← Dari Awal, Bukan Buat Evan

Chapter One

Kancing Kedua dari Atas

POV: Aris


Waktu SMA, aku punya pekerjaan sampingan yang tidak pernah kulamar.

Tukang pos.

Bukan tukang pos sungguhan. Tidak ada seragam, tidak ada gaji. Tapi hampir setiap pagi, ada saja amplop yang mampir ke mejaku di barisan ketiga dekat jendela. Warnanya macam-macam. Merah jambu, biru muda, kadang putih polos dengan stiker hati di pojok. Pengirimnya juga macam-macam. Anak kelas sebelah, adik kelas, sekali waktu malah kakak kelas yang sudah mau lulus.

Kalimatnya selalu sama.

“Titip buat Evan, ya?”

Kadang variasinya sedikit berbeda. “Kamu kan sebangku sama Lucky. Tolong kasih ini, ya. Jangan bilang dari aku.” Lalu mereka pergi sambil tersipu, dan aku tinggal menatap amplop yang wanginya seperti toko parfum di mal.

Aku pernah iseng menghitung. Selama tiga tahun SMA, ada tiga puluh tujuh surat untuk Evan, dua belas untuk Lucky, dan satu bungkus cokelat yang ternyata juga untuk Evan karena pengirimnya salah tulis nama.

Untukku?

Nol.

Aku tidak sedih. Sungguh. Evan Pradana itu kapten basket yang tingginya hampir seratus delapan puluh lima, rambutnya selalu jatuh di dahi dengan cara yang menurut cewek-cewek “ngeselin tapi ganteng”. Lucky Wiratama anak pemilik Wiratama Group, diantar mobil hitam setiap pagi, dan entah bagaimana tetap terlihat rapi walaupun habis main futsal di bawah terik matahari.

Aku? Aku anak penjahit dari Jatiwaringin yang naik angkot dua kali untuk sampai sekolah.

Masuk akal kalau aku jadi jembatannya, bukan tujuannya.

Yang tidak masuk akal adalah dua orang itu memilih duduk di sebelahku sejak hari pertama MOS, lalu tidak pernah pindah.

Dan setelah satu malam di kelas dua belas, di sebuah curug di Bogor yang airnya naik terlalu cepat setelah hujan, mereka mengucapkan sumpah yang sampai sekarang masih membuatku malu kalau diingat.

Evan basah kuyup, menggigil, bibirnya biru. Lucky duduk di batu dengan selimut darurat di bahu, matanya merah. Aku terbaring di tandu, bahu kananku nyeri sampai rasanya mau pingsan.

“Ris,” kata Evan waktu itu, suaranya serak. “Mulai malam ini, yang ngerendahin lo, urusan sama kita berdua.”

Lucky mengangguk tanpa bicara. Lalu ia menangis, dan Evan menjitaknya karena katanya Lucky jelek kalau menangis, lalu Evan sendiri menangis lebih keras.

Aku tidak bisa tertawa waktu itu. Bahuku terlalu sakit.

Sebelas tahun kemudian, mereka masih menepati sumpah itu.

Kadang terlalu rajin.


Senin pagi di Wiratama Tower selalu sama.

Lift penuh. Antrean di depan kedai kopi lantai dasar mengular sampai pintu putar. Orang-orang berjalan cepat dengan kartu akses di leher dan wajah yang belum siap menghadapi minggu baru.

Aku memarkir motor bebek biru di basement B3, di pojok khusus roda dua yang sebelahan dengan ruang genset. Motor itu umurnya sudah dua belas tahun. Catnya pudar di bagian jok, dan klaksonnya bunyi seperti bebek betulan yang sedang flu. Evan sudah berkali-kali menawariku pinjam salah satu mobilnya. Lucky lebih parah. Ia pernah memarkir motor matic baru di depan rumahku dengan pita merah di setangnya.

Aku mengembalikannya hari itu juga.

Bukan karena gengsi. Motor bebek ini masih jalan. Selama masih jalan, aku tidak butuh yang lain.

Aku menaiki tangga darurat seperti biasa. Kantorku di lantai tujuh, Divisi Data. Naik lift di jam segini butuh lima belas menit kalau sedang sial. Naik tangga butuh empat menit kalau napas sedang bagus.

Lagi pula, tangga darurat itu sepi. Aku suka tempat sepi.

Atau biasanya sepi.

Pagi itu, di bordes antara lantai delapan dan sembilan, ada seorang perempuan.

Ia berdiri membelakangiku, satu tangan memegang tumpukan kertas, satu tangan lagi menekan dadanya. Bukan karena sakit. Ia sedang menahan blazer abu-abunya agar tidak terbuka.

“Ya ampun, ya ampun, ya ampun,” gumamnya. “Kenapa sekarang. Kenapa harus sekarang.”

Aku berhenti di anak tangga. Ragu.

Lalu ia berbalik, dan aku lupa sedang ragu soal apa.

Ia cantik. Bukan cantik yang perlu dicari dulu sudutnya. Cantik yang langsung. Tinggi, hampir sejajar denganku walaupun aku berdiri satu anak tangga di bawah. Rambut hitam sebahu, bergelombang di ujung. Matanya tajam, dengan alis yang kelihatannya bisa memenangkan perdebatan sendirian. Lipstiknya warna nude, dan ada setitik keringat di pelipisnya.

Di telapak tangannya, sebutir kancing.

“Kancing,” katanya, seperti sedang melapor ke polisi. “Kancing kedua dari atas. Lepas. Saya presentasi ke direksi lima menit lagi.”

“Oh,” kataku.

Kalimat yang sangat membantu. Aku memang jago bicara.

“Kamu orang sini?” tanyanya cepat. “Tahu nggak di lantai ini ada yang jual peniti? Atau lakban? Atau stapler? Saya serius, stapler pun saya pakai.”

Aku menurunkan ransel dari bahu kiri, membuka resleting kantong depannya, dan mengeluarkan kotak plastik seukuran sabun batangan.

Kotak jahit.

Isinya jarum dua ukuran, benang hitam, putih, biru dongker, abu-abu, gunting lipat kecil, dan beberapa kancing cadangan. Ibuku menyiapkannya sejak aku masuk SMP. “Laki-laki juga harus bisa jahit kancing sendiri, Ris. Jangan nunggu istri,” katanya waktu itu. Sampai sekarang kotak itu tidak pernah keluar dari ranselku.

Perempuan itu menatap kotak jahit di tanganku, lalu menatap wajahku, lalu kembali ke kotak jahit.

“Kamu bawa kotak jahit,” katanya. “Ke kantor.”

“Iya, Mbak.”

“Kenapa?”

“Buat situasi kayak gini, Mbak.”

Ia membuka mulut, menutupnya lagi. Lalu menyodorkan kancingnya.

“Dua menit,” katanya. “Bisa?”

“Bisa, Mbak. Blazernya boleh dilepas dulu?”

Ia melepas blazer dengan gerakan cepat. Di baliknya ada blus putih tanpa lengan. Aku langsung menunduk ke kancing di tanganku, memasukkan benang abu-abu ke lubang jarum. Benangnya masuk sekali coba. Ibuku akan bangga.

Aku menjahit sambil berdiri, blazer itu kutahan di lutut kiri yang kunaikkan ke anak tangga. Empat lubang kancing, tusuk silang, lilitkan di bawah kancing supaya ada tangkainya, simpul mati di balik kain.

Perempuan itu tidak bicara. Ia memperhatikan tanganku. Lalu, karena mungkin diam membuatnya makin panik, ia membuka tumpukan kertas di tangannya dan mulai membaca keras-keras, berbisik.

“Total nilai kontrak, empat puluh tujuh koma dua miliar. Termasuk... termasuk...”

Aku melirik kertasnya. Bukan sengaja. Kertas itu hanya kebetulan dipegang di depan mataku, dan tabelnya kebetulan cukup besar.

“Halaman tiga, Mbak,” kataku tanpa berhenti menjahit.

“Apa?”

“Totalnya kurang. Kolom PPN di baris kedua belas belum masuk ke penjumlahan. Harusnya empat puluh delapan koma empat. Kurang satu koma dua miliar.”

Ia membalik kertas ke halaman tiga. Matanya bergerak cepat menelusuri tabel. Lalu berhenti.

“Ya Tuhan,” bisiknya.

“Kalau direksi nanya, bilang aja angka di slide itu sebelum pajak. Terus sebut angka yang lengkap. Kedengarannya kayak Mbak sengaja.”

Ia menatapku lama. Aku menggigit benang untuk memutusnya, karena gunting lipatnya terlalu jauh di dalam kotak, lalu merapikan ujung simpul.

“Sudah, Mbak.”

Aku menyodorkan blazer itu. Ia menerimanya, memakainya, mengancingkan kancing kedua dari atas. Kancing itu bertahan. Kencang. Rapi.

“Kamu,” katanya. “Nama kamu siapa?”

Aku sudah menyampirkan ransel di bahu kiri. Di bawah kami, terdengar pintu darurat lantai delapan dibuka orang, lalu tertutup lagi.

“Nggak usah, Mbak. Semoga lancar presentasinya.”

“Eh, tunggu...”

Aku sudah naik dua anak tangga. Aku tidak tahu kenapa aku pergi secepat itu. Mungkin karena aku tidak terbiasa dilihat selama itu oleh perempuan secantik itu. Mungkin karena aku tahu, kalau aku berhenti, cepat atau lambat ia akan bertanya apakah aku kenal Evan.

Mereka semua akhirnya bertanya begitu.

Lagi pula aku salah arah. Aku seharusnya turun ke lantai tujuh, bukan naik.

Jadi aku naik sampai lantai sepuluh, menunggu tiga menit di bordes sambil berpura-pura membaca rambu evakuasi, lalu turun lagi lewat tangga yang sama setelah memastikan ia sudah pergi.

Aku memang jago soal hal-hal seperti ini.


Lantai tujuh adalah lantai yang tidak dikunjungi siapa pun kecuali terpaksa.

Bukan karena jelek. Karena dingin. AC di Divisi Data disetel enam belas derajat untuk server di ruangan sebelah, dan tidak ada yang berani protes karena katanya server lebih penting daripada manusia. Kami bekerja dengan jaket. Ada yang pakai syal. Pak Darto dari tim infrastruktur pakai kupluk rajut.

“Aris.”

Suara Pak Reza datang dari pintu ruangannya. Reza Hartawan, Manajer Data, atasanku. Usianya empat puluh, rambutnya disisir ke belakang dengan pomade yang wanginya sampai ke meja pantry.

“Iya, Pak.”

“Laporan retensi pelanggan kuartal tiga. Bisa siang ini?”

Laporan itu biasanya butuh tiga hari. Aku sudah mengerjakannya sejak Jumat malam karena sudah tahu ia akan meminta mendadak.

“Bisa, Pak. Jam satu saya kirim.”

“Bagus. Pakai template saya, ya. Nama saya di cover.”

“Iya, Pak.”

Ia mengangguk dan masuk lagi ke ruangannya. Dari meja sebelah, Dini, staf baru yang masuk dua bulan lalu, melirikku dengan wajah prihatin.

“Mas Aris nggak keberatan namanya nggak dicantumin terus?”

Aku menyalakan komputer. “Yang penting laporannya kepakai.”

Dini menggeleng pelan, lalu kembali mengetik. Aku tahu ia menganggapku terlalu baik. Banyak yang menganggap begitu. Ada juga yang menganggapku terlalu bodoh.

Aku tidak keberatan dengan keduanya.


Jam dua belas lewat lima, keributan itu datang.

