← Dari Awal, Bukan Buat Evan

Chapter Thirteen

Urusan Kita Berdua

POV: Aris


Plester kucing itu kucopot hari Selasa pagi, sebelum berangkat kerja.

Aku tidak membuangnya. Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya menempelkannya di halaman belakang buku catatan kecil yang selalu kubawa di ransel, di samping catatan-catatan rumus dan daftar belanja titipan ibuku. Kucing kartun itu tersenyum dari sana, sedikit kusut, dengan bekas darah samar di bagian tengah.

Ibuku melihatnya waktu aku sarapan. Ia tidak bertanya apa-apa. Ia hanya meletakkan dua potong tempe di piringku, bukan satu seperti biasa.


Rapat Evaluasi Semester Divisi Data diadakan setiap enam bulan, di ruang auditorium kecil lantai lima belas. Bukan rapat biasa. Ini rapat tempat Divisi Data mempresentasikan hasil kerja enam bulan kepada direksi dan perwakilan semua divisi yang menggunakan layanan kami. Ruangan berisi enam puluh kursi, dan hari itu hampir semuanya terisi.

Direktur Keuangan, Bu Ambar, duduk di barisan depan. Di sebelahnya, Lucky, mewakili direksi. Di barisan kedua, perwakilan Sales, termasuk Evan, dan perwakilan Legal, termasuk Monica. Di barisan belakang, perwakilan dari divisi-divisi lain yang mungkin hanya datang karena ada kue gratis di meja belakang.

Aku duduk di barisan paling samping, dekat pintu, bersama staf Divisi Data lainnya. Termos di kaki kursi.

Pak Reza naik ke panggung kecil di depan dengan jas baru dan rambut yang lebih mengilap dari biasanya. Ia membuka presentasi dengan slide berjudul Pencapaian Divisi Data Semester I: Inovasi, Akurasi, Integritas.

Lima belas menit pertama berjalan lancar. Pak Reza membacakan pencapaian demi pencapaian. Laporan retensi pelanggan yang dipakai direksi. Temuan kontrak vendor yang menyelamatkan lima puluh dua miliar. Penanganan krisis data palsu. Semua disebut sebagai hasil kerja tim di bawah koordinasi saya.

Dini, di sebelahku, mencengkeram pulpen sampai buku jarinya memutih.

Lalu Pak Reza sampai di slide enam belas.

Evaluasi dan Perbaikan.

“Tentu saja,” katanya dengan senyum lebar, “tidak ada tim yang sempurna. Semester ini, ada satu insiden yang perlu kita evaluasi bersama. Laporan analisis penjualan regional bulan Mei, yang dipakai Divisi Sales untuk menentukan target cabang, memiliki kesalahan angka di tiga wilayah. Akibatnya, target cabang Surabaya, Medan, dan Makassar terlalu tinggi delapan belas persen.”

Ruangan mulai berbisik. Aku ingat laporan itu. Aku yang membuatnya. Aku mengirimnya ke Pak Reza hari Jumat jam satu siang, dan angkanya benar. Aku sudah mengeceknya tiga kali.

“Kesalahan ini,” lanjut Pak Reza, “berasal dari kesalahan input oleh salah satu staf kami.”

Ia menatap ke arah barisan samping. Ke arahku.

“Aris.”

Enam puluh kepala menoleh ke arahku.

Aku duduk diam. Tanganku di atas lutut.

“Saya tidak menyalahkan sepenuhnya,” kata Pak Reza dengan nada yang dibuat lembut, nada seorang ayah yang memaklumi anaknya yang nakal. “Maklum, latar belakang pendidikannya memang bukan dari kampus unggulan. Dan kita semua tahu, ada beberapa karyawan yang masuk ke perusahaan ini dengan... bantuan. Mungkin standarnya berbeda.”

Ia tidak menyebut nama Lucky. Ia tidak perlu. Semua orang di ruangan itu tahu aku makan siang dengan Lucky setiap hari.

Beberapa orang tertawa kecil. Tidak banyak. Tapi cukup.

Aku merasakan panas naik dari leher ke wajah. Bukan karena marah. Aku jarang marah. Tapi karena malu, malu yang lama sekali, malu yang terasa seperti dibawa sejak SMA. Seperti setiap kali Bu Darsih tertawa membayangkan aku punya pacar. Seperti setiap kali amplop merah jambu mampir ke mejaku dengan nama orang lain di atasnya.

Aku menunduk ke lantai.

Dari barisan kedua, aku melihat bahu Evan menegang. Di barisan depan, Lucky tidak bergerak sama sekali. Terlalu diam. Diam yang berbahaya.

Dan di barisan kedua, di sisi Legal, Monica sudah berhenti mencatat. Pulpennya diam di atas buku catatan. Ia tidak menatap Pak Reza. Ia menatapku.

Aku menatap lantai lagi.

“Ke depannya,” kata Pak Reza, “kami akan memperketat prosedur verifikasi untuk staf yang... memerlukan pengawasan lebih. Lanjut ke slide berikutnya.”


Slide berikutnya adalah slide yang paling dibanggakan Pak Reza. Aku tahu karena ia sudah membicarakannya selama sebulan.

Model Prediksi Pelanggan Berhenti (Churn Prediction Model) — Inovasi Divisi Data.

Model itu memprediksi pelanggan mana yang kemungkinan besar akan keluar dari program loyalitas dalam tiga bulan ke depan. Pak Reza membangunnya bersama konsultan eksternal. Aku tidak dilibatkan. Ia bilang aku terlalu sibuk dengan laporan rutin.

Grafiknya indah. Garis prediksi berwarna biru, menurun dengan landai. Pak Reza menjelaskan bahwa menurut model ini, tingkat pelanggan yang keluar akan turun empat persen kuartal depan.

Bu Ambar mengangkat tangan.

“Pak Reza. Saya baru lihat laporan bulanan dari Divisi Sales minggu lalu. Tingkat pelanggan yang keluar bulan lalu justru naik dua persen. Kenapa model Bapak bilang akan turun?”

Senyum Pak Reza tidak berubah. “Itu fluktuasi jangka pendek, Bu. Model kami melihat tren jangka panjang.”

“Tren jangka panjangnya naik, Pak. Sejak April.”

“Model kami menggunakan data historis tiga tahun, Bu. Jadi lebih akurat dari...”

“Data historis tiga tahun,” ulang Bu Ambar pelan. “Termasuk data setelah sistem penukaran poin dipindah ke aplikasi?”

Pak Reza membuka mulut. Menutupnya. Melirik slide-nya, lalu melirik konsultan eksternal yang duduk di barisan depan. Konsultan itu sedang sangat sibuk membaca sesuatu di ponselnya.

“Kami... akan memeriksa ulang parameternya, Bu.”

“Model ini sudah dipakai untuk menentukan anggaran retensi kuartal depan, Pak Reza. Tiga koma lima miliar. Saya perlu tahu sekarang, bukan diperiksa ulang.”

Ruangan hening.

Aku menatap grafik biru itu. Dan aku melihatnya. Aku tidak ingin melihatnya, tapi otakku tidak pernah meminta izin. Garis prediksi itu terlalu halus. Terlalu rapi. Tidak ada patahan di bulan April, padahal di bulan April ada perubahan besar dalam perilaku pelanggan. Model itu dilatih dengan data yang tidak memisahkan sebelum dan sesudah perubahan sistem.

Model itu buta terhadap April.

Aku tidak ingin bicara. Pak Reza baru saja mempermalukanku di depan enam puluh orang. Aku punya alasan untuk diam.

Tapi angka tiga koma lima miliar itu akan dipakai untuk menentukan berapa banyak uang yang dihabiskan untuk mempertahankan pelanggan. Kalau prediksinya salah, uang itu akan dihabiskan untuk pelanggan yang salah. Dan pelanggan lima puluh tahun ke atas, yang tidak bisa memakai aplikasi, yang paling rentan, akan tetap pergi tanpa ada yang menolong.

Aku mengangkat tangan.

Tangan kiri.

Bu Ambar melihatnya. “Ya? Silakan.”

Pak Reza menoleh ke arahku. Wajahnya berubah.

Aku berdiri. Kaki kursiku menyenggol termos. Termos itu bergulir pelan di lantai, dan Dini menangkapnya.

“Maaf, Bu,” kataku. “Boleh saya jelaskan sedikit? Mungkin bisa membantu Pak Reza.”

Bu Ambar mengangguk. Pak Reza tidak bisa menolak di depan direktur keuangan.

“Modelnya nggak salah, Bu,” kataku pelan. “Cuma datanya belum dipisah. Bulan April, sistem penukaran poin dipindah ke aplikasi. Sejak itu, pola pelanggan berubah total, terutama yang usia lima puluh tahun ke atas. Tapi model ini dilatih pakai data tiga tahun yang digabung. Jadi pola lama, yang dua tahun sembilan bulan, mendominasi pola baru yang cuma tiga bulan. Hasilnya, modelnya masih mengira pelanggan kita berperilaku seperti sebelum April.”

Aku berjalan ke depan, ke sisi panggung. Aku tidak naik. Aku berdiri di bawah, dekat layar.

“Kalau boleh, Pak Reza,” kataku, menatapnya. “Boleh saya pinjam laptopnya sebentar?”

Pak Reza menatapku dengan wajah orang yang sedang tenggelam dan disodori pelampung oleh orang yang baru saja ia dorong ke air. Ia tidak menjawab. Tapi ia mundur selangkah dari laptopnya.

Aku membuka file model itu. Aku tidak mengubah apa-apa di modelnya. Aku hanya menambahkan satu variabel penanda: sebelum dan sesudah April. Lalu menjalankan ulang prediksinya dengan data tiga bulan terakhir saja sebagai pembanding.

Butuh empat menit. Ruangan diam selama empat menit itu. Aku bisa mendengar bunyi AC dan bunyi seseorang di barisan belakang membuka bungkus permen dengan sangat pelan.

Grafik baru muncul di layar besar.

Garis biru yang tadi menurun landai, sekarang punya patahan tajam di bulan April. Lalu naik. Tidak landai. Naik.

“Kalau pakai data setelah April,” kataku, “prediksinya naik tiga koma delapan persen kuartal depan, Bu. Bukan turun. Dan delapan puluh persen kenaikannya dari segmen lima puluh tahun ke atas. Jadi anggaran retensi sebaiknya difokuskan ke sana. Misalnya mengembalikan opsi penukaran di gerai, yang sudah pernah diusulkan ke Pak Hendra.”

Bu Ambar menatap grafik itu lama. Lalu menatapku.

“Siapa nama kamu?”

“Aris, Bu.”

“Aris,” ulangnya. Ia menulis sesuatu di buku catatannya. “Yang tadi disebut salah input laporan bulan Mei?”

Aku tidak menjawab. Ruangan kembali hening, tapi kali ini heningnya berbeda.


Lucky berdiri.

Ia tidak bicara keras. Lucky tidak pernah bicara keras. Ia hanya berdiri dari kursinya di barisan depan, merapikan jasnya, dan menghadap ke panggung.

“Pak Reza,” katanya. “Laporan analisis penjualan regional bulan Mei. File itu disimpan di shared drive Divisi Data, kan?”

Pak Reza menelan ludah. “Betul, Pak.”

“Shared drive kita mencatat riwayat versi setiap file. Siapa yang mengubah, kapan, dan apa yang diubah.” Lucky mengeluarkan ponselnya, membuka sesuatu, lalu mengangkatnya seolah membacakan dokumen resmi. “Versi pertama file itu dikirim akun Aris hari Jumat, tiga Mei, jam satu siang lewat dua menit. Angka wilayah Surabaya, Medan, dan Makassar di versi itu benar. Saya sudah cocokkan dengan data mentah.”

Tidak ada yang bersuara.

“Versi kedua file itu diubah hari yang sama,” lanjut Lucky. “Jam sebelas malam lewat empat belas menit. Tiga angka wilayah itu diganti. Akun yang mengubah...” Ia menurunkan ponselnya dan menatap Pak Reza. “Akun Bapak.”

Ruangan meledak dengan bisikan.

Pak Reza memucat. “Itu... Pak, itu saya cuma... saya pakai proyeksi target yang...”

“Bapak ganti angkanya supaya target cabang lebih tinggi. Supaya proyeksi Divisi Data kelihatan lebih optimis di rapat direksi minggu berikutnya.” Lucky tidak menaikkan suaranya. “Lalu waktu targetnya meleset, Bapak bilang ke enam puluh orang bahwa staf Bapak salah input. Dan Bapak bilang staf Bapak masuk ke perusahaan ini karena bantuan.”

Lucky menoleh ke barisan kedua. Evan sudah berdiri. Aku tidak tahu kapan ia berdiri. Wajahnya merah, rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal di samping paha.

Lucky kembali menatap Pak Reza.

“Saya mau semua orang di ruangan ini tahu satu hal,” katanya. “Aris masuk perusahaan ini lewat rekrutmen umum. Tes tertulisnya nilai tertinggi tahun itu. Saya tahu karena saya cek, enam tahun lalu, waktu saya masih di luar negeri dan dia nggak mau bilang ke saya dia ngelamar ke perusahaan bokap saya. Dia nggak minta bantuan. Dia nolak bantuan. Dia nolak bantuan saya selama sebelas tahun.”

Suara Lucky bergetar sedikit di akhir kalimat. Hanya sedikit. Tapi aku mendengarnya.

