← Dari Awal, Bukan Buat Evan

Chapter Twenty Five

Mas Aris

POV: Aris


Rabu pagi, jam tujuh lewat lima puluh tiga, tidak ada siapa-siapa di bordes antara lantai delapan dan sembilan.

Aku tahu tidak akan ada siapa-siapa. Aku tahu itu sejak semalam, sejak berdiri di trotoar Pancoran dengan jas hujan di tangan, menatap lampu belakang taksi yang menghilang di tikungan. Aku tahu itu waktu pulang dengan baju basah kuyup dan ibuku membukakan pintu tanpa bertanya apa-apa, hanya menyodorkan handuk dan segelas teh jahe. Aku tahu itu waktu berbaring di kasur busa sampai jam empat pagi, menatap langit-langit, tidak tidur.

Tapi aku berhenti di bordes itu juga.

Lima menit. Sepuluh menit.

Tidak ada langkah kaki dari atas. Tidak ada wangi melati. Tidak ada suara yang berkata kancing saya lepas lagi.

Aku naik ke lantai tujuh.


Monica tidak menghindariku.

Itu yang paling sulit. Kalau ia menghindariku, aku bisa mengerti. Aku bisa menerima. Aku sudah terbiasa dihindari.

Tapi ia tidak menghindar. Jam sepuluh pagi, ada rapat koordinasi tindak lanjut gugatan Lintas Nusa di ruang rapat lantai sembilan. Legal dan Data. Aku datang karena Pak Harun memintaku langsung.

Monica sudah duduk di kursinya waktu aku masuk. Blazer biru dongker. Rambut diikat rapi. Riasan sempurna, kecuali di bawah mata, di mana ada bayangan yang tidak bisa ditutupi bedak.

Ia mengangkat wajah waktu aku masuk.

“Selamat pagi, Mas Aris,” katanya.

Mas Aris.

Sejak hari pertama, ia tidak pernah memanggilku Mas. Ia memanggilku Aris. Hanya Aris. Dengan cara yang membuat namaku terdengar seperti sesuatu yang ia sukai untuk diucapkan.

Sekarang Mas Aris. Sopan. Profesional. Seperti memanggil rekan kerja dari divisi lain yang tidak terlalu ia kenal.

“Pagi, Mbak,” kataku.

Ia mengangguk, lalu kembali menatap berkas di depannya.

Rapat berjalan satu jam. Monica memimpin pembahasan draf gugatan balik. Suaranya jernih, tenang, tidak bergetar sedikit pun. Ia menanyakan beberapa hal teknis padaku, dan setiap kali, ia memanggilku Mas Aris. Setiap kali, ia menatapku dengan mata yang sopan dan kosong, seperti menatap orang asing.

Aku menjawab semua pertanyaannya. Aku tidak tahu bagaimana. Otakku bekerja sendiri, seperti mesin, sementara bagian lain dari diriku duduk di pojok paling gelap dan menonton.

Di akhir rapat, Pak Harun menepuk bahuku.

“Bagus, Mas Aris. Terima kasih lagi.” Lalu ia menatap Monica, lalu menatapku, dan keningnya berkerut sedikit. “Kalian berdua kenapa? Kok kayak orang habis berantem?”

“Nggak apa-apa, Pak,” kata Monica sambil membereskan berkasnya. “Kurang tidur aja.”

“Dua-duanya?”

“Kebetulan, Pak.”

Ia keluar dari ruang rapat tanpa menoleh.


Di lantai tujuh, semua orang tahu.

Aku tidak tahu bagaimana. Mungkin Pak Kardi kenal seseorang yang kenal seseorang di Wiratama Tower. Mungkin satpam apartemen Monica kenal Pak Udin. Mungkin Dini punya jaringan intelijen yang lebih luas dari yang kubayangkan.

Atau mungkin tidak ada yang perlu memberi tahu. Mungkin cukup dengan melihat wajahku.

Dini tidak bertanya apa-apa. Ia hanya meletakkan sebungkus roti cokelat di mejaku jam sepuluh pagi, tanpa bicara, lalu kembali ke mejanya.

Pak Darto, yang sekarang tidak punya pemanas dan memakai dua jaket karena AC lantai tujuh baru akan dinaikkan minggu depan, menepuk bahuku waktu lewat ke pantry. Bahu kiri.

Jam sebelas, Mas Jono datang dengan kaki kanan dibalut perban elastis dan tongkat penyangga di ketiak. Ia membawa segelas kopi dari kedai kopi di lantai dasar dan meletakkannya di mejaku.

“Buat Mas Termos,” katanya. “Dari saya. Makasih yang kemarin.”

“Mas Jono, kakinya...”

