Chapter Sixteen
Besi Belakang Licin
POV: Monica
Bengkel menelepon jam tiga sore hari Jumat.
“Mohon maaf, Bu Monica. Aki penggantinya belum datang dari distributor. Paling cepat hari Senin.”
Aku mengucapkan terima kasih dengan suara yang sangat sopan. Lalu menutup telepon, menatap jendela kantor yang menunjukkan langit Kuningan yang mulai menggelap, dan tersenyum.
Renata, dari meja seberang lorong, menatapku dengan curiga.
“Kenapa senyum-senyum?”
“Mobilku baru bisa diambil Senin.”
“Itu kabar buruk, Mon.”
“Tergantung.”
“Tergantung apa?”
Aku tidak menjawab. Aku mengambil ponsel dan mengetik pesan.
Bengkel bilang Senin. Aku pulang naik apa, ya?
Kirim.
Balasannya datang dua menit kemudian.
Saya pesenin taksi, Mbak.
Aku menatap layar. Lalu mengetik.
Kemarin kamu nggak jawab pertanyaanku.
Pertanyaan yang mana, Mbak?
Motor kamu muat berdua, nggak?
Tiga titik muncul. Hilang. Muncul lagi. Hilang lagi. Aku bisa membayangkan wajahnya di lantai tujuh, menatap ponsel dengan kening berkerut, menghitung peluang dan risiko di kepalanya seperti sedang menjalankan model prediksi.
Lima menit kemudian.
Muat, Mbak. Tapi saya cuma punya satu helm. Sama jas hujannya robek.
Helm bisa beli. Jas hujan bisa pinjam.
Pak Udin udah nawarin ponco.
Pak Udin baik.
Rumah Mbak di Tebet. Saya di Jatiwaringin. Beda arah, Mbak.
Kamu keberatan?
Lama sekali tidak ada balasan. Aku menatap layar ponsel, menunggu, merasakan detak jantungku sendiri di ujung jari.
Nggak, Mbak.
Satu pesan lagi.
Saya nggak keberatan.
Aku meletakkan ponsel di meja dan menutup wajah dengan kedua tangan supaya Renata tidak melihat senyumku.
Renata melihatnya juga.
Hujan mulai turun jam lima lewat sepuluh. Tidak deras, tapi rapat dan tidak berhenti. Hujan Jakarta di bulan November, yang tidak pernah benar-benar selesai.
Aku turun ke basement B3 lewat tangga darurat, karena lift penuh dan karena aku sudah mulai terbiasa dengan tangga darurat. Sepatu berhak rendah, celana panjang hitam, blazer abu-abu yang kancingnya dijahit dua kali dengan benang yang sama.
Aris sudah menunggu di samping motor bebek birunya. Ia memegang dua helm. Satu helm lamanya yang hitam pudar dengan stiker klub futsal SMA yang sudah mengelupas. Satu lagi helm baru, putih, masih ada stiker harga di bagian belakangnya.
Ia menyodorkan helm putih itu padaku.
“Kamu beli helm?”
“Tadi istirahat siang, Mbak. Di toko sebelah gedung.”
“Buat aku?”
“Buat penumpang, Mbak.”
Aku menatap helm itu. Lalu menatapnya. Telinganya sudah merah, padahal udara basement dingin.
Aku mengambil helm itu, mencopot stiker harganya, dan memakainya. Ukurannya pas. Persis pas.
“Kok pas?” tanyaku.
“Saya tanya ibu saya, Mbak. Ibu catat ukuran kepala Mbak waktu ngukur kemarin.”
Aku tertawa sampai helm itu miring.
Pak Udin datang dari pos jaga membawa gulungan plastik besar berwarna biru tua. Ponco. Ia membentangkannya dengan gerakan yang sangat terlatih, seperti pesulap membentangkan kain sebelum trik.
“Ini, Mas. Model double. Bisa buat dua orang. Penumpangnya masuk dari belakang, kepalanya keluar di lubang yang kedua.”
“Makasih, Pak Udin.”
“Hati-hati, Mas. Jalanan licin.” Pak Udin menatapku, lalu menatap Aris, lalu kembali menatapku dengan wajah datar yang sangat profesional. “Mbak, besi pegangan belakang motor Mas Aris itu licin kalau kena hujan. Saya cuma ngasih tahu.”
“Makasih infonya, Pak.”
Pak Udin mengangguk dan kembali ke pos jaganya. Di tengah jalan, aku melihat bahunya berguncang sedikit.
Ponco itu ternyata lebih rumit dari kelihatannya.
Aris naik ke motor duluan, memasukkan kepalanya ke lubang depan, dan membiarkan sisa plastik biru itu tergerai di punggungnya seperti jubah. Lalu aku naik ke jok belakang, menyelinap di bawah plastik itu, dan mencari lubang kedua untuk kepalaku.
Untuk menemukan lubang itu, aku harus mendekat. Sangat dekat. Dadaku hampir menempel di punggungnya. Helm putihku menyenggol helm hitamnya. Plastik biru itu membungkus kami berdua seperti tenda kecil, dan di dalamnya hangat, sedikit pengap, wangi sabun bayi dari kerah kemejanya.
Kepalaku akhirnya keluar dari lubang kedua. Aris menyalakan mesin. Motor batuk dua kali, lalu menderum.
“Pegangan di mana, nih?” tanyaku, dekat sekali dengan telinganya. “Jangan bilang di besi belakang.”
Punggungnya kaku seperti papan tulis.
“Di... besi belakang, Mbak.”
“Pak Udin bilang besi belakangnya licin.”
“Pegang yang erat, Mbak.”
“Licin, Aris.”
Ia tidak menjawab. Motor mulai bergerak pelan, keluar dari deretan parkir, menuju jalan menanjak ke pintu keluar basement.
Tanjakan. Motor bebek berumur dua belas tahun. Dua penumpang. Jalan licin.
Motor itu oleng sedikit di tengah tanjakan.
Aku melingkarkan kedua tanganku di pinggangnya.
Tidak berpikir dulu. Tanganku bergerak sendiri, seperti waktu di tangga darurat, seperti waktu jempolnya berdarah. Kedua lenganku melingkar di pinggangnya, jari-jariku bertaut di depan perutnya, di balik plastik biru ponco.
Motor itu berhenti oleng.
Aris berhenti bernapas. Aku bisa merasakannya. Perutnya di bawah telapak tanganku mendadak diam, tidak naik turun, seperti orang yang menahan napas di bawah air.
“Besi belakang licin,” kataku pelan di dekat telinganya. “Kamu nggak licin.”
Motor itu keluar dari basement dengan kecepatan sepuluh kilometer per jam.
Kami melaju di Jalan Rasuna Said dengan kecepatan dua puluh kilometer per jam.
Dua puluh. Aku melihat spidometernya dari balik bahunya. Jarumnya tidak pernah naik dari angka dua puluh. Mobil-mobil menyalip kami. Ojek online menyalip kami. Seorang bapak dengan sepeda motor matic yang membawa tabung gas tiga kilogram di jok belakangnya menyalip kami sambil menoleh dengan wajah heran.
“Aris,” kataku. “Kita bisa lebih cepet.”
“Jalanan licin, Mbak.”
“Bapak tabung gas tadi nyalip kita.”
“Bapaknya bawa tabung gas, Mbak. Saya bawa Mbak.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku tidak menjawab. Aku hanya memeluk pinggangnya sedikit lebih erat, dan menyandarkan pipi di punggungnya, di balik plastik biru, di atas kemeja putih yang sedikit lembap.
Ia tidak bilang apa-apa. Tapi aku merasakan punggungnya, yang tadi kaku seperti papan tulis, perlahan melunak.
Hujan semakin deras di dekat Pancoran. Air mulai menggenang di pinggir jalan, dan percikan dari mobil yang lewat membasahi celanaku sampai lutut. Lampu-lampu jalanan memantul di aspal yang basah, berkilau seperti sungai.
Aris membelokkan motor ke pinggir jalan dan berhenti di bawah atap terpal sebuah warung tenda kecil. Warung wedang ronde. Gerobaknya dari kayu, dengan panci besar mengepul dan tulisan cat merah di kacanya: Wedang Ronde Pak Kardi — Sejak 1998.
“Neduh dulu, Mbak,” katanya. “Hujannya terlalu deras. Bahaya.”
Kami turun dari motor. Melepas ponco. Duduk di bangku kayu panjang di bawah terpal, berdampingan, sementara hujan turun seperti tirai di sekeliling kami.
Pak Kardi, laki-laki tua dengan peci hitam dan senyum yang kehilangan dua gigi depan, menyajikan dua mangkuk wedang ronde tanpa ditanya.
“Kalau hujan begini,” katanya, “orang pasti pesen ronde. Saya udah hafal.”
Wedang ronde itu panas, manis, pedas jahe. Bola-bola ketan berisi kacang tanah mengapung di kuah bening kecokelatan. Aku memegang mangkuk itu dengan dua tangan, membiarkan panasnya menjalar ke jari-jari.
Aris meniup ronde-nya pelan-pelan.
“Kamu sering ke sini?” tanyaku.
“Dulu, Mbak. Waktu awal kerja, kalau hujan, saya neduh di sini. Pak Kardi suka ngasih tambahan ronde kalau dia lihat saya kehujanan.”
“Pak Kardi baik.”
“Semua orang baik, Mbak. Kalau kita mau lihat.”
Aku menoleh menatapnya. Profil wajahnya dari samping, setengah diterangi lampu bohlam kuning yang tergantung di tiang terpal. Rambutnya basah di bagian depan karena tetesan air dari helm. Ada sesuatu di wajahnya yang sangat tenang, sangat damai. Wajah laki-laki yang benar-benar percaya bahwa semua orang baik.
Bahkan Pak Reza. Bahkan orang-orang yang tertawa waktu ia dibilang titipan.
“Aris,” kataku.
“Iya, Mbak?”
“Kamu dulu pengen jadi apa?”
Ia berhenti meniup ronde-nya.
“Maksudnya, Mbak?”
“Waktu kecil. Waktu SMA. Semua orang punya cita-cita. Evan pasti pengen jadi atlet. Lucky pasti pengen jadi... entah, presiden direktur galaksi.”
Aris tertawa kecil. “Lucky pengen jadi koki, Mbak. Waktu SMP. Bapaknya nggak kasih.”
“Serius?”
“Serius. Dia jago masak nasi goreng. Jangan bilang saya yang cerita.”
“Terus kamu?”
Ia diam. Sendok di tangannya mengaduk wedang ronde pelan-pelan, satu putaran, dua putaran.
“Dulu,” katanya akhirnya, sangat pelan, “saya pengen sekolah di Jepang.”
Aku tidak bergerak. Aku tidak ingin bergerak, karena takut ia berhenti bicara.
“Teknik informatika,” katanya. “Ada universitas di Tokyo yang punya program riset data. Waktu SMA, saya baca semua jurnal mereka yang bisa diakses gratis. Saya belajar bahasa Jepang dari buku bekas di Kwitang. Saya hafal hiragana sama katakana dalam dua minggu.”
“Terus?”
Sendok itu berhenti mengaduk.
“Terus nggak jadi, Mbak,” katanya.
Hanya itu. Tidak ada penjelasan. Tidak ada alasan. Hanya nggak jadi, diucapkan dengan nada yang sama dengan nada orang yang menyebutkan cuaca.
Aku menatap tangannya di sendok. Tangan kanan. Yang tidak bisa diangkat tinggi.
Aku menatap motor bebek yang diparkir di depan warung, kehujanan.
Aku teringat foto di dinding rumahnya. Juara satu olimpiade matematika nasional. Bu Sumi yang berkata waktu kelas dua belas, dia bahkan udah mau... lalu dihentikan.
Udah mau ke Jepang.
Kepingan-kepingan itu mulai bergerak di kepalaku. Belum lengkap. Tapi aku melihat bentuknya. Bentuk sesuatu yang besar, yang hilang, yang dikunci rapat-rapat oleh laki-laki di sebelahku.
“Kenapa nggak jadi?” tanyaku pelan.
Aris tersenyum. Senyum kecil dengan lesung pipi di sebelah kiri. Senyum yang menutup pintu dengan sangat sopan.
“Rezekinya di Jakarta, Mbak,” katanya. “Kalau saya ke Jepang, saya nggak bakal makan wedang ronde Pak Kardi.”
Pak Kardi, dari balik gerobaknya, tertawa keras.
“Bener itu, Mas! Di Jepang nggak ada ronde!”
Aris ikut tertawa. Aku tidak.
Aku menatapnya lama, sampai ia berhenti tertawa dan menatapku balik dengan wajah sedikit bingung.
“Mbak?”
“Bahasa Jepang kamu masih bisa?”
Ia mengerjapkan mata. “Sedikit, Mbak. Udah lama nggak dipakai.”
“Bilang sesuatu.”
“Bilang apa, Mbak?”
“Apa aja.”
Aris menatap hujan di luar terpal. Lama. Lalu ia mengatakan sesuatu dengan suara pelan, kalimat pendek dalam bahasa yang tidak kumengerti, kata-katanya lembut dan bulat seperti bola-bola ronde di mangkukku.
“Artinya apa?”
“Hujannya deras, Mbak.”
Aku menyipitkan mata. “Kalimatnya kepanjangan buat cuma ‘hujannya deras’.”
“Bahasa Jepang memang panjang, Mbak.”
“Aris.”
“Ronde-nya keburu dingin, Mbak.”
Ia menyendok ronde terakhir dari mangkuknya dan memakannya dengan sangat serius, menghindari tatapanku. Telinganya merah lagi. Lebih merah dari tadi.
Aku mengeluarkan ponsel dan mengetik di kolom pencarian, sebisaku meniru bunyi yang tadi kudengar. Tidak berhasil. Aku tidak ingat cukup banyak suku katanya.
Aku menyimpan bunyi itu di kepala. Suatu hari, pikirku, aku akan tahu artinya.
Hujan mereda jam tujuh kurang sepuluh. Kami melanjutkan perjalanan, dengan ponco biru dan kecepatan dua puluh kilometer per jam, sampai motor bebek itu berhenti di depan lobi apartemenku di Tebet.
Aku turun. Melepas ponco. Melepas helm putih.
Aku menyodorkan helm itu padanya. Ia tidak menerimanya.
“Buat Mbak,” katanya.
“Ini helm penumpang.”
“Iya, Mbak. Buat Mbak.”
“Kamu nggak punya penumpang lain?”
Ia menatapku. Hujan gerimis turun di antara kami, halus seperti debu.
“Nggak ada, Mbak,” katanya.
Aku memeluk helm putih itu di dada. Satpam apartemen di pos jaga lobi menatap kami dari balik kaca. Seorang ibu yang sedang menunggu ojek online di dekat pintu lobi menatap kami juga, dengan senyum yang sangat tidak tersembunyi.
“Senin,” kataku. “Mobilku baru bisa diambil Senin.”
“Iya, Mbak.”
“Berarti Senin pagi, aku perlu tumpangan ke kantor.”
Aris diam. Ia menatapku dari balik kaca helm hitamnya yang sedikit berembun.
“Saya jemput jam tujuh, Mbak,” katanya akhirnya.
“Rumah kamu di Jatiwaringin. Tebet beda arah.”
“Saya nggak keberatan, Mbak.”
“Kamu harus berangkat jam enam.”
“Saya biasa bangun jam empat, Mbak.”
Aku menatapnya. Ia menatapku. Ibu yang menunggu ojek online sekarang sudah berhenti menunggu ojek. Ia hanya berdiri di sana, menonton, dengan ponsel di tangan yang tidak lagi dilihat.
“Aris.”
“Iya, Mbak?”
“Tadi, waktu di motor. Kamu nahan napas.”
Ia tidak menjawab.
“Sampai Pancoran,” kataku. “Kamu nahan napas dari Kuningan sampai Pancoran.”
“Nggak, Mbak.”
“Aku tahu. Aku pegang perut kamu.”
Ia menutup kaca helm. Pelan. Seperti menutup pintu.
Lalu dari balik kaca helm yang sekarang berembun sepenuhnya, aku mendengar suaranya, teredam dan sedikit bergetar.
“Saya pulang dulu, Mbak. Hati-hati.”
“Kamu yang hati-hati. Kamu yang nyetir.”
“Iya, Mbak.”
Ia menyalakan mesin. Motor bebek itu batuk dua kali, lalu menderum. Ia memutar arah, pelan, hati-hati di aspal yang basah.
Di ujung jalan, sebelum berbelok, ia berhenti sebentar dan menoleh ke belakang. Ke arahku yang masih berdiri di depan lobi, memeluk helm putih.
Lalu ia membunyikan klakson.
Weeek.
Seperti bebek flu.
Ibu di dekat pintu lobi tertawa terbahak-bahak. Satpam di pos jaga menutup mulutnya dengan tangan. Dan aku berdiri di sana, memeluk helm putih yang ukurannya diambil dari catatan seorang penjahit di Jatiwaringin, tertawa sampai mataku basah, sampai lampu belakang motor itu menghilang di tikungan.
Malamnya, aku membuka ponsel dan mengetik pesan ke Renata.
Ren. Kamu tahu orang yang bisa bahasa Jepang?
Kenapa?
Ada kalimat yang mau aku terjemahin.
Kalimat apa?
Aku mencoba mengetik bunyi yang kuingat. Hanya dua kata yang benar-benar menempel di kepalaku. Dua kata di akhir kalimatnya, yang ia ucapkan paling pelan.
Renata membalas lima menit kemudian.
Aku tanya temen yang pernah kuliah di Osaka. Katanya kalau bunyinya kayak gitu, kemungkinan itu bagian dari kalimat yang artinya kurang lebih “...jangan sampai berhenti.”
Jangan sampai berhenti apa?
Dia nggak bisa nebak tanpa kalimat lengkapnya, Mon. Bisa “hujannya jangan sampai berhenti”. Bisa juga yang lain.
Aku menatap pesan itu lama.
Hujannya jangan sampai berhenti.
Di wedang ronde Pak Kardi, dengan motor bebek kehujanan di depan, dengan aku duduk di sebelahnya.
Aku meletakkan ponsel dan menatap helm putih yang sekarang kuletakkan di atas meja rias, di sebelah botol parfum dan kotak perhiasan. Helm itu terlihat sangat tidak cocok di sana. Seperti barang yang salah tempat.
Aku tidak akan memindahkannya.
Di luar jendela, hujan masih turun. Pelan, halus, tidak mau berhenti.
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin reading
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan