Chapter Twenty Four
Yang Kelihatan
POV: Monica
Senin malam, di kedai kopi lobi Wiratama Tower, Evan menunjukkan video itu padaku.
Video yang beredar di grup Lantai 7 Garis Keras sejak siang. Diambil seseorang dari tangga darurat, dari bordes di atas, dengan ponsel yang goyang. Gambarnya buram. Suaranya penuh bunyi alarm. Tapi jelas sekali: seorang laki-laki dengan kemeja putih yang basah keringat, menggendong petugas kebersihan di punggungnya, turun anak tangga demi anak tangga dengan satu tangan menahan kaki orang itu dan satu tangan menempel di pegangan tangga.
Tiga puluh dua detik. Aku sudah menontonnya dua belas kali sejak siang.
“Terus di lapangan parkir,” kata Evan, “dia bilang ke lo apa? Pak Udin cerita lo marah-marah.”
“Aku bilang dia gendong orang turun tujuh lantai pakai satu bahu.”
“Terus dia jawab?”
“’Lima lantai, Mbak. Ketemunya di lantai enam’.”
Evan menatapku. Lalu tertawa. Lalu menirukan suara Aris dengan nada yang sangat datar dan sangat serius, sambil mengangkat satu jari seperti dosen yang mengoreksi mahasiswa: “Lima lantai, Mbak. Ketemunya di lantai enam.”
Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Seluruh hari itu, sejak alarm berbunyi sampai Pak Hendra turun ke lantai tujuh, aku menahan sesuatu di dadaku. Takut. Marah. Lega. Semuanya bercampur jadi satu. Dan sekarang, mendengar Evan menirukan Aris, semua yang kutahan itu keluar sekaligus lewat tawa.
Aku tertawa sampai menutup mulut dengan tangan. Sampai mataku berair. Sampai aku menyandarkan kepala di lengan Evan karena tidak kuat duduk tegak.
“Ya Tuhan, Van,” kataku di sela tawa. “Aku pikir dia bakal mati. Di tangga itu. Aku lihat dia dari atas, dan aku pikir, kalau bahunya yang kiri juga kenapa-kenapa...”
Tawaku berubah jadi sesuatu yang lain. Evan berhenti tertawa. Ia menatapku dengan wajah yang tiba-tiba serius, lalu menepuk punggungku pelan.
“Dia nggak mati, Mbak.”
“Aku tahu.”
“Dia nggak bakal mati. Dia terlalu keras kepala buat mati.” Evan tersenyum kecil. “Besok malam, Mbak?”
“Besok malam.”
“Lo udah siap?”
“Aku nggak tahu, Van.”
Evan menatap ke luar dinding kaca. Lalu matanya menyipit sebentar, seperti melihat sesuatu. Aku menoleh. Tidak ada apa-apa di luar. Hanya lobi yang kosong dan lampu-lampu kecil di dinding.
“Kenapa?” tanyaku.
“Nggak,” kata Evan pelan. “Kayaknya tadi ada orang.”
Selasa malam, jam tujuh kurang lima, hujan turun di Pancoran.
Aku datang dengan taksi. Aku tidak mau membawa mobil, karena kalau aku membawa mobil, aku punya jalan untuk kabur kalau semuanya berjalan buruk. Aku tidak mau punya jalan untuk kabur. Aku mau berdiri di sana sampai selesai.
Aris sudah ada di sana.
Ia duduk di bangku kayu panjang di bawah terpal warung wedang ronde Pak Kardi, dengan jas hujan biru tua dari Lucky tersampir di sandaran bangku dan termos di sampingnya. Kemeja biru. Rambut sedikit basah. Ia menatap hujan di luar terpal, dan tidak melihatku datang sampai aku duduk di sebelahnya.
“Mbak.”
“Hai.”
Pak Kardi menyajikan dua mangkuk wedang ronde tanpa ditanya. Ia menatap kami berdua, lalu tersenyum dengan dua gigi depan yang hilang, lalu kembali ke gerobaknya dan sengaja menyalakan radio kecil dengan volume agak keras. Lagu keroncong. Supaya kami bisa bicara tanpa merasa didengar, mungkin.
Kami diam beberapa menit. Aku memegang mangkuk ronde dengan dua tangan. Aris meniup ronde-nya, tapi tidak memakannya.
Lalu aku meletakkan mangkuk itu di bangku.
“Aris,” kataku. “Aku mau ngomong. Dan aku mau kamu dengerin sampai selesai. Jangan potong. Jangan bikin teori di tengah-tengah. Bisa?”
Ia menatapku. Lalu mengangguk.
Aku menarik napas.
Aku sudah menyiapkan kalimat ini sejak Sabtu malam. Aku menulisnya, menghapusnya, menulisnya lagi. Aku membacanya di depan cermin. Aku membacanya ke Renata lewat telepon jam satu pagi, dan Renata menangis, dan aku tidak tahu kenapa ia menangis sekeras itu.
Sekarang, di bawah terpal warung wedang ronde, dengan hujan di sekeliling dan lagu keroncong dari radio Pak Kardi, aku tidak ingat satu pun kalimat yang sudah kusiapkan.
Jadi aku bicara apa adanya.
“Hari pertama aku kerja di sini,” kataku, “kancing blazerku lepas. Kamu jahit dalam dua menit. Terus kamu lihat angka di kertasku, angka yang salah satu koma dua miliar, dan kamu bilang ke aku cara jawabnya supaya kedengaran kayak aku sengaja. Terus kamu pergi. Nggak nyebut nama. Salah arah.”
Aris diam. Ia mendengarkan.
“Sejak hari itu, aku lihat kamu. Aku lihat kamu nyelametin lima puluh dua miliar dan biarin Pak Reza ngaku-ngaku. Aku lihat kamu nolong anak kecil di kolam renang terus kabur ke belakang villa karena tangan kamu gemetar. Aku lihat kamu bikin presentasi Evan dalam empat puluh menit terus nggak mau disebut namanya. Aku lihat kamu nyelametin Pak Reza dari Lucky padahal Pak Reza baru aja ngehina kamu di depan enam puluh orang.”
Hujan turun lebih deras. Pak Kardi mengecilkan volume radionya sedikit.
“Aku lihat kamu bawa termos teh tawar dari ibu kamu tiap hari. Aku lihat kamu nunggu aku empat puluh lima menit di depan apartemen terus bilang baru dateng. Aku lihat kamu nyetir motor dua puluh kilometer per jam karena kamu bawa aku. Aku lihat kamu gendong Mas Jono turun lima lantai pakai bahu kiri, karena bahu kanan kamu nggak bisa, dan kamu nggak pernah cerita kenapa bahu kanan kamu nggak bisa.”
Suaraku mulai bergetar. Aku membiarkannya.
“Aku lihat semuanya, Aris. Semua yang nggak dilihat orang lain. Semua yang kamu sembunyiin di belakang Evan sama Lucky. Semua yang kamu tutupin pakai nggak apa-apa, Mbak.”
Aku berhenti. Menarik napas.
“Dan aku nggak mau pacaran sama kamu.”
Ia mengangkat wajah. Matanya membesar sedikit.
“Aku nggak mau pacaran,” kataku pelan. “Aku umur dua puluh tujuh. Aku udah pernah pacaran tiga tahun, tunangan delapan bulan, terus ditinggal dua bulan sebelum nikah. Aku nggak punya waktu buat main-main. Aku nggak mau jadi pacar kamu.”
Aku menatapnya lurus.
“Aku mau dinikahin,” kataku. “Sama kamu.”
Lagu keroncong di radio Pak Kardi berganti. Hujan terus turun. Aku melihat tangan Aris di atas lututnya, mengepal pelan.
“Itu,” kataku, suaraku hampir tidak terdengar sekarang. “Itu yang mau aku omongin. Udah. Sekarang kamu boleh ngomong.”
Ia tidak ngomong.
Ia hanya menatapku. Wajahnya pucat di bawah lampu bohlam kuning yang tergantung di tiang terpal. Bibirnya terbuka sedikit, seperti mau mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar.
Aku menunggu.
Lima detik. Sepuluh. Lima belas.
Ia masih tidak bicara.
Dan aku tahu, dengan cara yang sama seperti aku tahu kapan seorang saksi di ruang sidang akan berbohong, bahwa kalau aku membiarkannya bicara sekarang, ia akan mengatakan sesuatu yang tidak ingin kudengar.
Jadi aku tidak membiarkannya.
Aku bergeser di bangku kayu itu, mendekat, mengangkat tanganku ke pipinya. Pipi kiri. Tempat lesung pipinya. Kulitnya hangat, sedikit basah karena tempias hujan.
Lalu aku menciumnya.
Di bibir. Kali ini tidak meleset.
Ciuman itu singkat. Bibirku gemetar. Aku bisa merasakannya, gemetar seperti tangan yang baru selesai memegang sesuatu yang sangat berat. Bibirnya hangat, diam, tidak bergerak, terasa seperti teh tawar dan sedikit manis jahe dari wedang ronde.
Aku menarik diri. Hanya beberapa sentimeter. Dahiku hampir menyentuh dahinya.
Ia membeku.
Matanya terbuka, menatapku dari jarak yang sangat dekat. Aku bisa melihat diriku sendiri di pupilnya. Aku bisa merasakan napasnya, pendek dan tidak teratur, di bibirku.
Aku menunggu.
Lalu tangannya terangkat. Tangan kiri. Pelan. Ke bahuku.
Untuk sesaat, sepersekian detik yang terasa seperti selamanya, aku pikir ia akan menarikku lebih dekat.
Ia mendorongku pelan menjauh.
Sangat lembut. Sangat hati-hati. Seperti orang memindahkan barang pecah belah dari tepi meja supaya tidak jatuh.
“Mbak,” katanya. Suaranya serak.
Aku menatapnya.
“Mbak pantas dapat yang kelihatan.”
Hujan.
Aku tidak mendengar hujan. Aku tidak mendengar radio Pak Kardi. Aku hanya mendengar kalimat itu, berulang-ulang, seperti gema di dalam gua.
Mbak pantas dapat yang kelihatan.
“Apa?” kataku.
Aris menurunkan tangannya dari bahuku. Ia menatap mangkuk ronde di bangku, yang sudah dingin.
“Mbak berdiri di depan tujuh direktur tanpa takut,” katanya pelan. “Mbak bisa ngelawan Pak Reza di lift. Mbak bisa ngelawan Bu Ratna di kondangan. Mbak bisa masuk ke ruangan mana pun dan semua orang bakal noleh ke Mbak.”
“Aris...”
“Mbak udah janji dengerin sampai selesai. Sekarang giliran saya.” Ia tidak menatapku. “Kalau saya berdiri di sebelah Mbak, orang bakal nanya. Kenapa dia? Kenapa sama staf data yang naik motor bebek? Kenapa sama orang yang dibilang titipan? Bu Ratna bakal nanya. Ibu Bapak Mbak bakal nanya. Temen-temen Mbak bakal nanya.”
“Aku nggak peduli.”
“Mbak bakal capek, Mbak. Ngejelasin saya ke semua orang. Seumur hidup.”
“ITU PILIHAN AKU!”
Pak Kardi mematikan radionya. Aku tidak peduli. Aku sudah berdiri dari bangku kayu itu tanpa sadar, tanganku mengepal di samping paha, air mataku mengalir.
“Itu pilihan aku, Aris! Aku yang milih! Bukan kamu!”
Ia mengangkat wajah dan menatapku. Matanya merah.
“Saya tahu, Mbak,” katanya pelan. “Makanya saya yang harus milih buat Mbak.”
Aku menatapnya.
“Kemarin malam,” lanjutnya, suaranya hampir tidak terdengar, “saya lihat Mbak di kedai kopi lobi. Sama Evan. Mbak ketawa.”
Dadaku jatuh. Kemarin malam. Evan yang menyipitkan mata ke arah dinding kaca. Kayaknya tadi ada orang.
“Mbak ketawa lepas banget,” kata Aris. “Mbak senderan di lengan Evan. Mbak kelihatan... ringan.”
“Aris, aku ketawa karena Evan niruin kamu...”
“Sama saya, Mbak nggak pernah ketawa kayak gitu.” Ia tersenyum. Senyum kecil dengan lesung pipi di sebelah kiri. Senyum paling sedih yang pernah kulihat. “Sama saya, Mbak nangis. Di belakang villa. Di lobi kantor. Di lapangan parkir. Sekarang.”
“Aku nangis karena aku takut kehilangan kamu!”
“Mbak pantas dapat orang yang bikin Mbak ketawa, Mbak. Bukan orang yang bikin Mbak takut.”
Aku berdiri di bawah terpal yang bocor di satu sudut, tempias hujan membasahi bahuku, dan menatap laki-laki di depanku.
Aku mengerti sekarang. Aku mengerti semuanya.
Ia tidak menolakku karena ia tidak suka. Ia tidak menolakku karena Evan. Ia tidak menolakku karena teori apa pun di spreadsheet-nya.
Ia menolakku karena ia sayang aku.
Karena ia sayang aku terlalu banyak untuk membiarkan dirinya, laki-laki yang ia pikir tidak cukup baik, berdiri di sebelahku.
“Kamu,” kataku. Suaraku pecah. “Kamu nolak aku... karena kamu sayang aku?”
Aris tidak menjawab.
Ia hanya menatapku, dengan mata merah dan senyum yang sangat sedih, dan tidak menjawab.
Diamnya adalah jawaban.
Aku tidak ingat bagaimana aku keluar dari bawah terpal itu.
Aku hanya ingat hujan. Hujan yang langsung membasahi rambutku, kemejaku, wajahku, menyamarkan air mata sehingga aku tidak tahu lagi mana air hujan dan mana air mata. Aku berjalan cepat di trotoar Pancoran yang tergenang, tanpa payung, sepatu kantorku basah sampai ke dalam.
“Mbak!”
Langkah kaki di belakangku. Cepat. Lalu sesuatu yang berat dan hangat jatuh di bahuku. Jas hujan biru tua. Masih hangat dari punggungnya.
Aku berbalik. Aris berdiri di belakangku, di tengah hujan, tanpa jas hujan, kemeja birunya langsung basah kuyup. Rambutnya menempel di dahi. Napasnya terengah.
“Pakai, Mbak,” katanya. “Hujan.”
Aku menatapnya. Laki-laki yang baru saja menolakku, sekarang berdiri di tengah hujan, basah kuyup, memberikan jas hujannya padaku.
Tentu saja. Tentu saja ia melakukan ini.
Aku melepas jas hujan itu dari bahuku. Pelan. Lalu menyodorkannya kembali ke dadanya.
“Jangan,” kataku.
“Mbak, nanti sakit...”
“Jangan baik ke aku, Aris.” Suaraku bergetar hebat sekarang. Hujan menetes dari ujung hidungku. “Jangan baik ke aku sekarang. Aku nggak kuat.”
Ia berdiri di sana dengan jas hujan di tangan, menatapku, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, aku melihat sesuatu di wajahnya yang sama hancurnya dengan yang kurasakan.
Sebuah taksi lewat. Lampunya hijau. Kosong.
Aku melambai. Taksi itu berhenti.
Aku masuk tanpa menoleh lagi. Menutup pintu. Menyebutkan alamat apartemenku dengan suara yang tidak kukenali.
Taksi itu berjalan. Lewat kaca belakang yang buram karena hujan, aku melihatnya. Masih berdiri di trotoar, di tengah hujan, dengan jas hujan biru tua di tangan yang tidak ia pakai.
Ia tidak bergerak sampai taksi itu berbelok dan aku tidak bisa melihatnya lagi.
Sopir taksi menyalakan pemanas dan memberiku sekotak tisu tanpa bicara.
Aku menangis dari Pancoran sampai Tebet. Pelan, lalu keras, lalu pelan lagi. Sopir taksi itu, seorang bapak berumur lima puluhan dengan peci putih, menyetir sangat pelan dan sangat hati-hati, dan sekali, di lampu merah, ia berkata tanpa menoleh: “Sabar ya, Mbak. Laki-laki kadang bodoh.”
Aku tertawa di antara tangisku. Tawa yang terdengar seperti orang tersedak.
“Dia nggak bodoh, Pak,” kataku. “Dia orang paling pinter yang pernah saya kenal.”
“Orang pinter juga bisa bodoh, Mbak,” kata sopir itu. “Apalagi soal perempuan.”
Ponselku bergetar di dalam tas. Aku mengambilnya dengan tangan yang masih basah.
Renata.
Aku mengangkatnya.
“Mon?” Suara Renata terdengar khawatir. “Gimana? Dia bilang apa?”
Aku tidak bisa langsung menjawab. Aku menatap jendela taksi yang buram, lampu-lampu Jalan Saharjo yang berkilau di balik air hujan.
“Mon? Kamu nangis?”
“Dia nolak aku, Ren.”
Hening di seberang.
“Dia nolak aku karena dia pikir dia nggak pantas,” kataku. Suaraku pecah lagi. “Dia pikir aku pantas dapat yang lebih baik. Yang kelihatan. Dia pikir dia cuma bakal bikin aku capek. Dia pikir... ya Tuhan, Ren, dia lihat aku ketawa sama Evan semalam dan dia pikir aku lebih bahagia sama Evan.”
Hening di seberang. Lama.
Lalu aku mendengar sesuatu. Suara napas yang tertahan. Lalu isakan. Renata menangis. Tidak pelan. Keras, seperti orang yang sudah terlalu lama menahan.
“Ren?”
“Maaf,” isak Renata. “Maaf, Mon. Maaf.”
“Kenapa kamu yang minta maaf?”
“Dia pikir dia nggak pantas...” Renata menangis lebih keras. “Dan aku... aku bikin itu jadi lebih buruk, Mon. Aku nggak tahu, aku nggak tahu dia...”
“Ren, kamu ngomong apa?”
Renata menarik napas panjang. Gemetar. Aku mendengar ia menghapus air mata, mengatur napas, mencoba bicara.
“Mon,” katanya akhirnya. “Besok. Besok aku harus cerita sesuatu ke kamu.”
“Cerita apa?”
“Sesuatu yang harusnya aku ceritain dari awal.” Suaranya bergetar. “Aku janji besok. Aku nggak kuat bawa ini lagi.”
Ia menutup telepon sebelum aku sempat bertanya lagi.
Aku menatap layar ponsel yang gelap.
Taksi berhenti di depan lobi apartemenku. Satpam yang sama dengan hari Senin, yang dulu bertepuk tangan waktu aku memeluk pinggang Aris di atas motor bebek, membukakan pintu taksi dengan payung. Ia melihat wajahku. Ia tidak bertanya apa-apa.
Aku naik ke lantai dua belas. Masuk ke apartemen. Berdiri di depan meja rias dengan baju yang masih basah kuyup.
Helm putih masih di sana. Di sebelah botol parfum dan kotak perhiasan. Helm yang ukurannya diambil dari catatan seorang penjahit di Jatiwaringin.
Aku tidak memindahkannya.
Aku duduk di lantai di depan meja rias, memeluk lutut, dan menatap helm itu sampai tengah malam.
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan reading
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan