Chapter Ten
Kotak Bekal yang Salah Alamat
POV: Aris
Rapat mingguan dengan Pak Reza selesai jam dua belas kurang lima menit.
Rapatnya tidak penting. Pak Reza hanya ingin memastikan semua orang di Divisi Data tahu bahwa krisis kebocoran data palsu hari Senin diselesaikan oleh “tim internal Divisi Data di bawah koordinasi saya”. Ia mengucapkan kalimat itu tiga kali dalam empat puluh menit, setiap kali sambil menatapku.
Aku mengangguk setiap kali. Dini, yang duduk di sebelahku, menggigit pulpen sampai ujungnya penyok.
Waktu aku kembali ke mejaku, ada sesuatu di atas keyboard.
Kotak bekal.
Plastik biru muda, dua susun, dengan tutup yang dikunci dengan klip di keempat sisinya. Ukurannya cukup besar untuk satu porsi orang dewasa yang sedang lapar. Di atas tutupnya, ada kertas tempel kuning dengan tulisan tangan yang sangat rapi.
Makan. Jangan dikasih ke siapa-siapa. —M
Aku menatap kertas itu.
Lalu menatap sekeliling. Lantai tujuh hampir kosong karena orang-orang sudah turun makan siang. Dini sedang mengambil dompet dari laci. Pak Darto sedang memakai kupluknya, siap keluar.
“Din,” kataku. “Tadi ada yang ke sini?”
Dini menoleh. Matanya jatuh ke kotak bekal di mejaku. Lalu ke kertas tempel. Lalu ke wajahku. Lalu, entah kenapa, ia tersenyum sangat lebar, senyum yang sama sekali tidak cocok dengan pertanyaanku yang sederhana.
“Ada, Mas.”
“Siapa?”
“Mas Aris nggak bisa tebak?”
“M,” kataku. “Monica?”
“Wah, Mas Aris pinter banget hari ini.”
Aku menatap kotak bekal itu lagi. Monica membawa kotak bekal ke lantai tujuh. Dan meletakkannya di mejaku. Dengan pesan jangan dikasih ke siapa-siapa.
Kenapa di mejaku?
Aku memikirkannya dengan cermat, seperti memikirkan anomali di data.
Kalau Monica ingin memberikan kotak bekal ini kepada Evan, ia tidak bisa langsung meletakkannya di meja Evan. Lantai dua belas adalah lantai Sales, lantai paling ramai dan paling suka bergosip di seluruh gedung. Kalau anak Legal baru kelihatan meletakkan kotak bekal di meja Head of Sales, dalam lima menit seluruh lantai akan tahu, dalam sepuluh menit seluruh gedung akan tahu, dan Mbak Wati akan menyebarkannya bahkan sebelum kotak itu dibuka.
Jadi ia menitipkannya di mejaku. Karena aku teman Evan. Karena aku makan siang bersama Evan setiap hari.
Dan jangan dikasih ke siapa-siapa?
Itu jelas. Maksudnya, jangan bilang ke siapa-siapa dari siapa kotak ini. Rahasiakan. Ia malu.
Aku mengangguk sendiri, puas dengan analisisku.
“Mas Aris,” kata Dini pelan, masih tersenyum. “Mas mau makan di sini?”
“Nggak, Din. Aku turun ke soto.”
“Bawa kotak bekalnya?”
“Iya.”
“Buat dimakan?”
“Buat dikasih.”
Senyum Dini perlahan berubah menjadi sesuatu yang terlihat seperti orang yang menyaksikan kecelakaan dalam gerakan lambat.
“Dikasih ke siapa, Mas?”
Aku mengambil kotak bekal itu dengan hati-hati, memegangnya dengan dua tangan seperti memegang barang pecah belah, dan berjalan ke arah tangga darurat.
“Rahasia, Din,” kataku.
Di belakangku, aku mendengar Dini mengeluarkan suara aneh, setengah tertawa, setengah merintih. Lalu suara Pak Darto: “Din? Kamu kenapa? Kok nangis?”
Warung soto Bu Darsih sudah penuh. Evan dan Lucky sudah duduk di meja biasa kami, meja paling pojok yang kaki kanannya diganjal sandal jepit bekas. Evan sedang mengunyah kerupuk. Lucky sedang membaca sesuatu di ponselnya dengan kening berkerut.
Aku meletakkan kotak bekal biru itu di depan Evan.
Evan berhenti mengunyah. Ia menatap kotak itu. Lalu menatapku.
“Apa ini?”
“Titip buat Evan, ya,” kataku. Lalu aku sadar kalimatku keliru. Aku sudah terbiasa mengucapkannya dari sisi yang berbeda. “Eh, maksudnya, buat kamu, Van. Dari Monica.”
Lucky meletakkan ponselnya.
Evan tidak bergerak. Ia menatap kotak bekal itu seolah kotak itu bisa meledak. Lalu ia menatap kertas tempel kuning di tutupnya, yang tadi lupa kucopot.
Makan. Jangan dikasih ke siapa-siapa. —M
“Ris,” kata Evan pelan.
“Jangan bilang siapa-siapa, Van. Dia malu.”
“Ris.”
“Dia taruh di meja aku karena nggak berani ke lantai dua belas. Kamu tahu sendiri anak Sales gimana.”
“Ris, kertasnya bilang...”
“Iya, jangan dikasih ke siapa-siapa. Maksudnya jangan disebar. Makanya aku diem-diem bawa ke sini.”
Lucky menutup wajah dengan kedua tangan. Bahunya mulai berguncang.
Evan menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Ada keputusasaan di sana. Ada kasih sayang yang dalam. Dan ada sesuatu yang lain, sesuatu yang perlahan berubah menjadi niat jahat yang sangat murni.
“Oke,” katanya akhirnya. “Oke, Ris.”
Ia membuka klip di keempat sisi kotak bekal itu. Satu per satu. Pelan.
Susun pertama: nasi putih yang dibentuk rapi, dengan taburan bawang goreng di atasnya.
Susun kedua: tumis kangkung, telur dadar yang digulung dan dipotong-potong, sambal merah dalam wadah kecil terpisah, dan enam potong tempe goreng.
Tempe goreng yang dipotong tipis, digoreng kering, dengan pinggiran sedikit gosong. Persis seperti cara ibuku menggoreng tempe.
Evan menatap tempe goreng itu. Lalu menatapku. Lalu tertawa.
Tidak keras. Pelan. Tawa yang perlahan berubah menjadi tawa yang tidak bisa berhenti. Matanya mulai berair. Ia mengambil sepotong tempe dan memasukkannya ke mulut, masih tertawa, mengunyah sambil tertawa, sampai ia tersedak dan harus minum es teh.
“Kenapa, Van?”
“Nggak,” katanya, menghapus air mata. “Nggak apa-apa. Enak banget, Ris. Enak banget.”
Ia mencocol tempe kedua ke sambal. Lalu langsung berhenti mengunyah. Wajahnya memerah. Keringat mulai muncul di pelipis.
“Pedes,” katanya dengan suara tercekik. “Ini pedes banget, Luck. Ini sambal apa? Ini senjata.”
Lucky sudah tidak bisa bicara. Ia tertawa tanpa suara, kepala tertunduk di atas meja, bahunya naik turun.
Evan terus makan. Ia makan sambil menangis, karena pedas atau karena tertawa, aku tidak tahu yang mana. Mungkin dua-duanya. Ia makan tempe ketiga, keempat, kelima. Ia makan telur dadar. Ia makan kangkung. Setiap suapan diselingi tawa tertahan dan hembusan napas kepedasan.
Aku menatapnya makan, dan merasakan sesuatu yang aneh di dada.
Bukan senang. Seharusnya aku senang. Rencanaku berhasil. Kotak bekal sampai ke alamat yang benar, dan Evan memakannya dengan lahap. Ini seharusnya masuk tab Evaluasi dengan kata Berhasil yang dicetak tebal.
Tapi setiap kali Evan mengambil sepotong tempe, ada sesuatu di dadaku yang sedikit mengencang. Seperti ada yang menarik benang dari dalam.
Aku tidak mengerti perasaan itu. Jadi aku mengabaikannya.
Lalu suara kursi plastik digeser di belakangku.
“Aris.”
Aku menoleh.
Monica berdiri di belakang kursiku. Blazer krem, tas di bahu, wajah yang sangat tenang. Terlalu tenang. Tenang seperti permukaan laut sebelum badai.
Matanya menatap kotak bekal biru yang sudah setengah kosong di depan Evan. Lalu menatap Evan yang sedang memegang potongan tempe kelima, mulutnya penuh, wajahnya merah dan basah oleh air mata.
Evan berhenti mengunyah.
“Mbak,” katanya dengan mulut penuh. “Tempenya enak, Mbak.”
Monica tidak menjawab Evan. Ia menatapku.
“Aku taruh kotak itu di meja kamu,” katanya. Suaranya pelan. Sangat pelan. “Dengan tulisan. Jangan dikasih ke siapa-siapa.”
“Iya, Mbak. Saya nggak kasih tahu siapa-siapa. Cuma Evan sama Lucky.”
“Aris.”
“Saya bawa diem-diem, Mbak. Nggak ada yang lihat.”
“Itu buat kamu.”
Warung soto Bu Darsih tidak pernah sesunyi itu. Bahkan suara kuah mendidih di panci besar seakan ikut berhenti.
“Buat... saya, Mbak?”
“Buat kamu.” Monica menarik napas panjang, sangat panjang, lalu menghembuskannya pelan, seperti instruktur yoga yang sedang mengajari murid paling lambat di kelasnya. “Aku masak sendiri. Bangun jam lima pagi. Tempenya aku goreng tiga kali karena dua kali pertama gosong. Sambalnya resep Mama aku. Aku taruh di meja kamu. Dengan tulisan jangan dikasih ke siapa-siapa. Supaya kamu nggak kasih ke Evan.”
Lucky tergelincir dari kursi plastiknya. Ia benar-benar jatuh, terduduk di lantai semen, tertawa terpingkal-pingkal sampai beberapa pelanggan lain ikut menoleh dan tertawa meskipun tidak tahu apa yang lucu.
Evan meletakkan tempe kelima itu kembali ke kotak bekal dengan gerakan sangat hati-hati, seperti meletakkan barang bukti.
“Mbak,” katanya. “Saya bisa jelasin.”
“Kamu nggak perlu jelasin apa-apa, Van.”
“Tapi Mbak, saya udah bilang ke Aris...”
“Aku tahu.”
“Saya cuma makan karena kalau nggak dimakan sayang, Mbak. Mubazir.”
“Kamu makan lima potong tempe sambil nangis ketawa.”
“Itu karena sambalnya, Mbak! Sambal Mbak itu senjata pemusnah massal!”
Aku duduk di kursiku, menatap Monica, dan merasakan seluruh wajahku memanas dari leher sampai ke ujung rambut.
Buat aku.
Kotak bekal itu buat aku.
Ia bangun jam lima pagi. Ia menggoreng tempe tiga kali. Untuk aku.
Otakku mencoba memproses data itu, dan untuk pertama kalinya, otakku tidak bisa menemukan format yang cocok. Tidak ada kolom di spreadsheet-ku untuk ini. Tidak ada tab. Semua hipotesisku runtuh sekaligus, seperti menara kartu yang ditiup.
Lalu, dengan cepat, otakku membangun hipotesis baru. Karena itulah yang dilakukan otakku. Ia tidak pernah membiarkanku berdiri di reruntuhan terlalu lama.
Mungkin Monica merasa berutang padaku. Karena kancing. Karena klausul tujuh. Karena aku membantunya di rapat. Kotak bekal ini ucapan terima kasih. Seperti kopi minggu lalu, tapi lebih personal.
Iya. Itu masuk akal.
“Maaf, Mbak,” kataku. “Saya salah paham. Makasih banyak buat bekalnya. Mbak nggak perlu repot-repot buat terima kasih kayak gini.”
Monica menatapku. Lama.
Lalu ia menutup mata.
“Ya Tuhan,” bisiknya. “Dia bikin teori baru.”
“Maaf, Mbak?”
“Nggak.” Ia membuka mata, dan anehnya, ia tersenyum. Senyum orang yang sudah kalah satu pertempuran tapi belum kalah perang. “Nggak apa-apa. Kamu udah makan?”
“Belum, Mbak.”
Evan, tanpa bicara, mendorong kotak bekal itu ke depanku. Di sudut susun kedua, ada satu potong tempe yang tersisa. Satu potong terakhir. Ia tidak menyentuhnya sama sekali.
“Gue sisain satu,” kata Evan pelan. “Gue nggak setega itu, Ris.”
Aku menatap tempe itu. Lalu mengambilnya dengan jari dan memakannya.
Tempenya tipis. Kering. Pinggirannya sedikit gosong. Asin yang pas, dengan aroma bawang putih dan ketumbar yang samar.
Aku berhenti mengunyah.
Rasanya hampir sama. Hampir persis sama dengan tempe goreng buatan ibuku. Tempe yang sudah kumakan setiap malam selama dua puluh sembilan tahun.
Aku menatap Monica.
“Mbak,” kataku pelan. “Mbak tahu dari mana cara goreng tempe kayak gini?”
Monica duduk di kursi kosong di sebelahku. Kursi plastik merah yang kakinya goyang. Ia menatapku, dan untuk sesaat, wajahnya tidak tenang lagi, tidak menantang. Wajahnya terlihat sedikit gugup.
“Renata bilang kamu suka tempe goreng buatan ibu kamu,” katanya. “Aku nggak tahu resepnya. Jadi aku coba-coba. Tiga kali. Yang pertama terlalu tebel. Yang kedua gosong semua.”
“Yang ketiga hampir sama, Mbak.”
“Hampir?”
“Hampir persis.”
Monica menatapku. Lalu, perlahan, ia tersenyum. Bukan senyum menggoda. Bukan senyum menantang. Senyum yang kecil dan lega, seperti orang yang baru selesai ujian dan tahu jawabannya benar.
“Enak?”
“Enak, Mbak.”
“Lebih enak dari buatan ibu kamu?”
“Nggak ada yang lebih enak dari buatan ibu saya, Mbak.”
“Jawaban yang benar.”
Di lantai, Lucky sudah berhenti tertawa. Ia duduk bersandar ke kaki meja, menatap kami berdua dari bawah dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Lalu ia berdiri, membersihkan celananya, dan duduk kembali di kursinya tanpa bicara.
Bu Darsih lewat di belakang kami membawa nampan. Ia berhenti, menatapku, menatap Monica, lalu menatap kotak bekal biru yang sekarang ada di depanku.
“Mas Aris,” katanya. “Pacarnya?”
“Bukan, Bu.”
“Belum, Bu,” kata Monica di saat yang sama.
Bu Darsih menatap kami bergantian. Kali ini ia tidak tertawa seperti waktu itu. Ia hanya tersenyum kecil, menepuk bahuku, lalu pergi.
Yang kiri. Bu Darsih menepuk bahu kiriku.
Sore itu, jam empat, ada gelas cappuccino di mejaku lagi. Dikirim kurir dari lantai dasar. Tanpa nama pengirim, tapi ada tulisan spidol hitam di gelasnya.
Buat yang ngabisin tempe terakhir.
Aku meminumnya sambil mengerjakan laporan. Lalu, jam empat lewat dua puluh, Monica sendiri muncul di lantai tujuh dengan map di tangan.
“Paraf,” katanya. “Revisi kontrak vendor. Final.”
“Bukannya kemarin udah, Mbak?”
“Ini final yang final.”
Aku menerima map itu, memeriksa halaman terakhir. Tidak ada kolom paraf untuk Divisi Data di halaman itu. Hanya ada kolom untuk Legal dan direksi.
“Mbak, di sini nggak ada kolom buat...”
“Kamu ada busa di sini.”
Monica menunjuk sudut bibirku dengan dagunya. Aku mengangkat tangan untuk mengusapnya, tapi ia lebih cepat.
Ia mengulurkan tangan dan mengusap sudut bibirku dengan ibu jarinya. Satu usapan. Pelan. Kulit ibu jarinya halus, sedikit dingin, dan menekan bibirku hanya sepersekian detik lebih lama dari yang diperlukan.
Lalu ia menarik tangannya, menatap ibu jarinya yang sekarang ada sedikit busa susu, dan menjilatnya.
“Manis,” katanya.
Aku menatapnya.
“Kopinya,” tambahnya.
Gelas cappuccino di tangan kiriku miring. Isinya yang tinggal seperempat tumpah ke keyboard, ke celanaku, ke lantai.
“Ya ampun,” kata Dini dari meja sebelah, tapi suaranya tidak terdengar kaget sama sekali. Ia sudah berdiri dengan tisu di tangan, seolah ia sudah menduga ini akan terjadi.
Monica mengambil map dari tanganku yang satunya, tanpa paraf, karena memang tidak ada yang perlu diparaf.
“Hati-hati,” katanya. “Keyboard kantor mahal.”
Lalu ia pergi.
Aku duduk di kursiku dengan celana basah kopi dan keyboard yang lengket, dan Dini mengelap mejaku sambil bersenandung lagu dangdut yang aku tidak tahu judulnya.
“Din.”
“Iya, Mas?”
“Itu tadi ucapan terima kasih, kan?”
Dini berhenti mengelap. Ia menatapku lama. Lalu ia meletakkan tisu itu di tanganku, menepuk bahuku, dan kembali ke mejanya tanpa menjawab.
Malam itu, aku membuka Proyek_ME_v1.xlsx.
Tab Evaluasi. Aku menulis:
Skenario 4 (tidak direncanakan): Kotak bekal. Hasil: kotak bekal ternyata ditujukan ke saya, bukan ke Evan. Interpretasi: ucapan terima kasih atas bantuan pekerjaan.
Aku membaca kalimat itu.
Lalu menatap baris di bawahnya, yang masih kosong. Kursor berkedip-kedip di sana, menunggu.
Aku mengetik pelan.
Catatan pribadi: waktu Evan makan tempenya, rasanya
Aku berhenti. Tidak tahu bagaimana menyelesaikan kalimat itu.
Rasanya apa? Tidak rela? Itu tidak masuk akal. Evan sahabatku. Aku yang membawakan kotak bekal itu kepadanya. Aku yang menyuruhnya makan.
Rasanya seperti ada benang yang ditarik dari dalam dada.
Aku menghapus seluruh baris itu. Lalu menyimpan file.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku membuatnya, aku mengganti nama file itu.
Proyek_ME_v2.xlsx
Karena versi pertama, aku menyadari, mungkin dibangun di atas asumsi yang salah. Dan seorang analis data yang baik tahu, ketika asumsinya salah, ia harus membangun ulang modelnya dari awal.
Aku hanya belum tahu asumsi mana yang salah.
Di luar, mesin jahit ibuku berhenti berbunyi. Lalu suaranya dari ruang tamu, pelan, seperti bicara pada dirinya sendiri.
“Tempenya pinter, ya, Ris. Goreng tiga kali.”
Aku membuka pintu kamar. “Ibu tahu dari mana?”
Ibuku tidak menoleh. Ia sedang merapikan benang di gulungannya.
“Ibu nggak tahu apa-apa,” katanya. “Ibu cuma tebak.”
Lalu ia tersenyum ke arah mesin jahitnya, dan mulai menjahit lagi.
- 1 Kancing Kedua dari Atas
- 2 Anggap Aja Saya Setuju
- 3 Wangi Sabun Bayi
- 4 Outing yang Tidak Ada Kolamnya
- 5 Klausul Nomor Tujuh
- 6 Evan Tahu Duluan
- 7 Proyek Jodoh
- 8 Kemeja Biru Itu Bahaya
- 9 Laporan Pertama
- 10 Kotak Bekal yang Salah Alamat reading
- 11 Empat Puluh Menit
- 12 Tebak
- 13 Urusan Kita Berdua
- 14 Calon yang Mana
- 15 Pulangnya Sama Kamu
- 16 Besi Belakang Licin
- 17 Bukti Uang
- 18 Buat yang Bawa Termos
- 19 Isi Baterai
- 20 Calon Saya
- 21 Itu DP
- 22 Yang Tadi Meleset
- 23 Alarm
- 24 Yang Kelihatan
- 25 Mas Aris
- 26 Uang Pisah
- 27 Laporan Terakhir
- 28 Benalu
- 29 Titip Buat Evan
- 30 Empat Puluh Delapan Amplop
- 31 Harga Nyawa
- 32 Anak Saya Cuma Sayang
- 33 Nama Saya Aris Setiawan
- 34 Empat Puluh Tujuh Slide
- 35 Hari Ini Aku Sengaja
- 36 Kali Ini Nggak Ada Titipan
- 37 Aku Mau Dipilih Dulu
- 38 Selama Ini Gue yang Traktir
- 39 Perkara Terakhir
- 40 Dari Awal
- 41 Epilog — Bukan Titipan