“Terkilir aja, Mas. Seminggu sembuh.” Ia tersenyum. Lalu senyumnya memudar sedikit. “Mas, mukanya kok kayak orang habis ditinggal pacar?”

Dini, di meja sebelah, tersedak air minum.

“Saya nggak punya pacar, Mas Jono.”

“Oh.” Mas Jono menatapku lama. “Mbak Legal yang cantik itu?”

Aku tidak menjawab.

Mas Jono mengangguk pelan, seperti orang yang mengerti. Lalu ia menepuk bahuku, bahu kiri, dan berjalan pergi dengan tongkat penyangganya, pelan-pelan, menuju lift.

Di grup Lantai 7 Garis Keras, yang sekarang kubuka hanya karena tidak tahan dengan rasa penasaran, ada satu pesan baru dari Mbak Wati yang ternyata sudah lama bergabung diam-diam.

Klasemen ditunda sampai pemberitahuan lebih lanjut. Turut prihatin. 🙏


Jam dua belas, Evan menyeretku ke atap gedung parkir.

Benar-benar menyeret. Ia datang ke lantai tujuh, menarik lengan kiriku dari kursi tanpa bilang apa-apa, dan membawaku ke lift barang yang menuju gedung parkir. Dini menatap kami pergi dengan mata lebar. Pak Darto mengangkat jempol, entah untuk siapa.

Lucky sudah menunggu di atap. Bersandar di tiang beton yang sama. Jas dilepas, dasi longgar. Wajahnya lelah.

Evan melepaskan lenganku di tengah atap. Lalu berbalik menghadapku.

“Lo nolak dia,” katanya.

Aku tidak menjawab.

“Lo nolak dia di warung wedang ronde. Di tengah hujan.” Suara Evan naik satu tingkat. “Terus lo lari ngejar dia ke trotoar dan ngasih jas hujan.”

“Dia kehujanan, Van.”

“LO NOLAK CEWEK TERUS NGASIH JAS HUJAN, RIS!”

Suaranya memantul di dinding beton atap parkir. Seekor burung merpati yang sedang bertengger di pagar pembatas terbang kaget.

“Lo tahu nggak rasanya buat dia?” Evan melangkah lebih dekat. “Lo bilang dia pantas dapat yang lebih baik, terus lo bertingkah kayak orang yang paling baik sedunia. Lo bikin dia nggak bisa marah sama lo. Lo bikin dia nggak bisa benci lo. Itu kejam, Ris. Itu lebih kejam dari nolak doang.”

Aku menatap lantai beton. Ada retakan di sana, berbentuk seperti sungai kecil yang bercabang.

“Kamu tahu dari mana?” tanyaku pelan.

“Monica telepon gue jam satu pagi.” Suara Evan sedikit pecah. “Nangis. Nanya ke gue, Van, kamu tahu nggak kenapa dia bahunya kanan nggak bisa? Kamu tahu nggak kenapa dia nggak mau ke air? Kamu tahu nggak kenapa dia segitu yakinnya dia nggak pantas buat siapa-siapa?”

Aku menutup mata.

“Gue nggak bisa jawab,” kata Evan. “Itu cerita lo, bukan cerita gue.”

Angin di atap parkir bertiup. Panas. Membawa bau knalpot dari jalan di bawah.

“Dan satu lagi,” kata Evan. Suaranya turun, jauh lebih pelan sekarang. “Lo bilang ke dia, lo lihat dia ketawa sama gue semalem.”

Aku membuka mata.

“Lo tahu dia ketawa kenapa?” Evan menatapku. Matanya merah. “Dia ketawa karena gue niruin lo. Lima lantai, Mbak. Ketemunya di lantai enam. Gue niruin suara lo, Ris. Dan dia ketawa sampai nangis. Sampai nyender di lengan gue karena nggak kuat duduk. Lo tahu kenapa?”

Aku tidak menjawab.

“Karena dia seharian nahan takut lo mati di tangga itu.” Suara Evan pecah sepenuhnya. “Dia lihat lo dari atas, Ris. Dia lihat lo gendong Mas Jono pakai satu bahu. Dia nggak bisa nerobos, tangganya kepenuhan. Dia cuma bisa berdiri di sana dan lihat lo turun, satu anak tangga, satu anak tangga, sambil mikir kalau bahu lo yang kiri juga kenapa-kenapa...”

Ia berhenti. Mengusap matanya dengan punggung tangan.

“Dia ketawa karena lega lo masih hidup, bego.”

Atap parkir sunyi. Burung merpati kembali bertengger di pagar pembatas.

Aku berdiri di sana, menatap Evan, dan merasakan sesuatu di dadaku yang tidak bisa kujelaskan. Seperti dinding yang sudah runtuh, lalu dibangun ulang dengan tergesa-gesa, lalu runtuh lagi. Seperti benang yang ditarik terlalu keras sampai jahitannya mulai lepas satu per satu.

Lucky, yang sejak tadi diam, akhirnya bicara.

“Lo bilang ke dia, dia pantas dapat yang kelihatan.”

Suaranya pelan. Ia tidak bergerak dari tiang beton.

“Ris. Lo kelihatan.” Ia menatapku. “Kita yang lihat. Gue sama Evan. Sebelas tahun. Bu Sumi. Dini. Pak Darto. Mas Jono. Kiki. Pak Hendra. Bu Ambar. Satu lantai Sales yang tepuk tangan buat lo. Lo kelihatan, Ris. Lo cuma nggak mau percaya.”

Aku menatap Lucky.

Dan aku mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya kukatakan.

Aku tidak tahu kenapa aku mengatakannya. Mungkin karena aku tidak tidur semalam. Mungkin karena aku lelah. Mungkin karena ada sesuatu yang sudah terlalu lama kusimpan di tempat paling gelap, dan tempat itu akhirnya penuh.

“Kalian lihat aku,” kataku pelan, “karena kalian utang nyawa sama aku.”

Atap parkir membeku.

Evan menatapku dengan mulut terbuka. Lucky tidak bergerak. Wajahnya tidak berubah, tapi sesuatu di matanya pecah. Seperti kaca yang retak tanpa suara.

Aku langsung tahu aku salah. Aku tahu saat kalimat itu keluar dari mulutku. Tapi kalimat itu sudah keluar, dan tidak bisa ditarik kembali, seperti air yang sudah tumpah dari termos.

“Luck,” kataku. “Bukan, maksudku...”

Lucky tidak menjawab. Ia menatapku lama. Lalu, pelan, ia berbalik menghadap pagar pembatas, membelakangiku, menatap gedung-gedung Kuningan di kejauhan.

Bahunya bergetar.

Evan yang meledak.

“LO PIKIR KITA TEMENAN SAMA LO KARENA UTANG?”

Ia melangkah maju dan mencengkeram kerah kemejaku dengan dua tangan. Tidak keras. Tidak menyakitkan. Tapi cengkeramannya bergetar.

“Lo pikir sebelas tahun ini cuma bayar utang? Lo pikir gue dateng ke rumah lo tiap ulang tahun Bu Sumi karena utang? Lo pikir Lucky nggak tidur semalaman buat ngecek riwayat versi file karena utang?” Air mata mengalir di pipi Evan. “Gue temenan sama lo dari MOS, Ris! Dari hari pertama! Sebelum curug! Sebelum lo nyelametin gue! Lo yang bantuin gue ngerjain tugas fisika waktu gue mau remedial! Lo yang jahitin celana gue waktu robek di pagar! Lo yang ngajarin Lucky matematika tiap malem lewat telepon karena dia malu ketahuan nyokapnya!”

Ia mengguncang kerahku sekali.

“Kita sayang sama lo bukan karena lo nyelametin kita! Kita sayang sama lo karena lo ARIS!”

Ia melepaskan kerahku. Mundur dua langkah. Memalingkan wajah, menghapus air matanya dengan kasar.

Aku berdiri di tengah atap parkir, dengan kerah kemeja yang kusut dan sesuatu yang besar dan panas di tenggorokan.

“Maaf,” kataku. Suaraku hampir tidak keluar. “Maaf, Van. Maaf, Luck.”

Lucky masih membelakangiku. Bahunya masih bergetar.

Aku berjalan pelan ke arahnya. Berdiri di sebelahnya, di depan pagar pembatas. Aku tidak berani menatapnya.

“Luck,” kataku. “Aku nggak maksud...”

“Gue tahu,” katanya pelan, tanpa menoleh. Suaranya serak. “Gue tahu lo nggak maksud.”

“Aku capek, Luck. Aku nggak tidur.”

“Gue tahu.”

“Aku nggak tahu kenapa aku ngomong gitu.”

Lucky akhirnya menoleh. Matanya merah dan basah.

“Lo ngomong gitu,” katanya, “karena lo udah sebelas tahun mikir kayak gitu. Lo cuma nggak pernah ngomong keras-keras.”

Aku tidak bisa membantah.

“Lo pikir semua orang yang baik sama lo, baik karena ada alasannya. Karena utang. Karena kasihan. Karena lo temen gue. Karena lo bisa dipakai.” Lucky menghela napas panjang. “Lo nggak pernah mikir ada orang yang baik sama lo cuma karena lo layak dibaikin.”

Angin bertiup. Burung merpati terbang lagi.

“Termasuk Monica,” kata Lucky pelan.

Aku menatap gedung-gedung di kejauhan. Wiratama Tower menjulang di sebelah kiri, dengan dinding kaca yang memantulkan matahari siang. Di salah satu jendelanya, di lantai sembilan, ada seseorang yang memanggilku Mas Aris pagi tadi.

“Dia pantas dapat yang lebih baik, Luck.”

“Siapa yang tentuin?”

Aku diam.

Yang pantas dapat apa itu Ibu yang tentuin. Bukan kamu.

Evan berjalan mendekat dan berdiri di sisiku yang lain. Kami bertiga berdiri berjajar di depan pagar pembatas atap parkir, seperti dulu di atap gedung olahraga sekolah, waktu masa depan masih terasa sangat jauh.

“Ris,” kata Evan pelan. Suaranya sudah tenang sekarang. “Kenapa lo nggak cerita ke dia? Soal bahu lo. Soal curug.”

“Itu bukan cerita yang bisa dibanggain, Van.”

“Itu cerita lo nyelametin dua orang.”

“Itu cerita aku kehilangan...”

Aku berhenti.

Evan dan Lucky menoleh ke arahku bersamaan.

“Kehilangan apa?” tanya Lucky.

Aku menatap gedung-gedung di kejauhan. Amplop cokelat di laci kiri meja belajarku. Surat yang tidak pernah kubuka lagi sejak sebelas tahun lalu. Logo kecil di pojok kiri atas, separuh tertutup buku.

“Nggak apa-apa,” kataku. “Kehilangan bahu. Itu aja.”

Lucky menatapku lama. Matanya menyipit sedikit, seperti waktu ia membaca laporan keuangan yang angkanya tidak cocok.

Tapi ia tidak bertanya lagi.


Sore harinya, Lucky mengirim pesan ke grup.

Lucky: Renata nggak masuk hari ini. Sakit katanya. Nggak bales chat gue dari semalem.

Evan: Sakit apa?

Lucky: Nggak tahu. Dia cuma bilang kepalanya pusing. Terus nggak bales lagi.

Lucky: Gue khawatir.

Aku menatap pesan itu. Teringat Renata di depan pagar rumahku, memeluk termos teh di dadanya, menatapku dengan mata basah. Aris. Kamu... Lalu tidak melanjutkan.

Teringat Renata di kondangan Bu Ambar, berbisik maaf, Mon.

Ada sesuatu di sana. Sesuatu yang tidak kumengerti. Tapi aku terlalu lelah untuk memikirkannya hari ini.

Jam empat sore, ponselku berdering. Nomor yang tidak kukenal. Nomor kantor, dengan kode area Jakarta Pusat.

“Halo?”

“Selamat sore. Dengan Mas Aris Setiawan?” Suara perempuan. Sopan, rapi, terlatih. Suara sekretaris.

“Iya, saya sendiri.”

“Saya Dewi, sekretaris pribadi Ibu Ratna Wiratama. Ibu Ratna ingin mengundang Mas Aris makan siang besok. Jam dua belas, di restoran Hotel Mandarin, Thamrin. Ibu Ratna mohon Mas Aris datang sendiri.”

Aku menatap layar monitor di depanku. Om Termos tersenyum dari gambar krayon di sudutnya, dengan huruf S yang terbalik.

“Boleh saya tahu ada keperluan apa, Mbak?”

“Ibu Ratna hanya bilang, ada hal penting yang ingin dibicarakan secara pribadi.” Jeda sebentar. “Ibu Ratna juga meminta agar Mas Aris tidak memberi tahu Pak Lucky mengenai pertemuan ini.”

Aku diam.

“Mas Aris?”

“Iya, Mbak. Saya dateng.”

“Terima kasih. Selamat sore.”

Telepon ditutup.

Aku meletakkan ponsel di meja. Dini, dari meja sebelah, menatapku dengan khawatir.

“Mas Aris? Siapa?”

“Ibunya Lucky, Din.”

Dini menatapku lama. Lalu, pelan-pelan, ia meletakkan pulpennya.

“Mas,” katanya pelan. “Hati-hati.”

Aku tidak menjawab.

Di luar jendela lantai tujuh, langit Jakarta mulai menggelap. Mendung. Hujan akan turun lagi. Aku tidak perlu ramalan cuaca untuk tahu.

Aku membuka laci meja kerjaku dan menatap kotak jahit di dalam ransel. Kotak plastik seukuran sabun batangan. Benang abu-abunya tinggal sedikit, karena aku belum sempat membeli lagi.

Aku teringat suara Monica di tangga darurat, sambil tertawa. Benang abu-abunya beli lagi. Yang banyak.

Aku menutup laci.

Besok aku akan bertemu Bu Ratna Wiratama.

Dan untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, aku tidak tahu apakah aku akan pulang dengan sesuatu yang masih utuh.