Chapter Five
Klausul Nomor Tujuh
POV: Aris
Senin pagi setelah outing, ada selembar kertas gambar menempel di monitorku dengan selotip.
Gambar krayon. Seorang laki-laki berbentuk tongkat dengan rambut hitam pendek dan kaus abu-abu, berdiri di samping kolam biru. Di tangannya ada benda silinder berwarna perak. Di sebelahnya, seorang anak perempuan kecil berbaju merah muda dengan kepang dua, tersenyum lebar. Di bagian atas kertas, dengan huruf besar-besar yang miring ke kanan, ditulis:
MAKASI OM TERMOS
Huruf S-nya terbalik.
Aku menatap gambar itu lama.
“Mbak Wati yang nempel tadi pagi,” kata Dini dari meja sebelah, tanpa mengalihkan pandangan dari layarnya. “Katanya Kiki maksa. Katanya Kiki udah bilang dari kemarin ke semua orang yang nolongin dia itu ‘Om Termos’, bukan Om yang renang.”
“Kikinya gimana?”
“Udah sehat. Kemarin diperiksa di klinik, paru-parunya bersih. Dokternya bilang pertolongan pertamanya bagus banget, makanya nggak ada air yang ketinggalan.” Dini akhirnya menoleh. “Mbak Wati awalnya ngira ‘Om Termos’ itu Mas Evan. Soalnya Mas Evan pernah bawa termos ke kantor.”
“Evan nggak pernah bawa termos.”
“Pernah. Sekali. Termos Mas Aris yang ketinggalan di mobilnya.”
Aku tertawa. Dini tidak.
“Terus Kiki nangis,” lanjut Dini, “karena katanya ibunya nggak percaya. Terus Kiki gambar ini, terus Mbak Wati tanya-tanya ke anak Sales, terus Mas Evan sendiri yang bilang di grup kantor kalau yang ngasih napas buatan itu Mas Aris.”
“Evan ngomong di grup kantor?”
“Pakai huruf kapital semua, Mas. Tiga paragraf.”
Aku menyandarkan punggung ke kursi. Gambar itu masih menempel di monitorku. Om Termos.
Aku seharusnya merasa terganggu. Aku tidak suka jadi bahan pembicaraan. Tapi anak kecil dengan kepang dua itu tersenyum lebar di gambarnya, dan huruf S-nya terbalik, dan entah kenapa aku tidak sanggup mencabut kertas itu dari monitor.
Jadi aku membiarkannya di sana.
Jam sepuluh lewat sedikit, pintu kaca Divisi Data terbuka dan suhu ruangan seperti turun dua derajat lagi.
Bukan karena AC. Karena semua orang di lantai tujuh mendadak berhenti mengetik.
Monica berjalan masuk dengan setumpuk dokumen tebal di pelukan, blazer biru dongker, dan langkah yang tidak ragu sedikit pun. Ia tidak bertanya ke resepsionis lantai. Ia tidak celingukan mencari meja. Ia langsung berjalan ke arahku, seperti sudah hafal denah lantai ini.
Pak Darto, di balik kupluk rajutnya, pura-pura membetulkan kabel di bawah meja. Kepalanya terbentur meja. Ia tidak mengeluh.
“Pagi, Aris,” kata Monica.
“Pagi, Mbak.”
Ia meletakkan tumpukan dokumen itu di mejaku. Lalu matanya jatuh ke gambar krayon di monitor.
Ia diam sebentar. Bibirnya bergerak, membaca tulisan miring itu tanpa suara. Makasi Om Termos. Lalu ia tersenyum, senyum yang berbeda dari biasanya. Lebih kecil. Lebih lembut.
“Huruf S-nya kebalik,” katanya.
“Iya, Mbak.”
“Kamu nggak copot?”
“Nanti Kiki sedih.”
“Kiki nggak bakal tahu.”
“Tetap aja, Mbak.”
Monica menatapku sebentar, lalu duduk di kursi kosong di sebelah mejaku, kursi Dini, karena Dini entah sejak kapan sudah berdiri di dekat dispenser air di ujung ruangan, pura-pura sibuk mengisi botol minum yang sudah penuh.
“Saya butuh bantuan kamu,” kata Monica.
“Bantuan apa, Mbak?”
Ia menepuk tumpukan dokumen itu. Tebalnya mungkin dua ratus halaman. Di sampulnya tertulis Perjanjian Kerja Sama Penyediaan Platform Manajemen Data Pelanggan — PT Wiratama Group dan PT Sinergi Datacloud Nusantara.
“Kontrak vendor,” katanya. “Platform CRM baru buat program loyalitas. Nilainya tiga puluh dua miliar untuk lima tahun. Tim Legal udah review dua minggu. Mau ditandatangani hari Kamis.”
“Terus?”
“Terus saya nggak ngerti setengah isinya. Banyak istilah teknis soal data. Migrasi, enkripsi, retensi, API, apalah itu.” Ia mendorong dokumen itu sedikit lebih dekat ke arahku. “Kamu orang data. Kamu ngerti.”
“Mbak bisa minta review resmi dari Divisi Data. Lewat Pak Reza.”
“Saya udah minta. Pak Reza bilang dia baca ringkasannya dan nggak ada masalah.”
“Kalau gitu...”
“Ringkasannya cuma tiga halaman, Aris.” Monica menatapku. “Kontraknya dua ratus dua belas.”
Aku menatap dokumen itu. Lalu menatap ruangan kaca Pak Reza di ujung lantai. Pintunya tertutup. Lampunya menyala.
“Oke, Mbak,” kataku. “Bagian mana yang Mbak nggak ngerti?”
Monica membuka dokumen itu ke halaman yang sudah ditandai dengan penanda kertas kuning. Lalu ia menggeser kursinya lebih dekat. Cukup dekat sampai lengan blazernya hampir menyentuh lenganku.
“Bacain,” katanya.
“Maaf, Mbak?”
“Bacain klausulnya. Pelan-pelan.” Ia menopang dagu dengan satu tangan, menatapku, bukan dokumennya. “Saya suka suara kamu kalau lagi serius.”
Di ujung ruangan, Dini menjatuhkan botol minumnya.
Aku menatap halaman di depanku dan berusaha keras mengingat bagaimana caranya membaca.
Ia sedang menguji. Pasti. Ia ingin melihat apakah aku benar-benar mengerti isi kontrak atau cuma pura-pura. Orang Legal memang suka menguji. Evan pernah cerita, waktu ia negosiasi kontrak distributor tahun lalu, orang Legal menyuruhnya membacakan ulang seluruh pasal penalti dengan suara keras untuk memastikan ia benar-benar paham.
Itu masuk akal.
Aku berdeham dan mulai membaca.
“Pasal tujuh. Kepemilikan dan Pengelolaan Data. Ayat satu. Seluruh data pelanggan yang diunggah oleh Pihak Pertama ke dalam Platform tetap menjadi milik Pihak Pertama...”
Aku membaca pelan. Satu ayat, dua ayat. Monica tidak menyela. Ia hanya mendengarkan, kepalanya miring sedikit, matanya setengah terpejam.
Di ayat lima, aku berhenti.
“Kenapa berhenti?” tanya Monica.
“Bentar, Mbak.”
Aku membaca ulang ayat itu. Lalu membaca lagi, kali ini dalam hati.
Ayat 5: Dalam hal Perjanjian ini berakhir karena sebab apa pun, Pihak Kedua akan memfasilitasi pengembalian data kepada Pihak Pertama sesuai dengan prosedur dan ketentuan biaya sebagaimana tercantum dalam Lampiran C.
“Lampiran C ada di mana, Mbak?”
Monica mengerjapkan mata, seperti baru bangun. “Di belakang. Halaman seratus delapan puluhan.”
Aku membalik halaman. Lampiran A, spesifikasi teknis. Lampiran B, jadwal implementasi. Lampiran C, Struktur Biaya Layanan Tambahan.
Tabelnya panjang. Biaya pelatihan, biaya kustomisasi, biaya dukungan teknis di luar jam kerja. Dan di baris paling bawah, dengan huruf yang ukurannya sedikit lebih kecil dari baris lainnya:
Ekspor dan migrasi data keluar Platform (data egress): Rp3.500 per rekam data pelanggan.
