Chapter Twenty
Calon Saya
POV: Aris
Ibuku menjahitkan kemeja batik untukku hari Kamis malam.
Aku tidak memintanya. Aku pulang dari kantor jam sembilan, setelah dua hari hampir tidak tidur karena kasus Lintas Nusa, dan menemukan kemeja itu tergantung di pintu lemari plastik di kamarku. Batik tulis warna cokelat tanah dengan motif parang kecil, lengan panjang, potongan pas badan. Kerahnya dijahit dengan rapi sekali. Kancingnya dari tempurung kelapa.
Aku memegang lengan kemeja itu, dan melihat jahitannya. Halus, rapat, tidak ada satu pun benang yang mencuat.
Benang Jepang. Yang dari Lucky.
“Bu,” panggilku dari kamar. “Ini buat apa?”
“Buat kondangan,” jawab ibuku dari ruang tamu, tanpa berhenti menjahit sesuatu yang lain.
“Kondangan siapa?”
“Anaknya Bu Ambar. Sabtu.”
Aku keluar dari kamar dengan kemeja batik di tangan. Ibuku sedang menjahit di depan mesin jahitnya, kacamata melorot di ujung hidung. Di meja potong di sebelahnya, ada selembar kain lain. Warna hijau sage, lembut, dengan potongan yang terlihat seperti...
“Bu, itu apa?”
Ibuku menarik kain hijau sage itu dan melipatnya cepat, lalu menyelipkannya di bawah tumpukan seragam sekolah.
“Pesanan orang.”
“Pesanan siapa?”
“Pelanggan.”
“Pelanggan siapa, Bu?”
Ibuku akhirnya menoleh. Ia menatapku dari balik kacamatanya dengan wajah yang sangat datar, wajah yang sama seperti waktu aku kelas tiga SD dan bertanya apakah Sinterklas itu benar-benar ada.
“Ris,” katanya. “Kamu besok kerja, kan? Tidur sana.”
Aku tahu ibuku berbohong hari Sabtu malam, jam tujuh kurang sepuluh, di depan pintu masuk gedung resepsi di kawasan Senayan.
Monica berdiri di dekat pilar besar di samping meja penerima tamu, memakai kebaya modern berwarna hijau sage. Lembut. Potongannya pas sekali di bahu, dan lehernya sedikit terbuka, memperlihatkan tulang selangka yang dihiasi kalung tipis. Rambutnya disanggul longgar dengan beberapa helai jatuh di samping pipi. Kain bawahannya batik cokelat tanah dengan motif parang kecil.
Sama dengan kemejaku.
Persis sama.
Aku berhenti berjalan di tengah karpet merah. Seorang bapak di belakangku hampir menabrak punggungku.
Monica melihatku. Ia melihat kemeja batikku. Ia tersenyum, senyum yang dimulai dari sudut bibir kiri, pelan, lalu sampai ke mata.
“Ibu kamu jago,” katanya, waktu aku akhirnya sampai di depannya.
“Ibu saya ngukur badan Mbak buat ini?”
“Ibu kamu ngukur badanku buat jaga-jaga. Ternyata jaga-jaganya buat ini.”
“Mbak tahu dari kapan?”
“Dari Senin. Ibu kamu telepon aku. Nanya aku mau dateng ke kondangan Bu Ambar atau nggak. Terus nanya aku punya kebaya warna apa. Terus bilang ‘jangan beli, Ibu jahitin’.” Monica menatap kain batik cokelat tanah di pinggangnya. “Kainnya dari Ibu. Katanya sisa kain kemeja kamu.”
Aku menatap kain itu. Lalu menatap kemejaku. Lalu menatap Monica lagi.
“Mbak, orang-orang bakal ngira...”
“Bakal ngira apa?”
“Bakal ngira kita...”
“Kita apa?”
Aku tidak bisa menyelesaikan kalimat itu.
Monica menunggu. Lalu, karena aku tidak melanjutkan, ia menggandeng lengan kiriku. Erat. Seperti di lift waktu itu.
“Biarin mereka ngira,” katanya. “Ayo masuk. Antriannya panjang.”
Gedung resepsi itu penuh. Lampu kristal besar menggantung di langit-langit tinggi. Musik gamelan modern dari panggung kecil di sudut. Meja-meja prasmanan berjajar di sepanjang dinding, dan di pelaminan di ujung ruangan, anak perempuan Bu Ambar dan suaminya berdiri tersenyum dengan pakaian adat Jawa yang megah.
Aku mengenali banyak wajah. Separuh direksi Wiratama Group. Kepala-kepala divisi. Pak Harun dari Legal, yang langsung menghampiri kami dan menjabat tanganku dengan sangat kuat, terlalu kuat, sambil berkata “Sebelas koma dua miliar, Mas Aris. Sebelas koma dua!” dengan suara cukup keras untuk membuat orang-orang di sekitar menoleh.
Dan Mbak Wati.
Mbak Wati berdiri di dekat meja es buah dengan kebaya merah menyala dan ponsel di tangan. Ia melihat kami masuk. Ia melihat kemeja batikku dan kain batik Monica. Ia melihat lengan Monica yang menggandeng lenganku.
Ia menjatuhkan gelas es buahnya.
Untungnya gelas plastik.
Jam tujuh tepat, Evan masuk. Kemeja batik biru, rambut disisir rapi, senyum lebar. Ia langsung berjalan ke arah kami.
“Ris! Mbak!” Ia memeluk bahuku dengan satu tangan. “Wah, batik kalian sama!”
“Ibu saya yang jahit, Van.”
“Pinter Ibu.” Evan melirik jam tangannya. Lalu menatap Monica. Lalu menatap jam tangannya lagi. “Oke. Gue salaman dulu ke pengantin, ya.”
“Bareng aja, Van,” kataku.
“Nggak, nggak. Lo berdua duluan. Gue... ada yang mau gue sapa.”
Ia pergi. Aku melihatnya berjalan cepat ke pelaminan, menyalami Bu Ambar, menyalami pengantin, berfoto dengan senyum yang sangat lebar dan sangat cepat. Lalu ia berjalan kembali ke arah pintu keluar. Melewati kami.
“Van? Mau ke mana?”
“Pulang, Ris.”
“Kamu baru dateng sepuluh menit.”
Evan berhenti. Ia menatapku, lalu menatap Monica. Monica menatapnya balik dengan wajah yang sangat tenang.
“Gue ada urusan mendadak,” kata Evan.
“Urusan apa?”
“Urusan...” Evan menatap langit-langit, mencari jawaban. “Urusan negara.”
“Urusan negara?”
“Rahasia negara, Ris. Gue nggak bisa cerita.” Ia menepuk bahu kiriku. Dua kali. Lalu, dengan suara yang jauh lebih pelan, hampir berbisik, ia menambahkan sesuatu yang hanya bisa didengar olehku. “Ris. Malam ini gue nggak ada. Inget itu. Gue nggak ada.”
Lalu ia pergi, setengah berlari, keluar dari gedung resepsi.
Aku menatap pintu keluar. Lalu menatap Monica.
Monica sedang sangat sibuk merapikan selendang kebayanya.
Bu Ambar menghampiri kami di dekat meja prasmanan.
Ia memakai kebaya ungu tua dengan sanggul tinggi, dan wajahnya yang biasanya tegas di ruang rapat sekarang terlihat jauh lebih lembut. Mata seorang ibu yang baru menikahkan anak perempuannya.
“Aris. Monica. Terima kasih sudah datang.”
“Selamat, Bu,” kataku. “Semoga sakinah, mawaddah, warahmah.”
“Aamiin. Terima kasih.” Bu Ambar menatap kemeja batikku, lalu kain batik Monica, lalu kembali ke wajahku. Ada sesuatu di matanya yang terlihat sangat geli. “Batiknya kompak.”
“Ibu saya yang jahit, Bu. Kebetulan sisa kain.”
“Kebetulan,” ulang Bu Ambar. Ia menatap Monica.
Monica tersenyum manis. “Tadi waktu salaman, Bu, Ibu nanya saya dateng sama siapa.”