Aku mendengarnya sebelum melihatnya. Suara Evan memang begitu. Ia tidak bisa bicara pelan bahkan kalau nyawanya bergantung pada itu.

“LANTAI TUJUH! KENAPA LANTAI LO KAYAK KULKAS, RIS?”

Kepala-kepala di lantai tujuh menoleh serempak. Evan Pradana berdiri di depan pintu kaca dengan kemeja biru muda yang lengannya digulung sampai siku, jam tangan olahraga di pergelangan, dan senyum yang membuat Dini lupa caranya mengetik.

Di belakangnya, Lucky Wiratama melangkah masuk dengan jas abu-abu tua, tangan di saku, wajah datar seperti sedang menginspeksi pabrik.

“Ini kulkas, Van,” kata Lucky. “Ini freezer.”

“Gue nggak mau tahu. Ris, makan. Sekarang. Soto Bu Darsih, sebelum kuahnya habis.”

Aku melirik jam di layar. “Aku harus kirim laporan jam satu.”

“Udah selesai, kan?”

“Udah.”

“Ya udah, kirim sekarang.”

“Nanti Pak Reza curiga kenapa cepat.”

Evan menatapku lama. Lalu menatap Lucky. “Lo denger dia barusan?”

“Gue denger,” kata Lucky.

“Dia nahan laporan yang udah jadi supaya bosnya nggak curiga dia kerja kecepetan.”

“Gue denger, Van.”

“Itu penyakit, Luck. Itu penyakit kejiwaan.”

Seorang laki-laki muda dari tim lain, kelihatannya anak magang baru karena kartu aksesnya masih berwarna kuning, menghampiri Lucky dengan wajah berbinar.

“Pak Lucky, ya? Selamat siang, Pak. Saya Fadil, magang di tim analitik.” Ia menyalami Lucky dengan dua tangan, lalu melirikku yang sedang menutup laptop. “Mas ini asistennya Bapak? Atau sopirnya? Saya kira dari tadi Mas ini OB baru.”

Lantai tujuh mendadak hening.

Bahkan AC-nya terasa ikut berhenti berdesis.

Aku melihat rahang Lucky mengeras. Aku melihat Evan meletakkan satu tangan di pinggang, lalu memiringkan kepala dengan senyum yang sama sekali tidak ramah.

“Fadil,” kata Evan, manis sekali. “Fadil, ya?”

“I-iya, Mas.”

“Fadil, kamu tahu laporan retensi pelanggan yang dipakai direksi buat bikin keputusan budget tahun lalu?”

“Tahu, Mas. Laporannya Pak Reza, kan?”

“Bukan,” kata Lucky datar. “Yang bikin laporan itu orang yang barusan kamu bilang OB.”

Fadil memucat.

“Dia juga yang nemu bug di sistem billing tahun lalu,” lanjut Evan, sekarang dengan suara keras supaya terdengar sampai ke pojok ruangan, ke ruangan kaca Pak Reza, ke seluruh semesta. “Bug yang kalau nggak ketemu bisa bikin perusahaan ini rugi enam miliar. Kamu tahu dapat apa dia?”

“Van,” kataku.

“Ucapan terima kasih lewat email, Fadil. Email. Yang dikirim ke semua orang. Yang di-CC ke bosnya. Dan yang dapat bonus bosnya.”

“Van, sudah.”

“Gue belum sele...”

Aku berdiri dan menarik lengan kemejanya. Pelan. Lalu menoleh ke Fadil yang sekarang kelihatan seperti ingin tenggelam ke dalam karpet.

“Nggak apa-apa, Fadil,” kataku. “Saya memang sering dikira OB. Pak Darto juga pernah dikira tukang AC. Santai aja.”

“Woi, gue tukang AC beneran dulu,” sahut Pak Darto dari balik kupluknya.

Beberapa orang tertawa. Udara di lantai tujuh mencair sedikit. Fadil membungkuk tiga kali ke arahku, dua kali ke arah Lucky, lalu mundur dengan langkah yang hampir tersandung.

Aku menarik Evan dan Lucky keluar sebelum mereka berubah pikiran.

Di dalam lift, Lucky menatap pintu yang menutup dengan mata yang masih dingin.

“Gue bisa minta HR evaluasi masa magangnya,” katanya.

“Jangan.”

“Ris.”

“Dia nggak salah, Luck. Dia cuma salah tebak.”

Evan menghela napas panjang dan bersandar ke dinding lift. “Ini dia. Ini dia orangnya. Sebelas tahun gue kenal, sebelas tahun dia bilang ‘nggak apa-apa’. Kapan lo marah, Ris? Kasih tahu tanggalnya, gue mau bikin tumpeng.”

“Nanti aku kabari.”

“Gue serius.”

“Aku juga.”

Lucky akhirnya tersenyum tipis. Ia menepuk bahuku. Bahu kiri. Ia selalu menepuk bahu kiri. Sudah sebelas tahun ia tidak pernah salah.


Soto Bu Darsih ada di gang belakang Wiratama Tower. Tempatnya cuma tenda biru dengan enam meja plastik, tapi antreannya mengalahkan restoran di lantai dasar. Kami bertiga sudah makan di sini sejak hari pertama Evan dan aku masuk kerja, enam tahun lalu. Lucky menyusul dua tahun kemudian setelah pulang dari S2 di luar negeri, dan pada hari pertamanya ia memaksa kami membawanya ke sini dengan jas tiga lapis yang membuat Bu Darsih mengira ada inspeksi dari dinas kesehatan.

Bu Darsih masih memanggilnya “Pak Dinas” sampai sekarang.

“Pak Dinas, sotonya pakai babat?”

“Pakai, Bu. Dua porsi.”

“Kok dua?”

“Satu buat saya, satu buat Aris. Dia nggak bakal pesan babat sendiri karena katanya mahal.”

“Lima ribu bedanya, Luck.”

“Lima ribu itu bisa beli dua bakwan, katanya,” Lucky menirukan suaraku dengan nada yang sama sekali tidak mirip. “Gue hafal, Ris. Sebelas tahun.”

Kami makan sambil mengobrol hal-hal yang tidak penting. Evan baru putus dari pacarnya yang ketujuh tahun ini, karena katanya si cewek “terlalu sering nanya Lucky”. Lucky sedang dipaksa ibunya ikut makan malam dengan anak teman-teman arisannya setiap Sabtu. Aku mendengarkan, sesekali tertawa, sesekali mengambil kerupuk dari piring Evan karena kerupuknya pasti tidak dihabiskan.

“Eh, tadi pagi,” kata Evan tiba-tiba, mulutnya penuh nasi. “Ada yang heboh di lantai dua puluh. Anak Legal baru, presentasi kontrak ke direksi. Katanya keren banget. Bokap lo sampai tepuk tangan, Luck.”

“Bokap gue nggak pernah tepuk tangan.”

“Makanya heboh. Katanya cantik juga. Gue belum lihat. Nanti gue lihat.”

“Lo selalu bilang begitu.”

“Dan gue selalu benar.”

Aku menunduk ke mangkuk sotoku. Ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokan, dan bukan babat.

Anak Legal baru. Presentasi ke direksi. Cantik.

Pak Hendra tepuk tangan.

Berarti kancingnya bertahan. Berarti angkanya benar.

Aku tersenyum ke kuah soto, cukup lama sampai Evan menyipitkan mata.

“Lo kenapa senyum-senyum?”

“Sotonya enak.”

“Sotonya enak setiap hari selama enam tahun, dan lo nggak pernah senyum kayak gitu.”

“Hari ini lebih enak.”

Lucky meletakkan sendoknya dan menatapku dengan tatapan yang sama seperti tatapannya pada laporan keuangan yang mencurigakan. Aku cepat-cepat mengambil kerupuk lagi dari piring Evan.

“Woi, itu kerupuk gue.”

“Kamu nggak bakal habisin.”

“Gue bakal habisin hari ini. Khusus hari ini.”

Ia tidak menghabiskannya.


Rumahku di Jatiwaringin ada di ujung gang yang cukup lebar untuk satu mobil, kalau mobilnya kecil dan pengemudinya berani. Rumah tua dengan pagar besi hijau yang catnya mengelupas, teras sempit, dan papan kecil bertuliskan Jahit & Permak Bu Sumi yang sudah tergantung di sana sejak aku masih SD.

Ibuku sedang duduk di depan mesin jahit di ruang tamu yang merangkap ruang kerja. Kacamatanya melorot ke ujung hidung, satu kaki menginjak pedal, dan di sekelilingnya ada tumpukan seragam sekolah anak-anak tetangga yang harus dipermak sebelum tahun ajaran baru.

“Udah makan, Ris?”

“Udah, Bu. Siang. Malam belum.”

“Ada tempe goreng di meja. Sambal di kulkas. Nasi di rice cooker, jangan dicolok lagi, udah anget.”

“Iya, Bu.”

Aku mencium tangannya. Ia menepuk pipiku dengan tangan yang berbau minyak mesin jahit dan bedak tabur.

“Kamu kayak orang habis dapat lotre.”

“Masa, Bu?”

“Ibu kenal muka kamu dari bayi.”

Aku tidak menjawab. Aku mengambil piring, menyendok nasi, meletakkan dua potong tempe dan sesendok sambal, lalu membawanya ke kamar.

Kamarku kecil. Kasur busa di lantai, lemari plastik tiga susun, meja belajar dari SMA yang laci kirinya macet kalau ditarik terlalu keras. Di atas meja itu ada laptop yang umurnya baru dua tahun, satu-satunya barang di rumah ini yang tidak cocok dengan rumah ini.

Aku membuka laptop sambil mengunyah tempe.

Tiga notifikasi email. Satu dari klien di Rotterdam yang menanyakan revisi model prediksi stok gudang mereka. Satu dari agensi di Singapura yang ingin memperpanjang kontrak konsultasi data enam bulan lagi. Satu dari bursa yang memberi tahu laporan bulanan sudah tersedia.

Aku membuka dashboard.

Portofolio saham, dalam dan luar negeri. Deposito di tiga bank. Aset kripto yang kubeli bertahun-tahun lalu, waktu orang-orang masih menganggapnya permainan anak internet, dan tidak pernah kusentuh lagi sejak itu.

Angka di pojok kanan atas layar menunjukkan total yang sama seperti bulan lalu, ditambah sedikit.

Rp20.316.840.512

Aku menatapnya sebentar.

Lalu menutup laptop dan menghabiskan tempe gorengku.

Di ruang tamu, mesin jahit ibuku masih berbunyi. Teratur, seperti detak jantung rumah ini. Di luar, tetangga sebelah sedang memarahi kucingnya yang mencuri ikan asin.

Aku membawa piring kosong ke dapur, mencucinya, lalu berdiri di belakang ibuku.

“Bu.”

“Hm?”

“Besok saya bawa termos lagi, ya. Teh tawar.”

“Iya. Ibu siapin.” Ia tidak menoleh, tapi aku bisa melihat senyumnya dari pantulan kaca jendela. “Ada yang mau dikasih teh juga?”

“Nggak ada, Bu.”

“Hm.”

“Beneran.”

“Ibu nggak nanya apa-apa, Ris.”

Aku kembali ke kamar dan berbaring di kasur busa, menatap langit-langit yang ada noda bocor berbentuk seperti peta Kalimantan.

Kancing kedua dari atas.

Aku tidak tahu namanya. Ia juga tidak tahu namaku.

Itu lebih baik, pikirku. Karena kalau ia tahu, cepat atau lambat ia akan tahu aku duduk di sebelah Evan setiap jam makan siang.

Dan aku sudah tahu bagaimana cerita seperti itu berakhir.

Tiga puluh tujuh kali.