Aku menatap angka itu. Lalu membuka laptop.
“Aris?”
“Bentar, Mbak.”
Aku masuk ke dashboard internal, membuka laporan jumlah pelanggan aktif program loyalitas yang kukerjakan bulan lalu. Empat juta dua ratus ribu rekam data. Dengan proyeksi pertumbuhan dua belas persen per tahun selama lima tahun, ditambah data transaksi historis yang juga dihitung sebagai rekam terpisah sesuai definisi di Lampiran A halaman tiga puluh satu...
Aku mengetik angka-angka itu di kalkulator.
Lalu aku memutar laptop ke arah Monica.
“Kalau kita mau pindah vendor setelah kontrak selesai,” kataku, “atau kalau kontraknya putus di tengah jalan, kita harus bayar segini buat ambil data kita sendiri.”
Monica menatap layar.
Senyumnya hilang.
Rp52.817.400.000
“Ini salah hitung,” katanya pelan.
“Nggak, Mbak. Saya udah hitung dua kali.”
“Lima puluh dua miliar.”
“Untuk data milik kita sendiri. Yang kita kasih ke mereka.”
“Kontraknya cuma tiga puluh dua miliar.”
“Iya, Mbak. Biaya keluarnya lebih mahal dari biaya masuknya.”
Monica menatap layar itu, lalu menatap dokumen, lalu menatap layar lagi. Wajahnya berubah. Pelan-pelan, warna di pipinya naik, tapi bukan karena malu. Karena marah.
“Ini jebakan,” katanya.
“Bisa jadi. Bisa jadi juga kelalaian. Tapi ada satu lagi, Mbak.”
Aku membalik dokumen ke Pasal Tujuh lagi, ke ayat delapan, yang belum sempat kubaca keras-keras.
Ayat 8: Pihak Kedua berhak menggunakan data agregat dan teranonimkan yang dihasilkan dari penggunaan Platform untuk keperluan pengembangan produk dan layanan Pihak Kedua.
“Data agregat dan teranonimkan,” kataku. “Kedengarannya aman. Tapi Lampiran A halaman dua puluh tujuh, definisi ‘teranonimkan’ di kontrak ini cuma menghapus nama dan nomor telepon. Alamat, tanggal lahir, riwayat belanja, semuanya masih ada. Dengan tiga data itu, orang bisa dilacak lagi dengan gampang. Kalau ada kebocoran, atau kalau mereka jual data ini ke pihak lain sebagai ‘data produk’, kita yang kena masalah perlindungan data pribadi. Bukan mereka. Kita pengendali datanya.”
Monica diam lama.
Lalu ia mengambil pulpen dari saku blazernya, membuka buku catatannya, dan mulai menulis cepat.
“Halaman dua puluh tujuh,” katanya sambil menulis. “Definisi anonimisasi. Lampiran C baris terakhir. Pasal tujuh ayat lima dan delapan. Ada lagi?”
“Pasal empat belas ayat dua, batas tanggung jawab vendor kalau terjadi kebocoran cuma tiga bulan nilai kontrak. Itu kecil banget, Mbak, dibanding potensi denda.”
Ia menulis.
“Pasal sembilan belas, mereka boleh ganti subkontraktor penyimpanan data tanpa pemberitahuan ke kita. Server-nya bisa pindah ke negara lain tanpa kita tahu.”
Ia menulis lebih cepat.
“Itu aja yang saya lihat sekilas, Mbak. Kalau mau lengkap, saya perlu baca semuanya dulu.”
Monica berhenti menulis. Ia menutup buku catatannya dan menatapku. Tatapan yang berbeda dari tatapan di lift, atau di basement, atau di belakang villa. Tatapan orang yang sedang menilai sesuatu dan baru menyadari nilainya jauh lebih besar dari perkiraan.
“Kamu bukan orang Legal,” katanya.
“Bukan, Mbak.”
“Kamu baca kontrak ini lima belas menit.”
“Saya cuma baca bagian yang soal data, Mbak. Itu bidang saya.”
“Tim Legal saya baca dua minggu.”
“Mereka baca dari sisi hukum, Mbak. Saya baca dari sisi angka. Beda kacamata aja.”
Monica menatapku. Lalu tertawa pelan, tawa orang yang tidak percaya.
“Beda kacamata,” ulangnya. “Kamu nyelametin perusahaan ini dari kerugian lima puluh dua miliar, dan kamu bilang beda kacamata.”
“Kontraknya belum ditandatangani, Mbak. Belum ada yang rugi.”
“Karena kamu.”
Aku menunduk ke dokumen. Rasanya panas di telinga. Di ujung ruangan, Dini sudah tidak lagi pura-pura mengisi botol minum. Ia berdiri terang-terangan di samping dispenser dengan ponsel di tangan, dan aku yakin seratus persen grup Lantai 7 Garis Keras sedang mendapat siaran langsung.
“Mbak harus kirim memo resmi ke Pak Reza,” kataku. “Biar review dari Divisi Data tercatat.”
“Kenapa harus lewat Pak Reza? Kamu yang nemu.”
“Prosedurnya begitu, Mbak. Semua review lintas divisi lewat manajer.”
Monica menatapku dengan alis terangkat. “Dan nanti nama siapa yang ada di memo itu?”
Aku tidak menjawab.
“Aris.”
“Yang penting kontraknya dibetulin, Mbak.”
Ia menatapku lama. Lalu menghela napas panjang, seperti orang yang sedang menahan diri untuk tidak memukul sesuatu. Ia mengambil dokumen dari mejaku, memeluknya kembali di dada, dan berdiri.
“Oke,” katanya. “Lewat Pak Reza.”
“Makasih, Mbak.”
“Jangan bilang makasih. Saya belum selesai.”
“Belum selesai apa, Mbak?”
Ia sudah berjalan ke arah pintu. Di tengah jalan, ia berhenti di depan meja Pak Darto, yang buru-buru menunduk ke keyboard.
“Pak Darto,” kata Monica manis.
“I-iya, Mbak?”
“Grup Lantai 7 Garis Keras, saya boleh masuk?”
Pak Darto menatapnya dengan wajah seperti tertangkap basah mencuri mangga. Lalu, perlahan, ia mengangguk.
Hari Rabu, ada rapat koordinasi antara Divisi Legal dan Divisi Data untuk membahas revisi kontrak vendor. Aku tidak diundang. Staf biasanya tidak diundang ke rapat koordinasi. Aku tahu isinya hanya karena Dini, yang entah bagaimana selalu tahu segalanya, duduk di meja sebelah dan membacakan pesan dari grup kantor seperti penyiar radio.
“Pak Reza presentasi,” kata Dini. “Judulnya ‘Temuan Kritis Divisi Data atas Draf Kontrak Platform CRM’.”
Aku terus mengetik.
“Dia sebut lima puluh dua miliar. Dia sebut definisi anonimisasi. Dia sebut pasal empat belas sama sembilan belas.” Dini menggulir layar. “Dia bilang, dan ini kutipan langsung ya, Mas, ‘Tim kami melakukan review menyeluruh selama tiga hari dan menemukan beberapa celah serius’.”
“Oke.”
“Tiga hari, Mas. Mas Aris bacanya lima belas menit.”
“Nggak apa-apa, Din.”
Dini meletakkan ponselnya di meja dengan suara keras. “Mas. Ini nggak apa-apa?”
“Kontraknya dibetulin, kan?”
“Iya, tapi...”
“Ya udah. Itu yang penting.”
Dini menatapku seperti sedang menatap orang yang baru saja bilang bumi itu datar. Lalu ia mengambil ponselnya lagi, membaca sesuatu, dan mendadak matanya melebar.
“Oh,” katanya.
“Kenapa?”
“Mbak Monica angkat tangan.”
Aku berhenti mengetik.
“Dia nanya ke Pak Reza,” Dini membaca pelan, “di halaman berapa definisi anonimisasi yang Bapak maksud. Pak Reza bilang di Lampiran A. Mbak Monica bilang, ‘Halaman berapa, Pak? Lampiran A ada enam puluh halaman.’ Pak Reza diem. Terus Mbak Monica bilang, ‘Halaman dua puluh tujuh, Pak. Saya cuma memastikan, karena orang yang pertama kali menunjukkan ke saya hafal halamannya tanpa buka dokumen’.”
Ruangan lantai tujuh hening. Aku sadar beberapa kepala sudah menoleh ke arah mejaku.
“Terus?” tanyaku, sebelum aku sempat menahan diri.
Dini menggulir layar lagi. Lalu tersenyum lebar.
“Terus Pak Lucky, yang ternyata ikut rapat, nanya ke Pak Reza, ‘Siapa orang yang Mbak Monica maksud?’ Terus Pak Reza bilang, ‘Itu tim saya, Pak.’ Terus Pak Lucky bilang, ‘Saya tahu. Saya nanya namanya.’”
Aku menutup laptop pelan.
“Terus?”
“Terus Pak Reza bilang ‘Aris’, Mas.”
Aku menatap gambar krayon di monitorku. Om Termos tersenyum ke arahku dengan huruf S terbalik.
“Oke,” kataku.
“Mas Aris nggak seneng?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku bangun, mengambil termos dari meja, dan berjalan ke pantry untuk mengisinya dengan air panas, padahal isinya masih penuh.
Malam itu, aku mencari charger laptop di laci meja belajarku. Laci kiri, yang macet kalau ditarik terlalu keras.
Aku menariknya terlalu keras.
Laci itu terbuka mendadak, setengahnya terlepas dari rel, dan isinya bergeser ke depan. Kabel-kabel kusut. Buku catatan kuliah. Kalkulator yang baterainya sudah mati. Dan di bagian paling belakang, terselip di antara buku-buku tua, sudut sebuah amplop cokelat besar.
Amplop itu sudah agak kusam. Ujungnya sedikit sobek. Ada logo kecil di pojok kiri atasnya, separuh tertutup buku.
Aku menatapnya.
Lalu mendorong buku-buku itu kembali ke posisinya sampai amplop itu tidak terlihat lagi, mengambil charger, dan menutup laci pelan-pelan.
Sebelas tahun. Aku tidak pernah membuka amplop itu lagi sejak hari aku memasukkannya ke sana.
Hujan turun lagi di luar. Bahu kananku mulai berdenyut, seperti biasanya kalau udara lembap. Aku memijatnya sebentar dengan tangan kiri, lalu berbaring di kasur busa dan menatap noda bocor berbentuk peta Kalimantan di langit-langit.
Ponselku bergetar di samping bantal.
Nomor yang tidak kukenal.
Ini Monica. Nomor kamu dari Evan. Dia kasih tanpa saya minta dua kali, jadi jangan marahin dia.
Lalu pesan kedua, beberapa detik kemudian.
Klausul tujuh. Makasih. Besok saya traktir kopi. Jangan bawa Evan.
Aku menatap pesan itu lama.
Jangan bawa Evan.
Ia ingin bicara berdua denganku, tanpa Evan. Kenapa? Satu-satunya alasan yang masuk akal adalah ia ingin bertanya soal Evan tanpa Evan mendengar. Seperti apa Evan sebenarnya. Apa yang Evan suka. Apakah Evan sedang dekat dengan seseorang.
Iya. Itu pasti.
Aku mengetik balasan dengan hati-hati, memastikan nadanya sopan dan membantu.
Siap, Mbak. Makasih juga.
Lalu, karena aku orang yang teliti, aku menambahkan satu pesan lagi.
Evan sukanya americano, Mbak. Tanpa gula. Kalau Mbak mau tahu.
Pesan itu terkirim. Dua centang. Lalu berubah biru.
Tiga titik muncul di layar. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi.
Lima menit kemudian, akhirnya ada balasan.
Satu kata.
Aris.
Aku menunggu kalimat berikutnya. Tidak ada. Hanya nama itu, dengan titik di belakangnya, seperti seseorang yang sedang memanggil dari ujung lorong dengan sabar yang hampir habis.
Aku tidak mengerti apa artinya.
Jadi aku membalas dengan satu-satunya hal yang terpikir olehku.
Iya, Mbak?
Tidak ada balasan lagi malam itu.
Tapi di ruang tamu, ibuku berhenti menjahit sebentar, lalu tertawa sendiri. Dan aku tidak tahu kenapa.
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh reading
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan