Chapter Twenty Eight
Benalu
POV: Lucky
Grand Ballroom Hotel Mulia malam itu dihias dengan warna emas dan putih.
Tiga puluh lima tahun Wiratama Group. Delapan ratus tamu. Meja-meja bundar dengan taplak putih dan rangkaian bunga anggrek putih di tengahnya. Panggung besar di ujung ruangan dengan layar LED raksasa yang menampilkan logo perusahaan berputar pelan. Orkestra kecil di sudut memainkan lagu-lagu lama yang disukai Papa.
Aku berdiri di dekat pintu masuk ballroom dengan jas hitam dan dasi perak, menyalami tamu-tamu yang datang. Senyum. Jabat tangan. Senyum lagi. Aku sudah melakukan ini sejak umur dua belas, sejak Papa pertama kali membawaku ke acara ulang tahun perusahaan dan menyuruhku berdiri di sebelahnya. Pewaris harus kelihatan, Lucky.
Malam ini aku tidak ingin kelihatan.
Renata belum datang. Ia membalas pesanku Kamis malam dengan satu kalimat, Sabtu, di anniversary. Aku jelasin semuanya. Aku janji, lalu mematikan ponselnya. Aku menelepon dua puluh tiga kali sejak itu. Dua puluh tiga. Aku menghitungnya, karena itu sama dengan jumlah saksi di warung soto Bu Darsih, dan aku merasa itu pertanda buruk.
Monica juga tidak membalas pesanku. Evan bilang Monica tidak membalas pesannya juga. Evan bilang Monica datang ke kantor hari Jumat dengan mata bengkak, bekerja tanpa bicara dengan siapa pun, dan pulang jam lima tepat.
Dan Aris.
Aris membalas pesanku. Tapi balasannya hanya satu kata. Iya. Untuk semua pertanyaan. Lo baik-baik aja? Iya. Lo dateng ke anniversary? Iya. Ada yang mau lo ceritain ke gue? Iya.
Lalu, setelah aku bertanya Apa?, tidak ada balasan lagi.
Mama datang jam tujuh lewat lima belas, bersama Papa.
Kebaya putih gading dengan sulaman benang emas. Sanggul tinggi. Kalung mutiara tiga lapis. Ia berjalan di sebelah Papa dengan anggun, menyapa tamu-tamu dengan senyum yang sudah ia sempurnakan selama tiga puluh lima tahun menjadi istri direktur utama.
Ia melihatku di dekat pintu. Ia tersenyum.
Tapi senyumnya tidak sampai ke mata. Ada sesuatu yang tegang di wajahnya. Sesuatu yang kaku, seperti orang yang baru menerima kabar buruk dan sedang menunggu kabar yang lebih buruk lagi.
“Mama baik-baik aja?” tanyaku waktu mencium pipinya.
“Baik, Sayang.” Ia merapikan dasiku, walaupun dasiku sudah rapi. “Rena udah dateng?”
“Belum.”
“Hm.” Matanya menyipit sebentar. “Nanti kalau dia dateng, bilang ke Mama.”
Aku menatapnya. “Kenapa?”
“Mama mau ngomong sesuatu sama dia.”
Papa, di sebelah Mama, menatapku dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Lalu menepuk bahuku dan mengajak Mama masuk ke ballroom.
Aris datang jam tujuh lewat empat puluh.
Ia memakai kemeja batik cokelat tanah dengan motif parang kecil. Batik yang dijahit Bu Sumi untuk kondangan Bu Ambar. Satu-satunya batik yang ia punya. Celana bahan hitam. Sepatu kulit dengan sol yang sudah diganti dua kali.
Wajahnya pucat. Lebih pucat dari kemarin. Ada bayangan gelap di bawah matanya, dan pipinya terlihat sedikit lebih tirus, seperti orang yang tidak makan dengan benar selama beberapa hari.
“Ris.”
“Luck.”
Aku memeluknya. Ia membalas pelukanku dengan satu lengan. Lengan kiri.
“Lo kenapa nggak bales chat gue?”
“Aku bales.”
“Lo bales ‘iya’ doang.”
“Itu bales, Luck.”
Aku menatapnya. Ia menatap lantai.
“Ris,” kataku pelan. “Lo ketemu nyokap gue, kan? Kamis kemarin.”
Ia mengangkat wajah. Matanya bertemu mataku. Hanya sebentar. Lalu ia menatap lantai lagi.
“Dari mana kamu tahu?”
“Pak Udin.” Aku menahan sesuatu di tenggorokan. “Pak Udin bilang sekretaris nyokap gue telepon dia, nanya nomor HP lo. Terus Kamis siang lo izin setengah hari. Dini bilang lo pulang pakai muka kayak orang habis lihat hantu.”
Aris tidak menjawab.
“Nyokap gue ngomong apa ke lo?”
“Nggak apa-apa, Luck.”
“Ris.”
“Nanti,” katanya. Suaranya pelan sekali. “Nanti aku cerita. Bukan sekarang. Ini acara bapakmu.”
Lalu ia masuk ke ballroom, mencari meja Divisi Data di bagian belakang, jauh dari panggung, di dekat pintu darurat.
Aku menatap punggungnya. Bahu kanannya sedikit lebih rendah dari bahu kirinya. Seperti biasa. Tapi malam ini bahunya terlihat lebih turun. Seperti orang yang membawa beban yang terlalu berat.
Renata datang jam delapan kurang lima.
Gaun biru tua, sederhana. Rambut tergerai. Tanpa riasan berat. Wajahnya pucat dan matanya sembab, dan ia berjalan masuk ke ballroom dengan langkah orang yang sedang berjalan menuju tiang gantungan.
Ia melihatku dari seberang ruangan. Berhenti. Menatapku.
Aku berjalan ke arahnya, cepat, menerobos tamu-tamu yang berdiri. Ia tidak bergerak. Ia hanya berdiri di sana, menungguku, dengan tangan saling meremas di depan perutnya.
“Ren.”
“Lucky.”
“Kamu ke mana aja? Gue telepon dua puluh tiga kali.”
“Aku tahu.” Suaranya bergetar. “Maaf.”
“Ada apa? Monica kenapa? Kenapa dia nangis di lobi apartemen kamu?”
Renata menatapku. Air mata menggenang di matanya.
“Lucky,” katanya pelan. “Ada yang harus aku bilang ke kamu. Sebelum orang lain bilang.”
“Bilang apa?”
Ia membuka mulut.
Lalu matanya bergeser ke belakang bahuku. Ke arah panggung. Dan wajahnya berubah, dari pucat menjadi putih sepenuhnya, seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang paling ia takutkan.
Aku menoleh.
Mama berdiri di samping panggung, di sebelah Papa. Menatap Renata. Lurus. Tanpa senyum.
Pembawa acara membuka acara jam delapan tepat.
Sambutan Papa. Video sejarah perusahaan tiga puluh lima tahun. Pemotongan tumpeng. Penghargaan untuk karyawan yang sudah bekerja dua puluh lima tahun dan tiga puluh tahun. Semua berjalan lancar. Tamu-tamu tertawa di tempat yang tepat, bertepuk tangan di tempat yang tepat.
Renata duduk di meja Corporate Communications, di sisi kiri ballroom. Aku duduk di meja direksi di depan panggung, di sebelah Mama. Monica duduk di meja Legal, di sisi kanan, tidak menatap ke arah meja Corporate Communications sekali pun. Evan duduk di meja Sales, di tengah, dan terus-menerus menoleh ke belakang, ke meja Divisi Data di dekat pintu darurat, tempat Aris duduk di kursi paling ujung.
Jam sembilan kurang sepuluh, pembawa acara mengumumkan penghargaan terakhir.
“Malam ini, Bapak Hendra Wiratama ingin memberikan satu penghargaan khusus. Penghargaan yang baru pertama kali diberikan dalam sejarah Wiratama Group. Penghargaan Insan Wiratama.”
Ruangan hening.
Papa naik ke panggung. Ia berdiri di depan mikrofon, dengan plakat kaca di tangan. Plakat berbentuk tetesan air, dengan logo perusahaan di dalamnya.
“Penghargaan ini,” kata Papa, “untuk seseorang yang dalam tiga bulan terakhir menyelamatkan perusahaan ini dari kerugian lebih dari tujuh puluh miliar rupiah. Yang memperbaiki model anggaran kita sebelum kita membuang uang ke tempat yang salah. Yang membuktikan krisis data palsu dalam empat puluh tiga menit. Yang memadamkan api di lantai tujuh dengan alat yang benar, lalu menggendong rekan kerjanya yang cedera turun lima lantai.”
Bisik-bisik menyebar di ruangan. Kepala-kepala menoleh ke meja-meja di belakang.
“Dan yang selalu, setiap kali, meminta namanya tidak disebut,” kata Papa. Ia tersenyum. Senyum yang jarang sekali kulihat. “Malam ini, saya menolak permintaan itu.”
Ia menatap ke ujung ballroom. Ke meja Divisi Data. Ke kursi paling ujung, dekat pintu darurat.
“Aris Setiawan. Divisi Data. Silakan naik ke panggung.”
Ballroom meledak dengan tepuk tangan.
Lantai tujuh berdiri dari meja mereka dan bersiul. Dini menjerit. Pak Darto menangis lagi. Meja Sales, dipimpin Evan yang berdiri di atas kursi, bertepuk tangan sambil berteriak nama Aris. Bu Ambar, di meja direksi, bertepuk tangan dengan wajah puas. Pak Harun dari Legal mengangkat gelas.
Dan di meja paling belakang, Aris tidak bergerak.
Ia duduk di kursinya, membeku, menatap panggung dengan wajah orang yang baru saja ditembak lampu sorot di tengah malam.
Dini menarik lengannya. Pak Darto mendorong punggungnya. Ia berdiri, akhirnya, pelan-pelan, dan mulai berjalan ke depan. Melewati meja-meja. Melewati delapan ratus tamu yang bertepuk tangan. Kepalanya menunduk.
Aku melihatnya berjalan dan merasakan sesuatu yang panas di mata. Akhirnya. Akhirnya, setelah sebelas tahun, seseorang selain aku dan Evan menyebut namanya keras-keras.
Lalu kursi di sebelahku bergeser.
Mama berdiri.
“Mohon maaf, Pak Hendra.”
Suara Mama tidak keras. Tapi mikrofon di meja direksi, yang tadi dipakai untuk sambutan, masih menyala. Suaranya keluar dari pengeras suara di seluruh ballroom.
Tepuk tangan berhenti. Pelan-pelan, satu per satu.
Papa menoleh dari panggung. “Ratna?”
“Sebelum penghargaan ini diberikan,” kata Mama, berdiri di samping meja direksi dengan mikrofon di tangan, “saya rasa semua orang di ruangan ini perlu tahu sesuatu.”
Aris berhenti berjalan. Di tengah ballroom. Di antara meja-meja. Sendirian.
“Ma,” kataku. Aku berdiri. “Ma, jangan.”
Mama tidak menatapku. Ia menatap Aris.
“Sebelas tahun lalu, anak ini menyelamatkan anak saya di sebuah curug di Bogor,” katanya. Suaranya tenang. Lembut. Suara seorang ibu yang sedang bercerita. “Saya bersyukur. Saya membayar semua biaya rumah sakitnya. Operasi, rawat inap, fisioterapi. Semuanya.”
Ruangan hening. Delapan ratus orang menatap Mama, lalu menatap Aris.
“Tapi sejak hari itu, dia tidak pernah pergi dari hidup anak saya. Sekolah. Kuliah. Sekarang kantor. Ke mana pun anak saya pergi, dia ada.” Mama menghela napas. “Anak saya memberinya hadiah. Mesin jahit. Laptop. Entah apa lagi. Dan tiba-tiba, staf data biasa ini bisa membayar tagihan rumah sakit anak orang lain delapan juta rupiah. Bisa membeli laptop yang lebih mahal dari yang anak saya berikan.”
“Ma!”
“Saya punya laporan lengkap,” lanjut Mama, tidak mengindahkanku. “Dari seseorang yang sangat dekat dengan lingkaran anak saya. Seseorang yang saya percaya seperti anak saya sendiri.”
Ia menoleh ke kiri. Ke meja Corporate Communications.
“Rena,” katanya. “Kamu yang paling tahu, kan, Sayang?”
Delapan ratus kepala menoleh ke meja Corporate Communications.
Renata duduk di kursinya, putih seperti kertas, kedua tangan menutup mulut.
Aku menatapnya.
Ia menatapku balik. Dari seberang ballroom. Air matanya mengalir.
Lalu ia mengangguk.
Pelan sekali. Hampir tidak kelihatan.
Seperti di warung soto Bu Darsih, waktu ia bilang iya.
Dunia di sekitarku berhenti. Orkestra, tamu-tamu, lampu kristal, layar LED raksasa. Semuanya menghilang. Yang tersisa hanya Renata di seberang ruangan, mengangguk, dan suara Mama yang terus bicara, yang terdengar dari jauh sekali, seperti dari dasar air.
“Dia bahkan mendekati staf kita,” kata Mama. “Perempuan baik dari Divisi Legal. Sahabat Rena. Membuatnya menangis berkali-kali. Di lapangan parkir. Di warung pinggir jalan. Perempuan baik itu pantas mendapatkan yang lebih baik.”
Di meja Legal, Monica berdiri. Kursinya terjatuh ke belakang.
“Saya cuma seorang ibu,” kata Mama. “Saya cuma ingin melindungi anak saya. Dan saya rasa, sebelum perusahaan ini memberikan penghargaan tertinggi, kita semua perlu tahu siapa yang sebenarnya kita beri penghargaan.”
Ia menatap Aris lurus.
“Seseorang yang sebelas tahun hidup menempel di keluarga orang lain. Seperti benalu.”
Aku tidak ingat berjalan ke panggung.
Aku hanya ingat tiba-tiba aku sudah berdiri di depan meja direksi, di depan Mama, di depan mikrofon. Aku mengambil mikrofon dari tangannya. Pelan. Ia tidak melawan. Ia menatapku dengan mata yang membesar, seperti tidak percaya anaknya sendiri baru saja merebut mikrofon dari tangannya di depan delapan ratus orang.
Aku menatap ballroom. Delapan ratus orang menatapku balik.
Lalu aku menatap Aris. Masih berdiri di tengah ballroom. Sendirian. Kepala menunduk.
Seperti di auditorium lantai lima belas. Seperti setiap kali, selama sebelas tahun, ada orang yang menghinanya. Ia menunduk. Seperti ia setuju.
Aku mengangkat mikrofon.
“Sebelas tahun lalu,” kataku. Suaraku bergetar. Aku membiarkannya bergetar. “Di curug di Bogor. Gue sama Evan ditantang temen-temen buat renang di bagian atas aliran. Habis hujan. Airnya naik. Gue sama Evan kebawa arus.”
Ballroom hening.
“Aris lompat. Dua kali. Pertama dia narik Evan. Terus dia balik lagi buat gue. Waktu narik gue, bahunya kena batu. Bahunya patah. Gue denger bunyinya.” Aku menelan sesuatu yang besar di tenggorokan. “Dia nggak lepasin tangan gue. Dia tarik gue pakai tangan kiri sampai ke pinggir. Terus dia pingsan.”
Di meja Sales, Evan sudah turun dari kursinya. Berdiri. Wajahnya basah.
“Mama bayar biaya rumah sakitnya,” kataku. Aku menoleh ke Mama. Ia masih berdiri di sebelahku, dengan wajah yang mulai berubah. “Mama nggak tahu, Ma? Dia udah lunasin.”
Mama menatapku.
“Dia cicil ke Papa. Setiap bulan. Empat tahun. Sejak gaji pertamanya.” Suaraku pecah. “Sampai lunas. Sampai ke rupiah terakhir. Papa tahu. Gue tahu, dua tahun lalu, Papa keceplosan. Papa minta gue diem, supaya Mama nggak malu.”
“Itu bohong,” bisik Mama.
“Tanya Papa, Ma.”
Mama menoleh ke panggung. Papa berdiri di sana, dengan plakat kaca di tangan, menatap istrinya dengan wajah yang sangat lelah.
Ia tidak membantah.
Mama menatap Papa lama. Lalu menatapku. Bibirnya bergetar.
Aku menatap delapan ratus tamu di ballroom.
“Sebelas tahun gue sama Evan punya sumpah,” kataku. “Sumpah yang kita bikin malam itu, di pinggir curug, waktu bibir gue masih biru dan dia masih pingsan di tandu.”
Aku menatap Mama. Ibuku. Wanita yang membesarkanku. Wanita yang selalu merapikan dasiku walaupun dasiku sudah rapi.
“Yang ngerendahin Aris,” kataku, “urusan sama gue.”
Mama menatapku.
“Termasuk Mama.”
Ballroom membeku.
Lalu, dari tengah ruangan, terdengar suara langkah kaki. Pelan. Teratur. Sedikit lebih berat di kaki kiri.
Aris berjalan ke depan.
Bukan ke arahku. Ke arah panggung. Ia naik tiga anak tangga kecil ke atas panggung, berdiri di depan Papa, dan menatap plakat kaca berbentuk tetesan air di tangan Papa.
Papa mengulurkan plakat itu padanya.
Aris tidak menerimanya. Ia hanya menatapnya. Lama. Lalu ia membungkuk. Dalam. Ke arah Papa.
“Terima kasih, Pak,” katanya. Suaranya pelan, tapi mikrofon di podium menangkapnya, dan suaranya keluar dari pengeras suara di seluruh ballroom. “Tapi saya nggak bisa terima ini.”
Papa menatapnya. “Aris.”
“Saya bukan orang yang pantas, Pak.”
Lalu ia berbalik. Turun dari panggung. Berhenti di depan Mama, yang masih berdiri di samping meja direksi dengan wajah putih.
Ia membungkuk lagi. Ke arah Mama. Sama dalamnya.
“Maaf, Bu,” katanya.
Hanya itu. Dua kata.
Maaf, Bu.
Lalu ia berjalan. Melewati meja direksi. Melewati meja-meja bertaplak putih dan rangkaian anggrek. Melewati delapan ratus tamu yang menatapnya dalam diam. Melewati meja Divisi Data, di mana Dini menangis dan Pak Darto berdiri dengan tangan terulur seperti mau menahannya.
Ia tidak berhenti.
Ia keluar lewat pintu darurat di ujung ballroom. Pintu yang paling dekat dengan mejanya. Pintu yang paling jauh dari panggung.
Ke arah yang salah. Seperti biasa.
“RIS!”
Evan berlari mengejarnya. Menabrak kursi, hampir menjatuhkan seorang pelayan yang membawa nampan gelas. Ia menghilang di balik pintu darurat.
Di sisi kanan ballroom, Monica sudah setengah jalan menuju pintu darurat. Ia berlari dengan sepatu berhak yang membuatnya tersandung dua kali. Ia tidak berhenti.
Aku berdiri di depan meja direksi dengan mikrofon di tangan.
Di sebelahku, Mama duduk perlahan di kursinya. Ia menatap pintu darurat tempat Aris menghilang. Tangannya, yang tadi memegang mikrofon dengan sangat tenang, sekarang gemetar di atas pangkuannya.
Di atas panggung, Papa berdiri sendirian dengan plakat kaca yang tidak jadi diberikan.
Dan di meja Corporate Communications, Renata menangis dengan wajah tertutup kedua tangan.
Aku meletakkan mikrofon di meja. Lalu berjalan ke meja Corporate Communications. Pelan. Melewati tamu-tamu yang menatapku. Melewati pelayan-pelayan yang berdiri membeku dengan nampan di tangan.
Aku berhenti di depan Renata.
Ia menurunkan tangannya dari wajah. Menatapku. Matanya merah, basah, sangat ketakutan.
“Sejak kapan?” tanyaku pelan.
Bibirnya bergetar.
“Dari awal,” bisiknya.
Aku menatapnya lama.
Perempuan yang membungkus kado untuk Bu Sumi dengan air mata di kertas kadonya. Perempuan yang memilih benang Jepang dua puluh empat warna. Perempuan yang kugenggam tangannya di restoran Jepang, waktu aku menceritakan malam di curug untuk pertama kalinya kepada orang selain Evan dan Aris.
Ia menangis waktu itu. Aku pikir ia menangis karena ceritanya sedih.
“Waktu gue cerita soal curug,” kataku. Suaraku hampir tidak keluar. “Di restoran Jepang. Kamu nangis.”
“Lucky...”
“Kamu nangis karena ceritanya sedih? Atau karena kamu harus laporan ke nyokap gue setelah itu?”
Renata tidak bisa menjawab. Ia hanya menangis.
Diamnya adalah jawaban.
Aku berbalik dan berjalan pergi. Keluar dari ballroom, lewat pintu utama, ke lobi hotel yang terang dan sepi, ke udara malam Jakarta yang panas dan lembap.
Di belakangku, Renata memanggil namaku sekali.
Aku tidak berhenti.
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu reading
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan