkan satu kantong teh, menuang air panas. Aku menatap toples gula sebentar.

Lalu tidak menyentuhnya.

Aku keluar lagi dan menyodorkan gelas itu padanya.

“Teh,” kataku. “Tawar.”

Aris menatap gelas itu, lalu menatapku. Lama.

“Mbak nggak suka teh tawar.”

“Saya lagi belajar.”

Ia menerimanya. Dengan dua tangan, karena satu tangan tidak cukup untuk menahan gemetarnya. Ia meniup teh itu, menyesapnya pelan.

Aku berdiri di ujung tangga, bersandar ke dinding semen. Kami tidak bicara. Dari kejauhan terdengar suara orang-orang di kolam, sudah kembali ramai, sudah kembali tertawa. Seseorang menyalakan musik dangdut dari speaker portabel.

Setelah tiga teguk, tangan Aris mulai tenang.

“Saya nggak suka air, Mbak,” katanya akhirnya, pelan, ke dalam gelas teh.

“Saya tahu.”

“Dari mana?”

“Kamu duduk di bangku paling jauh dari kolam. Kamu jaga tas yang nggak perlu dijaga. Dan kamu bilang ‘dulu bisa’.”

Ia tertawa kecil. Tawa yang lebih mirip napas.

“Mbak pengacara, ya.”

“Legal officer.”

“Sama aja.”

Aku tersenyum. Ia juga.

“Kamu tadi hebat,” kataku.

“Evan yang nyelam, Mbak.”

“Kamu yang lihat. Nggak ada orang lain yang lihat. Kamu yang tahu posisinya, kamu yang tahu harus ngapain. Kamu kasih napas buatan, kamu...”

“Evan yang nyelam,” ulangnya. Lembut, tapi tegas. Seperti menutup pintu lagi.

“Kenapa kamu nggak mau orang tahu?”

Aris tidak menjawab. Ia menatap gelas tehnya yang tinggal setengah.

“Mereka tepuk tangan buat Evan,” kataku. “Mbak Wati meluk Evan. Mereka semua kira Evan pahlawannya.”

“Evan memang pahlawannya, Mbak.” Ia mengangkat wajah dan menatapku, dan untuk pertama kalinya, aku melihat matanya dengan jelas. Cokelat tua. Tenang. Ada lelah yang sangat lama di dalamnya. “Saya nggak bisa nyelam. Kalau Evan nggak ada di kolam, Kiki...”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Tangan kanannya, yang sejak tadi diam, terangkat sedikit, lalu turun lagi ke lutut. Seperti ingin melakukan sesuatu, tapi tidak bisa.

Aku menatap tangan itu. Lalu bahunya. Lalu teringat cara ia menarik Kiki dari air dengan tangan kiri saja. Cara ia tidak mengangkat tangan waktu pemungutan suara. Cara Lucky selalu menepuk bahu kirinya, tidak pernah yang kanan.

Ada cerita di sini. Cerita yang panjang dan sudah lama dikunci.

Aku tidak mengetuk pintunya hari ini.

“Oke,” kataku. “Evan pahlawannya.”

Aris mengangguk, lega.

“Tapi Aris.”

“Iya, Mbak?”

“Saya lihat siapa yang lihat duluan.”

Ia menatapku. Aku menatapnya balik. Musik dangdut dari kolam berganti lagu, dan seseorang ikut bernyanyi dengan suara sumbang.

Lalu dari ujung bangunan, terdengar langkah kaki tergesa dan suara yang sangat keras.

“RIS! RIS, LO DI MANA? GUE NGGAK MAU DIPELUK-PELUK TERUS, BILANG KE MEREKA BUKAN GUE YANG...”

Evan muncul di ujung tangga dengan handuk di leher dan rambut basah yang menetes. Ia berhenti mendadak melihatku.

Ia menatapku. Menatap Aris. Menatap gelas teh di tangan Aris. Menatapku lagi.

“Oh,” katanya. “Oh. Maaf. Gue ganggu?”

“Nggak, Van,” kata Aris cepat, berdiri dan menyerahkan gelas teh itu padaku. “Mbak Monica nyariin kamu dari tadi.”

Aku menatap Aris.

Evan menatap Aris.

Aris menepuk bahu Evan dengan tangan kirinya, tersenyum seperti orang yang baru saja menyelesaikan tugas penting, lalu berjalan kembali ke arah kolam.

Ke arah yang salah. Lagi.

Evan menatap punggung Aris sampai menghilang di tikungan. Lalu ia menatapku dengan wajah yang belum pernah kulihat sebelumnya. Bukan wajah iklan pasta gigi. Wajah orang yang baru menyadari sesuatu yang sangat penting, dan sangat, sangat lucu.

“Mbak Monica,” katanya pelan. “Mbak nyariin saya?”

Aku menatap gelas teh tawar di tanganku. Tinggal setengah. Masih hangat.

“Nggak, Van.”

Evan diam sebentar. Lalu tersenyum. Pelan. Lebar. Sampai ke mata.

“Iya,” katanya. “Saya juga udah curiga.”