Lalu Evan bicara. Suaranya tidak setenang Lucky. Suaranya keras, serak, dan memantul di dinding auditorium.

“Yang ngerendahin Aris,” katanya, “urusan sama kita berdua.”

Sebelas tahun. Sumpah yang sama. Di malam yang dingin dan basah di pinggir curug, dengan bibir biru dan suara yang menggigil.

Sekarang di auditorium lantai lima belas, dengan kemeja Head of Sales dan jas Direktur Pengembangan Bisnis.

Aku menatap mereka berdua, dan sesuatu di dadaku terasa seperti retak pelan-pelan.

“Saya akan minta HR untuk memulai investigasi...” kata Lucky.

“Luck.”

Aku tidak sadar aku bicara sampai semua kepala menoleh lagi ke arahku.

“Jangan,” kataku.

Lucky menatapku. “Ris.”

“Jangan sekarang. Jangan di sini.” Aku berjalan pelan dari sisi panggung ke arahnya. Aku berhenti di depannya, cukup dekat untuk bicara tanpa enam puluh orang mendengar setiap kata. “Kalau kamu pecat dia hari ini, karena aku, di depan semua orang, semua orang bakal percaya omongannya tadi. Bahwa aku memang titipan. Bahwa kamu ngelindungin aku karena aku temen kamu.”

Lucky menatapku dengan mata yang merah.

“Biarin prosesnya jalan biasa, Luck,” kataku pelan. “Lewat HR. Lewat audit. Kayak ke karyawan lain. Aku nggak mau diperlakukan beda. Termasuk sama kamu.”

Lucky diam lama. Rahangnya bergerak, seperti sedang mengunyah sesuatu yang sangat pahit. Lalu, perlahan, ia mengangguk.

“Oke,” katanya. Suaranya serak. “Lewat HR.”

Bu Ambar berdeham dari kursinya. “Pak Reza. Saya mau laporan riwayat versi file itu di meja saya sore ini. Dan model prediksi yang sudah diperbaiki. Versi yang barusan dijalankan.” Ia menatapku. “Aris, kirim ke saya langsung. Tembusan ke Pak Lucky.”

“Baik, Bu.”

Pak Reza turun dari panggung tanpa menyelesaikan presentasinya. Tidak ada yang menahannya.


Atap gedung parkir Wiratama Tower adalah tempat kami bertiga sejak SMA.

Bukan atap gedung parkir yang sama. Waktu SMA, tempatnya atap gedung olahraga sekolah, tempat kami kabur setiap jam istirahat kedua karena kantin terlalu penuh dan Evan terlalu sering dicegat adik kelas. Lucky ikut karena katanya di atap tidak ada yang minta tanda tangan. Kami duduk di sana, makan gorengan, dan membicarakan masa depan yang waktu itu terasa sangat jauh.

Sekarang, atap gedung parkir lantai tujuh. Panas, sepi, dengan pemandangan gedung-gedung Kuningan dan langit yang selalu sedikit abu-abu karena polusi.

Evan duduk di dinding pembatas dengan kaki menjuntai ke dalam, bukan ke luar. Lucky bersandar ke tiang beton, jas sudah dilepas, dasi sudah ditarik longgar. Aku duduk di lantai beton, bersandar ke dinding, dengan termos di pangkuan.

Tidak ada yang bicara selama lima menit.

Lalu Evan menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Gue mau mukul dia,” katanya dari balik tangan. “Sumpah, Ris. Gue mau naik ke panggung terus mukul mukanya yang pakai pomade itu.”

“Aku tahu.”

“Lo tahu kenapa gue nggak mukul?”

“Karena Lucky di depan.”

“Karena lo pasti bakal jahitin muka dia setelahnya.” Evan menurunkan tangannya. Matanya basah. “Lo pasti bakal bawain dia teh. Lo pasti bakal bilang ‘nggak apa-apa, Pak Reza, saya sering dikira salah input’.”

Aku tertawa. Pelan. Evan tidak.

“Gue serius, Ris.”

“Aku juga.”

“Kenapa lo nggak marah?” Evan turun dari dinding pembatas dan berjongkok di depanku, menatapku dari jarak dekat. “Dia bilang lo bego. Dia bilang lo titipan. Di depan enam puluh orang. Dan lo malah bantuin dia benerin modelnya.”

“Modelnya salah, Van. Tiga koma lima miliar.”

“Gue nggak peduli sama tiga koma lima miliar!”

“Aku peduli.” Aku menatapnya. “Ada ibu-ibu umur lima puluh lebih yang nggak bisa pakai aplikasi, Van. Kayak ibuku. Kalau anggarannya salah, mereka yang kena. Bukan Pak Reza.”

Evan menatapku. Lalu ia duduk di lantai beton di sebelahku, bersandar ke dinding yang sama, bahunya menempel di bahu kiriku.

“Lo itu,” katanya, suaranya serak. “Lo itu bener-bener penyakit.”

“Kamu udah bilang.”

“Gue bakal bilang tiap hari sampai lo sembuh.”

Lucky masih berdiri di tiang beton. Ia belum bicara sejak kami naik ke atap. Ia menatap gedung-gedung di kejauhan, dan dari samping, aku bisa melihat rahangnya masih mengeras.

“Luck.”

Ia tidak menoleh.

“Makasih,” kataku. “Soal riwayat versi file. Kamu cek kapan?”

“Tadi malam.” Suaranya datar. “Waktu Dini DM Evan bilang Reza mau nyebut nama lo di presentasi. Gue nggak tidur.”

“Dini DM Evan?”

“Dini DM Evan soal semua hal, Ris,” kata Evan. “Dini itu intel kita di lantai tujuh.”

Lucky akhirnya menoleh. Matanya masih merah.

“Lo tahu yang paling bikin gue marah?” katanya pelan. “Bukan Reza. Reza itu cuma orang kecil yang takut kehilangan kursinya. Yang bikin gue marah...” Ia menghela napas, panjang dan bergetar. “Tadi waktu dia bilang lo titipan, lo nunduk. Lo nggak ngelawan. Lo nunduk, Ris. Kayak lo setuju.”

Aku diam.

“Lo nggak setuju, kan?”

Aku tidak menjawab. Angin sore bertiup di atap parkir, membawa bau knalpot dan debu.

“Ris,” kata Lucky lagi, lebih pelan. “Lo nggak setuju, kan?”

“Kadang,” kataku akhirnya, sangat pelan, “aku nggak tahu, Luck.”

Evan menoleh ke arahku dengan cepat. Lucky menutup matanya.

Kami tidak bicara lagi untuk waktu yang lama.


Monica tidak menyusul ke atap.

Aku tahu ia melihat kami keluar dari auditorium. Aku melihatnya berdiri di dekat pintu keluar, dengan buku catatan di dada, menatap kami bertiga yang berjalan ke arah lift barang yang menuju gedung parkir. Ia tidak memanggil. Ia tidak mengikuti.

Waktu aku kembali ke lantai tujuh jam lima sore, ada tiga gelas teh di mejaku.

Teh panas dalam gelas kertas dari kedai kopi di lantai dasar. Satu dengan tulisan spidol Evan. Satu dengan tulisan Lucky. Satu dengan tulisan Aris.

Teh tawar. Ketiganya.

Di bawah gelas yang bertuliskan namaku, ada kertas tempel kuning.

Aku nggak nyusul karena itu tempat kalian bertiga. Aku tahu batas.

Tapi kamu tadi keren. Bukan karena benerin modelnya. Karena kamu nyelametin Pak Reza dari Lucky. Nggak semua orang bisa begitu.

—M

P.S. Teh tawar buat Evan sama Lucky. Biar mereka tahu rasanya jadi kamu.

Aku membaca kertas itu tiga kali.

Lalu aku memotretnya dan mengirimkan fotonya ke Evan dan Lucky di grup obrolan kami bertiga, grup yang namanya tidak pernah diganti sejak SMA: Tukang Pos & Para Penerima Surat.

Lima detik kemudian, Evan membalas.

RIS.

RIS ITU BUKAN UCAPAN TERIMA KASIH.

ITU BUKAN LATIHAN.

Lucky membalas tiga puluh detik kemudian. Hanya satu kalimat.

“Aku tahu batas.” Ris. Perempuan ini tahu batas lo lebih baik dari lo sendiri.

Aku menatap ponselku. Lalu menatap tiga gelas teh tawar di mejaku. Lalu menatap kertas tempel kuning dengan tulisan tangan yang sangat rapi.

Dini, dari meja sebelah, sedang menatapku dengan wajah orang yang menonton episode terakhir sinetron favoritnya.

“Mas Aris,” katanya pelan. “Mas Aris nangis?”

“Nggak, Din.”

“Matanya merah.”

“AC-nya, Din.”

“AC-nya dari tadi pagi juga gitu, Mas.”

Aku mengambil gelas teh yang bertuliskan namaku dan meminumnya. Masih hangat. Pahit sedikit, karena kantong tehnya terlalu lama direndam.

Teh terenak yang pernah kuminum dari gelas kertas.