“Iya. Saya ingat.”
“Saya jawab, saya dateng sama calon saya.”
Aku sedang memegang piring kecil berisi sate ayam. Tusuk satenya hampir jatuh.
Bu Ambar menatapku. Lalu tertawa. Pelan, tertahan, tawa seorang direktur keuangan yang tidak pernah tertawa di depan anak buahnya.
“Iya,” katanya. “Dan saya tanya, calonnya yang mana. Dan kamu tunjuk Aris.”
“Saya bilang ke Bu Ambar,” kata Monica, sekarang menoleh ke arahku dengan senyum yang sama sekali tidak menyesal, “kamu calon saya. Belum ngelamar. Lagi saya tunggu.”
Aku tersedak.
Bukan sate. Aku belum makan satenya. Aku tersedak udara. Tersedak napasku sendiri. Aku batuk keras sampai beberapa tamu di dekat meja prasmanan menoleh, dan Bu Ambar menepuk punggungku dengan wajah yang semakin geli.
“Pelan-pelan, Aris,” katanya. “Kamu nyelametin sebelas miliar, masa keselek angin.”
Wajahku terbakar. Dari leher sampai ujung rambut.
“Bu, itu... Mbak Monica bercanda, Bu...”
“Saya nggak bercanda,” kata Monica.
“Dia nggak bercanda,” kata Bu Ambar, setuju. Lalu ia menepuk lenganku, tepat di bawah bahu kiri, dan berbisik dengan suara seorang ibu yang sangat berpengalaman. “Jangan kelamaan, Aris. Perempuan kayak gini nggak nunggu selamanya.”
Lalu ia pergi, menyalami tamu lain.
Aku berdiri di dekat meja prasmanan dengan piring sate di tangan dan dunia yang berputar sedikit terlalu cepat.
Calon saya. Belum ngelamar. Lagi saya tunggu.
Evan tidak ada di sini. Evan pulang jam tujuh lewat sepuluh, untuk urusan negara. Lucky belum datang. Dini tidak diundang. Pak Joko tidak kelihatan.
Tidak ada siapa-siapa yang perlu dibuat cemburu.
Otakku mencoba bekerja. Mencari format. Mencari kolom.
Otakku menemukan dinding.
Lucky datang jam delapan. Bersama ibunya.
Aku melihat mereka masuk dari pintu utama. Lucky dengan jas hitam dan dasi batik, wajah yang terlihat lelah. Di lengannya, menggandeng, Bu Ratna Wiratama. Kebaya putih gading, sanggul tinggi berhias tusuk konde mutiara, kacamata berbingkai emas. Langkahnya anggun dan pasti, seperti ratu memasuki ruang singgasana.
Dan di belakang mereka, setengah langkah di belakang, Renata.
Renata memakai kebaya biru muda. Rambutnya disanggul rapi. Ia berjalan sedikit menunduk, seperti seseorang yang tidak ingin terlihat.
Aku tidak bertemu Bu Ratna selama hampir dua tahun. Terakhir di acara ulang tahun Lucky yang ke dua puluh tujuh, di rumahnya di Menteng. Ia menyambutku di pintu dengan senyum sopan dan berkata, Oh, Aris. Masih sering main sama Lucky, ya. Bukan pertanyaan.
Aku sudah terbiasa dengan nada itu. Aku sudah mendengarnya sejak SMA, sejak pertama kali Lucky membawaku ke rumahnya dan Bu Ratna menatap sepatuku yang solnya sudah tipis.
Mereka berjalan ke arah pelaminan untuk bersalaman. Lalu, setelah turun dari pelaminan, Lucky melihatku. Matanya bertemu mataku dari seberang ruangan. Ia mengangguk sedikit. Lalu Bu Ratna mengikuti arah pandangan anaknya.
Bu Ratna melihatku.
Ia melihat kemeja batikku. Ia melihat Monica yang berdiri di sebelahku, dengan kain batik yang sama.
Wajahnya tidak berubah. Tapi matanya berhenti di sana. Lama.
Lalu ia berjalan ke arah kami. Lucky mengikuti dengan langkah yang tiba-tiba terlihat tegang. Renata mengikuti di belakang, wajahnya pucat.
“Aris,” kata Bu Ratna. Senyumnya sempurna. Sopan. Dingin seperti marmer di lantai rumahnya. “Lama nggak ketemu.”
“Selamat malam, Bu.” Aku membungkuk sedikit dan mencium tangannya, seperti yang selalu kulakukan sejak SMA. Tangannya dingin. “Bu Ratna sehat?”
“Sehat. Terima kasih.” Ia menarik tangannya, sedikit lebih cepat dari biasanya. Lalu matanya menelusuri kemeja batikku. “Masih ikut Lucky ke mana-mana, ya? Sekarang ke kondangan juga.”
Lucky menegang di sebelah ibunya. “Ma.”
“Mama cuma nanya, Sayang.”
Aku tersenyum. Aku sudah terbiasa. “Saya diundang Bu Ambar, Bu.”
“Oh?” Bu Ratna mengangkat alis. “Bu Ambar ngundang staf?”
Monica bergerak.
Tidak banyak. Hanya selangkah. Tapi selangkah itu membuatnya berdiri sedikit di depanku, di antara aku dan Bu Ratna. Tangannya masih menggandeng lenganku.
“Selamat malam, Tante,” katanya. Suaranya hangat, sopan, sempurna. Suara seorang legal officer yang sedang berdiri di depan hakim. “Saya Monica, dari Divisi Legal Wiratama. Aris diundang langsung oleh Bu Ambar, Tante. Minggu ini dia menyelamatkan perusahaan dari gugatan delapan koma enam miliar, dan menemukan kelebihan tagihan sebelas koma dua miliar dari vendor. Bu Ambar bilang di rapat direksi, Aris tamu kehormatannya malam ini.”
Bu Ratna menatap Monica. Matanya menyipit sedikit. Hanya sedikit.
“Monica,” ulangnya. “Kamu temennya Rena, kan?”
“Iya, Tante. Sahabat dari SMA.”
Bu Ratna menoleh ke belakang, ke Renata. Renata menunduk.
“Rena sering cerita soal kamu,” kata Bu Ratna, kembali menatap Monica. Senyumnya tidak berubah. “Katanya kamu pintar. Dan berani.”
“Rena terlalu baik, Tante.”
“Rena memang anak baik.” Bu Ratna menatapku sebentar, lalu kembali ke Monica, lalu ke lengan Monica yang masih menggandeng lenganku. “Hati-hati, ya, Monica. Anak baik kadang terlalu gampang percaya sama orang.”
Hening.
Lucky menarik napas tajam. “Ma. Cukup.”
Bu Ratna menoleh ke anaknya dengan wajah polos. “Mama ngomong apa, Sayang? Mama cuma nasihatin anak muda.”
Lucky menatap ibunya. Rahangnya mengeras. Aku melihat tangannya mengepal di samping paha, seperti waktu di auditorium.
Aku melepaskan gandengan Monica dengan lembut. Lalu melangkah ke samping, supaya aku tidak lagi berdiri di belakang Monica.
“Bu Ratna benar,” kataku pelan. Semua orang menatapku. “Orang memang harus hati-hati, Bu. Terima kasih nasihatnya.”
Bu Ratna menatapku. Ada sesuatu yang bergerak di matanya. Sesuatu yang terlihat seperti terkejut, lalu dengan cepat tertutup lagi.
“Ayo, Lucky,” katanya. “Mama mau ketemu Bu Ambar.”
Ia berbalik dan berjalan pergi. Lucky menatapku sebentar dengan wajah yang mengatakan maaf tanpa suara, lalu mengikuti ibunya.
Renata tidak langsung mengikuti. Ia berdiri di sana, menatapku dan Monica dengan mata yang basah. Bibirnya bergerak, seperti waktu di depan pagar rumahku, seperti mau mengatakan sesuatu.
“Ren?” kata Monica pelan.
“Maaf,” bisik Renata. “Maaf, Mon.”
Lalu ia berbalik dan berjalan cepat menyusul Bu Ratna, menghilang di antara tamu-tamu.
Monica menatap punggung sahabatnya lama. Kerutan di keningnya semakin dalam.
“Maaf buat apa?” gumamnya pada dirinya sendiri.
Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa malam itu, untuk kedua kalinya dalam seminggu, Renata menatapku seperti orang yang sedang membawa sesuatu yang terlalu berat.
Kami pulang jam setengah sepuluh.
Mobil Monica sudah keluar dari bengkel hari Senin, jadi ia menyetir sendiri ke kondangan. Aku naik motor. Parkir mobil dan parkir motor gedung resepsi itu bersebelahan, di basement yang luas dan remang-remang.
Aku mengantarnya sampai ke mobilnya. Sedan putih, diparkir di pojok dekat pilar.
Basement itu sepi. Sebagian besar tamu sudah pulang. Hanya ada beberapa mobil lain, jauh di ujung. Lampu neon di langit-langit berdengung pelan. Satpam di pos jaga jauh di dekat pintu keluar, tidak memperhatikan kami.
Tidak ada Evan. Tidak ada Lucky. Tidak ada Dini, tidak ada Pak Joko, tidak ada Mbak Wati.
Tidak ada siapa-siapa.
Monica membuka kunci mobilnya. Lalu berhenti. Ia tidak masuk. Ia berbalik menghadapku.
“Tadi,” katanya pelan. “Waktu Bu Ratna. Kamu bilang dia benar.”
“Iya, Mbak.”
“Dia nggak benar.”
“Dia ibunya Lucky, Mbak. Dia cuma khawatir sama anaknya.”
“Dia ngehina kamu.”
“Nggak apa-apa, Mbak. Saya udah biasa.”
Monica menatapku. Lama. Lalu ia menghela napas, panjang, seperti orang yang sudah terlalu lelah mendengar kalimat itu.
“Aris,” katanya. “Lihat sekeliling.”
Aku melihat sekeliling. Basement kosong. Lampu neon. Pilar beton. Mobil-mobil jauh di ujung.
“Ada siapa?” tanyanya.
“Nggak ada siapa-siapa, Mbak.”
“Evan?”
“Nggak ada.”
“Lucky? Dini? Mbak Wati? Pak Reza?”
“Nggak ada, Mbak.”
“Oke,” katanya pelan. “Hitung.”
Lalu ia memelukku.
Bukan dari belakang kali ini. Ia berjalan memutar ke belakangku, cepat, sebelum aku sempat berbalik, dan melingkarkan kedua lengannya di pinggangku. Pipinya menempel di punggungku, di atas kemeja batik cokelat tanah yang dijahit ibuku dengan benang Jepang.
“Hitung,” bisiknya lagi.
Aku menghitung.
Satu. Lampu neon di atas kami berdengung.
Dua. Wangi melati dari rambutnya, bercampur sedikit wangi bunga sedap malam dari dekorasi gedung yang menempel di kebayanya.
Tiga. Lengannya di pinggangku hangat, erat, sangat erat. Seperti orang yang takut kehilangan sesuatu.
Empat. Tidak ada siapa-siapa yang melihat. Tidak ada yang perlu dibuat cemburu. Tidak ada yang perlu dibuktikan kepada siapa pun.
Lima.
Ia tidak melepaskan.
Enam. Tujuh.
Aku berhenti menghitung.
Dinding di kepalaku, yang tadi ditemukan otakku di meja prasmanan, mulai retak. Retakannya kecil, lalu menjalar, seperti kaca jendela yang ditimpa batu kecil.
Tidak ada Evan.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya aku.
“Ini bedanya,” bisik Monica di punggungku.
Aku tidak bisa bicara. Tenggorokanku tersumbat sesuatu yang besar dan panas.
“Pelukan buat bikin orang cemburu,” katanya pelan, “berhenti di detik kelima. Karena udah nggak ada yang lihat.”
Lengannya semakin erat.
“Pelukan yang ini nggak berhenti.”
Aku memejamkan mata.
Di basement gedung resepsi di Senayan, di bawah lampu neon yang berdengung, dengan kemeja batik yang dijahit ibuku dari benang hadiah sahabatku, aku berdiri diam dan membiarkan diriku dipeluk.
Aku tidak tahu berapa lama. Mungkin satu menit. Mungkin lebih.
Akhirnya, Monica melepaskan pelukannya. Pelan. Ia melangkah mundur, dan aku berbalik menghadapnya.
Matanya basah. Tapi ia tersenyum.
“Hati-hati di jalan,” katanya.
“Mbak juga.”
Ia masuk ke mobil. Menyalakan mesin. Menurunkan kaca jendela.
“Aris.”
“Iya, Mbak?”
“Bu Ambar bilang jangan kelamaan.”
Aku diam.
“Aku nggak bilang apa-apa,” lanjutnya. “Bu Ambar yang bilang.”
Ia menaikkan kaca jendela dan pergi.
Aku tidak langsung pulang.
Aku duduk di atas motor bebek di basement yang kosong, dengan helm di pangkuan, menatap tempat sedan putih itu tadi diparkir.
Dinding di kepalaku sudah tidak ada. Retak, lalu runtuh, dan sekarang yang tersisa hanya ruangan kosong yang sangat luas dan sangat sunyi, seperti basement ini.
Di ruangan kosong itu, untuk pertama kalinya, aku membiarkan diriku mengucapkan sesuatu. Tidak keras. Bahkan tidak berbisik. Hanya di kepala, di tempat yang paling dalam, di tempat yang selama sebelas tahun kugunakan untuk menyimpan semua hal yang tidak boleh kuinginkan.
Aku suka dia.
Kalimat itu terasa asing. Seperti benda dari negara lain. Seperti kata dalam bahasa yang hanya kupelajari dari buku bekas di Kwitang.
Aku suka dia.
Lalu, hampir seketika, suara lain menyusul. Suara yang lebih tua, lebih akrab, suara yang sudah menemaniku sejak SMA.
Dan dia pantas dapat yang lebih baik.
Aku teringat wajah Bu Ratna. Masih ikut Lucky ke mana-mana, ya? Teringat suara Pak Reza di auditorium. Ada beberapa karyawan yang masuk dengan bantuan. Teringat tawa Bu Darsih yang pertama. Ya nggak mungkin.
Teringat tiga puluh tujuh amplop merah jambu.
Monica cantik. Pintar. Berani. Ia bisa berdiri di depan tujuh direktur dan Bu Ratna Wiratama tanpa gemetar. Ia layak untuk laki-laki yang bisa berdiri di sebelahnya tanpa membuat orang bertanya-tanya. Laki-laki yang terlihat. Laki-laki yang tidak harus selalu menjelaskan kenapa ia ada di ruangan itu.
Bukan laki-laki dengan motor bebek berumur dua belas tahun dan bahu yang tidak bisa diangkat.
Aku tahu, di laptop di kamarku, ada angka yang bisa membuat semua orang berhenti bertanya. Aku tahu, kalau aku mau, aku bisa membeli mobil yang lebih bagus dari sedan putih itu besok pagi. Tapi aku juga tahu, kalau aku melakukan itu, aku tidak akan pernah tahu apakah orang-orang menatapku karena aku, atau karena angka itu.
Ayahku tahu bedanya terlalu terlambat.
Aku memakai helm. Menyalakan mesin. Motor batuk dua kali, lalu menderum.
Di jalan pulang, di Jalan Gatot Subroto yang mulai lengang, hujan turun lagi. Rintik-rintik, lalu deras. Aku memakai jas hujan biru tua dari Lucky. Bagian ketiaknya tidak bocor.
Aku melaju dengan kecepatan dua puluh kilometer per jam, padahal tidak ada siapa-siapa di jok belakang.
Mungkin karena kebiasaan.
Mungkin karena aku masih bisa merasakan lengan seseorang melingkar di pinggangku, dan aku tidak ingin perasaan itu terlepas karena angin.
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya reading
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan