Chapter Twenty Two
Yang Tadi Meleset
POV: Aris
Sabtu pagi, aku mengantar seragam sekolah bersama ibuku.
Itu bukan bohong. Ibuku memang punya pesanan banyak minggu ini. Empat puluh dua seragam putih abu-abu dari SMA negeri di Pondok Kelapa, yang harus dipermak sebelum hari Senin karena kepala sekolahnya baru mengganti aturan panjang rok. Semuanya sudah selesai Jumat malam, dilipat rapi, dimasukkan ke tiga karung plastik besar berwarna putih.
Aku menaikkan karung-karung itu ke motor. Satu di depan, di antara kakiku. Dua di jok belakang, diikat dengan tali karet. Ibuku duduk menyamping di atas salah satu karung, memegang pinggangku dengan satu tangan dan memegang tas kain berisi buku catatan pesanan dengan tangan yang lain.
“Pelan-pelan, Ris.”
“Iya, Bu.”
“Kemarin kamu bawa Monica pelan banget. Ibu dengar dari Pak Udin.”
“Ibu kenal Pak Udin?”
“Ibu kenal semua orang yang kenal kamu.”
Aku menyalakan mesin. Motor bebek itu mengerang di bawah beban empat puluh dua seragam dan satu ibu, lalu berjalan pelan menyusuri gang.
Di jalan menuju Pondok Kelapa, ibuku diam. Lama. Lalu, di lampu merah Kalimalang, dengan suara yang hampir tenggelam oleh deru knalpot angkot di sebelah kami, ia bicara.
“Kamu suka dia.”
Bukan pertanyaan.
Lampu merah. Angka di tiang lampu lalu lintas menghitung mundur. Empat puluh lima. Empat puluh empat.
“Iya, Bu,” kataku.
Aku tidak tahu kenapa aku mengakuinya semudah itu. Mungkin karena ibuku tidak menatap wajahku. Mungkin karena kami sedang di atas motor, di lampu merah, di antara angkot dan truk dan pedagang asongan, dan kalimat itu terasa lebih ringan diucapkan di tempat yang ramai.
Ibuku diam sebentar. Lalu tangannya di pinggangku menepuk-nepuk. Pelan. Dua kali.
“Terus kenapa diem?”
“Nggak diem, Bu.”
“Kamu diem, Ris. Dia ngejar kamu kayak orang kebakaran jenggot, dan kamu diem kayak tiang listrik.”
Tiga puluh. Dua puluh sembilan.
“Dia pantas dapat yang lebih baik, Bu.”
Tangan ibuku berhenti menepuk.
“Lebih baik kayak apa?”
“Yang... kelihatan, Bu. Yang bisa berdiri di sebelahnya di kondangan, di depan direktur, di depan ibunya Lucky, tanpa orang nanya kenapa.” Aku menatap angka di lampu lalu lintas. Dua puluh. Sembilan belas. “Kemarin di kondangan, Bu Ratna lihat aku kayak lihat... kayak lihat orang yang nyasar ke pesta.”
“Bu Ratna itu lihat semua orang kayak gitu, Ris. Kecuali anaknya sendiri.”
“Tapi Monica nggak boleh dilihat kayak gitu, Bu. Gara-gara aku.”
Ibuku tidak langsung menjawab.
Sepuluh. Sembilan. Delapan.
“Bapakmu dulu,” katanya akhirnya, “juga ngomong kayak gitu ke Ibu.”
Aku menoleh sedikit. Ibuku tidak pernah membicarakan ayahku kalau tidak ditanya. Ayahku meninggal waktu aku kelas dua SMP. Serangan jantung, sebulan setelah usaha konveksinya bangkrut dan teman-temannya, yang dulu datang setiap minggu untuk pinjam uang, berhenti datang.
“Bapakmu bilang, ‘Sum, kamu pantas dapat yang lebih baik dari tukang jahit kayak aku’.” Ibuku tertawa pelan. “Waktu itu dia cuma punya satu mesin jahit pinjeman sama satu kemeja yang tiap hari dipakai.”
Tiga. Dua.
“Terus Ibu jawab apa?”
“Ibu bilang, ‘Yang pantas dapat apa itu Ibu yang tentuin. Bukan kamu’.”
Satu.
Lampu berubah hijau. Angkot di sebelah kami membunyikan klakson panjang. Aku menjalankan motor pelan-pelan, dengan empat puluh dua seragam dan satu ibu di belakang.
“Untung Ibu bandel,” kata ibuku, ke punggungku, dengan suara yang hampir tenggelam oleh angin. “Kalau Ibu nurut sama Bapakmu, kamu nggak bakal ada.”
Aku tidak menjawab. Mataku panas. Mungkin karena debu Kalimalang.
“Monica itu bandel, Ris,” kata ibuku. “Ibu bisa lihat dari cara dia goreng tempe empat kali. Orang yang goreng tempe sampai empat kali nggak bakal nurut kalau dibilang dia pantas dapat yang lebih baik.”
Grup Tukang Pos & Para Penerima Surat penuh foto sepanjang Sabtu siang.
Evan mengirim foto pantai Anyer. Pasir putih, laut biru, langit tanpa awan. Foto Lucky yang memakai topi pantai lebar dan kacamata hitam, berdiri kaku di depan villa seperti model brosur properti. Foto Renata yang tertawa, kaki di air, rok panjangnya diangkat sedikit supaya tidak basah. Foto ikan bakar di atas panggangan, dengan tulisan Evan di bawahnya: IKAN ASIN BUAT BU SUMI UDAH DIBELI. TIGA KILO.
Lalu, jam tiga sore, sebuah foto yang membuatku berhenti di tengah jalan pulang dari Pondok Kelapa.
Lucky dan Renata, duduk di pasir, menghadap laut. Difoto dari belakang. Tangan Lucky di bahu Renata. Kepala Renata bersandar di bahu Lucky.
Evan: Gue jadi obat nyamuk di sini, Ris.
Evan: Lo sama Monica nggak ikut, gue jadi obat nyamuk SENDIRIAN.
Evan: Ini kekejaman.
Lucky: Lo yang ngusulin Anyer.
Evan: Gue nyesel.
Aku tersenyum ke layar ponsel di pinggir jalan Kalimalang, dengan ibuku menunggu di jok belakang.
Lalu satu pesan lagi masuk. Bukan dari grup.
Dari Monica.
Kamu di mana?
Di jalan, Mbak. Pulang dari antar seragam.
Abis itu ada acara?
Nggak ada, Mbak.
Tiga titik. Lalu:
Aku di kantor. Atap gedung. Lantai dua puluh lima.
Mbak ngapain di kantor hari Sabtu?
Lembur.
Draf Lintas Nusa udah selesai Jumat, Mbak. Saya lihat di grup.
Jeda. Lama.
Oke. Aku nggak lembur.
Aku cuma di atap. Sendirian. Ada yang mau aku tanyain.
Kamu bisa ke sini?
Aku menatap pesan itu. Ibuku, di jok belakang, membaca layar ponselku dari balik bahuku tanpa sedikit pun rasa malu.
“Antar Ibu pulang dulu,” katanya. “Terus ganti baju. Kemeja yang biru.”
Atap Wiratama Tower di lantai dua puluh lima tidak seharusnya bisa diakses karyawan.
Ada pintu besi berat di ujung tangga darurat dengan papan KHUSUS PETUGAS. Biasanya dikunci. Hari itu tidak dikunci. Aku tidak tahu siapa yang membukanya. Aku curiga Pak Udin, yang hari itu kebetulan dapat shift Sabtu dan yang menyapaku di basement dengan senyum sangat lebar sambil berkata, “Atap, ya, Mas? Pintunya udah saya buka. Hati-hati, anginnya kenceng.”
Monica duduk di pinggir atap, di atas kotak beton bekas unit pendingin udara, menghadap ke barat.
Matahari sedang turun. Langit Jakarta berwarna jingga bercampur ungu, dengan lapisan polusi tipis yang membuat warnanya lebih dramatis dari seharusnya. Gedung-gedung Kuningan dan Sudirman berjajar seperti deretan gigi raksasa, kaca-kacanya memantulkan cahaya matahari terakhir.
Ia memakai kaus putih dan celana jins, rambut tergerai, ditiup angin ke satu arah. Tanpa blazer. Tanpa riasan berat. Hanya lipstik nude dan kacamata hitam yang diselipkan di kerah kaus.
Ia menoleh waktu mendengar pintu besi terbuka.
“Kamu pakai kemeja biru,” katanya.
“Ibu saya yang suruh, Mbak.”
“Ibu kamu pinter.”
“Iya, Mbak.”
Ia menepuk tempat kosong di sebelahnya di atas kotak beton. Aku duduk. Tidak terlalu dekat. Tapi juga tidak terlalu jauh. Kira-kira setengah lengan.
Kami diam. Menonton matahari turun. Angin di atap kencang, membawa suara kota dari jauh. Klakson. Sirene. Musik dari entah mana.
“Evan kirim foto,” kata Monica akhirnya.
“Iya, Mbak. Lucky sama Renata.”
“Lucky kelihatan bahagia.”
“Iya, Mbak.”
“Renata juga.” Ia diam sebentar. “Kayaknya.”
Aku menoleh. Ia menatap matahari, tapi keningnya sedikit berkerut.
“Mbak khawatir sama Renata?”
“Dia nyimpen sesuatu. Udah berminggu-minggu. Aku sahabatnya dari kelas sepuluh, Aris. Aku tahu kalau dia nyimpen sesuatu.” Monica menarik lututnya ke dada dan memeluknya. “Tapi dia nggak mau cerita. Dan dia bilang maaf ke aku di kondangan. Maaf buat apa?”
“Mungkin nanti dia cerita, Mbak. Kata Ibu saya, orang yang bawa beban berat nanti juga cerita kalau udah nggak kuat.”
Monica menoleh menatapku. Lalu tersenyum kecil.
“Ibu kamu bijak.”
“Ibu saya bandel, Mbak. Katanya.”
“Siapa yang bilang?”
“Ibu saya sendiri. Tadi pagi.”
Monica tertawa. Angin meniup rambutnya ke wajah, dan ia menyelipkannya ke belakang telinga dengan jari.
Matahari tinggal setengah di cakrawala.
“Aris,” katanya.
“Iya, Mbak?”
“Aku mau nanya sesuatu.”
Aku menunggu.
Ia tidak langsung bertanya. Ia menatap matahari yang terus turun, sampai tinggal sepertiga, sampai seperempat. Tangannya memeluk lutut sedikit lebih erat.
“Kalau aku bilang,” katanya pelan, “aku suka kamu...”
Angin berhenti. Atau mungkin aku yang berhenti mendengar angin.
“...kamu bakal nyuruh aku ngomong ke Evan lagi?”
Aku menatapnya.
Matahari tinggal sedikit lagi. Garis jingga tipis di antara dua gedung di kejauhan.
Sebulan lalu, aku akan menjawab Iya, Mbak. Aku akan menyusun teori. Aku akan bilang Evan baik, Evan ganteng, Evan single. Aku akan membuka spreadsheet dan menghitung peluang.
Dua minggu lalu, aku akan menjawab Mbak lagi latihan atau Mbak mau bikin Evan cemburu.
Sekarang.
“Nggak, Mbak,” kataku.
Monica menoleh. Cepat. Matanya membesar.
“Nggak?”
“Nggak,” ulangku, lebih pelan. “Saya nggak bakal nyuruh Mbak ngomong ke Evan.”
Ia menatapku. Lama. Napasnya terdengar sedikit lebih cepat dari tadi.
“Terus?” tanyanya. Suaranya hampir berbisik. “Terus kamu bakal ngapain?”
Aku membuka mulut.
Dan tidak ada yang keluar.
Aku tidak tahu jawabannya. Tidak ada teori untuk ini. Tidak ada spreadsheet. Tidak ada kolom. Hanya ruangan kosong yang sangat luas di kepalaku, ruangan yang kutemukan di basement gedung resepsi seminggu lalu, dengan satu kalimat di tengahnya yang belum berani kuucapkan keras-keras.
Dan di sebelah kalimat itu, kalimat lain yang lebih tua, yang lebih keras, yang sudah menemaniku sejak SMA.
Dia pantas dapat yang lebih baik.
Aku menutup mulut. Menatap matahari yang tinggal garis tipis.
“Saya nggak tahu, Mbak,” kataku akhirnya.
Hening.
Aku menunggu Monica kecewa. Aku menunggu ia menghela napas, berdiri, dan pergi. Aku sudah siap. Aku sudah terbiasa.
Ia tidak pergi.
Ia bergeser. Setengah lengan menjadi seperempat lengan. Lalu tidak ada jarak sama sekali. Bahunya menempel di bahu kiriku.
Lalu ia memiringkan kepala, dan menciumku.
Tidak di pipi. Tidak juga di bibir. Di antara keduanya. Di sudut bibirku, tepat di tempat bibir bertemu pipi, di tempat lesung pipiku biasa muncul kalau aku tersenyum. Ciuman yang pelan. Sedikit lebih lama dari ciuman di basement kemarin. Bibirnya hangat, sedikit kering karena angin, dan terasa seperti teh tawar.
Ia menarik diri.
Aku tidak bisa bergerak. Aku tidak bisa bernapas. Matahari sudah tenggelam sepenuhnya, dan langit Jakarta berubah dari jingga menjadi ungu tua, dan lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu seperti bintang yang turun terlalu rendah.
Monica menatapku dari jarak yang sangat dekat. Matanya basah, tapi ia tersenyum.
“Yang tadi meleset,” katanya pelan.
Aku menatapnya.
“Yang nanti nggak.”
Kami turun dari atap jam tujuh malam. Tidak banyak bicara. Di tangga darurat, Monica berjalan di depan, dan sesekali ia menoleh untuk memastikan aku masih di belakangnya, seperti orang yang takut barang bawaannya kabur.
Aku tidak kabur. Aku tidak tahu harus kabur ke mana.
Di basement B2, di samping sedan putihnya, ia berhenti.
“Selasa malam,” katanya.
“Selasa malam, Mbak?”
“Wedang ronde Pak Kardi. Jam tujuh.” Ia membuka pintu mobilnya, lalu menatapku dari balik pintu. “Aku mau ngomong sesuatu. Sesuatu yang serius. Dan kamu harus jawab.”
“Jawab apa, Mbak?”
“Jawab yang jujur. Bukan teori. Bukan ‘saya nggak tahu’.” Ia menatapku lurus. “Kamu punya waktu tiga hari buat tahu.”
Ia masuk ke mobil dan pergi.
Aku berdiri di basement B2, di tempat mobilnya tadi diparkir, dan menyentuh sudut bibirku dengan ujung jari.
Masih terasa.
Malam itu, aku membuka laptop.
Bukan Proyek_ME_v2.xlsx. Aku membuka dashboard. Portofolio. Angka di pojok kanan atas layar, yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun selain ibuku.
Rp20.418.336.904
Aku menatap angka itu lama.
Aku bisa memberi tahu Monica. Selasa malam, di wedang ronde Pak Kardi. Aku bisa bilang, Mbak, saya bukan cuma staf data dengan motor bebek. Saya punya ini. Dan mungkin semuanya akan jadi lebih mudah. Mungkin Bu Ratna akan berhenti menatapku seperti orang yang nyasar ke pesta. Mungkin Pak Reza akan berhenti menyebutku titipan. Mungkin aku bisa berdiri di sebelah Monica di kondangan mana pun, di depan direktur mana pun, tanpa ada yang bertanya kenapa.
Tapi kalau aku melakukan itu, aku tidak akan pernah tahu.
Aku tidak akan pernah tahu apakah perempuan yang menggoreng tempe empat kali, yang menggunting kancing blazernya sendiri, yang menggandeng lenganku di depan Pak Reza dan berdiri di depanku di depan Bu Ratna, memilih aku karena aku. Atau karena angka itu.
Ayahku punya teman-teman yang datang setiap minggu waktu usahanya jalan. Mereka menyebut ayahku saudara. Mereka makan di rumah kami, tertawa di teras kami, memeluk ayahku setiap kali pulang.
Waktu usaha ayahku bangkrut, tidak satu pun dari mereka datang ke pemakamannya.
Aku menutup dashboard.
Monica tidak tahu soal angka itu. Monica mengejar laki-laki dengan motor bebek berumur dua belas tahun, kemeja tiga biji, dan bahu yang tidak bisa diangkat. Ia mengejar laki-laki itu dengan sungguh-sungguh, dengan berani, dengan cara yang membuat Pak Udin menjatuhkan korannya dan Dini menjerit di ruang rapat.
Tapi justru karena itu.
Justru karena ia mengejar laki-laki itu, ia pantas mendapatkan yang lebih baik dari laki-laki itu.
Aku menatap langit-langit, noda bocor berbentuk peta Kalimantan, dan menyadari bahwa dua kalimat di kepalaku sekarang berdiri berhadapan seperti dua petinju di atas ring.
Aku suka dia.
Dia pantas dapat yang lebih baik.
Aku punya waktu tiga hari untuk tahu mana yang menang.
Dari ruang tamu, terdengar suara mesin jahit ibuku. Pelan. Teratur. Ia sedang menjahit sesuatu dengan benang Jepang. Aku tidak tahu apa. Aku tidak bertanya.
Aku memejamkan mata, dan merasakan sudut bibirku yang masih hangat.
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset reading
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan